Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 17 #menjaga hati


__ADS_3

Tamu sudah pulang semua, Tomi dan Yara masuk ke kamarnya. Acara hingga ashar rasa lelah menyelimuti mereka, meskipun sering bersama tapi mereka tak pernah terlalu dekat apalagi bersentuhan satu sama lain. Tomi menelan ludah saat melihat Yara melepas jilbab nya, bagi yara hal lumrah toh dulu dia juga belum berhijab pertama kali ketemu Tomi. tapi desiran yang tak biasa dalam diri Tomi, kulit mulus kecoklatan muda membuat dirinya menahan birahinya.


" tom mau mandi sekarang apa nanti". tanya Yara mendekati Tomi, namun Tomi diam ia tak sadar masih menikmati keindahan wajah istrinya dengan Yara menggerai rambut nya mau di sisir.


" tom ..." Yara menggoyangkan lengan Tomi.


" astaghfirullah..." ucap Tomi mengusap kasar wajahnya.


" mau mandi sekarang atau nanti Tomi". kembali Yara mengulang ucapannya.


" apa kamu masih tetap mau memanggil ku Tomi, kita sudah menikah berikan aku panggilan yang manis". Yara tersenyum ia malu, meski mereka adalah teman satu geng tapi tetap saja sekarang status mereka berbeda.


" oke hubby mau mandi sekarang".


" nah itu lebih manis dari pada di panggil Tomi, sekarang aku bukan temanmu tapi suamimu". Yara mengingat masa dia masih kuliah dan tertawa, Yara selalu mengumpat Tomi ia kesal karena Tomi suka mendekati adik tingkat.


" kenapa tertawa sayang" Tomi mencoba menggenggam tangan sang istri.


" kayak aneh saja kamu sekarang jadi suami ku, karena jodoh kita bertemu".


" makanya jangan suka benci sama orang kualat akhirnya jatuh cinta kan". Yara memukul lengan Tomi, Tomi mengaduh mereka berkelahi kecil sampai Yara jatuh di ranjang. Tomi sudah tidak bisa menahan melihat bibir s**** milik Yara. Yara meremang saat Tomi mendekat, namun suara ketukan pintu mengganggu mereka.


" sebentar". Yara menyambar jilab kaosnya yang biasa ia kenakan di rumah.


" ini ada titipan kado dari Louisa ia minta maaf tak bisa datang masih di Jawa". ucap Tante adik dari ibunya.


" iya Tante terimakasih". Tomi sudah melepas pakaian nya ia bersiap untuk mandi. Yara membolak-balikan kado yang di kirim Louisa ia akan membukanya, dan terkejut nya yara lingerie berwarna merah pekat.


" Astaghfirullah Louisa". Yara terkekeh.


Tomi keluar dari kamar mandi melihat Yara memegang bungkusan dari Louisa, Yara menyimpan nya ia selipkan di bawah bantal tapi mata Tomi menangkap nya.


" aku mandi dulu ya, "


Yara berlari masuk ke kamar, Tomi terkekeh melihat tingkah Yara yang sedikit ketakutan.


" gini nikah sama temen sendiri malu-malu tapi mau" Tomi terkekeh.

__ADS_1


Tomi mencari yang Yara sembunyikan tadi ia menemukan nya dan seketika melongo dan terkekeh.


Yara keluar kamar mandi dengan rambut basahnya, rasanya ia segar sudah mengguyur badannya dengan air. Tomi mengangkat lingerie yang tadi Yara simpan sembari terkekeh.


" hubby simpan saja kenapa di tenteng begini" Yara merebut nya dari tangan Tomi namun tak dapat justru mereka kembali jatuh di ranjang dengan posisi Yara berada di bawah. Kesempatan bagi Tomi untuk melakukan aksinya yang sudah ia tahan sejak tadi.


_


Mobil panti sudah pulang terlebih dahulu namun Kiran tertinggal karena tadi Hamdan mengajaknya mengobrol dan Hamdan minta Aurel untuk meninggalkan Kiran. sejak Hamdan jarang ke kantor ia juga jarang bertemu dengan Kiran. Seperti biasa obrolan yang mungkin tidak berbobot hanya kangen saja sebagai adik.


" kakak ipar setelah antar Abi umi tolong antarkan Kiran ya". ucap Hamdan memang sudah biasa jika Kiran di antar oleh Hamdan. namun kali ini sikap yang berbeda karena khitbah Zidan terhadap Kiran.


" Nak kapan kamu lulus". deg Zidan tak mau jika ibunya ikut campur tentang khitbah nya.


" masih satu tahun lagi umi insyaAlloh". umi tersenyum memegang tangan Kiran.


" belajar yang rajin biar bisa cepet lulus dapet nilai terbaik". ucap umi.


" iya umi doakan Kiran".


" pasti nak seorang ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anaknya". ces hati Kiran rasanya senang dengan ucapan umi, umi begitu sayang dengan kiran sejak dulu.


Terlebih dahulu Zidan mengantarkan Abi sengaja memang, meski tadi khitbahnya di tolak, Zidan akan berusaha terus untuk tidak menyerah mempertahankan hati yang sudah berlabuh ke pemiliknya. Umi dan Abi turun pamit kepada Kiran.


Hening


tak ada obrolan seperti biasa ataupun candaan. Zidan bingung memulai dari mana begitu pula Kiran ia canggung.


" Kiran". ..


" iya kak".


" kamu sariawan".


" ngga kak emang kenapa". tanya Kiran.


" dari tadi diam saja tak seperti biasa". ..

__ADS_1


" maaf kak Kiran lelah"


" tumben kamu bisa lelah". Zidan berusaha mencairkan suasana.


" Kiran bukan robot kak pasti lelah, emang kakak tak lelah"


" hati kakak lelah Kiran, tapi kakak ngga boleh lengah tetap harus terus berjuang". ucap Zidan.


" hidup itu memang tak boleh menyerah kak, harus tetap berjalan meski banyak batu sandungan yang terlewati".


" benar katamu Kiran kakak tak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu dengan cara kakak sendiri". ucap Zidan.


" maafkan Kiran kak".


" tak apa memang kakak di takdir kan untuk terus berjuang". ucap Zidan.


" masih banyak yang lebih baik dari Kiran di luaran sana kak, Kiran hanya anak panti yang tak punya keluarga seperti kakak yang lengkap keluarga nya".


" tak boleh ngomong begitu Kiran, panti itulah keluargamu. harus tetap bersyukur Allah masih beri kesempatan kita untuk selalu tersenyum. tak ada yang minta jika kita akan jadi anak yatim piatu, kakak juga tak pernah minta di umur kakak ini belum juga dapat jodoh padahal adik kakak Zakia sudah punya anak. kakak tetap selalu bersyukur, untuk itulah kakak tak menyerah untuk mendapatkan mu hingga takdir mengatakan jika kamu jodohku atau jodoh orang lain". ucap Zidan terdengar miris.


" astaghfirullah, Kiran lupa untuk bersyukur. dan Kiran bersyukur di cintai oleh orang seperti kakak penyayang keluarga dan pekerja keras". ucap Kiran.


andai tidak di dalam mobil Zidan rasanya ingin guling-guling di puji oleh kiran.


" tapi maaf kakak Kiran belum bisa menerima khitbah kakak karena Kiran punya prinsip". bunga yang sudah mekar kini layu lagi seperti itulah perumpamaan hati Zidan.


" aku akan menjaga hati ini hingga nanti hanya untukmu, semoga kamu juga menunggu ku".


" Kiran tak bisa menunggu atau di tunggu kak, masih banyak yang harus Kiran selesai kan sebelum Kiran menapaki kehidupan baru" .


" ya sudah yang penting kamu fokus dengan kuliahmu dulu ya".


" iya kak insyaAlloh". percakapan sedikit namun memiliki makna estetik.


Sampai di panti Kiran pamit dengan Zidan dan langsung turun, Zidan juga langsung pulang ia tak ingin mampir. Di perjalanan Zidan berfikir apa yang akan ia lakukan agar Kiran tetap memilihnya.


__

__ADS_1


bersambung


__ADS_2