
indahnya jika sudah menyandang status halal itu, semua yang di lakukan bersama adalah pahala
___
Kiran terbangun ia melihat suaminya sedang mengangguk mereka lalu shalat malam berjamaah. indahnya jika sudah menyandang status halal itu, semua yang di lakukan bersama adalah pahalamelaksanakan shalat malam. Di pandangnya Zidan ia senyum-senyum bahagia kini yang di depan matanya adalah Zidan sebagai suaminya. Zidan masih terus menyelesaikan shalat malamnya. Sebenarnya Zidan tau pergerakan istrinya yang sudah bangun, namun tanggung tinggal satu rakaat lagi. Di ucapkan salam setelah shalat kemudian ia menoleh ke arah Kiran yang masih senyum-senyum sendiri sejak tadi.
" Kenapa dek kakak tampan ya, bikin kakak jadi ngga khusuk dari tadi liatin kakak bukannya langsung ambil air wudhu". Kiran terkekeh.
" ngga kak itu sarung kakak kebalik, yang Kiran tau kiblatnya bukan ke sana" hiks... Zidan tak ingat sama sekali.
" astaghfirullah, kenapa kakak bisa lupa kiblat ya. ya Allah sayang kakak terlalu bersemangat". ucap Zidan ia merasa malu.
Kiran turun ia langsung ke kamar mandi sembari terkekeh. Zidan merutuki kebodohannya niat hati khusuk, saking khusuknya sampai salah. Zidan lalu menyiapkan alat sholat Kiran, sembari menunggu istrinya ia mengulang-ulang hafalannya.
" Kita shalat berjamaah ya dek". Kiran mengangguk mereka lalu shalat malam berjamaah. indahnya jika sudah menyandang status halal itu, semua yang di lakukan bersama adalah pahala.
Pagi-pagi Zidan dan Kiran akan pulang ke rumah Abi. Mereka juga tak nyaman di hotel masih enakan rumah sendiri nanti bantal nyariin iler nya Zidan wkwkwk.
" sayang kita mau bulan madu ke mana" tanya Zidan.
" Kiran belum wisuda kak nanti aja, mau di manapun kita juga bulan madu".
" ya setidaknya kita punya waktu berdua, bahagia, seperti orang-orang kalau habis nikah itu bulan madu sayang". Zidan melingkar kan tangannya di pinggang Kiran, Kiran masih melihat dari jendela luar kamar hotel.
" iya kak Kiran sudah bahagia bahkan sangat bahagia bisa bersama kakak, tak ada yang bisa membeli kebahagiaan Kiran saat ini kak. Kiran kau selesaikan kuliah Kiran dulu kak, setelah wisuda kita pikirkan nanti".
__ADS_1
" bener ya, kakak mau ajak kamu jalan-jalan"
" iya mas insyaAlloh,". dalam hati sebenarnya Kiran sangat bahagia, ia hanyalah seorang anak panti tak pernah sekalipun Kiran bisa jalan-jalan bebas apalagi bisa sampai keluar negeri. Tapi Kiran selalu banyak bersyukur kehidupan nya jadi lebih baik setelah bertemu dengan Hamdan.
***
Reyana mencari di mana ibu panti itu tinggal, kini ia bertanya kepada Zidan perihal wanita yang ia lihat di pesta itu. Reyana sempat memfoto ibu panti, dengan jelas foto itu yang dikirim lewat layar menunjukkan wajah ibu panti. Zidan mengerutkan keningnya ada perlu apa Datuk menanyakan perihal ibu panti. Tapi Zidan tak mau berfikir buruk, ia hanya mengira jika Datuk akan memberi santunan untuk ibu panti.
" Nak bisa minta tolong berikan alamat panti itu nak".
" bisa Datuk sebentar saya kirimkan". Datuk dan Reyana senang akhirnya mereka bisa menemukan alamat rumah ibu panti.
Reyana sudah tak sabar ingin bertemu ibu panti menanyakan anaknya yang ia letakkan di depan pintu tersebut. Reyana dan Datuk bergegas naik ke mobil ia mencari alamat yang di berikan Zidan.
Ramai dengan anak-anak yang berlarian ke sana ke mari. Reyana yang melihatnya langsung menitikkan air mata, ia mengingat anaknya pasti anaknya dulu seperti ini ramai. Datuk yang tau ia langsung memeluk istrinya, Datuk tau jika Reyana merindukan sososk anaknya.
" seperti apa anak Reyana sekarang pa pasti sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan jika ia bersekolah pasti sebentar lagi ia akan lulus." ucap Reyana sendu.
" iya sayang ayo kita temui ibu panti terlebih dahulu." Reyana lalu mengikuti suaminya untuk turun.
Kebetulan ibu panti sedang berada di ruangan depan lalu ibu panti langsung menghampiri tamu tersebut.
" assalamu'alaikum" sapa Datuk.
" wa'alaikumsalam" jawab ibu panti.
__ADS_1
Ibu panti mempersilahkan untuk duduk. karena ibu panti adalah seorang janda jadi siapapun tamunya selalu di ajaknya duduk di depan teras. panti itu memiliki teras yang begitu luas.
" maaf ibu kedatangan kami ke sini ingin memberikan sedikit bantuan untuk panti ini." Tak terpikirkan oleh Reyana jika suaminya akan menyumbang panti itu.
" MasyaAlloh kami sangat berterima kasih banyak pak atas semuanya, kami doakan untuk bapak dan ibu serta keluarga sehat selalu Allah limpahkan rezeki yang berlipat". ucap ibu panti.
" terima kasih banyak bu atas doanya".
" sebenarnya tujuan kami ke sini untuk menanyakan suatu hal". ibu panti mengerutkan keningnya.
" Saya ingin bertanya tentang anak 22 tahun lalu saya letakkan di depan pintu panti di mana ibu dulu tinggal, saya melihat ibu di acara resepsi Zidan kemarin dan sangat mengingat wajah ibu". ucap Reyana.
" kami sudah mencarinya sejak lama Bu tapi dulu kami kehilangan jejak ibu panti ini, Istri saya tak mengingat nama panti ini". dahulu memang Reyana sama sekali tak melihat papan nama panti itu karena ia sangat terburu-buru.
" maaf pak bu, kasus seperti itu banyak di sini, yang meletakkan seorang anak di depan pintu. apakah ibu meninggalkan pengenal untuk anak ibu, kalau ada sampai sekarang pengenal untuk satu-satunya bukti anak saya simpan. maaf saya tak bisa menyebutkan berupa apa ibu meninggalkan pengenal nya". ibu panti hanya khawatir jika ia memberi tahu apa saja yang di tinggalkan oleh orang tua bayi dulu, ibu panti hanya takut mereka hanya menunjuk asal ada hal buruk di balik semua itu.
" ada Bu ada, saya mengingatnya waktu itu. saya meninggalkan kalung bu, kalung seperti tali ada gantungan love nya. kalung itu dulu ibu saya yang memberikannya untuk anak saya". nampak akan ada hari bahagia untuk sosok seorang Reyana.
" sebentar ya Bu saya liat". ibu panti lalu masuk ke dalam mencari yang di maksud oleh Reyana. Setelah ibu panti mengetahui milik siapa kalung itu, ibu panti pun menangis ia menitikkan air mata.
Sosok yang sangat di rindukan oleh semua anak panti yaitu orang tua kandung mereka. Setiap kali anak-anak di ajarkan untuk mendoakan kedua orang tuanya. Ibu panti lalu berjalan keluar membawa yang Reyana maksud itu. Ibu panti lalu menunjukkan kalung kepada Reyana, Reyana langsung menangis ia memeluk erat kalung yang berada di tangan nya.
" Di mana anak saya sekarang Bu, beritahu kami Bu kami akan menjemputnya. apa dia masih bekerja atau dia... katakan Bu pada saya di mana anak saya". Reyana lepas kontrol ia sangat ingin bertemu anaknya.
" ma tenang ma tenang sabar ma". Datuk berusaha menenangkan Reyana.
__ADS_1
___