Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 69 #Rumah Aisyah


__ADS_3

Hari ini suasana ramai rumah Datok di penuhi canda tawa oleh anak-anak nya. mama menitikkan air mata, air mata kebahagiaan yang mama Reyana nanti. kini hal itu tiba, kebahagiaan menghampiri nya anak yang hilang sudah kembali dalam pelukannya.


" Kak ikut Erga yuk". Erga mengajak Zidan.


" kemana Erga, kakakmu Kiran sedang tak enak badan".


" tak apa kak, Kiran hanya mual saja. Di rumah ada banyak orang temani Erga kasihan dia."


" ayo lah kak, bantu Erga." Zidan mengernyit kenapa dengan Erga ini.


" bantu apa ga."


" nanti Erga ceritakan sekarang kakak ikut Erga ya plis, hanya sebentar tak akan lama". Akhirnya Zidan ikut dengan Erga ia pamit dulu dengan orang rumah.


" ada yang penting Erga kamu ganggu kakak sedang berkumpul". Zidan berada di sebelah kursi supir yang duduki Erga


" Semalam aku berfikir dengan apa yang kakak katakan".


" soal apa".


" mengkhitbah Aisyah". Zidan tertawa kecil.


" MasyaAlloh ternyata kamu bukan banci."


" kakak jangan bilang itu terus aku ngga suka, makanya Erga buktikan jika Erga laki-laki sejati". ucap Erga sembari fokus menyetir. Zidan tertawa melihat Erga yang tak suka di bilang banci, baru kenal tak lama namun Erga sudah nyaman berada di sisi Zidan.


" kita akan ke mana Erga". tanya Zidan, Erga terus melajukan mobilnya.


" ke rumah Aisyah kak".


" kamu serius Erga, sudah kamu pikirkan mantap". Zidan tak mau jika Erga hanya emosi sesaat.


" Sudah kak, bahkan sebenarnya sudah lama Erga pikirkan".


" Bagus semoga Allah meluruskan niatmu ya."


" aamiin kak".


Erga dag Dig dug ngga karuan rasanya ketika sampai di depan rumah Aisyah. Rumah yang hanya biasa saja berada di gang sempit, untuk masuk butuh jalan lima puluh meter bisa sampai ke rumah Aisyah. Erga terdiam ia takut untuk masuk, Zidan juga hanya diam ia ingin tau apa yang akan Erga lakukan. Ternyata Erga sudah mencari informasi hingga rumahnya Aisyah sejak lama.


" Kak..." erga diam ia hanya berdiri saja.


" ayo masuk jangan jadi lelaki cemen".

__ADS_1


greeekkk


terdengar pintu terbuka.


" astaghfirullah, ". Erga terperanjat kaget, ia melihat Aisyah menangis.


" Saya mohon bantu kami ibuku pingsan". mungkin memang Allah sudah mengirim kedatangan Erga untuk menolong keluarga Aisyah.


" ayo cepat bawa ke mobil". ucap Zidan langsung, ia menyerobot masuk dan membantu mengangkat ibunya Aisyah. Erga bingung ia diam saja seakan syok, niat hati ingin mengkhitbah tapi di datangkan dengan suasana tidak menyenangkan.


" Erga ayo cepat." Erga baru sadar ketika Zidan menyenggol erga. Erga ikut berlari membukakan mobilnya, ayah dan Aisyah ikut ke mobil erga.


" Ibu sakit apa pak." tanya Zidan kepada ayah Aisyah.


" kena serangan jantung, maaf kami merepotkan kalian. Tolong antar kami ke puskesmas". Namun Erga menjalankan mobilnya ke rumah sakit Harapan, di mana rumah sakit itu hanya orang elit yang bisa memasuki nya karena setiap akan masuk harus bayar DP dulu sehingga bisa masuk. tapi rumah sakit ini bukan yang kaleng-kaleng dokter profesional semua. Mobil sampai di depan rumah sakit harapan, ayah dan Aisyah saling pandang.


" Nak ke puskesmas saja kami tak bisa berobat di sini". ucap ayah.


" Tenang pak kami yang akan bereskan semuanya". ucap Zidan.


" tapi nak kami tak memiliki uang ini rumah sakit mahal". ucap ayah lagi.


" Bapak tenang ya, ini urusan kami soal pembayaran". ..


" sudah Aisyah yang penting sekarang tentang ibu mu bisa cepat terobati". ucap Erga ia langsung meneriaki suster, penjaga langsung berlari membawa ranjang untuk ibu nya Aisyah.


" Bagaimana ini ayah."


" sudahlah nak yang penting sekarang ibumu selamat, kita akan mencicilnya semoga temanmu itu mau". Aisyah mengangguk, mau bagaimana lagi memang ibunya harus segera di obati.


Kakak dan adik Aisyah menyusul, saat itu kakaknya sednag bekerja sebagai OB di sebuah hotel sedang adiknya sekolah. mendapat kabar itu kakak dan adiknya bergegaslah menyusul.


Ibu langsung di bawa ke ruang UGD ia langsung di tangani dokter, Erga meminta dokter profesional yang menanganinya langsung. Rumah sakit besar itu mengenal Erga, karena Datuk orang berpengaruh di kotanya termasuk jejeran orang terkaya.


" Maaf kak kami merepotkan, kami akan mencicil semua biaya ibu". Aisyah menunduk, Zidan mengamati benar yang di katakan Erga Aisyah manis ia selalu menundukkan pandangan bukan wanita biasa yang mengumbar tingkah lakunya.


" Tidak perlu pikirkan itu Aisyah yang penting ibumu selamat ".


" maafkan kami nak." ayah menangkupkan tangannya, Erga langsung memegang tangan ayah dan menurunkan tangannya.


" kami tulus membantu pak, jangan berlebihan begini pak."


Terdengar suara telapak kaki yang berjalan cepat, itu azzam dan Akbar kakak dan adik Aisyah mereka menyusul ke rumah sakit.

__ADS_1


" ayah kenapa ibu di bawa ke sini, mau bayar pakai apa kita. gaji azzam sebulan tak akan cukup ayah."


" Kami yang mengurus nya." ucap Erga, Azzam langsung menoleh ke arah Erga ia memberi hormat menunduk.


" Pak Erga maaf ".


" kamu mengenalnya nak".


" tanya ayah".


" iya ayah pak Erga ini anak dari pemilik hotel di mana Azzam bekerja ".


" maaf saya tidak banyak mengenali semua karyawan papa". ucap Erga.


" iya pak tapi kami mengenal anda, ". Erga tersenyum.


" soal biaya ibu saya bapak bisa ambil gaji saya semua pak, maaf kami merepotkan ". Azzam begitu sopan.


" Tidak perlu, kamu karyawan papa setidaknya ini juga tanggung jawab kami untuk menyejahterakan karyawan kami. oh ya bekerja di bagian apa kak". karena terlihat umurnya lebih tua Erga berinisiatif memanggil kakak. di sana terlihat Aisyah tetap menunduk ia masih mengkhawatirkan ibunya


" Maaf pak sepertinya tak pantas. Saya hanya OB di hotel bapak". Erga terhenyak kaget, ia tidak menyangka keluarga Aisyah sangat kekurangan tapi Aisyah ia kuliah.


" apanya yang tak pantas, semua sama kamu juga karyawan papa ". Zidan hanya mengamati keluarga Aisyah.


Dokter keluar dari ruangan nya setelah hampir satu jam memeriksa ibu nya Aisyah. Aisyah dan yang lainnya langsung menghampiri terlihat sangat khawatir.


" bagaimana ibu saya pak". dokter Ronald tersenyum.


" tidak apa-apa hanya serangan jantung biasa, ibu anda tak bisa mendengar berita yang mengejutkan. Tapi perlu beberapa hari perawatan karena darah nya juga tinggi ".


" maaf dok kami izin pulang saja." ucap ayah ia berfikir akan habis berapa nanti, yang ia dengar dari orang-orang semalam menginap di sini akan menghabiskan beberapa juta dan mereka tak punya uang itu.


" berikan kamar terbaik dok VVIP saya yang menanggung semuanya ". ucap Erga.


" baik tuan Erga".


" nak tapi..."...


" pikirkan kesehatan ibu dulu ya pak". ucap Erga ia tak ingin ucapan panjang lebar.


Erga dan Zidan kemudian pamit setelah tau ibu nya Aisyah mendapat perawatan terbaik. Erga senang bisa menolong ibu nya Aisyah, ia senyum-senyum sedari tadi di jalan. Dalam keadaan seperti itupun Aisyah tetap terlihat manis, ada aura yang terpancar dari diri Aisyah.


___

__ADS_1


__ADS_2