Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 64 #bahagia keluarga mama


__ADS_3

Mereka istirahat hampir dua jam Zidan bangun terlebih dahulu lalu ia mandi dan melakukan shalat ashar, Zidan tak tega membangunkan Kiran yang sedang pulas tertidur. Di rapikan nya pakaian yang ia bawa tadi ke lemari, ada lemari kosong milik ana. kamarnya cukup luas karena juga rumahnya cukup mewah dan besar. beruntung sekali mama Reyana mendapatkan suami seorang datok selain juga menyayangi nya juga kaya raya. tapi bukan itu awal dari Reyana em Ijah dengan Datok, tapi karena anak-anak Datok yang menginginkan Reyana untuk menjadi ibunya.


Kiran menggeliat badannya terasa pegal ia mulai dengan pelan membuka matanya. Rasanya masih sangat lemas tapi rasa mual nya berangsur sembuh.


" kakak sudah bangun , kenapa tak bangunkan Kiran tadi kak." Kiran masih malas untuk beranjak.


" kamu masih tidur pulas tadi syang mas tak tega membangunkan mu". Reyana tersenyum ia mengingat perutnya yang sudah ada janinnya.


" mau bangun atau tidur lagi." Kiran terkekeh.


" bangun kak, Kiran belum shalat ashar."


" kakak sudah siapkan airnya, cepet mandi lalu shalat, kamu bau asem".


"maaf Kiran tadi benar-benar lemas tak kuat jika berjaga ".


" iya sayang calon ibu harus ingat jaga kesehatan makan yang bergizi juga istirahat. biar sehat debay dan ibunya. terima kasih sayang."


" sama-sama kak, Kiran juga sangat bahagia. akhirnya apa yang kita tunggu hadir juga seorang Zidan junior ".


" Alhamdulillah, kita kabarin umi dan Abi nanti, kamu mandi dulu keburu abis keutamaan awal waktu nya". kemudian Kiran bangun langsung ke kamar mandi.


Kiran dan Zidan turun ia belum sempat menyapa orang yang tinggal di rumah itu. dilihatnya seorang gadis yang sedang ikut menyiapkan makan untuk mereka.


" kak Kiran dan kak Zidan". ucap gadis itu, ia memeluk Kiran sangat erat.


" dia Liza anak mama adik kamu Kiran, kami biasa memanggilnya seperti itu". Kiran lalu balik memeluknya erat.


" wah kakak iza jadi banyak ya ma di tambah satu kakak laki-laki lagi. salam kenal kak zidan aku iza adik kak Kiran". Zidan tersenyum menyambut iza.


" ayo kita makan kak, aku sudah lapar tadi mama tak boleh aku makan katanya tunggu kak kiran. issshhh... mama pelit." semuanya terkekeh. tak lama kemudian Erga datang ia dari kantor.


" assalamu'alaikum semua"


" wa'alaikumsalam" jawab semua.

__ADS_1


" maaf Erga pulang terlambat, datang dari tadi ya kak".


" iya Erga dari siang kami datang".


" maaf kak, Erga tak sempat menjemput kalian tadi meeting Erga tak bisa Erga tinggalkan ". jelas Erga.


" iya tak apa Erga, mama sudah menjemput ku".


" wah ada sup ayam, enak nih aku jadi lapar". ucap Erga menelan ludahnya.


" cuci tangan dulu sayang". ucap mama selalu memperingatkan hal kebaikan untuk anak-anaknya.


" iya mama sayang". Kiran melihat kedekatan adiknya dengan mamanya sangat senang, benar apa yang di bilang Datuk dulu jika mama Reyana memang orang yang sangat baik.


mama Reyana mengambilkan nasi untuk semuanya, kegiatan ini sering mama lakukan setiap hari. mereka terbiasa di layani oleh mama Reyana.


" makan yang banyak biar sehat, ibu hamil harus kuat". iza dan Erga menatap mamanya dan Kiran.


" kak Kiran hamil". tanya Erga.


" yes aku punya ponakan". semua tertawa, Erga memang senang sekali dengan anak kecil ia sering memberi hadiah untuk keponakannya di sini.


" yah iza akan jadi aunty." semua tertawa mendengar kebahagiaan mereka.


kebahagiaan pun bertambah bagi keluarga Reyana, dengan kabar yang sangat membahagiakan.


" papa kapan pulang ma". tanya Erga ia mulai memakan sup nya.


" insyaAlloh besok sayang, "


" papa pasti senang dengar kabar ini, ia akan jadi seorang kakek". erga tertawa di ikuti yang lain


" mama jadi semakin tua ini, tak sabar juga melihat kalian semua punya anak pasti akan ramai lagi suara cucu-cucu mama". tawa renyah itu bertambah lagi.


" ayo lanjutkan makannya lanjut ngobrolnya nanti". ucap mama. memang di meja makan selalu di selingi dengan obrolan berbeda dengan Kiran dan Zidan di meja makan mereka akan sedikit berbicara.

__ADS_1


Senyum Zidan dan Kiran merekah ia juga bahagia anak-anak dari mama Reyana menerimanya dengan sangat baik. mama Reyana tak pernah mengajarkan anaknya untuk sebuah dendam. ia selalu mengajarkan kasih sayang kepada siapa pun.


Karena waktu sebentar lagi maghrib Zidan dan Kiran naik ke atas. mereka menunggu adzan sembari rebahan sebentar, sedangkan Erga dan iza mandi begitu juga mama.


" sayang aku senang melihat keluarga mama di sini".


" iya kak, Kiran juga bahagia. Kiran kira mereka ada yang tak bisa menerima kehadiran Kiran".


" mama mu sangat baik sayang, meskipun mereka adalah anak tiri tapi mereka begitu menyayangi mama. tak seperti cerita di sinetron jika ibu tiri itu kejam". ucap Zidan ia sekarang sangat suka mengusap perut Kiran.


" Alhamdulillah kak kebahagiaan Kiran bertambah dan Allah lengkapi lagi dengan kehadiran dia di perut Kiran". Zidan menciumi perut istrinya yang masih rata itu, merasa geli Kiran cekikikan.


" geli kakak".


Rendi ada rencana untuk ke rumah mertuanya tapi ia belum dapat izin, apalagi kasus Zidan ini belum selesai. preman itu belum membuka mulut siapa otak dari kejadian itu, mereka hanyalah pesuruh saja.


" mas lelah ya mau langsung mandi atau istirahat dulu". ana menyambut suaminya yang baru pulang.


" mas rebahan dulu rasanya capek sekali". Rendi tau jika ana juga sangat ingin pergi ke negaranya tapi ia mengerti tugas Rendi sebagai abdi negara. Rendi menarik ana agar ia rebahan di dadanya.


" maafkan mas ya sayang". ana mengernyitkan keningnya ia bingung.


" minta maaf untuk apa mas". ana memeluk suaminya ada yang mengganjal di diri suaminya.


" mas belum bisa mengajakmu pulang ke rumah papa". ana lalu tersenyum ia tahu kegalauan suaminya.


" kenapa mas minta maaf tak apa mas kita bisa pergi lain waktu jika mas libur, Indonesia dan Malaysia tidak jauh mas. jika kita hanya semalam saja di sana pun bisa, ada helikopter papa". ucap ana.


" mas terlalu sibuk dengan pekerjaan mas"


" hey sayang aku tau mas adalah seorang abdi negara dan itu adalah tugas mas. jangan merasa bersalah mas, ana tidak akan keberatan dengan tugas mas. dari awal ana mau menerima mas, ana sudah memikirkan nya jauh hari. ana justru bangga sama mas, tidak menggunakan kekuasaan mas untuk hal yang tidak baik. mas selalu patuh dan disiplin, ana suka mas. jangan jadikan ana sebagai beban berat dalam hidup mas. kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan rumah tangga kita mas." Rendi mengecup ana ia lalu memeluknya erat. bahagia ia rasakan memiliki istri yang sangat pengertian.


__


"

__ADS_1


__ADS_2