
Reyana kiran dan iza ada di rumah, menunggu waktu Datok datang. mama Reyana akan menjemput nya di bandara, itulah mama Reyana meskipun ia sudah tak muda lagi tapi tetap kasih sayang terhadap Datok tak berkurang sedikitpun.
" huuueeeekkkkk". Kiran merasa perut nya mual ia ingin muntah. beberapa hari Kiran lemas dan berasa perutnya di aduk-aduk.
" sayang kamu tak apa-apa". Kiran lemas keluar dari kamar mandi.
" kakak sakit perut nya". tanya iza ia khawatir Kiran terlihat pucat.
" ngga apa-apa ma mual saja mungkin memang bawaan bayi Kiran".
" iya sayang memang trimester pertama itu orang hamil akan merasakan seperti itu".
" iya ma, Kiran tidak apa-apa Kiran menikmati semuanya.".
" Alhamdulillah tapi tetap ya pasokan makanan bergizi mu harus seimbang, jangan tak di isi perutnya. Bayimu dalam masa pertumbuhan di dalam jangan sampai kena gizi buruk, kan ngga lucu cucu mama kena gizi buruk". Kiran dan iza tertawa.
" padahal nenek dan kakeknya beli jet pribadi bisa, cucunya gizi buruk ". semua tertawa mendengar ucapan iza.
" memang kakak kapan pulang ke Indonesia ". tanya iza ia masih senang melihat Kiran ada di sini.
" insyaAlloh lusa dek, kata kak Zidan tiga hari saja di sini karena kerjaan kak Zidan masih banyak. kasus di kepolisian yang di tangani kak Rendi juga belum selesai ".
" padahal iza seneng banget kakak ada di sini, masih kangen sama kak Kiran." terang iza.
" sayang, kamu harus sehat dulu kalau masih pucat gini mama tak izinkan kamu pulang ya. nanti mama bilang sama Zidan, tak baik untuk mu dan bayimu. dan kalian harus naik helikopter papa jangan naik pesawat umum lagi ". tegas mama ia khawatir dengan calon cucunya.
" iya ma nanti Kiran juga coba ngomong sama kak Zidan ". mama mengusap kepala Kiran, iza tak cemburu karena ia tau mama nya sejak dulu sangat merindukan anaknya yang hilang.
__ADS_1
" iza jadi ngga sabar punya keponakan, nanti pasti mirip iza". iza tertawa kecil.
" mirip nenek dong, kan mama neneknya ". rumah itu sekarang sangat ramai, kesedihan dalam diri sudah tak ada kini yang ada hanya kebahagiaan.
" pasti mirip papa kan kakeknya ". semua menoleh ke arah suara, ternyata papa sampai di rumah.
" papa kok sudah sampai rumah, kenapa tak bilang. mama ngga tau papa jadi pulang sendirian". ucap mama menyambut papa sembari mencium tangan papa, tak lupa kecupan hangat di kening mama.
" sengaja papa kasih kejutan untuk kalian, tak sabar dengan cerita kalian kalau papa akan jadi kakek". semua tertawa lalu Salim dengan papa.
" gimana nak kehamilan mu, papa bahagia sekali".
" Alhamdulillah pa Kiran baik,". papa mengusap kepala Kiran seakan tak ada jarak lagi antara mereka meskipun bukan darah daging.
" jaga dengan baik ya nak, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk beritahu papa. papa kakek dari anakmu".
" tidak nak itu sudah hak mu dan kewajiban papa sebagai orang tua, kasih sayang mama mu yang hilang puluhan tahun tak bisa kami balas dengan semua ini".
" tidak pa, semuanya cukup Kiran dapatkan bahkan lebih. Kiran punya keluarga baru ada papa mama juga adik dan kakak, Kiran sangat bahagia pa ". Datok mengecup kepala Kiran yang terbalut oleh jilbab. air mata mengalir di pipi mama karena bahagia.
" Erga dan Zidan belum pulang." tanya Datok tak melihat mereka, Datok tau jika Zidan sednag ada di perusahaan.
" belum pa masih di perusahaan ". Datok mengangguk.
" papa mau langsung mandi atau istirahat ".
" sebentar papa masih ingin ngobrol sama anak-anak papa yang cantik ini." ada Kiran di sebelah kanan dan iza sebelah kiri tangan Datok.
__ADS_1
***
Waktu Zuhur tiba saat itu juga Erga meminta cleaning servis untuk membersihkan tempat yang biasa mereka pakai untuk meeting. tempat itu cukup luas cukup untuk menampung karyawan laki-laki di perusahaan ini. Semua karyawan dan staf laki-laki di minta untuk berkumpul di ruang meeting, tak terkecuali cleaning servis.
" Saya mengumpulkan kalian di sini ingin mengumumkan sesuatu hal, mulai detik ini saat waktu shalat tiba kalian para laki-laki di wajibkan untuk berjamaah di sini sebelum masjid yang akan saya bangun jadi. kita pakai ruangan ini untuk shalat berjamaah." semua manggut-manggut mereka senang. Erga mengumumkan apa yang sudah Zidan katakan padanya, Zidan juga tidak menyangka Erga akan langsung melakukan nya.
" semoga kita semua bisa Istiqomah, karena ajal tidak akan tau kapan kita akan di jemput. Boleh bekerja keras asal tak lupa kewajiban kita sebagai seorang muslim. Saya sangat berterima kasih kepada kakak ipar saya kak Zidan yang telah menasehati, benar untuk apa kita menumpuk uang banyak tapi lalai dengan kewajiban terhadap Rabb kita. Saat ini karena ada kakak saya, saya persilahkan kakak yang memulainya untuk menjadi imam bagi kami". Zidan tersenyum ia tak menolak sedikit pun.
" Alhamdulillah terimakasih pak bos, saya sangat senang sekali". Erga tersenyum ia senang ternyata karyawan dia sangat banyak sekali.
Zidan memimpin shalat berjamaah di kantor Erga, hati Erga merasa nyes ia menitikkan air mata. hatinya terketuk dengan nasehat Zidan, dulu ia suka sekali menunda shalat.
" Kakak mau pulang duluan ya Erga". ucap Zidan.
" Erga juga mau pulang kak, hari ini ta ada yang begitu penting di perusahaan biar Akbar saja yang menghandel perusahaan". Akbar adalah asisten erga di perusahaan apapun hal yang menyangkut Erga Akbar yang mengaturnya.
" ya sudah ayo pulang, tadi kakak tinggal kan kakakmu Kiran masih terlihat pucat kakak khawatir".
" gimana sih kakak bisa bertemu dengan kak Kiran dulu, sepertinya kakak cinta mati sama kak Kiran".
" buat dapetin kakakmu itu butuh perjuangan Erga ngga ada jalan yang mulus, kakak hampir saja kehilangan Kiran namun Allah masih Maha baik ternyata kiran masih menjadi jodoh kakak. Kak Zidan empat tahun menunggu kakakmu." terang Zidan .
" lumayan juga ya kak, cukup lama". Zidan mengangguk ia teringat di masa dirinya hancur berkeping-keping saat Kiran menolak khitbah nya.
" yah di situlah perjuangan Erga, kakak dekatkan terus diri kakak kepada Allah biarlah Allah yang mengatur kehidupan kakak bagaimana selanjutnya. Berharap kepada manusia itu akan terasa sakit Erga namun ketika kita berharap kepada Allah, Allah akan menuntun kita pada jalanNya di mana itu yang terbaik untuk kita". Erga berfikir betul kata Zidan berharap lah hanya kepada Allah saja karena ia tak akan pernah meninggalkan mu sedetikpun. akhirnya mobil mereka sampai juga di halaman rumah Datok.
___
__ADS_1