
Beberapa hari lamanya Zidan menanti hari ini, malam ini Zidan umi dan Abi akan berangkat ke panti asuhan. Umi sudah mempersiapkan segalanya kue-kue umi buat beberapa loyang karena banyak anak panti, meskipun umi sering mengirimkan kue tapi kali ini kue yang umi buat spesial karena merasakan kebahagiaan untuk anak laki-laki nya. Zidan juga sudah membeli baju baru yang akan ia pakai untuk khitbah malam ini, khitbah yang sangat resmi karena membawa umi dan abinya.
Sedangkan si balik kamar panti ada seseorang yang sedang meratapi keputusan nya bahkan Kiran tak fokus dalam mengerjakan skripsi nya. Zidan dan Tomi saat di kantor sudah membantu menyelesaikan skripsi Kiran dengan baik untuk itulah Zidan dengan berani mengkhitbah Kiran. Kiran menangis namun ia sembunyikan agar ibu panti tidak tau akan kesedihan nya, ia akan menikah dengan orang asing yang tak pernah ia kenal dan temui bahkan keluarga nya. padahal Kiran bermimpi mempunyai mertua yang menyayangi nya.
" Zidan sudah siap apa belum nak ini kuenya sudah umi kemas dengan rapi". teriak umi sembari marapikan kue-kue nya.
" iya sebentar umi masih dandan". Abi terkekeh mendengar Zidan.
" pakai dandan segala sih nak".
" kan mau tampil yang terbaik umi untuk calon istri". ucap Zidan sembari menyisir rambut nya berkali-kali.
" ngga usah rapi-rapi malah terlihat norak nanti nak, tampil biasa saja wanita yang saliha ia tak mau jika melihat lelaki yang terlalu oper". ucap Abi memberitahu. Zidan lalu mengembalikan gaya rambutnya yang ia bikin tak seperti biasanya.
" benar kata Abi aku harus tetap sebagai Zidan, Zidan yang mencintai nya dan menunggu nya hingga sampai ke pelaminan". Zidan terkekeh sendiri melihat ke arah cermin. Zidan lalu keluar kamar ia memasukkan semua yang akan di bawa ke rumah Kiran.
" nah gitu aja cocok, itulah Zidan tak perlu banyak gaya. orang yang mencintaimu akan terima kamu apa adanya bukan ada apanya. Cinta ghaib hanya bisa di rasakan dan cintailah cinta di atas cinta".
" Abi puitis banget apa maksud nya Abi".
" katanya sudah dewasa gitu aja ngga tau, udah yuk cepat berangkat nanti kemalaman". ucap Abi.
" apa sih ni, Zidan penasaran".
" sudah nanti kamu akan tau apa maksud Abi". Zidan melajukan mobilnya ke arah panti.
Beberapa hari ini ibu panti sedikit bicara ia masih tak percaya dengan apa yang Kiran putuskan, ibu panti masih tampak banyak melamun bahkan Kiran pun begitu ia tak banyak bermain dengan anak panti seperti biasanya. Ibu panti sudah mencoba mengatakan pada Kiran namun kiran tetap menolak keputusan yang ia ambil sudah tidak bisa di tarik lagi aoalay ancaman dari Tedy mbuatnya merasa sangat kesal.
__ADS_1
" kak sejak kemarin kakek tak bersemangat apa kakak sakit". tanya Aurel.
"tidak sayang kakak hanya lelah saja, Aurel bermain sam teman-teman ya."
" huh ngga seru ngga ada kakak, ayolah kak". aurel mencoba menarik Kiran tapi tak berhasil.
" maaf sayang kakak mau istirahat kakak lelah sekali besok mau ke kampus dan kerja.". ucap Kiran agar Aurel mau meninggalkan nya. benar adanya Aurel pergi keluar dari kamarnya. sejak beberapa hari Kiran dan ibu panti sangat berbeda lebih banyak melamun dan Kiran lebih banyak berdiam diri di dalam kamarnya.
Terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah, anak-anak panti melihat nya mereka senang yang keluar adalah Zidan beserta umi dan Abi nya dengan membawa banyak makanan. anak-anak membantu Zidan, itu sudah terbiasa bagi mereka. di lihatnya dari dalam ibu panti langsung keluar karena ia melihat Zidan beserta orang tua nya. Kiran juga penasaran melihat siapa yang datang, tampak raut wajah kesedihan ketika ia melihat Zidan. Kiran lalu salim kepada umi dan Abi...
" maaf malam-malam datang mengganggu istirahat kalian." ucap umi, Kiran kebelakang untuk membuatkan minum.
" tidak apa-apa Bu kami juga belum ada yang tertidur, anak-anak masih mengerjakan tugas sekolah nya". ucap ibu panti sebenarnya ia bertanya-tanya dengan kedatangan Zidan bwserta kedua orang tuanya. biasanya hanya Zidan saja yang datang sendiri membawa kue-kue dari umi. Kiran keluar membawakan minum serta makanan kecil, Zidan melirik ke arah Kiran ia tak bisa menahan matanya.
" repot-repot nak Kiran terimakasih*.
" tidak apa-apa umi hanya minum saja". ucap Kiran ia langsung duduk di samping ibu panti.
" maaf ibu nak Kiran kedatangan kami ke sini ada maksud, kami ingin melamar Kiran untuk Zidan" ucap Abi langsung berterus terang.
deg
Hati Kiran dan ibu panti sama-sama terkejut, tak di sangka jika Zidan akan benar-benar mengkhitbah nya kembali.
" maaf" ucap ibu namun perkataan nya di potong oleh Abi.
" hanya khitbah saja Zidan takut jika ada yang mendahului nya makanya kita kesini".
__ADS_1
" tapi pak".
" zidan tau ibu jika Kiran belum wisuda, Zidan bersedia menikahnya jika Kiran sudah lulus kuliah tak apa. kali ini hanya khitbah saja".
" maaf nak Zidan pak Bu beribu maaf, Kiran sudah menerima khitbah dari orang lain dan sebentar lagi akan menikah."
dummmm
seperti di hantam batu yang sangat besar Zidan melihat ke arah Kiran ia mengepalkan tangan nya juga menggertakkan giginya bahwa ia emosi.
" apa maksudnya bu" tanya Zidan ia ingin penjelasan.
" iya nak maaf, beberapa waktu lalu juga ada yang mengkhitbah Kiran dan kiran menyetujui ia menerimanya, maaf kami tak bisa menerima lamaran kalian." rasanya hancur hati Zidan berkeping-keping seperti pecahan kaca yang jatuh.
" benar Kiran". tanya Zidan langsung menahan amarah. Kiran tak berani mengangkat wajahnya melihat ke arah mereka bertiga.
" i iya maaf kak". Zidan tersenyum sinis kemudian ia langsung pamit.
" terima kasih". ucap Zidan lalu pamit dan mengajak semuanya.
" kak maaf Kiran minta".
" tak ada yang perlu di maafkan Kiran semua adalah mutlak hakmu untuk menerima ku atau tidak, semoga kamu bahagia dengan pilihan mu" Kiran terduduk di lantai ia menangis umi dan Abi sebenarnya tak tega tapi ia memilih mengikuti anaknya. terlihat jelas jika Kiran juga hancur karena ia mencintai zidan.
Zidan melajukan mobilnya cukup kencang seakan ia lupa bahwa di dalam mobilnya masih ada umi dan Abi.
" Zidan nak istighfar nak pelankan mobilnya, bukalah pikiran mu mungkin memang Kiran bukanlah jodohmu." Zidan menangis sembari menyetir namun ia sudah memelankan lajunya.
__ADS_1
___
bersambung