Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 13 #tak ingin tertangkap security


__ADS_3

Zidan datang membawa bungkusan makanan untuk Kiran, umi juga menyayangi Kiran sebelum tau jika anaknya mencintai Kiran. Kiran anak yang sopan juga baik, ia selalu memanggil umi dan Abi layaknya orang tuanya. Dekat saat Zakia masih tinggal di rumah itu, berkat Aurel yang sangat ingin melihat wajah kia. Kiran membenarkan selimut Aurel yang baru saja tertidur lagi-lagi obat yang di berikan dokter terdapat obat tidurnya.


" assalamu'alaikum" ucap Zidan masuk ke dalam ruangan.


" wa'alaikumsalam" jawab Kiran tersenyum manis.


" Kiran makanlah dulu ini dari umi untuk mu" Kiran mendekati Zidan yang menenteng makanaen.


" MasyaAlloh umi membawakan ini". tanya Kiran ia senang.


" iya ini untuk mu makanlah, kakak sudah makan tadi di rumah."


" gimana dengan aurel, apa dia masih merasa kesakitan". tanya Zidan mendekati Aurel lalu mengusap kepalanya.


" sudah lebih baik kak insyaAlloh besok akan pulang, Aurel hanya kelelahan saja kata dokter Azzam".


" Aurel itu masih anak-anak ia belum bisa mengontrol dirinya sendiri, dan ini adalah masa bermainnya". ucap Zidan.


" yang kami lakukan semuanya demi Aurel kak, mungkin tadi ibu kecolongan sednag sibuk". ibu panti hanya berharap donatur dan sumbangan dari orang-orang saja untuk makan anak-anak, tubuhnya sudah tidak kuat lagi seperti dulu. jika dulu masih bisa membuat jajanan untuk di jual lagi namun sekarang sudah tak kuat.


" kita tidak bisa menyalahkan siapapun Kiran, memang Aurel itu sudah sakit kita minta bantuan ke anak-anaknya agar iku menjaga Aurel". kata Zidan.


" itulah kak kenapa terlihat kita mengistimewakan Aurel".


" lebih baik kita bicarakan pelan-pelan kepada mereka jika Aurel ini sebenarnya sakit dan dia perlu penjagaan pasti mereka akan mengerti". Kiran mengangguk.


waktu sudah mulai larut malam Kiran sejak tadi melihat jam dinding, gelisah jika Zidan ada berada di kamar ini ia takut terjadi fitnah. Zidan tau gelagat Kiran, bukan ia tak ingin keluar namun ingin memastikan dulu jika Aurel benar-benar baik.


" kakak pulang saja biar Kiran yang menunggu Aurel". ucap Kiran.


" tak apa Kiran kakak ikut tunggu Aurel tadi kakak sudah izin dengan umi".


" tapi kak".


" kenapa kamu takut, tak mungkin kakak macam-macam sama kamu kakak itu cuma satu macam. limited edition." ucap Zidan menahan tawa.


" ya ampun kakak bukan gitu maksud Kiran, kita bukan mahrom mungkin memang sebaiknya kakak tidak di sini. kiran takut jika ada fitnah".


" kan ada Aurel juga di ruangan ini Kiran".

__ADS_1


" bukan gitu kak, tapi kita kan cuma berdua dan Aurel sakit terbaring di ranjang".


" dari pada terjadi fitnah gimana kalau..." Zidan menggantung kan ucapan nya. Kiran mengerut kan alisnya meminta penjelasan dan penasaran dengan maksud Zidan.


" kita jadi mahram aja, sekarang kakak juga bisa jadiin kamu mahram supaya tak kawatir". Zidan nyengir cengengesan.


" ih kakak, Kiran tak mau kita ketangkep security kalau kita berdua dalam satu ruangan ini".


" ide bagus Kiran, kalau kita ketangkep security kan malah bagus langsung di suruh nikah". Zidan terkekeh.


" ya ampun kakak, itu namanya dengan cara tidak terhormat ".


" mau nya gimana, kamu mau dengan cara terhormat. kakak siap". goda zidan


" sudah kakak jangan ngegombal terus, maaf ya kakak. Kiran harus usir kakak kali ini". Kiran menelangkup kan tangannya di depan dada.


Zidan lalu keluar ia tidur diluar ia juga tau batasan bagaimana laki-laki dan perempuan saat bersama.


_


Alif menarik-narik uminya untuk ke rumah neneknya, rumah Abi dan umi kini dekat dengan kia akhirnya Hamdan mengantar kia dan Alif sebelum Hamdan pergi ia akan mengurus cabang restauran di kota sebelah pasnya di perbatasan jadi tidak jauh dari rumah bisa di tempuh dengan waktu satu jam perjalanan.


" Abi..."


" iya Alif Abi pergi kerja dulu ya ada sayang" Alif nyengir ia mengizinkan Abi nya untuk pergi lalu salim.


" kapan dstang kia umi tak dengar suara mobil Hamdan". mobil Hamdan memang suaranya sangat halus, lalat di jalan pun sampai tertabrak karena tak dengar suara mobil Hamdan melintas.


" baru umi, mas Hamdan tidak mampir langsung ke kerjaan ada yang harus ia pantau". ucap kia.


" nenek". ucap Alif ia senang bertemu neneknya, Alif mendapatkan kasih sayang yang berlipat, dari umma dan Abah yang selalu memanjakan Alif juga kasih sayang umi dan Abi yang sedikit banyak melarang jika itu tidak benar. umi dan Abi memberikan pendidikan yang baik untuk Alif.


Alif berlari ke kamar Zidan namun tak di dapati nya, alif cemberut.


" kemana kak Zidan umi" tanya kia.


" ada di rumah sakit, " jawab umi.


" siapa yang sakit umi"

__ADS_1


" Aurel anak panti"


" innalilahi semoga lekas sehat, ada apa lagi dengan Aurel ya umi"


" umi juga belum tau, semalem Zidan izin ke umi jika mau menginap di rumah sakit".


" sayang, om sedang pergi jangan sedih ya. lebih baik Alif bermain sama kakek, kakek lagi buat apa ya, coba Alif yang tengok".


Kepala Alif menoleh ke sana kemari mencari sosok kakek, ia mendapati kakek sedang membenahi kandang burung.


" eh cucu hebat kakek". Alif berlari menghampiri kakeknya.


" ini apa kakek." dengan suara masih terputus Alif mencoba untuk berbicara.


" kandang nak untuk burung supaya burungnya tidak terbang". Alif senang ia ikut sibuk membantu kakek.


" nak kamu tau jika Zidan menyukai Kiran". tanya umi.


" Kiran mi, kia ngga bisa menebak kakak umi. ia selalu menyimpan rapat untuk masalah hatinya".


" semalam Zidan mengatakan nya jika ia menyukai Kiran, namun Kiran belum mau ia khitbah ia ingin lulus kuliah dulu."


" kenpa harus menunggu lulus umi, jika memang sudah siap lebih baik kan mereka menikah tak baik jika harus menunggu lama sedangkan mereka sering bersama. walaupun kia tau jika kakak dan Kiran tak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh tapi mi..."


" umi sudah mengatakan nya nak, namun kakakmu setiap ta'aruf dengan wanita lain ia tak pernah merasakan getaran dalam hati nya."


" terus gimana umi apa yang harus kia lakukan" tanya kia ia ingin membantu kakaknya.


" tak ada yang bisa kita lakukan nak, itu masalah hati dan Zidan tak mau juga jika kita ikut campur".


" kia coba ngomong sama mas Hamdan ya mi, siapa tau mas Hamdan bisa membantu"


" jangan nak untuk sekarang biarkan kakakmu yang menyelesaikan nya ini bukan sesuatu yang kecil, pernikahan itu atas dasar menyukai meski belum adanya cinta. Zidan masih berjuang biarkan ia menikmati perjuangan nya, akan terasa indah jika nanti apa yang ia perjuangkan sendiri membuahkan hasil yang ia inginkan. untuk masalah hati ia tak ingin orang lain ikut campur". jelas umi.


" baiklah umi semoga kak Zidan menemukan cinta sejatinya". umi mengangguk kemudian mereka berdua melanjutkan membuat kue. umi sedang membuat kue kesukaan Alif.


__


bersambung

__ADS_1


__ADS_2