
Kesepakatan pernikahan akan di adakan dua Minggu lagi, Erga tak mau lama-lama takut terlalu banyak menumpuk dosa. Erga sangat menjaga Aisyah semenjak mereka bertunangan setiap hari Erga mengantar dan menjemput Aisyah. Erga selalu bawa orang ketiga yaitu sopir. Erga sangat khawatir dengan calon istrinya apalagi jika Aisyah harus naik angkot. sebenarnya Aisyah tak mau merepotkan tapi Erga bersikeras mau antar Aisyah.
" Kak, Aisyah bisa sendiri ngga perlu kakak setiap hari antar jemput Aisyah begini". ucap Aisyah ia benar-benar merasa tak enak.
" tak apa ini bentuk rasa peduli ku padamu, jangan larang aku ya setidaknya aku tenang jika harus ke kantor". ucap Erga tanpa menoleh ke arah Aisyah, Aisyah duduk di belakang dan Erga di depan samping sopir.
" Aisyah jadi merepotkan kak."
" tidak aku tidak repot sama sekali, nanti pulang jam berapa. jika aku tak bisa biar sopir yang menjemput mu".
" tidak usah kak, biar Aisyah pulang sama Akbar saja. terima kasih kakak sudah memberinya motor sudah sangat membantu untuk kami."
" jangan berucap terima kasih terus Aisyah, akbar itu calon adik ipar ku sudah selayaknya dia mendapatkan fasilitas kasihan juga jika dia harus repot-repot nak angkot kan. Ya sudah jika akan pulang bareng Akbar, kabari kakak ya." Aisyah mengangguk tak lama ia sampai juga di tempat les nya.
" Aisyah pamit masih dengan menunduk ia malu ".
***
Zidan, Kiran, Rendi dan ana sudah bersiap mereka akan pulang hari ini, pesawat pribadi pun sudah papa siapkan dan sudah di daftarkan ke penerbangan. Sedih memang jika harus berpisah lagi, tapi bagaimana Zidan dan Rendi orang Indonesia dan mereka ada tanggung jawab di sana.
" jaga kesehatan ya, jangan lupa makan makanan bergizi banyak istirahat ingat ada janin dalam perut mu sayang ". mama Reyana memeluk Kiran.
" iya ma insyaAlloh Kiran akan jaga diri baik-baik ". mereka mengurai pelukannya.
" ana nak jadilah istri saliha menurut sama suami, makan teratur, sering-sering kasih kabar sama mama." mama tak bisa meski mereka bisa sering bertemu namun kebersamaan beberapa hari melekat dalam diri mama dan setelah ini akan sepi lagi.
" iya ma, ana akan selalu ingat pesan mama. mama juga jaga kesehatan ".
Mereka akhirnya pamit, pesawat sudah siap mereka akan terbang hari ini. Papa memegang erat tangan mama Reyana, meyakinkan jika dirinya harus kuat masih ada Datok yang menemani harinya. Lambaian tangan dari Datok dan mama, pesawat akhirnya terbang ke tempat tujuan.
" Anak-anak sudah dewasa ya pa satu persatu akan meninggalkan kita." ucap mama Reyana sedih sembari menatap pesawat itu yang terlihat semakin mengecil.
" Bukan meninggalkan ma, mereka sedang menjalani kehidupan mereka yang baru. dan memang ini yang akan terjadi pada kita. tapi percayalah papa akan terus berada di samping mama sampai nafas ini terhenti." mama tersenyum kini ia bahagia saat menatap sang suami yang selalu membuat nya tersenyum.
__ADS_1
" terima kasih ya pa, papa memberikan mama banyak kebahagiaan."
" sama-sama mama sayang justru papa makin bahagia dengan hadirnya mama ada di samping papa". Pesawat sudah tidak terlihat mereka lalu pulang ke rumah.
Erga dan iza tak bisa ikut mengantar karena Erga ada kerjaan penting dan iza ada mata kuliah penting juga tapi tadi pagi mereka sudah berpamitan.
_
Tak menunggu waktu lama pesawat sampai juga di Indonesia, Kiran sudah tak merasa mabok namun kini ana yang tak kuat merasa perut nya sangat mual. Rendi langsung memapah ana untuk keluar pesawat.
" kamu kenapa sayang". tanya Rendi khawatir.
" ngga tau mas, mual banget kepalaku pusing". Rendi panik ia tak membawa obat sama sekali ia pikir keduanya sehat wal Afiat.
" Langsung ke rumah sakit aja ren takutnya nanti ana kenapa-napa". sadan Zidan ia juga tak tega melihat kakak iparnya terlihat pucat.
" ya sudah kalau gitu aku duluan ya Zidan, itu sopir om Jack sudah datang juga. aku mampir ke rumah sakit sekalian." Zidan dan Kiran mengangguk Rendi pergi lebih dulu.
Sedangkan Zidan masih menunggu Hamdan menjemput nya, Hamdan sudah menelepon saat mereka akan berangkat taci bahwa mereka akan di jemput oleh Hamdan. Tak harus menunggu lama mobil Hamdan sudah terlihat, ada Zakia juga Alif ikut Jemput mereka. Alif senang saat Zidan menelepon jika di perut Kiran ada adiknya.
" kenapa om lama sekali perginya". cerocos Alif.
" Om tak bisa langsung pulang sayang, Tante Kiran sakit." Alif memindai matanya ke arah Kiran, Kiran pun tersenyum.
" kata nenek ada adik bayi di perut Tante Kiran."
" iya sayang, ada dedeknya".
" kenapa tak besar seperti perut umi waktu ada bayinya."
" belum sayang semua itu butuh proses ya ". Alif manggut-manggut berlagak mengerti.
" Sudah sehat Kiran". Hamdan mengusap kepala Kiran seperti biasa.
__ADS_1
" Alhamdulillah sudah kak, lebih baik."
" kakak senang dengarnya ternyata kakak ipar ku masih tokcer juga." Hamdan terkekeh.
" kalau soal itu jangan di tanya Hamdan, aku masih bisa bikin kesebelasan." Hamdan mencebik.
Zakia pun berpelukan dengan Kiran, mereka saling sapa kangen.
" sehat Kiran." tanya Zakia
" Alhamdulillah sehat kak, semua merawat Kiran dengan baik".
" yang penting kamu jangan stres dan atur pola makan makanan yang bergizi ". terang Zakia.
" iya kak insyaAlloh ".
" ayo pulang umi Abi sudah menunggu dari kemarin nanyain terus "
" iya kak, umi dan Abi sangat senang mendengar kabar bahagia dari kakak ". Zidan tersenyum ia juga bahagia dengan kehamilan kiran istrinya.q
" ayo pulang om, Alifa sudah lapar ".
" kenapa tadi ngga makan dulu sayang."
" Kalau Alif makan Abi tinggalin Alif, Alif kan kepengen jemput om sama Tante mau lihat pesawat juga." celotehan Alif yang begitu lucu bikin gemas semua orang.
" ayo Abi kita pulang Alif laper." Hamdan hanya mengacungkan jempolnya saja.
Kiran terkekeh keponakan nya Alif ini memang bikin gemas.
Mobil sudah sampai di depan rumah, umi dan Abi menyambut nya. umi tak henti -hentinya bersyukur ia mencium kedua anaknya itu Zidan dan Kiran. Allah kabulkan setiap harapan nya. Zidan yang mempunyai istri seseorang yang ia cintai kini bertambah dengan kehamilan kiran.
" Makan yang banyak ya Kiran, kamu harus sehat sekarang jangan hanya pikirin diri sendiri tapi juga bayimu nak."
__ADS_1
" iya umi, insyaAlloh Kiran selalu ingat. ini juga yang Kiran harapkan umi menjadi seorang ibu." Zidan tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya begitu bahagia, penantian panjang nya berbuah manis. Sebentar lagi ia juga akan di panggil Abi.
__