
Zidan dan Kiran sudah packing ia akan pergi ke Malaysia, sebelumnya ia sudah memberi kabar mama Reyana jika ia dan suaminya akan datang ke Malaysia. mama Reyana meminta kepada sopir untuk mengantar mama Reyana menjemput Zidan dan Kiran karena saat itu Datuk sedang ada di London esok ia akan pulang.
ini adalah hal pertama Kiran naik pesawat, ia tak pernah perasaan takut jelas terlihat oleh Kiran. ia gugup memejamkan matanya saat pesawat akan terbang.
" kenapa tanganmu dingin sayang". Zidan memegang erat jemari Kiran.
" Kiran takut kak". Zidan tersenyum ia mengusap kepala istrinya lalu di kecupnya.
" jangan takut ada aku, pesawat ini tidak akan kenapa-napa. berdoa ya semoga kita diberi keselamatan hingga sampai di rumah mama". Kiran mengangguk ia lalu berdoa. Hatinya lebih tenang setelah ia melantunkan doa, Zidan juga tak pernah melepaskan genggaman istrinya ia terlihat dingin.
Kiran tertidur di pesawat ia merasakan gejolak dalam perutnya yang seperti di aduk-aduk sejak tadi. Akhirnya ia memilih memejamkan mata agar ia tertidur pulas. Zidan tersenyum melihat Kiran yang tertidur kemudian ia pun ikut memejamkan mataz Zidan cukup dengan pekerjaan nya yang sangat padat.
Pesawat landing Zidan kemudian membangun kan Kiran, Kiran mengucek matanya perutnya masih terasa sama mual.
" kita sudah sampai sayang ayo turun, mama pasti sudah menunggu menjemput kita." Kiran mengangguk ia tak mau mengeluarkan kata-kata nya.
mama Reyana sudah ada di bandara setengah jam yang lalu ia menjemput Kiran. Ketika Kiran turun dari pesawat ia memegang kepalanya rasanya pusing bagi Kiran, dan tanpa aba-aba Kiran muntah. Di tahan nya sejak tadi namun setelah turun menghirup udara segar ia muntah Kiran tak kuat lagi.
" sayang kamu tak apa".
" ngga tau kak perut kiran mual mau muntah." ucap Kiran memegang perutnya.
" ya Allah sayang kamu sakit". Kiran menggeleng.
mama Reyana sudah tau jika Kiran dan Zidan datang ia kemudian menghampiri anaknya itu. mama Reyana senang di peluknya kedua nya kemudian mereka mama ajak untuk naik ke mobil. tapi sebelum Kiran beranjak masuk ia merasakan mual yang hebat kemudian ia muntah lagi.
" astaghfirullah nak kamu sakit, Zidan ada apa dengan Kiran". tanya Reyana khawatir.
" tidak tau ma turun dari pesawat tadi Kiran muntah-muntah". Kiran sudah lemas ia tak bisa mengeluarkan kata-kata nya lagi.
" apa ini hal pertama ia naik pesawat".
__ADS_1
" iya ma Kiran baru pertama kali naik pesawat". Zidan menjelaskan.
" kalau begitu sebelum ke rumah mama kita ke rumah sakit dulu sayang, mama khawatir ". kiran hanya mengangguk saja ia cukup lemas. Zidan khawatir dengan istrinya padahal pagi tadi Kiran terlihat baik-baik saja.
" tenang ya sayang, mama bawa kita ke rumah sakit".
Mama Reyana langsung mendatangi dokter di beritahukan nya Kiran yang mual muntah.
" Tolong anak saya dokter saya sangat khawatir".
" baik nyonya akan saya periksa". Kiran lemas berada di ranjang, Zidan selalu menemaninya di samping nya begitupun mama Reyana.
" kapan anda terakhir haid". tanya dokter mama yang tau maksud dokter langsung tersenyum semoga apa yang dokter katakan benar.
" satu bulan yang lalu dokter, tapi memang jadwal haid saya selalu mundur". Kiran masih lemas kedua insan itu tidak tau pertanyaan dari dokter.
" di monitor ini terlihat ada janin yang sedang berkembang". Kiran dan Zidan saling pandang, mama langsung mencium kening Kiran.
" apa maksudnya ma ada janin." Kiran menjelaskan ia seperti tidak percaya, begitupun dengan Zidan ia hanya diam membisu bingung.
" selamat anda akan menjadi seorang ibu nona". Kiran melongo ia seperti mimpi, niat ke Malaysia untuk pekerjaan suaminya justru di kejutkan dengan rezeki yang berlimpah.
" benar dok". Zidan terkejut ia tak percaya.
" iya, rasa mual dan muntah itu biasa bagi orang hamil pada trimester pertama. tapi anda harus berusaha tetap menjaga asupan gizi pada istri anda agar semua sehat bayi juga ibunya". Zidan langsung melakukan sujud syukur di tempat itu juga ia sangat bahagia.
" Alhamdulillah terima kasih sayang". Zidan menciumi wajah Kiran ia sangat bahagia begitupun mama Reyana menitikkan air mata kebahagiaan.
" tidak perlu khawatir nona, istirahat jangan lupa makan makanan yang bergizi. nanti saya bawakan vitamin nya untuk konsumsi setiap hari, tambahlah dengan minum susu untuk ibu hamil nona itu akan menambah kesehatan mu". dokter sangat ramah ia menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh di konsumsi ibu hamil.
" terimakasih dokter." ucap mama Reyana senang ia akan memperoleh seorang cucu.
__ADS_1
" sama-sama nyonya " kemudian mereka pamit, Kiran bersender di dada suaminya ia masih merasa lemas. Zidan berkali-kali tersenyum tampak kebahagiaan dalam dirinya sesekali ia mengusap perut Kiran.
Akhirnya hal yang ia nanti tiba juga, tak sabar menjadi seorang ayah karena umur Zidan yang cukup dewasa.
" Langsung istirahat saja dulu ya sayang, kamu juga a Zidan temenin Kiran di kamarnya. kamar kalian ada di atas tempati saja kamar ana ada di samping kanan tangga".
" iya ma, maaf Kiran merepotkan mama".
" tidak sayang, tak ada orang tua yang merasa di repotkan anaknya. Kamu anak mama kiran sama seperti yang lain, ana, Erga dan juga adikmu bungsu". mama Reyana memeluk Kiran lalu mengecup kepala nya.
" sudah istirahat lah supaya lekas membaik, kalian pasti sangat lelah kan. " kedua nya mengangguk kemudian naik ke atas mencari di mana kamar milik ana.
mama Reyana lalu menyuruh bibik untuk membuatkan sup ayam untuk Kiran, jika di makan masih hangat akan terasa lebih nikmat untuk ibu hamil.
" buatkan sup ya bi, pakai ayam kampung".
" ibu terlihat bahagia sekali, dapet reward apa nih Bu. atau bapak kasih hadiah lagi".
" bukan hanya sekedar reward bin juga bukan hanya sekedar hadiah dan di bapak tapi lebih dari itu. aku akan menjadi seorang nenek". bibik tersenyum ikut senang.
" wah, jadi nona ana hamil Bu".
" belum bukan ana tapi Kiran anak ibu ".
" anak ibu yang sudah di temukan, oh ya Bu pasti cantik seperti ibu".
" oh iya ibu belum mengenal kannya padamu. ia baru datang tadi sekarang sedang istirahat, nanti ibu kenalkan ya". bibik ikut riang, mama Reyana majikan yang sangat baik. dengan pembantu nya pun ia tak ada sekat selalu menganggap mereka teman. pekerja yang ada di situ sangat betah karena nyonya Reyana selalu memberi bonus kepada mereka.
" semoga sehat ibu dan bayinya hingga melahirkan ya Bu, Imah ikut bahagia." mama Reyana tersenyum senang. ia aminkan doa-doa dari pembantu di rumah nya.
__
__ADS_1