
Rendi mencari-cari Kiran tapi ia tak menemukan nya, malah ketemu bocil lagi Aurel terpaksa Rendi menarik Aurel untuk ikut bernyanyi. sekelebat Rendi melihat gadis yang tadi ia pegang tangannya.
' siapa dia ya' batin Rendi. matanya bulat cantik.
" kak jadi ngga kita nyanyi". kata Aurel.
" eh iya ayok". Rendi naik ke panggung ia bernyanyi bersama Aurel yang jelas lagu anak-anak, merasa konyol saja Rendi seperti bocah.
Ada yang mendorong-dorong gadis itu memintanya untuk bernyanyi. Rendi memperhatikan nya memang cantik benar-benar manis.
" ayo ana bernyanyi, ayo ayo ayo". sorak teman-temannya.
" kakak ceweknya cantik ya". goda Aurel karena Rendi tak berkedip memandang wanita itu.
" iya sangat cantik".
" berkedip kak takutnya udah ada yang punya". Rendi baru sadar ia mengusap wajahnya kasar, Aurel tertawa cekikikan.
" Astaghfirullah Aurel, kita mau nyanyi apa".
" nyanyi sama kakak itu aja". Aurel menunjuk ana yang sudah berdiri di belakangnya.
" bisa nyanyi" tanya Rendi. gadis itu mencebik menarik mikrofon milik Rendi.
sorak-sorak para tamu terdengar mereka mengagumkan suara emas milik ana. Rendi hanya diam saja berdiri di situ, sahabat lainnya tertawa melihat Rendi.
" sepertinya tu bocah jatuh cinta". ucap Aris.
" semoga ceweknya belum ada yang punya". Hamdan menimpali.
" kita doakan saja supaya teman kita satu itu sold out, ngga ingat sama Zahra melulu". Hamdan tertawa sembari menikmati makanan kecil ia tak begitu menyukai nyanyian. Zakia mendekati Hamdan ia merasa pusing kepalanya.
" kepala ku pusing mas". ucap Zakia.
" kenapa sayang, jangan-jangan kamu hamil lagi". Zakia mendelik melihat ke arah suaminya.
" Alif masih kecil mas ".
" sudah tiga tahun lebih sayang, sudah sewajarnya punya adik". Zakia berfikir mungkin benar yang di katakan suaminya, kia memang sudah telat hampir dua Minggu.
" sini mas pijitin". ucap hamdan
" malu mas banyak orang".
" tak apa sini ". hamdan menarik Zakia lebih dekat ada yang senang melihat mereka ada juga yang iri, siapa yang tak kenal Hamdan seorang pengusaha muda itu.
" pengantin lama masih mesra aja". ucap Niko mendekat.
" harus dong ". jawab Hamdan.
__ADS_1
" mana Alif"
" main sama anak-anak panti, mana bisa diem si Alif".
" mana jagoanmu". Hamdan tanya balik.
" sama mama nya di dalam". Niko juga sudah punya anak cowok.
" Kiran tak ikut bernyanyi".
" husttt diem kak, Kiran lagi malas nyanyi tamu nya banyak banget Kiran malu"
" kamu punya malu"
" ih kakak" Zidan terkekeh.
" kita ke belakang saja yuk ikut nimbrung emak-emak makan". Kiran mengikuti langkah Zidan.
" nih untuk mu"
" terimakasih kak". Zidan tersenyum.
" Kiran kakak boleh tanya tapi kamu jangan marah ya"
" tanya apa sih kak pribadi banget".
" wajar dong kak kalau laki-laki suka sama wanita, kalau wanita suka sama wanita itu baru namanya ngga wajar kak". Zidan tepok jidat bukan itu jawaban yang di inginkan Zidan. Kiran selalu menghindari pertanyaan dengan yang namanya pernikahan pacaran pasangan.
" enak ya kak kuenya". Kiran mengalihkan pembicaraan.
" Kiran kakak mau ngomong serius sama kamu" Zidan menarik Kiran ke samping rumah yang tak bising dengan suara musik masih banyak orang tapi mereka lebih leluasa untuk ngobrol.
" aduh kakak ada apa sih".
" Kiran kakak ingin mengkhitbah mu". Kiran diam ia berhenti memakan makanannya.
" jangan suka bercanda kakak ngga lucu". Kiran tertawa.
" kakak serius Kiran "
" maaf kak, kakak pasti sudah tau jawabannya kan".
" sebentar lagi kamu lulus aku akan menikahi mu setelah nya".
" maaf kak, Kiran tak bisa menerima khitbah kakak".
" kenapa kamu menyukai orang lain".
" tidak ada kak, Kiran masih lama lulus jarak antara khitbah dan menikah itu sebaiknya tak lebih dari tiga bulan".
__ADS_1
" kalau gitu kita menikah saja sekarang".
" maaf kak Kiran tak bisa, Kiran tak mau syetan bermain dalam perasaan kita". Zidan terdiam menyelami maksud dari ucapan kiran.
" dan belum tentu kita nantinya akan berjodoh". ucap Kiran lagi.
" kita berdoa semoga saja kita berjodoh, jika tidak di izinkan kita paksa doa kita supaya kita berjodoh". Kiran tertawa dengan ucapan Zidan.
" kakak maksa nih".
" ya iyalah Kiran, kakak siap menunggu mu".
" jangan menunggu Kiran kak, kakak sudah berumur lebih baik kakak cari yang siap menikah. Kiran masih akan lama lagi karena Kiran harus bekerja untuk adik-adik". Zidan lesu kini khitbahnya di tolak.
fix Zidan ngenes bin apes.
" Kiran ke depan dulu ya kak haus" Kiran mencoba menghindari Zidan. jantung nya berdetak hebat kala itu, ucapannya tak sesuai kata hatinya bahwa sebenarnya ia juga menyukai Zidan. tapi prinsip tetaplah prinsip seperti yang biasa Kiran lakukan.
" sabar nak tak ada yang tak mungkin bagi Allah, tetap menjadi baik lakukan yang terbaik begitupun jodohmu ia akan menjaga hatinya untuk mu". ucap umi ternyata sejak tadi umi mendengar nya.
" Zidan ngenes umi". Zidan meletakkan kepalanya di bahu umi
" anak umi itu kuat tidak lemah, semangat dong masa gitu aja kamu udah mau mundur. lakukan gerakan seperti abimu, jika ia mundur satu langkah kamu harus maju tujuh langkah mendapatkan nya". Zidan tercengang mendengar uminya ternyata bisa bar-bar juga.
" emang dulu Abi begitu mi".
" iya dulu kakekmu itu tokoh di masyarakat, abimu pantang menyerah buat dapetin umi sampai pakai gaya itik segala". Zidan tertawa mengingat abinya...
" ya ampun ngga kebayang gimana jungkir baliknya Abi".
" makanya umi bilang jangan menyerah tapi tetap terarah, umi yakin jika kamu menjaga hatimu ia juga akan menjaga hatinya untuk mu nak". Zidan bersemangat lagi ia tak boleh bersedih hanya karena di tolak oleh Kiran. pantang menyerah dan pantang mundur. doa ibu adalah doa terbaik, aminkan setiap ibu mendoakan kalian.
" kita duet"
" hah..." Rendi kaget, namun maksud Rendi berbeda.
" hayo kita duet nyanyi bareng, tampak nya suaramu tadi tak begitu jelek". Rendi terkekeh pikirannya sedang tak sehat.
" kenalan dulu aku rendi". ana tak menghiraukan ia meminta pianis memulai musiknya. Rendi garuk-garuk kepala ternyata itu cewek sedikit sombong. bukan sombong tapi bukan muhrim.
' ya Allah jika ia jodohku permudahkan jalanku mempersunting nya'. Rendi menghentikan pianis itu ia menyuruh mengganti lagunya yang berjudul satu shaf di belakang ku. untung ana bisa mengikuti nyanyian Rendi sorak dari sahabatnya seperti Aris dan yang lainnya terdengar nyaring di telinga.
' aneh lucu' batin ana.
Zidan kembali ke depan nimbrung bersama teman-temannya, ia sudah menata hatinya tak sedih lagi. ia ingat doa umi karena doa umi yang baik pasti di ijabah. Zidan akan terus berusaha dengan gaya yang di lakukan abinya tempo dulu.
___
bersambung
__ADS_1