
Zidan berangkat pagi ke kantor memang ada meeting pagi bersama Hamdan membicarakan tentang kerjasamanya dengan Datuk. proyek baru yang akan mereka bangun sudah siap Datuk juga sudah memberi informasi dari negeri Jiran sana. Zidan keluar dari rumah di antar oleh Kiran hingga ke depan.
" jangan ke mana-mana ya, jika butuh sesuatu telepon kakak saja". Zidan mencium kening Kiran.
" iya kak, kiran akan di rumah saja. kakak hati-hati jangan lupa makan." kali ini kiran membawakan bekal karena Kiran tak bisa keluar untuk mengantar.
lambaian tangan dari Kiran, Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. ada motor yang mengikuti nya dua motor dengan empat preman, seperti nya sama orang nya dengan kemarin. Zidan tidak tau jika ada yang mengikuti nya, di jalanan sepi yang Zidan lewati Zidan langsung di hadang oleh kedua motor tersebut.
"" astaghfirullah...' Zidan kaget ia menginjak rem dengan mendadak.
" mau apa lagi mereka, belum puas dengan yang kemarin". Zidan lalu keluar karena preman itu mengetuk-ngetuk pintu mobilnya.
" mau apa lagi kalian, apa yang kalian mau dariku". tak ada jawaban satu pukulan langsung di layangkan kepada Zidan, untung Zidan sigap ia langsung menangkis nya. Zidan langsung membalas ke preman tersebut, namun tetap saja karena zidan hanya seorang diri.
Terdengar suara tembakan, preman itu sudah terkepung oleh banyaknya polisi. Rendi datang bersama teman-temannya, Zidan tak tau jika Rendi sudah mengintai penjahat itu.
" menyerahlah kalian jika ingin masih tetap hidup." ucap Rendi ia menodongkan pistolnya sembari berjalan mendekat. dengan sangat hati-hati Rendi mendekati Zidan dan keempat preman tersebut. Tanpa Zidan sadar preman itu menodongkan pisau ke leher Zidan sebagai ancaman.
" turunkan senjata kalian jika menginginkan dia masih hidup". tegas preman tersebut.
Rendi memberi kode kepada teman-temannya agar menurunkan senjata, yang lainnya mengikuti perintah Rendi. iapun yak mau konyol dengan bertaruh nyawa Zidan adik iparnya. preman tersenyum berseringai merasa menang.
dor..
suara seniper itu terdengar, pas mengenai tangan preman yang memegang pisau tadi. memang jitu komandan Beno, penembak sniper terbaik. preman pun terpental, pisaunya lepas dari tangannya lalu Zidan menendang semua preman dengan keras.
Seluruh polisi kembali mengambil senjatanya, mereka mulai menangkap semua preman. Alhamdulillah akhirnya semua tertangkap Zidan dan Rendi lega.
" terima kasih komandan" ucap Rendi.
__ADS_1
" kamu ikut ke kantor polisi ya untuk memberikan laporan, kami akan segera memproses nya". ucap Rendi mengajak Zidan.
" okey siap ". Zidan pun mengikuti mobil polisi hingga ke kantor.
" trimakasih komandan ". ucap Rendi menghadap komandannya.
komandan Beno mengangguk mereka lalu sama-sama pergi ke kantor polisi untuk melanjutkan kasusnya mendengar kan laporan Zidan.
Laporan Zidan di kantor polisi sudah lengkap dari awal ia di serang, kejadian yang terjadi semuanya sudah lengkap. Tinggal bagaimana preman mengakui siapa yang telah menyuruh mereka.
" terima kasih bro sudah membantu ku". Rendi mencebik, begitulah Rendi ia tak pernah serius berhadapan dengan zidan. di saat Zidan serius Rendi layaknya ingin berantem seperti biasa.
" coba bukan adik ipar ku, sudah ku biarkan kamu di pukuli preman itu". ucap Rendi meledek.
" kenapa kamu tadi bantu aku, tak kau biarkan saja aku di pukuli preman". ketus Zidan sebal dengan Rendi tak menyambut ucapan terima kasih nya malah terus mengajak perang.
" aku bukan kasihan padamu tapi aku kasihan pada adikku Kiran, ia pasti akan nangis gulung-gulung melihat mu babak belur jangan kepedean dulu zidan ". Rendi senang melihat Zidan terpancing emosi nya .
Hamdan sudah datang lebih dulu di susul Tomi, mereka berbincang sejenak. Membicarakan banyak hal tentang bisnis juga pertemanan mereka. Zidan datang dengan wajah yang masih sangat kesal.
" tumben kamu terlambat Zidan". sapa Tomi melihat zidan datang.
" preman yang kemarin menghadang ku lagi". Hamdan dan Tomi terkejut juga heran Zidan bisa lolos begitu saja.
" kamu bisa lolos, hebat".
" Rendi ternyata sudah mengintai ia mengirim mata-mata untuk mengawasi ku atas perintah Datok".
" wah punya mertua konglomerat bagaikan jadi pangeran ya Zidan".ucap Tomi senang.
__ADS_1
" rezeki anak Soleh". ucap Zidan Tomi mencebik Hamdan terkekeh.
" jadi preman itu sudah di jebloskan ke penjara semua ".
" iya ke empat-empatnya, sedikit lega ". jawab Zidan ia masih penasaran dengan orang yang menyuruh keempat preman tadi.
" setidaknya ada titik terang semoga saja mereka mengakui dalang dari penyerangan kamu." Hamdan juga berfikir siapa yang bermasalah dengan Zidan, padahal ia tahu jika Zidan tak pernah ada masalah dengan siapapun.
" apa mungkin tedi bear calon suami Kiran yang tak jadi". tebakan Tomi.
" bisa jadi, kenapa aku tak kepikiran sampai ke situ ya. lalu apa maksudnya ia menyerangku, aku tak pernah punya urusan dengan nya". Zidan jadi ikut berfikir kenapa harus tedi.
" balas dendam, ia pasti iri melihat mu dan Kiran. apalagi fasilitas pernikahan kemarin dia yang menyelenggarakan kamu cuma nebeng doang." Tomi terkekeh.
" semua jadi serba kemungkinan, biarkan polisi dulu yang menyelesaikan kita fokus ke kerjaan kita. bagaimana selanjutnya Hamdan, ".
" salah satu dari kita harus survey langsung ke pabrik milik Datok". Hamdan selalu punya pemikiran yang cepat.
" kamu Hamdan,".
" biarkan Zidan saja sekalian ia tengok mertuanya di sana sembari menjalankan pekerjaan, Kiran belum pernah kamu ajak pergi-pergi. bahagiakan dia, Kiran pasti senang di ajak bertemu orang tuanya."
" yah itu lebih baik Zidan, biar aku pegang perusahaan sementara. kamu pergilah dengan Kiran jika mau ana sekalian kamu ajak".
" jangan lupa Zidan sekalian telepon mertuamu buat jemput pakai helikopter nya". kata Tomi memberi solusi biar irit.
" ngga modal amat sih Tomi, biarkan kami berangkat pakai pesawat umum saja. aku tak mau di bilang matre, kayak zaman sekarang aja yang matre bukan hanya cewek tapi cowok juga bisa matre." ketiganya tertawa tak ada kamus dalam kehidupan mereka dengan namanya matre. apalagi Zidan ia yang selalu hidup dengan uangnya sendiri tak mau memanfaatkan keadaan yang mujur.
" baik kalau gitu dil Zidan lusa kamu berangkat lah" Zidan mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
bagi mereka pekerjaan harus tetap profesional meski ia adalah saudara tapi yang namanya bisnis tetap bisnis, karena mereka menghidupi banyak karyawan. Ribuan karyawan bergantung padanya, itu yang mereka selalu pikirkan tidak semata-mata hanya untuk memikirkan diri sendiri. Sebagian keuntungan juga mereka berikan untuk anak yatim piatu.
___