Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 25 #kiran ke kantor


__ADS_3

Jangan mencintai melebihi cintanya kepada Allah, Allah lah sang pemilik cinta sejati. Hanya Ia yang tidak akan pernah mengecawakanmu.


_________


Sudah berada di titik pasrah namun Zidan masih belum melupakan Kiran, cintanya cukup teramat dalam hingga dirinya sulit untuk melepas kan Kiran dalam hatinya.


" Nak tadi ustadz Yusuf bilang katanya mau ketemu denganmu". ucap Abi di sela makan malamnya.


" iya Abi, kapan ustadz minta ketemu Zidan."


" kata beliau secepatnya." ucap Abi lagi ia menyampaikan pesan ustadz Yusuf.


" baik Abi insyaAlloh besok sepulang kerja Zidan akan temui ustadz". umi mengusap kepala Zidan, ia senang meletakkan kepalanya di pangkuan umi sembari di usap-usap seperti bayi, bayi tua.wkwkw


" Gimana sudah bisa ikhlas hatinya". ucap umi ia ingin tau jawaban Zidan.


" belum umi masih sakit rasanya umi, begitu ya jatuh cinta".


" jangan mencintai melebihi cintanya kepada Allah nak, Allah lah sang pemilik cinta sejati. Hanya ia yang tidak akan pernah mengecawakanmu. Baru di uji gini kok lembek, Cemen". Abi membalikkan jempolnya ke bawah meledek Zidan.


" Abi ngga pernah ngerasain sih gimana rasanya".


" ujian kita masing-masing Zidan tak akan sama, nikmati saja ujianmu. Coba kamu berusaha ikhlas dan ridho, lepaskan insyaAlloh akan ada jawaban terbaik dari Allah untuk mu". nasehat abi, Zidan diam ia berfikir apa yang Abi katakan benar adanya harus ridho.


" Zidan akan terus mencoba Abi, doakan Zidan ya umi. Doa umi pasti Allah kabulkan".


" Umi selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, tapi ketentuan Allah tetaplah yang terbaik". ucap umi menguatkan anak laki-lakinya.


Setiap malam Zidan berdoa agar Allah melepaskan rasa yang telah terpatri dalam hati Zidan. ia tak mau memikirkan seseorang yang sudah di khitbah oleh orang lain, sungguh tak boleh. Hari-hari nya hanya ia isi untuk bekerja tiada henti.


_


Kiran izin selama dua hari kini ia sudah sehat kembali dan wajahnya juga sudah tak sembab. Dengan mengucap bismillah Kiran berangkat kerja, kini sudah tak sibuk ke kampus lagi skripsinya sudah selesai tinggal menunggu saja. Dengan berani ia masuk ke kantor, mempersiapkan diri untuk bertatap muka dengan Zidan. Kiran langsung duduk mulai mengerjakan pekerjaan nya. Zidan baru masuk ia terlambat sedikit tadi bermain dulu dengan Alif, Alif merajuk minta di temani main sepeda.

__ADS_1


Deg... masih saja berdetak kencang melihat Kiran sudah duduk di meja kerjanya, Zidan melangkah terus biasanya ia menyapa tapi kali ini tidak Zidan ngeloyor masuk ke ruangan nya. Kiran yang melihat Zidan ia pun tak mampu untuk menyapa Zidan terkebih dahulu, sakit begitulah rasa hati Kiran di abaikan.


" Dek udah sembuh." Suara Tomi mengagetkan nya.


" Alhamdulillah kak sudah".


" sakit apa, jangan di forsir gitu kerjanya dek kalau lelah ya istirahat". ucap Tomi mendekat.


" iya kak, kemaren memang Kiran fokus ke skripsi".


" sekarang sudah sehat betul, jangan dipaksakan gitu ya." ucap Tomi sembari mengusap kepala Kiran.


" iya kak sekarang Kiran sudah sehat betul kak".


" ya sudah tolong ambilkan berkas di ruangan Zidan ya, perlu di revisi kamu nanti bawa ke ruangan kakak."


deg... lagi-lagi Kiran deg-degan dadanya. kali ini ia harus ke ruangan Zidan otomatis akan bertatapan matanya dengan Zidan.


" iya kak Kiran ke sana". Tomi berlalu masuk ke ruangan nya banyak perkejaan hari ini.


" masuk". Kiran perlahan membuka pintunya.


" maaf kak, kak Tomi minta Kiran untuk mengambil berkas yang perlu di perbaiki". mendengar suara kiran hati Zidan terasa di remas-remas, tanpa ada jawaban Zidan langsung saja memberikan berkasnya.


" kak Kiran minta maaf".


" ini di kantor Kiran bukan saatnya membicarakan privasi". kali ini Zidan berkata tegas dengan intonasi sedikit meninggi.


" maaf Kiran permisi". lalu ia keluar dada nya sesak ia merasakan sakit hatinya baru kali ini Zidan berkata sedikit keras intonasinya. ia ingin menangis tapi ia tahan, ini di kantor benar kata Zidan bukan saatnya membicarakan soal kepribadian.


Setelah Kiran keluar, tes,,, air mata Zidan menetes perih rasanya, ia merasa telah berkata kasar pada Kiran dan menyakiti nya.


" maafkan kakak Kiran". Zidan berkata lirih hanya telinga nya yang bisa mendengar.

__ADS_1


" kakak tak bermaksud menyakiti mu, tapi mungkin memang itu yang terbaik untuk kita". suara Zidan bergetar ia mengusap air matanya lalu kembali bekerja.


Biasanya makan siang mereka juga bersama, Zidan, Kiran juga Tomi namun Zidan memilih keluar ia makan di restoran dekat kantor. Zidan masih belum siap bertatap lama dengan Kiran untuk saat ini, hatinya masih menyimpan rasa yang teramat dalam.


" Kiran kemana Zidan ia tak makan bersama kita"


" ngga tau kak, Kiran dari masjid langsung ke sini". Tomi lalu menghubungi Zidan, Yara sudah membawakan bekal cukup untuk di makan bertiga.


" ada apa tom". terdengar dari seberang telepon.


" ayo kita makan kamu kemana". tanya Tomi.


" aku ingin makan di luar tom kangen rasanya sama makanan resto."


" ah kamu ini istriku sudah bawakan aku bekal banyak, pasti marah jika ia tau tak habis".


" maaf tom bukannya aku tak suka masakan istri mu, sumpah masakan Yara enak hanya saja aku kepingin makan stik". ucap Zidan agar Tomi tak curiga.


" payah kamu Zidan, okelah nanti aku kasihkan ke yang lain saja". ucap Tomi, kali ini Yara membawakan mangut lele. Tomi menutup teleponnya ia makan hanya berdua dengan Kiran saja.


" makan yuk, tak perlu tunggu Zidan ia makan di luar katanya kangen pingin makan stik". Kiran mengangguk lalu ikut makan bersama Tomi.


' sungguh kamu bener-bener menghindari ku kak, sampai tak mau makan bareng seperti biasa'. monolog Kiran dalam hati.


Zidan pun kali ini tak nafsu makan, tak ada penyemangat baginya. Ia hanya makan sedikit karena saat ini ia hanya makan sendirian di pojokan. issshhh ngenes amat yak.


Zidan kembali ke kantor ia langsung masuk ke ruangan nya, Zidan juga tak ingin menemui Tomi. ia ingat jika ia punya janji akan menemui ustadz Yusuf nanti. Zidan akan pulang lebih awal. Kiran juga sednag bersiap untuk pulang, sopir sedang tidak ada di kantor. Zidan keluar bersamaan dengan Tomi juga keluar mereka sama-sama pulang lebih awal. niat hati Kiran akan menghindari Zidan. hal yang sama Zidan juga pulang lebih awal untuk menghindari Kiran namun mereka di pertemukan.


" dek pulang sama Zidan ya, sopir lagi keluar".


" Kiran naik taksi saja kak".m


" Kiran jangan nolak ya biar kakak tenang jika kamu pulang sama orang yang kakak kenal.". ucap Tomi lagi Kiran hanya mengangguk dan Zidan mendengus kesal.

__ADS_1


___


bersambung


__ADS_2