Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 001 Bocah Kecil (revisi)


__ADS_3

Namaku Asta Raiken, usiaku 7 tahun.


"Ayah...!! Lihatlah! Apa aku boleh memeliharanya..?!"


"Aauuu...!!"


Lolongan panjang serigala mengikuti langkah bocah 7 tahun itu saat ia berlari dengan serigala kecil di pelukannya.


"Apa yang sebenarnya dipikirkannya?! Mengapa ia tiba-tiba melolong dan mengejarku?!" batin Asta kesal.


"Ayah…!! Kau ada di sana…?!!" teriak Asta memanggil orang tuanya.


"Aauuu...!!"


Nafasnya mulai terengah-engah, namun serigala itu tidak mengindahkannya sama sekali. Orang-orang di sekitar tertawa melihatnya masuk ke desa sambil dikejar oleh serigala peliharaan ayahnya sendiri.


Di salah satu rumah yang sederhana, seorang pria yang sedang memberi makan marmut peliharaannya terkejut melihat kedatangannya.


"Ayah! Kau harus cepat dan lihat ini! Anak anjing ini sangat lucu dan menggemaskan...!!" teriak Asta sambil memperlihatkan serigala kecil di pelukannya.


"Apa?! Anjing?!" gumamnya bingung.


Dia adalah ayahku, Arai Ken. Usianya 27 tahun. Seorang ahli pedang dan pecinta hewan.


Lolongan serigala membuat sekelompok marmut itu berlari ketakutan. Beberapa bersembunyi di tanah, yang lain masuk ke celah-celah dahan pohon yang roboh.


Asta segera berlindung di balik tubuh tegap Arai Ken. Serigala itu secara refleks berhenti di hadapannya dengan wajah yang memelas.


Arai Ken menghela nafas pelan, "Kau membuat Zena dan yang lainnya ketakutan," ucapnya pada serigala dewasa yang mengejar Asta Raiken.


"Dan apa yang terjadi di sini...?" Arai Ken mengusap dahinya dengan bingung ketika melihat putranya kembali dengan serigala kecil yang dipeluknya.


"Asta, bisakah kau menjelaskannya dengan lebih rinci...?" pinta Arai Ken, meminta penjelasan.


Haru adalah serigala jantan yang menjadi peliharaan ayahku.


Asta tersenyum canggung, bingung harus memulai dari mana, "Ceritakanlah semuanya, mulai dari saat kau pergi bermain dengan teman-temanmu pagi tadi," ujar Arai Ken, meminta Asta untuk segera menceritakan.


Asta menganggukkan kepalanya, masih dengan senyuman malu di wajahnya. Dia pun mulai bercerita.


Kejadian bermula saat Asta menyaksikan pertandingan latihan sahabatnya, Kenshin Utake, melawan Shiro Nekoshi untuk saling berbagi pengalaman. Di tengah pertarungan, Asta tiba-tiba pergi begitu saja, meninggalkan teman-temannya dengan alasan ingin mencari Haru.


Setelah lama tidak bertemu dengan Haru, Asta merasa ingin bermain dengannya dan menungganginya, sambil berkhayal menjadi seorang pendekar hebat. Namun, saat mencapai sarang Haru, yang Asta temui justru seorang serigala kecil yang lucu dan menggemaskan. Pikiran untuk membawanya pulang terlintas dalam benak Asta. Serigala kecil itu terlihat tenang dan tidak memberontak.


Ketika Asta membalikkan badannya, tiba-tiba Haru muncul di belakangnya. Asta tersenyum, karena ia tidak perlu berjalan kaki pulang ke rumahnya. Namun, di sisi lain, Haru menggeram melihat Asta menggendong serigala kecil tersebut.


Tanpa ragu, Haru melompat dengan niat untuk menerkam Asta dalam satu gerakan. Asta pun terkejut dan segera berlari menjauh.


Arai Ken tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya setelah mendengar keseluruhan cerita tersebut.


"Serigala kecil ini memang menggemaskan, tapi bukan berarti kau bisa merebutnya darinya. Kita sudah mengenal Haru cukup lama," ucapnya sambil memberikan nasehat.


Haru menganggukkan kepalanya seolah membenarkan apa yang diucapkan Arai Ken.


"Aauuu...!!" terdengar lolongan serigala lain yang mendekat.


"Aauuu...!!" Haru membalas lolongan itu.


Dia Eni, serigala betina. Sama seperti Haru, Eni adalah serigala peliharaan ayahku.


Eni melompati pagar halaman rumah dan mendekati mereka bertiga sambil sedikit menggeram saat melihat Asta menggendong serigala kecil tersebut.


"Tidak...! Mulai sekarang, Ace akan bersamaku...!" teriak Asta menolak untuk menyerahkannya.


"Ace...?" gumam Arai Ken dengan raut kebingungan.


Aku memberinya nama, Ace. Itulah namanya.


"Haru... Eni... Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat. Tapi bisakah kalian mempercayakan Ace pada putraku? Aku akan mengawasinya," pujuknya kepada sepasang serigala tersebut.


Mereka saling menatap selama beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala dengan pengertian. Ace, serigala kecil itu terlihat tenang dan tidak menolak. Arai Ken pun akhirnya merasa lega karena mereka mudah untuk diajak berunding.


"Cepat buat janji dengan mereka bahwa kau akan menjaganya dengan baik," suruh Arai Ken.


Asta menganggukkan kepalanya perlahan. Kemudian, ia melepaskan pelukan Ace dan memeluk sepasang serigala tersebut.


"Haru... Eni... Percayalah padaku! Aku berjanji akan menjaga Ace dengan baik!" janjinya kepada sepasang serigala tersebut.


Setelah itu, sepasang serigala itu melangkah pergi kembali ke hutan.


Terdengar suara pintu berderit dari arah rumah, dan kepala seorang wanita muncul dari balik pintu.


Wanita itu adalah ibuku, Aina Misaki, usianya 26 tahun. Ibu adalah wanita penyayang yang penuh perhatian dan ahli dalam memasak. Namun, berdasarkan apa yang kuketahui dari ayah, ibu juga memiliki keahlian yang tidak kalah hebat darinya dalam ilmu berpedang.


"Asta! Apa yang terjadi dengan Eni tadi?" Aina Misaki memandang ke luar dengan kebingungan.


"Kemana dia pergi? Apakah suara itu benar-benar Eni?" tanya Aina Misaki kepada Asta, mencari kepastian.


"Aduh..." Asta terdiam sejenak, mencoba mencari kata yang tepat. "Tadi..."


"Ya... tadi dia membawa anaknya pergi," potong Arai Ken dengan cepat, mencoba menjelaskan situasinya.


"Ehh...?!! Ayah..." Aina Misaki menatap Asta dengan pandangan tajam, mengekspresikan kekecewaan dan ketidaksetujuan.


"Meskipun mereka hewan, kita tidak boleh memperlakukan mereka sembarangan. Bagaimana perasaan kita jika tiba-tiba ada seseorang yang menculik kita dengan alasan yang sama...?!" ujar Misaki dengan serius, memberikan sebuah nasihat.


Asta merasa bersalah dan tersenyum canggung. "Ibu, aku minta maaf," ucapnya dengan suara pelan, menunjukkan penyesalannya.


"Baiklah! Sekarang, mari masuk. Ibu sudah menyiapkan makan siang," ajak Aina Misaki kepada mereka berdua dengan nada lembut, berusaha memulihkan suasana.


---


Matahari masih terik ketika mereka selesai makan siang. Asta melihat Ace berusaha merayap di sekitar kandang marmut, dan dengan cepat ia menangkapnya sebelum aksi tersebut berpotensi menyebabkan kerugian yang fatal.


"Ibu! Apakah masih ada sisa daging...?!" Asta berlari menghampiri ibunya yang masih sibuk di dapur. Aina Misaki menunjukkan daging yang telah disiapkan di atas meja.


"Terima kasih, ibu!"

__ADS_1


Saat Asta sibuk memberi makan Ace, tanpa disadarinya, ibunya tengah menangis di samping ayahnya. Asta mengerutkan keningnya, bingung dengan keadaan tersebut.


"Ayah... Mengapa ibu menangis?" tanyanya heran, mendekati kedua orangtuanya.


Tidak tahu apa yang harus dikatakan, Arai Ken melemparkan pertanyaan itu kepada Aina Misaki.


"Ehh...?! Apakah ada yang salah, ibu?" Aina Misaki mencoba menghapus air matanya.


"Ibu baik-baik saja, hanya merasa sedih karena harus berpisah darimu beberapa hari," ucapnya sambil berusaha tersenyum.


Asta mengangkat alisnya, "Ehh...?! Ibu masih memikirkan itu?" ia berkata sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


Misaki hanya bisa tersenyum tipis, lalu memeluk Asta dengan erat seolah-olah itu adalah pelukan terakhir yang akan mereka lakukan.


---


Selama empat hari berikutnya, hubungan antara mereka semakin erat. Ditambah lagi, Ace adalah serigala yang pintar, sehingga tidak sulit mengajarinya berbagai hal. Asta sudah terbiasa dengan situasi di mana Arai Ken dan Aina Misaki pergi ke kota untuk pekerjaan mereka sebagai ahli pedang. Biasanya, hanya Arai Ken yang pergi, sementara Aina Misaki menemaninya di rumah.


"Jika kamu membutuhkan sesuatu, pergilah dan tanyakan kepada Paman Helio, ayah sudah berbicara dengannya," pesan Arai Ken.


"Siap, Ayah! Berhati-hatilah dalam perjalanan!" jawab Asta.


"Ingatlah! Jangan pulang terlalu larut, dan jangan lupa berolahraga dan makan dengan cukup. Pertumbuhanmu tertinggal jauh dibandingkan yang lain, apa kamu tidak iri melihat mereka?" kata Aina Misaki.


"Oh, Bu! Kita hanya akan berpisah beberapa hari. Meskipun aku berlatih dengan keras, hasilnya tidak akan terlalu menakjubkan," jawab Asta.


Aina Misaki tersenyum kecil mendengarnya, tetapi dalam hatinya ia merasa sedih dan berat hati. Ia tidak ingin meninggalkan Asta begitu lama.


"Aina..." panggil Arai Ken, mencoba menghiburnya.


"Iya... iya... aku mengerti," balas Aina Misaki dengan senyuman tipis.


Kemudian, Asta mengambil busur panah miliknya. "Ace! Ayo pergi sekarang sebelum rusa-rusa itu bersembunyi lagi," ajaknya.


"Ibu... Ayah... Aku pergi sekarang!" teriaknya sambil berlari diikuti oleh Ace.


Aina Misaki dan Arai Ken saling memandang dan tersenyum satu sama lain.


"Percayalah... Dia adalah putra kita," ucap Arai Ken sambil erat memegang tangan Aina Misaki.


"Aku sangat penasaran dengan perkembangannya setelah ini," tambahnya sambil melihat Asta semakin menjauh.


Aina Misaki tersenyum. "Hmph! Tentu saja dia adalah putraku. Aku yang melahirkannya," kata Aina Misaki sambil tertawa kecil. Arai Ken ikut tertawa mendengarnya.


Dalam sekejap, mereka berdua menghilang dari pandangan, meninggalkan hembusan angin kencang yang menerbangkan debu-debu di sekitar mereka.


---


Di pagi yang masih cerah, matahari terbit perlahan di ufuk timur. Seorang bocah dan serigala kecilnya berlari di jalan pedesaan menuju gerbang keluar desa. Orang-orang yang mereka temui di sepanjang jalan menyapa dan bertanya padanya.


Mereka berdua memasuki hutan dengan hati-hati, waspada terhadap kemungkinan ada sasaran yang terlewatkan.


"Ace... Bersiaplah," bisik Asta sambil membidik seekor rusa yang sedang makan rumput.


"Whusshh..!!"


"Grroooo....!!"


Asta merasa kesal, "Ace... Kejar dia... Jangan biarkan dia lolos!" teriak Asta sambil menyematkan busurnya di bahunya.


Ace meluncur cepat mengejar rusa tersebut, diikuti oleh Asta yang berlari di belakangnya.


---


Asta berhasil menangkap rusa setelah sekitar 2 jam berlalu. Dia merasa puas dan bangga dengan pencapaiannya.


Namun, Asta lupa akan sesuatu yang penting, yaitu menyadari di mana ia berada saat ini. Selama mengejar rusa, ia tidak memperhatikan sekitarnya.


"Ehh..?! Di mana ini...?" gumamnya bingung.


Asta berdiri dan berjalan sekitar, mencoba mengenali lingkungan sekitarnya. Namun, ia sama sekali tidak mengenali tempat tersebut. Asta tersesat.


"Ace! Bisakah kamu menunjukkan jalan pulang dengan penciumanmu?" katanya sambil melihat ke arah serigala kecil tersebut.


"Grr.. Grr.." Ace terlihat sedang tidur siang dan tidak responsif.


Asta menghela nafas berat karena tidak bisa mengandalkan Ace saat ini. Ia tidak memiliki pilihan selain menjelajahi area sekitar dengan harapan bertemu dengan seseorang.


Tak jauh dari tempatnya berada, Asta menemukan sebuah batu setinggi 3 meter yang membentuk sebuah pintu berdiri di atas tanah. Asta merasa penasaran dan mendekatinya.


Ketika ia berada di depan batu itu, tiba-tiba batu itu bercahaya dan membentuk pintu gerbang yang bercahaya.


"Aku tidak pernah tahu ada sesuatu seperti pintu bercahaya di sini," ucap Asta sambil menyentuh cahaya biru di depannya.


Tiba-tiba, gerbang itu menariknya dengan kuat. "Ace..!!! Tolong..!!" Asta tidak bisa melawan dan akhirnya terhisap masuk ke dalam gerbang cahaya.


Pandangannya beralih ke dunia yang tidak ia kenali. Di dalam sana, hanya ada garis-garis warna besar dan kecil yang membentuk kekacauan. Di antara kekacauan itu, Asta terbang melalui jalur cahaya yang akhirnya membawanya ke ujung jalur tersebut.


"Aaaahhhh..!!"


Hanya dalam beberapa menit, Asta terlempar keluar dari dunia kekacauan dan mendarat di sebuah taman di dasar lembah yang dipenuhi dengan bunga.


Sesampainya di sana, Asta langsung memperhatikan sebuah rumah di depannya. "Permisi...!! Apa ada orang di sini?" Asta memanggil dengan sedikit kecemasan.


"Tok! Tok! Tok!"


"Permisi...!! Apa ada orang di sini?"


Tiba-tiba, sebuah bayangan putih melayang dari belakang dan berdiri tepat di belakang Asta. Bayangan itu tampak seperti seorang pria berambut panjang seumur Arai Ken, dan ia memegang teko penyiram tanaman di tangan kanannya.


"Bocah! Bagaimana kamu bisa memasuki dunia terpisah ini?" pria itu berkata.


Asta terkejut dan refleks berbalik untuk melihat ke belakang. "Aaahh..!!! Hantu...!!!" Asta hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Jangan makan aku! Pergi dari sini...!! Dagingku pahit dan aku bersumpah...!!" Meskipun ketakutan, Asta mencoba mundur menjauh dari hantu tersebut. Namun, kakinya seperti tidak bisa digerakkan, dan Asta terduduk di tanah.


Raut wajahnya menjadi merah ketika menyadari bahwa dia memanggil hantu. Namun, tiba-tiba wajah hantu itu tersenyum licik, seolah-olah ada sesuatu yang direncanakannya.

__ADS_1


"Bagus sekali! Sangat bagus! Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku makan daging rendang. Aku mendengar bahwa anak-anak sangat manis dan kenyal!" ucapnya sambil memainkan lidahnya.


Asta merasa ngeri mendengarnya. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, ia berusaha bangkit dan melarikan diri.


"Hehe... mau ke mana, bocah kecil...!!"


Yang Asta lupakan adalah hantu dapat menembus segalanya dan bergerak dengan cepat. Pria itu berhasil menangkap pergelangan tangan Asta.


Lalu, pria itu perlahan menggigit lengannya. Asta mencoba berontak, tetapi usahanya sia-sia.


"Tidak! Tolong, jangan! Tidaakkkk..!!! Ahh..!!!" Asta berteriak sambil berusaha melawan.


Akhirnya, Asta jatuh tak sadarkan diri karena ketakutannya. Pria itu tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil membuatnya ketakutan.


"Aku penasaran sudah berapa abad berlalu semenjak aku meninggal," pria itu berkata sambil memasang sebuah kalung dengan cincin sebagai bandul di lehernya.


---


"Akh... Jangan... Tidak...!" Asta terbangun dari tidurnya dengan teriakan ketakutan.


Melihat Asta berteriak, Ace menatapnya dengan heran. "Eh... Hahaha... Sepertinya itu hanya sebuah mimpi. Syukurlah..." Asta tertawa canggung sambil menatap Ace. Ia merasa lega karena menyadari bahwa itu hanyalah mimpi.


Matahari sudah tinggi di langit. "Sudah siang, saatnya makan siang. Ayo pulang, Ace," ajaknya sambil memikul rusa yang berhasil diburu.


Ketika mereka tiba di desa, orang-orang menyambut mereka dengan hangat. Banyak yang memberikan pujian atas hasil buruan Asta.


---


Selama tiga hari berikutnya, Asta hanya tinggal di rumah dan bermain bersama Ace. Dia juga berolahraga dan bermain dengan teman seumurannya sesekali.


Pada hari keempat, Helio Utake, orang yang dipercayakan oleh Arai Ken, datang ke rumah Asta pada pagi hari.


"Paman Helio! Ada apa?" tanya Asta dengan rasa ingin tahu saat melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya begitu pagi.


Helio Utake, 26 tahun, seorang ayah dengan satu anak, Kenshin Utake.


Helio terlihat bingung tentang bagaimana menyampaikan apa yang harus dia katakan. Namun, bagaimanapun juga, dia harus mengatakannya kepada Asta.


"Ini tentang kedua orangtuamu," katanya dengan suara pelan sambil menelan ludahnya.


"Seorang pengantar pesan datang kemarin malam dan memberitahu bahwa rombongan yang mereka kawal diserang saat dalam perjalanan. Semua orang, termasuk orangtuamu... mereka hilang," ujarnya sambil menyampaikan berita tersebut.


Asta terdiam dan merasa tidak percaya dengan berita itu. Air mata mulai mengalir dari matanya. Dia mulai menangis dengan keras seketika.


Melihat Asta dalam keadaan seperti itu, Helio merasa sedih, tetapi dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menghiburnya saat itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah memeluknya erat.


Ace, yang juga mendengar tangisannya, langsung keluar dan mendekatinya. Begitu juga dengan warga sekitar yang mendengar suara tangisannya, mereka datang mendekat. Dengan lembut, Helio kemudian memerintahkan mereka untuk membubarkan diri dan memberi Asta dan Ace waktu untuk sendirian.


"Mengapa.. ini semua.. terjadi padaku, Paman?" Asta berkata dengan suara terputus-putus.


"Itu adalah risiko menjadi seorang kultivator. Membunuh atau dibunuh, itulah yang mereka lakukan. Hanya dengan menjadi lebih kuatlah kita dapat bertahan," kata Helio memberikan penjelasan tentang risiko menjadi seorang kultivator.


Mendengar itu, Asta tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia harus menerima dan memantapkan hatinya untuk menerima semua ini. Dia sudah tahu bahwa pekerjaan ayah dan ibunya melibatkan pertempuran, seperti yang dijelaskan oleh ayahnya. Namun, tetap saja, tidaklah mudah baginya untuk menerima kepergian kedua orangtuanya.


"Paman, bisakah Anda membantu saya? Dan juga, apakah Anda tahu siapa yang menyerang rombongan ayah dan ibu?" tanya Asta.


Helio terdiam sejenak. "Aku akan membantumu sejauh yang aku bisa, Asta. Namun, aku benar-benar tidak tahu siapa kelompok yang menyerang rombongan ayah dan ibumu," kata Helio kemudian meminta Asta untuk melepaskan pelukan sejenak agar ia bisa mengambil sesuatu dari sakunya.


"Hanya ini yang ditinggalkan oleh pengantar pesan itu. Dia mengatakan bahwa ada selembar kertas terikat pada cincin ini dengan namamu," Helio memberikan cincin tersebut kepadanya.


Asta semakin terguncang setelah melihat cincin tersebut, cincin perak yang merupakan cincin penyimpanan milik ayahnya.


"Paman, bisakah Anda membantu saya?! Aku ingin menjadi lebih kuat... Ajari aku cara berkultivasi... Tolong, Paman!" pinta Asta.


"Tentu," jawab Helio singkat.


"Sekarang, tenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan mulai menjelaskan segalanya tentang kultivasi kepadamu," ujar Helio.


Asta memeluk Ace dengan erat. Sekarang, hanya mereka berdua yang menemani satu sama lain di rumah ini.


Menapaki Jalan Takdir Surgawi adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan seorang kultivator. Kultivator dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Kultivator Sejati dan Kultivator Iblis.


1) Kultivator Sejati adalah mereka yang mengikuti metode kultivasi yang bersifat murni dan terhormat.


2) Kultivator Iblis adalah mereka yang mengadopsi metode kultivasi yang kejam dan tidak bermoral. Inilah yang membedakan mereka.


Untuk menjadi seorang kultivator, seseorang perlu memilih jalur kultivasi mereka sendiri, yang juga dikenal sebagai Jalur Pemahaman. Jalur Pemahaman mencakup berbagai bidang dalam dunia kultivasi, yang jumlahnya tak terhitung. Beberapa contohnya termasuk Jalur Master Roh, Jalur Ahli Pedang, Jalur Peracik Obat, dan Jalur Penempa.


Kekuatan seorang kultivator ditentukan oleh tingkat pemahaman mereka, yang juga dikenal sebagai Ranah. Terdapat sebelas tingkatan dalam Ranah, yaitu:


1. Pemula


2. Petarung


3. Ahli


4. Master


5. Senior


6. Raja


7. Raja Agung


8. Tetua


9. Tetua Bumi


10. Tetua Langit


11. Kaisar Surgawi


Untuk meningkatkan pemahaman mereka, kultivator memerlukan energi alam yang disebut Sumber Surgawi. Sumber Surgawi ini memiliki berbagai manfaat penting bagi seorang kultivator.


Sumber Surgawi adalah kekuatan dasar yang tersebar di seluruh dunia. Air, api, tumbuhan, batuan, makhluk hidup, udara, dan banyak lagi memiliki Sumber Surgawi di dalamnya. Diperlukan metode khusus untuk mengumpulkan Sumber Surgawi dan menyimpannya di dalam tubuh kultivator.


 ------------++

__ADS_1


Saya minta maaf sebesar-besarnya atas kelalaian ini dan mengabaikan sebuah cerita yang telah saya rangkai ini. Ada banyak hal yang terjadi di hidup saya, yang mengharuskan saya berhenti melanjutkan revisi cerita ini ditengah jalan. Tapi setelah ini, dengan sangat yakin, saya akan tetap konsisten untuk merevisi cerita ini hingga ke bagian terakhir update sebelum melanjutkan kembali ceritanya.


Novel ini masih dalam proses revisi, jadi saya minta maaf terlebih dahulu untuk hal itu. Untuk Chapter yang sudah direvisi akan saya beri tanda, terima kasih :)


__ADS_2