
Jauh di Samudera yang tak berujung, terdapat sebuah daratan yang membentang luas dari Selatan hingga Utara. Daratan itu disebut Benua Alam Surgawi, tempat yang menjunjung tinggi kekuatan sebagai hal mutlak.
Di dunia yang mengutamakan kultivasi, semua orang berlomba-lomba meningkatkan kekuatan untuk menjadi kultivator tingkat tinggi. Hingga kini, perseteruan antar kultivator dalam memperebutkan sumber daya dan kekuasaan masih menjadi topik utama setiap peperangan. Seni Surgawi, Artefak, Pil Obat, dan sumber daya berharga lainnya menjadi alasan mengapa banyak kultivator menghadapi kematian.
Dahulu, umat manusia berada di ambang kepunahan karena kekuatan ras lain yang sejak lahir mewarisi darah leluhur mereka sebagai makhluk perkasa surgawi. Ribuan tahun lamanya, umat manusia hidup sebagai budak dari ras lain dan dijajah. Mereka hanya bisa berharap akan datangnya keadilan dari Hukum Surgawi yang akan membebaskan mereka dari takdir perbudakan.
Akhirnya, sesuatu yang telah dinantikan selama beribu-ribu tahun dalam masa kesengsaraan umat manusia, seorang pemuda manusia yang terlahir dari latar belakang sederhana muncul ke permukaan. Kemunculannya mengguncang daratan dan lautan di seluruh wilayah Benua Alam Surgawi.
Kemunculannya seperti malapetaka yang membawa kehancuran bagi para penindas umat manusia. Dengan kekuatan tak tertandingi dan tubuh yang tampak kekal abadi, ia sendirian meratakan ke-12 Istana Ras Hewan Ghaib Kuno beserta para petingginya yang memiliki kekuatan absolut dan mampu meratakan seisi Benua Alam Surgawi.
Dalam peperangan tersebut, seluruh wilayah di Benua Alam Surgawi merasakan efeknya, bumi bergetar hebat, gunung-gunung meledak, petir dan halilintar menggelegar, serta lautan samudera yang terombang-ambing mengiringi jalannya pertempuran terhebat sepanjang masa itu.
Dari hasil pertempuran itu, Benua Alam Surgawi pun terbelah hingga menciptakan beberapa pulau yang terpisah hingga saat ini. Lalu, dalam beberapa generasi berikutnya, umat manusia memulai pergerakan besar mereka dengan membangun wilayah mereka sendiri di setiap titik Benua Alam Surgawi. Dari pergerakan itu, terciptalah 6 Wilayah besar dan beberapa wilayah kecil yang bertahan hingga saat ini.
Di antara wilayah-wilayah itu, yang terkuat adalah Daratan Gitou, tempat berkumpulnya para kultivator di Benua Alam Surgawi dan berdirinya 12 Istana Kerajaan Ras Hewan Ghaib Kuno. Selanjutnya adalah Kekaisaran Jian Wu, Kekaisaran Han, Kekaisaran Arkhan, Kekaisaran Yun, dan Kekaisaran Hong.
Selain Daratan Gitou dan 5 Kekaisaran, ada pula negara-negara kecil yang memiliki wilayah sendiri. Kurang lebih ada 6 negara, yaitu Tebing Tinggi, Padang Pasir, Lembah Terkutuk, Tanah Surgawi, Gunung Penempa, dan Tanah Pelindung.
Meskipun kekuatan sebuah negara tidak sebanding dengan sebuah Kekaisaran, namun kekuatannya bukan berarti lebih lemah dari sebuah Sekte besar di sebuah Kekaisaran sekalipun.
---
Jauh di pedalaman Hutan Surgawi, di Provinsi Huo Tanah Api Suci, terletak Desa Kuil Tersembunyi, lokasi baru berdirinya Sekte Kobaran Api Sejati.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku yakin dia hanya sedang berlatih meningkatkan kontrol aura di hutan, dan tampaknya ia sedang mencoba menyembunyikan auranya. Itulah sebabnya sekarang aku tak bisa merasakan auranya," gumam Asila Moegi sambil berlari, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Asila Moegi memaksimalkan kecepatan larinya agar bisa tiba lebih awal di tempat terakhir kali ia merasakan aura Asta Raiken. Meskipun sepanjang jalan ia mencoba meyakinkan diri, namun firasatnya tak kunjung hilang, hingga akhirnya air matanya pun tak terbendung lagi.
"Tidak..!!! Kenapa aku selalu berpikir negatif? Mana mungkin ia pergi tanpa berkemas dan berpamitan dengan yang lain!" teriak Asila Moegi, sambil mengusap air matanya. Moegi mempercepat langkah kakinya.
Sebelumnya, setelah menciptakan kekacauan di rumah Asta bersama dengan yang lain, Asila Moegi kembali bersama kedua orang tuanya yang tampaknya bersikap mencurigakan. Terutama ibunya, Lan Yue Ru, yang sangat jarang mengajaknya berlatih tanding, tiba-tiba memintanya untuk berlatih tanding, dengan catatan tak ada yang boleh meninggalkan pertarungan sebelum latihan itu selesai.
Selama latihan tersebut, Asila Moegi menyadari bahwa ibunya benar-benar serius dalam menggunakan kekuatannya sebagai Kultivator Raja Agung. Asila Moegi yang hanya seorang Kultivator Ahli merasa kewalahan menghadapi serangan demi serangan yang dilancarkan oleh ibunya. Kemudian, Asila Moegi mendapatkan firasat buruk, dan kenyataannya, ia tak lagi bisa merasakan kehadiran Asta Raiken atau benda apa pun yang ia simpan di sakunya untuk selalu bisa melacaknya.
Tanpa sepatah kata, Asila Moegi meninggalkan kediamannya untuk menuju ke titik terakhir di mana ia merasakannya.
"Moe! Kau mau kemana?! Kita belum selesai!" teriak ibunya.
"Dengan saksi Hukum Surgawi, aku berjanji akan menyimpang dari ajaran kalian jika ayah dan ibu menghalangiku saat ini!" balas Moegi, meninggalkan mereka berdua yang terdiam, tak bisa melakukan apapun.
"Anak itu benar-benar berani. Aku harap Asta sudah pergi saat ini," ucap Asila Ryu, menghembuskan nafasnya pelan.
"Anak-anak jaman sekarang benar-benar mudah sekali menyebut-nyebut Hukum Surgawi," keluh Lan Yue Ru, yang juga tak bisa menahannya pergi, karena khawatir putrinya malah menyimpang ke jalan sesat.
Ryu dan Yue Ru berjalan mengikuti putri mereka dari belakang, namun dengan memberikan sedikit jarak yang lumayan jauh darinya. Karena mau bagaimanapun, mereka sudah merencanakan hal ini dengan Helio.
---
Tak butuh waktu lama bagi Moegi sampai di titik tujuannya. Ia sedikit terkejut melihat Kenshin yang juga berada di sana, menatap ke arah perbatasan. Merasakan kedatangannya, Kenshin berbalik dengan raut wajah bingung melihatnya.
Kenshin sungguh terkejut saat Moegi tiba-tiba muncul di belakangnya tak lama setelah Asta pergi. Ia bahkan bertanya-tanya bagaimana Moegi bisa tahu bahwa Asta telah pergi saat itu?
"Sedang apa kau di sini? Mana Asta? Aku yakin seharusnya ia sedang berlatih kontrol aura di sini? Mana dia?" seru Moegi mempertanyakan keberadaan Asta sambil menengok kesana-kemari.
Kenshin menggeleng pelan, "Asta? Entah, aku tidak tahu. Dari tadi aku hanya sendirian di sini. Memangnya kau pikir dia siapa sampai aku harus selalu mengikutinya.." balas Kenshin sambil cengengesan. Namun dalam hati, Kenshin bertanya-tanya tentang bagaimana Asila Moegi bisa dengan cepat menyadari kepergian Asta Raiken.
Namun sayangnya, Kenshin tak pandai berbohong seperti Zaraki. Hanya dari sorot matanya, Asila Moegi langsung tahu bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Asila Moegi mendelik ke arah Kenshin, "Jangan bercanda Utake! Kau tak pandai berbohong, karena matamu menjelaskan semuanya secara jelas. Lagipula, aku punya sesuatu yang bisa membuatku merasakan hawa keberadaannya selama ia masih di sekitar Sekte Kobaran Api Sejati, namun tiba-tiba saja aku tidak merasakannya. Berhenti berpura-pura dan katakan dimana ia sekarang...?" Tanya Asila Moegi sekali lagi.
__ADS_1
Menyadari usahanya hanya sia-sia, Kenshin menghembuskan nafas pelan. Ia menunduk, menatap tempatnya berpijak, tak sanggup menatap langsung matanya yang seolah-olah bisa membaca pikirannya.
"Jangan kira kau bisa menyembunyikan sesuatu di belakangku, Utake sialan! Beritahu aku dimana dia berada?!" Paksa Moegi sembari mencengkeram erat kerah bajunya.
Namun Kenshin tak menjawab pertanyaan tersebut; lebih tepatnya, ia tak bisa memberitahukannya tentang Asta yang telah melewati perbatasan untuk tujuannya. Hal itu bertujuan untuk memberikan Asta waktu lebih banyak lagi agar bisa pergi lebih jauh.
"Haahh..!! Dasar keparat! Ya sudah, kalau kau tak mau bicara, biar aku sendiri yang pergi mencarinya!" Ucapnya kesal diabaikan. Ia pun melepaskan cengkeramannya lalu berjalan ke sampingnya.
Namun, sebelum ia berjalan melewatinya, Kenshin Utake segera mengangkat lengan kanannya dengan maksud menghadangnya.
Asila Moegi mengerutkan keningnya, bertanya maksud dari gerakan tangannya itu,"Aku tanya baik-baik, kau tak menjawab. Sekarang aku ingin mencarinya sendiri, kau menghalangi. Apa yang sebenarnya kau inginkan, hah, Utake sialan?" Ucapnya dengan nada tinggi. Sejak tadi, ia merasa Kenshin seperti sedang berusaha menahannya, yang justru membuatnya semakin kesal.
"Singkirkan tanganmu dariku, keparat!" Bentak Moegi sekali lagi karena merasa dirinya dihiraukan.
Namun, meski Asila Moegi telah membentaknya dengan nada tinggi berkali-kali, Kenshin Utake tak bergeming sedikitpun. Tak peduli seberapa keras Moegi meneriakinya, Kenshin sepertinya tak berniat membiarkannya pergi.
Kesabaran Asila Moegi pun diuji saat ini, apakah ia akan memukulnya atau menurutinya. Akan tetapi, keduanya bukan pilihan yang ingin dia pilih, karena tujuannya kesini pun sudah jelas bahwa ia ingin mencari keberadaan Asta Raiken yang tidak bisa ia rasakan hawa keberadaannya.
Moegi mencoba menarik nafasnya lalu mundur secara perlahan dan berbalik memilih jalan lain. Tapi sayangnya, Kenshin pun tak berdiam diri disana ketika Moegi menjauh darinya. Moegi tahu Kenshin sedang berusaha menahannya, maka dari itu ia pun memikirkan sebuah cara untuk melewatinya dalam satu gerakan.
"Sialan! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, hah?! Minggir dan jangan halangi jalanku, Kenshin Utake!" Teriak Moegi penuh amarah ketika Kenshin kembali menghalanginya.
Setelah beberapa kali diteriaki olehnya, akhirnya Kenshin mengangkat kepalanya, sembari menatap lekat-lekat matanya, sampai membuatnya risih dengan tatapan itu.
Ditatap seperti itu, Moegi mendengus kesal,"Apa..?!!" Tanyanya yang merasa risih dengan hal itu. Ia pun kembali mundur dan memilih jalan lain, akan tetapi hal yang sama pun terus dilakukan oleh Kenshin.
Pada akhirnya, Moegi pun tak mampu lagi menahan emosinya setelah berkali-kali Kenshin menghalanginya untuk lewat. Asila Moegi mencengangkan tangan Kenshin lalu memaksa untuk menyingkirkannya dari hadapannya. Namun, siapa sangka tangan Kenshin sangat sulit dipindahkan, bahkan dengan sekuat tenaga Asila Moegi mencoba.
"Kau pikir memangnya siapa kau menghalangiku, hah?! Aku sedang tidak ada waktu untuk mengurusi mu sekarang. Jika kau terus menghalangi ku, demi..."
"Demi Hukum Surgawi, kau akan menyimpang jika aku terus menahanmu di sini, benar kan? Cukuplah dengan sifat kekanakanmu itu. Kalau kau memaksa, takkan ada kesempatan bagimu di masa depan untuk bertemu dengannya lagi," potong Kenshin yang akhirnya mau berbicara.
Kenshin tersenyum, karena sedari tadi inilah yang dia cari, dan tujuannya menahannya selama itu adalah untuk membuatnya emosi dan lupa akan tujuannya.
Melihat Kenshin yang tersenyum, Moegi semakin penuh dengan amarah, "Kurang ajar! Berani kau meremehkanku, hah, Utake sialan..!!"
Meskipun Kenshin menghindar dan menahan serangannya, ia tak berniat untuk menyerang balik. Tujuannya memang dari awal adalah untuk menahannya agar tidak mengejar Asta.
Semakin lama, Asila Moegi semakin membabi buta dalam serangannya. Hanya menghindar saja tidak cukup, apalagi sebagai sesama Kultivator Ranah Ahli, meskipun Kenshin sendiri Menapaki Jalan Berpedang dan Moegi Menapaki Jalan Master Roh.
Keduanya bertarung cukup sengit hingga akhirnya Moegi tidak dapat menahan air matanya yang mulai berjatuhan. Hatinya benar-benar sakit seakan-akan kehilangan sesuatu yang sangat berarti baginya.
Asila Moegi mulai mengumpat lebih keras sembari terus menyerang secara membabi buta. Tanpa menggunakan pedangnya, Kenshin tak bisa menghindari ataupun menahan serangannya yang merupakan Master Roh yang mendalami pengendalian elemen. Kenshin terus menerima serangan itu hanya agar Moegi tidak pergi dari tempat tersebut.
Perlahan-lahan, serangan Moegi melambat dan kekuatannya pun semakin menurun di setiap serangannya. Perasaannya yang mendalam tak lagi mampu ia kendalikan, hingga akhirnya ia pun tak dapat menyelesaikan pukulannya.
Dengan tinju terakhirnya yang masih bersarang di dada Kenshin, Asila Moegi tertunduk diam, menikmati air matanya yang semakin deras. Ia pun sadar bahwa sekuat apapun ia melampiaskan amarahnya pada Kenshin, hal tersebut tetap tidak akan mengembalikan apa yang sudah terjadi, termasuk kepergian Asta.
"Kenapa.. Hiks.. kenapa kau menghalangiku.. hiks.. lagipula bukankah dia ada di belakangmu.. hiks.. biarkan.. aku bertemu dengannya.. " Ucap Moegi terbata-bata, dengan raut wajah penuh harap akan jawaban Kenshin.
"Tidak. Asta, dia sudah tak lagi ada di sini. Dia sudah pergi semenjak satu jam yang lalu, meninggalkan sekte juga meninggalkan kita untuk meneruskan perjuangannya," balas Kenshin.
"Kau.. hiks.. kau berbohong kan, Kenshin?! Hiks.. bagaimana mungkin Asta pergi tanpa bicara pada siapapun..! Hiks.. kau pembohong..!" Ucapnya tak percaya.
Tanpa banyak kata, Kenshin lalu memeluknya dengan erat, "Aku minta maaf, tapi ini adalah keputusannya dan kita tak bisa memaksakan kehendaknya untuk tetap tinggal. Meskipun dia pergi, bukan berarti takkan ada lagi kesempatan untuk kita bersama kembali," ucapnya pelan di telinga Moegi.
Mendengar hal itu, mau tak mau Asila Moegi pun harus menerima fakta kenyataan bahwa Asta benar-benar telah meninggalkannya. Ia pun mulai menangis sekeras-kerasnya, ditemani oleh Kenshin yang membiarkannya menuangkan segala kesedihannya.
Hal yang di luar perkiraan adalah ia akan bersumpah untuk membencinya seumur hidupnya. Namun kenyataannya justru berbanding terbalik dari apa yang Kenshin pikirkan, ternyata di balik semua sifat permusuhan yang Moegi perlihatkan pada Asta selama ini, hanyalah topeng belaka yang sengaja ia pasang untuk menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
Tak jauh dari mereka berdiri, ada Lan Yue Ru dan Asila Ryu yang juga memperhatikan mereka dari kejauhan, termasuk bagaimana Kenshin berusaha menahannya.
Asila Ryu, yang sudah lama menyadarinya, hanya menghembuskan nafasnya pelan, "Kalau dipikir-pikir, ia benar-benar mirip sekali denganmu," ucapnya yang dimaksudkan adalah Lan Yue Ru.
Lan Yue Ru hanya diam sembari tersipu malu mendengar hal itu. Lan Yue Ru sendiri tak menyadari bahwa putrinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama di usianya yang baru menginjak 10 tahun itu. Meskipun ia sendiri tak yakin apakah Moegi benar-benar jatuh cinta atau hanya sekedar merasa kehilangan sahabatnya.
Setelah beberapa saat, Kenshin pun terkejut karena secara tiba-tiba Asila Moegi tak sadarkan diri. Asila Ryu dan Lan Yue Ru pun keluar dari persembunyian lalu menghampirinya. Melihat kedatangan kedua Tetua Aula ini, Kenshin pun langsung memberikan salamnya pada mereka. Setelah itu, sepasang orang tua itu pun berterima kasih pada Kenshin dan masalah Moegi pun selesai.
Sekarang Kenshin tahu alasan di balik bangkitnya kembali keinginan Moegi untuk meninggalkan desa yang tak lain adalah karena Asta. Kenshin pun kembali ke kediamannya untuk melaporkan hal ini pada ayahnya.
---
"Guru, apa benar ada tempat seperti itu?" Tanya Asta, tak percaya pada Ace mengenai tempat yang bisa meningkatkan efisiensi kecepatan berlatihnya.
"Bocah nakal! Apa kau tak mempercayai kata-kataku, hah?!" timpal Ace yang kini telah kembali ke wujud serigala dewasa.
Asta menyipitkan kedua matanya, "Bukannya aku tak percaya, hanya saja perputaran sumber surgawi di Desa Kuil Tersembunyi saja sudah sehebat itu untuk berlatih. Apa mungkin ada tempat yang lebih baik dari Desa Kuil Tersembunyi? Itu yang kupertanyakan," ujar Asta.
Flares, yang melihat mereka berdua sedikit tidak akur, tertawa kecil, "Tentu saja ada. Tapi biasanya tempat-tempat dengan keistimewaan seperti itu menyimpan sebuah rahasia besar di belakangnya. Lagipula, salah satu tempat yang ingin dia kenalkan padamu adalah tempat yang sama dengan yang awalnya ingin kuseleksi untukmu menjadi muridku," jelasnya pelan-pelan.
Mendengar penjelasan itu dari Gurunya, Asta pun mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kalau begitu, apa nama tempat yang dapat meningkatkan efisiensi latihanku itu? Biar aku tebak, pasti namanya adalah Tanah Surgawi, benarkan?" ujarnya.
"Mengapa kau langsung diam kalau dia yang bicara?!" Tanya Ace, yang dimaksudnya adalah Flares.
"Karena ia guruku. Aku bisa mempercayai setiap kata-katanya," jawab Asta.
"Jadi menurutmu kata-kataku tidak bisa dipercaya, hah?!" Teriak Ace, sambil mendelik ke arahnya.
"Tentu saja aku percaya. Jadi bagaimana dengan tebakanku sebelumnya?" Ujar Asta.
"Ya, kau benar. Tempat itu bernama...."
"Sudah, pasti aku benar!" Potong Asta cepat.
Ace mendengus kesal saat ucapannya dipotong, namun ia tetap melanjutkannya, "Tempat itu bernama Lembah Neraka," ujarnya yang seketika itu juga membuat Asta terkejut bukan main.
"Hah...?! Lem- Lembah Ne- Neraka kau bilang?!" Teriak Asta langsung berhenti di tengah jalan, hendak putar arah dan kembali ke Desa Kuil Tersembunyi. Namun sebelum itu, Ace langsung mengeluarkan sebuah tali yang kemudian ia ikatkan padanya hanya dalam sekejap mata.
"TIDAK...!!! AKU TIDAK INGIN PERGI KE TEMPAT SE-MENAKUTKAN ITU...?!!" Asta tak peduli dan berusaha melepaskan diri, tapi Ace tetap kukuh dan melemparkannya ke atas punggungnya.
---
Selang beberapa jam kemudian, hari pun mulai gelap, dan sinar matahari mulai meredup di ujung cakrawala. Ace pun memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat, meskipun yang kelelahan bukanlah dirinya melainkan Asta yang terlihat pasrah dengan muka pucat pasi.
Sepanjang perjalanan, Asta terus meminta untuk diturunkan, tetapi Ace tak menghiraukannya sama sekali. Asta membayangkan seberapa bahaya tempat yang disebut Lembah Neraka itu, karena menurut pikirannya mustahil tempat dengan nama se-mengerikan itu akan menjadi tempat latihan yang damai.
"Bersemangatlah, bukankah kau ingin menjadi kuat lebih cepat. Kalau kau lemas tanpa harapan hidup begini, apa yang akan terjadi pada kedua orangtuamu yang menunggu?" ujar Flares sambil tertawa.
"Tapi Guru, aku tidak memerlukan waktu secepat itu sampai-sampai pergi ke tempat mengerikan seperti itu. Aku masih menyayangi nyawaku," ucap Asta pelan.
Ace pun tertawa kecil, "Itu hanya nama. Tak menggambarkan seberapa berbahayanya tempat itu. Kenyatannya, justru tempat itu adalah lembah yang indah dengan berbagai pemandangan hijau dan hutan alami, ditambah lagi banyaknya aneka ragam jenis tumbuhan obat yang bisa kita gunakan untuk membantu latihanmu."
Mendengar hal itu, Asta tak percaya begitu saja. Setelah Ace melepas ikatannya, Asta hanya duduk diam sembari memeluk lututnya sendiri.
Setelah beberapa saat, Flares meyakinkannya dan menceritakan banyak tempat yang memiliki nama indah, justru kenyatannya sangat mengerikan. Akhirnya, Asta pun secara perlahan mulai percaya. Semangatnya kembali membara setelah Flares berjanji akan membantunya untuk berlatih Kontrol Aura dan Kontrol Roh, serta mengijinkan Asta melatih Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan. Kitab tersebut merupakan Kitab Surgawi tingkat Dewa Hitam yang berisikan kumpulan seni bertarung pengendalian elemen api tingkat tinggi yang sangat cocok bagi Master Roh dengan Esensi Roh jenis elemen api.
Beruntung, lokasi mereka berhenti tak jauh dari sungai, jadi selama Ace menyalakan api, Asta bertugas untuk menangkap ikan di sungai. Meskipun sedikit memakan waktu karena kondisinya yang sudah malam, akhirnya Asta pun berhasil mendapatkan satu ekor ikan sebesar kerbau, yang mana ternyata adalah Hewan Ghaib peringkat 1.
Selesai makan, Ace pun memanggilnya mendekat untuk membicarakan tentang Kontrak Perjanjian Roh yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
"Sekarang juga?! Apa kau benar-benar sudah yakin ingin menjadi Hewan Rohku, Ace?"