Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch45 Pertemuan Tak Disengaja


__ADS_3

Betapa terkejutnya mereka bertiga mendengar hal itu dari perkataannya langsung, mereka pikir Asta setidaknya berasal dari Kota Besar yang entah mungkin di Kekaisaran lain. Namun bagaimanapun juga penampilan Asta yang memang cukup sederhana membuat semua perkataannya memang bukanlah suatu kebohongan.


Yuan yang sudah tahu tak merasa heran dengan hal itu apalagi dengan sumringah keterkaguman yang Asta tunjukkan pada kemegahan dan kemewahan Ibukota Kekaisaran menggambarkan betapa udik sekali, akan tetapi tentu Yuan tak mempedulikannya.


Setelah berbincang-bincang mengenai Turnamen Seni Bela Diri kemudian mereka pun berpisah, Ace yang terus menerus meminta Asta untuk pergi berkeliling menjadi alasan mengapa mereka harus berpisah.


Mereka bertiga pun berjalan-jalan mengelilingi kota Hansu. Sepanjang perjalanan tak sedikit orang-orang yang bertanya-tanya keheranan saat melihatnya, namun Asta bersikap mengacuhkan orang-orang tersebut. Baginya tak penting juga berbicara dengan mereka selagi ia tak merugikan mereka atau mereka yang merugikannya.


Sepanjang perjalanan Ace terus-menerus mengejek Zaru hingga kesal memutuskan untuk kembali ke penginapan. Ace pun menertawakan Zaru yang semakin melangkah menjauh.


"Kemana dia?" Tanya Ace yang dimaksudkan untuk menanyakan Flares.


"Guru? Aku rasa ia masih sedang tertidur," jawab Asta.


"Dia orang yang tak berubah sama sekali. Selagi hidup maupun matinya," ujar Ace.


Disaat mereka sedang berbincang-bincang sambil berjalan, terdengar suara seseorang yang memanggilnya. Asta pun melihat ke belakang untuk memastikan siapa itu.


Terlihat seorang anak lelaki seumurannya yang tengah melambaikan tangannya. Ia juga terlihat memakai topeng berbentuk kepala burung hantu, karena topengnya tersebut Asta pun kesulitan untuk mengenalinya.


"Siapa?" Tanya Asta, Ace menghembuskan nafasnya malas sebelum kemudian turun dari pundaknya berjalan meninggalkannya.


"Aku pergi lebih dulu, beruang itu mungkin kesepian tanpaku," ujar Ace sambil tersenyum senang.


"Ehhh,,,, Apa kau lupa siapa aku? Hei..!! Apa topeng mu itu menjadi alasan untuk mu melupakanku, hah??"ujarnya.


"Bukankah kau pun sama sepertiku memakai topeng, memangnya siapa kau dan mengapa bisa mengenaliku?" tanya Asta sekali lagi.


Dia pun menengok ke kanan dan kiri sebelum menjawab pertanyaan Asta. "Kita tidak bisa bicara di sini, ada terlalu banyak orang. Aku tidak bisa mengatakannya, ikuti aku," ajaknya.


Namun saat anak tersebut mulai melangkah ke arah lain. Asta hanya berdiam saja ditempat, sebelum kemudian ia pun melangkah ke arah yang berlawanan dengannya.


"Aku tidak punya banyak waktu, lagipula siapa dirimu memerintahku," ujar Asta sambil melenggang pergi.


"Sepertinya hanya itu satu-satunya cara," ia pun mengeluarkan pedangnya dari dalam cincinnya lalu kemudian menyerang Asta dari belakang.


Namun Asta terlihat hanya biasa saja dan hanya mengangkat tangan kirinya untuk menangkap pedang tersebut dengan cakar Taring Duri.


"Bukankah sudah kubilang aku tidak punya banyak waktu denganmu," ujar Asta menajamkan ucapannya.


'Ini-?! Apa-apaan dengan Penguasaan Spiritnya, Penguasaan Dasarnya mungkinkah memang sudah berada di puncak,'jerit batin remaja tersebut.


Ia pun buru-buru menarik pedangnya lalu mengangkat topengnya sedikit memperlihatkan setengah wajah yang tengah tersenyum.


Asta pun membelalakkan matanya ia tak menduga akan bertemu dengannya lagi di kota ini.


"Kau..!!!! Ken--!!!" Buru-buru pemuda itu menutup mulut Asta sebelum ia menyerukan namanya.


"Bukankah sudah kubilang tempat ini bukanlah tempat yang aman untuk kita berbicara, lebih baik kita mencari tempat yang lain saja," ajaknya.


Asta pun mengangguk mengerti saat melihat orang-orang di sekitarnya semakin banyak yang menontonnya. Mereka berdua pun pergi ke sebuah hutan yang berada di pinggiran Ibukota.


"Jadi apa yang akan kita bicarakan, kemana mereka berempat, kupikir alasan kau membawaku adalah untuk bertemu dengan mereka juga," tanya Asta sambil melihat sekelilingnya.


"Hahahaha. Entahlah aku juga tidak tau dimana mereka, tapi aku yakin mereka ada disisi lain Ibukota juga," jawab Kenshin sambil tertawa.


"Ehhh...? Bukankah kalian selalu bersama?"tanya Asta heran melihat Kenshin yang malah tertawa.


"Hmmm... Bagaimana ya menceritakannya,"ucapnya sambil mencoba berpikir menyusun kata-kata. "Aku hampir sama sepertimu, aku juga meninggalkan desa," jawab Kenshin singkat.


"Bisakah kau buka saja topengmu itu lagipula di sini tidak ada orang lain yang akan melihat dan mengetahui identitasmu yang sebenarnya," ujar Kenshin.


Asta pun melepaskan topengnya dan memasukkannya ke dalam cincin.


"Nah, kan sekarang aku pun bisa memastikan bahwa orang yang berada di hadapanku ini benar-benar memang kau, Asta. Hanya karena kau sudah semakin hebat kau sampai menutupi wajahmu seperti itu. Bukankah dulu kau bilang ingin menaklukkan banyak wanita, kalau kau menutupinya seperti itu bagaimana mereka bisa tertarik padamu," ujar Kenshin.


"Tenang saja aku pasti akan mempunyai gadis lebih dari satu, kau tunggu saja," ungkap Asta yang lalu membuat Kenshin pun tertawa karenanya.


"Lalu sekarang sudah sejauh apa kultivasimu Asta, kuharap kau tak bermalas-malasan saat berkultivasi," tanya Kenshin.


"Ranahku sekarang aku seorang Guru Spiritualis tingkat 2, beberapa bulan ini aku hanya memfokuskan latihan Penguasaan Dasar dan sekarang penguasaan dasarku sudah sempurna semuanya," ucapnya dengan nada bangga.


"Pfffttt. Kau masih 2 bintang di bawahku, berlatihlah lebih giat," balasnya mencibir.


"Hanya dua bintang saja, sedangkan penguasaan dasar ku sudah sempurna semuanya, kau pikir aku akan kalah olehmu,"ujar Asta.


"Hah? Kau pikir penguasaan dasarku masih di tingkat rendah? Hahaha. Jujur saja, Penguasaan dasarku juga sudah sempurna semuanya," balas Kenshin sambil tertawa.


Mereka pun terus bercanda hingga hari mulai gelap, Kenshin pun kepikiran untuk mengajak Asta berlatih tanding dengannya lagi


"Kau yakin? Asal kau tahu saja. Perkembanganku sudah sangatlah jauh, apa kau belum belajar dari pengalaman pertama," ucap Asta tertawa ketika Kenshin tiba-tiba menantangnya.


"Saat itu berbeda dengan saat ini, sedangkan saat ini kita berdua pun sudah mempunyai Roh Hewan masing-masing. Kuharap kau juga nantinya menggunakan Tekhnik Rohmu, aku ingin tahu sekuat apa Roh Sejati yang pernah di miliki sang pendiri Sekte Kobaran Api Sejati," ujar Kenshin.

__ADS_1


Asta pun terbelalak mendengarnya dan langsung memasang wajah serius.


"Kau..?!!! Bagaimana kau tahu," tanya Asta.


"Tenang saja bukan hanya kau saja yang terlahir dengan Roh Sejati," ucap Kenshin sambil memperlihatkan tato yang tiba-tiba muncul tangannya.


"Hahaha... Sepertinya kau ditakdirkan untuk menjadi rival ku yang tangguh nantinya," ucap Asta sambil tersenyum.


"Buktikan bahwa kau bisa berdiri sejajar denganku, Asta," balas Kenshin yang kemudian berlari kedepan untuk menyerang Asta lebih dulu.


Kenshin menerjang ke depan dan memukulkan tinjunya, Asta menghindari serangan tersebut.


"Baiklah karena sepertinya kau benar-benar ingin melihat kekuatan ku yang sebenarnya maka akan ku tunjukkan semuanya padamu. Kebetulan aku juga baru selesai mempelajari sebuah Tekhnik Roh baru," Asta pun bersiap dengan Cakar Taring Duri.


"Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan, Kobaran Api Kegelapan, ditambah Seni Surgawi Level Menengah, Pukulan Penghancur Gunung,"


Asta pun melancarkan sepuluh pukulan penghancur tunggal yang telah ditingkatkan ke arah Kenshin sebanyak sepuluh pukulan.


Dengan gesit Kenshin menghindari kesepuluh serangan tersebut, tak ingin kalah ia juga mengeluarkan teknik pedangnya.


"Kitab Surgawi Ilmu Pedang Tak Berwujud Bagian Pertama, Jejak Pedang Tak Berwujud,"


Kenshin melesat cepat kedepan sembari menebaskan pedangnya secara horizontal. Menciptakan serangkaian serangan bulan sabit disetiap jalurnya.


Bukannya menghindari serangan tersebut Asta tersenyum dan bersiap untuk menepisnya.


"Hanya seperti ini," ucapnya meremehkan.


Asta menepis seluruh serangan tersebut tanpa ada satupun yang mengenainya, namun saat ia selesai ia baru menyadari bahwa Kenshin telah menghilang.


Asta membolak-balikkan kepalanya mencari Kenshin, namun saat itu ia merasakan adanya bahaya dari atasnya refleks Asta pun berguling ke belakang.


Dan benar saja saat itu tebasan berbentuk bulan sabit menghantam tanah, Asta kemudian mendongakkan kepalanya melihat Kenshin yang tengah terbang dengan sayap di langit.


"Terkejut..? Sayangnya bukan hanya kau saja yang memiliki Roh Hewan Ghaib Kuno, Asta," ungkapnya.


"Hmm,,, main terbang-terbangan kah, ya sudah. Karena kau pun sudah menggunakan Transformasi Roh maka aku pun akan menggunakannya,"


Tak mau kalah Asta pun langsung ikut mengaktifkan tekhnik transformasi tahap sempurna diikuti dengan pengaktifan Api Pemakan Cahaya sehingga ia bisa memanipulasi Esensi Rohnya agar membentuk sebuah sayap yang lalu bisa ia gunakan untuk terbang.


Pertarungan di udara pun terjadi dari keduanya belum ada satupun yang menerima serangan. Keduanya tampak seimbang.


"Tak ada pilihan lain, sepertinya aku harus menggunakan tekhnik rohku," ucap Kenshin.


Meski begitu Asta tetap tenang dan memangkas semua tebasan pedang yang Kenshin lancarkan.


Kenshin terkejut saat melihat Asta bertahan begitu lama dalam mempertahankan beberapa tekhnik perubahan yang berbeda. Seni Jiwa, Transformasi serta Tekhnik Roh. Ia tak menyangka Asta benar-benar menguasai kemampuan untuk melakukan hal gila tersebut.


Akhirnya Asta pun menemukan posisi Kenshin yang tengah memandangnya dengan tatapan tak percaya. Dengan cepat Asta pun menyerangnya dengan cakar kirinya yang bisa mengalirkan arus listrik hingga Kenshin pun tersetrum kaku dan terjatuh.


Pertarungan pun terus berlanjut, awalnya pertarungan nampak berimbang. Namun seiringnya waktu Asta terlihat mulai kewalahan dengan pola serangan Kenshin yang dirasanya selalu berubah-ubah.


"Bagaimana dengan kekuatan dari Roh jenis Ilusi ini," ujar Kenshin di sela-sela pertarungan.


"Hebat! Cukup hebat! Aku bahkan sampai kewalahan menghadapimu yang selalu menghilang setiap kali menebaskan pedang," puji Asta sambil menghindari setiap serangan yang dilancarkan Kenshin.


Semakin lama Asta bukannya semakin kelelahan dalam menghadapi tebasan pedang yang selau menciptakan serangan beruntun. Tekhnik Roh Kobaran Api Peperangan membuatnya semakin bersemangat semakin lama ia bertarung.


Namun pada suatu kondisi melihat adanya peluang Kenshin berpikir untuk mengakhiri pertarungan tersebut dengan satu serangan tunggal.


Menyadari hal itu Asta tak kehabisan ide sama sekali, Asta lalu membatalkan Kobaran Api Peperangan serta Transformasinya, tepat saat durasi Kobaran Gejolak Raga nya telah berakhir.


Kenshin pun mengernyitkan keningnya saat melihat Asta yang membatalkan tekhniknya dan lagi Asta tersenyum saat itu.


"Berakhir sudah....!!!!!" Seru Kenshin.


"Ya! Kau benar! Berakhir sudah!" Teriaknya sambil tersenyum.


Asta kemudian melepas Cakar Taring Duri di tangan kanannya lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap menghadang serangan yang Kenshin arahkan padanya.


Seketika tato api kembali muncul memenuhi seluruh tubuh Asta. Tepat ketika jarak pedang Kenshin hanya berjarak beberapa inci dari tangan Asta.


Sesaat kemudian telapak tangan Asta pun mengeluarkan hembusan api yang cukup besar yang hampir membakar habis Kenshin.


Untungnya Kenshin masih sempat untuk menggunakan Tekhnik Rohnya dan menghindar dari luka fatal, namun tidak dengan pedangnya yang kini meleleh karena dilalap api hitam tersebut.


Kenshin pun menghela napas panjang saat melihat pedangnya dihancurkan lagi oleh Asta. Terlihat Asta yang tersenyum penuh kemenangan melihat Kenshin tak lagi bisa melakukan apa-apa tanpa pedangnya.


"Kenshin jangan bilang kau lupa," ujar Asta masih terus tersenyum.


Kenshin pun menarik nafasnya pelan,"baiklah aku menyerah, kau menang, apa kau puas?"ujar Kenshin.


Asta pun tertawa lepas setelah mendengar pengakuan kalah Kenshin. "Lalu mana bayarannya?" Tanya Asta.

__ADS_1


"Bayaran apa lagi?!" Tanya Kenshin balik.


"Pertaruhan kita, apa kau pikir aku akan melakukannya dengan gratis," ujar Asta.


Dengan wajah kesal Kenshin lalu mengeluarkan sekantung emas dan melemparkannya ke Asta. Asta pun menangkapnya dan menghitung jumlah didalamnya.


"Seratus keping emas? Lumayan," ucapnya sambil tertawa senang.


"Oyy, Kenshin, aku tak bisa menemukan alasan lain mengapa kau disini. Apa kau hendak berpartisipasi dalam turnamen?" Ucapnya tiba-tiba bertanya.


Kenshin pun menyipitkan matanya lalu menghela nafas pelan. "Memangnya kau pikir aku kemari hanya untuk berjalan-jalan, tentu saja aku kemari untuk mengikuti Turnamen,"jelas Kenshin.


Asta terdiam sejenak sembari menatap langit malam yang berbintang. Dalam ingatannya ia mengingat teman-temannya semasa di Kuil Api.


"Kemungkinan besar mereka akan mengikuti Turnamen Seni Bela Diri ini, bisa saja mereka sudah sampai di kota ini hanya saja kita belum sempat bertemu dengan mereka," ujar Kenshin.


"Hei, kau bertanya untuk apa aku ada disini lalu kau sendiri sedang apa? Mengikuti Turnamen? Memangnya kelompok mana yang ingin di wakilkan olehmu. Tak mungkin kan kau kembali ke Sekte," lanjut Kenshin bertanya.


"Tentu saja aku tidak kembali ke Sekte dan aku juga tidak mewakilkan Sekte manapun meskipun aku memang mengikuti Turnamen Seni Bela Diri ini. Aku disini berkat bantuan Manager Row, jadi bisa dibilang aku mewakili Asosiasi Fajar Merah,"balas Asta sambil tersenyum.


Kenshin mengernyitkan dahinya tak percaya,"Menurut yang ku tahu selama ini Asosiasi tak pernah mengirimkan seorangpun di tiap Turnamen Seni Bela Diri, lalu kenapa sekarang mereka mengirimkan mu sebagai wakilnya, apa Ace yang sebagai Hewan Kuno yang merekomendasikanmu ke Asosiasi?" ujar Kenshin tak percaya.


"Jadi kau tau kalau Ace itu merupakan sosok Hewan Ghaib Kuno?" Ujar Asta terkejut.


"Hanya orang bodoh saja yang menganggapnya serigala biasa, dari kemampuannya untuk berbicara saja sudah menjelaskan semuanya. Apa kau tidak tahu mengenai hal itu?" Tanya Kenshin.


Asta pun memegang dagunya,"pantas saja saat di kota banyak sekali orang-orang yang memperhatikanku, jadi itu alasannya," gumam Asta.


"Asta, kau masih belum menjawab pertanyaanku," tagih Kenshin.


'Jangan katakan hal apapun yang berkaitan dengan Guru, sedikitpun,' ujar Flares berbicara namun hanya Asta yang dapat mendengarnya.


Asta pun mengangguk mengerti, Kenshin yang melihatnya memiringkan kepalanya heran.


"Hari sudah gelap dan aku pun mengantuk, aku pergi dulu," ujar Asta sambil menguap lalu memasang topengnya kembali dan berbalik berjalan pulang.


"Oyy,, kau masih belum menjawabnya,"ujar Kenshin.


"Sampai jumpa,"ujar Asta melambaikan tangan tak mempedulikannya.


Sesampainya di restoran dimana Asta menginap Manager tengah bercanda dengan para tamu yang berkunjung ke restoran tersebut.


"Manager, bukankah di sini ada cabang asosiasi mengapa anda memilih menginap di restoran penginapan ini," tanya seseorang.


"Terkadang aku merasa lebih nyaman jikalau menginap di suatu tempat, itu lebih menjelaskan bahwa aku dan kalian adalah sama. Aku hanya ingin lebih banyak berbaur dengan para kultivator muda seperti kalian," jawab Manager menjelaskan.


Sedangkan di sisi lain Ace dan Zaru terlihat sedang bermain catur, mereka berdua tampak sengit melakukan pertarungan diatas papan catur tersebut.


Disana tak kalah ramai dengan meja Manager Row, bahkan lebih banyak. Pendukung dari kedua belah pihak tampak berusaha menyemangati pilihan mereka dan nampaknya sudah ada banyak pertaruhan yang di lakukan diantara mereka.


"Tuan Ace, anda pasti menang!!"


"Tidak!! Tuan Zaru lah yang akan menang! Kau jangan berharap lebih tentang itu!"


"Tuan Ace..!!!! Tuan Ace...!!!"


"Tuan Zaru...!!! Tuan Zaru..!!"


Dibalik topengnya Asta sedikit terkejut melihat pemandangan yang begitu ramai di restoran tersebut. Asta pun pergi ke meja Manager Row untuk ikut bergabung.


Rupanya Yuan Tiandu juga berada disana, ia melambaikan tangannya memanggil Asta.


"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Asta berbisik-bisik.


"Nahh..!!! Ini dia, ku perkenalkan kepada kalian semua, Asta...!! Dia adalah keponakanku sekaligus seseorang yang akan mewakili Asosiasi Fajar Merah dalam Turnamen Seni Bela Diri," ujar Manager memperkenalkan Asta.


Orang-orang tersebut kemudian menyerbunya agar bisa berkenalan dengannya, Dibalik topengnya tersebut Asta hanya bisa tersenyum canggung saat itu terjadi.


"Senior bisakah kau menjelaskan semuanya padaku," ujar Asta berbisik-bisik pada Yuan.


"Apa kau tak memperhatikan wajahnya yang memerah itu? Pergilah ke atas dan tidur, kau masih terlalu muda untuk membicarakan hal ini," ujar Yuan sambil tersenyum mengejek.


Asta hanya memasang ekspresi datar di balik topengnya mendengar ucapan Yuan Tiandu, ia pun menuruti sarannya dan pergi ke atas untuk tidur.


Selesai membersihkan diri dan mengganti baju Asta yang hendak berbaring di kejutkan oleh gurunya yang tiba-tiba muncul di depan wajahnya.


"Guru bisakah kau tidak melakukan hal seperti ini lagi?!!" Protes Asta.


"Hahahahaa,,, maaf. Hanya saja ada yang mesti harus guru katakan padamu sekarang juga," balas Flares.


"Apa itu?" Tanya Asta penasaran.


"Dengarkan ini,,,,,"

__ADS_1


__ADS_2