
Alangkah terkejutnya Zaraki dan Kesha saat mengetahui sosok dibalik topeng tersebut adalah Asta, tak menyangka mereka dapat bertemu dengannya disini.
"Ternyata itu kau, Asta," ucap samar-samar suara seseorang yang cukup Asta kenal, Taki Garaki.
Mereka berempat pun menengok ke belakang melihat sosok Taki yang sedang menyender di tembok bangunan.
"Pengendalian aura senior sungguh luar biasa, aku bahkan tak bisa merasakannya sama sekali," ujar Asta tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana senior tau kami ada disini..?" Tanya Zaraki kebingungan.
"Hei! Aku yang membawa kalian ke kota ini, menjaga keselamatan kalian juga termasuk menjadi tanggung jawabku," jawab Taki, Zaraki pun tertawa canggung mendengarnya.
"Siapa sangka perkembangan kalian berdua sungguh diluar dugaan, kalian benar-benar berkembang pesat hingga sejauh ini," puji Asta.
"Bukankah seharusnya kami yang bilang begitu? Perkembanganmu justru yang paling gila di antara kami, ranah Guru 2 bintang di usia 10 tahun apa-apaan itu. Kau hampir sama gilanya dengan Senior Taki saat muda,"ujar Gao Li.
"Ehh, kenapa aku?" Tanya Taki saat dirinya di jadikan perbandingan.
"Apa benar begitu, Senior?" Tanya Asta.
"Kau pikir siapa dirinya Asta, ia orang yang mendapatkan gelar Kaisar Kecil 11 tahun yang lalu di Turnamen Seni Bela Diri. Ia mengalahkan semua lawannya dengan telak disaat usianya baru 9 tahun, kau pikir siapa dia," jelas Zaraki menceritakan pencapaian Taki Garaki saat dulu.
Asta pun terkejut dan tak menyangka bahwa sosok yang berdiri di depannya adalah sosok jenius yang sebenarnya. Sosok yang banyak diam dan tak banyak melakukan hal yang mencolok merupakan seorang jenius sebenarnya.
"Itu hanya masa lalu dan itu berbeda sekarang, banyak orang-orang yang lebih berbakat daripada ku," ucapnya merendah.
"Senior Taki benar-benar merendah untuk melangit, mana ada orang yang bisa mencapai Ranah Suci di usia 20 tahun, kau terlalu berlebihan ketika merendah," timpal Kesha.
"Tapi aku tak berkata bohong, banyak yang lebih hebat daripadaku di luaran sana, aku serius," ucap Taki lagi.
Kesha dan Zaraki hanya cemberut dan memandangnya sinis, sedangkan Taki terus-menerus meyakinkan mereka berdua soal itu yang membuat Asta dan Gao Li tertawa karenanya.
"Mereka pasti menyesal tak ikut kemari," ucap Taki yang dimaksudkan kepada Moegi dan Shiro.
"Ohh iya, Asta, apa kau tak tahu Moegi secara terang-terangan menyatakan kalau suatu saat nanti ia bertemu denganmu maka saat itu juga ia akan menikahimu,"ujar Zaraki membual sebuah cerita.
"Ehhh..?!!! Kapan ia berkata seperti itu?!" Asta pun terkejut.
"Apa itu benar Zara?" Tanya Gao Li yang juga ikut penasaran.
"Apa-apaan dengan ekspresi wajah kalian, mengapa kalian semua tampak terkejut mendengarnya. Ia mengatakannya terang-terangan padaku dan Shiro, tanyakan saja padanya kalau tidak percaya,"
Mereka pun menyipitkan matanya ragu-ragu dengan ucapannya, Zaraki pun mengalihkan pandangannya menyadari mereka semua menatapnya serius.
"Ehh, kalau begitu lebih baik..."
"Baiklah kalau begitu aku akan menghubungi mereka berdua agar kemari," ucap Taki memotong ucapan Asta.
"Eum, Senior bisakah anda tak usah menghubungi mereka berdua..?" Pinta Asta padanya.
"Aku setuju dengannya lagipula mereka berdua juga masih terlalu muda untuk..."
"Bagus! Kalau begitu cepat hubungi mereka, senior!" ujar Kesha memotong ucapan Zaraki.
Taki pun mengangguk cepat sambil mencoba menghubungi mereka berdua dengan Giok Komunikasi.
"Ada apa, senior?"
"Shiro bisakah kau dan Moegi kemari sekarang, aku akan segera mengirimkan koordinat lokasinya sekarang," Taki pun langsung mengirimkan koordinat lokasinya pada Shiro.
"Ehh! Senior bisakah kau menghubungi mereka lagi dan menyuruh mereka tak usah kemari,"ujar Asta.
Taki pun hanya tersenyum tipis sembari berkata mungkin mereka sudah setengah perjalanan kemari. Asta pun terdiam duduk lesu dengan jawaban itu.
"Kenakan segera topengmu, Asta," suruh Kesha.
Tak lama kemudian mereka berdua pun datang, raut wajah mereka tampak kebingungan melihat Taki yang juga tengah bersama Zaraki dan lainnya juga sosok bertopeng yang sebelumnya juga.
"Siapa sebenarnya dia..?" Tanya Shiro pada Moegi.
"Mengapa kau bertanya padaku lagi, bukankah sudah kubilang bahwa aku tidak tahu," jawab Moegi kesal Shiro bertanya hal itu kepadanya lebih dari beberapa kali.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar tak menyadarinya, aku merasakan aura yang sangat ku kenal tapi aku juga tidak tahu siapa dan dimana aku bertemu dengannya,"ujar Shiro namun Moegi hanya diam memperhatikannya dengan teliti.
"Ada apa disini mengapa Ketua bersama mereka bertiga disini..?" Tanya Shiro.
"Oyy, Gao Li, sebenarnya siapa dia ini apa dia kenalanmu, kalau begitu mengapa ia tidak membuka topengnya apa dia tidak punya sopan santun," teriak Moegi sambil menuding topeng Asta.
Dibalik topengnya Asta hanya bisa tersenyum canggung, ia benar-benar takut jika apa yang Zaraki ucapkan adalah benar.
"Ahh, senior bisakah kita tidak..."
"Jadi siapa yang harus kita tanyakan, orangnya langsung atau lewat Shiro,"ucap Taki memotong ucapan Zaraki.
"Kita tanyakan pada orangnya langsung saja, lagipula orangnya pun sudah ada disini,"timpal Kesha sambil menatap Moegi.
"Ada apa..?" Tanya Moegi padanya.
Dibalik topengnya Asta yang ingin mengucapkan sesuatu pun tak jadi melihat Taki yang terus-menerus memotong ucapan, akan tetapi melihat raut wajah Zaraki yang sedikit ketakutan Asta pun sedikit bernafas lega bahwa setidaknya Zaraki mungkin hanya membual saja.
"Memangnya apa yang ingin senior tanyakan, tanyakan saja kepada kami. Jika kami tahu kami akan menjawabnya sebisa kami," ujar Shiro.
Mendengar ucapan Shiro yang seperti itu Zaraki pun panik tak kepalang dan hendak kabur, namun sebelum itu Gao Li bergegas menjegalnya dan menyegel pergerakannya.
"Gao Li apa yang sedang kau lakukan?! Aku sedang terburu-buru alam sudah memanggilku?!" Teriaknya mencoba melepaskan diri.
"Kau bisa menahannya sebentar lagi, Zara. Kita harus melihat terlebih dahulu apa yang akan terjadi setelah ini jadi jangan pergi dulu,"ujar Gao Li tak melepasnya.
Zaraki pun panik dan semakin berusaha untuk melarikan diri dari tempat tersebut.
"Baiklah, karena kau sudah begitu maka aku akan menanyakannya pada kalian berdua. Benarkah kau pernah berkata pada Shiro dan Zaraki bahwa kau akan menikahi Asta saat kau bertemu lagi dengannya, Moegi...?" Tanya Kesha.
Pipi Moegi pun langsung memerah saat itu juga, terlihat ia tersipu malu ditanyakan hal tersebut secara langsung oleh Kesha. Memang benar ia menyukai Asta dan berpikir ingin menikah dengannya suatu hari nanti, akan tetapi ia tak pernah mengatakan pada mereka berdua tentang hal itu.
Zaraki pun pasrah apa yang akan terjadi kedepannya lagi, hilang sudah kesempatannya untuk melarikan diri.
Asta pun terdiam mematung melihat pipi Moegi yang memerah karena tersipu malu, pikirnya apa yang diucapkan Zaraki benar-benar serius ia pun hendak melarikan diri juga namun Kesha langsung menarik lengannya.
"Mau kemana..?" Ucap Kesha sambil tersenyum menggodanya.
Mendengar suara yang keluar darinya membuat Shiro langsung menyadarinya dan menatapnya terkejut, sedangkan Moegi yang masih tersipu malu dengan pertanyaan Kesha sebelumnya tentu tak menyadarinya.
'Inikah kekuatan Kesha yang sebenarnya?!! Apanya yang terlemah diantara mereka berlima, nyatanya Kesha tak lebih lemah daripada Kenshin!!' gumamnya didalam hati sesaat merasakan genggaman tangan Moegi yang begitu kuat, sampai ia sendiri tak yakin bisa melepasnya dengan mudah.
Shiro adalah orang yang sangat cepat sekali memahami situasi dan kondisi, setelah menyadari bahwa sosok bertopeng itu adalah Asta ia pun cukup paham arti dibalik pertanyaan Kesha dan mengapa Seniornya menghubungi agar bergegas kemari. Melihat Zaraki yang begitu panik Shiro pun menyimpulkan kemungkinan Zaraki membual tentang sesuatu kepada mereka, yang mana pasti berkaitan dengan Asta dan Moegi.
"Siapa yang mengatakannya, Kesha?" Tanya Moegi setelah ia cukup tenang.
Dengan tenang Kesha menunjuk ke arah Zaraki yang saat ini sedang ditahan Gao Li agar tidak melarikan diri. Setelah itu ia pun mendapatkan beberapa pukulan di perut dan kepalanya dari Moegi, Gao Li pun melepaskannya sambil tertawa.
"Sekali lagi kau membual soal ini akan ku patahkan kepunyaanmu it..."
"Haaah, syukurlah kalau begitu," ujar Asta merasa tenang.
Moegi adalah orang yang tak suka jikalau ada yang memotong ucapannya disaat ia tengah berbicara, ia pun langsung berjalan ke arahnya.
Firasatnya mengatakan hal buruk akan menimpanya melihat Moegi yang berjalan kearahnya sambil menatapnya tajam.
'apa dia menyadarinya?' gumam Asta di dalam hati.
"Beraninya kau-!! Memotong ucapanku..!!!" Teriak Moegi melesat cepat memukulkan tinjunya kearah perut Asta.
'sepertinya memang belum'
Booommm...!!!
Dengan santai Asta menahan pukulan tersebut hanya dengan satu tangannya saja membuat semua orang yang ada disana membuka matanya lebar-lebar melihat betapa kuatnya Asta dapat menahan pukulan dengan tenaga penuh Moegi.
Nyatanya tidaklah seperti itu, Asta tetap merasakan tangannya yang mati rasa setelah menerima pukulannya, tanpa Cakar Taring Duri yang ia kenakan Asta sendiri tak yakin bisa menahannya. Namun setidaknya cakar itu menyerap setengah kekuatan dari pukulan Moegi.
"Bagaimana bisa?!!" Gumam Moegi tak percaya.
"Apa kau benar-benar sebegitu bencinya padaku sehingga kau selalu melayangkan tinjumu padaku,"ujar Asta sambil menurunkan kepalan tangan Moegi.
__ADS_1
Moegi berdiri diam mematung ditempat ia merasa seolah-olah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Sepertinya kita harus pergi sekarang," ajak Taki pada mereka berempat, yang kemudian dibalas anggukan setuju dari mereka.
"Jangan lupa untuk menemui kami setelah kau selesai disini, aku akan menunggumu di restoran Bangau Putih, kawan," ujar Shiro berpesan padanya, setelah itu mereka pun pergi meninggalkan Asta bersama dengan Moegi yang masih terdiam mematung di tempatnya berdiri sambil memandangnya.
Asta pun menghela nafasnya pelan," apa kau ingin terus diam seperti ini, kalau tidak ada sesuatu yang ingin kau tanyakan maka aku akan pergi menyusul Shiro dan yang lainnya," ujar Asta.
Namun Moegi hanya terdiam memandanginya tanpa satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
Melihat Moegi yang tak mengatakan apapun hanya diam Asta pun melenggang pergi berniat menyusul Shiro, namun tiba-tiba Moegi menahan tangannya.
"Apa kau benar-benar akan pergi meninggalkanku untuk yang kedua kalinya, kau tahu betapa aku lama menunggumu. Apa kau akan meninggalkanku lagi sama halnya dengan Kenshin," ucapnya pelan.
Asta pun menghela nafasnya panjang,"apa maksud dari ucapanmu itu, selama ini kau hanya ingin membunuh dan membunuhku, mana mungkin aku akan...."
"Dasar bodoh.." belum sempat Asta menyelesaikan ucapannya Moegi seketika langsung memeluknya dengan erat.
"Saat itu aku hanya kesal karena kau mengintipku
bodoh, bukan berarti aku akan benar-benar serius membunuhmu..." Ucapnya sambil terisak-isak.
Asta pun tak tahu harus bersikap bagaimana padanya terlebih ia memang menyukainya, namun setelah Moegi berubah menjadi selalu ingin menghajarnya Asta pun kebingungan dengan sikapnya saat ini.
Ia pun membiarkan Moegi menangis sepuasnya menumpahkan segala sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Bisakah kau membukanya, wajahmu lebih baik ketimbang topeng itu," ujar Moegi memintanya melepas topeng yang dikenakannya.
Selama beberapa saat Moegi terus menangis sambil memeluknya dengan erat setelah sedikit tenang Moegi pun melepaskan pelukannya sembari menghapus semua air matanya.
Tak mengira Asta bisa melihat sisi cengeng Moegi yang sudah lama hilang semenjak ia mengintipnya dan membuatnya berubah menjadi gadis yang sangat mudah marah jika sedikit saja di singgung.
Setelah cukup tenang Moegi pun bertanya-tanya padanya kemana dan melakukan apa saja selama ini sehingga membuatnya menjadi sosok yang cukup kuat menahan pukulannya sekarang.
Asta pun menceritakan seluruh perjalanannya kembali ke Moegi, tanpa sedikitpun yang ia tutup-tutupi. Asta percaya Moegi bukanlah orang yang akan membocorkan rahasianya pada orang lain.
Asta menceritakan tentang proses latihannya di Lembah Neraka bersama gurunya, pertemuannya dengan Zaru yang merupakan sosok legenda, penyergapan di perkemahan Goblin, juga tentang bergabungnya ia dengan Asosiasi Fajar Merah Manager Roh dan seluruh kegiatannya di Kota Tiandu yang kini membuatnya harus menutupi wajahnya dengan topeng.
Moegi pun tertawa pelan disetiap kali ia menceritakan tentang hal konyol yang ia lakukan ataupun yang gurunya lakukan. Semua kegiatannya ternyata jauh dari apa yang ia bayangkan.
"Apa kau sudah puas tertawanya..?" Ucap Asta kesal melihatnya masih saja tertawa sekalipun ia telah selesai menceritakannya.
"Kupikir yang kau lalui setiap hari hanya latihan dan siksaan keras, ternyata bukan ya, hahaha," ucapnya lalu tertawa.
"Apanya yang bukan latihan dan siksaan keras, semuanya benar-benar siksaan bagiku. Guru sangat tidak manusiawi dan selalu mempermalukanku, suatu hari nanti aku pasti akan balas memukul pantatnya balik," ujar Asta membuat Moegi kembali tertawa.
"Lalu semenjak kapan kau tiba di sini?" Tanya Moegi.
"Aku dan Manager tiba tepatnya 3 hari yang lalu di sini," jawab Asta.
Asta pun melanjutkan ceritanya tentang kegiatan selama Ibukota ini dimana ia juga menceritakan pertemuannya dengan Kenshin.
Moegi membuka matanya lebar-lebar saat Asta mulai menceritakan tentang Kenshin yang juga datang berpartisipasi di Turnamen Seni Bela Diri esok hari.
Moegi mendengarkan ceritanya dengan seksama terlebih ketika Asta menceritakan tentang latih tandingnya dengan Kenshin yang ketiga kalinya dimana ia memenangkannya latih tanding hari itu. Kini ia sudah menang dua kali dari Kenshin.
Moegi kembali tertawa lagi saat mendengar bagian cerita dimana Asta menceritakan latihannya bersama gurunya saat meningkatkan kekuatan jiwanya, dimana ia disuruh duduk diam dan konsentrasi sedangkan gurunya terus-menerus menyabetkan rotan kepadanya.
Dilanjutkan dengan latihannya menggunakan Pedang Iblis Malam sedangkan Gurunya hanya menggunakan pedang kayu. Moegi pun terus tertawa mendengarkan ceritanya.
****
Tak terasa novel ini sudah berjalan **selama 3 bulan, makasih ya buat yang selalu nunggu dan baca ceritaku.
Aku, San, ingin berterimakasih sebesar-besarnya kepada para reader terkasih yang sudah mengikuti cerita 'Menapaki Jalan Takdir Surgawi' sejauh ini.
Sampai jumpa di lain kesempatan dan selalu ingat untuk tetap jaga kesehatan, jaga pola makan kurangin begadang. ingat, ada waktu esok hari untuk baca cerita di Mangatoon lagi😂
Warning!
"Tinggalkan apapun kecuali kenangan**!"
__ADS_1