Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch79 Padang Rumput Berbunga


__ADS_3

Flares yang sedang tertidur pulas didalam cincin sampai tersentak kaget ketika Asta tiba-tiba berteriak marah.


“Asta! Hei, Asta! Tenanglah! Jelaskan pada guru apa yang terjadi..?!” Flares mencoba menyadarkannya. Ia tak mengerti mengapa Asta memeluk seorang goblin sambil menangis.


“Guru! Apa yang sebenarnya terjadi..?!” teriak Lira khawatir.


Lira khawatir dengan kondisi gurunya yang tiba-tiba seperti ini. Asta tak berhenti berteriak bahkan setelah mereka datang. Lira menggoyang-goyangkan tubuhnya mencoba berbicara dengannya. Yang mengherankan mereka adalah hal yang sama, mengapa Asta menangis sambil memeluk tubuh goblin?


Flares menepuk kedua telinganya dengan keras, Asta pun terdiam sejenak ketika merasakan telinganya tiba-tiba berdengung.


“Apa yang kamu lakukan?! Sadarlah!” ucap Flares.


Asta terdiam sambil memperhatikan mereka sejenak lalu kemudian saja ia tiba-tiba tertawa.


“Kenapa kalian menatapku dengan tatapan seperti itu?” ujarnya heran.


Lira dan yang lainnya melongo keheranan ketika ia yang malah bertanya balik seperti itu.


“Apa yang guru lakukan bukankah ia goblin?” tanya Lira menunjuk Jiu Gal yang masih dipeluknya.


Asta melirik ke arah Jiu Gal lalu ke arah mereka lagi,“ceritanya panjang untuk dijelaskan sekarang,” jelas Asta lalu meminta mereka membantunya mengumpulkan kayu untuk mengkremasi mayat mereka.


“Jelaskan pada guru apa yang terjadi selama guru tidur,” ujar Flares memintanya untuk menjelaskan tentang sebelumya.


“Mereka tidak seharusnya mati,” ucapnya.


Flares langsung mengerti apa yang ia pikirkan,“mengapa kau baru sekarang mengatakan hal ini? Sebelum-sebelumnya kau bahkan tidak merasa menyesal sama sekali,” ujar Flares.


“Sebelumnya berbeda dan mereka juga pantas mati. Tapi Jiu Gal dan para bawahannya adalah orang yang baik, mereka hanya korban era kekacauan ini. Mereka bahkan tak menyentuh sedikitpun manusia dan barang-barangnya. Jiu Gal mendirikan sebuah perkemahan disini bukan untuk mengacau, ia hanya menjalankan perintah Tian Wei supaya anak-anaknya bisa hidup dengan damai. Tapi kemudian,,” Asta tak bisa menyelesaikan ucapannya.


Hatinya masih terasa sakit mengingat kejadian sebelumnya, kejadian itu masih membekas di ingatannya.


“Guru paham maksudmu. Ia pasti penganut perdamaian dunia bukan? Dia pasti bercerita tentang kehidupan dimana semua ras hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera,”


“Bagaimana guru bisa tahu?” tanya Asta heran.


Flares tersenyum tipis,“guru sudah hidup lebih lama darimu, tentu guru tau,” ujarnya.


Proses kremasi pun dilakukan. Asap yang dihasilkan oleh proses kremasi tersebut membumbung tinggi ke langit.


“Suatu hari nanti aku pasti akan kembali dan membawa kepalanya kemari, Jiu Gal,” gumam Asta dalam hati.


“Sebelum kalian bertiga pulang ke Kota Permata Biru aku akan menceritakan sesuatu yang terjadi sebelumnya, dengar baik-baik,”


Lira dan mereka bertiga mendengarkannya dengan sangat diam dan akhirnya mereka pun tahu kenapa ia tiba-tiba berteriak. Mereka tak menduga ada hal seperti itu dan bahkan Lira sendiri tak percaya akan tetapi Asta juga tak bisa memaksa untuk percaya. Ia hanya menceritakan apa yang mereka ingin tahu sebelumnya.


Dengan demikian akhirnya perjalanan Xiao Jun, Fen Shan dan Chen Yan bersama dengan Asta sudah selesai. Asta memberi mereka cincin penyimpanan yang berisikan setengah hasil rampasan yang mereka dapatkan pada mereka.


“Senior bukankah ini terlalu banyak?!” ujar Xiao Jun setelah melihat isi cincin tersebut.


“Kalau kalian merasa itu terlalu banyak maka berbagilah dengan orang-orang di kota juga jangan lupa, sampaikan salam ku kepada semuanya,” ujar Asta.


“Senior, setelah ini kau ingin pergi kemana..?” tanya Chen Yan penasaran.


Asta terlihat berpikir sejenak untuk menjawab,“ada beberapa hal yang harus ku selesaikan di Lembah Negeri Batu ini jadi aku akan melanjutkan perjalananku mengunjungi suatu tempat yang sedari awal adalah tujuanku,” ujar Asta.


Mereka bertiga saling memandang satu sama lain,“memangnya tempat apa itu? Mungkin kami bisa memberitahu senior jalan tercepat ke sana,” ujar Xiao Jun.

__ADS_1


Asta memegang dagunya,“nama tempatnya adalah Pegunungan Dwarf. Kudengar di pegunungan itu terdapat bangsa Dwarf yang merupakan bangsa penempa,” ujar Asta.


Xiao Jun terlihat terkejut mendengarnya begitupun yang lainnya,“ternyata Pegunungan Dwarf. Pegunungan itu berada didalam perlindungan sekte kami bahkan karena perjanjian antara Tetua Leluhur Sekte saat ini dengan Tetua bangsa Dwarf orang lain tidak boleh memasuki daerah itu tanpa seizin Ketua Sekte kami ataupun tanpa undangan dari Tetua bangsa Dwarf itu,” jelas Fen Shan.


“Apa senior punya sebuah kartu undangan dari mereka? Kalau senior tidak punya senior bisa pergi ke sekte kami lebih dulu. Kami bisa membantu senior juga dengan identitas senior ketua sekte pastinya akan mengijinkan senior untuk masuk ke sana,” tanya Xiao Jun.


“Aku tak punya undangannya tapi mungkin aku akan meminta bantuan pada ketua sekte kalian. Kalian tidak perlu membantuku untuk itu, kalian kembalilah menjaga Kota Permata Biru,” ujar Asta.


Mereka pun mengangguk mengerti,“baiklah aku harap senior baik-baik saja selama perjalanan. Kami pergi,” ucap mereka lalu pergi kembali ke Kota Permata Biru.


Asta memandangi wajah Lira lalu kembali memandangi punggung mereka yang sudah menjauh,“kenapa kau masih disini? Apa kau tak ingin kembali?” tanya Asta.


Lira langsung memasang wajah cemberut dan mencubit perutnya,“coba guru katakan sekali lagi! Aku tak mendengarnya barusan,” Lira menatapnya tajam.


“Aahh..iya! Iya! Guru salah! Guru salah, oke,”


Lira pun melepaskan cubitannya sembari mendengus kesal,“dasar lelaki. Perkataan mereka memang gak bisa dipercaya sama sekali,” ucapnya melenggang pergi.


Asta dan Flares terdiam tak bisa berkata-kata dengan ucapannya yang langsung menusuk hati mereka. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke Pegunungan Dwarf.


Matahari semakin turun dan tak terlihat lagi, mereka memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu.


“Apa kau sudah siap..?” tanya Flares.


“Tentu,”


Asta sedang bersiap melakukan Pemurnian Ranah Dewata, pertarungan sebelumnya membuat pemurnian rohnya berjalan dengan sangat cepat sehingga ia akhirnya bisa mencoba untuk menerobos ke Ranah Dewata Agung.


“Ingat ucapan guru! Jangan biarkan iblis hatimu mengambil alih kesadaranmu!” pesan Flares yang kemudian dibalas anggukan kepala olehnya.


Dalam pemurnian Ranah Dewata ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan pemurnian ranah biasanya yang hanya harus menahan sakit. Ketika melakukan permunian kultivator sendiri akan masuk ke Lautan Jiwanya untuk menghadapi sang Iblis Hati.


Selama sang Kultivator tak bisa mengalahkan iblis hatinya maka ia takkan pernah bisa naik ke ranah Dewata. Jadi bukan hanya kesiapan fisik dan level roh yang cukup juga membutuhkan kekuatan mental yang kuat untuk melakukan penerobosan ranah Dewata.


“Apa guru akan melakukan penerobosan?” tanya Lira yang baru saja datang selesai mandi.


Flares menganggukan kepalanya,“ambil Kitab Peremuk Jiwa ini dan berlatihlah bersama dengan Ace dan Zaru,” ujar Flares.


Lira mengambil Kitab Surgawi lalu membuka halaman pertamanya di mana terdapat tekhnik kultivasi yang sama dengan yang ia pelajari dengan Flares.


“Tekhnik Kultivasimu memang Kultivasi Pembentukan Jiwa yang tertera di halaman pertama kitab tersebut. Didalamnya terdapat beberapa tekhnik bertarung yang kuat juga tekhnik area domain yang sangat kuat,” jelas Flares.


Pandangan Lira masih belum teralihkan menatap halaman buku tersebut. Flares teringat sesuatu.


“Aku tak tahu mengapa roh dewa penghancur sejati terlahir padamu, asal kau tahu yang menulis kitab tersebut adalah leluhurmu. Orang yang terlahir dengan esensi roh yang sama denganmu, meskipun kau bukan keturunannya langsung,” ucap Flares.


Setelah selesai mendengarkannya Lira pun pergi menemui Ace dan Zaru yang sedang berlatih tanding tak jauh dari tempat mereka berada.


Lira meminta kepada mereka seperti yang Flares ajarkan dan akhirnya mereka pun mengangguk setuju untuk menjadi pelatihnya saat ini.


-----


Asta memasuki lautan jiwanya yang ternyata tak nampak seperti apa yang dipikirkannya. Lautan jiwanya lebih mirip dengan sabana dengan bunga-bunga yang terawat dan juga beberapa pohon rindang.


“Inikah lautan jiwaku?” gumamnya pelan.


Asta terus berjalan menyusuri lautan jiwanya untuk mencari iblis hatinya yang mungkin sedang bersembunyi di suatu tempat di sana.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama ia berjalan dan terus mencari, rasanya ia sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan namun ia masih belum menemukan iblis hatinya dimana pun. Anehnya ia tak merasakan kelelahan sama sekali.


Asta tak mau perjuangannya berujung sia-sia dan tak membawa hasil, jadi ia mencoba berteriak dengan keras untuk menantangnya. Alhasil caranya tetap gagal, yang ada suara teriakan bergema ditelinganya sendiri.


“Apa yang terjadi sebenarnya dan dimana iblis hatiku tinggal,” Asta bertanya-tanya mengapa ia sampai sekarangpun belum menemukannya.


Satu tahun, dua tahun, hingga sepuluh tahun kemudian Asta belum juga menemukannya. Ia ingin berpikir bahwa mungkin ia tak mempunyai iblis hati sama sekali, tapi kejadian lima tahun yang lalu saat iblis hatinya berbicara langsung kepadanya membuatnya sulit tuk berpikir ia tak mempunyai iblis hati.


Tiba-tiba Asta teringat dengan gurunya, Ace dan Zaru, Lira, Ayah dan Ibunya. Ia bertanya-tanya apakah mereka baik-baik saja dalam hatinya, terlebih Lira ia cukup khawatir dengan keselamatannya. Namun entah mengapa yang paling ia khawatirkan dan paling ingin dia temui saat ini adalah Asila Moegi. Hatinya gelisah saat memikirkannya saat ini.


“Paman! Dimana kau bersembunyi sebenarnya! Cepatlah keluar! Aku harus pergi dari sini secepat mungkin!” teriak Asta memanggilnya namun tak ada sahutan sekalipun.


Asta pun mengeluarkan api pemakan cahaya ditangannya,“karena kau tak mau keluar maka biarkan aku yang akan memaksamu keluar..!!” teriaknya lagi sambil mengarahkan apinya pada pohon di sampingnya.


Seseorang dengan parah wajah tampan dan amat sangat mirip dengan Flares muncul menghentikan aksinya.


“Hei, Nak! Membakar hutan bukanlah aktivitas yang baik,” ujarnya


“Guru Flares..?” ucapnya pelan.


Ia tampak kesal ketika Asta memanggilnya dengan sebutan itu,“bukankah sudah kubilang, aku ini leluhurmu. Jangan memanggilku dengan nama bocah nakal itu,” ujarnya sambil menunjuk ke atas.


Asta ikut melihat keatas akan tetapi ia tak menemukan apa-apa selain langit berawan diatasnya.


Asta tersentak mengingat sesuatu dan langsung memukulnya, namun pria itu tersenyum menerima pukulan tersebut.


“Kau terlalu lemah. Pukulanmu ini bahkan tak menyakitiku nak,” ujarnya.


Pria itu mengepalkan tangannya lalu memukulkannya pelan, tapi nyatanya Asta merasa seperti di hantam batu yang sangat cepat dan kuat. Asta terlempar hingga ribuan meter jauhnya.


Asta merasakan sensasi sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya, akan tetapi tak ada darah setetes pun yang keluar dari mulutnya. Ia merasa heran dengan hal itu.


“Apa kau lupa? Ini adalah lautan jiwamu, kau tak akan berdarah disini karena yang terluka adalah jiwamu bukan fisikmu,” pria itu tiba-tiba muncul di sampingnya dan menendangnya hingga terhempas jauh lagi.


Benar seperti yang dikatakannya, kulitnya bahkan tak lecet sedikitpun setelah dihempaskan dan jatuh lagi seperti itu sebanyak dua kali. Pria itu kembali lagi disampingnya dan membantunya untuk berdiri.


“Sudah ku katakan meskipun aku ini iblis hatimu tapi disisi lain aku juga seniormu. Aku berharap kau takkan berakhir menyedihkan sepertiku suatu hari nanti, jadi pukul aku dengan keras lalu pergilah keluar dan jadilah lebih kuat,” ujarnya membiarkan dirinya sendiri untuk dipukul.


“Mustahil aku bisa mengalahkanmu dengan satu pukulan. Kau pasti sedang berusaha mengelabuhiku dan berpikir untuk mengambil alih tubuhku, bukan?” ujar Asta.


Pria itu menghela nafasnya jengah,“lalu mau sampai kapan kau di sini? Melawan ku hanya akan membuatmu mati karena tak bergerak. Aku ini seperti pengecualian untukmu, iblis hati adalah sesuatu yang terlahir dari sifat-sifat sang kultivator itu sendiri. Mereka mempunyai pemahaman juga pengalaman yang sama dengan sang kultivator, tak lebih tak kurang. Sedangkan aku adalah sebuah roh reinkarnasi, Takdir Surgawi mengaturku untuk menjadi sebuah iblis hati keturunan ku dengan pencapaian yang kubawa selama hidup. Bukan pencapaianmu” jelasnya.


Asta tak mengerti maksud dari yang dibicarakannya, ia hanya tau bahwa ia harus membunuhnya untuk bisa keluar dari sana dan menembus ranah Dewata Agung.


“Sebelum itu kau juga pasti belum mengetahui namaku secara pasti bukan? Namaku Liu Shan Shi, tapi kemudian sahabatku dari Negeri Seberang Lautan memanggilku dengan sebutan Atalist,” jelasnya memperkenalkan diri.


“Sudah ku bilang pukul aku dengan keras sekarang kalau kau ingin kembali dan menjadi seorang kultivator Dewata. Aku memang takkan mati, tapi bukan berarti aku mengambil kesadaranmu. Aku hanya akan melihatmu menyatukan benua ini sama seperti yang ku lakukan dulu,” lanjutnya.


Asta terdiam tak percaya mendengar semua itu dari mulutnya, Liu Shan Shi? Atalist? Negeri Seberang Lautan? Apa-apaan itu. Ia sama sekali tak percaya dengan hal itu.


“Entah kau percaya atau tidak, murid nakalku Flares pasti akan langsung diam mendengar namaku. Sebutkan saja Liu Shan Shi padanya dan dia akan diam tak berkata-kata. Meskipun ia adalah murid yang nakal tapi ia adalah kebanggaan ku, tapi sayangnya aku tak bisa melihatnya tumbuh besar,” ujarnya.


“Apa kau berani bersumpah takkan mengambil kesadaranku dengan Takdir Surgawi?” tanya Asta memastikan.


“Takdir Surgawi adalah segalanya. Baiklah aku bersumpah dengan Takdir Surgawi sebagai saksinya bahwa aku tak akan mengambil kesadaranmu,” ucapnya setuju.


Tanpa menunggu lama lagi Asta langsung memukulnya dengan keras, bentukan tubuhnya langsung memudar di udara. Ia terlihat tersenyum sebelum benar-benar menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Sesaat kemudian pandangan Asta pun menjadi gelap gulita dan ia keluar dari lautan jiwanya. Cahaya kembali memasuki kelopak matanya.


“Sudah berapa lama ini berlalu. Ukhh.. sial! Tubuhku bau sekali! Inikah yang dinamakan kotoran tubuh?”


__ADS_2