Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch58 Kera Emas VS Pedang Ilusi


__ADS_3

Di hari ketiga arena Turnamen Seni Bela Diri terlihat lebih meriah daripada hari-hari sebelumnya. Hal itu dikarenakan hari ini adalah pertandingan fase ke enam yang merupakan fase 8 besar.


Han mengeluarkan Susunan Es Pembeku di awal pertandingan sekaligus mengaktifkan esensi Permata Es Birunya membuat suasana arena menjadi sangat dingin.


"Kau cukup hebat bisa bertahan di bawah tekanan Susunan Es Pembeku hanya dengan aura. Sepertinya aku terlalu meremehkanmu,"


"Saudara Han terlalu memandang tinggi diriku,"


Han Bin memulai serangan tebasan pertama. Serangan itu cukup kuat karena pada dasarnya susunan tersebut menguatkan serangan Han Bin.


Asta memutarkan Langit Kelam dengan satu tangannya, cukup untuk menahan tebasan pedang dingin tersebut. Benturan keras pedang terdengar menyelimuti arena, pertarungan menjadi begitu sengit seiring berjalannya waktu.


"Seni Surgawi Ajaib, Ledakkan Pulau Es,"


Han melepaskan satu serangan kuat. Ledakkan yang di hasilkan oleh tebasan pedang dinginnya tersebut menciptakan sebuah jalur es hingga membuatnya terdorong beberapa langkah.


"Seni Surgawi Epik, Tebasan Dewata,"


Membalas serangan tersebut Asta mengeluarkan Tebasan Dewata untuk menghancurkan jalur es tersebut, namun sayangnya jurusnya terlalu lemah dan tingkatannya pun berbeda dengan Ledakkan Pulau Es milik Han Bin.


Asta pun terlempar ke belakang buru-buru ia menancapkan pedangnya ke arena sebelum ia terjatuh ke luar arena.


'Serangannya sangat kuat! Aura haus darah pedang Langit Kelam ku tidak cukup untuk menghancurkan susunan ini. Aku harus serius jika ingin menang'


Asta menancapkan pedangnya di atas arena. Sembari memejamkan matanya ia mengatur nafas dan spiritnya dengan tenang.


Han Bin tak melewatkan kesempatan itu. Ia maju memberikan serangan sekali lagi padanya. Hanya berjarak beberapa inci pedang Han darinya tiba-tiba Asta membuka matanya, seketika susunan tersebut hancur dan Han Bin terhempas ke belakang.


Satu tatapan itu menghancurkan semua konsentrasinya. Asta hanya menatapnya tajam namun seketika jiwanya terluka, Han Bin terhuyung dan memuntahkan darah.


'Apa yang terjadi?!!'


Tangannya gemetaran hebat, pedangnya terjatuh ke lantai arena. Seketika itu ia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


Para penonton bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya dan mengapa tiba-tiba Han Bin tergeletak tak sadarkan diri.


Yang Asta lakukan sebenarnya hanya menekannya dengan Esensi Rohnya, tak ia sangka efeknya akan sekuat itu hingga membuatnya tak sadarkan diri. Wajar saja efeknya sekuat itu, karena Asta sendiri menggabungkan dua tekhnik aura tingkat Dewa Api Kegelapan dan Dewa Penghancur yang di gabungkan dengan kekuatan esensi rohnya yang merupakan Roh Sejati.


Asta pun turun dari arena sembari menggendong Han Bin yang tergeletak di tanah. Merasa bersalah ia memasukan pil penyembuh buatannya ke dalam mulutnya.


Tekhnik aura adalah pemahaman dasar untuk menciptakan domain. Meskipun tekhnik aura tak melukai fisik, namun langsung menyerang jiwa lawan. Jika kekuatan jiwa lawan lebih lemah maka ia akan langsung terkena serangan telak seperti yang terjadi pada Han Bin.


Pada dasarnya kekuatan jiwa Han Bin juga cukup kuat karena selain kultivator bela diri ia juga Master Susunan. Namun ia sendiri terjatuh dengan satu serangan telak dari serangan tersebut, memperlihatkan betapa kuatnya kekuatan jiwa Asta.


Selanjutnya ada Kenshin melawan Wen Han si Kera Emas. Dengan semangatnya Wen melompat ke atas arena menyusul Kenshin.


"Salam kenal saudara Ken,"


"Salam kenal juga," jawabnya ringan.


Pertandingan kedua pun dimulai dengan Kenshin yang menerjang dengan tekhnik pedangnya. Tebasannya tanpa ampun dan menakutkan, Wen hanya bisa memutar tongkatnya untuk mengikuti gerakan Kenshin yang sangat lincah tersebut.


Wen terdorong ke belakang ia kemudian segera mengaktifkan esensi rohnya lalu melompat ke arahnya bergantian menyerang.


Gerakan Kenshin yang sangat cepat membuatnya sulit untuk diserang, akan tetapi insting Wen setelah berubah menjadi Kera Emas ia bisa sedikit memberikan serangan pada Kenshin.


Kenshin melompat mundur sedikit, bersiap dengan kuda-kuda lalu menghilang dari pandangan mata.


"Ilmu Pedang Tak Berwujud, Tebasan Pertama"


Serentetan tebasan pedang yang tajam muncul dari lintasan Kenshin. Dari serangan itu Wen mendapatkan beberapa luka tebas. Di sisi yang lain Kenshin pun sedang bersiap-siap untuk memberikan serangan lagi.


"Ilmu Pedang Tak Berwujud, Tebasan Kedua"


Serangkaian tebasan pedang mengarah dengan cepat pada Wen Han. Wen mencoba menutup matanya untuk konsentrasi, putaran tongkatnya berhasil menepis serangan tersebut.


"Transformasi Pertama, Monyet Gila"

__ADS_1


Seketika Wen mengeluarkan aura mengamuk kemerah-merahan dari tubuhnya. Matanya terlihat merah seperti darah, dalam seketika ia menghilang dari pandangan Kenshin.


Belum bereaksi dengan perubahannya tiba-tiba ia mendapatkan serangan dari belakang. Kenshin tersungkur ke lantai. Serangan tersebut sangat kuat sekali sehingga Kenshin yakin jika bukan karena raga nya yang kokoh pasti saat ini serangan tersebut sudah membuatnya tak sadarkan diri.


Kenshin bergegas bangkit kembali, ia sedikit terkejut dengan serangan dan kecepatan Wen Han yang meningkat berkali-kali lipat.


Para penonton berbisik-bisik membicarakan tentang perubahan aura milik Wen Han, yang mana merupakan transformasi dari Kera Gila.


'Kecepatannya sangat gila! Serangan-serangannya menjadi lebih kuat karena amukan dari Kera Gila, serangannya tadi setara dengan seorang Guru 3 Bintang. Aku harus serius!'


Wen kembali menyerang dengan gila. Kecepatannya meningkat daripada sebelumnya. Kesulitan menghadapi serangan-serangan tersebut Kenshin tak mempunyai kesempatan untuk menyerang balik.


Sambil tertawa cekikikan Wen Han memainkan tongkatnya dengan lincah, ditambah dengan gerakan gesitnya ia menekan gerakan Kenshin.


Kenshin melompat ke atas untuk menyelamatkan diri, namun tak disangkanya tongkat emas milik Wen ternyata mampu memanjang dan mengenainya.


Kenshin terjatuh ke arena entah sudah berapa banyak pukulan yang ia terima dari tongkat tersebut. Yang pasti ia menerima luka lebih banyak ketimbang Wen Han.


Berpikir bisa mengakhiri pertandingan tersebut Wen Han memberikan serangan terakhirnya.


"Tekhnik Roh, Ketiadaan"


"Apa...?!"


Alangkah terkejutnya Wen saat mengetahui yang di depannya itu hanyalah bayangan. Ia memutar tongkatnya ke belakang, namun tak ada apa-apa di sana. Raut wajahnya menjadi waspada, ia tak bisa melihat Kenshin di mana-mana.


Seketika dari sampingnya Kenshin muncul dari udara, namun hanya tubuh bagian atasnya saja.


Merasakan bahaya buru-buru Wen memutar tongkatnya, Kenshin pun kembali menyatu dengan udara.


"Ilmu Pedang Tak Berwujud, Tebasan Keempat"


Seketika dalam radius beberapa meter darinya muncul serangan tebasan pedang yang entah berasal dari mana. Serangan-serangan itu masih bisa Wen Han tangani dengan tongkatnya, akan tetapi nafasnya perlahan mulai terengah-engah. Efek samping dari penggunaan transformasinya sudah mulai terlihat.


"Ilmu Pedang Tak Berwujud, Tebasan Ketiga"


Terdengar bunyi pedang yang dimasukan ke dalam sarungnya. Kemudian terlihat Kenshin yang tiba-tiba muncul entah dari mana di atas arena sambil berjalan menuju ke tangga turun.


"Slashh..!!!"


Wen Han terjatuh ke lantai dengan luka tebasan di punggungnya sesaat sebelum Kenshin menginjakan kakinya di tangga.


"Seandainya... Penguasaan.. Dasarku... Sempurna.. Mungkin...." Wen pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


Pertandingan berakhir dengan kemenangan Kenshin. Setelah Wen Han terbaring tak sadarkan diri. Para penonton mulai bersorak kepadanya, pertarungan yang tadinya terlihat Wen Han yang akan memenangkan pertarungan ternyata malah berakhir dengan kekalahannya dibawah pedang Kenshin.


Topeng wajah burung hantu serta tekhnik pedangnya sangat menarik perhatian para penonton, sehingga mereka pun memberinya julukan sebagai Pedang Ilusi.


Kenshin berjalan ke arah Asta, terlihat santai seperti tidak ada apa-apa.


"Ken bukankah tadi agak..... Ada apa?!"


"Sebagian tulang punggungku retak. Jangan banyak bertanya lebih dahulu, bantu aku ke ruang istirahat," ucap Kenshin pelan dengan nada lirih. Jelas sekali ia sedang menahan rasa sakit.


Asta terkejut sesaat Kenshin hampir saja ambruk di depannya, dengan segera ia pun membantunya berjalan ke ruang istirahat.


Hao Chen yang melihat mereka berdua pergi ke arah ruang istirahat sedikitnya paham apa yang terjadi pada Kenshin.


"Sepertinya ia mengalami luka dalam. Jika pun itu aku sudah pasti akan mengalami hal yang serupa. Ia membayar harga yang tinggi untuk kemenangannya kali ini," gumam Hao Chen pelan.


"Saudara Hao apa yang kau perhatikan...?" Tanya Yan Jian sembari mengerutkan keningnya heran.


"Tidak ada. Aku hanya melihat sekitaran saja,"


Pertandingan pun segera dimulai, Yan Jian pun mengangkat senjatanya. Itu terlihat seperti pedang duri dan lagi itu bisa memanjangkan diri. Disisi lain Hao Chen tidak terlihat mengeluarkan Teratai Biru Surgawi, berdiri dengan tenang di atas lantai arena.


"Saudara Hao mana Teratai Biru milikmu, kenapa kau tak mengeluarkannya," ujar Yan Jian.

__ADS_1


"Kali ini aku ingin bertarung dengan serius, jadi aku juga akan menggunakan senjataku,"


Asta yang sedang membawa Kenshin ke ruangan istirahat seketika terhenti mematung sejenak merasakan aura pedang yang sangat ia kenali.


"Asta apa kau menyadarinya," ujar Flares.


Untungnya Kenshin sudah tak sadarkan diri, ia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat duduk tak lupa ia juga memberinya pil penyembuh yang sebelumnya Kenshin berikan sebelum ia tak sadarkan diri.


"Guru.... Bukankah Iblis Malam ada di dalam cincin mengapa auranya menyebar keluar seperti ini. Langit Kelam juga berada di dalam cincin kan, guru," ucap Asta kebingungan.


"Meski demikian tetapi ini bukanlah aura pedang Iblis Malam ataupun Langit Kelam jika kau rasakan baik-baik. Ini adalah pedang yang lain,"


"Hao Chen...?!!!" Asta pun bergegas lari menuju ke arena untuk melihat apa yang terjadi.


Namun sesampainya di sana pertarungannya sudah berakhir dan Hao Chen pun menyarungkan pedang tersebut menarik semua auranya sehingga benar-benar kembali seperti semula.


'Pedang yang digunakannya pasti setara dengan Pedang Iblis Malam yang mana merupakan sebuah Artefak Roh Dewata,'


Para penonton juga terkesima melihat aura pedang yang Hao Chen perlihatkan sangat menakutkan ditambah lagi mereka semua yakin itu merupakan salah satu Artefak Roh Dewata.


Hanya senjata yang telah membunuh banyak nyawa yang bisa mengeluarkan aura seperti itu. Meskipun sebelumnya pedang yang Asta gunakan juga memiliki aura haus darah yang sama akan tetapi itu masih di batas wajar. Berbeda dengan yang Hao Chen gunakan.


Melihat pedang tersebut para Ketua Keluarga Besar dan 7 Sekte Besar hendak turun ke atas arena menangkapnya. Aura haus darah yang bisa mengguncangkan jiwa seorang Kultivator Dewata bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh orang biasa.


Hanya pedang yang telah membunuh jutaan makhluk lah yang bisa memiliki aura seperti itu. Berpikir bahwa Hao Chen memilikinya mereka yakin ia adalah mata-mata sekaligus petinggi dari Ras Demon. Mustahil bagi seorang kultivator manusia mempunyai pedang pusaka yang sangat berbahaya seperti itu.


Sebelum mereka bertindak masuk ke arena, Manager Row serta Kaisar Arkhan mengeluarkan semangat bertarungnya secara bersamaan mencegah keributan yang akan mereka buat.


"Siapa pun yang merasa dirinya hebat dan ingin unjuk kekuatan silahkan turun ke arena," ucap Manager pelan namun terdengar jelas di seluruh arena.


"Siapapun yang menyentuhnya, keponakanku. Maka sama saja dengan menentangku," ucap Kaisar Arkhan ikut bersuara.


Semuanya tercengang, mendengar ucapan tersebut keluar secara langsung dari mulut sang Kaisar Arkhan. Pantas saja Manager Row juga ikut turun tangan dalam hal itu.


Keributan pun reda setelah Kaisar mengumumkan bahwa Hao Chen adalah keponakannya, ditambah juga Manager Row yang melindunginya. Kecurigaan pun menghilang dan suasana pertandingan menjadi kembali terkendali.


"Sejak kapan mereka menjadi pamanku...? Mereka bahkan tak peduli pada bagaimana semua itu telah terjadi," gumam Hao Chen sembari memperhatikan mereka berdua yang tengah melindunginya.


Hao Chen pun turun dari arena mengabaikan semua itu,"terima kasih," ucapnya singkat.


"Ada apa dengannya kenapa sikapnya menjadi seperti itu," gumam Asta pelan mempertanyakan perubahan sikap yang Hao Chen perlihatkan pada kedua orang yang memiliki posisi tinggi itu.


"Mungkin ada suatu kejadian yang membuatnya bersikap seperti itu pada Manager dan Kaisar. Sepertinya ada kesalahpahaman antara ia dengan mereka. Sepertinya Paman Hao juga belum memberitahunya tentang asal-usulnya yang jelas kepadanya,"


Asta pun berjalan mendekat ke arahnya dan bertanya apa yang terjadi. Hao Chen pun menjawabnya pelan bahwa tak ada apa-apa, ia hanya mengalahkan musuhnya seperti yang Asta lakukan. Setelah itu ia pun pamit padanya untuk pergi ke ruang istirahat rehat sejenak.


Pertandingan pun di lanjutkan, selanjutnya yang akan bertarung di pertarungan terakhir adalah Tang San melawan Cang Hue.


"Saudara Cang adalah lawan yang hebat! Sepertinya aku bisa bermain denganmu!"


"Saudara Tang terlalu memuji. Kulihat kemampuanmu juga menakjubkan jadi aku akan serius kali ini,"


Tang San mengangkat Palu Pemecah Angin miliknya lalu menghantamkannya ke lantai arena. Arena pun hancur karena serangannya.


Cang Hue melompat di udara ia memberikan serangan tapaknya. Dengan tangkas Tang San menepis serangan tersebut dengan santainya.


"Pantas saja serangan tapak saudara Cang sangat kuat. Ternyata karena Esensi Roh saudara Cang adalah Tangan Bintang,"


"Wawasanmu sungguh luas saudara Tang. Tapi maaf aku akan tetap mengalahkanmu,"


"Kalau begitu mari kita coba buktikan. Palu Pemecah Angin ku, ataupun Tangan Bintang mu yang lebih kuat,"


Tang San melompat ke atas langit sembari mengangkat palunya ke angkasa. Palu milikinya berubah menjadi palu raksasa ia memukulkan palu tersebut ke arah Cang Hue.


"Tekhnik Roh, Palu Pengguncang Surga"


Tak mau kalah Cang Hue juga mengeluarkan jurus terkuat miliknya demi melawan palu tersebut.

__ADS_1


"Tekhnik Roh, Tangan Dewa Semesta"


Jurus mereka berdua pun berbenturan hingga menciptakan sebuah ledakan gelombang energi yang sangat kuat. Buru-buru penjaga arena memasang pelindung demi melindungi para penonton yang sedang menyaksikan.


__ADS_2