
Beberapa jam sebelumnya, sesaat setelah Kenshin meninggalkan rumahnya menuju rumah Asta, Taki tiba di kediaman Helio Utake untuk memenuhi panggilannya. Ia diizinkan masuk dan disambut dengan senyuman gembira di wajahnya, menarik perhatian Helio Utake yang penasaran.
"Senior, ada gerangan apa kau mencariku? Kebetulan aku juga hendak menemui Anda tadinya," tanya Taki Garaki. Senyum gembira terlihat jelas di wajahnya, memancing rasa penasaran Helio Utake.
"Wajahmu tampak cerah. Apakah kau mendapatkan keuntungan dari kunjunganmu ke Kota Api Suci?" Tanya Helio mencoba membaca pikirannya.
Taki hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala, "Dari kejadian dua minggu yang lalu, aku mendapatkan sebuah keuntungan besar. Saat menuju perbatasan Provinsi Senlin, aku dihadang oleh puluhan Hewan Ghaib peringkat 3 dan 4 yang dipimpin oleh 4 Hewan Ghaib peringkat 5, yaitu Rubah Berekor Panjang, Banteng Bertanduk Api, Serigala Merah, dan Burung Jengger Api. Ternyata semua itu adalah skenario ujian yang Tuan Ace berikan padaku," Taki Garaki kemudian mengeluarkan secarik kertas yang Ace tinggalkan padanya.
Mendengar ceritanya, Helio Utake langsung tertarik untuk mengetahui keseluruhan cerita yang terjadi. Hanya dalam sekali lihat, Helio langsung tahu bahwa catatan itu memang hasil tulisan Ace. Bahkan Helio Utake bisa merasakan adanya pemahaman mendalam yang tersirat dalam tulisan tersebut, meskipun pemahaman itu hanya berguna untuk Taki Garaki.
"Dia ternyata benar-benar tak menganggap kita remeh. Kupikir jalinan ini hanya untuk menghubungkan antara dirinya dengan Patriark, tapi ternyata aku salah," ucap Helio Utake.
"Ya, karena bantuan darinya pula aku bisa mencapai Ranah Raja. Meskipun temperamen para Hewan Ghaib Kuno buruk, aku bisa menyadari bahwa Tuan Ace sepertinya tidak," timpal Taki Garaki setuju dengan pendapatnya.
Hewan Ghaib dan Hewan Roh merupakan suatu entitas yang sama yakni hewan yang berhasil membangkitkan kekuatan roh mereka sendiri atau karena karunia surgawi leluhur mereka.
Namun, perbedaannya terletak pada status mereka. Hewan Roh adalah sebutan untuk Hewan Ghaib yang sudah melakukan Kontrak Perjanjian Roh dengan Kultivator, sedangkan untuk yang belum melakukan kontrak atau masih buas dan liar disebut sebagai Hewan Ghaib.
Helio mengembalikan kertas itu lagi padanya, "Daripada itu, aku lebih penasaran dengan keempat Hewan Ghaib Peringkat 5 yang kau sebutkan tadi. Pasalnya, keempatnya merupakan Hewan Ghaib langka dan kuat. Apakah kau berhasil menangkapnya?" Tanya Helio dengan antusias.
Taki hanya tersenyum canggung, tidak bisa menjelaskannya secara rinci, namun Helio Utake dengan cepat mengerti maksudnya. Bagaimanapun, di balik pengepungan Taki Garaki, dalangnya adalah Ace, yang tentunya tidak akan membiarkan sesama Hewan Ghaib mati begitu saja, terutama yang sudah mencapai peringkat 5, meskipun statusnya lebih tinggi sebagai Ras Hewan Ghaib Kuno.
"Ahh, sudahlah, lupakan saja. Bisakah kau tidak memanggilku dengan kata 'Senior'? Sekarang posisi kita setara dan sudah lebih dari 3 tahun kau menjabat sebagai Tetua Aula Balai Pelatihan, jadi cukup panggil nama saja," ucap Helio sambil tersenyum canggung.
"Meskipun aku telah diangkat menjadi salah seorang Tetua Sekte, tetap saja Anda adalah senior yang telah membantu saya dalam hal Kultivasi," balas Taki Garaki.
"Ya, sudahlah kalau begitu. Terserah kau mau memanggilku apa, tapi tujuanku memintamu kemari karena ada tugas untukmu," pada akhirnya Helio pun menyerah akan hal itu.
Kenapa Helio bersikeras tentang panggilan itu karena berhasil menjabat sebagai Tetua Sekte bukanlah perkara mudah. Menjadi seorang Tetua Sekte Kobaran Api Sejati berarti menjadi salah satu dari 30 orang teratas di sekte setelah Patriark dan Wakil Patriark Sekte. Proses pemilihannya sangat ketat, dan salah satu syarat utama yang harus dipenuhi adalah mencapai Ranah Senior di usia 18 tahun atau mencapai Ranah Raja di bawah usia 25 tahun.
Bagi para murid atau anggota sekte yang tidak mampu mencapai kualifikasi tersebut, bukan berarti status mereka tidak mengalami kenaikan. Tetap ada status-status lain yang bisa mereka dapatkan. Para murid yang telah mencapai Ranah Master bisa bergabung ke squad pasukan khusus yang berjalan di bawah Tetua Pentagram, menjadi pembela hukum mendampingi Tetua Hukum, menjadi bagian pembina aula pelatihan di bawah bimbingan Tetua Aula, atau hanya menjadi anggota sekte yang hanya melaksanakan tugas harian Sekte.
"Tugas? Ada apa yang perlu kulakukan?" Tanya Taki.
"Ada dua tugas yang bisa kau pilih, salah satunya adalah pergi ke kediaman Kaisar untuk meminta bantuan, atau menyampaikan pesan ke Benteng Pertahanan Sementara di Perbatasan Barat Provinsi Shan Pegunungan Iblis. Kamu pilih yang mana?" jelasnya.
Mendengar pilihan pertama, Taki Garaki langsung mendelik ke arahnya, "Senior, apa Anda bercanda memintaku memilih yang pertama? Tanpa pilihan kedua, aku tak bisa melakukan tugas yang pertama. Kekaisaran secara terang-terangan menyatakan ketidakterlibatannya dalam perang ini. Meskipun aku menentang keras keputusan Kaisar, tindakan yang dilakukannya adalah pilihan yang bijaksana. Sudah cukup beruntung bahwa para Demon dan Goblin tidak memprotes perihal bantuan sumber daya yang Kaisar berikan untuk kita."
"Sudah tak ada jalan keluar lagi untuk mengakhiri peperangan ini. Lagipula, apa yang kau harapkan dari para makhluk barbar seperti mereka? Apa yang sebenarnya Kaisar tunggu?" ucap Helio bertanya.
"Jika begitu, sama saja kita sedang memantik perang antar ras lagi ke depannya. Dan jangan lupakan kejadian itu, Senior," ujar Taki, langsung membuat Helio tak berkata-kata.
"Mereka memang terlihat barbar dan lebih suka akan pertarungan berdarah, akan tetapi mereka bukanlah Kultivator Iblis sepenuhnya," lanjut Taki Garaki.
"Baiklah, tolong jelaskan laporan apa saja yang harus kusampaikan kepada Patriark Sekte. Aku akan mendengarkan dengan seksama," kata Taki Garaki, siap mendengarkan penjelasan Helio.
Pertikaian yang terjadi di Perbatasan antara Provinsi Huo Tanah Api Suci dan Provinsi Shan Pegunungan Iblis merupakan pertikaian yang terjadi antar kubu yang bertentangan namun masih berada di bawah kendali Kekaisaran yang sama, yakni Kekaisaran Arkhan.
Perang tersebut terjadi karena peristiwa sekitar 4 tahun yang lalu, dimana Ras Demon dan Goblin yang merupakan penghuni asli Provinsi Shan tiba-tiba mendapat serangan dari seorang Kultivator manusia yang menewaskan ribuan kultivator di ras mereka hanya dalam satu malam.
Karena murka, Tuan Kepala Provinsi Shan langsung menuduh pihak Kekaisaran telah menindas mereka sebagai ras dengan tingginya jumlah Kultivator Iblis di Kekaisaran, dengan cara melakukan pembunuhan massal bahkan tanpa pandang bulu. Tuan Kepala berpendapat bahwa hanya Kaisar sendiri yang bisa melakukannya dengan tingkat kultivasi yang tinggi.
Kaisar Arkhan tentu terkejut saat Tuan Kepala Provinsi Shan datang ke kediamannya dengan membawa tuduhan tersebut. Saat itu sang Kaisar sendiri tidak meninggalkan kediamannya apalagi melakukan pembantaian massal di Provinsi Shan.
Tentu saja Tuan Kepala tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang Kaisar, apalagi sang Kaisar tidak memberikan penjelasan atau memberitahu siapa pelaku pembunuhan tersebut. Argumentasi bahwa Kaisar tengah melindungi orang itu semakin memperkuat keraguan Tuan Kepala.
Demi mendapatkan kepercayaan dari mereka, sang Kaisar pun langsung angkat bicara dengan memberikan izin untuk mencari pembunuh itu di seluruh wilayah Provinsi. Sang Kaisar juga menegaskan bahwa ia tidak akan ikut campur dalam peperangan internal mereka dan hanya akan memberikan bantuan berupa sumber daya, kecuali ada ras yang melanggar etika kehidupan, seperti memperbudak ras lain ataupun ras sendiri.
Setelah mendapat izin tersebut, Tuan Kepala Provinsi puas dengan pilihan bijak sang Kaisar yang tidak memihak dan bersikap adil. Provinsi Shan lalu mengumumkan pergerakannya kepada 6 Tuan Kepala Provinsi lainnya, namun mereka menolak karena akan mengganggu kedamaian di Kekaisaran Arkhan dan dapat menimbulkan dampak buruk. Akibatnya, 7 Sekte Besar di Kekaisaran Arkhan langsung bergerak ke Perbatasan Barat Provinsi Huo untuk mencegah pergerakan mereka.
__ADS_1
Ke-7 Sekte Besar tidak terima jika Provinsi Shan masuk atau bahkan menggeledah sekte mereka sendiri, sekalipun Kaisar telah mengijinkannya. Itulah mengapa terjadi peperangan diperbatasan saat ini.
Setelah mendengar laporannya, Taki mengangguk, "Baik, Senior. Aku pasti akan menyampaikannya kepada Patriark."
Helio mengerutkan dahinya, "Menurutmu aku tidak terlalu membahayakannya karena membiarkannya begitu saja?"
"Menurutku tidak juga. Kehadiran Tuan Ace sudah cukup menjadi penghalang dari segala bahaya. Ditambah lagi, aku melihat tekadnya cukup kuat dan dia juga mewarisi sesuatu yang besar yang mungkin akan menggemparkan dunia kultivasi dimasa depan nanti," ujar Taki Garaki.
Helio menggelengkan kepalanya pelan, apa yang diucapkan Taki memang benar, namun justru karena itulah ia merasa lebih khawatir dengan Asta kedepannya.
"Justru karena kehadirannya lah yang membuatku sangat khawatir dengannya. Ras Serigala Dewata merupakan salah satu dari sekian Ras Kuno yang masih ada sampai sekarang. Asta memang cukup beruntung terlahir dengan Esensi Roh yang kuat dan dapat menarik perhatiannya. Jangan lupakan apa yang ia lakukan padamu, yang hanya sepele bagi orang lain," ujar Helio.
Taki menahan nafasnya sejenak teringat sesuatu, "Senior benar, jika begitu sudah dipastikan Asta akan menuju-"
"Tak perlu dilanjutkan," ucap Helio memotongnya, "Aku tahu apa yang akan kau ucapkan dan aku juga tahu bahwa itu pasti. Pergilah sekarang, siapa tahu kau mungkin dibutuhkan di sana."
"Baik, Senior. Aku pamit pergi," pamit Taki padanya lalu ia pun meninggalkan kediamannya menuju ke gerbang dimensi, bersiap melakukan perjalanan lintas wilayah menggunakan portal dimensi menuju Benteng Pertahanan Sementara.
Beberapa menit setelahnya, Helio pun memanaskan air untuk membuat teh, namun tiba-tiba terdengar suara ledakan pertarungan. Helio segera meninggalkan kegiatannya untuk menyelidiki sumber ledakan tersebut.
---
Kembali ke waktu sekarang, tak pernah terpikirkan oleh Asta bahwa Ace akan menggigit bokongnya sedemikian parah. Asta memegangi bokongnya dengan rasa sakit, terdapat bekas gigitan Ace yang masih terasa.
"Aww!" Asta meringis kesakitan saat menyentuh bekas gigitan itu.
"Dasar bodoh! Hahahaha! Gunakan sumber surgawi untuk mempercepat penyembuhannya. Berhentilah merengek seperti bayi. Hahahahaa..." seru Ace padanya dengan nada mencemooh.
"Apa seperti itu sikapmu setelah menggigit bokongku tanpa ampun?" Balas Asta sedikit kesal.
"Lalu apa yang kau inginkan? Mungkin kau mengharapkan aku memanggangmu lalu memakanmu secara pelan-pelan? Berhentilah merengek dan cepat sembuhkan itu. Jangan buang-buang waktu untuk hal sepele. Lebih baik jangan membahas apapun sebelum kau benar-benar pulih. Terutama mengenai pilihan menjadi Hewan Rohmu atau tidak," ujar Ace sekali lagi menyuruhnya untuk bergegas memulihkan diri. Flares tertawa melihat perdebatan yang terjadi di antara mereka berdua, hingga ia sampai berguling di atas rumput karena terhibur.
"Akhirnya aku bisa merasakan bokongku lagi," ujarnya bernafas lega sambil mengelus-elus bokongnya.
"Guru, bisakah kau berhenti tertawa? Rasanya menyebalkan di tertawakan terus-menerus seperti itu," ucap Asta sambil menatap gurunya.
"Maafkan aku, Nak. Tapi itu benar-benar sangat menghibur," Flares bangkit dan mengusap air matanya yang keluar karena tertawa.
"Serigala Dewata, bisakah kita berbicara sekarang? Kita tak punya banyak waktu, terutama jika kau ingin mengatasi Moegi agar tidak memaksa ikut," ucap Asta pada Ace yang masih saja menertawainya. Asta sedikit kesal melihatnya terus tertawa seperti itu.
"Selain itu, bisakah kau jelaskan tentang pertumbuhanmu yang begitu cepat?" Salah satu pertanyaan yang sangat mengganjal di pikiran Asta saat ini, adalah mengenai pertumbuhan fisiknya.
Mendengar ucapan tersebut, Ace pun tersenyum sinis ke arahnya, "Kau pikir aku hanyalah seekor serigala biasa? Kau pikir ketika kau menemukanku yang berukuran kecil itu, hanyalah bayi serigala? Hei, Nak. Garam yang ku makan lebih banyak daripada nasi yang kau makan," ucapnya menyinggung ukuran dan usianya yang sebenarnya sangat tua dan kuat.
"Jadi selama ini kau menyembunyikannya dan hanya berpura-pura menjadi bayi kecil agar aku mau memeliharamu? Terus, memangnya berapa umurmu yang sebenarnya?" Tanya Asta lagi.
"Jika kau ingin membahas tentang usiaku, lebih baik kau tahu bahwa sekarang seratus tahun lebih cepat untukmu tahu usiaku. Tapi abaikan itu dan kembali ke topik semula," ujar Ace menghentikan pembicaraan mengenai usianya.
Meskipun Asta tahu bahwa Ace bukanlah serigala biasa dari ucapan Gurunya waktu itu, pertanyaan-pertanyaan tentang latar belakangnya tentu tersimpan di dalam kepalanya. Mungkin hanya menunggu waktu baginya untuk bisa mengetahui itu semua.
"Ya, baiklah. Aku memang bocah berusia 10 tahun sekarang, jadi belum saatnya aku tahu hal-hal yang jauh dari logikaku sebagai seorang anak-anak," Asta sedikit cemberut dan kesal.
"Kalau begitu, langsung saja pada intinya, apakah kau ingin menjadi Hewan Rohku atau tidak? Aku takkan memaksamu untuk menjadi Hewan Rohku atau apapun itu," lanjutnya berkata.
"Pffttt..!! Hahahahaha...!! Kau berbicara seolah-olah kau adalah tuanku. Aku memang akan menjadi Hewan Rohmu, tapi bukan berarti aku akan menjadi peliharaanmu. Tapi sebelum itu, kau harus lolos dari ujianku," balas Ace dengan nada sombong.
Asta sedikit menyipitkan matanya,"Tapi bukankah selama ini kau memang menjadi peliharanku?" ucapnya membuat Ace terdiam.
Setelah beberapa saat terdiam, Ace lalu menghela nafasnya dan memandang ke arah langit. Cuaca langit begitu cerah dengan awan-awan putih yang cukup besar berarak menutupi sebagian langit, menyisakan rongga-rongga sebagai jalan matahari untuk menyinari dunia. Angin berhembus pelan seolah-olah dunia sedang berada dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Ace menatapnya sejenak sebelum berbicara,"Ada alasan mengapa aku harus menjadi peliharakanmu terlebih dahulu, dan salah satunya adalah agar aku bisa mengenalmu. Ada banyak hal yang masih belum bisa dijelaskan, tapi apakah masalah waktu bukanlah hal yang lebih penting?"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Mari mulai tesnya sekarang juga. Guru, kau akan menjadi saksinya," ujar Asta meminta Flares menjadi saksinya.
"Sekarang aku adalah Master Roh Ahli. Apapun tes yang akan kau berikan padaku, pasti akan kutuntaskan," lanjut Asta sembari tersenyum sombong.
"Oh, jadi kau menyombongkan Ranah Ahlimu ya? Memangnya apa yang bisa kau capai dengan Ranah Ahli kebanggaanmu ini. Benar-benar menantang langit," ujar Ace lalu tertawa.
"Tentu saja. Dengan Ranahku sekarang, aku yakin mampu melewati semua tes yang akan kau berikan padaku," ucapnya dengan sikap meremehkan.
"Jadi begitu ya menurutmu. Kau benar-benar masih tidak tahu diri dan berlagak seolah-olah kau cukup hebat. Lalu bagaimana kalau kita mulai, bocah..?" ujar Ace mempertanyakan kesiapannya.
"Ya, aku siap kapanpun kau mau," jawab Asta pelan sambil memasang kuda-kuda waspada.
"Kalau begitu, kuharap kau bisa bertahan dari satu pukulanku," ucap Ace pelan.
"Ku kembalikan ucapan tersebut padamu," balas Asta meremehkan Ace.
Baru saja Asta hendak melepaskan pukulannya, seketika medan gravitasi meningkat berkali-kali lipat. Tubuhnya langsung terjatuh seolah-olah ada beban ratusan kilogram menghantam punggungnya hingga memaksanya berada dalam posisi bersujud.
"Ini! Apa-apaan ini! Akhh-!! Tubuhku tak bisa digerakkan sama sekali!" Jerit Asta di dalam hati.
Asta mencoba mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat apa yang Ace lakukan, namun ia hanya melihat Ace tengah memandangnya dalam diam dengan konsentrasi tinggi.
"Sial! Inikah kekuatan Ace yang sebenarnya?!" gumam Asta di dalam hatinya. Matanya terbelalak melihat tatapan serius matanya yang mirip dengan hewan buas yang sedang menatap mangsanya.
Asta terdiam, kewalahan dengan tekanan tersebut, dan tak mampu hanya sekedar melakukan perlawanan. Tubuhnya merasakan medan di sekitarnya semakin memberatkan pundaknya dan terus memaksanya bersujud. Namun badan yang bergetaran hebat itu tetap enggan untuk bersujud. Perasaan terkejut dan takut bercampur aduk di dalam dirinya.
Setelah beberapa saat berjuang agar bisa kembali berdiri, hasilnya tetap nihil. Tak ada perubahan apapun, malah ia semakin ditekan ke bawah.
Lama-kelamaan, Asta Raiken merasa pandangannya mulai sedikit kabur dan tubuhnya hampir tak kuat lagi menahan tekanan tersebut.
"Sialan! Apa ini benar-benar batasku?!" gumam Asta pelan, menyadari bahwa tubuhnya tak lagi sanggup menahan tekanan yang semakin menggila.
"Hahahahaa.... Apa kau sudah memutuskan untuk menyerah? Lalu bagaimana dengan Ranah Ahli yang kau banggakan itu? Tidak sanggup menahan hal semacam ini? Kontrol Aura-mu benar-benar payah jika segini saja tak mampu," cibir Ace.
Dalam Kultivasi, tak hanya meningkatkan Pemahaman Ranah atau Raga Tubuh, namun juga ada yang disebut dengan Kontrol Dasar.
Kontrol Dasar dibagi menjadi 2, yaitu Kontrol Esensi Roh dan Kontrol Aura. Kontrol Dasar terdiri dari 3 tingkat yaitu:
1) Rendah, memiliki kontrol sebanyak 0-25 persen.
2) Menengah, memiliki kontrol sebanyak 26-75 persen.
3) Tinggi, memiliki kontrol sebanyak 76-100 persen.
Kontrol Dasar memang penting, namun tak semua Kultivator mengkultivasikan keduanya. Ada beberapa yang hanya mengkultivasikan Kontrol Aura, dan ada juga yang hanya mengkultivasikan Kontrol Roh.
Mendengarkan cibiran darinya, Asta pun geram dan ingin balas memukulnya, namun kini ia hanya bisa mengumpat dalam hatinya. Pikirannya dipenuhi pertanyaan bagaimana ia bisa melatih teknik Kontrol Aura, jika saja Gurunya, Flares, atau dirinya tak pernah mau mengajarinya sama sekali. Hal itu murni bukan kesalahannya jika kontrol aura-nya benar-benar buruk.
Disisi lain, sepasang mata Kenshin Utake yang sedari awal memperhatikan hanya terdiam terkejut melihat sahabatnya, Asta, tiba-tiba terjatuh ke tanah lalu bersujud pada Ace.
"Dasar bodoh! Apa yang kau ucapkan hingga membuatnya marah seperti itu!" gumam Kenshin Utake geram, melihat Asta sepertinya menyinggung Ace hingga membuatnya marah sebegitu rupa.
Meskipun khawatir dan sempat ingin menolong Asta, Ace tersenyum ke arah Kenshin, menatapnya tajam, sambil menggerakkan mulutnya seolah berkata 'Satu langkah yang kau ambil adalah langkah terakhir dalam hidupmu.' Hal tersebut membuat Kenshin mengurungkan niatnya untuk menolong Asta.
Seketika itu juga, ia terdiam dan kaku. Bukan hanya tak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan berbicara saja tak bisa. Tatapan mata Ace memaksanya agar tetap diam di tempat dan mengurungkan niatnya, dan itu bukan hanya sekedar tatapan, melainkan juga Ace mengarahkan sedikit auranya.
"Kalau sudah begini, apa boleh buat. Sepertinya kau hanya bisa bergantung pada kekuatanmu, Asta," gumam Kenshin pelan, berharap Asta mampu bertahan dan tak terluka dari kejadian itu.
__ADS_1
Kenshin sadar, menggerakkan tubuhnya saja tak mampu apalagi memberikan sebuah pertolongan. Kenshin memutuskan untuk tetap diam dan memperhatikan dari kejauhan. Sembari berharap Ace takkan melakukan hal berlebihan padanya.