Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch50 7 Sekte Besar


__ADS_3

Sementara di tiga arena yang lain pertarungan di Arena C antara Kenshin dan Yami berlangsung sengit, tak segan-segan Kenshin menebaskan tekhnik pedang bulan sabitnya kearahnya disisi lain Yami pun sama gilanya dengan Kenshin dengan tarian hujan pedang nya yang menggila.


Sabetan demi sabetan pedang menggores arena pertarungan C, sepanjang ini pertarungan Kenshin dan Yami lah yang paling menarik untuk di perhatikan.


"Apa-apaan tekhnik pedang bulan sabit yang digunakannya itu sangat kuat paling tidak merupakan Seni Surgawi tingkat 5 atau mungkin masih lebih tinggi lagi,"


"Sayap Kegelapan selaku kelompok Netral penghubung antar Kekaisaran dengan Negara Tebing Tinggi selalu memberikan kejutan di setiap Turnamen Seni Bela Diri,"


Para penonton dengan serius memperhatikan pertarungan tersebut menunggu-nunggu hasil akhir seperti apa yang akan terjadi.


Mungkin dari sekian banyak orang yang mengira Kenshin sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya hanya Asta dan beberapa orang yang mengenalnya tahu bahwa Kenshin hanya sedang bermain-main dengan Yami.


Namun begitu pula sebaliknya dengan Yami tak banyak yang tahu kekuatannya selain orang-orang dari Tiandu, tentu dengan bakat seperti itu mustahil ia bisa dikenal luas sebagai penggila pertarungan. Keduanya sama-sama belum serius sama sekali.


"Kau cukup hebat bisa bertahan selama ini dengan baik,"ujar Kenshin di tengah-tengah pertarungan.


"Begitu juga dengan dirimu," balasnya.


Kenshin pun memasang ancang-ancang untuk menyiapkan serangan tebasan pedang selanjutnya, disisi lain Yami pun bersiap untuk melakukan serangan.


"Tebasan Ketiga, Mata Pedang Tak Berwujud,"


"Clang!"


"Slashh!"


"Kau-?! Bagaimana mungkin-?!"


"Brukk!"


Dalam sekejap mata tiba-tiba Yami tergeletak di atas arena dengan luka tebasan pedang di punggungnya yang terlihat begitu jelas.


Pertarungan yang sangat menarik tiba-tiba berakhir begitu saja, mereka bahkan tidak melihat apa yang terjadi pada Yami sehingga tiba-tiba ia mendapatkan luka tersebut.


Yang mereka lihat seolah-olah Kenshin hanya menarik gagang pedangnya sedikit lalu memasukkannya kembali ke sarung pedangnya lalu setelah itu tiba-tiba Yami terjatuh dan mendapatkan luka di punggungnya.


"Tekhnik apa itu..?!!"


"Apa yang terjadi..?!!"


"Bukankah Yami sebelumnya bertarung imbang mengapa ia tiba-tiba dikalahkan..?!!"


"Pemuda itu luar biasa..! Sepertinya ia menutupi kekuatannya sebelumnya..!"


Para tenaga penyembuhan segera mengangkat Yami dari atas Arena untuk di obati.


Yu Tiandu hanya diam mematung melihat saudaranya dikalahkan oleh seseorang yang bahkan tak ia kenal sama sekali di pertarungan pertama. Jaza pun merapatkan giginya menahan amarah melihat Kenshin yang tertawa sambil melihat ke arah Asta.


"Selanjutnya giliranmu, kawan!!" Ujarnya sambil menunjuk ke arah Asta.


Menyadari suasana hati mereka berdua yang sedang memburuk Asta hanya mengangguk dan tak membalas ucapannya sama sekali takutnya hal itu akan menyinggung perasaan mereka berdua.


Kenshin pun melompat turun dari lapangan untuk beristirahat dan melihat pertarungan selanjutnya. Pertarungan pun dilanjutkan kembali demi mempersingkat waktu yang dibutuhkan Turnamen.


***


Turnamen diikuti oleh 241 peserta yang akan di berlangsung selama 4 hari sebanyak 8 fase. Sistem turnamen adalah sistem gugur dimana peserta hanya mempunyai kesempatan bertarung sebanyak satu kali.


***


Dalam beberapa ronde berikutnya pertarungan menjadi amat membosankan dan tak terlalu menarik karena selalu berakhir dengan sangat cepat.


Shiro, Zaraki, Moegi, Kesha dan juga Gao Li pun telah berhasil lolos ke fase kedua dengan mudah, tak ada perlawanan sedikitpun terhadap mereka.


Ye Juan dari Keluarga Juan juga lolos dengan mudah, lalu di ikuti dengan Yu dan Jaza yang memilih mengakhiri pertandingan dengan satu serangan telak.


"Ohh sepertinya pertarungan akan menjadi menarik di Arena D jika mereka berdua yang bertarung,"


"Akhirnya kita bisa melihat pertarungan yang menarik lagi setelah beberapa pertarungan sebelumnya yang selalu berakhir dengan sangat cepat,"


Semua mata kembali tertuju pada salah satu arena yang diisi peserta dari Sekte Tanah Neraka Keabadian melawan peserta dari Keluarga Han.

__ADS_1


"Senang berjumpa denganmu, saudara Li Han,"


"Tak ku sangka akan mendapatkan nasib sial bertemu saudari Kiena Saki,"


Baru saja pertarungan dimulai Kiena Saki langsung menerobos ke depan mengayunkan pedangnya dengan cepat tak memberikan Li Han waktu sama sekali.


Li Han pun mengangkat pisaunya menahan pedang Kiena Saki sambil tersenyum ia membalikkan pedangnya ke belakang dan berganti menyerang.


Li Han memang cukup dirugikan bertemu dengan seorang pendekar pedang sedangkan ia sendiri menggunakan pisau. Akan tetapi dengan keterampilannya ia tak merasa pesimis sedikitpun bertemu dengan seorang pendekar pedang di babak penyisihan pertama.


Pisau yang Li Han bukan semata pisau biasa di gagangnya terdapat rantai yang menggulung di lengannya sehingga Li Han bisa melemparkan dan menariknya kembali secara cepat.


Keterampilan Li Han memainkan seni lempar tarik pisau membuat suasana kembali meriah, Li Han yang awalnya sedikit terpojok karena jangkauan serangannya yang tipis sekarang membalikkan keadaan membuat Kiena kesulitan menghadapi kecepatan pisau tersebut.


Kiena pun bertarung dengan mengaktifkan esensi rohnya yang merupakan Bunga Neraka, sambil menghindari serangannya ia menyebarkan sedikit demi sedikit benihnya di arena.


Tak mau kalah Li Han juga mengeluarkan esensi rohnya, Rantai Jiwa yang membuat pengendalian pisaunya meningkat dan juga jaraknya bertambah.


Setelah dirasanya cukup Kiena pun menyimpan pedangnya lalu menumbuhkan benih-benih tersebut, seketika bunga-bunga kemerah-merahan pun muncul di mana-mana.


Li Han mencoba menebas seluruh bunga tersebut namun sayangnya itu terlalu banyak dan juga pertumbuhannya terlalu cepat, racun panas yang disebarkannya pun membuat nafasnya menjadi sesak dan panas, dadanya serasa terbakar dari dalam. Segera ia pun mengaku kalah untuk menghindari luka fatal dari racun tersebut.


Setelah selesai Kiena pun memberikan penawarnya pada Li Han.


"Saudari Kiena sungguh hebat, aku bukanlah tandinganmu,"


"Saudara Li lah yang menahan diri berlebihan padaku,"


Setelah saling menyapa satu sama lain mereka berdua pun turun dari arena.


"Apa kalian berbohong padaku mengenai bocah sialan itu..?" Tanya Kaisar Arkhan mulai tak sabar.


"Dasar tidak sabaran!" Ujar Zaru dan Ace bersamaan memukul kepalanya.


"Aduduhhh!! Aku hanya bertanya apa perlu kalian memukulku?!"


Pembawa acara pun mulai meneriakkan angka peserta berikutnya, kali ini giliran Asta yang bertarung.


"Bukankah ia anak yang bersama dengan Manager sebelumnya?!"


"Apa ia mewakili Asosiasi Fajar Merah di Turnamen kali ini, kudengar Asosiasi berpartisipasi di turnamen tahun ini,"


"Sungguh membuat penasaran akan seperti apa penampilannya kali ini terlebih lagi ia melawan murid dari 7 Sekte Besar,"


Para penonton yang sebelumnya pernah melihat Asta bersama Manager Row pun berantusias, akan kah ia mewakili Asosiasi atau hanya sekedar kenal dengan Manager saja. Yang pasti kalau ia dekat dengan seseorang seperti Manager ia setidaknya bukanlah sosok yang biasa-biasa saja.


"Heeeeh, sepertinya dugaanku benar, bocah sialan itu terlihat menghela nafasnya pelan sesaat wasit memanggil angkanya. Ia pasti berharap bisa lolos tanpa bertarung, bocah malas itu?!!!" Gumam Zaru kesal.


"Usai dari sini aku pasti akan memberinya pelajaran!" Gumam Ace juga.


"Apa, apa? Apa yang sedang kalian bicarakan, siapa, yang mana?!" Tanya Kaisar Arkhan penasehat siapakah yang mereka berdua maksudkan.


Manager Row lalu menunjuk ke arah Asta, membuat semua mata Ketua Sekte serta Kepala Keluarga Besar yang juga ada di bawah mereka menjadi tertarik.


"Dia orangnya, namanya adalah....."


"Perkenalkan namaku Asta dari Asosiasi Fajar Merah! Mohon bimbingannya!" Ucapnya lantang memperkenalkan dirinya.


"Aku Fulan Bin dari Sekte Biru Bulan Sabit, mohon bimbingannya saudara Asta,"


***


Dari balik topengnya Rai Ken dan Misaki terdiam terkejut tentu mereka berdua sangat mengenal suara itu. Dibalik topeng mata mereka mengeluarkan air mata deras melihat seorang putra yang mereka rindukan sekian lama berdiri tak jauh darinya.


Melihat Misaki yang ingin melompat dari podium menuju ke arena Rai bergegas memegang tangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Haaah, kalian ini. Tak bisakah bermesraan di lain waktu,"ujar Ketua Sekte Alam Langit, Lao Kuang.


"Para muda-mudi memang membuat iri semua orang yang sudah tua, hahaha," ujar Ketua Sekte Biru Bulan Sabit, Fujan Daru.


"Apa kalian sudah tak sabar untuk bermain sekarang juga disini? Kalian benar-benar tak tahu malu," ujar Ketua Sekte Tanah Leluhur, Shai Ya.

__ADS_1


Sebisa mungkin Misaki pun langsung menghapus air matanya. "Bukan begitu aku hanya.."


"Ketua Misaki benar-benar pemberani jika ingin melakukannya disini," ujar Ketua Sekte Danau Biru, Yu Zhao.


"Tidak-tidak. Mana mungkin kami ingin melakukannya disini didepan orang-orang. Kami masih punya malu untuk itu," ujar Rai Ken.


"Lalu tunggu apa lagi. Cepat pergi keluar dan cari tempat yang sunyi, entah di semak-semak atau dimana pun terserah asal tidak ada orang yang melihat," ujar Ketua Sekte Pulau Dewa, Liang Wen.


"Sudah ku bilang bukan seperti itu....!!!" Teriak Misaki malu.


"Hahahahaha," para Ketua Sekte yang lain pun tertawa melihatnya.


***


"Saudara Bin, bolehkah dalam Turnamen menggunakan dua jenis senjata..?" Tanya Asta begitu polos.


"Pfftt.. hahahaha. Saudara Asta kau sungguh lucu. Hal itu tentu saja di perbolehkan lagipula tak ada peraturan yang membatasi dalam hal senjata. Kau gunakan saja seluruh senjata dan kemampuanmu. Ingat, jangan menahan diri," ujarnya.


"Heem, heem. Karena Saudara Bin sudah mengijinkannya tentu aku takkan sungkan," Asta mengeluarkan pedang Langit Kelam yang membuat suasana arena menjadi sedikit mencekam karena auranya.


Fulan Bin yang awalnya bercanda menjadi lebih serius melihat senjata yang Asta gunakan setidaknya adalah Artefak tingkat 5 ditambah itu bukanlah semacam Artefak biasa melainkan Artefak Roh.


Fulan Bin pun mengeluarkan satu pedang lagi, melihat Asta yang begitu santai memegang pedang tersebut ia tak bisa menganggapnya enteng. Pertarungan pun dimulai.


Fulan Bin berinisiatif melakukan serangan pertama, dengan santai Asta menepis setiap serangan tersebut hanya dengan cakar Taring Duri.


"Gila!! Anak itu menepis serangannya hanya dengan tangannya saja apa ia tak takut terpotong tebasan pedangnya?!"


"Lihat baik-baik..!! Sarung tangan yang digunakannya bukanlah sarung tangan biasa, itu Artefak tingkat roh tingkat 4...!!!"


"Jenius dari Sekte Biru Bulan Sabit melawan Tuan Muda Asosiasi Fajar Merah siapa yang akan menang!!"


Fulan memainkan tekhnik berpedangnya dengan sangat baik mencoba mencari celah sembari terus menyerangnya. Namun satu persatu setiap tebasan pedangnya selalu saja berhasil Asta tangkis atau ia hindari.


Semakin lama Fulan Bin merasa bahwa ia sebenarnya hanya sedang di permainkan. Ia sadar dengan kemampuan yang telah Asta perlihatkan dalam menangkis atau menghindari serangannya bisa saja ia dikalahkan hanya dalam satu serangan, hanya saja identitasnya sebagai murid dari salah satu 7 Sekte Besar membuatnya tetap bersikeras berjuang demi harga dirinya ketimbang mengaku kalah.


"Asta apa yang kau lakukan! Apa kau sedang meremehkanku?!!" Teriak Fulan Bin.


"Tentu saja tidak," balas Asta pelan sembari menangkis seluruh serangannya.


"Lalu apa-apaan ini?!" Teriaknya tak terima dengan jawaban tersebut.


Asta pun kebingungan harus bagaimana. Dilain sisi Fulan Bin berusia 4 tahun lebih tua darinya dan ia merasa tidak enak jika mengalahkannya dengan kekuatan penuhnya karena itu akan membuatnya merasa di permalukan, namun disisi lain gurunya memintanya untuk memenangkan Turnamen tersebut. Saat itu Asta pun bimbang dan hanya menunggu Fulan Bin melakukan sebuah kesalahan kecil dan lalu saat ia akan mengalahkannya.


Namun siapa sangka Fulan Bin begitu baik dalam melakukan setiap serangan sehingga Asta tak bisa mengalahkannya begitu saja.


"Jika kau menahan kekuatanmu terus menerus kau sama halnya sedang mempermalukanmu! Jika kau bisa mengalahkanku maka lakukanlah aku lebih baik kalah sebagai petarung sejati ketimbang kalah di permalukan!!" Teriak Fulan Bin sekali lagi melihat Asta begitu tak serius menanggapi pertarungannya.


"Kalau begitu maafkan aku, Saudara Bin. Karena aku harus menang aku akan mengalahkanmu,"balasnya lalu merubah pola pertahanannya menjadi serangan.


Melihat Asta yang sebelumnya terus menahan diri hingga terkesan sedang mempermalukan lawan membuat Kenshin di sisi Arena menggelengkan kepalanya pelan. "Ia lebih brengsek daripadaku dan hampir saja mempermalukan lawannya. Tapi aku tahu bukan itu yang ia pikirkan, ia pasti takut jika mengalahkannya dalam satu serangan telak akan membuatnya dipermalukan itulah mengapa ia menahan diri dan mencari sebuah kesalahan," gumamnya pelan.


"Kakak Row orang pilihanmu sungguh luar biasa hebat. Ia adalah jenius muda yang benar-benar berbakat," puji Arkhan.


"Ia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya, ia hanya mencari celah besar lawannya. Mungkin ia berpikir jika mengalahkan lawannya dengan telak akan membuat mental lawannya menurun hebat dan merasa dipermalukan," ujar Manager Row.


"Asosiasi Fajar Merah sungguh mempunyai banyak cadangan sumber daya menciptakan jenius muda bukanlah hal sulit. Namun mencari seseorang yang mempunyai etika dan bakat yang bagus meski tanpa sumber daya sepertinya bukan hal yang mudah bagi Asosiasi sendiri," gumam Fujan Daru memuji penampilan Asta yang sangat menarik perhatian mereka.


Rai Ken dan Misaki hanya diam memperhatikannya setiap perubahan yang telah Asta lakukan selama ini. Melihat cara bertarung serta kemampuannya tersebut mereka berdua yakin bahwa tekhnik itu bukanlah sesuatu yang dipelajari di Sekte Kobaran Api Sejati dimana ia seharusnya tinggal.


Memang benar semua Tekhnik bertarung Asta memang bukan dari tekhnik yang di ajarkan Pak Helio ataupun dari buku yang pak Helio bawakan di dalam cincinnya. Semua itu diganti dengan tekhnik bertarung khas gurunya yang menilainya bahwa tekhnik dari Kobaran Api Sejati tidak lah sempurna dan sekarang sudah berubah dari tekhnik aslinya.


"Saudara Bin bersiaplah aku akan menyerangmu dengan sepenuh hati,"


***


Halo,


Apa kabar semuanya?


Tetap sabar dan nantikan kelanjutannya, ya;)

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan sesuatu di kolom komentar


__ADS_2