Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch33 Kebenaran


__ADS_3

"Ada apa..?!! Apa kalian hendak membiarkannya sendirian..?!! Rekan macam apa kalian ini...?!!!"


Melihat perubahan yang terjadi padanya, dengan cepat Zaru langsung melepas tanduknya. Bersiap untuk menghentikannya.


"Hentikan itu, biarkan saja ia mengamuk. Lagipula aku sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi," ujar Flares menghentikannya.


"Apa kau yakin? Anak itu benar-benar akan mengamuk sekarang," ucap Zaru.


"Roh Sejati bukanlah hal yang biasa. Tentu hal ini akan terjadi jika tak berjaga-jaga akan sesuatu hal yang bisa menggoncang jiwanya. Saat ini jiwanya sedang tergoncang, dan sepenuhnya Esensi Rohnya lah yang menggantikan kesadarannya demi menghindari kerusakan fatal," jelas Flares.


Zaru pun mengangguk mengerti. Ia pun mengurungkan niatnya dan memasang kembali tanduknya.


Disisi lain Helio dan Gibal yang juga tengah bertarung langsung merasakan aura menakutkan yang dipancarkannya.


"Bagaimana bisa seorang bocah memiliki kekuatan semenakutkan ini..!!!! Ini bahkan lebih menakutkan daripada gadis kecil kejam itu...!!! Siapa kalian ini sebenarnya..?!!" Bentak Gibal ia terkejut melihatnya.


Helio sendiri juga sama terkejutnya. Meskipun ia yakin bisa mengalahkannya yang dalam kondisi seperti itu, tapi ia tetap tak bisa menghindari auranya yang bisa membuat semangat bertarungnya hilang.


"Entahlah. Menurutmu..?" Balas Helio sambil tersenyum.


'Persetan dengan bocah itu. Saat ini aku harus mengalahkannya terlebih dahulu baru aku bisa membunuhnya,' ucap Gibal di dalam hati.


Mereka pun kembali bertarung. Sedangkan disisi Asta ia masih saja tertawa. Para Goblin seakan segan untuk menyerangnya setelah merasakan aura yang di pancarkan dengan gila dari seluruh tubuhnya.


"Jangan takut...!!! Kita hanya perlu membunuhnya..!!!"


"Jangan biarkan dia lolos...!!!"


"Hanya seorang Ranah Guru saja tidak mungkin bisa bertahan dari serangan kita..!!!!"


"Maju....!!!!!!!!!!"


"Serang bersama...!!!"


Para Goblin itu pun kembali melancarkan serangan bersama kearahnya. Namun sesaat serangan itu berada dalam jarak satu meter darinya, serangan energi ataupun panah dan lainnya langsung hangus menghilang.


"Ahahahahaha....!!! Lagi...!!! Sekali lagi..!!!" Teriaknya dengan keras.


Melihat satupun dari sekian banyak serangan yang mereka lancarkan tidak berefek apapun padanya, membuat semangat tempur mereka menjadi berkurang.


"Ahh, sial. Sepertinya aku kehabisan waktu. Senang berjumpa denganmu, kawan lama, muridku yang pemberani," ucapnya pada Helio.


Seketika Asta pun kembali menjadi seperti semula, tato yang menyelimuti seluruh tubuhnya pun kembali menghilang. Menyisakan yang ada di kedua tangannya.


Mendengar ucapan yang Asta ucapkan itu membuat Flares terbelalak terkejut. "Ini mustahil,"


Sesaat tersadar ia melihat pandangan para Goblin yang tersenyum lebar memperhatikannya. Bahkan ada yang sampai meneteskan air liurnya.


Air mata tampak menetes dari matanya menandakan penyesalannya. Ia tak sedang bersedih hanya merasa takkan pernah bisa kembali lagi.


Melihat Asta yang sudah kembali seperti semua membuat Helio sedikit tenang. Namun ketika melihat Asta yang termenung di tengah-tengah pertarungan membuatnya sedikit khawatir. Ia hanya berharap dua orang tersebut akan menyelamatkannya saat ia dalam situasi darurat.


"Ada apa..? Apa kau ingin menyelamatkannya.. Hahahahaha.... Habislah riwayat bocah itu sekarang," ujar Gibal.


"Sepertinya kau terlalu percaya diri.." balas Helio.


Asta pun mendongakkan kepalanya kembali. Memandangi para Goblin di hadapannya.


"Majulah. Aku pasti akan mengalahkan kalian semua,"


Asta pun kembali bertarung menghadapi mereka meski tanpa tekhnik peningkatan. Meskipun kelihatannya Asta hanya menghindari serangan mereka. Tanpa membalas sedikitpun meski ia mempunyai kesempatan.


Bertarung tanpa tekhnik Kobaran Api Peperangan dan bentuk Transformasinya membuatnya beberapa mendapatkan serangan di seluruh tubuhnya. Asta pun terbaring lemas di tanah.


Giginya bergemeletuk. Ia benar-benar merasa kesal. Namun ia juga merasa tak sanggup untuk menyerang. Pemandangan sebelumnya masih terbayang di benaknya.


"Tuan. Apakah kita akan terus membiarkannya seperti itu..?" Tanya Zaru melihat kondisi Asta yang memprihatinkan.


"Biarkan saja. Seekor elang begitu besar memang harus membunuh buruannya sendiri. Jika kita membantunya, itu sama saja menghambat perkembangannya," balas Flares.


Zaru pun mengangguk dan kembali menikmati pertarungan tersebut.


Asta pun memejamkan matanya. 'Bangunlah diriku, bangunlah. Kau bukanlah pengecut yang takut membunuh. Mereka yang pantas dibunuh memang seharusnya dibunuh,' gumam Asta di dalam hatinya.


Sesaat kemudian Asta pun membuka matanya kembali. Menghindari serangan kapak yang mengarah ke kepalanya.


"Haha. Hahahaha. Hahahahahaha. Kejutan. Benar-benar kejutan...!!!!" Teriak Asta saat itu juga.


Asta pun menormalkan kembali konsentrasinya. Asta pun kembali menerjang ke arah goblin-goblin tersebut.


"Karena kalian memaksaku, maka aku tidak punya pilihan lain selain membunuh kalian. Sekali lagi...!!!"

__ADS_1


"Tekhnik Transformasi tahap Sempurna, Dewata Indra Surgawi,"


"Tekhnik Roh Kobaran Api Peperangan,"


"Seni Surgawi tingkat rendah, Peremuk Raga,"


"Boommm.....!!!!"


Asta pun kembali menggunakan tekhnik transformasi dan Kobaran Api Peperangan. Namun kali ini ia benar-benar serius bertransformasi sempurna.


Tak hanya mata dan telinganya berubah. Tubuhnya kini di selimuti dengan armor spirit yang tercipta dari tekhnik transformasi sempurna. Auranya benar-benar langsung di rasakan para Goblin tersebut.


"Ini..!!! Roh Hewan Kuno Serigala Dewata...!!! Seorang Kultivator Sejati..!!"


"Pantas saja kekuatannya mengerikan..!!!"


Para Goblin pun terkejut melihat perubahan yang Asta lakukan. Pantas kekuatannya sangat mengerikan bahkan tak sulit baginya untuk mengalahkan Goblin di tingkatan yang sama dengannya.


"Mari kita berpesta..!!!" Teriak Asta sambil tersenyum.


Para Goblin pun mencoba untuk melarikan diri. Asta mengejar mereka dengan cepat dan melancarkan serangkaian tendangan dan pukulan ke arah mereka.


Setiap kali pukulan dan tendangannya mengenai mereka yang dibawah ranah Jiwa, seketika akan langsung meledak. Sedangkan untuk yang berada di ranah Guru itu hanya akan memberikan luka fatal yang sulit untuk di sembuhkan.


Melihat kondisi mental pasukannya memburuk, Gibal pun mengambil Giok Komunikasi. Ia mencoba menghubungi para bawahannya yang sedang bertugas merampok desa untuk segera kembali dengan cepat.


"Ehh, kupikir kau mempunyai nyali. Ternyata Goblin hanyalah pengecut yang berjumlah banyak," cibir Helio.


"Kau..!!!! Jaga bicaramu...!!!" Balas Gibal tak terima dipanggil pengecut.


Gibal pun mengamuk dan mengaktifkan sebuah tekhnik yang meningkatkan kekuatannya. Seluruh tubuh Gibal yang sebelumnya kehijau-hijauan berubah menjadi merah darah.


Dari aura kemerah-merahan yang di pancarkan tubuhnya tercipta sebuah Siluman Merah. Makhluk merah bertaring itu menatap matanya tajam.


"Transformasi Siluman Merah? Kau benar-benar pengecut luar biasa, bisa mendapatkan Permata Hewan dari pemimpin Siluman Merah," ujar Helio dengan nada meremehkan.


"Bicaralah sesukamu karena lagipula kau akan mati," ujar Gibal.


"Tapi bukan hanya kau saja yang mempunyai Roh Hewan kuat,"


Melihat Gibal yang bertransformasi dengan Roh Hewannya membuat Helio pun tertarik dan berantusias untuk ikut menggunakannya.


"Elang Dragonik...?!!! Kau..!!!!" Ujar nya terkejut.


Pedang Helio dan Kapak Gibal pun kembali berbentrokan hingga menimbulkan gelombang spirit. Sedangkan Roh Hewan mereka juga saling bertabrakan.


Asta bertarung seperti kesetanan. Ia tak ragu-ragu lagi untuk menyerang bahkan tak peduli jika isi perut Goblin-goblin tersebut berceceran di sekitarnya.


Sembari bertarung Asta meneteskan air matanya. Namun mulutnya tertawa dengan keras. Melihat sikap Asta yang seperti itu. Goblin pun mulai kehilangan harapan untuk bisa melarikan diri. Apalagi ketika Asta menatap mereka tajam.


"Pukul..!! Tendang..!! Pukul..!! Pukul..!! Tendang..!! Tendang..!! Pukul..!! Hahahahaha..!! Maju..!!!! Maju kalian semua....!!!!" Ujar Asta berteriak.


Satu persatu Goblin terbunuh di tangannya. Dari yang puluhan hingga tersisa hanya belasan. Kurang dari satu jam, Asta benar-benar menghabisi lebih dari setengah jumlah mereka.


Disisi lain, Gibal nampak kewalahan menghadapi Helio. Bukannya meningkatkan kekuatannya Gibal transformasi hanya melemahkannya. Namun begitu ia tahu bahwa kekuatannya memang meningkat, akan tetapi Helio pun juga benar-benar serius kali ini. Ia pun sadar bahwa ketika awal-awal pertarungan, Helio sebenarnya sengaja menahan diri. Itulah mengapa ia berimbang dengannya.


Gibal juga terkejut melihat Asta yang begitu beringas dalam membunuh setiap bawahannya dengan begitu kejam. Ia berharap bawahannya agar segera datang saat itu juga.


Gibal tak ingin bertarung dan mengorbankan nyawanya. Ia lalu memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian Helio agar nantinya bisa kabur dengan mudah. Sekaligus demi memberikan waktu kepada bawahannya.


Gibal pun berhasil mengalihkan pandangan Helio. Saat itu juga ia pun melompat ke belakang dan berlari.


"Kau-!!!" Melihatnya Helio pun geram. Ia benar-benar tak menyangka Gibal akan melarikan diri.


Helio pun langsung bergegas mengejarnya dan mencoba untuk menyerangnya. Namun begitu Gibal beruntungnya bisa menghindarinya.


"Tuan, ada apa..?!!" Teriak para bawahannya yang baru saja datang. Tepat setelah Asta berhasil membunuh semua Goblin Ranah Guru ke bawah yang sebelumnya mengepungnya.


"Cepat bunuh bocah itu..!!! Kita tak boleh membiarkannya hidup..!!! Dia berbahaya..!! Kalau dibiarkan dalam beberapa tahun saja kita tidak akan tau apa yang bisa dia lakukan dengan kekuatan mengerikannya itu...!!" Perintah Gibal.


Para Goblin yang baru saja datang tersebut berdecak geram melihat pemandangan rekan-rekan mereka kini sudah di bunuh dengan cara yang sangat kejam. Mereka setidaknya hanya ada 15 orang. Namun 5 dari mereka merupakan Ranah Senior, 10 dari mereka berada di Ranah Raja.


Melihat kekuatan bala bantuan tersebut Asta pun menelan ludahnya. Ia mungkin bisa berhadapan dengan satu orang yang berada di Ranah Raja, namun ia tak yakin bisa berhadapan dengan yang berada di Ranah Senior. Apa lagi gabungan dari mereka.


Meski bala bantuan datang Gibal tetap tak menghentikan larinya. Melihat sikapnya yang begitu menimbulkan rasa kesal seseorang hingga seseorang itu melemparkan tombaknya. Tombak tersebut melesat menembus tubuhnya. Seketika Gibal pun teringat akan sesuatu setelah melihat tombak tersebut.


"Ini.. tombak.. penghancur.. semesta.." Gibal pun menghembuskan nafasnya saat itu juga.


Helio yang melihat jarak mereka dengan dua sosok yang bersama Asta itu sangatlah jauh, membuka matanya lebar-lebar. Setidaknya jarak mereka sekitar beberapa kilometer dari lokasi tersebut. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah tombak yang melayang-layang itu sendiri. Karena tombak tersebut sangatlah dikenal oleh para Kultivator.


Melihat pemimpin mereka mati. Para Goblin Bala bantuan yang baru tiba itu langsung kehilangan rasa percaya diri mereka untuk bertarung. Mereka pun memutuskan untuk melarikan diri.

__ADS_1


"Ingin melarikan diri? Sudah terlambat," Helio pun bergegas mengejar para Goblin tersebut. Melihat hal itu tentu Asta pun tak tinggal diam dan ikut membantunya.


Dengan bantuan Tombak Penghancur Semesta yang Zaru kendalikan dari jarak jauh. Akhirnya tak satupun dari Goblin tersebut lolos. Pertarungan pun berakhir.


***


"Tunggu disini," ujar Helio meminta Asta untuk menunggu.


Helio kemudian mengumpulkan cincin penyimpanan mereka. Ia juga memasuki setiap tenda dan mengumpulkan sumber daya yang dimiliki para Goblin tersebut.


Selesai mengumpulkan sumber daya mereka. Helio pun kembali ke tempat dimana Asta yang sedang berbicara dengan gurunya serta Zaru yang saat itu sudah berada di sampingnya.


"Ambil ini," ucap Helio lalu melemparkan sebuah kantung kecil ke arahnya.


"Ini untuk apa. Bukankah anda sudah pernah memberi ku uang. Ahh..!!!! Ini-!!! Banyak sekali..!!!" ujar Asta terkejut ketika tau isi dari kantung tersebut ternyata berisi setidaknya beberapa cincin penyimpanan.


Setelah tahu kantung tersebut berisi cincin penyimpanan, ia pun memeriksa setiap cincin tersebut. Setidaknya berisi begitu banyak material berharga dan bahan obat yang kebetulan sedang ia butuhkan. Namun begitu ia tetap merasa tak enak untuk mengambilnya.


"Tapi Pak, ini terlalu banyak," ujar Asta merasa tak enak.


"Kau ambil saja. Itu adalah bagianmu. Sebelumnya aku hanya memberimu satu cincin penyimpanan. Dengan beberapa cincin level 5 itu jika kau ingin, kau bisa membuatnya menjadi gelang penyimpanan di Penempa," ujar Helio.


"Tapi, bukankah ini terlalu banyak," ujar Asta lagi.


"Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah mendapatkan bagianku sendiri. Itu sudah menjadi milikmu. Anggap saja itu bekal perjalanan mu dariku," Balas Helio.


Asta memandangi kantung tersebut sejenak. Sebelum kemudian mengangguk menerima pemberian Helio.


"Asta. Sebelumnya kau pasti ingin bertanya mengenai kedua orangtuamu, bukan?" Tanya Helio.


Asta pun mengangguk.


"Baiklah. Sebelumnya, aku meminta maaf karena membohongimu. Namun aku juga terpaksa melakukannya. Itu kulakukan demi keselamatanmu," ujar Helio.


Helio pun mulai menceritakan semua hal yang telah terjadi. Mengenai kebenaran dari kedua orang tuanya yang meninggalkannya tiga tahun lalu. Yang kini Asta tahu adalah, ayah dan ibunya merupakan seseorang yang mempunyai tanggung jawab besar. Dan saat itu, mereka memimpin pasukan untuk membantu di garis depan. Dalam menghadapi pasukan Faksi 7 Dosa Besar.


Dan Asta juga kini tahu, bahwa menghilangnya Ace ada kaitannya dengan perang tersebut. Semuanya pun terungkap jelas. Asta pun senang mendengar kenyataan tersebut.


"Lalu, apa yang Pak Helio lakukan disini sekarang?" tanya Asta.


"Aku sedang dalam tugas. Itulah mengapa aku ada disini," jawab Helio sambil tersenyum. Ia berniat untuk menyembunyikan bahwa putranya, Kenshin yang juga temannya, telah pergi meninggalkan rumah. Sama sepertinya.


"Ahh, jadi begitu ya," ucap Asta.


"Kalau begitu, Asta siapa gurumu itu. Darimana kau menemukannya dan juga, Beruang itu darimana kau mendapatkannya," tanya Helio sambil berbisik-bisik.


Asta pun melirik ke arah Flares dan mulai tertawa. Helio yang tidak tahu apa-apa merasa heran. Ketika Flares mendengus kesal karena Asta menertawainya. Memang benar saat ini Helio bisa melihat Flares secara langsung. Karena sedari awal Flares telah mengizinkannya untuk melihatnya.


"Guru, aku jadi tidak yakin kalau kau benar-benar Pendiri Sekte. Kau lihatkan, Pak Helio yang seorang petinggi Sekte pun tak mengenalimu," ucap Asta lalu tertawa.


Helio pun terkejut mendengar hal itu. Ia tak yakin apakah Asta sedang bercanda dengannya atau memang serius mengatakannya.


"Asta, apa maksudmu..?" Tanya Helio kebingungan dengan obrolan antara murid dan guru tersebut.


"Bukankah Sekte tempatku dan Pak Helio adalah Sekte Kobaran Api Sejati?" Tanya Asta.


"Asta bagaimana kau tahu?" Tanya Helio.


"Guru lah yang memberitahuku. Ia menceritakan tentang perjalanan dan kehidupannya dalam mendirikan sebuah Sekte ratusan tahun silam dengan kekuatannya. Ia berkata sekte tersebut adalah Sekte Kobaran Api Sejati," jelas Asta.


"Anda, apakah anda benar-benar leluhur pendiri..? Tuan Flares sang Dewa Api Kegelapan,," tanya Helio dengan sedikit bergetar kata-katanya.


Tawa Asta pun semakin keras ketika Helio menanyakan hal tersebut pada gurunya. Karena kesal. Flares pun menarik salah satu kupingnya membuatnya berhenti tertawa.


"Aduhh,, Aduhh. Guru, aku minta maaf. Minta maaf," ucapnya.


Setelahnya, Flares pun mengenalkan dirinya. Sebagai sosok Pendiri Sekte dan juga sebagai sosok yang dikenal luas sebagai Dewa Api Kegelapan. Tak lupa, ia juga mengenalkan Zaru. Yang juga merupakan pemimpin salah satu Ras Hewan Kuno, Beruang Bertanduk.


*****


Catatan Surgawi


Nama Benua Atalist di ambil dari seorang kultivator yang pernah menyatukan seluruh dataran pada masa jayanya. Saat ini Benua Atalist terbagi menjadi beberapa wilayah yang masing-masing wilayah mempunyai kekuatan tempur sendiri.


Wilayah terkuat saat ini yang juga merupakan pusat berkumpulnya para kultivator dan dimana Ras Hewan Kuno bernaung di Benua Atalist adalah Gitou, lalu diikuti dengan Kekaisaran Jian Wu, Kekaisaran Han, Kekaisaran Arkhan, Kekaisaran Yun, dan Kekaisaran Hong.


Luas Daratan Gitou, yakni setengah dari Benua Atalist. Didominasi oleh Ras Hewan Ghaib Kuno dan Kultivator tingkat tinggi.


Kekaisaran Jian Wu, Han, Arkhan, Yun, dan Hong memiliki luas wilayah hampir sama.


Selain Daratan Gitou dan 5 Kekaisaran, ada juga negara-negara kecil yang juga termasuk mempunyai wilayahnya sendiri. Kurang lebih ada 6 negara yaitu, Tebing Tinggi, Padang Pasir, Lembah Terkutuk, Tanah Surgawi, Gunung Penempa, dan Tanah Pelindung.

__ADS_1


Negara Tebing Tinggi sendiri didominasi oleh Dark Elf. Negara Padang Pasir dominan Orc. Negara Lembah Terkutuk didominasi oleh Demon, Goblin, dan Werewolf. Negara Tanah Surgawi, wilayah tempat tinggal para Elf. Negara Gunung Penempa adalah tempat tinggal para Dwarf yang terkenal sebagai master Penempa. Dan Negara Tanah Pelindung merupakan sebuah negara yang di kenal juga sebagai pulau manusia ikan.


Kekuatan sebuah negara memang tidak sebanding dengan sebuah Kekaisaran, namun begitu kekuatannya bukan berarti lebih lemah dari sebuah Sekte besar di sebuah Kekaisaran.


__ADS_2