Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch73 Omong Kosong


__ADS_3

Lira melongo melihat Asta yang begitu akrab dengan dua hewan yang ia tahu terkenal kejam dan arogan, bagaimana bisa Asta bersikap seperti itu dengan mereka pikirnya.


Kehabisan kata-kata Lira hanya bisa terdiam melihatnya menegur mereka berdua tanpa rasa takut sedikitpun. Namun Lira sedikit bingung ketika Asta berbicara ke udara dan memanggil-manggil guru, bukan kepada dua hewan tersebut.


“Kepada siapa guru berbicara?” pikirnya heran.


Melihatnya sedang sibuk berbicara dengan mereka Lira pun memutuskan untuk membangunkan walikota Yun dan juga ayahnya yang tak sadarkan diri.


“Kalian berdua benar-benar, mereka baru saja terbebas dari situasi yang sangat buruk dan kalian berdua malah berbuat kekacauan seperti ini?!” teriak Asta kesal memarahi mereka.


Flares mencoba menahan tawa di depannya,“guru juga! Kenapa guru tak menghentikan mereka berdua membuat onar seperti ini, sebelumnya kita sudah merebut ladang mereka bekerja dan sekarang guru malah membiarkan mereka menakuti warga juga?! Bagaimana caraku menjelaskan semua ini?!” Flares pun ikut kena tegurnya.


Karena mereka yang bersalah Zaru, Ace begitupun Flares tak banyak melawannya, mereka menyadari kesalahannya dan membiarkannya terus mengomel.


Lira masih saja mencoba membangunkan mereka yang tak sadarkan diri bahkan setelah Asta selesai mengomel perbuatan Ace dan Zaru.


Para warga pun baru sadar Ace dan Zaru sudah tak lagi mengejar mereka, ia malah terlihat sedang dimarahi oleh orang yang mereka panggil tuan topeng api suci tersebut. Mereka mengernyitkan dahi heran mengapa ia bisa seakrab itu dengannya.


“Apa mereka belum sadar juga?”


“Masih belum. Ayah dan Walikota Yun sepertinya sangat terkejut hingga tak sadarkan diri,”


Melihat Lira yang juga berada di sana para warga pun mulai merasa aneh dengan keadaan tersebut, Yun Shan mengerutkan keningnya dan memberanikan diri untuk berjalan ke arah mereka.


“Groawrr..!!!”


“Ahhh..!!! Lari..!!!”


Yun Shan dan para warga pun kembali berlari ketakutan karena Zaru yang tiba-tiba mengaum membuatnya terkejut.


Refleks Asta pun tersentak dan memukulnya,“apa yang kau lakukan?! Cukup bermainnya!” teriaknya mengomel.


Para warga pun terhenti dan melihat ke arah belakang mereka, lagi-lagi mereka melihat beruang dan serigala itu seperti tak berniat untuk mengejar mereka.


“Ayo kita bersama-sama ke sana! Lagipula ada tuan topeng api suci untuk apa takut!” ujar salah seorang mengajak semuanya untuk memberanikan diri.


Disaat Asta sedang mengomeli Zaru, Ace yang melihat mereka berjalan mendekat tersenyum lebar memamerkan taringnya kepada mereka. Sesekali Ace menjulurkan lidahnya seperti serigala kebanyakan yang sedang ingin memangkas sekumpulan rusa.


Sontak mereka menghentikan langkah bersamaan, melihat taring dan lidahnya tersebut membuat mereka bergidik ngeri sampai-sampai menelan ludah sendiri.


“Ace..!! Kau lagi..?!!” bentak Asta, Ace pun langsung menghentikan aktivitasnya menakuti warga. Kali ini gantian ia yang kena omelnya.


“Kalian semua..!! Cepat kembali dan mengerjakan aktivitas..!! Bukankah masih ada yang harus kalian kerjakan..!!” teriak Asta menyadarkan mereka.


“Tapi tuan...” seseorang berkata dengan nada bergetar sembari menunjuk Ace dan Zaru menggunakan matanya.


“Tenang saja! Ada aku disini kalian aman!” teriaknya sekali lagi.


“Daripada kalian terus disini dan menghiburnya lebih baik kalian pergi dan kerjakan apa yang harus kalian kerjakan sekarang,” lanjutnya berteriak.


“Ahh..!! Benar juga! Kita masih harus membersihkan darah di alun-alun juga mengubur jenazah korban sebelumnya! Ayo kita pergi,”


“Aku hampir lupa!”


“Tuan terima kasih! Berkatmu kami bisa selamat!”


Setelah Asta mengucapkan kata-kata itu mereka pun merasa aman, mereka mulai kembali sadar bahwa masih banyak yang seharusnya dilakukan mereka ketimbang berlarian tidak jelas seperti yang Asta bilang hanya menghibur Ace dan Zaru.


Mereka berbondong-bondong menuju ke alun-alun untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda karena masalah tersebut. Mereka memperhatikan Ace dan Zaru dengan waspada.


“Hehehe..” kekehnya bersamaan membuat mereka semua tersentak hampir berlari.


“Aku masih belum puas hari ini tapi lain hari aku pasti akan bermain-main dengan kalian lagi,” ujaran Ace tersebut membuat mereka menelan ludah bergidik ngeri.


“Diam berarti kalian...”


“Lari..!!!” teriak mereka bersamaan. Asta menepuk dahinya pelan.


Disisi lain Walikota Yun masih belum bangun sedangkan Yao Shen sudah sadarkan diri, awalnya ia sangat terkejut dan ingin segera lari namun Lira menahannya ditempat, mulai menjelaskan hal yang sebenarnya.


“Jadi begitu kejadiannya,,” Yao Shen tersenyum canggung,“maafkan aku, aku terlalu berpikir cepat dan mengira kau ingin mengorbankan kami,” lanjutnya.


“Ini juga kesalahanku karena tak memberitahu siapa yang harus dijemputnya di gerbang kota,” Asta tersenyum malu dibalik topengnya, jika bukan karenanya kejadian itu juga takkan mungkin terjadi.


“Apa ayah masih ingin berlama-lama disini? Orang lain mungkin sudah menunggumu di alun-alun kota,” peringat Lira.


Yao Shen mengerutkan dahinya heran mengapa orang-orang menunggunya di alun-alun, ia pun teringat kembali insiden demon yang menyerang kota.


“Kalau begitu kita harus bergegas menuju ke sana sekarang juga,” ajak Yao Shen pada putrinya namun ia menolak.


“Aku masih harus membangunkan walikota bersama guru, ayah pergi saja sendiri,” ucapnya menolak. Barulah Yao Shen pergi menuju ke alun-alun meninggalkannya di sana.


“Oyy! Bocah! Siapa anak gadis ini mengapa dia memanggilmu guru?” tanya Zaru penasaran.


“Nanti kau pun tahu sendiri,” jawabnya singkat.

__ADS_1


“Perkenalkan namaku Eliza Lira murid dari guru Asta Raiken memberi hormat pada tuan-tuan,” ucapnya memperkenalkan diri.


Asta terkejut sampai tersedak nafasnya sendiri,“apa ia tak mengerti apa itu memberi kejutan?” batin Asta.


Ace dan Zaru saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk, membuatnya penasaran apa yang mereka bicarakan melalui pikiran.


“Kau mempunyai watak dan etika menghormati yang lebih kuat, apa kau yakin ingin menjadi muridnya secara suka rela?” tanya Ace padanya.


“Kau akan kecewa loh nantinya,” ujar Zaru.


Lira kebingungan untuk memahami maksud dari ucapan mereka berdua,“bisakah tuan-tuan ini memberitahuku kenapa aku akan kecewa kalau mengikuti guru?” ucapnya penasaran.


Asta hanya diam memperhatikan tanpa memberi respon apapun, ia hanya ingin tahu apa yang direncanakan dua hewan itu.


“Siapa sebenarnya dia..?”


Asta berbalik ke arah gurunya,“Eliza Lira, sebelumnya ketika aku memasuki kota dia hampir saja dibawa oleh seorang demon, jadi aku menolongnya. Maukah guru membantuku?” ujar Asta menjelaskan pada gurunya, Flares.


Flares tersentak,“apa yang kau katakan? Cari saja orang tuamu mengapa kau meminta bantuan guru?”


“Apa yang guru pikirkan sebenarnya,” Asta menatap tajam matanya, Flares memalingkan wajahnya.


“Muridku asal kau tahu saja, guru bisa saja membantumu tapi bukan hal baik untuk guru karena kau masih mempunyai orang tua yang masih hidup,”


Asta terheran-heran mendengarnya,“guru berpikir apa aku hanya meminta guru untuk membantuku mengajarinya,” jelas Asta.


“Ehh..?! Kau tak ingin menikah?”


“Apa-apaan itu! Aku masih muda guru!”


“Benarkah?!” teriak Lira mengejutkan Asta.


“Sial! Apa yang mereka katakan aku lupa memperhatikan mereka,” batin Asta.


“Kau bisa memastikannya sekarang juga, kami memberitahumu itu karena kami peduli denganmu,” ujar Ace.


“Lira! Apa yang mereka berdua katakan padamu?!”


Lira terdiam dan tersenyum canggung,“apa benar guru suka mengintip seorang gadis ketika mandi?”


Asta terkejut ditodong dengan pertanyaan itu,“omong kosong! Jangan mendengarkan apa yang dikatakan mereka berdua!” ujar Asta.


“Jadi guru benar-benar melakukannya?” tanya Lira sekali lagi.


Flares dan mereka berdua tertawa menikmati hal itu, Walikota Yun sampai terbangun karena suara Asta yang begitu keras membantah pertanyaan Lira.


Lira terdiam seperti orang bingung,“tetap saja guru melakukannya,” ucapnya pelan.


Asta meremas kepalanya pusing,“bajingan ini benar-benar merusak reputasiku, sial!” batinnya.


“Baiklah, baik! Aku memang melakukannya apa kau puas sekarang?!” ujarnya tak membantah hal itu lagi.


Mereka bertiga pun semakin tertawa, bahkan Walikota Yun juga ikut tertawa mendengar pertengkarannya.


“Tuan benar-benar memiliki hobi yang buruk,” komentar Walikota Yun.


“Paman Yun! Kau baru saja bangun dan hanya mendengar setengah ceritanya!”


“Guru! Bisakah kita menikah terlebih dahulu? Dengan begitu aku pun takkan keberatan jika nanti guru melihatku,”


“Cukup! Aku tak mau mendengarkan omong kosong ini lagi! Puas kalian berdua?!” teriak Asta lalu pergi meninggalkan mereka.


Lira berlari mengejarnya,“guru tunggu aku..!!”


-----


“Sungguh kasihan sekali melihat mereka,”


“Andai saja tuan topeng api suci datang lebih cepat mungkin mereka masih bisa terselamatkan,”


“Jangan bicara lagi. Ia sudah datang saja kita harusnya bersyukur, tanpanya mungkin kita semua akan bernasib sama dengan mereka,”


Di alun-alun semua warga ramai-ramai berkerjasama membersihkan noda darah juga mayat-mayat yang bergeletakan disana.


Mereka mengumpulkan data para penduduk yang menjadi korban juga mengumpulkan mayat para demon tersebut.


“Mereka tak layak mendapatkan pemakaman apapun, kita kremasi saja mereka semua,”


“Ya. Demon keparat ini sudah cukup beruntung kita masih mengkremasi mayat mereka,”


Ditengah-tengah mereka yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing Yao Shen datang dengan nafas yang terengah-engah.


“Kau baru sadar?” tanya Raka.


“Ahh iya, maafkan aku. Apakah ada hal yang bisa ku bantu .?” tanyanya.

__ADS_1


“Tentu saja ada. Kita masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan,” jawab mereka.


Disaat mereka sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing seseorang dengan topeng hitam berdiri di atas salah satu bangunan di sekita alun-alun memperhatikan. Sosok itu hanya duduk bersila sembari bersiul pelan menikmati pemandangan orang-orang sibuk tersebut.


“Sepertinya aku sudah ketahuan, sudahlah lagian aku juga tak bisa menghadapinya saat ini. Seseorang dengan 2 Hewan Kuno tingkat tinggi pastinya bukanlah lawan yang mudah,” sosok itu berdiri lalu terbang menjauhi kota tersebut.


-----


“Akhirnya pergi juga,” gumam Asta pelan.


“Apanya yang pergi guru?” tanya Lira penasaran. Nafasnya terengah-engah mengejarnya berlari.


“Kau mengikutiku sejauh ini?” Asta yang terlalu fokus mengejar aura asing yang baru saja ia rasakan tak menyadari Lira mengikutinya dari belakang.


“Guru, apa aku kurang cantik makanya guru menolak untuk menikah denganku? Apa guru benar-benar hanya suka mengintip saja?” ujarnya kembali melangsingkan pertanyaan itu.


“Cukup. Sudah kubilang jangan dengarkan omong kosong Ace dan Zaru. Mereka tak ada baiknya sama sekali,” ucapnya.


“Apa aku jelek?” ujarnya bertanya lagi.


Asta tersentak mendengarnya,“apa yang kau katakan jelas saja kau cantik,” ujarnya geram.


“Kalau begitu menikahlah denganku,” ujarnya sekali lagi.


“Ukh-!! Apa yang sebenarnya ia pikirkan?!” batin Asta.


“Dengar Lira, kau masih muda begitupun aku juga. Aku masih harus melakukan sesuatu untuk guruku, sekarang terserah kau mau mengikuti atau tidak aku takkan memaksamu,” ujar Asta.


Lira menundukkan kepalanya ke tanah,“baiklah kalau begitu, aku akan tetap ikut dengan guru. Tapi awas saja kalau guru berani mengintip ku sekali saja maka guru harus menikahi denganku,” pada akhirnya Lira bersikeras dengannya dan akan ikut kemanapun ia pergi.


Asta menghembuskan nafasnya pelan, ia sungguh ceroboh bisa setuju begitu saja beberapa saat yang lalu.


Asta pun mengajaknya kembali ke kediaman walikota karena ia masih ada hal yang harus ditanyakan padanya.


-----


Dua hari telah berlalu semenjak kedatangan Asta di Kota Permata Biru, suasana keadaan kota mulai kembali memasuki keadaan kota yang normal. Namun untuk mengembalikan kota ke keadaan yang benar-benar normal untuk saat ini masih membutuhkan waktu yang lama.


“Guru! Guru! Kapan guru akan mengajariku sebuah jurus?” Lira tak berhenti bertanya padanya.


Asta menghembuskan nafasnya pelan,“apa kau tak melihatku sedang apa sekarang?”


“Aku tahu! Guru menempa artefak kan?” tebaknya.


“Kalau kau tahu mengapa kau masih menggangguku,” ujar Asta menegurnya.


“Baiklah. Tapi guru harus menepati janji guru kemarin yang lalu, guru sudah berjanji akan mengajariku setelah suasana kota membaik,”


“Ya. Ya. Ya. Jadi tunggulah beberapa saat lagi sampai aku menyelesaikan ini,” ujarnya.


Pada akhirnya Lira pun menurut dan diam menunggu sambil memperhatikannya melakukan proses penempaan.


Saat ini Asta sedang berusaha untuk membuat beberapa pisau lempar, dari informasi yang ia dapatkan ada beberapa perkemahan di sekitar kota yang seharusnya merupakan perkemahan pasukan musuh yang kapan saja akan menyerang mereka.


Karena itulah Asta memutuskan untuk menyelinap ke sana dan membumi hanguskan mereka semua dalam radius ratusan meter di sekitar Kota.


“Guru apa aku boleh bertanya?” ucap Lira di tengah-tengah proses penempaannya.


“Selain pertanyaan yang tak masuk akal aku akan mencoba menjawabnya,”


“Guru aku tahu apa itu proses penempaan tapi setahuku para master penempa kebanyakan menempa material menggunakan tungku api yang besar, sedangkan guru hanya mengendalikan api ini apakah itu mungkin?”


Asta terdiam mendapati pertanyaan tersebut selama sejenak, ia mencoba memikirkan beberapa kata untuk memberitahunya.


“Ini adalah tekhnik spesial yang guruku ajarkan, mungkin kau tak mampu untuk melihatnya sekarang tapi sebenarnya ia ada di sampingmu sedari tadi,” ujarnya.


“Selain guruku tidak ada yang bisa melakukannya dengan sangat baik, dengan tekhnik ini kemurnian artefak akan menjadi lebih tinggi dan lebih baik dari artefak yang setingkat ya,” lanjutnya menjelaskan.


Flares tersenyum mendengarkan muridnya memujinya seperti itu,“tentu saja! Mustahil orang lain bisa melakukannya tanpa arahan dariku,” ucapnya tersenyum bangga.


“Master Guru ada di sampingku?” Lira berpaling ke kanan-kiri,“dimana?” tanya Lira bingung namun ia yakin pada ucapan gurunya karena sering kali gurunya memang berbicara seperti sendirian tapi memanggil-manggil guru.


“Aku disini,” Flares menampakkan dirinya di depan wajah Lira.


Wajah tampan Flares yang tiba-tiba muncul membuat wajahnya tiba-tiba memerah. Ia tak menyangka sosok yang Asta jelaskan sebagai gurunya itu adalah orang yang memiliki paras setampan itu.


“Apa anda Master Guru Flares yang guru jelaskan?”


“Ya. Ini aku. Mulai sekarang karena muridku menyukaimu maka aku juga akan membantumu dalam berlatih,”


Lira tersenyum lebar, Asta merasakan firasat buruk datang begitu cepat di pikirannya.


“Guru ayo kita menikah hari ini juga!”


“Cukup! Jangan beromong kosong lagi!”

__ADS_1


__ADS_2