
Flares terdiam melihat hasil usahanya kini tinggal puing-puing bangunan. Sesuatu yang dulu ia besarkan dan ia jaga kini telah dihancurkan oleh seseorang kawan lamanya.
“Ia pasti berpikir Kitab Dewa Api Kegelapan peninggalan guruku,” gumam Flares.
Waktu berlalu begitu saja, tak terasa Asta sudah berada lebih dari dua minggu berada di reruntuhan Sekte Kobaran Api Sejati. Ia membantu membangun kembali sekte tersebut.
Kabar mengenai hancurnya Sekte Kobaran Api Sejati, menyebar luas dengan cepat melalui jaringan para kultivator pengelana. Diikuti dengan berita andilnya Sekte Tanah Neraka Keabadian dalam pertempuran tersebut. Kematian sepasang kekasih yang merupakan ketua dari dua sekte besar tersebut benar-benar menggemparkan.
5 Pentagram Api serta 3 Dewi Neraka yang dimana setiap anggotanya terkenal dengan kekuatannya yang hanya satu tingkat dibawah 3 Putra Api bahkan tak luput dari catatan korban tersebut.
Dari serangan ini satu Benua Atalist menjadi tersadar dengan kemunculan kembali Tian Wei ke daratan kultivasi.
“Lira, sejauh ini aku penasaran sebenarnya kamu berasal dari sekte besar mana? Kau hampir menyainginya dalam hal kultivasi?” tanya Moegi penasaran.
Kehilangan rekan dan juga sahabat kecil sangat membuat Moegi tertekan. Apalagi mereka terus hidup dan menjalani hari bersama-sama. Begitupun yang dirasakan Asta saat ini melihat beberapa sahabat kecilnya pergi meninggalkannya selamanya.
“Ehh?! Itu aku tidak berasal dari sekte manapun, haha,” Lira kebingungan harus menjawabnya seperti apa.
Kehadiran Lira membuatnya sedikit demi sedikit kembali ke dalam keadaan emosi yang stabil. Hal itu karena Lira terus mencoba menghiburnya sebagai sesama remaja gadis. Jika dulu saat Moegi kehilangan orang tuanya Kesha masih menghiburnya, lalu sekarang Kesha yang bergantian pergi meninggalkannya.
Moegi tak percaya dengan jawaban tersebut, ia yakin setidaknya orang seberbakat Lira pastinya adalah murid dari sekte besar. Asta sendiri meskipun ia tak berlatih di sekte tetap saja ia merupakan murid dari sekte kobaran, meskipun ia tampil dalam ajang turnamen dengan sebagai perwakilan Asosiasi Fajar Merah.
Disisi lain Shiro masih saja termenung di depan makam sahabat serta orang tuanya. Bayang-bayang wajah mereka sebelum terbunuh masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Kehancuran Sekte Kobaran Api Sejati, bagaikan sebuah pertanda akan datangnya badai besar. Sesuatu yang bahkan akan melibatkan seluruh dunia kultivasi.
“Hei! Berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah cara terbaik saat ini,” ujar seseorang mengejutkan Asta yang sedang bersender di bawah pohon.
“Siapa..”
“Hanya orang lewat,” potongnya.
Asta membuka matanya lebar saat melihat ke belakang,“Chen! Kemana saja kau?!” Asta berdiri menghampirinya.
“Aku juga berlatih sama sepertimu, kau pikir aku bermalas-malasan selama ini? Turut berdukacita ya, Tuan Muda,” ucapnya sambil tersenyum.
Ternyata bukan tanpa alasan Chen Hao menemuinya, selain mengucapkan rasa duka citanya. Tujuannya adalah untuk meminta bantuannya, yakni untuk mencarikan sebuah bahan obat tingkat 6, yang mana itu ada di Pegunungan Negeri Terlantar.
“Kau pasti pernah mendengar tentang pertempuran di Negeri Bulan Beku sekitar 5 tahun lalu bukan? Ayahku terluka cukup parah dalam pertempuran tersebut. Selama ini aku berusaha mencari tahu tentang keberadaanmu, aku ingin meminta bantuanmu dalam mencari bahan-bahan obat untuk ayahku. Sampai akhirnya aku mendengar kabar tentang kau yang menyelamatkan Kota Permata Biru,” jelas Chen Hao.
Asta hanya bisa tersenyum canggung mendengarnya, tentu saja Chen Hao takkan pernah menemukannya selama waktu tersebut. Karena ia melakukan pelatihan tertutup di Lembah Obat.
Asta tak menjawab langsung permintaannya, ia memintanya untuk menunggu sebentar sampai semua keadaan di Sekte Kobaran Api Sejati sudah beres.
Chen Hao tentu tak keberatan, asalkan Asta akan membantunya setelah ia menetap di sana paling lambat dua minggu.
Mendengar Chen Hao yang meminta bantuannya untuk pergi ke Pegunungan Negeri Terlantar, Asta tak keberatan sama sekali. Ia justru setuju, tapi ia masih harus ada yang diselesaikan yakni latihan Lira.
Kedatangan Chen Hao disambut dengan sangat ramah dan baik, terlebih semua murid itu tahu siapa Chen Hao. Taki dan Helio bahkan sempat memujinya.
“Kalian berdua benar-benar dua monster yang berjalan,” puji Taki Garaki.
Kejeniusan Taki Garaki dihadapkan dengan mereka berdua sama saja seperti orang biasa, pikir Helio. Apalagi dengan mereka yang bakatnya biasa-biasa saja.
“Apa ada yang tahu Lira kemana?” tanya Asta pada salah satu dari mereka.
Keduanya menggeleng pelan, lalu seorang murid sekte Tanah Neraka Keabadian yang sedang mengobrol dengan murid Sekte Kobaran Api, mengatakan ia melihatnya.
“Senior! Senior! Apa anda mencari gadis pirang yang bersama Senior Moegi?” teriaknya. Ia mengangkat tangannya agar terlihat olehnya.
Pirang? Asta tak yakin itu dia, karena rambut Lira persis seperti dirinya, hitam lekat.
__ADS_1
“Kau yakin hanya ada dia? Aku rasa itu bukan dia. Rambut Lira sama sepertiku, hitam lekat,” ujar Asta.
Sedari tadi Chen Hao dibuat kebingungan dengan sosok yang disebutnya Lira ini. Karena ialah Chen harus menunggu selama dua minggu.
“Sebenarnya siapa gadis yang kau maksud? Apa dia adikmu?” Chen Hao kepalang penasaran.
“Ehh?! Saudara Chen, kan sudah kubilang padamu bahwa aku harus melatihnya terlebih dahulu. Apa kau melupakan ucapanku barusan?” ucap Asta.
Chen Hao tersentak mendengarnya, ia berpikir apa iya Asta pernah mengatakan itu? Tapi setelah dipikirnya tak ada sedikitpun Asta membahasnya kecuali menyebutkan namanya. Seingatnya Asta hanya bilang alasannya meminta waktu adalah Lira.
“Saudara Asta, apa kau ingin aku pukul dengan gagang pedang? Kau tak pernah berbicara tentang itu sama sekali,” ujarnya kesal.
“Ehh begitukah?” ucap Asta sambil terkekeh. Helio dan Taki serta beberapa Tetua yang lainnya menahan tawa mereka.
“Sepertinya kau benar-benar minta dipukul,” ujar Chen mengangkat gagang pedangnya.
Serentak murid sekte kobaran dan tanah neraka, ikut mengangkat senjata mereka.
“Ehh?!! Tunggu-tunggu, mengapa kalian semua ikut mengangkat senjata kalian. Apa kalian ingin menjadikan kepalaku seperti berondong jagung?” ujar Asta.
Semuanya pun langsung tertawa setelah mendengar gurauan tersebut. Meskipun nyatanya Asta benar-benar serius mengatakannya, pikirnya mereka mengangkat senjata untuk ikut memukulnya.
“Tapi Senior! Senior Moegi, memanggilnya Lira. Lalu gadis pirang itu memanggilnya dengan sebutan bibi guru,” ujarnya lagi.
Seketika Asta merasakan firasat buruk saat itu juga,“katakan padaku ada dimana mereka berada sekarang?!” tanya Asta panik.
Helio dan Taki cukup terkejut mendengarnya, sungguh mengejutkan Asta yang masih sangat muda memiliki seorang murid. Bahkan bakatnya pun juga bukan bakat biasa.
Ia pun menunjuk ke salah satu arah, di mana ia melihat Moegi bersama dengan Lira sebelumnya. Tanpa pikir panjang Asta pun langsung bergegas menuju ke sana.
“Sial! Jangan sampai ia mengatakan tentang hal itu kepadanya, atau aku bisa mati dipukulnya,” gumam Asta pelan.
-----
“Bibi Guru! Apa kau yakin aku lebih baik dengan ini warna rambut seperti ini?”
Moegi tersenyum mendengarnya yang masih saja belum percaya dengan penampilannya sendiri,“kamu sudah sangat cantik sebelumnya, ditambah dengan warna rambutmu yang seperti ini kau sangat sempurna,” ujarnya memuji.
Lira hanya tersenyum canggung mendengar pujian itu, bagaimanapun pun ini pertama kalinya ia mengecat rambutnya.
“Sekali-kali cobalah untuk berdandan, kamu ini seorang perempuan,” ujar Moegi masih tersenyum padanya.
Lira masih tertawa kecil,“sebelum bertemu dengan guru aku hanyalah seorang anak perempuan biasa, berdandan dan merias diri itu semacam kewajiban. Tapi setelah bertemu dengannya aku jadi lebih sering berlatih,” Lira pun mulai bercerita tentang masa lalunya.
Ditengah-tengah obrolan mereka berdua, suara teriakan bergema mengejutkan mereka berdua. Begitupun seseorang yang berteriak memanggil Lira.
“Ukhh-!! Sial! Aku lupa!” gumam Asta di dalam hatinya. Ia tahu bahwa di sekitar sana merupakan area kolam air panas alami, akan tetapi ia lupa kalau Lira dan Moegi berada di bagian untuk perempuan, pastinya.
Namun sayang Asta terlambat menyadarinya, ia sudah sampai di sisi kolam air panas. Tepatnya bagian untuk perempuan, matanya terfokus pada Moegi. Buru-buru ia menyilangkan tangannya demi menutupi ***********.
“Guru! Kau benar-benar mesum!” ujar Lira ikut menyilangkan tangannya.
Merasa kesal Lira mengembungkan pipinya dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam air. Hanya menyisakan kepalanya saja, yang menatapnya tajam dengan tatapan kesal.
Secara tak sadar Asta meneguk ludahnya sendiri, memperhatikan lekuk indah tubuh Moegi.
“Mau sampai kapan kau memperhatikannya, hah?!”
Asta tersentak kaget mendengarnya, ia terlalu fokus memperhatikannya sampai melupakannya.
“Ehh?! Memperhatikan apa?” ujar Asta mengelak sambil membuang wajahnya, namun sesekali matanya melihat ke arah tubuh Moegi.
__ADS_1
Moegi masih tak memalingkan wajahnya,“ibu mertua pasti merasa malu di sana, melihatmu menjadi lelaki mesum tak tahu malu,” Moegi asal bicara.
Asta tersentak mendengarnya,“apanya yang ibu mertua? Jangan bercanda! Kita masih hanya seorang teman, tidak lebih!” ujar Asta.
Lira memicingkan matanya,“guru jangan tidak tahu malu dengan pesan yang disampaikan oleh ibu guru kepada guru, bukankah guru harus menjaga bibi guru dengan sangat baik kedepannya?” Lira memicingkan matanya.
Itu memang benar yang dikatakannya, tapi Asta yakin ibunya takkan memikirkan hal itu disaat usianya baru saja menginjak 15 tahun. Ini masih terlalu muda untuknya melakukan hubungan pernikahan, ia bahkan masih ingin berlatih dan mengelana mengelilingi Benua Atalist.
“Senior! Kau dimana?! Jangan bilang kau masuk ke area pemandian wanita ya?!” teriak seorang murid yang sebelumnya sempat memberitahunya.
Asta pun tersentak mendengar seruan tersebut.
“Cepat pergi! Apa lagi yang kau tunggu?” ujar Moegi mengusirnya pergi.
Buru-buru Asta pun berlari meninggalkan pemandian, sebelum Moegi memberinya tinjuan.
Dari pemandian, Moegi dan Lira mendengar suara Asta yang marah kepada murid dari Sekte Tanah Neraka. Karena lupa memberitahunya.
“Bibi guru, kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja?” tanya Lira penasaran.
Moegi lalu tersenyum manis padanya,“mau bagaimana pun ia adalah calon suamiku, tak apa kalau ia melihatku seperti ini sekarang. Aku hanya tak ingin ia melihatmu telanjang seperti ini,” jelas Moegi sambil tersenyum dan pipinya memerah.
-----
“Seharusnya kau memberitahuku kalau mereka sedang di pemandian, apa kau ingin membunuhku?” ujar Asta menceramahinya. Sepanjang perjalanan Asta tak berhenti berbicara, ia terus-menerus mengungkit hal tersebut.
Murid dari Sekte Tanah Neraka itu hanya tersenyum saja, mendengar Asta yang terus-menerus mengoceh tentang ia yang lupa memberitahunya.
“Senior Asta, sungguh lucu. Padahal ia sebenarnya sangat senang akan hal itu,” ucapnya dalam hati, ia hanya senyam-senyum sembari mendengarkan Asta yang masih terus mengomel.
Murid dari Sekte Tanah Neraka ini adalah Shen Zi Tiandu, merupakan seorang anggota Keluarga Besar Tiandu yang memilih berlatih di Sekte Tanah Neraka.
Sekte Tanah Neraka dan Kobaran Api adalah Sekte yang saling beraliansi, hal itu dikarenakan hubungan Patriark Rai dan Matriark Misaki yang saling jatuh cinta. Sampai akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan pernikahan, sehingga terjadilah aliansi antar dua sekte besar ini.
Dari hubungan ini, murid antar Sekte Kobaran dan Tanah Neraka pun menjadi akrab. Bahkan tak jarang para murid melakukan latih tanding demi berbagi pengalaman bertarung, sehingga dalam pertempuran kali ini tak sedikit orang dari Sekte Tanah Neraka Keabadian yang menjadi korban.
Chen Hao mengerutkan dahinya heran melihat Asta yang malah kembali hanya bersama dengan Shen Zi.
“Lapor! Tetua! Aku memergoki Senior Asta sedang mengintip di pemandian air panas area perempuan!” ujarnya langsung memberi laporan pada Helio dan Taki.
“Apa?! Kau?! Kau mengada! Aku mana mungkin melakukan hal memalukan semacam itu!” bantah Asta.
Para murid dan orang-orang yang sedang berkerja langsung tertawa. Aduan Shen Zi membuat mereka tak sanggup menahan tawa. Tak terkecuali dengan Chen Hao, ia ikut menertawakan dan mengejeknya.
“Sungguh fakta tak terduga untuk seorang kultivator jenius muda, yang ternyata hobinya adalah mengintip wanita,” cibir Chen Hao membicarakannya.
“Hei! Saudara Chen! Apa-apaan ucapanmu itu?! Aku tidak melakukannya! Oyy! Shen Zi, apa yang kau katakan?! Cepat katakan kalau kau hanya bercanda!!” teriak Asta panik.
“Tak mengherankan kalau ia yang melakukannya, mungkin ada lebih dari belasan kali ia melakukannya. Aku adalah saksi bisu curhatnya setelah ia melakukan aksi memalukan tersebut,” ujar Zaru tiba-tiba nimbrung.
Asta terkejut mendengarnya,“apa yang kau bilang?! Kapan aku bercerita tentang hal seperti itu padamu?!” Asta membantahnya dan orang-orang terus tertawa.
“Tuan muda! Kau boleh saja mengintip calon istrimu ketika mandi. Tapi biarkan yang lainnya pergi dulu kalau mau melakukannya!” teriak salah seorang pekerja padanya.
“Hei, Tuan Muda! Berhati-hatilah pada seorang wanita! Jangan sampai kau membuatnya cemburu! Apa kau ingin mereka meremas bolamu?!” ujar pekerja lainnya yang kemudian membuat semuanya tertawa.
Seketika Asta pun merasakan mual di perut, setelah mendengar perkataan pekerja barusan. Ia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika bolanya benar-benar Moegi remas.
“Aku akan mati kalau ia sampai melakukannya,” batin Asta dalam hati, Asta menelan ludahnya membayangkan hal itu apabila terjadi.
Alasan kenapa para pekerja dan lainnya terlihat begitu berani bercanda dengannya, adalah karena Asta yang meminta kepada mereka untuk memperlakukannya dengan setara. Ia tak mau ketika orang yang lebih tua darinya malah memperlakukannya dengan tinggi.
__ADS_1
“Ide yang bagus! Sepertinya aku akan mencobanya saat malam pertama kita nanti,” ujar Moegi yang baru saja sampai bersama dengan Lira. Lengkap dengan pakaian mereka yang terlihat elegan.