Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch83 Menyusup ke Markas Musuh


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, seperti yang sudah dijanjikannya Asta akan pergi bersama dengan Chen Hao.


“Guru! Berhati-hatilah saat di perjalanan!”


“Tentu saja. Aku pasti akan kembali dengan selamat,”


Ace dan Zaru tidak ikut, karena harus membantu menjaga keamanan Sekte Kobaran Api Sejati dan Tanah Neraka Keabadian, yang baru saja mengalami kemunduran dalam tingkat keamanan.


“Cepatlah kembali atau jangan pernah kembali lagi,” ujar Moegi. Asta tertawa bingung menanggapinya.


Begitupun dengan Lira, Asta khawatir pada keselamatannya. Maka dari itu Lira pun tak diikutsertakan dalam perjalanan mereka.


Flares cukup terkejut saat Asta tiba-tiba berkata akan pergi ke Pegunungan Negeri Terlantar. Awalnya ia pikir Asta berniat untuk balas dendam. Namun setelah mendengarkan penjelasannya Flares pun mengerti.


“Lagipula kita juga akan pergi ke sana meski Chen Hao tak meminta bantuanmu,” ucap Flares.


Diperjalanan menuju Pegunungan Negeri Terlantar, mereka mendengar suara pertarungan.


“Apa-apaan itu?!” Asta terkejut ketika melihat para manusia yang bertarung satu sama lain.


“Tak semua manusia yang berpikir untuk bersatu melawan para demon. Semenjak dahulu, para pengkhianat selalu ada dan mereka adalah contohnya. Biasanya mereka akan merampok dan menculik manusia untuk diberikan kepada demon, sebagai ganti untuk keamanan diri mereka sendiri,” ujar Chen Hao memberitahunya mengenai sejarah kelam tersebut.


Kini ia tahu mengapa manusia selalu mengalami banyak kekalahan, bukan karena musuh yang terlalu kuat, melainkan karena para manusia itu sendiri.


“Ini adalah keberuntungan kita bisa bertemu dengan sekelompok mereka, jadi dengarkan rencanaku,” Chen Hao menawarkan sebuah rencana, untuk bisa memasuki Pegunungan Negeri Terlantar tanpa bersusah payah.


“Kau paham bukan apa yang kujelaskan?” tanya Chen memastikan.


“Tentu,” jawabnya singkat.


Di saat mereka baru saja melangkahkan kaki, seseorang muncul dari belakang mengangkat pedang ke leher mereka berdua.


“Kalian pikir mau kemana? Sayang sekali aku takkan membiarkan satu pun dari kalian lolos,” ujarnya.


Asta dan Chen Hao tersenyum tipis sembari mengangkat tangan ke atas. Rencana mereka berhasil, yakni menyerahkan diri dan berpura-pura menjadi bagian dari para pedagang itu.


“Syukurlah kalian berdua mengerti. Memang ada kalanya menurut demi melanjutkan hidup. Hahahaha...” ucap pria itu lalu mengikat tangan mereka berdua.


Pria ini hanyalah kultivator petarung, bukan hal sulit bagi mereka berdua untuk mengalahkannya. Namun ketimbang mengalahkannya sekarang Chen lebih memilih memanfaatkannya, agar bisa masuk ke wilayah Pegunungan Negeri Terlantar dengan mudah.


Mereka berdua diangkat dan dimasukkan kedalam kereta, bersama dengan orang-orang lainnya yang juga menjadi korbannya.


“Angkut semuanya! Cepat! Kita tak mempunyai banyak waktu di sini!” teriak salah seorang, yang sepertinya adalah ketua dari kelompok tersebut.


Setelah beberapa saat kemudian mereka bergerak, menuju ke tempat yang mereka tuju.


Asta bisa melihat dengan jelas wajah keputusasaan mereka, ia hanya bisa merapatkan giginya menahan emosi tersebut.


“Tahanlah emosimu, kita masih harus menahan diri sekarang. Setibanya di sana, kau boleh membunuh mereka semua semaumu,” Chen Hao mengingatkannya untuk tetap menahan diri.


“Mana mungkin aku akan membiarkannya bukan?” jawab Asta pelan.


Selama perjalanan jeritan anak-anak dan gadis-gadis muda tersebut benar-benar mengusik ketenangannya. Ia sudah tak sabar untuk menunggu dan menyelamatkan mereka.


Selama 3 hari perjalanan, setiap mereka memutuskan untuk berhenti dan beristirahat, orang-orang ini benar-benar tak memberi mereka makan sama sekali. Asta dan Chen Hao mungkin tak merasakan apa-apa, tapi bagaimana dengan para pedagang, anak-anak, gadis dan pemuda ini bertahan? Mereka hanyalah orang-orang biasa.


Jika bukan karena Chen Hao yang terus-menerus mengingatkannya, Asta mungkin sudah melepaskan ikatan ditangannya dan memenggal kepala mereka semua.


Setelah satu minggu kemudian, akhirnya mereka pun sampai di perbatasan antara Pegunungan Negeri Terlantar dengan Negeri Tanah Api Suci. Di depan gerbang belasan demon dan werewolf berjaga di depan gerbang masuk.


“Hormat kepada tuan-tuan! Kami Regu 3 Darah meminta izin pada tuan sekalian untuk membiarkan kami masuk!” ucap 3 orang kultivator jiwa yang tampaknya adalah pimpinan kelompok tersebut.

__ADS_1


“Hahahaha.... Aku mencium banyak sekali aroma manis daging dan darah manusia. Sepertinya kalian membawa banyak kali ini,” puji mereka atas kinerja kelompok tersebut.


“Tentu saja. Kami selalu memprioritaskan orang-orang yang masih muda, seperti yang para tuan minta. Mana mungkin kami mempersembahkan pria tua yang hampir mati untuk para tuan-tuan yang terhormat,” ujar salah satu pemimpin mereka berusaha menjilat penjaga tersebut.


“Hahahaha... Kalian sungguh menarik. Keluarkan mereka semua sekarang, aku benar-benar penasaran dengan kinerjamu,” ucap sang ketua penjaga.


“Semuanya! Turunkan mereka semua! Paksa mereka berbaris!” perintahnya.


Mereka yang masih sadar menolak untuk keluar, tapi sayangnya sang pemimpin kelompok ini tetap memaksa mereka bahkan menarik dan menyeretnya hingga keluar. Asta dan Chen Hao tak menolak sama sekali bahkan berjalan dengan sangat nurut.


Tak peduli mereka yang tak sadarkan diri, sang ketua kelompok mencambuk mereka hingga terbangun.


Melihat kekejaman serta perlakuan kasar yang mereka lakukan selama ini, benar-benar membuat emosinya naik semakin tinggi.


“Sekarang, kau boleh melakukannya,” ujar Chen padanya.


“Apanya yang...” belum sempat salah satu pemimpin mereka menyelesaikan ucapannya, pedang Asta sudah melewati tempat dimana seharusnya kepalanya berada.


Asta saat ini sudah berdiri dengan pedang iblis malam di tangannya.


“Sekarang akulah yang tak akan melepaskan kalian semua,” ucap Asta pelan sembari melepaskan domain Dewa Penghancur.


Seketika semua anggota kelompok 3 Darah terjatuh dalam diam, begitu juga dengan para demon dan werewolf penjaga tersebut.


Harapan para demon dan anggota regu 3 Darah adalah sang ketua penjaga, yang merupakan seorang Tetua Suci. Namun ketika melihatnya tertunduk tak berdaya juga, seketika mereka ketakutan.


“Aku mohon padamu, tuan pahlawan! Ampunilah kami! Kami hanya bekerja secara terpaksa! Kami benar-benar tak berniat untuk melakukan penculikan seperti ini!” ucap pemimpin regu yang lainnya memohon ampun.


Tanpa bicara Asta melangkah dan memenggal kepalanya,“hidup hanya sekali, seharusnya kalian mengerti maksud dari pepatah itu,” ucapnya pelan sembari mengibaskan pedangnya.


“Kau sungguh berani membuat kekacauan di daerah kami, hah?! Bocah?!” ucap sang ketua penjaga.


Lagi dan lagi Asta tak mempedulikan ucapan mereka sama sekali,“aku adalah seorang kultivator yang menapaki jalan surgawi. Kau pikir hanya karena ini wilayah kalian aku takut untuk berbuat sesuatu disini?” ucapnya lagi.


Di saat Asta sibuk membunuh anggota 3 Darah satu persatu, salah seorang werewolf hendak memecahkan batu giok darurat secara diam-diam. Namun sayangnya, Chen Hao mengetahuinya.


“Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukannya?” ucapnya yang tiba-tiba muncul di hadapan werewolf tersebut.


Seketika ia tak merasakan lagi tangannya, werewolf itu berteriak kesakitan setelah mengetahui tangannya sudah terpotong oleh pedang iblis langit.


Hanya butuh belasan menit untuknya membunuh mereka semua. Meskipun pada dasarnya Asta menyelamatkan mereka, tapi mereka takut terhadapnya. Terlebih ia membunuh mereka tanpa mendengarkan apapun yang mereka katakan.


“Apa kau sudah puas sekarang?” ujar Chen Hao padanya.


Asta menyarungkan kembali pedangnya,“selama aku belum menyatukan benua ini dalam satu-kesatuan, aku tak akan merasa puas,”ujarnya sembari memasukkan kembali pedangnya ke dalam cincin.


“Satu-kesatuan? Kau bercanda? Semua ras hidup dengan ideologi mereka sendiri. Kau pikir para demon dan ras kuno akan menganggap kita setara dengan mereka?” ujar Chen Hao bertanya padanya.


Asta berjalan ke arah orang-orang yang baru saja ia selamatkan, tanpa basa-basi dan banyak kata Asta mengeluarkan makanan dan minuman untuk dibagikan pada mereka.


“Jika mereka tak menganggap kita setara, maka aku hanya perlu menundukkan kepala mereka. Jika si tua Liu Shan Shi saja mampu menyatukan Benua Atalist, lantas mengapa aku juga tak mencobanya?”


Semua orang yang berada di sana mendengarkannya terkejut dengan ungkapannya. Tak terkecuali Chen Hao.


“Kau gila?!” timpal Chen Hao langsung berdiri.


Asta mengerutkan dahinya,“hah? Aku serius mengatakannya, kau pikir aku sedang bergurau?” ujar Asta.


Para mantan tawanan yang saat ini sedang mengisi perut, menghentikan aktivitas mereka secara bersamaan. Raut wajah mereka seakan ketakutan bolak-balik memandang Asta dan makanan yang ia berikan.


“Tak perlu khawatirkan hal itu. Makanan yang ia berikan takkan berdampak pada keselamatan kalian,” ujar Chen Hao menenangkan mereka. Setelah itu mereka pun melanjutkan kembali makan.

__ADS_1


Asta semakin heran dengan hal itu,“apa yang kalian pikirkan? Kalian pikir aku meracuni kalian?” ujarnya bertanya-tanya.


“Tidak ada waktu lagi. Kau pasti sudah mulai merasakan sensasi terbakar pada organmu kan? Kita harus buru-buru mencari Bunga Kristal Embun Beku, sebelum itu menyebar ke seluruh tubuhmu. Biasanya Bunga Kristal Embun Beku selalu hidup berkelompok, jadi aku pasti akan membaginya untukmu juga,” ujar Chen Hao mengajaknya pergi.


Dahulu kala pada 5000 tahun yang lalu, saat di mana Kaisar Atalist masih hidup. Saat di mana sang Kaisar Atalist baru saja menyatukan seluruh ras daratan ini dan memberikan nama daratan ini sebagai Benua Atalist.


Kaisar Atalist atau Liu Shan Shi pernah menyerukan pantangannya bagi siapapun yang berdiri di atas Benua Atalist untuk tidak menyebutkan nama aslinya. Atau akan dijatuhi hukuman surgawi yakni, Racun Api Darah yang akan membakar organ tubuh hingga mati. Yang mana penawarnya sangatlah sulit untuk ditemukan yakni, Bunga Kristal Embun Beku.


Pada awalnya tak banyak yang percaya, begitupun dengan orang yang membencinya diam-diam. Hingga kemudian, hanya dalam hitungan minggu banyak sekali orang-orang yang mati karena Racun Api Darah tersebut. Yang mana penyebab utama kematian adalah karena mereka menyebutkan nama asli sang Kaisar Atalist secara langsung.


Hingga hari itu orang-orang pun tak pernah berani untuk menyebutkan namanya, sekalipun ia sudah menghilang sejak 3000 tahun yang lalu.


Asta masih belum mengerti apa yang sedang Chen Hao bicarakan. Lagipula ia tak merasakan apapun pada organnya.


“Chen! Aku tak membutuhkan Bunga itu, lagipula aku tidak kenapa-kenapa. Apa yang kau khawatirkan?” Asta bingung mengapa Chen Hao tiba-tiba berkata akan membaginya tanaman obat tersebut.


Chen Hao tak menjawabnya, ia hanya memaksanya untuk segera bergegas. Sedikit bingung Asta pun menurutinya.


“Menyebutkan namanya adalah sebuah pantangan, jadi jangan sekali-kali kau menyebutkannya secara sembarangan lagi. Kali ini kau mungkin beruntung karena kau adalah murid guru,” ujar Flares padanya. Semenjak ia bersama dengan Chen Hao, Flares hampir tak pernah menunjukkan dirinya.


Setelah Flares menjelaskan kisah itu Asta pun mengerti, mengapa Chen dan orang-orang itu tiba-tiba ketakutan.


“Jaga diri kalian baik-baik..!!” ujar Asta.


Chen Hao mengerutkan keningnya, pikirnya mengapa Asta sangat peduli sekali pada orang-orang itu? Tapi meski begitu Chen Hao tak menyalahkan perbuatannya.


Setelah satu hari berlari, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah kota Goblin. Sebelum memasuki kota Chen Hao berpesan kepadanya, agar menundukkan kepala dan tidak melihat keadaan seisi kota secara langsung. Mereka lalu mengenakan topeng untuk menutupi wajah mereka berdua.


Dua goblin penjaga menghadang mereka dengan tombak.


“Tunjukkan identitas kalian!” pinta mereka berdua.


Mereka pun mengeluarkan giok identitas yang sebelumnya mereka dapatkan, yakni giok identitas anggota 3 Darah. Setelah itu mereka berdua pun mempersilahkan mereka masuk.


“Pergilah ke kediaman penguasa kota, mereka pasti menunggu kalian di sana,” ujarnya, akan tetapi Asta dan Chen Hao hanya membalasnya dengan mengangguk.


Setelah memasuki kota, banyak sekali pemandangan yang tak ingin Asta lihat. Budak manusia terlihat dimana-mana, Asta melihat banyak pemuda yang dijadikan tunggangan serta anak-anak yang diperlakukan layaknya anjing peliharaan.


Emosinya semakin memuncak, ketika ia melihat jejeran gadis yang diikat tanpa busana di atas papan-papan. Gadis itu dijadikan tontonan, bahkan tak sedikit yang menjadikannya sebagai pemuas nafsu birahi mereka. Karena ia sudah berjanji pada Chen Hao untuk tak mencari masalah, ia hanya bisa menggigit bibir melihat semua hal itu.


Tepat saat mereka berdua melewati tempat tersebut, belasan goblin datang sambil membawa gadis-gadis lainnya. Mereka berteriak dan menjerit menolak untuk dibawa ke sana.


Belasan gadis itu menangis dan menjerit dengan keras, namun goblin itu tak mempedulikannya. Ia hanya buru-buru menyeretnya untuk membawanya ke sana.


Asta tak bisa lagi menahan emosinya, namun sebelum ia mengeluarkan pedangnya Chen Hao sudah lebih dulu menghilang dari pandangan. Belasan goblin yang menyeret gadis-gadis tersebut seketika kehilangan kepalanya.


“Chen! Kau...”


“Apa kau tidak apa-apa?! Katakan padaku! Apa mereka menyakitimu?!” Chen Hao langsung melepaskan ikatan mereka lalu meraih tangan salah satu gadis.


Asta tak tahu siapa gadis tersebut, tapi dilihat dari Chen Hao yang bertindak gegabah hanya karena dirinya sudah pasti Chen Hao mengenalnya.


“Karena semuanya sudah berantakan, maka aku pun takkan menahan diri lagi,”


Asta mengeluarkan pedang iblis malam, tanpa basa-basi ia langsung mengayunkannya ke arah goblin di sekitarnya.


“Chen, itu kau..?” tanya gadis itu memastikan.


“Hmm.. ini aku. Tunggulah sebentar, aku akan membunuh mereka semua yang menyakitimu, Xia,” pesannya.


Gadis yang dipanggil Xia itu mengangguk mengerti, bersama gadis-gadis yang lainnya ia berdiam diri di tempat.

__ADS_1


“Saudara Chen Hao! Aku mengandalkanmu untuk menjaga mereka! Aku akan melepaskan dua domain dewa sekaligus! Kita tak bisa membiarkan satu orang pun lolos dari kota ini!” teriak Asta.


“Namaku adalah Hao Chen!” ujar Chen sembari ikut mengeluarkan domainnya, Domain Teratai Surgawi. Salah satu tekhnik area yang ia kembangkan berdasarkan bimbingan dari ayahnya sendiri, Hao Ryun.


__ADS_2