Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch40 Langit Kelam


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Chen Hao dan juga Paman Hao banyak hal yang dapat ia pelajari dari mereka, matanya kembali terbuka mengingatkannya kembali akan tujuannya untuk menjadi lebih kuat.


"Akhirnya kembali juga," ucap Zaru yang sepertinya sedang menunggunya.


"Ehh, apa kau- Ukhh-!!!"


"Bruuaakkk..!!!"


Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba Zaru menendangnya hingga menabrak dinding. Asta pun bergegas untuk kembali bangkit. Menghindari serangan Zaru yang selanjutnya.


"Apa-apaan ini...?!! Bisakah kau menjelaskan alasanmu menyerang ku terlebih dahulu..!!!" Teriak Asta sambil terus berusaha menghindar dari serangannya.


"Sepertinya ini masih belum cukup untuk membuat mu sadar akan kesalahanmu," ucap Zaru kemudian meningkatkan kecepatan serangannya.


Kali ini benar-benar tak lagi bisa menandingi kecepatan serangannya tersebut, pukulan dan tendangan Zaru mendarat dengan mulus di tubuhnya.


"Sepertinya dinding Asosiasi ini terbuat dari bahan yang bagus kalau tidak mungkin seharusnya bangunan ini sudah hancur berantakan," gumam Zaru melihat kekokohan dinding tersebut yang tak hancur bahkan setelah berkali-kali Asta menabraknya.


Zaru pun mulai kembali melancarkan serangannya, namun tak seperti sebelumnya kini ia benar-benar menggunakan Tombak Penghancur Semesta untuk menyerangnya.


"Oyy! Apa sebenarnya yang terjadi mengapa kau sampai berniat ingin membunuhku seperti ini!" Teriak Asta.


Zaru tak mempedulikannya sama sekali dan terus menyerangnya dengan serius.


"Oyy..!! oyy..!! oyy...!! Yang benar saja..!!! Apa kau berniat untuk membunuhku....?!!!" Teriak Asta terkejut melihat Zaru yang semakin cepat mengayunkan Tombak Penghancur Semesta.


Asta bergegas untuk menghindari tusukan tombak tersebut, akan tetapi Zaru tak berniat untuk memberinya waktu beristirahat sedikitpun, serangan demi serangan terus ia lancarkan.


"Apa kau masih belum sadar..?" Tanya Zaru sambil terus menyerangnya.


"Sadar apa..?!!!! Kau pikir aku sedang hilang kesadaran, hah...?!!!" Balas Asta menjawabnya.


"Duaarrr....!!!!"


Asta pun melongo melihat efek serangan Zaru ia benar-benar masih belum menyadari maksud dari pertanyaannya, kenapa ia terlihat sebegitu ingin membunuhnya?


Serangan-serangan Zaru semakin cepat dan meningkat, dinding Asosiasi yang terlihat kokoh pun hancur berantakan tak mampu menahan kekuatannya.


'Apakah ia benar-benar ingin membunuhku? Tapi karena apa? Tidak-tidak, jikalau ia ingin membunuhku harusnya aku sudah terbunuh sedari tadi, dengan kekuatannya bukan hal sulit untuk menikamku menggunakan tombaknya. Jelas-jelas ia hanya ingin menekanku agar aku mengatakan sesuatu, tapi apa itu,' gumam Asta di dalam hatinya.


"Bisakah kau memberiku kesempatan untuk berpikir, kalau begini terus lalu bagaimana caraku bisa mengingatnya," seru Asta.


Tetap saja Zaru terlihat tak peduli dengan ucapan tersebut dan terus mengayunkan tombaknya dengan niat membunuh tanpa jeda.


'Cihh...! Tidak ada cara lain,' merasa putus asa tak punya cara lain selain menghadapinya, Asta berniat untuk menggunakan sesuatu yang baru saja ia dapatkan jika memang tak ada cara lain.


"Akhhhhh---!!!!! Sakit-!!" Erang Asta setelah menahan ujung tombak Zaru menggunakan telapak tangannya.


"Menahannya...? Dengan kemampuan rendahmu itu...? Hahahaha...!!" cibir Zaru terhadapnya.


"Berhentilah mengoceh, sialan," ucap Asta kesal sembari mengeluarkan Pedang Iblis Malam dari dalam cincinnya, tak peduli meski akan terjadi sesuatu pada dirinya sekalipun Paman Hao telah menyampaikan padanya untuk tidak gegabah, namun ia sudah terlanjur tak memiliki pilihan lain selain menggunakannya.


Asta juga mengeluarkan pedang Penebas Langit dari cincinnya dan menggunakan dua pedang tersebut dikedua tangannya, aura pedang Iblis Malam yang memancar deras keluar merubah pedang Penebas Langit miliknya juga mengalami perubahan menjadi pedang hitam, tak hanya itu aura Pedang Iblis Malam juga menyebar menutupi seisi ruangan.


"Kau-!! Darimana kau mendapatkannya..?!!" Teriak Zaru terkejut melihat pedang yang Asta gunakan tersebut karena ia tahu siapa orang yang seharusnya memilikinya.


"Yahh meskipun aku belum pernah mempelajari tekhnik bertarung menggunakan dua pedang, akan ku coba," ucapnya sambil memandangi 2 pedang hitam ditangannya tak mempedulikan Zaru yang sedang bertanya.


'ukh-! Sial..!! Pantas saja Paman Hao melarangku menggunakannya. Aku harus cepat, kalau tidak pasti akan sangat berbahaya bagi kesehatan mentalku,' gumam Asta di dalam hatinya menyadari efek samping dari pedang Iblis Malam yang merusak kesadarannya.


Tanpa membuang waktu lebih banyak Asta pun maju menyerang mengabaikan teriakan-teriakan Zaru.


"Dasar bodoh...!!!! Apa kau ingin menjadi gila....!!!" Teriak Zaru melihat Asta tak meresponnya sama sekali.


***


Di ruangan lain,


"Seratus dua puluh ribu dua kali...!!!!"


"Seratus dua puluh ribu tiga kali...!!!!"


"Zirah Sisik Naga Langit tingkat 5 terjual seharga seratus dua puluh ribu keping emas. Selamat untuk pembeli di meja 15," teriak Manager Row mengumumkan pemenang dari lelang tersebut.


"Baiklah mari kita ke barang lelang selanjutnya. Untuk barang selanjutnya,,,,,," Manager Row pun terdiam menghentikan ucapannya setelah merasakan adanya penekanan aura yang menyebar di ruangan tersebut.


"Aura ini...!!!! Mustahil...!!"

__ADS_1


"Jangan-jangan..!!! Manager akan melelang artefak itu,"


"Apa sang Tuan Pemburu Iblis telah pensiun, sehingga mempercayakan senjatanya kepada Manager Row untuk dilelang,"


Aula pun menjadi begitu riuh, semua orang mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang barang selanjutnya.


'Setelah menyebabkan masalah yang memicu sebuah pertempuran dua faksi sekarang dia datang kemari dengan tiba-tiba, bahkan tanpa mengabariku terlebih dahulu,' gumam Manager Row didalam hati sambil menghela nafasnya pelan.


Manager Row pun mengangkat salah satu tangannya dan meminta para tamu agar diam sejenak.


"Maaf, semuanya, karena ada tamu tak terduga lelang ini akan kami tunda dalam beberapa saat. Dimohon para tamu dapat menunggu dengan tenang demi penebusannya, aku, sebagai Manager dari Asosiasi Fajar Merah, akan memberikan kalian sesuatu yang bisa dinikmati selagi menunggu. Untuk itu aku undur diri sejenak," ujar Manager.


"Baik Manager. Kami akan menunggu mu,"


"Siap Manager,"


"Mana mungkin kami akan keberatan jika anda yang memintanya, Manager. Kami pasti menunggumu,"


Ujar orang-orang berantusias menjawab seruan Manager tersebut. Kini tak lagi ada orang-orang yang mempertanyakan apakah Pedang Iblis Malam akan menjadi barang lelang selanjutnya karena jika dilihat dari sikap Manager Row, mereka bisa tahu bahwa sang pemilik pedang tersebut tengah berkunjung ke Asosiasi.


***


"Hooooiiiiii..!!!! Bocah..!! Cepat masukkan lagi pedang tersebut. Apa kau benar-benar ingin menjadi gila..!!!" Teriak Zaru memperingatinya.


Asta terus mengayunkan pedangnya tanpa peduli, sedikit demi sedikit aura Pedang Iblis Malam mempengaruhi mentalnya. Hingga membuatnya menjadi seperti orang kesetanan yang mengayunkan pedangnya secara acak.


"Tekhnik Roh Sejati, Tebasan Membara 2 Pedang,"


"Tekhnik Roh, Lingkup Ruang. Ruang Lingkup Tersegel,"


Sesaat sebelum Asta melancarkan serangannya Manager Row dan Flares pun datang menghentikannya.


Menggunakan Tekhnik Rohnya, Manager Row pun mengunci pergerakannya, sedangkan Flares datang untuk mengambil pedang tersebut dari tangannya.


Manager Row sempat terkejut begitu pula dengan Flares. Mereka berdua tak mengira bahwa Asta lah yang tengah menggunakan pedang tersebut.


Asta pun langsung tak sadarkan diri setelah 2 pedang itu terlepas dari genggamannya. Flares pun memasukkan kembali pedang tersebut ke sarungnya. Dengan begitu aura yang terpancar keluar pun langsung memudar.


"Pedang ini bahkan telah berubah menjadi pedang yang lain, Iblis Malam benar-benar membuat pedang Penebas Langit miliknya bermutasi menjadi pedang hitam yang mempunyai sifat sama dengan Iblis Malam. Penebas Langit bukan lagi nama yang cocok untuknya, Langit Kelam lebih cocok ketimbang nama itu sekarang. Pedang ini benar-benar meningkat menjadi Artefak Roh tingkat 5," gumam Flares melihat pedang Penebas Langit kini sudah berubah menjadi Langi Kelam.


Meski banyak sekali pertanyaan yang ingin Manager Row tanyakan ia hanya bisa menunggunya hingga tersadar kembali. Ia pun berpesan kepada Masternya dan Zaru untuk memberitahu jikalau Asta sudah terbangun. Ia pun kembali ke aula untuk melanjutkan pelelangan.


Zaru pun tertawa canggung mendengar ucapan Flares,"kalau kau tanya padaku lalu aku bertanya pada siapa..?" Ujar Zaru.


"Dasar kau ini, lagipula sebentar lagi identitasnya akan terbongkar juga. Jadi tak perlu juga kau sampai sebegitunya terhadapnya, yang sudah terjadi biarlah berlalu untuk masalah pedang ini, mungkin akan kita tanyakan padanya setelah ia bangun nanti," ucap Flares.


***


Beberapa saat sebelumnya, tepat setelah Asta pergi meninggalkan Hao Ryun.


"Paman, kemana tuan muda. Kenapa ia tak ada," tanya Chen Hao selepas kembali dari membeli minum.


"Ehh,, dia sudah pulang, katanya ia masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan," balas Hao sambil tersenyum.


"Ahh, jadi begitu ya padahal aku ingin bertanya lebih kepadanya," ucap Chen pelan.


"Ehh,, memangnya bertanya apa?" Tanya Hao penasaran.


"Aku ingin bertanya padanya mengenai cara agar bisa menjadi seorang kultivator sepertinya, meski kecil kemungkinannya untuk menjadi kultivator hebat, tapi setidaknya aku ingin bisa hidup tanpa diskriminasi terus-menerus seperti ini. Aku ingin membalas kebaikan paman, juga tuan muda yang telah menyelamatkanku. Sayangnya sekarang tuan muda sudah pergi dan aku pun tak lagi mempunyai kesempatan untuk bertanya akan hal itu," jelas Chen.


"Ehh, Chen Hao sudah besar ya rupanya. Kalau begitu, kenapa kau tak menanyakannya padaku?" Ujar Hao sambil tersenyum menggodanya.


"Paman, berhentilah menggodaku, lagipula memangnya apa yang paman tahu soal berkultivasi," balas Chen.


Paman Hao pun tersenyum kearahnya, "kau akan tahu nanti, sebelum itu mari kita tinggalkan tempat ini, anakku. Tempat ini sudah tak lagi layak untuk kita tempati," ucapnya pelan.


"Pindah lagi? Kemana?" Tanya Chen Hao penasaran.


"Menuju puncak kultivasi," ujarnya lalu memegang lengan kanan Chen Hao, keberadaan mereka pun menghilang seketika, seolah-olah mereka berdua memang tak pernah ada di sana.


***


Asta mulai membuka matanya memperhatikan langit-langit kamar tersebut.


'Dimana ini?' gumamnya didalam hati.


Perlahan ia bangkit dari tidurnya, seketika rasa sakit mulai menyerang kepalanya dan meremas kesadarannya. Berusaha menekan rasa sakit tersebut.

__ADS_1


'Akh! Kepalaku..sakit sekali..' erangnya di dalam hati.


Sesaat kemudian, pintu kamar pun terbuka. Memperlihatkan seorang pelayan datang membawakan sesuatu untuknya.


Melihat Asta yang tengah mengerang kesakitan, sang gadis pelayan yang baru saja masuk buru-buru menaruh nampan di meja dan membantunya untuk kembali berbaring.


"Tuan muda sebaiknya anda tidak banyak bergerak lebih dulu, karena akan mempengaruhi proses penyembuhan anda," ucap Pelayan tersebut mengingatkan.


"Maaf, maaf, aku hanya tak sabar untuk bisa berjalan keluar lagi," ucap Asta terkekeh pelan.


"Tuan muda aku kemari atas perintah dari Manager untuk mengantarkan makanan ini apa tuan muda ingin memakannya sekarang?" Tanya si pelayan.


"Kebetulan perutku juga sudah meminta jatah makannya, bisakah kau membantuku untuk duduk?" Pinta Asta si pelayan pun langsung membantunya untuk duduk.


Pelayan itu mulai mengambil makanan dan menyuapkannya pada Asta. "Aku bisa sendiri," ucapnya langsung mengambil sendok makanan tersebut darinya, pelayan pun tertawa pelan melihatnya yang malu-malu.


"Apakah ini Asosiasi Fajar Merah? Jam berapa sekarang," tanya Asta di sela-sela makannya.


"Tuan muda sepertinya anda lupa, bukankah aku sudah mengatakan bahwa yang menyuruhku menemuimu adalah Manager Row. Tentu saja ini di Asosiasi Fajar Merah, sekarang baru saja pukul 11," jawab Pelayan tersebut sambil tersenyum.


"Ahh,,, iya juga, hahaha," ucapnya lalu tertawa.


Sesaat kemudian datang seseorang lainnya, rupanya itu adalah Zaru. Dengan tubuh kecilnya tersebut ia langsung melompat dan mendarat tepat di perut Asta setelah melihatnya sudah sadarkan diri.


"Kupikir kau belum bangun juga," ucapnya sambil terkekeh.


"Tuan Zaru apa yang baru saja anda lakukan..?!" Teriak gadis pelayan itu panik namun ia sendiri tak berani menghentikannya karena tahu bahwa ia tak akan mampu menahannya.


Gadis pelayan pun buru-buru menutup mulut Asta yang menganga lebar sebelum isi dari perutnya keluar kembali. Gadis pelayan kemudian mengambil air minum dan segera meminumkannya sehingga isi perutnya kembali turun.


"Apa yang kau lakukan?!! Apa kau tidak bisa melihat keadaan!!" Teriak Asta kesal, karenanya ia hampir saja mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Zaru hanya tertawa menanggapinya sama sekali tak membalas ucapannya. Gadis Pelayan itu pun hanya bisa tersenyum canggung melihat keakraban mereka berdua meskipun sebelumnya mereka telah melakukan pertarungan yang luar biasa. Gadis pelayan pun pergi membawa piring kotor setelah Asta menyelesaikan makannya.


Selama beberapa saat tak ada perbincangan diantara mereka mengakibatkan ruangan pun terasa begitu sunyi dan sepi, seseorang datang memecahkan kesunyian tersebut.


"Bagaimana dengan kondisimu, Asta?" Tanya Manager Row menunjukkan raut wajah khawatir.


"Aku baik-baik saja Manager, hanya saja kepalaku masih sangat sakit dan aku belum bisa banyak bergerak," balas Asta.


"Asta, ambil dan telanlah pil ini, serap dengan baik kandungan dari pil itu dengan maksimal," ujar Manager Row memberinya sebuah pil penyembuh untuknya.


Asta pun mulai menelan dan menyerap intisari pil tersebut, hanya dalam beberapa menit tenaganya sudah terisi kembali dan rasa sakit di kepalanya juga sudah ikut menghilang. Asta pun bangun dan mencoba melakukan gerakan sederhana untuk mengecek apakah masih ada yang salah pada bagian tubuhnya.


"Pil level 3 saja seampuh ini dan sekarang aku sudah bisa kembali bergerak. Terima kasih Manager atas semua bantuannya," ujar Asta berterima kasih padanya.


"Kalau begitu bisakah kita mulai pembicaraannya, Asta," ujar Manager Row.


Asta pun menganggukan kepalanya,"Tentu,"


"Baiklah, mari kita mulai pada pertanyaan pertama, alasan apa yang membuatmu sampai menggunakan tekhnik Roh dan memperlihatkan tato Roh mu di tempat umum..?" Tanya Manager.


"Itu aku tidak mempunyai alasan tersembunyi apapun, kurasa karena aku sedang kesal karena pada saat itu aku dan Chen Hao hendak memasuki salah satu restoran di kota, akan tetapi seorang penjaga menghalangi kami untuk masuk,"jelas Asta.


"Siapa yang berani menghalangimu, bukankah kau juga mempunyai Giok dari ku mengapa kau tak menggunakannya," tanya Manager.


"Ahh, saat itu aku hanya merasa kalau aku menggunakannya setelah membuat masalah di toko-toko kecil itu hanya akan memperburuk reputasi asosiasi. Itulah mengapa aku tak menggunakannya," jelas Asta sambil terkekeh pelan.


"Apa, kau juga bahkan menindas orang-orang biasa..?!" Tanya Manager Row terkejut.


"Apa-apaan dengan pertanyaan itu tentu saja bukan seperti itu..!!" Ujar Asta mengelak karena tentu ia memang tak melakukannya dengan niat menindas mereka.


"Lalu apa..?!" Tanya Manager memaksanya menjawab.


"Mereka menindas seorang anak kecil, anak kecil itu hanya satu tahun lebih muda dariku tentu aku tak tega saat orang-orang dewasa itu membiarkannya hampir mati. Lagipula aku memberikan kompensasi atas roti-roti yang Chen Hao ambil dari tokonya," ujar Asta menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Lalu kejadian di restoran Wan Xeng?" Tanya Manager.


"Sudah ku bilang bahwa seorang penjaga menghalangiku untuk memasuki restoran, sudah begitu ia memancarkan aura untuk menekanku agar menurutinya. Karena itu aku memukulnya agar tersadar dengan siapa dia berbicara. Aku hanya lebih tidak suka lagi saat ia memanggilku Chen Hao temanku sebagai gelandangan," ucap Asta menjelaskannya.


Manager Row menepuk keningnya sambil menggeleng pelan. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Asta akan melakukan tindakan gegabah hanya demi seseorang yang bahkan tak ia kenali.


"Memangnya apakah perlu melakukan itu hanya demi seorang anak gelandangan? Yang kutahu Chen Hao anak itu hanyalah gelandangan," Tanya Zaru kini gantian bertanya.


"Jika aku tak melakukannya maka sama saja aku mengkhianati pondasi kultivasi ku sendiri. Alasan ku memilih jalan sebagai kultivator adalah untuk menolong yang lemah serta melindungi orang-orang yang ku sayangi. Jika ada seseorang yang tengah di diskriminasi di hadapanku sudah pasti aku akan menolongnya," jelas Asta.


"Baiklah lupakan permasalahan ini, lalu pertanyaan selanjutnya darimana kau dapatkan Pedang Iblis Malam, apakah kau tahu siapa pemilik asli dari pedang tersebut?" Kini Manager Row yang bertanya lagi padanya.

__ADS_1


"Masalahnya aku tak tahu gelar seperti apa yang ia punya di dunia kultivasi ini, namun begitu bukankah ia saudara seperguruan, Manager? Dialah seseorang yang membesarkan Chen Hao sedari kecil hingga sekarang, Chen selalu memanggilnya dengan sebutan Paman Hao. Ia hanya pernah sekali memberitahuku namanya, Hao Ryun, dan nama asli Chen Hao sendiri adalah Hao Ryun,"


__ADS_2