
-----
“Entah sudah berapa lama waktu telah berlalu. Tanpa dirimu dan dunia rasanya membosankan,” ucap Asta Raiken 25 tahun, di depan sebuah kuburan.
-----
Asta, Ace, Taki, Zaru serta Lira bergegas menuju ke Sekte Kobaran Api Sejati secepat mungkin untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ace terlihat sangat panik dan marah namun di sisi lain wajahnya menunjukkan ketakutan yang sangat besar. Seolah-olah ada sesuatu hal yang mengganggu ketenangannya.
“Ace! Apa yang terjadi?!” tanya Asta panik mengikutinya dari belakang bersama dengan Taki.
“Dua Sekte Besar saat ini sedang bersatu dan tengah melakukan pertempuran di Kota Api Suci,” ujar Ace.
“Dia datang! Keparat itu!” Ujar Zaru memasang ekspresi wajah penuh dendam. Ia mempercepat langkahnya bersama dengan Ace.
Taki mengernyitkan dahinya heran mengapa reaksi mereka berdua yang seperti itu,“sebenarnya ada masalah apa kali ini,” batin Taki.
Dengan kecepatan lari mereka dalam waktu setengah jam kemudian mereka tiba di Kota Api Suci yang sudah menjadi medan pertarungan. Taki Garaki langsung mengenali mereka hanya dengan melihat jubah yang mereka kenakan. Persis seperti yang dikatakan Ace dalam perjalanan bahwa mereka tengah beraliansi.
“Asta! Kau bisa bertarung kan?!” Taki bersiap mencabut pedangnya.
“Tentu!” balas Asta yang juga sudah bersiap dengan pedang Iblis Malam di pundaknya.
“Transformasi Sempurna, Rajawali Awan Api,”
Tanpa pikir panjang Taki Garaki langsung bertransformasi dengan roh hewannya dan langsung memasuki medan pertempuran. Pertempuran yang melibatkan sekte kobaran api dan sekte tanah neraka melawan pasukan demon dan sekutu-sekutunya.
“Cukup menarik!” ucap Ace dan Zaru melihatnya.
“Senior Taki sepertinya memiliki sesuatu yang sangat hebat sehingga bisa menjadikan seekor hewan kuno menjadi roh hewannya,” ucap Asta pelan tersenyum dibalik topeng yang sudah ia kenakan.
“Lira! Kenakan topengmu!” teriak Asta.
Entah sudah berapa lama pertempuran ini berlangsung namun jika dilihat dari kerusakan pada kota bisa diketahui ini sudah terjadi sejak beberapa jam.
“Kalau bisa bereskan mereka dengan cepat yang ada disini! Juga berhati-hatilah!” peringat Flares.
Asta mengayunkan pedangnya membunuh dua demon ranah jiwa dalam sekali tebasan. Murid dari Sekte Kobaran Api Sejati dan Tanah Neraka Keabadian dibuat terkejut oleh kedatangannya.
“Jangan khawatir! Aku datang bersama dengan Senior Taki Garaki untuk membantu kalian!” teriak Asta.
“Terima kasih! Senior!” ucap mereka serentak.
Kedatangannya bersama dengan Taki membuat banyak dari mereka yang terkejut. Disisi lain Ace dan Zaru terus berlari menuju ke Sekte Kobaran Api Sejati daripada ikut bertarung melawan para kroco-kroco tersebut.
“Lira! Kau turun disini dan bergabunglah dengannya. Ingat! Jangan jauh-jauh darinya!” peringat Ace. Lira pun mengangguk mengerti dan langsung turun dari punggungnya memberikan serangkaian serangan pada mereka. Seperti yang dilakukan olehnya Lira ikut mengumumkan bahwa kedatangannya untuk membantu mereka.
Kedatangan Asta beserta Taki dan Lira benar-benar meringankan beban para murid tersebut yang kesulitan menghadapi jumlah mereka. Nyatanya Lira tak menuruti apa yang yang Ace perintahkan untuk tetap berada di sekitar Asta dan malah berpencar ke arah yang lain, begitupun Asta dan juga Taki yang berpencar di penjuru kota.
Meskipun jumlah musuh yang menyerang kota ini terlalu banyak namun yang paling tinggi ranahnya hanyalah ranah senior. Sehingga bukanlah hal sulit bagi mereka bertiga untuk menghabisi mereka dengan cepat.
Bertransformasi ataupun tidak adalah sebuah pilihan bagi mereka namun Asta tetap tak menggunakannya untuk bertarung melawan mereka. Asta hanya melepaskan domain dewa api kegelapan untuk menekan pergerakan mereka dan melakukan serangkaian tebasan membara yang menghanguskan belasan orang sekaligus.
“Sepertinya ayah dan ibu sedang mendapatkan masalah! Aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini dan membantu mereka!” gumam Asta pelan.
Di luar kota seseorang baru saja datang dan ikut bergabung dalam pertempuran tersebut. Asta bisa merasakan setidaknya orang itu tidak lebih lemah daripada Taki Garaki.
“Mereka yang berani menyerang rumahku maka harus terima konsekuensinya!” pria paruh baya itu melompat sembari memutarkan pedangnya melakukan gerakan tarian pedang.
Cara bertarungnya yang melompat dan berputar-putar memainkan pedang tanpa takut melukai diri sendiri membuatnya langsung dihindari oleh para demon, goblin, werewolf juga reptilia di sekitarnya. Mereka tahu kalau seseorang yang bertarung leluasa dengan cara gila seperti itu bukanlah orang biasa.
“Tetua Helio?!”
__ADS_1
“Pak Helio?!”
“Senior?!”
Asta dan Taki begitu juga dengan para murid dua sekte terkejut hanya setelah merasakan aura keberadaannya. Disisi lain Helio pun sedikit terkejut merasakan aura mereka dari kejauhan bahkan sebelum sampai di kota.
Para penyerang itu pun mulai semakin tertekan dan dipojokkan pada situasi dimana mereka tak punya pilihan selain lari. Namun tentu saja para murid takkan membiarkan mereka melarikan diri begitu saja.
“Bunuh mereka! Jangan biarkan satupun lolos!” teriak seorang murid.
Pertempuran menjadi semakin intens dan menggebu-gebu. Bunyi dentingan pedang dan senjata yang saling beradu terdengar dimana-mana. Lima belas menitan kemudian akhirnya mereka berhasil membunuh semua musuh yang ada di kota.
“Simpan pertanyaan apapun! Kita harus bergegas menuju ke sekte!” ujar Helio mengajak mereka bergegas menuju ke sekte.
“Kalian bereskan kekacauan ini dan cari apakah masih ada yang tertinggal,” perintah Helio.
“Baik Tetua! Berhati-hatilah!”
Pandangan Helio terfokus pada Lira yang sangat asing sekali baginya. Ia belum pernah mendengar sedikitpun tentangnya sama sekali. Namun karena situasi sedang begini jadi ia tak bisa menanyai identitasnya sekarang.
“Booommmm..!!!!”
Sebuah bunyi dentuman besar diiringi dengan munculnya dua Hewan Kuno Iblis Neraka dan Beruang Bertanduk setinggi puluhan meter.
Pandangan mereka berempat tertuju pada dua sosok tinggi besar yang berada tak jauh di depan mereka.
Lira bahkan sempat terkejut sejenak melihat Zaru yang berubah menjadi tinggi besar namun penampilannya berubah dengan tubuh berbulunya menjadi batu bermagma.
“Zaru..!!! Mari kita akhiri pertempuran kita yang tertunda...!! Hahahahaa..!!!” ujar Iblis Neraka tertawa.
“Aku pastikan kau akan mati di ujung tombak ku..!!” balas Zaru penuh amarah di setiap katanya.
Dua makhluk luar biasa tinggi besar itu saling beradu pukulan dan serangan yang menimbulkan hempasan angin sangat kuat di langit. Awan-awan terbelah dan burung-burung beterbangan menjauh.
Terlihat sosok yang lebih kecil melompat dari bawah dan memukul tengkuk iblis neraka itu. Meskipun ukurannya tak sebanding namun ternyata cukup membuatnya terdorong hanya dengan satu pukulannya. Ia adalah Ace yang sudah bertransformasi menjadi manusia serigala.
“Namaku Ace sekarang! Keparat!” balas Ace sambil mengayunkan pedang ke arahnya.
Didepan Asta sesosok perempuan cantik dengan pakaian serba merah berdiri menghadang langkah mereka. Sekali kibasan tangannya ledakan api merah mendorong mereka kembali mundur ke belakang.
“Ternyata kau orangnya. Benar-benar mengejutkan melihatmu bisa meningkat secepat ini hanya dalam waktu 5 tahun,”
Asta dan Lira tak mengenali siapa sosok gadis tersebut. Namun dilihat dari wajah terkejut Taki dan Helio bisa diyakini gadis ini bukanlah orang biasa begitulah yang Asta pikirkan.
Sosok gadis yang menghadang langkah mereka tak lain adalah Rosalina. Wajahnya tersenyum penuh dengan kemenangan melihat mereka berempat.
“Melihat kalian berempat yang berada di sini tampaknya pasukan kami yang di kota sudah tidak ada lagi. Tapi sayangnya kalian terlambat! Hahahahaha...!!!” ucapnya lalu tertawa.
“Apa maksud perkataanmu?!” ujar Asta kesal.
“Ahh! Jadi kau ya orangnya. Kau ingin tau maksudku? Lebih mudahnya aku kemari berniat untuk menjemput sisa pasukan yang ada di kota akan tetapi nampaknya kalian sudah selesai membunuh mereka,” ucapnya lalu tertawa.
Rosalina mengambil sebuah batu komunikasi,“operasi...” belum selesai ia berbicara mereka berempat maju menyerang tanpa menunggu lagi. Mereka berhasil mengenai namun Rosalina tiba-tiba melebur menjadi api merah sehingga serangan tersebut tak berefek apa-apa.
“Telah selesai..” ucap Rosalina melanjutkan kata-katanya.
Tak menyerah mereka melakukan serangan sekali lagi dan hal yang sama pun terjadi. Sembari apinya mulai padam di udara Rosalina memasang wajah penuh senyum ke arah Asta.
“Sebenarnya aku sangat ingin sekali bertemu dan bertarung secara langsung denganmu. Tapi mungkin hari ini bukan saatnya jadi sampai jumpa, sayang,” ucapnya lalu hilang.
Diikuti dengan hilangnya Rosalina Iblis Neraka tertawa terbahak-bahak sembari mengejek Ace dan Zaru yang tak bisa mengalahkannya sekalipun mereka sudah bertarung bersama. Dalam helaan nafas selanjutnya ia pun juga memudar dan menghilang dari pandangan menyisakan Zaru dan Ace di pundaknya.
Firasat buruk menghampiri pikiran Asta dengan sangat cepat. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung bergegas menuju ke tempat dimana seharusnya Zaru bertarung. Zaru pun juga ikut kembali menyusut ke ukuran semula.
__ADS_1
“Guru! Ada apa?!” teriak Lira terkejut melihat Asta tiba-tiba berlari. Ia pun mengejarnya dari belakang. Helio dan Taki pun ikut bergegas mengikutinya dari belakang.
-----
“Sial..!!”
Zaru mengumpat kesal karena iblis neraka itu pergi dan lolos darinya. Disisi lain Ace sedang panik memeriksa Haru dan Eni yang terlihat tak sadarkan diri.
“Paman! Bibi! Kumohon bertahanlah!” ucap Ace panik sembari menggoyang-goyangkan pipi mereka berdua.
“Uhuk-!! Asta.. dimana ia.. Ace..” tak jauh dari mereka berdua Rai Ken terlihat terluka parah dengan luka pedang di sekujur tubuhnya.
Rai Ken mencoba untuk bangun dan memeluk Misaki yang juga sekarat disampingnya. Air mata mengalir deras dari mata mereka berdua. Ace hanya menunjuk ke satu arah.
Helio Utake dan Taki Garaki terkejut melihat kehancuran yang terjadi pada sekte kobaran api sejati. Bahkan tak hanya itu mereka juga menemukan pakaian anggota sekte tanah neraka keabadian juga sekte danau biru dan sekte-sekte menengah serta kecil lainnya yang ikut menjadi korban.
Asta terus mencari ayah dan ibunya sedangkan Lira mencari Ace dan Zaru. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian Asta pun menemukan keberadaan mereka yang tak berjauhan.
Hatinya terasa disambar petir melihat keadaan ayah dan ibunya yang mungkin takkan bisa diselamatkan lagi. Asta berlari ke arah mereka sambil bertanya dalam hatinya kepada Flares apakah mereka masih bisa disembuhkan atau tidak. Flares ingin sekali menghiburnya akan tetapi kenyataannya berkata lain, Rai Ken dan Misaki tak bisa diselamatkan.
“Ayah! Ibu! Maafkan aku!” ucapnya sambil memeluk mereka berdua dengan erat. Air matanya menetes tak terhentikan.
Rai dan Misaki pun langsung memeluknya sembari ingin mengucapkan beberapa kata terakhir padanya.
“Asta ibu bangga bisa melihatmu menjadi pemuda yang hebat. Jaga Moe baik-baik,” ucap Misaki sambil memeluknya erat.
“Jadilah tegar. Ayah percayakan semuanya kepadamu, Asta,” ucap Rai Ken.
Selesai mengucapkan kata-kata terakhir, Rai Ken dan juga Misaki menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pelukan putranya.
Tangisan dan teriakan pilu memenuhi langit Sekte Kobaran Api Sejati yang kini hanya tinggal puing-puing. Ditambah dengan situasi banyaknya orang yang tergeletak kehilangan nyawanya dalam pertempuran ini membuat situasinya menjadi sangat menyedihkan.
“Tian Wei..!!! Dengan saksi Jalan Surgawi aku bersumpah..!!! Aku akan mati jika aku tidak membunuhmu dalam waktu sepuluh tahun dengan pedangku sendiri..!!!”
“Jedaarrr...!!!!”
Sebuah petir turun dari atas langit menyambar ke daratan seperti pertanda Jalan Surgawi telah menerima sumpah pemuda tersebut.
Semua pasang mata tertuju menyaksikan seorang pemuda pemberani yang mengucapkan sumpah mati dengan Jalan Surgawi yang menjadi saksinya. Sesuatu yang bahkan tak banyak orang berani lakukan dengan sembarangan.
Para murid Sekte Kobaran Api Sejati dan Tanah Neraka Keabadian baru saja sampai ketika Asta selesai mengucapkan sumpahnya. Tak pernah mereka duga sosok tuan muda dua sekte besar yang selama ini identitasnya disembunyikan, ternyata adalah seseorang yang pernah hadir di turnamen seni bela diri.
Tak ada salah satu dari mereka yang bersuara dengan kencang karena takut mengganggu waktu berdukanya. Sekalipun Lira biasanya tak takut mengganggunya tapi kali ini ia bahkan tak berani untuk memanggilnya seperti biasa. Jadi mereka hanya mendiamkannya tanpa memberikan sepatah kata pun.
Melihat Helio yang hendak berjalan ke arahnya Taki langsung menghentikan langkahnya.
“Senior, sepertinya ini bukan waktu yang tepat,” ucapnya sambil menggeleng pelan.
Helio tersenyum membalasnya,“aku hanya tak ingin melihat seorang pemuda pemberani terjatuh dalam jurang kesedihan untuk waktu yang lama,” ucapnya.
Helio berjalan dan duduk tenang di belakangnya,“bukankah ini adalah yang kedua kalinya..? Apa kau ingin terjatuh dalam kesedihan mendalam..? Bagaimana dengan kepercayaan ayahmu itu..?” ucap Helio tanpa basa-basi langsung memberinya berbagai pertanyaan.
“Kau bilang kau ingin membunuh dewa sekalipun yang menghalangimu bukan? Kalau begitu berdiri! Tunjukkan kemampuanmu! Apa kau hanya membual?!” ucap Helio mulai mengeraskan suaranya.
“Kita harus bergegas mempersiapkan pemakaman mereka berdua serta yang lainnya. Jadi aku harap kau bisa menunda kesedihanmu terlebih dahulu, lebih bagus kalau kau bisa mengubahnya menjadi rasa semangat seperti kau yang dulu,” ujar Helio lalu berdiri.
“Semuanya! Periksa siapa saja yang masih hidup dan bisa diselamatkan! Kita harus sesegera mungkin mengobati mereka yang masih bisa diselamatkan!” teriak Helio memberi perintah kepada para murid tersebut.
“Baik!”
-----
Pemakaman pun telah selesai. Kekuatan Sekte Kobaran Api Sejati dan Tanah Neraka Keabadian berkurang lebih dari setengahnya. Korban jiwa hampir delapan puluh ribu orang yang mati dalam insiden tak terduga.
__ADS_1
Asta termenung di depan makam ayah dan ibunya, di samping mereka ada juga makam Haru dan Eni yang juga tampaknya korban dari bencana tersebut.
Tak jauh darinya terlihat Moegi dan Shiro yang sedang berdiri menatap kosong tiga makam di depan mereka. Dari mereka berlima Zaraki Onoki, Kesha Timber juga Gao Li gugur dalam pertempuran ini.