Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 014 Singa Bulu Biru (revisi)


__ADS_3

"Sekarang juga?! Apa kau benar-benar sudah yakin ingin menjadi Hewan Roh ku, Ace?" tanya Asta.


"Ya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya, lagipula dengan menjalin Kontrak Perjanjian Roh bersamaku, kau juga akan mendapatkan timbal balik yang besar dan tentunya itu akan berdampak positif bagimu," jelas Ace.


Asta merasa bingung tentang efek timbal balik yang dimaksudkan, tetapi ia bisa merasakan bahwa Ace tidak bercanda tentang hal ini.


"Aku tak akan memberitahumu apa yang akan kau dapat selain teknik Pelepasan Roh Hewan Ghaibku. Kau akan mengetahuinya sendiri setelah kita melakukan Kontraknya," ujarnya lagi.


Ace mulai menjelaskan tata cara melakukan Kontrak Perjanjian Roh secara singkat. Pada dasarnya, Kontrak Perjanjian Roh dilakukan dengan cara saling menyalurkan Esensi Roh masing-masing dan mengukirkannya di pikiran satu sama lain. Kemudian, keduanya menuliskan syarat kontrak dalam satu lembar kertas. Jika keduanya setuju dengan persyaratan yang dituliskan, langkah selanjutnya adalah memberikan cap darah di tiap sudutnya oleh kedua pihak dan mengajak Hukum Surgawi untuk menjadi saksi.


"Meskipun satu sama lain sudah mengukir Esensi Roh mereka, namun jika ada salah satu yang tak setuju dengan persyaratan, maka Kontrak Perjanjian Roh bisa dibatalkan. Namun, jika masing-masing pihak meminta persyaratan yang berbeda untuk Kontrak Perjanjian Roh, prosesnya bisa berlanjut tanpa harus mengulangi tahap pengukiran Esensi Roh," jelas Ace.


Asta mengangguk paham akan penjelasan itu, "Baiklah, kalau begitu biarkan aku mencobanya padamu," ujarnya pada Ace.


"Apa kau pikir aku apa, hah?! Dasar bocah nakal! Kontrak Perjanjian Roh bukanlah sesuatu yang sepele! Jika Kontrak Perjanjian Roh telah tercipta, masing-masing dari kita akan terus terikat satu sama lain sampai salah satu dari kita mati atau sampai batas waktu yang telah ditetapkan dalam persyaratan kontrak," ujar Ace sambil mendelik.


"Ahh, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu akan hal ini," ucap Asta meminta maaf.


"Kontrak Perjanjian Roh itu adalah hal yang sakral. Hewan Ghaib yang telah menjadi Hewan Roh tak semuanya bisa kembali menjadi Hewan Ghaib. Jika kedua belah pihak mengajukan persyaratan Kontrak Perjanjian Roh seumur hidup dan kemudian salah satunya mati, maka yang masih hidup akan menerima sangsi dari Hukum Surgawi. Kultivasinya akan berhenti di tahap itu selamanya sampai mati. Karena itulah sangat jarang Hewan Ghaib atau Kultivator yang mengajukan Kontrak Perjanjian Roh seumur hidup," jelas Ace mengenai sangsi Hukum Surgawi tersebut.


Sekali lagi, Asta menganggukkan kepalanya, mengerti. Banyak hal baru yang ia ketahui, salah satunya adalah alasan mengapa kebanyakan Hewan Ghaib begitu arogan dan tak mau menjadi Roh Hewan seorang Kultivator, yang ternyata memiliki alasannya.


"Baiklah, sekarang aku benar-benar mengerti alasan mengapa para Hewan Ghaib membenci para Kultivator. Meskipun aku belum bertemu dengan mereka secara langsung, selain dirimu, aku punya gambaran bahwa alasan mereka memang masuk akal dalam hal ini," ujar Asta.


"Hei Nak, asal kau tahu, orang yang pertama kali menemukan metode ini adalah leluhur kalian, para kultivator manusia. Karena dulu kami tak pernah berniat melakukan hal semacam ini dengan kalian, karena kami percaya akan kemampuan kami sendiri. Namun sekarang zaman telah berubah, aku yang awalnya percaya pada kemampuanku sendiri, sekarang membutuhkanmu," jelas Ace.


Asta pun tersenyum ke arahnya, merasa Ace memberinya kepercayaan lebih. Dari cerita Ace, Asta bisa merasakan sedikit penderitaan Hewan Ghaib yang mungkin ada beberapa yang menjadi Hewan Roh kultivator karena terpaksa.


Pada awalnya, Ace juga hanya tertarik dengan Esensi Roh miliknya dan hanya ingin memanfaatkan Asta untuk kepentingannya. Ia berniat hanya membuat Kontrak Perjanjian Roh sementara sampai urusannya selesai. Namun setelah mengenal Asta sejauh ini dan hidup bersamanya, Ace pun berubah pikiran; ia ingin terus menemaninya sampai ke puncak kultivasi.


"Lalu, kapan kita akan memulainya?" tanya Asta.


"Kita mulai sekarang," jawab Ace.


Flares hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang kadang akur, kadang seperti bermusuhan. Namun justru karena itulah yang membuat keduanya semakin akrab satu sama lain.


"Jangan khawatirkan apapun. Guru akan menjaga proses kalian," ujar Flares.


---


Dua hari telah berlalu sejak Asta dan Ace berhasil melakukan Kontrak Perjanjian Roh. Karena Ace membodohi Asta untuk tetap memegang kertas kontrak, Asta pun tersambar petir surgawi.


Meskipun mereka belum sampai ke tujuan, Flares tak memberikan Asta keringanan sedikit pun. Ia kemudian menyuruh Ace untuk menyamarkan auranya agar mereka bisa menemukan Hewan Ghaib yang akan menjadi teman latihan Asta.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka menemukan seekor Singa Bulu Biru peringkat 4 yang akan menjadi target latihan Asta hari ini.


"Buagh!" terdengar suara Asta terlempar menabrak pohon.


"Guru! Bukankah ini berlebihan?! Meskipun Kontrak Perjanjian Roh dengan Ace mendorongku hingga ke puncak ranah ahli, namun singa ini masih terlalu kuat untukku, dan aku tak yakin bisa mengalahkannya!" protes Asta.


Namun Flares, yang sedang menyisir rambut panjangnya, tak peduli dan mengabaikannya, sedangkan di sisi lain, Ace terus meledeknya.


"Bocah Nakal! Apa kau tak ingin tahu rahasia di balik desa tempatmu lahir itu? Kalau kau ingin, aku bisa memberitahumu," ujar Ace lalu tertawa.


"Aku sudah tahu hal itu setahun yang lalu saat aku tak sengaja mendengarkan obrolan antara Kenshin dan yang lainnya. Kudengar tempat itu merupakan salah satu wilayah tersembunyi milik Sekte Kobaran Api Sejati, dan suatu hal besar akan terjadi pada desa," ujar Asta tanpa tertarik.


Ace membuka matanya lebar, terkejut tak menyangka bahwa Asta sudah mengetahuinya,"Lalu apa hal besar yang akan terjadi itu? Apa kau tahu?" tanya Ace sekali lagi.


Namun, karena terlalu asyik meladeni Ace yang terus mengajaknya berbicara, Asta kembali mendapatkan serangan dari singa tersebut.


"Jika kau ingin memberitahu, cepat katakan, jangan membuatku kesulitan!" teriak Asta.


"Kalahkan Singa Bulu Biru itu dulu, baru setelahnya kan kuberitahu," ujar Ace.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Asta pun merasa kesal,"Kalau begitu sebaiknya kau simpan saja sendiri! Jangan ganggu aku!" teriaknya, yang hanya dibalas dengan tawa Ace.


Asta pun buru-buru menghindar. Tanpa diduga, ternyata singa tersebut mampu melepaskan meriam api biru dari dalam mulutnya.


"Sial..!! Aku meremehkannya!" gumam Asta pelan melihat bajunya sedikit terbakar.


"Cepat kalahkan singa itu. Kita tak perlu membuang-buang waktu di sini. Kita harus segera berangkat!" seru Ace kembali mengganggunya.


Mendengarkan teriakan tak sabarnya itu, Asta pun berbalik meneriakinya,"Kalau begitu kau yang turun dan hadapi dia!" teriaknya kesal.


Ace tertawa terbahak-bahak melihat Asta terpancing emosi. Bukannya berhenti, malahan Ace kembali mengganggu konsentrasinya.


"Mana kemampuan dari seseorang yang katanya mengaku sebagai seorang jenius? Mencari kelemahan seekor singa peringkat 4 saja tidak mampu, lalu di bagian mana yang bisa disebut jenius itu. Hahahahaha!" sindir Ace padanya.


Asta pun berdecak pelan,"Maafkan aku. Waktuku untuk bermain-main denganmu sudah habis. Kau lihat kan? Mulut sialannya takkan berhenti selama keinginannya tak terpenuhi," ujar Asta pada singa tersebut, menyindir Ace.


Asta menerjang untuk melakukan serangan, menggunakan pukulan yang diperkuat oleh Seni Surgawi Peremuk Raga. Namun, tak satupun yang dapat mengenainya. Gerakannya yang gesit membuatnya sedikit sulit untuk dipukul.


Melihat segala usahanya yang dilakukannya sia-sia, Singa Bulu Biru itu menyeringai sombong, meremehkannya. Namun, sebaliknya bagi sang singa, mendaratkan serangannya bukan hal sulit.


"Sialan! Apa kau meremehkanku?!" teriak Asta kesal karena merasa diremehkan. Apalagi, Ace tertawa terpingkal-pingkal melihat itu semua.


Meskipun sadar bahwa serangannya tampaknya sia-sia, Asta tak kehilangan semangat. Ia mencoba melakukan pelepasan roh untuk memperkuat daya serangannya serta meningkatkan kecepatannya dengan menggunakan sumber surgawi.


Pada akhirnya, lama-kelamaan, Asta pun berhasil mendapatkan kesempatan untuk melancarkan pukulannya. Namun, saat tinjunya mengenai kulit singa, tangannya seakan memukul baja. Bahkan dengan api esensi rohnya, kulit dan bulu singa itu tak terbakar sama sekali.


Asta meneguk ludahnya sendiri tak sadar menyaksikan ketangguhan singa tersebut. Pukulan yang saat waktu dulu dapat menyebabkan ledakan api, bahkan tak berefek sama sekali.


"Ini! Benar-benar mustahil! Paling tidak, aku bisa menciptakan ledakan area dengan penguatan ini, tapi baginya itu semacam tepuk?! Daya tahan tubuh yang luar biasa!" Batin Asta, melihat serangannya benar-benar tak berefek, sekalipun ia mengenainya.


Singa itu semakin sombong dan merasa tak terkalahkan dengan daya tahan tubuhnya. Asta kewalahan menghadapinya karena tak hanya serangannya yang kuat, pertahanannya pun tak kalah hebat.


"Jika terus seperti itu, kau takkan pernah bisa mengalahkannya. Bisa jadi, kau lah yang akan dikalahkan olehnya," terus mencibir Ace padanya.


Maka pilihan yang bisa Asta ambil adalah mengambil langkah sulit, yaitu langsung mempelajari kontrol aura dalam satu gerakan berhasil untuk menahannya sejenak dan memberikan pukulan fatal dengan memaksakan menambah potensi pada kontrol rohnya. Atau mengambil risiko dengan memaksakan menambah potensi kontrol rohnya dari awal, lalu secepat mungkin menghabisinya, namun dengan efek samping kalau gagal, Asta bisa terbunuh karena setelah memaksakan diri, pasti sumber surgawinya langsung terkuras kering.


Namun, menurutnya, opsi kedua yang terpikirkan itu cukup berisiko tinggi baginya untuk terbunuh, sedangkan opsi yang pertama, jika Asta gagal mempelajari kontrol aura dalam satu gerakan, setidaknya Asta tidak akan kehabisan sumber surgawi. Jadi, ia pun memilih opsi yang pertama.


Asta mengingat kembali halaman kedua Kitab Dewa Api Kegelapan yang belum lama ini ia pelajari, yang mana merupakan catatan tentang pemahaman kontrol aura.


"Seni Surgawi Dewa Hitam! Area Dewa Api Kegelapan."


Asta melepaskan gelombang aura ke sekitarnya, menciptakan area yang dapat meningkatkan kekuatannya sendiri. Meskipun demikian, Asta tak benar-benar menciptakan areanya sendiri karena pemahamannya terhadap seni surgawi di halaman kedua masih belum cukup.


Singa Bulu Biru itu tak membiarkannya begitu saja, ia lalu mengaum dengan keras, menciptakan gelombang energi yang memecah aura yang baru saja Asta berusaha ciptakan. Tak hanya itu, auman singa itu menghempaskan Asta hingga jauh ke belakang, dan burung-burung serta hewan-hewan lain berhamburan kemana-mana.


Asta memuntahkan darah dari mulutnya,"Uhuk! Uhuk! Bajingan ini menyembunyikan kemampuan yang sebenarnya," gumam Asta pelan.


Serangan tersebut tak hanya menghancurkan area yang Asta ciptakan, namun juga mengacaukan lautan sumber surgawinya hingga membuatnya kehilangan kendali atas pelepasan roh dan peremuk raga.


Rencananya benar-benar gagal total. Untuk menstabilkan kembali lautan sumber, ia membutuhkan waktu beberapa menit. Meski begitu, kehilangan waktu satu detik saja bagi seorang Kultivator bisa menjadi penentu antara hidup dan mati dalam pertarungan.


"Karena kulihat kau kewalahan menghadapinya, aku akan memberimu sedikit arahan," ujar Ace sambil tertawa meremehkannya.


"Lima menit. Itu adalah waktu yang kau perlukan untuk menstabilkan kembali lautan sumbermu. Saat sudah habis waktunya, segera lakukan pelepasan hewan roh," ucapnya.


"Kau gila?!" Teriak Asta sembari berusaha mati-matian menghindari singa tersebut.


"Lima menit itu memang tidak lama, tapi lihat kondisiku sekarang. Jika pun aku berhasil bertahan selama itu, memaksakan diri untuk melakukan pelepasan hewan roh sama saja mencari mati."


"Antara kau atau dia yang mati, itu tergantung seberapa mampu kau memanfaatkan kekuatanmu," ujar Ace, lalu kembali tertawa.


Singa itu pun melompat ke arahnya. Dengan cepat, Asta meluncur di bawah kakinya, menghindari terkaman singa bertaring tajam tersebut. Saat berhasil menghindarinya, ia pun segera memegang ekor sang singa dan membantingnya ke tanah beberapa kali lalu melemparnya.

__ADS_1


Tak terima dengan perlakuan Asta, singa tersebut pun kembali melakukan gerakan ancang-ancang untuk mengaum. Buru-buru, Asta melompat ke belakang pohon tempat Ace berdiri.


Tak terasa waktu lima menit pun berlalu, Asta tersenyum merasakan sumber surgawinya sudah bisa kembali digunakan.


"Entah kau atau aku yang kalah, selanjutnya adalah penentuan pemenang di antara kita berdua," ujar Asta penuh percaya diri.


Dengan penuh kepercayaan diri, Asta melompat ke belakang singa tersebut, lalu meraih ekornya dan melemparkannya sejauh mungkin untuk memberinya waktu.


Singa Bulu Biru itu tampak murka sampai-sampai matanya mengeluarkan api kebiruan. Bulu-bulu birunya seketika berubah menjadi api kebiruan yang berkobar-kobar. Kini, ia lebih tampak seperti singa api berwarna biru.


"Meskipun sangat berisiko fatal mengaktifkan pelepasan hewan roh milik Ace, tapi jika aku terus menghadapinya setengah-setengah, aku benar-benar akan dikalahkan olehnya. Paling tidak aku harus cepat," batin Asta.


"Pelepasan Roh Serigala Dewata, Mata Surgawi,"


Asta pun langsung melepaskan teknik hewan rohnya untuk menghadapi Singa Bulu Biru yang juga tengah mengerahkan kekuatan penuhnya.


Pelepasan Hewan Roh adalah teknik yang bisa didapatkan setelah seorang Kultivator membentuk Kontrak Perjanjian Roh dengan Hewan Ghaib.


Namun, untuk bisa mengeluarkan potensi penuh dari pelepasan hewan roh, diperlukan kontrol roh tingkat tinggi serta raga tubuh di atas peringkat 5. Jika tidak, maka potensi dan waktu penggunaan teknik ini akan terbatas, dan jika memaksakan diri untuk memperpanjang dan mengeluarkan potensinya, akan ada efek samping yang harus ditanggung oleh pengguna.


Sesaat setelah mengaktifkan pelepasan hewan roh, matanya pun bertransformasi menjadi mata serigala seperti yang dimiliki Ace. Penglihatan dan identifikasi gerakannya pun meningkat berkali-kali lipat.


Sebagai Hewan Ghaib Kuno yang terkenal akan kemampuan inderanya, meskipun Asta belum mengeluarkan potensi penuhnya, ia sudah mendapatkan peningkatan yang signifikan dalam kekuatannya.


Tak hanya dapat memprediksi gerakan musuh serta mampu melihat celah-celah kecil, mata tersebut ternyata memiliki efek mengintimidasi yang dapat menurunkan semangat bertarung lawan. Seakan-akan Asta merasa tekhnik mata ini hampir mirip dengan berhasil meningkatkan kontrol auranya ke tingkat tinggi. Namun Asta tak bisa terlena akan kehebatan tekhnik mata tersebut, ia masih sangat menyadari akan pentingnya menjaga nyawanya.


"Kau tahu kan resikonya, cukup 10 menit atau kau akan mati," ujar Ace memperingatkannya.


"Ya, ya, ya. Aku tahu itu. Lagipula, siapa juga yang mau mati membusuk karena seluruh darah dan dagingnya menguap," balas Asta, mengerti betul akan konsekuensinya.


"Jika kau ingin dengan leluasa menggunakan kemampuanku, berlatihlah dengan giat. Tapi sebelum itu, kalahkan singa ini terlebih dahulu sebagai langkah awalmu, Bocah Nakal," ujar Ace sekali lagi.


Asta mengangguk mengerti dan mulai bersiap untuk menahan terjangan cakar singa tersebut. Di sisi lain, Flares pun mulai memperhatikan pertarungan muridnya sembari memberinya sedikit arahan. Asta mengikuti setiap aba-aba yang Flares berikan agar dapat menyaingi singa tersebut.


Singa Bulu Biru itu semakin ganas setelah mengalami transformasi. Kekuatan cakarannya benar-benar menciptakan pisau angin yang tajam dan kuat. Ditambah lagi, kemunculan api biru itu bukan semata-mata hanya pajangan, sesekali ia melancarkan bola api dari tubuhnya saat menyerang.


Namun dengan kekuatan matanya, ini bukan masalah besar baginya. Menghindari serangan tersebut menjadi lebih mudah.


Ketika ada kesempatan, Asta mencoba menatap mata singa tersebut secara langsung yang kemudian membuatnya terdiam sesaat,"Sekarang giliranku untuk menyerang," ujarnya sambil melesat cepat ke arah singa tersebut.


Asta langsung mengaktifkan kembali peremuk raga, sekaligus melakukan pelepasan esensi rohnya. Sayangnya, pukulannya sekali lagi tak berdampak pada singa itu. Singa itu pun tersadar dan mengulang teknik raungannya. Buru-buru, Asta pun mengambil jarak untuk menghindarinya.


"Sebenarnya terdiri dari apa kulitmu ini?" ucapnya heran. Kulitnya benar-benar sekuat baja. Pukulannya seakan-akan diredam oleh lapisan kulitnya.


Belum percaya dengan daya tahannya, Asta pun kembali melancarkan pukulan. Namun, dengan santainya, singa tersebut membiarkan pukulannya mendarat di atas kulitnya. Singa itu pun membuka mulutnya lebar-lebar dan menembakkan meriam api biru yang menghempaskannya jauh ke belakang. Meskipun Asta memiliki resistansi terhadap api, tetap saja serangan yang mengandalkan sumber surgawi akan menyakitinya.


Tak berhenti di situ, singa itu terus mengarahkan bola-bola api dari tubuhnya. Asta pun bangkit dan berlari menghindari serangan bertubi-tubi tersebut. Tanpa banyak pilihan, Asta pun hanya bisa mengambil risiko.


"Jika pukulanku masih belum cukup kuat, maka tinggal tambahkan saja kekuatannya," ucapnya.


"Seni Surgawi Dewa Hitam, Api Kegelapan Membumbung Nirwana,"


Asta pun langsung melepaskan esensi rohnya sekuat tenaga dan mencoba menggunakan seni surgawi yang tercatat di halaman pertama, yaitu seni pengendalian elemen untuk disatukan dengan teknik bertarung. Api hitamnya pun berkobar-kobar seperti semangatnya yang membara.


Sekali lagi, Asta mengarahkan intimidasinya pada singa tersebut hingga membuatnya langsung terdiam. Tanpa banyak basa-basi, ia pun melancarkan pukulan telak yang langsung menghancurkan segala pertahanan sekaligus transformasinya hingga ia benar-benar dikalahkan.


"Maaf, tapi ini demi latihanku,"


"Booommm....!!!!" Suara ledakan yang tercipta dari pukulannya.


Singa itu pun terlempar jauh ke belakang, darah bercucuran darinya menetes ke tanah. Singa itu terlihat tak lagi berdiri dan menghembuskan nafas terakhirnya.


"Bagaimana, Guru?" Ucapnya pada gurunya sembari tersenyum dan mengakhiri semua teknik bertarungnya.

__ADS_1


"Inilah muridku," ujarnya sambil tersenyum. Tidak terkecuali Ace yang ikut tersenyum.


__ADS_2