Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Chapter 021 Hasil Ujian (revisi)


__ADS_3

Kembali ke Lembah Neraka, Asta tinggal bersama gurunya untuk melanjutkan latihannya setelah kepergian Ace. Gurunya memberikan resep tambahan untuk meningkatkan efektivitas latihan Asta.


"Akkhhhhh...!!!!" Teriakan keras anak muda yang tengah berlatih menyebar hingga keluar lembah. Hewan-hewan yang mendengar jeritan itu hanya sesekali memandang ke arah lembah sebelum melanjutkan aktivitas biasa.


"Guru! Kalau begini caranya, sama saja kau berniat membunuhku! Akkhhhhh...!!!" Teriak Asta kesakitan.


Flares terkikik sambil terus mencambuk Asta dengan keras. Krim Penempa Raga yang Flares usapkan pada punggung Asta merangsang energi panas di sekitarnya menyerap ke dalam tubuhnya.


"Diamlah, apa kau tak ingin segera menembus ranah master secepatnya," ujar Flares sembari terus mencambuknya.


---


Sekarang beralih ke tempat dimana Kenshin dan kelompoknya berada. Mereka meninggalkan Sekte Kobaran Api Sejati untuk mendapatkan pengalaman hidup dan membantu rakyat kecil di Provinsi Huo Tanah Api Suci.


Kenshin menerima ujian ini setelah menyerahkan Cincin Jade Samudera pada Asta. Bersama kelompok lainnya, ia meninggalkan Sekte Kobaran Api Sejati yang baru saja didirikan. Pihak sekte memberikan tugas berbahaya untuk melacak pencuri Kitab Surgawi Dewa Hitam milik mereka yang diduga hilang dan untuk mendapatkan pengalaman hidup di dunia luar.


Sudah berminggu-minggu mereka berkeliling dari desa ke kota mencari informasi dan menyelesaikan masalah dengan musuh yang meresahkan.


"Ken, situasi di benteng kira-kira bagaimana sekarang? Apa Patriark Sekte dan yang lainnya berhasil mendorong mereka mundur atau malah sebaliknya?" tanya Kesha memancing diskusi.


"Entah. Peperangan dalam skala besar dan jumlah perbandingan kekuatan yang jauh berbeda akan sulit diprediksi. Kita hanya memiliki 7 Patriark Sekte Besar dan Senior Haru dan Eni, sementara pihak musuh memiliki 7 Jendral Gunung Tengkorak dan 8 petinggi gabungan sekte tingkat menengah Daratan Gitou dan Negara Lembah Terkutuk," jelas Kenshin dengan gamblang tentang pemimpin pasukan di kedua pihak.


"Sepertinya kita harus bersiap untuk berperang dalam waktu dekat ini," Kesha mengangguk mengerti.


"Andai tidak ada kejadian seperti ini, seharusnya kita hanya menghadapi ujian pengalaman hidup selama seminggu. Namun sekarang sudah hampir sebulan tanpa informasi yang pasti seperti ini. Kalau tidak ada masalah ini, mungkin kita tengah berlatih untuk persiapan turnamen nanti," Kesha mengeluh tentang situasi mereka saat ini.


"Meskipun tidak ada perang, apakah kalian tidak diberitahu mengenai ujian kita yang sebenarnya?" tanya Shiro, wajahnya mengernyit.


"Ehh...?!! Apa itu benar, Moe...?" Tanya Kesha, sedikit bingung memikirkan ujian apa yang dimaksud.


"Eum... Ayah dan ibuku memberitahuku mengenai ujian itu. Tapi meskipun kita menyelesaikan semua ini, tetap saja kita akan pergi ke sana untuk berlatih," balas Moegi, setuju dengan apa yang dikatakan Shiro.


"Ibu dan ayahku pun mengatakan hal yang sama waktu itu, mengenai ujian ini. Lagipula kita masih hanya seorang murid umum, dan pencapaian kita sekarang ini semuanya berkat orang tua kita. Ujian ini akan menentukan kualitas kita sebagai kultivator," kata Zaraki, yang biasanya suka bercanda, namun entah mengapa kali ini perkataannya terdengar serius seperti seorang anak remaja.


Tak terasa waktu telah beranjak siang, dan panasnya matahari menyengat membuat semangat mereka menurun untuk melanjutkan perjalanan.


"Kita istirahat sejenak di sini, untuk makan dan mengumpulkan stamina," ujar Kenshin, melihat rekan-rekannya kelelahan, dan ia memutuskan untuk berhenti.


Mendengar itu, Zaraki langsung merebahkan diri di atas rumput, "Akhirnya bisa istirahat juga, haahh.." Zaraki menghembuskan nafas lega.


Tak hanya dia, yang lainnya juga bergabung untuk bersantai dan meminum air putih untuk menghilangkan rasa haus. Setelah sejenak duduk, Kenshin pun berdiri kembali untuk membersihkan pakaiannya.


"Karena kita sudah kehabisan stok daging, kita akan membagi tugas: siapa yang berburu dan siapa yang mengumpulkan kayu bakar. Sedangkan tugas penyiapan masakan dan mencari sayuran, aku percayakan pada kalian berdua," ujar Kenshin, menunjuk Moegi dan Kesha, dan keduanya mengangguk-angguk mengerti.


"Biarkan aku yang mencari kayu bakar, dan kalian berdua pergilah berburu," ajukan Zaraki dengan tegas.


"Baiklah. Kalau begitu, aku dan Shiro akan pergi berburu," ujar Kenshin setuju, dan mereka pun mulai mengerjakan tugas masing-masing.


Setelah setengah jam berlalu, mereka berkumpul kembali di tempat semula. Kesha dan Moegi sudah menunggu di depan tungku api yang belum menyala. Zaraki kemudian memberikan kayu bakar yang telah ia temukan kepada Kesha, lalu Kenshin dan Shiro mulai menguliti hasil buruan mereka, rusa dan kelinci, untuk segera dimasak.


Kemampuan Rena Timber yang pandai memasak rupanya juga diwariskan pada putrinya, Kesha. Zaraki sangat puas saat menyantap masakan Kesha yang rasanya luar biasa meski hanya mengandalkan bahan-bahan sederhana.


Setelah kenyang dan penuh energi, mereka membersihkan dan menyimpan daging dan bahan-bahan sisa di cincin penyimpanan milik Kenshin, karena hanya dia yang mempunyai cincin tersebut.


"Shiro, tolong lihat peta dan pastikan lokasi kita saat ini," pinta Kenshin di tengah perjalanan.


"Kita berada tak jauh dari Kota Vorheis. Jika tak ada kendala di perjalanan, diperkirakan akan memakan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke sana," ucap Shiro mendeskripsikan lokasi mereka saat itu.


Moegi tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah Zaraki, dan ia tampak sedikit bingung mengapa Moegi menatapnya dengan pandangan tajam.


"Perbekalan kita sudah habis, hanya tersisa sedikit daging, sayuran, dan bahan masakan sebelumnya. Lebih baik kita membeli perbekalan dan bermalam di sana. Sebelum itu, kenakan topeng untuk menyamarkan identitas kita," jelas Kenshin.


Mereka pun mengenakan topeng yang sebelumnya menggantung di pinggang mereka dengan terampil. Saat Kenshin melihat Zaraki yang masih membawa kapaknya, dia mengernyitkan kening.


"Zaraki, simpan kapakmu di dalam cincin. Kita tidak ingin menarik perhatian orang," pinta Kenshin.


Dengan malu-malu, Zaraki menitipkan kapaknya kembali untuk disimpan dalam cincin, seperti senjata-senjata lainnya.


"Dengan begitu, kita tidak akan terlalu menarik perhatian orang-orang di sekitar kita. Ayo, cepatkan langkah kita. Kita harus sampai di kota sebelum hari mulai gelap," tegas Kenshin.


Sudah satu jam berlalu semenjak mereka mengenakan topeng, dan dibalik topengnya, Zaraki sebenarnya sudah mulai mengantuk, meskipun hari masih terang benderang.


"Hoam... Apa mungkin kita akan bertemu dengan Asta di Kota Vorheis nanti?" ucapnya asal bicara setelah menguap. Kenshin sampai terbatuk-batuk mendengar ucapannya.

__ADS_1


Meskipun Moegi menyadari bahwa maksud dari perkataan Zaraki adalah mengejeknya, ia seakan tak peduli dan tetap bersikap tenang. Di sisi lain, Kesha dan Shiro menatapnya tajam di balik topengnya.


"Oh, ayolah. Apa salahnya aku berbicara seperti itu? Bukankah kalian juga ingin bertemu dengannya? Yahh.. itu pun kalau ia memang berada di sana. Tapi itu tergantung apakah dia mau menemui kita lagi atau tidak, apalagi ada.. ah, sudahlah," ucap Zaraki melanjutkan ocehannya.


Tanpa banyak bicara, Moegi kemudian membuat bola api dengan roh di telapak tangannya. Tanpa pikir panjang, ia berbalik ke arah Zaraki dan mengarahkan bola api tersebut padanya.


"Brengsekkk!!" Umpatnya kesal.


Kenshin lalu berhenti sejenak dan menepuk jidatnya yang tertutup oleh topeng,"Sudah kuduga dia pasti sedang memancing emosi Moegi," gumamnya mengeluh melihat kelakuan Zaraki yang seringkali membuat perjalanan tertunda.


Zaraki tertawa puas setelah berhasil membuat Moegi marah, dan ia bergegas kabur dari amukan Moegi. Namun Moegi tidak menyerah dan mengejarnya.


"Sekali-kali sepertinya Zaraki memerlukan sebuah pembelajaran. Shiro, kau kejar Zaraki! Aku dan Kesha akan menghentikannya!" titah Kenshin sambil berlari mengejar mereka.


"Tentu. Lagipula memang sudah lama aku ingin memberinya sebuah pelajaran agar dia tak mengulanginya lagi," jawab Shiro setuju untuk mengejar Zaraki.


---


"Lepaskan aku! Cepat! Apa kalian bersekongkol dengan brengsek itu sekarang?! Kesha, cepat lepaskan aku..!!!" Teriak Moegi marah saat Kenshin dan Kesha tiba-tiba datang dan menghentikan gerakannya.


Kesha hanya mengangkat jari telunjuknya di depan mulutnya, memberi isyarat agar Moegi tidak berisik.


Namun, di sisi lain, Zaraki justru seolah menyerahkan dirinya pada Shiro, setelah Moegi berhasil ditangkap oleh Kenshin dan Kesha. Ia malah tertawa puas melihat Moegi yang tidak bisa melepaskan diri. Saat itu, ia hanya berpikir bahwa mereka sedang memisahkan antara Moegi dan dirinya agar tidak lagi bertengkar, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka berencana memberinya pelajaran atas perkataannya.


"Tetaplah seperti itu, kalau tidak, singa itu pasti akan mengamuk dan aku habis dimakan nanti. Hahahaha...!!!" Teriaknya kegirangan.


Mendengar ejekan itu, Moegi semakin naik pitam. Wajahnya langsung merah padam, dan urat-urat lehernya terlihat lebih jelas.


"Shiro! Kau tahan dia dengan kuat, jangan biarkan dia lolos!" titah Kenshin. Moegi yang awalnya emosi pada Zaraki, seketika tersenyum penuh kemenangan.


Mata Zaraki langsung membulat sempurna, ia panik mendengarnya. Namun sebelum ia bisa memberontak, Shiro sudah membekuknya dengan kuat.


"Hei, Shiro. Kita ini sahabat, bukan? Kalau iya, cepat lepaskan aku. Lagipula, aku berjanji aku takkan pergi kemana-mana. Tadi saja aku tak melawan saat kau hendak menangkapku," mohon Zaraki.


"Sudah datang..." gumam Shiro menatap Moegi yang berjalan sambil memukul-mukul tangannya.


Zaraki berkeringat dingin dan menelan ludahnya sendiri, karena Moegi semakin dekat dengannya sekarang.


"Tidak, Shiro! Ku mohon lepaskan aku sekarang juga, atau kalau tidak aku takkan pernah mengakuimu sebagai teman. Cepat! Lepaskan aku sekarang, Shiro! Kau temanku!" teriak Zaraki panik meronta-ronta, dan kini gantian Moegi yang terus tertawa puas.


---


Mereka bertiga tertawa puas sepanjang perjalanan setelah berhasil memberinya pelajaran atas perkataannya. Setiap kali mereka melihatnya, mereka langsung teringat kejadian beberapa waktu sebelumnya dan mereka pun tertawa.


"Dasar kejam! Apa kalian tak memikirkan perasaan anak tampan ini?" ucapnya kesal.


Mereka bertiga tertawa lagi mendengar hal itu. Akhirnya, Zaraki pun hanya diam, karena apa yang ia ucapkan pasti akan membuat mereka tertawa puas, dan itu mengesalkan baginya.


Akhirnya mereka sampai di depan gerbang kota tepat saat hari mulai senja. Di sana sudah banyak pedagang dan yang lainnya tengah bersiap menunggu giliran untuk memasuki kota. Giok Penanda mereka diperiksa satu per satu, dan mereka membayar sejumlah pajak untuk bisa memasuki kota. Berlima, mereka kemudian ikut berbaris dan mengantri untuk memasuki kota.


"Oi, Kenshin. Nampaknya peperangan di benteng sementara tak terlalu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup mereka, ya?" ucap Kesha, bertanya.


Baru Kenshin hendak berbicara, seorang pria paruh baya berbalik dan membalas ucapannya,"Kalian nampaknya masih sangat muda, jadi wajar kalau kalian memiliki pertanyaan seperti ini. Namun, nak, sebenarnya kami sebagai pedagang pun merasakan ketakutan, tapi kita tak punya pilihan lain selain tetap berdagang untuk mencari nafkah dan melanjutkan hidup. Lagi pula, perang hanya terjadi di perbatasan Provinsi Huo, bukan di sini," jelasnya.


Kesha mengangguk-angguk mengerti sekarang, pertanyaannya pun kini sudah terjawab, namun ia sedikit malu karena bertanya di tempat umum.


"Dan jika kau masih punya pertanyaan mengapa kami tak membantu di medan perang, seharusnya kalian para anak muda yang sedang mencari pengalaman pasti mengerti kalau tidak semua manusia terlahir dengan keadaan baik dan mempunyai kesempatan untuk menjadi kultivator," lanjutnya.


"Ya, memang. Bagi mereka yang bukan kultivator, memang hanya akan menambah beban di medan perang," seru Zaraki, asal bicara.


"Zaraki!" tegur Kenshin.


"Tak apa, tak apa. Lagipula itu memang kenyataannya. Kalian tak perlu terlalu sopan, justru kami yang harus sangat berterima kasih pada kalian yang sudah bersusah payah melindungi kami yang lemah ini. Nampaknya sekarang giliran paman, paman duluan ya," ucapnya memaklumi sambil tersenyum ramah.


"Dasar tak punya otak. Pikirkanlah apa yang ingin kau bicarakan, bodoh!" tegur Kesha geram mendengarnya. Zaraki terkekeh dan lalu berlari untuk meminta maaf pada paman itu.


"Tak apa. Tapi, apa paman boleh tahu siapa nama kalian?" tanya paman itu penasaran. Zaraki lalu memperkenalkan dirinya serta yang lainnya.


"Setelah ini, apa kalian mempunyai waktu untuk sekedar berkunjung ke toko milikku sebentar?" ajak paman itu.


"Untuk itu, aku harus membahasnya dengan pemimpin kelompok kami terlebih dahulu. Jika ia setuju, kami pasti akan berkunjung ke toko milik paman. Lagipula kami kehabisan perbekalan dan berniat untuk bermalam di sini," ujar Zaraki.


"Kebetulan sekali. Toko milikku juga menjual berbagai kebutuhan dan perbekalan, termasuk informasi dan lainnya. Paman akan memberikan harga diskon setengah harga untuk apapun yang kalian butuhkan nanti. Tanyakan saja namaku pada orang, mereka pasti akan menunjukkan jalan ke toko ku berada," ucap paman itu.

__ADS_1


"Memangnya siapa namamu, paman?" tanya Zaraki.


"Namaku Row Riqu, ingatlah itu. Sekarang paman pergi dulu, rasanya tidak mengenakkan membuat yang lain menunggu lama," ucapnya sambil tersenyum canggung.


"Ah, jika itu Anda, menunggu berapa lamanya pun tak akan ada yang protes," ujar salah seorang pedagang lainnya sambil tersenyum ramah padanya, seakan-akan Row Riqu ini sosok yang begitu dihormati oleh mereka.


Setelah itu, giliran mereka yang akan diperiksa identitasnya terlebih dahulu.


"Nampaknya dia menyukai kalian. Sungguh para pemuda yang beruntung," ucap salah satu penjaga yang kemudian tersenyum ke arah mereka, meskipun karena topeng yang mereka kenakan, para penjaga itu tak dapat melihat senyuman mereka berlima.


"Memangnya siapa paman itu?" tanya Kenshin yang kebetulan belum mengetahuinya karena Zaraki belum sempat membicarakannya.


"Hahaha... Anak muda jaman sekarang memang suka bercanda," ucap sang penjaga lalu mereka pun tertawa.


"Kalau begitu, bisakah kalian tunjukkan Giok Penanda milik kalian masing-masing?" pintanya.


Setelah Kenshin memberikan kelima Giok Penanda miliknya dan temannya, para penjaga itu sedikit tersentak karena terkejut.


"Ahh, begitu ya. Meskipun kalian mempunyai identitas yang bagus, tapi kalian mempunyai sifat yang baik. Pantas saja ia menyukai kalian berlima. Sekarang kalian boleh masuk," ujar salah satu penjaga itu, lalu mengembalikan Giok Penanda milik mereka.


---


Setelah memasuki kota, Zaraki pun memberitahukan ajakan dari Row Riqu sebelumnya. Kenshin pun mengizinkannya dan membiarkannya pergi ke toko milik paman itu sekaligus membeli perbekalan.


"Tak ku sangka ia akan menjadi sangat penasaran akan seseorang yang baru ia temui," ucap Shiro melihat Zaraki yang tengah bertanya pada salah seorang di jalan. Sekilas, ia menengok ke belakang ke arah teman-temannya berdiri, namun karena topengnya, mereka tidak tahu ada senyum yang merekah di bibirnya.


"Kalau begitu, aku percayakan masalah penginapan pada kalian berdua," titah Kenshin pada Kesha dan Shiro.


"Ehh..?!! Apa kau serius..?!!" Tanya Kesha tak percaya. Namun Kenshin hanya menganggukkan kepala.


"Apa yang kau pikirkan menyuruh kita berdua untuk memesan penginapan?!" Tanya Kesha lagi, namun Kenshin hanya mengangkat tangannya sambil melenggang pergi.


"Katakan saja bahwa kau ingin memesan ruangan untuk 5 orang," ujarnya lalu pergi menarik Moegi ke arah lain.


Kesha hanya menggembungkan pipinya lalu mengajak Shiro untuk mencari penginapan tempat mereka bermalam untuk malam ini.


Kenshin membawa Moegi ke jalanan lorong kota yang sunyi, lalu ia pun menceritakan tentang ujian mereka sebenarnya.


"Moegi, sejujurnya kita tidak sedang mengumpulkan informasi mengenai jejak pencuri Kitab Surgawi, melainkan..."


"Apa maksudmu kita hanya di suruh untuk berjalan-jalan selama ini tanpa tujuan?! Yang benar saja!" Potongnya terkejut.


"Aku belum selesai berbicara, dengarkan aku terlebih dahulu. Misi kita yang sebenarnya adalah melacak keberadaan pencuri Seni Surgawi," jelas Kenshin.


Moegi mengernyitkan dahinya heran, jika memang tugas mereka yang sebenarnya adalah melacak keberadaan seseorang pencuri Seni Surgawi sekte pun seharusnya sama bahayanya, lalu mengapa mereka harus membohonginya.


"Memangnya Seni Surgawi yang dicuri itu peringkat berapa?" Tanya Moegi penasaran. Ia tidak lagi emosi karena awalnya ia pikir tujuan misi ini hanya untuk berjalan tanpa tujuan pasti.


"Tingkat Legenda Emas, hanya 3 peringkat dibawahnya," ujar seseorang mengejutkan mereka berdua, tak lain dia adalah Tetua Aula Balai Pelatihan Jalan Surgawi, Taki Garaki.


"Senior?! Mengapa Anda di sini?!" Ucap mereka bersamaan terkejut.


Taki tertawa kecil berhasil membuat mereka berdua terkejut. Awalnya, ia pikir apa yang ingin Kenshin lakukan dengan membawa Moegi ke tempat sepi, namun rupanya untuk memberitahukannya hal itu.


"Peperangan sudah berakhir siang tadi. Lalu setelah itu Senior Helio menyuruhku mencari kalian, beruntung aku bertemu kalian di sini," ucapnya menjelaskan.


"Hasilnya?" Tanya mereka antusias.


Taki menghela nafas sejenak, hingga membuat mereka sedikit takut akan jawabannya, "hasilnya, kita menang," ucapnya lalu tersenyum, mereka pun berteriak kegirangan mendengar berita itu.


Taki kemudian mengeluarkan sebuah peta, "Misi kalian untuk melacak pencuri Seni Surgawi ini, aku yang ambil. Masalah hilangnya Kitab Surgawi pun sudah terselesaikan. Besok kalian pulanglah lebih dulu, kalian sudah dinyatakan lulus ujian ini. Tentu saja, kalian masih akan mengerjakan satu ujian lagi, tapi itu nanti," ujarnya memberitahu.


Moegi melongo mendengar hal itu dan sempat marah, namun Taki Garaki berhasil memenangkannya lagi.


"Masalah pencuri ini sebenarnya tugas tambahan diluar dari ujian kalian yang menghancurkan kelompok-kelompok yang meresahkan," jelas Taki.


"Masalah ini bukan sesuatu yang bisa dihadapi oleh kalian berlima. Daripada kalian mengantarkan diri kalian ke dalam bahaya yang mengancam nyawa, lebih baik pulang dan berlatih. Apa kau lupa, Turnamen Seni Bela Diri akan diadakan kurang dari 2 tahun lagi. Kalau kalian tidak mengikuti Turnamen kali ini, maka kalian tidak akan mendapat kesempatan lain kali," lanjutnya.


Seketika Moegi pun teringat akan Turnamen tersebut. Ia pun tersenyum canggung dan meminta maaf padanya. Setelah itu, Moegi pun meninggalkan mereka, berniat untuk memberitahukan hal ini kepada yang lainnya.


"Sudah saatnya aku pergi. Kenshin, aku titip mereka berempat padamu," selesai berkata, Taki pun berpamitan dengannya. Setelah itu, ia pergi untuk menggantikan misi tersebut.


Kenshin pun berbalik arah untuk mencari Kesha serta yang lainnya.

__ADS_1


"Hei, Nak. Bisakah kita bicara sebentar?" Ucap seseorang dengan nada berat memanggilnya dari arah belakang.


__ADS_2