
"Shishishi...!! Kutemukan dia.."
Seorang pria berjubah hitam tertawa pelan sambil bergumam melihat ke atas arena. Tanpa ada yang menyadari sorot matanya yang tajam dan berwarna merah menyala. Pria itu turun dari tempat penonton dan pergi meninggalkan arena.
"Sepertinya Tuan Putri juga akan memiliki lawan yang sama kuatnya di masa depan. Shishishi..!!! Jangan harap kalian bisa melindunginya.." sembari tersenyum sinis pria itu mengibaskan jubahnya lalu pergi meninggalkan kota Hansu.
---
"Duduklah. Bukankah sebelumnya aku memperingatkan kalian untuk tetap santai menikmati pertandingan. Jangan mencari masalah disaat seperti ini," Fujan Daru memperingati Rai dan Misaki untuk tetap santai.
"Sepertinya aku mengenal pedang yang di pegang olehnya. Itu hampir mirip seperti pedang Iblis Malam hasil tempaan Master Flares sang Dewa Api Kegelapan yang legendaris. Apa mungkin memang pedang itu, tapi kenapa pedang itu ada di tangannya, bukankah itu milik Tuan Pemburu Iblis," Lao Kuang memperhatikan pedang itu secara seksama kemudian membandingkannya dengan 2 pedang di punggung Hao Ryun.
"Bukan hanya yang di pegangnya, pedang yang berada di tangan Hao Chen itu juga adalah pedang milik Tuan Pemburu Iblis. Kalian pasti tahu rumor pedang terbang pembasmi iblis kan itu lah pedangnya," ujar Liang Wen
"Bisa mendapatkan pedang iblis sepertinya mereka berhubungan baik dengannya, kalau di lihat dari sikap mereka berdua selama pertandingan berlangsung aku juga menemukan keakraban diantara mereka berdua. Asta itu sepertinya mempunyai banyak rahasia,"
Misaki dan Rai berkeringat dingin mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Yu Zhao.
"Sudahlah biarkan saja mereka bertanding dengan adil untuk apa kita terus membicarakan mereka,"ujar Rai menyudahinya.
---
Hao Ryun memiliki julukan sebagai Tuan Pemburu Iblis yang terkenal sangat membenci Ras Demon karena selalu menindas Ras Manusia dengan sesukanya.
Hao Ryun memiliki 7 Pedang Iblis Roh Dewata bersamanya, Iblis Malam dan Iblis Langit adalah dua pedang dari ketujuh pedang miliknya.
---
Pertandingan penuh sorakan antusias itu pun di mulai. Dengan semangat Asta menerjang maju ke depan pukulannya di hadang oleh pedang tersebut. Asta pun mengayunkan pedangnya ke arah Hao Chen dengan cepat pedang itu berbalik untuk memblokir serangannya. Hao Chen melompat mundur menjauh dari jangkauan serangan Asta.
"Tak sia-sia ayahku memberikannya kepada mu Asta..!!! Hahahaha...!!"
Sikap Hao Chen tiba-tiba berubah. Ia terlihat sangat bersemangat dan menggila dalam pertarungan tersebut. Setelah lepas dari jangkauan serangnya Hao Chen melemparkan teratainya.
Asta melompat mundur tak menghindari teratai tersebut, teratai itu menembus tubuhnya dan melewatinya begitu saja.
"Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan, Api Pemakan Cahaya"
Asta berpikir tak ada gunanya lagi untuk menyembunyikan kemampuannya saat berhadapan dengan Hao Chen yang bisa menghindar dari taktik serangannya. Di tambah dengan pedang tersebut yang melindunginya bukan hal mudah baginya untuk bisa menyerang.
Hao Chen terkejut saat melihat perubahan pada Asta, serangan fisik apapun seperti tak berguna dan melewatinya begitu saja.
Asta kembali menyerang namun dengan cepat pedang itu berputar mencoba menghalanginya. Sesaat jarak Asta hanya beberapa inci dari pedang tersebut tubuhnya berubah menjadi api melewati pedang tersebut. Asta menebaskan pedangnya ke arah Hao Chen.
Chen mengubah teratainya menjadi perisai untuk memblokir serangan tersebut. Dari belakang pedang iblis langit terbang ke arahnya, Asta pun melemparkan pedangnya ke atas lalu kembali berubah menjadi api. Pedang tersebut menghantam perisai yang Chen ciptakan untuk memblokir serangan Asta.
Dari belakang Asta kembali menyatu dan mengambil pedangnya dengan cepat ia memberikan serangan pada punggung Chen dengan gagang pedang iblis malam.
Hao Chen tersungkur ke lantai dengan darah segar yang mengalir dari mulutnya. Chen terbatuk-batuk serangan tersebut meskipun sederhana tapi tersimpan energi spirit dan rohnya sehingga memberikan luka yang lumayan padanya.
Kini Hao Chen tahu mengapa Asta tak mengenakan cakar yang biasa ia kenakan.
Tak berhenti sampai disana Asta memutar pedangnya dan menusukkannya pada Chen. Jantung semua orang berhenti sesaat melihat Asta yang hendak menusukkan pedangnya. Akan tetapi Asta tersenyum gerakan pedang terbang tersebut lebih cepat darinya dan memblokir serangannya. Asta sudah memperhitungkan semuanya.
Para penonton bernafas lega karena serangan tersebut tak berhasil menusuk Hao Chen.
Chen segera bangkit dan menyeimbangkan kembali tubuhnya, kali ini giliran ia yang menyerang dengan penuh tenaga. Menghadapi tantangan tersebut Asta tentu tak bisa melawan Chen dan pedangnya sekaligus Asta mengeluarkan pedang langit kelam dan memblokir serangan dari kedua sisi.
"Tekhnik Roh, Tebasan Membara"
Asta menggunakan tebasan membara sekaligus dengan dua pedangnya membuat konsumsi spiritnya meningkat daripada biasanya.
__ADS_1
Pedang yang Chen buat dari teratainya hancur saat bersentuhan langsung dengannya, namun berbeda dengan pedang iblis langit yang merupakan artefak roh dewata serangan Asta tak berhasil menggores pedang tersebut sama sekali.
Setelah menepis pedang tersebut dan menjauhkannya Asta fokus memberikan serangan pada Chen. Chen terhempas ke belakang setelah memblokir serangan tersebut menggunakan perisai teratainya.
Melihat kemampuan Asta yang kebal terhadap seluruh serangan fisik membuat Chen tak bisa menggunakan ledakan teratai surgawi dengan gegabah. Meskipun serangannya kuat namun belum tentu akan berefek padanya.
Chen menundukkan kepalanya menghindari tebasan membara, Asta melemparkan serangan tersebut ke arahnya sedangkan dia mencoba menepis pedang iblis langit terlebih dahulu.
Chen kembali bergabung dalam pertarungan tersebut bersama pedangnya mengeroyok Asta, kali ini Chen lebih dan lebih waspada lagi dalam menghadapinya. Setelah bentrokan lama tersebut Asta pun terlempar ke satu arah, ia tak bisa menahan serangan gabungan tersebut.
Meskipun serangan fisik tak mempan namun jika Chen dan pedangnya terus-menerus menyerangnya dengan cara terus-menerus tetap saja akan membuat Asta kewalahan. Karena ketika ia merubah dirinya menjadi api setiap kali itu juga ia harus melepaskan pedangnya. Kekuatannya masih belum cukup untuk memengaruhi pedang tersebut supaya ikut berubah menjadi api.
Melihat Chen dan pedangnya tak memberinya waktu sama sekali Asta buru-buru bertransformasi ke wujud Serigala Dewata.
"Transformasi Sempurna, Serigala Dewata"
Sekejap mata kemudian Asta pun menghilang dari pandangan dan muncul di belakang Chen mengayunkan pedang iblis malam ke punggungnya.
Chen pun tersungkur ke lantai dengan luka tebas di punggungnya, buru-buru Asta mengambil tubuhnya dan membawanya ke tepi arena. Namun belum sempat tubuh Chen menempel ke lantai di luar arena sebuah sayap muncul dari punggungnya. Chen terbang ke atas arena.
"Transformasi Sempurna, Naga Sejati"
Kepakan sayapnya menghempaskan debu-debu di arena menciptakan gelombang angin yang begitu kuat.
"Kupikir aku takkan pernah menggunakannya di sini. Namun apa boleh buat kekuatanku ternyata belum cukup untuk mengalahkan saudara Asta jika tanpa bertransformasi,"
Chen menarik pedang iblis langit ke tangannya, kini ia kembali menyerang. Asta pun tersenyum tipis menyambut serangannya datang.
Asta memblokir tebasan pedang Chen, tak disangka Chen bisa memasukkan kekuatan teratainya ke dalam pedang iblis langit untuk mengimbangi jurus tebasan membara miliknya.
Dengan kemampuan Dewata Indrawi milik Serigala Dewata Asta mampu membaca setiap pergerakan Chen dengan sekali lihat, mendengar, mencium dan merasakan auranya.
Disisi lain kemampuan Naga Sejati memiliki tak hanya memiliki satu kemampuan. Setiap naga sejati terlahir dengan esensi roh berbeda namun yang pasti kemampuan roh mereka sama yaitu Intimidasi Jiwa Naga dan Nafas Naga.
Asta melompat mundur untuk mengambil jarak dan memberikan serangan tebasan membara dari jarak jauh. Dengan pedang iblis langit juga Chen menangkis seluruh energi tebasan membara dengan mudah.
Asta berlari dan melompat ke atas Chen dan melakukan tebasan vertikal dari atas kepalanya. Penonton berteriak histeris lagi-lagi Asta memberikan serangan yang sangat berbahaya dan bisa membunuh.
Chen mengaktifkan intimidasi jiwa naga nya seketika demi menggoyahkan keseimbangan Asta. Benar saja serangannya meleset ia pun terjatuh dari atas ke lantai.
Chen mengayunkan pedangnya ke arah Asta buru-buru ia pun berguling ke samping menghindari serangan tersebut.
Chen tak melepaskannya begitu saja ia kembali memberikan serangan padanya bertubi-tubi. Arena pun mulai dirusak oleh serangan pedang mereka berdua selama ini.
Asta pun tak melulu berguling kesana-kemari di atas arena dan segera bangkit kembali untuk beradu pedang dengan Chen. Asta tak segan-segan lagi, buru-buru ia mengaktifkan kobaran api peperangan demi menekan borosnya konsumsi spiritnya. Ditambah dengan tekhnik aura gabungan yang sengaja Asta aktifkan demi menahan efek samping dari menggunakan pedang iblis malam terlalu lama.
Chen menghela nafasnya terkejut melihat Asta yang juga mempunyai sebuah tekhnik yang bisa melawan intimidasi jiwa naga. Bentrokan antara aura Asta dengan intimidasi tersebut menciptakan hempasan angin yang berhembus kencang.
Kini Asta bisa sedikit bernafas lega karena terlepas dari kekangan intimidasi jiwa naga Hao Chen dengan melepaskan semua tekhnik bertarungnya. Asta tak khawatir konsumsi energinya begitu deras dengan tekhnik roh kobaran api peperangan miliknya yang mengubah semangat bertarungnya menjadi energi alternatif namun tidak dengan kekuatan jiwanya.
Meski menggunakan dua pedang membuatnya memiliki beberapa kelebihan namun Asta memilih untuk menaruh langit kelam ke dalam cincinnya. Hal itu demi mengurangi efek samping aura pedang tersebut yang sedikit demi sedikit menguras jiwanya.
Asta berlari memutar ke arah belakang Chen memberikan serangan tebasan memutar seperti yang gurunya semalam ajarkan namun dengan cepat juga Chen menempatkan pedangnya ke punggungnya untuk memblokir serangan tersebut.
Asta melemparkan pedangnya ke atas kepala Chen, ia menembus tubuh Chen lalu mengambil kembali pedangnya dan memberikan serangan vertikal di dadanya.
Chen beruntung karena mempunyai roh hewan naga sejati yang memiliki vitalitas pertahanan serta regenerasi sel yang cepat sehingga luka tebasan tersebut tak terlalu dalam dan membahayakan nyawanya. Meski begitu tetap saja Chen merasakan sakit yang luar biasa tak hanya sebagai artefak roh dewata pedang iblis malam juga di aliri tebasan membara yang membuat serangannya menjadi sangat mematikan.
Asta melompat ke belakang menjauh dari jangkauan serangannya. Chen memuntahkan darah segar lagi dari mulutnya. Luka yang sebelumnya memang sudah pulih namun kini ia harus menerima serangan lagi.
---
"Kekuatannya bukan lagi berada di jangkauan ku. Serangan serta taktik strategi yang di mainkan nya pun bukan sembarang menyerang. Ia sangat terlatih. Sebenarnya apa yang terjadi padamu selama ini kawan sampai mendorongmu hingga melampaui ku dengan sangat cepat. Kau benar-benar jenius sejati,"
__ADS_1
---
Di samping arena Kenshin tersenyum bangga memperhatikan pertandingan Asta dengan Hao Chen yang berjalan begitu sengit. Namun di balik senyuman bangga tersebut tersimpan sebuah kekecewaan serta ketidak berdayaan dirinya. Sosok Asta yang dulu tak lebih kuat darinya sekarang sudah melampaui jauh kekuatannya sedangkan ia masih saja di tempat-tempat yang sama.
Kenshin hanya menyesali keputusannya kenapa ia juga tak ikut bersama dengannya pergi meninggalkan sekte lebih cepat. Namun ruang dan waktu tidak bisa dia ubah kembali ke masa lalu, hanya menyisakan kekecewaan dan penyesalan mendalam di hatinya.
---
'Sial-! Jiwaku-! Jiwaku-! Akh-!!'
Disaat ia baru saja memberikan serangan telak pada Hao Chen dan bisa mengalahkannya disaat Chen sedang memulihkan diri jiwanya malah sudah tak sanggup lagi untuk menahan aura pedang tersebut.
Melihat Asta yang hanya diam di tempat Chen buru-buru memulihkan diri, setelah selesai ia pun kembali maju ke arah Asta.
Sekuat tenaga Asta mencoba mempertahankan jiwanya dan tetap bertarung. Namun kerusakan pada jiwanya bukan lagi sesuatu yang bisa ia tangani. Sesaat sebelum pedang iblis langit menyentuhnya seluruh tekhnik bertarung Asta hilang begitu juga transformasinya. Ia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Uhuk--!! Sial-!! Kenapa harus sekarang-!!"
"Asta kau?!!"
Hao Chen sudah tak sempat lagi untuk menghentikan pedangnya tepat waktu ia hanya berharap seseorang datang dan menghentikan pedangnya tepat waktu sebelum mengenai Asta.
"Trannggg..!!"
"Nak, kau sepertinya terlalu bersemangat dalam pertarungan ini,"
"Kalau kau berani menyerang putraku lebih jauh lagi, akan ku penggal kepalamu,"
Dalam sekejap mata Misaki dan Rai yang sudah bertransformasi ke wujud Serigala Dewata menghentikan pedang Hao Chen yang hampir saja mengenai Asta yang sudah tak sanggup lagi untuk bertarung.
"A-aku.. me-menyerah... Ma-manager.. tolong.. pa-panggilkan..di.."
"Tenang saja aku sudah ada disini," Manager muncul di sampingnya lalu menggendongnya yang sudah tak sadarkan diri.
"Memangnya siapa yang berani membunuh putraku di depan mataku," sosok lainnya yang muncul secara tiba-tiba di atas arena adalah Hao Ryun. Ia menodongkan dua pedangnya ke atas kepala Misaki dan Rai Ken secara bersamaan.
"Apa..!!! Putra...!!!!!"
Seketika arena pun riuh karena Hao Ryun yang mengumumkan identitas Hao Chen sebagai putranya. Tak luput Rai dan Misaki pun terkejut mendengarnya.
"Ayah bisakah kau tenang sedikit. Ini hanya salah paham saja," Hao Chen pun melepaskan seluruh tekhnik bertarungnya dan membujuk Hao Ryun untuk tak melakukan apapun yang bisa mengacaukan turnamen tersebut.
Hao Ryun terdiam sejenak sebelum kemudian Kaisar Arkhan pun ikut turun ke arena berniat ingin membujuknya untuk jangan melakukan keributan.
"Hahahahaa...!!! Kalian.. kalian lucu sekali...!! Hahahahaa...!! Tenang, tenang. Ini hanya lelucon saja mengapa wajah kalian begitu panik, Hahahahaa...!!!" Hao Ryun tertawa sepuas-puasnya melihat ekspresi wajah semua orang yang mengira ia akan membuat keributan di atas arena.
"Sia-sia saja aku khawatir Kakak akan mengacaukan turnamen ini, seharusnya aku sadar kalau Kakak Hao hanya bercanda dan membuat keributan. Sialan kenapa juga aku lupa dengan kebiasaan kakak ini," ujar Kaisar Arkhan memasang wajah kesal disisi lain Manager Row hanya tertawa kecil melihatnya ia sudah menduganya sedari awal.
"Hei, adik tenanglah, tenang. Maafkan aku, aku hanya benar-benar tak bisa membuat lelucon saat melihat kalian yang gampang sekali di buat panik. Hahahaha.." ujarnya lalu tertawa.
"Lagipula aku sudah tau siapa kalian dan apa hubungan antara kau berdua dengannya. Kau orang tuanya sedangkan ia adalah penyelamat putraku, Hao Chen. Kalau aku membunuh kalian bukankah aku menjadi orang tak tahu balas budi," sambung Hao Ryun masih tak bisa menahan tawanya.
Penonton pun di kejutkan dengan kebenaran tersebut. Hao Chen yang merupakan putra dari Hao Ryun sang Tuan Pemburu Iblis, sedangkan Asta yang merupakan bagian dari Asosiasi Manager Row adalah putra dari pasangan Rai dan Misaki. Dalam sekejap suasana yang menegangkan berubah menjadi suasana yang penuh ketidakpercayaan.
Hao Chen terdiam melihat keakraban ayahnya dengan dua orang yang ia benci karena tak membantu mereka dan ayahnya ketika kesusahan. Tak hanya Manager dan Kaisar berdua namun ia pun juga membenci sosok yang dikenal sebagai Tuan Pemburu Iblis yang pikirnya mereka bertiga yang mempunyai kekuatan hebat malah tak pernah membantunya sama sekali.
Kini setelah mengetahui kebenaran tersebut kebenciannya pun menghilang, sebagai seorang kakak pastinya tak akan membiarkan adiknya dalam bahaya. Begitulah pengalaman nyata yang ia rasakan. Ia sedikit menyesal membenci mereka bertiga dan pernah berniat untuk menghabisi mereka suatu hari nanti, karena salah satu dari mereka tersebut adalah ayahnya sendiri, Hao Ryun sang Tuan Pemburu Iblis.
---
Terimakasih kepada orang yang sudah mengikuti ceritaku sampai sekarang ini, dan khusus untuk dua orang ini aku ucapin terimakasih sebanyak-banyaknya.
-Nu Dyn, aku ucapin terimakasih banyak karena sudah terus mengikuti ceritaku dari awal dan tak lupa juga kasih like di setiap chapter author jadi bisa konsisten buat update cerita.
__ADS_1
-Insanuddin Musa, makasih juga untuk saran kamu, karena saran kamu author jadi bisa belajar supaya lebih baik lagi dalam hal kepenulisan.