Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch61 Pedang Iblis


__ADS_3

"Bruakk..!!!"


"Anak itu-!! Kenapa susah sekali untuk di atur-!!"


Manager Row geram hingga memukul meja batu di hadapannya, tak hanya Asta tak menurutinya juga melepaskan cakar di tangannya.


"Sudahlah Kak Row biarkan saja namanya juga anak muda ia pasti sedang dalam fase ingin menjadi orang yang terkenal. Kau biarkan saja lagipula ia juga hampir mirip-mirip dengan sifat Kak Row dulu," Kaisar Arkhan mencoba menghiburnya sambil tersenyum menahan tawa.


"Sudah ku bilang bocah nakal itu bukanlah bocah yang bisa kau urus," Zaru menertawakan Row.


"Berhenti mengeluh. Lagipula sudah saatnya kita memperlihatkan kepada dunia perihal ini," Ace bersiap setuju dengan apa yang dilakukan Asta.


"Bagus jika tidak ada mata-mata kalau ada bagaimana..?!!!" Row begitu kesal melihat keras kepalanya Asta hingga meneteskan air matanya. Serentak Zaru, Ace dan Arkhan tertawa melihat raut wajahnya yang seperti itu.


---


'Kekuatannya kuat sekali aku hampir tak bisa melawannya sama sekali jika bukan karena tekhnik penguatan dari peremuk raga yang sempurna, aku bukanlah tandingannya'


Bertarung hanya dengan tekhnik tangan kosong melawan Cang Hue sangat melelahkan untuknya. Dari beradu pukulan tersebut Asta menyadari kelemahannya, jika bukan karena ia mendalami ilmu bertarung dari kitab surgawi bakatnya sudah pasti dikalahkan olehnya.


---


Disisi lain Cang Hue juga merasakan hal yang sama, ia tak tahu bahwa ada seseorang yang mempunyai bakat lebih tinggi darinya. Selama ini ia terus bekerja dengan keras demi mencapai ketinggian tersebut tak peduli orang-orang di sekitarnya menyebutnya sebagai pecundang sekte kecil.


'Kemampuannya berada diatas ku, akan sangat sulit untuk bisa memenangkan pertandingan ini jika aku tak mengerahkan seluruh kemampuan ku. Tang San masih belum seberapa dibandingkan dengannya'


---


Semakin lama pertandingan semakin menarik. Suara yang di hasilkan dari adu pukulan tersebut menandakan sengitnya persaingan diantara mereka. Cang Hue terlihat mengambil langkah mundur sejenak untuk bertransformasi.


"Jangankan bertransformasi kau bahkan belum memperlihatkan esensi rohmu selama pertandingan ini, Asta," bagaimana pun Cang Hue juga mempunyai rasa penasaran terhadapnya apalagi Asta seperti tak pernah memperlihatkannya sama sekali.


"Mungkin ungkapan saudara Cang benar. Aku memang belum pernah memperlihatkannya namun yang pasti aku pernah mengaktifkannya beberapa kali contohnya saat melawan saudara Ye," Asta tak mengelak ataupun menyalahkannya namun yang pasti ia pernah menggunakannya.


"Tekhnik pedang tebasan penghancur ku yang memiliki kekuatan penghancur besar itu bukanlah jurus pedang melainkan tekhnik rohku," sambung Asta.


---


Para penonton sedikit heran melihat mereka berdua yang tiba-tiba berhenti bertarung dan malah berbincang di atas arena.


"Sepertinya mereka berdua sepakat untuk mengambil beberapa hela nafas,"


"Apa salah satu dari mereka benar-benar tak ingin mengambil kesempatan itu dan menyerang, ada apa ini,"


"Bisakah kalian berbincang lebih cepat kami tidak punya waktu untuk melihat kalian seperti ini mana semangat bertarung kalian terlebih dahulu,"


Para penonton mulai bersorak tak sabar.


"Berisik!!! Apa kalian tak bisa hanya diam saja dan menonton?! Semenjak kapan arena turnamen seni bela diri menjadi tempat demonstrasi para penonton!!" Teriak seseorang yang dengan santainya berdiri di atas pucuk sebuah tiang pengibar bendera.


Pria itu membawa 2 pedang di punggungnya dari pakaian, topeng serta sarung pedangnya mereka tahu pasti siapa sosok tersebut. Sosok yang tak kalah kuatnya dengan Kaisar dan Manager. Si Tuan Pemburu Iblis, Hao Ryun.


"Heeehh.. Ayah pasti mengkhawatirkan ku mencari masalah dengan Kaisar dan Manager makanya ia datang di turnamen kali ini,"


---


"Kakak Row..!!! Dia..!!!" Saking terkejutnya Arkhan sampai tak bisa berkata-kata melihat sosoknya yang kembali muncul tiba-tiba.

__ADS_1


"Sepertinya memang ada sesuatu yang mengganggunya hingga ia sampai memperlihatkan diri kembali setelah begitu lama menghilang. Kakak Hao tak pernah bercanda dengan kata-katanya sendiri, jika ia sudah kembali muncul dengan sendirinya seperti itu bisa di pastikan karena ada sesuatu yang mengusik ketenangannya,"


---


Asta dan Cang Hue mencoba melihat ke arah dari mana asal suara tersebut. Ia pun tersenyum ke arahnya firasatnya mengatakan bahwa orang itu tak lain adalah Paman Hao orang yang memberinya pedang Iblis Malam.


"Karena saudara Cang cukup penasaran dengan esensi rohku maka aku akan memperlihatkannya pada saudara Cang,"


Setelah Asta berkata seperti itu titik hitam muncul dari punggung telapak tangannya, titik hitam itu lalu membentuk sebuah pola api di kedua tangannya.


"Kau..?!!! Kultivator Sejati..!!! Itu..!!! Itu Roh Bintang Sejati Api Pemakan Cahaya..!!! Kau...!!"


Cang Hue tak bisa menahan keterkejutannya bahkan para penonton, Ketua 7 Sekte Besar, dan Kepala Keluarga Besar terkejut bukan main. Bersama-sama dengan rasa tak percaya mereka semua memandang ke arah Manager Row yang terlihat sedang membenturkan kepalanya ke meja batu.


Kaisar Arkhan hanya bisa tersenyum canggung melihat perhatian penuh tanda tanya yang mereka arahkan kepada mereka.


---


"Rai kenapa kau terlihat begitu jangan-jangan dia...."


"Suttt..!!" Belum sempat Fujan menyelesaikan ucapannya Rai Ken langsung memotongnya dengan menyuruhnya jangan berisik.


"Akan ku jelaskan nanti setelah dari sini," Fujan Daru pun tersenyum dan mengangguk pelan. Pantas saja kelakuan mereka berdua yang aneh setiap kali gilirannya yang bertarung.


---


"Kalau sudah tahu begini untuk apa melanjutkan pertarungan lagi,"


"Saudara Cang apa yang sedang kau katakan..?!!" Asta terkejut mendengar Cang Hue berkata seperti itu.


"Bukankah sudah jelas pertandingan ini akan berakhir seperti apa dan bagaimana, untuk apa aku membahayakan nyawaku lebih jauh. Mungkin hanya Hao Chen lah yang pantas menjadi lawanmu sebagi sesama kultivator sejati kalian pasti akan bertanding dengan kuat," Cang Hue menghela nafasnya pelan.


"Aku harap suatu saat nanti aku juga bisa bersaing dengan mu, Asta," sambungnya sembari menuruni tangga.


Meskipun akhir dari pertandingan ini sedikit menggantung namun para penonton bahkan wasit sekali pun tak bisa berkomentar apa-apa jika salah satu peserta sudah menyerah. Dari penampilannya selama di turnamen Cang Hue mendapat julukan menarik dari para penonton sebagai Tangan Naga.


---


Dari samping arena Hao Chen menyambut Asta dengan membuka topengnya sembari tersenyum ramah.


"Tuan muda sepertinya perkiraan ku benar. Sedari awal aku sangat yakin bahwa kita akan menjadi lawan di final turnamen ini," sapa Hao Chen ramah.


"Daripada itu aku malah lebih terkejut saat melihat kekuatan mu yang sebenarnya, aku merasa malu ketika mengingat kejadian saat di Kota Tiandu beberapa hari yang lalu," Asta pun membalasnya sambil tertawa canggung.


"Untuk Kenshin itu aku benar-benar tak mempunyai pilihan lain selain melakukannya kuharap Tuan Muda bisa memaafkan ku," sekali lagi Hao Chen mengutarakan hal tersebut padanya namun dengan santai Asta membalasnya dengan senyuman tak mempermasalahkan hal tersebut. Baginya wajar jika seseorang terluka dalam pertandingan seperti ini. Kenshin sendiri pasti tidak akan mempermasalahkannya.


---


Berikutnya adalah giliran Asta melawan Hao Chen di babak final Turnamen Seni Bela Diri namun sebelum pertandingan di mulai seperti biasanya akan ada jeda waktu istirahat.


Para penonton yang rata-rata merupakan kultivator tak henti-hentinya membicarakan Asta yang terkahir dengan Roh Bintang Sejati Api Pemakan Cahaya. Arena menjadi riuh hanya karena keributan-keributan kecil yang di sebabkan mereka, pertanyaan-pertanyaan siapa Asta sebenarnya serta gosip-gosip seputar mengenai Asta.


"Haissh. Arena ramai sekali membicarakan seputar tentang kemampuan ku. Sepertinya aku salah karena tak menuruti Manager Row, ia pasti sedang membenturkan kepalanya ke dinding," Asta sedikit menyesali keputusannya untuk mengungkapkan esensi rohnya pada publik umum.


Flares tentu tak tinggal diam ia tertawa mendengar ucapan penyesalan Asta terlebih ketika ia mengatakan bahwa Row mungkin sedang membenturkan kepalanya ke dinding.


"Yahh.. lagipula tak ada salahnya untuk memamerkan kekuatan kita setelah begitu lama di sembunyikan. Guru agaknya mulai setuju dengan pikiranmu," Flares memegang dagunya terlihat seperti sedang berpikir.

__ADS_1


"Lagipula setelah ini kita akan pergi untuk melakukan pelatihan tertutup sampai kau menginjak ranah yang cukup untuk mencari bahan-bahan yang kau perlukan untuk membantu guru," sambungnya sambil tersenyum ceria.


"Tentu saja aku akan membantu guru tapi sebelum itu bisakah kita mencari tahu keberadaan orang tuaku lebih dulu, aku ingin menemuinya," Flares pun mengangguk mengerti.


"Tenang saja kau akan bisa melihat mereka malam nanti guru janji," Flares mengajak Asta untuk membuat janji kelingking.


"Demi menghidupkan guru juga,"


---


Kembali ke arena turnamen dimana para penonton sudah tak sabar untuk pertandingan final antar dua jenius muda yang sama-sama terlahir dengan Esensi Roh Sejati.


Asta yang berasal dari Asosiasi Fajar Merah yang terkenal sebagai kelompok netral terkuat di seluruh daratan Benua Atalist bertemu dengan Hao Chen yang berasal dari Sekte Bunga Teratai dari Negeri Hutan Sihir, yang mana tak banyak dikenal sebagai sekte yang memiliki riwayat reputasi tinggi.


Perbandingan asal mereka terbilang seperti langit dan bumi, yang mana salah satunya berasal dari kelompok terkenal sedangkan yang lainnya berasal dari kelompok yang bahkan tak di ketahui banyak orang.


"Rai menurutmu apakah Asta bisa menang di pertandingan ini?" Misaki bimbang sekaligus penuh harap.


"Hanya sedikit kemungkinan untuknya bisa memenangkan pertarungan ini. Pedang terbang miliknya selain memiliki aura yang dapat mempengaruhi pikiran juga sangat bahaya jika di hadapi secara langsung. Pertarungan ini akan bergantung pada apakah Asta bisa menghadapi pedang tersebut atau tidak. Bukankah kau juga sudah tahu itu..?" ujar Rai menjelaskan hasil evaluasinya selama ini terhadap putranya dan Hao Chen.


Misaki pun mengangguk pelan,"heemm. Aku tahu pasti kemampuan yang sudah mereka tunjukkan selama ini. Tapi aku berharap ada sesuatu yang juga Asta sembunyikan dari kita semua,"ucapnya masih dengan secercah harapan.


Ia pun membalas kekhawatiran tersebut dengan tersenyum tenang,"apa kau lupa mereka belum bertransformasi dengan roh hewan mereka sedari awal,"


"Jangan khawatirkan mereka, dengan adanya 3 Ahli Surgawi tingkat tinggi disini apa yang perlu kalian pikirkan," Fujan Daru mengingatkan mereka.


"Kuharap kalian berdua tak membuat masalah lagi kali ini. Kehadiran Manager dan Kaisar adalah hal biasa di turnamen ini akan tetapi kedatangan Tuan Pemburu kali ini adalah sesuatu yang mengejutkan. Sepertinya rumor ia bergerak melindungi Kekaisaran Arkhan dari bayangan benar," timpal Shai Ya.


"Sudahlah lagian Tuan Pemburu juga tak melulu bertarung yang di pikirannya. Kalian jangan membicarakan tentangnya lagi," ujar Liang Wen mengingatkan mereka untuk berhenti membahasnya.


"Apa yang Patriark Liang katakan memang benar," ujar Yu Zhao setuju.


"Kalian terlalu ceroboh hingga membicarakan Tuan Pemburu begitu serius sampai-sampai kalian tak menyadarinya ya," Lao Kuang tertawa pelan melihat kelakuan para Ketua Sekte Besar itu yang ternyata suka sekali bergosip. Sedari tadi Hao Ryun memang sudah tahu mereka sedang membicarakannya namun ia tak mengambil pusing akan hal tersebut.


Keenam orang itu membuka mulutnya lebar-lebar terkejut. Buru-buru mereka menunduk-nundukkan kepalanya ke arah Hao Ryun yang sedang memandang mereka.


Dibalik topengnya Hao Ryun menahan tawanya melihat kelakukan para Ketua Sekte Besar ini yang tak henti-hentinya selalu seperti ini. Keramahan serta kebiasaan mereka yang bisa mencairkan susasana masih saja menghibur hatinya.


---


Di bawah arena Asta terlihat menaiki arena pertarungan bersamaan dengan Hao Chen. Wasit mempersiapkan mereka untuk bersiap-siap dan mengeluarkan senjata.


"Saudara Hao aku harap kau tak mengalah dariku hanya karena kau memiliki Iblis Langit," Asta pun tersenyum ke arahnya sembari mengeluarkan Pedang Iblis Malam yang selama di turnamen ini ia sembunyikan.


"Tuan Muda nampaknya kau juga mempunyai banyak rahasia yang belum kau perlihatkan," balas Hao Chen sembari ikut mengeluarkan pedang terbangnya, Iblis Langit.


Para penonton berteriak terkejut dengan pemandangan dua pedang tersebut yang langsung mempengaruhi suasana arena. Para penjaga tak mampu menahan aura dua pedang tersebut sehingga Manager pun turun tangan sendiri mengisolasi seluruh arena supaya aura tersebut tak mempengaruhi pikiran para penonton.


"Pedang Iblis lainnya..??!!! Sebenarnya ada berapa banyak Artefak Roh Dewata saat ini sehingga mereka berdua yang masih muda saja memilikinya...!!!"


"Pedang terbang Iblis Langit milik Hao Chen itu sangat kuat dan bahkan seperti mempunyai kesadarannya sendiri, lalu bagaimana dengan miliknya ini,"


"Pertandingan sepertinya akan masuk ke babak yang sangat menarik. Sungguh tak di duga bisa melihat Artefak Roh Dewata di turnamen seni bela diri ini,"


Orang-orang mulai berspekulasi dengan kekuatan dari pedang Iblis Malam milik Asta. Karena sedari awal ia memang tak pernah menggunakannya sama sekali jadi tentu itu akan menarik rasa penasaran para penonton.


Ditambah artefak sekelas dewata ditambah lagi merupakan artefak roh adalah sesuatu yang sangat langka. Bahkan 7 Ketua Sekte Besar ataupun 5 Keluarga Besar tak memilikinya. Mempunyai aretefak roh tingkat 5 saja sudah merupakan hal yang beruntung jika mereka dapatkan.

__ADS_1


---


Rai Ken berdiri dari tempatnya, "darimana Asta mendapatkan aretefak iblis ini. Meskipun kekuatannya sangat kuat artefak iblis tetap saja iblis, jika kekuatan mentalnya belum cukup sudah pasti ia akan menerima serangan balik dari artefak tersebut. Meski pedang yang ia gunakan sebelumnya juga merupakan artefak iblis namun itu hanya pedang peringkat 5, aku tak akan penasaran jika dia memilikinya karena Manager pasti yang memberinya. Tapi pedang seperti ini bukan sesuatu yang akan di berikan oleh Manager Row padanya disaat kultivasinya belum cukup,"


__ADS_2