
Meski Asta tak begitu memahami apa yang gurunya katakan mengenai seberapa bahayanya Kenshin baginya namun ia hanya mengangguk pelan, pikirnya Kenshin adalah sahabatnya dan ia harus percaya padanya.
Hal yang membuat Kenshin harus di waspadai adalah karena Kitab Ilmu Pedang Tak Berwujud yang digunakan olehnya yang mana hampir setara dengan Kitab Dewa Api Kegelapan sebagai sama-sama Seni Surgawi Legendaris.
Tak bisa dipercaya memang Kenshin juga mempunyai hal yang serupa, gurunya yakin bahwa Kenshin mempunyai darah keturunan dari seorang Dark Elf dan ia sekarang berada dalam pengawasan Dark Elf, Ras Netral yang sering sekali membuat masalah.
Keesokan harinya Asta pun terbangun pagi-pagi sekali, ia berniat untuk melakukan latihan sebelum dua hari lagi Turnamen akan dimulai.
Dibawah pengawasan gurunya Asta melatih kekuatan jiwanya agar bisa mengontrol aura pedang Langit Kelam yang mungkin harus digunakan di Turnamen nanti.
"Perhatikan konsentrasimu jangan pikirkan hal yang tidak penting sama sekali!" Ujar Flares.
Terlihat Asta sedang bermeditasi memperkuat pondasi kekuatan jiwanya ditemani Flares yang berdiri di belakangnya sesekali memukulkan rotan pada tubuhnya.
"Aduhh!!"
"Fokus!!"
"Plakk!!!"
Ujian itu terus berlangsung hingga malam hari barulah selesai. Guna latihan itu Flares menjelaskan untuk menguji seberapa konsentrasinya Asta di segala situasi dan seberapa kuat ia bisa terus tetap konsentrasi penuh. Tak hanya itu latihan itu juga guna meningkatkan kekuatan jiwanya yang memang meningkat begitu signifikan lebih baik ketimbang ia menempa.
Manager menahan tawanya melihat Asta yang memasuki restoran sambil memegangi punggungnya yang terasa sakit, sedangkan Zaru dan Ace secara terbuka tertawa terbahak-bahak mentertawakannya. Kesal Asta pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya Asta kembali bangun pagi-pagi sekali untuk berlatih bersama gurunya. Di belakang penginapan gurunya terlihat bersiap-siap dengan pedang kayu di tangannya.
"Ehh, kemana rotan kemarin..?" Tanya Asta.
"Tidak ada waktu untuk melakukan latihan yang sangat lambat, sudah saatnya kita mengambil resiko yang tinggi demi mendapat hasil latihan lebih baik," ujar Flares sambil tersenyum mencurigakan.
"Apanya yang lambat semua latihan yang ku lalui bersama guru jelas-jelas latihan yang bisa kapan saja mencabut nyawa," protes Asta.
"Kalau begitu kenapa kau belum mati juga," timpal Flares.
'Firasatku sangat buruk. Apa sebenarnya yang sedang guru rencanakan kali ini,' gumam Asta di dalam hati.
"Cepat keluarkan Pedang Iblis Malam sekarang juga,"perintah Flares.
"Apa guru gila?!"
"Cepatlah keluarkan saja," perintah Flares lagi.
Asta pun menurut dan segera mengeluarkan pedang Iblis Malam dari dalam cincinnya.
"Kenapa kau juga mengeluarkan sarung pedangnya juga taruh saja itu di dalam cincin,"
Seketika aura pedang pun menyebar hingga ke langit, menyebabkan langit yang awalnya cerah menjadi berkabut gelap.
Menyadari sesuatu yang tak asing Manager pun bergegas menuju keluar dari penginapan dan mulai menggunakan tekhnik roh nya untuk mencegah penyebaran aura pedang tersebut ke seluruh ibukota.
Manager pun bergegas memasuki ruang yang diciptakannya untuk mengetahui apa yang sedang Asta lakukan dengan pedang tersebut, namun yang ia temui Asta sedang berlatih dengan Flares, ia pun mengurungkan niatnya untuk menceramahinya.
Flares memintanya untuk menyerangnya dengan pedang tersebut sementara ia hanya bermodalkan pedang kayu ditangannya.
Meskipun Asta sempat berpikir bahwa itu hanya pedang kayu tak mungkin bisa menyakitinya itu salah, nyatanya seluruh badannya terasa nyeri, karena setiap kali gurunya mengayunkan pedang setiap itu juga itu mengenainya.
__ADS_1
Flares terus-menerus menyerangnya dengan cepat dan semakin cepat, sedangkan disisi lain Asta tak hanya merasakan rasa sakit yang gurunya berikan juga merasakan tekanan mental dari aura yang di pancarkan pedang tersebut.
Jika bukan karena gurunya ia mungkin sudah menggila sedari tadi, tetapi karena gurunya selalu memberikan pukulan keras setiap saat ia hampir kehilangan kontrolnya itu membuatnya kembali tersadar karena rasa sakit yang luar bisa.
Asta merasa seperti jiwanya ditelan aura pedang tersebut namun secara ajaib ia bisa terbebas berkali-kali karena rasa sakitnya.
Dari hanya bisa bertahan dari aura tersebut selama beberapa tarikan nafas sekarang Asta bisa mengontrolnya menjadi lebih baik, setidaknya ia bisa bertahan dengan pedang tersebut selama 10 menit, namun latihan masih terus berlanjut, bagi gurunya hanya bisa bertahan selama waktu 10 menit belum sepantasnya Asta bisa senang dan bangga kecuali ia bisa bertahan semaunya.
Setelah berlatih selama seharian penuh pedang itu masihlah di luar batas kemampuannya, ia tak tahu bahwa aura pedang tersebut sudah di tekan oleh gurunya sehingga ia bertahan cukup lama dalam pengaruhnya. Namun sesaat gurunya melepaskan tekanannya membuatnya kembali tak bisa bertahan hanya dalam beberapa helaan nafas.
Perkembangan Asta terbilang sangat signifikan hanya dalam dua hari saja, meskipun akhirnya ia memang tetap tak bisa menggunakan Pedang Iblis Malam akan tetapi ia sudah bisa mengendalikan Pedang Langit Kelam yang mana bisa disebut sebagai Pedang Iblis Malam versi yang lebih mudah di kendalikan.
Keesokan harinya gurunya tak mengajaknya berlatih melainkan menyuruhnya untuk istirahat agar ia tidak kelelahan saat esok hari di turnamen, tak ada kegiatan Asta pun pergi berkeliling ibukota berniat mencari seorang Peracik Obat untuk bertanya-tanya tentang proses Peracikan.
"Asta! Kau ingin kemana?!" Teriak Yu Tiandu melihatnya sedang berjalan-jalan sendirian di ibukota.
"Ahh, saudara Yu aku hanya sedang berjalan-jalan bosan disekitar sini sembari mencari rumah makan sekaligus mencari informasi apakah ada seorang Peracik Obat di sekitar sini," jawab Asta sambil tersenyum dibalik topengnya.
"Peracik Obat..? Bukankah kau mewakili Asosiasi Fajar Merah mengapa harus meminta seorang peracik obat membuatkanmu sebuah Pil Obat," ujar Yu heran.
"Hmm, seperti yang saudara Yu katakan, aku memang bisa mendapatkan pil apapun dari Asosiasi, hanya saja untuk sebuah pemahaman menjadi seorang Peracik aku butuh bantuan dari seseorang secara langsung juga,"jawab Asta.
"Ehh, kau ingin menjadi seorang Peracik juga, bukankah sudah cukup menjadi kultivator dan seorang Penempa mengapa ingin menjadi seorang Peracik Obat juga..?" Ucap Yu heran mendengarnya.
"Saudaraku, bukanlah hal baik jika kau menjalani 3 jalan yang berbeda sekaligus, cukup pilih satu atau dua saja itu sudah cukup, bukan hal mudah menjalani 3 jalan yang berbeda,"lanjutnya sambil menepuk bahu Asta.
"Mungkin memang sulit namun aku perlu menjadi seorang Penempa dan juga Peracik di saat bersamaan karena hanya dengan begitu aku baru bisa menjadi murid yang membanggakan," jawab Asta.
"Ahh baiklah kalau begitu, aku tidak akan menghalangimu lebih jauh, daripada itu aku ingin menyampaikan sesuatu mengenai Turnamen besok aku mendengar bahwa lawan kita kebanyakan adalah seorang jenius muda dari Sekte ternama. Apa saudara Asta pernah mendengar tentang 5 Pentagram? Aku dengar mereka mewakili Sekte mereka dalam Turnamen kali ini," ujar Yu memberitahunya.
"Hmm, aku pernah mendengarnya beberapa kali dan kudengar mereka sangat kuat,"jawab Asta.
"Kudengar Ketua Sekte Kobaran Api dan Ketua Sekte Tanah Neraka mempunyai seorang putra, kupikir mereka berdua akan mengirimkannya sebagai partisipan yang mewakilkan Sekte mereka tapi ternyata tidak," ucap Yu Tiandu terlihat sedikit kecewa.
"Sebaliknya mereka malahan mengirimkan kultivator muda yang mereka latih sebagai penjaga sekte sebagai partisipannya. Bukankah agak tidak adil bukan..?" Ujar Yu melanjutkan ucapannya.
"Apakah mereka sekuat itu?" Tanya Asta.
"Mereka sangatlah hebat dan berpengalaman, namun kudengar salah satu dari mereka menghilang namun sosok yang menggantikannya juga tak kalah hebatnya dengan sosok yang menghilang itu," jelas Yu.
Asta pun mengangkat kedua alisnya mendengar hal itu, pikirnya tidak salah lagi bahwa itu adalah mereka dan orang yang Yu Tiandu jelaskan menghilang tak lain adalah Kenshin yang memang lebih kuat diantara lainnya.
Sambil berjalan mencari rumah makan yang ramai pengunjung mereka berdua terus melanjutkan pembicaraan mereka. Sesampainya di sebuah rumah makan yang nampak ramai pengunjung Asta pun mengajak Yu Tiandu untuk ikut makan dengannya, Yu Tiandu pun mengangguk setuju.
Setelah menemukan meja kosong dan memesan makan Asta pun langsung menggunakan transformasi pertamanya untuk bisa mendengar pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Berkat topengnya Yu Tiandu sendiri tak menyadari hal tersebut.
Setelah selesai makan Asta pun bersiap untuk pergi dari restoran dan mengatakan akan kembali ke penginapan, Yu Tiandu pun bertanya apakah ia tak jadi untuk mencari seorang Peracik Obat yang kemudian Asta menjawabnya akan mencarinya setelah turnamen selesai.
Yu Tiandu pun mengangguk sambil tersenyum ia berkata bahwa Asta telah melakukan pilihan yang baik, lagipula ia juga harus fokus pada turnamen saja dulu sebelum belajar menjadi seorang Peracik begitulah jelasnya.
Setelah Yu Tiandu pergi meninggalkannya sendirian Asta pun mengambil jalan yang berlawanan dengan arah penginapannya. Sebenarnya ia sendiri tak ingin kembali penginapannya melainkan untuk pergi ke penginapan lain. Saat didalam restoran tak sengaja ia mendengar percakapan tentang Pentagram Api Sejati yang sudah tiba di Ibukota.
Asta pun berjalan menuju ke sebuah penginapan yang mana ia dengar dari pengunjung restoran bahwa mereka tinggal di sana.
Karena Asta tak hapal letak kondisi ibukota ia pun berjalan-jalan mengitari ibukota sembari mencari sebuah penginapan yang diatasnya terdapat tulisan Penginapan Angin Barat.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berkeliling ibukota mencari penginapan tersebut akhirnya ia pun berhasil menemukannya, setidaknya penginapan tersebut lebih mewah ketimbang dimana ia menginap bersama Manager, Ace, Zaru dan Gurunya.
Asta pun memasuki penginapan dan bertanya pada pelayan tentang mereka. Disaat ia sedang bertanya-tanya Gao Li yang mendengarkan percakapan antara ia dan pelayan langsung menghampirinya.
"Saudaraku, sepertinya kau sedang mencari sesuatu apa bisa ku bantu?" Tanya Gao Li dengan nada curiga sambil memegang pundaknya.
Asta pun berbalik badan dan menemukan seseorang yang cukup ia kenal meskipun ia sendiri jarang bermain dengannya.
"Saudara Gao apa ini kau..?!!" Tanya Asta antusias akhirnya bisa menemukan mereka sambil memegang kedua pundaknya.
"Hei, hei, hei, tak sopan asal memanggil orang lain sebagai saudara, apa kau mengenalku?" Tanya nya heran.
"Ahh, maaf sepertinya kau tak mengenaliku karena topeng ini," Asta pun membuka topengnya sebentar lalu kemudian memasangkannya kembali.
"Ahh! Kau..." Asta pun buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kita butuh tempat yang lebih aman lagi, apa disini ada?" Bisiknya.
Gao Li pun mengangguk mengerti, ia pun segera menghubungi keempat orang lainnya untuk bergegas ke depan penginapan.
Tak lama kemudian Zaraki, Moegi, Kesha, dan Shiro terlihat berlari panik dengan terburu-buru karena saat Gao menghubungi mereka Gao mengatakan ada situasi serius mereka pikir Gao sedang membutuhkan bantuan, namun ternyata ia hanya sedang bersama seseorang yang menggunakan topeng besi motif serigala.
Gao Li pun meminta mereka agar mengikutinya ke tempat yang lebih aman, namun karena Gao Li tak memberikan alasan yang jelas Moegi menolak untuk ikut dengannya begitu juga Shiro, jadi yang pergi hanya Kesha dan Zaraki.
Gao pun bertanya pada Asta apakah tidak apa-apa kalau dua dari mereka tidak ikut, dan Asta pun menjawabnya tidak apa-apa setidaknya bisa melihat mereka saja sudah cukup baginya.
"Saudara Gao siapa orang ini mengapa ia mengikuti kita bertiga?" Tanya Zaraki.
"Aku setuju dengannya, siapa dia apa kau mengenalnya, Saudara Gao..?" Tanya Kesha juga penasaran melihat sosok bertopeng motif serigala itu terus mengikuti mereka.
"Abaikan saja dia lagipula kalian berdua akan tahu nanti setelah melihatnya, sedangkan mereka yang tak ikut hanya akan menyesal karena tak ikut," jawab Gao Li.
Mereka berdua pun mengangguk dan mulai mengabaikannya di belakang. Dibalik topengnya Asta hanya tersenyum kaku ketika melihat sahabatnya ternyata tak bisa mengenalinya jika ia memakai sebuah topeng.
'jika topeng ini benar-benar bisa membuatku tak dikenali sama sekali, lalu mengapa Kenshin bisa mengenaliku hanya dalam sekali lihat. Sebenarnya siapa Kenshin,' pikir Asta di dalam hatinya.
Mereka pun sampai di sebuah tempat yang sangat sepi dari orang-orang Gao Li pun mempersilahkan Asta untuk memperkenalkan dirinya.
"Saudaraku sepertinya ini sudah saatnya kau membuka topeng itu bukan, tunggu apa lagi," ujar Gao.
"Hmm, sekarang sudah aman aku menjadi tenang kalau begini...."
"Kau?!!!" Belum sempat menyelesaikan ucapannya Zaraki dan Kesha langsung memotong ucapannya secara serentak setelah mendengar suara yang keluar dari balik topeng tersebut.
"Tak mungkin itu kau kan, Asta?!!" Tanya Zaraki terkejut mendengar suara dari seseorang yang sangat ia kenali.
"Asta, apa ini kau..?" Tanya Kesha juga penasaran dengan sosok dibalik topengnya itu.
Asta pun mengangkat topengnya, terlihat senyuman lebar terpampang di wajahnya.
"Kau?!! Itu benaran kau, Asta!!" Ujar Zaraki terkejut lalu berlari memeluknya, sedangkan Kesha menutup mulutnya tak percaya.
"Ini benaran kau kan, Asta. Ini benaran kau kan?!!" Ujarnya masih tak percaya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Sepertinya Moegi dan Shiro benar-benar akan menyesal karena tidak ikut kemari jika dilihat dari betapa terkejutnya kalian berdua," gumam Gao Li pelan.
__ADS_1
Kesha pun mengangguk setuju dengannya, terlebih Moegi adalah orang yang paling tak ingin kehilangan dirinya. Ia pasti akan sangat menyesal jika mengetahui bahwa sosok bertopeng yang sebelumnya ia lihat di depan penginapan adalah Asta.
"Kau pikir siapa lagi kalau bukan aku, apa kau berdoa kalau aku sudah mati dan yang sekarang dihadapanmu ini arwah gentayangan, hah?"