
Setelah makan, Asta Raiken hendak membuka kembali Kitab Dewa Api Kegelapan, namun Flares segera menghentikannya.
"Tidak untuk saat ini, Asta," ujarnya dengan tegas.
"Ada apa? Bukankah Guru yang menyarankan agar aku melatih Kitab Dewa Api Kegelapan ini? Mengapa sekarang Guru melarangku?" Asta bingung dengan perubahan sikap Flares.
Ace menghela nafas pelan. "Kontrol atas esensi rohmu sangat rendah, terutama karena Api Pemakan Cahaya merupakan Roh Dewa," jelasnya.
Asta memiringkan kepalanya. "Lalu apa masalahnya? Roh Dewa kan dikenal karena fleksibilitasnya. Seharusnya tidak akan ada masalah berarti, bukan?"
"Apa kau tidak mendengar apa yang ku katakan? Bukan masalah KESULITAN, tetapi masalah KONTROL! Esensi Roh Dewa memang fleksibel dalam pemahaman dan pemurniannya, tapi kendala terbesar adalah mengendalikannya atau mengontrolnya," tegas Ace sambil Flares pergi ke dapur untuk menyeduh kopi.
Asta Raiken menggaruk kepalanya, "jadi begitu. Ace, bisakah kau membantuku dalam hal ini?"
"Apa yang kau katakan? Itu adalah esensi rohmu. Bagaimana mungkin kau meminta bantuan orang lain untuk mengendalikannya? Satu-satunya cara adalah dengan kegigihanmu sendiri," jelas Ace sambil mengambil secangkir kopi dari tangan Flares dan meminumnya.
Asta mencoba bertanya pada Gurunya, tetapi jawabannya tetap sama. Flares memberikan beberapa nasehat dan panduan penting agar Asta Raiken bisa mengontrol esensi rohnya dengan baik.
Karena hal tersebut adalah proses yang harus dilakukan sendiri, Asta Raiken mencoba melakukannya di pekarangan rumah, namun Flares dan Ace sama-sama menghentikannya. Menurut mereka, tempat ini tidak cocok untuk melakukan latihan tersebut.
"Saat ini yang seharusnya kau lakukan adalah meningkatkan pondasi raga tubuhmu ke tingkat 3. Kau sudah memiliki cukup pemahaman dan sumber surgawi, hanya raga tubuhmu yang perlu diperkuat," ujar Flares.
Asta Raiken terkejut mendengarnya, "Apa?! Bagaimana bisa ini terjadi?" Ia benar-benar tidak menyadari hal tersebut. Namun setelah merenung, mungkin kejadian hari kemarin telah membuatnya menerobos batas Ranah Petarung.
Flares kemudian membawakan sebuah botol kecil berisi pil. Ia memberikan pil tersebut pada Asta untuk dikonsumsi.
"Pil ini bisa membantu mempercepat proses penempaan Raga Tubuhmu. Apa yang kau tunggu, cepat telan," kata Flares.
Meskipun memiliki firasat buruk, karena itu adalah pemberian gurunya, Asta tidak menolak.
Tiga bagian raga tubuhnya saat ini telah ditempa sebesar 25 persen masing-masing, tinggal 5 persen lagi untuk mencapai Raga Tubuh tingkat 3.
Asta Raiken tahu betapa menyakitkannya saat menempa Raga Tubuh. Apalagi Gurunya benar-benar memberikan tekanan besar ketika ia pertama kali meningkatkan Raga Tubuh bersamanya.
"Konsentrasilah. Kali ini Guru tidak akan mencambukmu atau melakukan apapun. Kamu hanya perlu bertahan agar tidak pingsan untuk mencapai hasil yang memuaskan," ujar Flares padanya.
"Hah? Apa yang Guru katak- Aakkhhhh…!!!" Sebelum sempat berbicara, Asta Raiken mendapatkan hentakan yang sangat kuat. Tubuhnya terasa seolah dilemparkan ke dalam ledakan.
Kerangka tulang di dalam tubuhnya merasa hancur dan kemudian pulih kembali secara terus-menerus, darahnya seolah mengalir racun lalu dibersihkan kembali berulang-ulang, dan otot-ototnya merasa seperti ditarik dan robek, lalu dijahit kembali. Dalam waktu singkat, Asta Raiken merasakan tubuhnya seakan-akan hancur dan sembuh secara bersamaan. Proses tersebut berlangsung selama beberapa jam.
"Aakkhhhh....!!!!!!"
Teriakannya terdengar hingga ke seluruh pemukiman. Semua orang langsung panik dan bergerak menuju rumah Asta Raiken untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Namun begitu mereka sampai, Ace sudah berdiri tegak di depan pekarangan rumah untuk menghalangi mereka.
"Tidak ada masalah di sini. Kembalilah!" ucapnya tegas kepada mereka.
Helio Utake hendak berkata sesuatu, namun Ace segera memotong ucapannya dan menyuruhnya untuk diam.
"Daripada memikirkannya, lebih baik kalian bersiap untuk perang yang akan datang. Masalah ini adalah tanggung jawabku. Pergilah!" tegasnya lagi, memerintahkan mereka untuk pergi.
Helio Utake dan para murid akhirnya menuruti perintah Ace dan pergi dari tempat itu.
Teriakan Asta Raiken terus terdengar sepanjang hari, namun sampai petang tak ada satu orang pun yang berani mengunjungi rumahnya, terutama setelah Ace memperingatkan mereka untuk tidak mengganggunya.
Satu hari. Dua hari. Lalu satu minggu kemudian, Asta Raiken akhirnya berhenti berteriak. Rumahnya lebih sepi daripada sebelumnya.
Tanpa makanan dan minuman, ia terus melawan rasa sakit itu dan bertahan agar tidak kehilangan kesadaran. Semua itu ia lakukan dengan penuh semangat untuk mendapatkan hasil yang maksimal, seperti yang telah dijelaskan oleh Gurunya.
"Selesai sudah semuanya. Kau berhasil, bagaimana perasaanmu? Bagaimana dengan pil yang kuberikan padamu?" tanya Flares, menyambutnya dengan senyuman.
Setelah rasa sakit itu menghilang, satu hal yang membuat Asta Raiken terkejut adalah stamina tubuhnya yang tetap terasa seperti semula atau bahkan mengalami peningkatan. Meski begitu, hal tersebut tidak dapat mengabaikan rasa lapar dan dehidrasinya.
"Saking hebatnya, hampir saja membuatku mati 9 kali," ujarnya dengan lemas, merasakan perutnya yang mulai berkeroncongan.
Flares tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. Tanpa menunggu lama, ia segera menyiapkan makanan untuk dirinya.
Ace masih tetap berjaga di depan rumah, saat Asta Raiken akhirnya berhenti berteriak. Kejadian ini tentu menarik perhatian orang-orang yang berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya, sehingga Ace tetap bertahan di depan rumah.
"Sudah kukatakan agar kalian tidak khawatir, bukan? Apakah kalian benar-benar tidak mempercayaiku?!" peringat Ace kepada Helio Utake dan seluruh anggota murid yang hadir di sana.
Helio Utake hendak melawan dan terus berjalan ke teras, namun Ace langsung menggeram ke arahnya. Helio Utake pun dipaksa untuk membungkuk hormat padanya, kendali atas tubuhnya seolah-olah menghilang di hadapannya.
"Ini tidak sesuai dengan perjanjiannya, Utake!" Ace berbicara dengan nada sedikit menggeram ke arahnya. Para murid langsung bersiap dengan senjata, jika terjadi sesuatu yang buruk.
Taki Garaki bersama dengan beberapa Tetua Sekte Kobaran Api lainnya juga siap dengan senjata mereka. Meskipun mereka tidak yakin bisa mengalahkannya, keselamatan Asta Raiken dan Helio Utake merupakan prioritas utama mereka.
Ace meredam emosinya sebisa mungkin, untuk tidak menyakiti siapapun di antara mereka.
"Aku tidak ingin ada hal buruk terjadi di sini. Jadi, saat kukatakan pergi, kuharap kalian semua segera meninggalkan tempat ini dalam tiga tarikan nafas. Tinggalkan Helio Utake di sini, aku akan membicarakan hal penting dengan dia," perintah Ace sekali lagi.
__ADS_1
Melihat mereka masih tak bergeming sedikit pun, Ace mendengus kesal. "Tunggu apa lagi! Sudah kukatakan tak ada hal buruk yang terjadi, keparat!" teriaknya mulai kesal. Barulah mereka semua berhamburan pergi, meninggalkan kediaman rumah Asta Raiken.
Helio Utake tertawa kecil, "Aku harus mendengarkan keadaan yang sebenarnya," ucap Helio Utake, yang kemudian dibalas dengan dengusan kesal dari Ace.
---
"Hei! Nak, sekarang waktunya makan. Cepat bangun dan kemari sebelum makananmu dingin!" panggil Flares.
Matanya langsung terbuka dan berbinar-binar mendengar suara panggilan itu. Awalnya ia merasa lesu, namun segera berdiri dengan semangat.
"Makanan aku datang!" teriaknya kegirangan.
Matanya berseri-seri melihat segala masakan yang tersaji di atas meja. Tanpa membuang waktu lama, ia langsung mengambil piring dan mulai makan.
"Di mana Ace? Aku tak mendengar suaranya sama sekali sejak tadi," setelah kenyang makan, ia baru menyadari kepergian Ace.
"Entahlah. Mungkin sedang mencari jodoh," jawab Flares sambil bercanda. Asta tertawa mendengarnya.
"Mungkin ada baiknya aku harus mencarinya sekarang untuk pulang," Asta Raiken langsung membereskan piringnya setelah selesai makan.
"Daripada mengkhawatirkannya seperti itu, lebih baik kita berlatih saja. Bukankah sekarang kau sudah siap untuk berlatih? Sekarang mungkin kau bisa sedikit mengontrol esensi rohmu," Flares menghentikannya.
"Ahh! Guru, ada benarnya juga. Kalau begitu, Guru bisakah kau membantuku lagi?" Tanya Asta Raiken.
"Apa kau masih memerlukan bantuan ku? Bukankah kau pernah melakukannya sendiri saat melawan Elf itu?" Ujar Flares, mengingatkan.
Asta Raiken mulai mencoba mengingat kembali cara untuk melakukan pelepasan roh, perlahan api muncul menyelimuti tangannya.
"Guru, aku yakin sekarang aku bisa mengendalikannya walau hanya sebentar. Meskipun ini baru 10 persennya saja dari yang seharusnya," Asta Raiken tersenyum penuh percaya diri ke arah gurunya.
"Bagus. Sekarang tarik kembali esensi rohmu, mari kita mulai bagian terpentingnya sekarang," ujar Flares.
Asta Raiken menuruti dan menarik kembali esensi rohnya dengan cepat. Benar-benar tak sesulit sebelumnya di mana Asta Raiken harus memanfaatkan air untuk menariknya kembali.
"Semakin tinggi tingkatan raga tubuhmu juga meningkatkan kesempatanmu untuk bisa mengontrolnya lebih lanjut. Kita tak bisa menetap di sini lebih lama lagi,"
Asta Raiken mengerutkan keningnya bertanya tentang maksud dari ucapannya tersebut. Flares pun menjawabnya dengan beberapa kata, yaitu penerobosan ranah atau peningkatan level.
Flares melemparkan sebuah botol pil ke arahnya, "Apa ini?" Tanya Asta Raiken dengan raut wajah curiga. Ia masih bisa mengingat rasa sakit yang telah dialaminya selama seminggu ini karena pil dari pemberian gurunya.
"Guru jamin rasanya takkan seperti sebelumnya," Flares mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
Pil Obat terdiri dari 7 tingkat yang mana setiap tingkatnya dibagi menjadi tiga kelas sesuai kualitas pilnya:
1) Rendah
2) Sedang
3) Tinggi.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Guru… kau berbohong…" Asta Raiken langsung muntah darah sesaat setelah ia memulai penerobosan ranahnya setelah menelan pil tersebut. Sumber surgawi di seluruh tubuhnya serasa meledak-ledak memberikan rasa sakit yang sama mengerikan seperti sebelumnya.
"Bertahanlah. Sebentar lagi kau akan merasakan efeknya yang sangat amat berguna bagi masa depanmu," ucap Flares enteng sambil tersenyum.
Benar seperti apa yang Flares katakan sebelumnya, setiap setengah jam sekali ia bisa merasakan kualitas sumber surgawinya menjadi lebih murni, dan kapasitas tampung raga tubuhnya bahkan terus meningkat. Selain itu, Asta juga bisa merasakan sedikit efek penyembuhan dari darahnya yang telah mencapai kemurnian 30 persen.
Dengan sekuat tenaga, Asta mencoba untuk tetap tersadar saat melakukan penerobosan ranah. Meningkatkan raga tubuh terlebih dahulu memang sangat membantu proses penerobosan.
---
Seminggu pun telah berlalu sejak Kenshin kembali dari Asta. Seminggu yang lalu, ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Asta Raiken berteriak dengan keras selama itu. Kenshin memasuki ruangan ayahnya, Helio Utake, yang tengah berdiri sambil menatap jendela.
"Ayah, apakah kau berhasil mengetahui kondisi Asta seminggu yang lalu? Terakhir kali aku menemuinya adalah tiga minggu yang lalu. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi dengannya semenjak seminggu yang lalu," tanya Kenshin Utake.
"Ia baik-baik saja, atau mungkin bisa dikatakan lebih baik daripada siapapun keadaannya. Kau tak perlu mengkhawatirkannya lagi," Helio Utake menjawabnya sambil tersenyum tipis.
Kenshin Utake menghela nafasnya tenang, "Apakah Ayah bertemu dengannya lagi selama seminggu ini?" Tanyanya lagi.
"Tidak. Tuan Ace itu bukanlah orang yang bisa dinegosiasi. Jika ia sudah berkata begitu, maka sampai kapanpun akan tetap begitu. Daripada itu, bagaimana dengan hasil penerobosan ranahmu?" Tanya Helio Utake.
Sambil tersenyum bangga, Kenshin Utake langsung memperlihatkan tingkatan ranahnya saat ini, "Seperti yang diharapkan, Ayah," jawabnya bangga. Helio Utake tersenyum bangga melihat putranya tersebut.
"Syukurlah. Kau benar-benar tak mengecewakanku, Kenshin," Helio Utake memeluknya erat.
"Asta mungkin juga sudah selesai, pergilah kunjungi dia," sarannya.
Kenshin pun menurut dan segera berangkat, tak lupa membawa sebilah pedang miliknya yang tersarung rapi di samping rak.
---
Kesha Timber yang melihatnya terburu-buru dengan sebilah pedang tersarung rapi tentu merasa penasaran. Ia lalu memanggil yang lainnya untuk mengejarnya.
__ADS_1
"Kenshin! Ada apa? Kenapa kau buru-buru sekali?" teriak Shiro Nekoshi yang melihatnya berjalan dengan tergesa-gesa.
Kenshin Utake sedikit terkejut lalu tersenyum ke arah mereka, "Ohh kalian! Bagaimana dengan penerobosan ranah kalian?" ujar Kenshin Utake balik bertanya.
"Ahh, kami semua berhasil. Bagaimana denganmu?" tanya Kesha Timber.
"Tentu aku pun berhasil. Ada apa, kalian memanggilku?" Tanya Kenshin Utake sekali lagi.
Mereka berempat saling berpandangan satu sama lain sebelum kemudian sama-sama menunjuk ke arah pedangnya, "Lalu, untuk apa kau membawa pedang itu? Apa kau ingin menebas seseorang?" Tanya Zaraki Onoki.
"Ehh.. Ini.. Aku berniat mengajak Asta untuk latihan tanding, aku benar-benar harus mengalahkannya sebelum ia pergi," jelas Kenshin Utake sambil tersenyum.
Mereka berempat lalu tertawa kecil bersama, hanya Asila Moegi yang masih diam menatap pedang Kenshin Utake dengan fokus.
"Moegi, ada apa? Kenapa raut wajahmu begitu?" tanya Kesha menyadari perubahan pada wajah Moegi.
"Sial. Awas saja kalau dia berani meninggalkanku. Aku tidak akan segan lagi untuk menghajarnya," gerutu Asila Moegi sambil merebut pedangnya dan berlari meninggalkan mereka menuju rumah Asta Raiken.
"Kenshin, sepertinya kau mengatakan sesuatu hal yang tak seharusnya kau ucapkan," ujar Shiro memandangi Moegi yang terlihat menjauh dari mereka.
"Hei! Itu pedangku! Memangnya apa yang aku katakan..? Aku hanya bilang ingin mengajaknya, ohhh sial! Aku lupa!" Kenshin pun memikirkan kembali ucapannya dan teringat apa yang seharusnya tak ia ucapkan. Kenshin pun bergegas berlari mengejarnya.
"Tunggu apa lagi..!! Ayo..!!" Ajak Kesha Timber yang lain.
"Moegi..!!! Apa kau yakin dia belum berangkat semenjak tiga hari yang lalu...!!! Aku yakin seharusnya seminggu yang lalu adalah hari dimana Asta berpamitan dengan Pak Helio...!!!" seru Zaraki dari belakang.
"Diam kau, keparat..!! Bicara sekali lagi kuhajar kau, Zaraki..!!" Balas Moegi tak terima jika Asta telah pergi tanpanya.
"Lagipula apa boleh buat? Hanya berpamitan dengan Pak Helio mungkin memang satu-satunya cara supaya terhindar darimu. Jadi jangan berharap dia akan membawa wanita singa sepertimu, hahaha...!!!" Seru Zaraki sekali lagi, tampaknya dia sengaja melakukannya untuk membuat Moegi semakin marah.
Moegi menghiraukannya dan mulai mempercepat langkahnya meninggalkan keempatnya di belakang. Mereka pun buru-buru menyusulnya dari belakang, namun saat mereka hampir tiba di kediaman Asta, mereka merasakan lonjakan energi dari arah rumahnya. Membuat Moegi semakin panik akan bahaya yang mungkin sedang mengintai Asta.
Shiro dan Zaraki juga ikut menarik senjata mereka dan melesat cepat ke arah sana. Mengabaikan Kenshin dan Kesha yang berteriak-teriak dari belakang.
"Dasar bodoh! Itu adalah lonjakan energi yang terjadi saat seseorang sedang melakukan penerobosan ranah! Apanya yang pembunuh!" Teriak Kenshin, tak di dengarkan sama sekali.
"Sudahlah, Ken. Biarkan saja mereka," ujar Kesha lelah dengan sifat mereka.
---
Saat ini, Asta Raiken masih terlihat dalam posisi duduk sila. Tampak jelas bahwa ia masih dalam proses penerobosannya yang berlangsung.
Di tengah konsentrasinya, tiba-tiba esensi rohnya meledak keluar, menyelimuti seluruh tubuhnya dan mendorong proses penerobosannya menjadi lebih cepat.
"Jangan panik! Tetap fokus dan kuasai kontrol atas esensi rohmu! Penerobosan Ranah Ahli tidaklah semudah sebelumnya, dan ledakan yang terjadi pada esensi rohmu adalah sesuatu yang wajar selama proses penerobosan!" Flares memberinya arahan.
"Tapi Guru! Ledakan ini terlalu kuat! Ini berlebihan!" Teriak Asta Raiken, berusaha menahan ledakan esensi rohnya yang begitu kuat.
"Tentu saja, itu adalah efek dari Pil Pembentukan Roh yang kau minum. Makanya kau harus bertahan agar berhasil! Semangat! Semangat!" Ujar Flares, memberinya semangat.
Asta Raiken terkejut mendengarnya, namun karena tak punya banyak waktu, ia memusatkan konsentrasinya untuk menyelesaikan penerobosan secepatnya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Asta Raiken mencoba keberuntungannya dengan melepaskan ledakan esensi roh agar penerobosannya dapat segera berakhir.
Detik-detik terakhir penerobosannya, sebuah bola api melayang ke arahnya. Flares terbelalak karena terlalu fokus memperhatikan, hingga ia lupa melindungi Asta Raiken dari serangan apa pun.
Sesaat sebelum bola api itu hampir menyentuh wajahnya, sekeliling tubuh Asta Raiken mendadak tercipta hempasan energi yang menghancurkan bola api tersebut.
"Siapa itu!?" Sebuah bola api lain memotong ucapannya.
"Mereka adalah teman bermainmu saat kecil!" Flares langsung kembali melayang ke dalam cincinnya.
Asta mengangkat alisnya mendengar itu sambil menepis bola-bola api yang terbang ke arahnya.
"Hei! Hei! Hei! Apa kalian gila?! Ranahku saja masih belum stabil!"
Rumahnya hancur berkeping-keping akibat hujan bola api tersebut. Lama-kelamaan, ia tak bisa menahan emosinya. Asta melepaskan kekuatannya untuk menyambut segala serangan yang mungkin akan dilancarkan padanya.
Sebuah bayangan seseorang terlihat di balik debu, sedang mengayunkan pedang. Asta sedikit menyeringai, menduga itu adalah Kenshin Utake.
"Aku tahu kau ingin membalas kekalahanmu, tapi ini bukan cara yang benar," ucap Asta Raiken.
Sosok itu mencoba mencari keberadaan Asta Raiken di balik debu, dan saat ujung pedangnya mengarah padanya, bayangan itu bersiap menyerang.
"Jangan bilang aku kejam. Semua ini kau yang meminta duluan," ucap Asta.
"Pelepasan Esensi Roh. Seni Surgawi Rendah Emas! Pukulan Peremuk Raga!"
Sosok itu melesat maju menusukkan ujung pedangnya yang bertemu dengan tinju Asta yang telah diperkuat.
Setelah sosok bayangan itu keluar dari zona berdebu, akhirnya Asta bisa melihat siapa orang yang berusaha menyerangnya. Meskipun sebenarnya ia sudah menebaknya siapa.
__ADS_1