
Setelah beberapa hari kemudian tibalah mereka di Hutan Xing Yu, Asta lalu meminta untuk beristirahat sejenak setelah berlari beberapa jam.
Flares pun mengangguk dan membiarkannya beristirahat akan tetapi juga menyuruhnya untuk lanjut mempelajari Kitab Dewa Api Kegelapan. Asta pun mengangguk dan membuka halaman selanjutnya setelah terakhir kali ia berlatih.
"Sekarang kau sudah memahami penguasaan dasar penuh, kini sudah saatnya memulai latihan penyatuan mana dan qi,"ujar Flares.
Asta pun mengangguk pelan dan mulai melatih metode penyatuan mana dan qi nya.
Disaat-saat ia tengah berlatih, ada aura yang sangat ia kenali, ia pun berdiri dan mencoba untuk mencari-cari keberadaan tersebut.
"Ada apa Asta?" Tanya Manager melihat tingkah laku Asta yang tak seperti biasanya.
"Manager, aku ingin pergi sebentar. Aku merasakan ada sesuatu yang tampak mencurigakan di sekitar sini," ujar Asta.
Asta berlari menuju arah samar-samar aura tersebut berasal, dari jauh ia melihat ada sebuah danau. Di samping danau tersebut terlihat Ace yang tengah duduk dengan wujud setengah manusianya.
Rasa senang dan terharu pun tercampur aduk, saking senangnya sampai tak bisa menahan air mata untuk menetes. Asta pun berlari ke arahnya.
"Ace, Itu kau?" panggil Asta pelan.
Ace membalikkan kepalanya sambil tersenyum dan menjawab,"Kupikir kau lupa denganku setelah mengenal mereka," ucapnya.
Asta pun tak bisa menahan diri lagi untuk menghampiri dan memeluknya, ia sungguh merindukan sosok serigala tersebut.
"Ohh,, rupanya perkembangan mu meningkat pesat. Apa kau rajin berlatih saat bersamanya?" Tanya Ace.
Asta lalu memegang dagunya sambil mencoba mengingat-ingat kembali seluruh kejadian yang ia alami di Lembah Neraka.
"Lupakan, aku tak mau lagi mengingat kenangan itu,"ujarnya menolak menceritakan.
"Hahahahaa.. sepertinya orang itu melatihmu sangat keras ya. Hahahaha," ucapnya tertawa.
"Ace, apa semua urusanmu telah selesai?" Tanya Asta.
"Belum sepenuhnya, namun itu bisa di selesaikan oleh anggota Ras yang lain. Jadi apa sekarang kau hendak berniat mengikuti Turnamen Seni Bela Diri di Kota Hansu?"ucapnya bertanya balik.
"Ya, guru yang memintaku untuk mengikuti Turnamen tersebut. Ia mengatakan bahwa turnamen ini adalah tempat yang bagus untuk menambah pengalaman,"jawabnya.
"Bukankah lebih menyenangkan memburu perkemahan musuh ketimbang berada di permainan anak-anak itu?" Ucapnya sambil tertawa.
"Ace, bagaimana kau tahu itu? Apa kau terus-menerus memperhatikanku," tanya Asta penasaran ketika Ace membahas soal perkemahan musuh.
"Saat kau menggunakan Transformasi Roh. Itu sama halnya seperti kita berbagi tubuh dan kesadaran, aku bisa melihatnya melalui esensi roh ku," jelas Ace.
Asta pun mengangguk mengerti pantas saja Ace bisa mengetahui hal seperti itu.
"Ahh iya, lihat ini, sekarang aku juga mempunyainya, kau tahu cincin ini mempunyai luas per kotak yang sama," ucap Asta menyombongkan cincin penyimpanannya tersebut.
"Cih, baru punya satu saja sudah sombong,"balasnya kesal.
"Sudahlah ayo kita pergi, mereka sudah menunggu kita berdua disana," ajak Ace untuk menemui Manager dan yang lainnya tak lupa ia pun merubah tampilannya kembali menjadi serigala kecil.
Manager Row yang khawatir Asta yang tak lekas kembali hendak mencarinya, namun sebelum itu ia malah sudah kembali sendiri bersama dengan seekor serigala kecil di pundaknya. Manager tersenyum kaku saat melihatnya sedangkan Zaru menatapnya malas.
"Oh, kupikir beruang sepertimu lebih suka di gua itu," ucapnya mengejek Zaru.
"Dasar sialan, kau pikir kau siapa," balas Zaru kesal.
"Hmmm,,, setelah hampir ribuan tahun kau hidup dan sudah ratusan tahun berlalu semenjak kau menjadi Roh Hewan seorang Kultivator Sejati kau hanya meningkat sebanyak itu? Sia-sia saja dahulu kala para Manusia menyegelmu di Lembah Neraka. Kau tidak tahu berterima kasih dan bahkan tak berkultivasi dengan serius sama sekali,"lanjut Ace mengejeknya.
"Kaaaauuu..!!!!!!" Zaru pun marah dan hendak mencabut tanduknya, sedangkan Ace tertawa terbahak-bahak melihat Zaru yang terpancing emosinya.
"Ayolah tuan-tuan, bisakah kalian berdamai sebentar. Kita masih harus melakukan perjalanan jauh,"ujar Manager Row berusaha melerai mereka.
"Perjalanan jauh? Kenapa harus melakukan perjalanan yang membosankan ini. Bukankah kalian bisa mampir di lorong transportasi yang ada di kota untuk bepergian jauh secara singkat,"ujar Ace memberikan saran.
"Apa itu Lorong Transportasi?" Tanya Asta penasaran karena ia baru saja mendengarnya.
__ADS_1
"Lihat dia saja bahkan belum kalian beritahu mengenai hal itu," ucap Ace sambil menggeleng pelan.
Ace lalu melakukan gerakan memotong di udara. Seketika ruang dimensi pun terbuka. Asta membelalakkan matanya saat melihat hal itu, karena sebelumnya ia juga pernah melihat Ace yang juga sempat melakukannya.
"Sepertinya kau cukup berguna,"ucap Zaru.
"Setidaknya aku lebih daripada berguna jika dibandingkan denganmu," balasnya.
"Cepatlah masuk, ini akan langsung menuju Kota Hansu dengan cepat tanpa perlu berlari," lanjut Ace menyuruh mereka semua untuk memasuki lorong hampa tersebut.
"Tak kusangka artefak itu berada di tangan tuan Ace," puji Manager ia pun memasuki lebih dulu lorong tersebut. Diikuti Zaru, Asta dan Ace yang terakhir masuk, sedangkan Flares sedari tadi setelah menyuruh Asta melanjutkan latihannya ia tidur di dalam gelang penyimpanan Asta.
Mereka pun sampai di depan gerbang Kota Hansu. Segerombolan penjaga gerbang tampak terkejut saat melihat sebuah lorong hampa yang muncul tiba-tiba di hadapan mereka. Sebagai bentuk waspada mereka pun menodongkan senjata ke arah lorong hampa tersebut.
Manager Row pun keluar lebih dahulu, ia mengernyitkan dahinya saat ada lusinan ujung mata tombak yang mengarah padanya.
"Ada apa ini?" Ujar Manager Row.
Menyadari bahwa yang keluar adalah Manager Row, para penjaga pun bergegas menarik kembali senjata mereka dan meminta maaf atas kelancangan sikap mereka terhadap Manager Row.
Manager Row pun memaafkan mereka, karena wajar kalau mereka waspada melihat lorong hampa yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Tak lama kemudian Asta dan yang lain pun mengikuti Manager Row keluar dari lorong hampa tersebut. Lorong hampa pun kembali menghilang sesaat Ace juga telah keluar, para penjaga pun mempersilahkan mereka masuk.
Dibalik pintu gerbang terlihat Kota Hansu yang begitu ramai. Orang-orang tampak berlalu lalang Manager pun mengajak Asta ke kerajaan untuk ikut mendaftar menjadi peserta Turnamen.
Sosok Manager Row yang begitu dikenali, ditambah penampilan Asta yang betopeng mereka tampak menarik perhatian. Ditambah lagi Ace dan Zaru keduanya berada di atas pundaknya, Zaru duduk di pundak kiri dan Ace duduk di pundak kanan.
"Siapa bocah itu, apa-apaan dengan dua hewan peliharaannya itu,"
"Apakah Manager Row sudah mengangkat seorang murid, tapi siapa?"
Orang-orang pun bertanya-tanya mengenai identitas Asta yang sebenarnya. Namun tak berani menanyakannya langsung pada Manager Row.
Asta tampak terkejut melihat bangunan yang begitu luas, megah, dan mewah di hadapannya. Itulah Kerajaan Kekaisaran Arkhan. Dengan identitas serta Giok Penanda Manager Row mereka pun diizinkan memasuki kerajaan untuk mendaftar sebagai peserta di Turnamen.
Selesai mendaftar mereka pun pergi untuk mencari restoran serta penginapan sementara mereka di kota tersebut.
"Kita mencari restoran yang menyediakan tempat penginapan lebih dahulu. Barulah setelah itu kau boleh berjalan-jalan disekitar kota ini," ujar Manager.
Asta pun mengangguk setuju dan mengatakan bahwa ia juga kebetulan sudah lapar dan hendak ingin makan.
Setelah beberapa saat mencari akhirnya mereka pun menemukan sebuah restoran yang juga menyediakan penginapan. Setelah makan dan menyewa sebuah kamar Asta pun izin pamit sebentar untuk berkeliling kota bersama dengan Zaru dan Ace.
"Ahhh,,, hampir saja lupa," ucapnya mengingat pesan yang Yuan sampaikan agar mengabarinya saat ia sampai di kota tersebut.
"Giok Komunikasi? Darimana kau mendapatkannya,"tanya Zaru.
"Bukankah kau selalu bersamanya mengapa kau bertanya," ujar Ace heran.
"Hei, asal kau tau, bocah ini selalu berkeliaran sendiri saat di Tiandu. Alasan bocah ini sekarang memakai topeng adalah karena kecerobohannya sendiri, susah payah kau menyembunyikannya pun ia malah membongkar identitasnya di depan umum. Itulah mengapa ia mengenakan topeng sekarang," jelas Zaru.
Ace lalu menatap Asta tajam. "Maaf, maaf. Tapi bisakah kalian berdua diam lebih dahulu aku ingin menghubungi seseorang," ujarnya tersenyum canggung di balik topengnya.
Asta pun mulai menghubungi Yuan Tiandu, tidak lama kemudian mereka pun tersambung. Giok itu menampilkan gambar Yuan yang tengah melihat ke Giok tersebut. Asta pun memberitahunya bahwa ia sudah sampai di Kota Hansu.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kau menuju Kota Hansu dengan berlari?" Tanya nya heran.
Asta pun beralasan bahwa ia mampir ke salah satu kota yang ia lewati dan pergi menggunakan Lorong Transportasi.
"Baiklah kalau begitu tunggulah aku di sekitar Lorong Transportasi. Kebetulan aku sedang bersiap untuk berangkat sekarang juga," ujarnya Asta pun mengangguk dan komunikasi pun berhenti.
Setelah menerima kabar dari Asta Yuan bergegas menuju ke aula Keluarga. Dimana disana sudah ada tiga remaja tengah menunggunya, Yuan tersenyum canggung ke arah mereka bertiga.
"Senior, tidak bisakah anda berjalan lebih cepat. Kami sudah menunggu disini semenjak setengah jam yang lalu," ucap salah satu dari mereka, Jaza Tiandu.
Mereka bertiga merupakan perwakilan dari Keluarga Tiandu dalam Turnamen Seni Bela Diri. Yuan Tiandu yang merupakan salah seorang jenius pada masanya sekaligus pangeran Keluarga Tiandu di perintahkan untuk menjamin keselamatan mereka semasa di Kota Hansu. Nama mereka bertiga adalah; Jaza Tiandu, Yami Tiandu, Yu Tiandu.
__ADS_1
"Karena kalian sudah menunggu begitu lama disini, bagaimana kalau kita segera pergi ke Lorong Transportasi dan menuju Kota Hansu sekarang," ajak Yuan Tiandu.
"Bukankah memang itu yang seharusnya kita lakukan sedari tadi," jawab mereka bersamaan, Yuan pun tersenyum canggung.
Dengan demikian mereka berempat pun pergi, disana terlihat ramai orang-orang mengantri untuk menggunakan Lorong Transportasi. Setelah menunggu beberapa menit, tibalah saatnya giliran mereka.
"Jangan lupa bawakan oleh-oleh khas Ibukota ya," ujar penjaga kepada mereka bertiga.
"Siap, Paman. Aku pasti akan membelikan sesuatu untuk paman nantinya," ujar Yu sambil tersenyum. Mereka berempat pun segera memasuki lorong tersebut.
Sesampainya di Kota Hansu penjaga Lorong tersenyum ramah saat melihat mereka berempat keluar dari Lorong Transportasi. Setelah selesai membayar biaya transportasi mereka pun keluar dari bangunan tersebut.
Diluar bangunan terlihat seorang anak remaja bertopeng yang tengah berdebat dengan dua binatang peliharaannya. Orang-orang tampak berkerumun memperhatikannya.
"Bukankah itu adalah Hewan Ghaib Kuno Beruang Bertanduk dan Serigala Dewata? Siapa sebenarnya bocah ini dan latar belakang seperti apa yang ia miliki sampai-sampai bisa memelihara dua Hewan Ghaib Kuno,"
"Itu dia! Bocah yang sebelumnya datang bersama dengan Manager,"
"Dua Ras Hewan Kuno yang bahkan di segani di seluruh Benua Atalist, bocah ini berbicara dengannya seolah-olah mereka teman dekat. Siapa bocah ini,"
Satu persatu perkataan rasa penasaran orang-orang berseliweran di sekitar telinga Yuan. Ia juga terkejut saat melihat ada Hewan Ghaib Kuno lain yang saat ini bersama Asta.
'Itu, seekor Serigala Dewata. Siapa lagi Hewan Ghaib Kuno yang bersamanya itu,' batinnya penasaran.
"Sepertinya kita akan mempunyai lawan yang kuat di turnamen nanti,"ujar Yami.
"Kau benar Yami, mana mungkin seseorang sepertinya yang membawa dua hewan kuno bersamanya merupakan orang yang lemah,"ujar Jaza setuju dengannya.
"Senior Yuan, tampaknya anda mengenalnya, bisakah anda mengenalkannya kepada kami," Tanya Yu melihat seniornya memperhatikan bocah tersebut dengan serius.
"Namanya Asta, ia merupakan satu-satunya partisipan yang mewakili Asosiasi Manager Row. Sebelumnya kami sempat bertemu dan berbincang-bincang saat di Kota Tiandu. Mari, ku perkenalkan kalian dengannya," mereka pun berjalan menghampiri Asta.
"Ahh, Senior Yuan! Maaf, maaf. Aku terlalu sibuk melerai mereka berdua sampai-sampai tak melihatmu sebelumnya,"sapa Asta.
"Ahh iya tidak apa-apa, ohh iya Asta, ini perkenalkan mereka bertiga ini adalah perwakilan dari Keluarga Tiandu, mereka bertiga adalah keponakanku. Ini Jaza, Yami, dan Yu," ucapnya memperkenalkan mereka.
"Perkenalkan, namaku Asta, salam kenal," ucapnya sambil tersenyum membalas senyuman mereka.
"Salam kenal juga," jawab mereka bersamaan.
"Jadi bagaimana Ibukota ini menurut kalian berempat," tanya Yuan sambil mengajak mereka berjalan untuk mencari penginapan.
"Ini adalah kunjungan keduakalinya bagiku, jadi menurutku masih sama seperti sebelumnya lebih besar dan megah ketimbang kota Tiandu kita," jawab Yami.
"Sepertinya aku setuju dengan Yami," jawab Jaza sambil menganggukkan kepalanya.
"Jaza apa kau tak mempunyai pemikiran sendiri dan selalu mengikuti apa yang Yami ucapkan?" Tanya Yu.
"Hei, apa yang kupikirkan memang sama dengan apa yang Yami katakan, apanya yang ikut-ikutan,"balas Jaza.
Melihat pertengkaran diantara mereka bertiga mengingatkan Asta akan Zaraki, Shiro dan Moegi. Yu sama seperti Moegi, perempuan yang menyebalkan, sedangkan Jaza mirip-mirip dengan sifat Zaraki, akan tetapi Yami lebih terlihat memiliki sifat yang berlawanan dengan Shiro yang terkadang terlalu banyak diam.
"Asta kalau menurut pandanganmu bagaimana tentang Ibukota ini. Pasti sangat biasa saja bukan," tanya Yu padanya.
"Ehh, itu bukan seperti itu. Ini bahkan pertama kalinya aku datang ke Ibukota Kekaisaran Arkhan, menurutku Ibukota sangat luar biasa dan megah, aku bahkan sampai terkagum-kagum saat pertama kali melihatnya," jawab Asta.
"Lalu bagaimana perbandingan antara tempat mu dilahirkan dengan Ibukota ini, Asta?" Lanjut Yu bertanya.
"Dengan tempat kelahiran ku? Ahaha, tempat kelahiranku bukanlah tempat yang megah seperti ini, rumah terbesar disana bagaikan rumah terkecil disini, lagipula tempatku lahir hanyalah sebuah desa kecil nan terpencil, tak bisa dibandingkan dengan Ibukota Kekaisaran," jawab Asta sambil tersenyum canggung.
"Ehhhh?!! Yang benar saja?!"
****
Catatan Surgawi
Kota Hansu merupakan Ibukota Kekaisaran Arkhan yang berada di wilayah Negeri Tanah Api Suci.
__ADS_1