
"Namaku Chen Hao, tuan muda bisa memanggilmu Chen. Untuk usiaku kurang lebih sekarang umurku sekitar 9 tahunan," jawabnya memperkenalkan diri.
"Ehh,,, kenapa kau memanggilku begitu. Namaku Asta, cukup panggil aku Asta. Kebetulan usiaku juga baru 10 tahun. Jadi mungkin kita bisa berteman," ujar Asta memperkenalkan dirinya.
"Chen, sebenarnya apa yang membuatmu mencuri makanan di toko-toko itu. Memangnya kemana orang tuamu? Apa mereka menelantarkanmu," Tanya Asta.
Chen Hao pun menggeleng pelan,"Ayah Ibuku sudah tidak ada semenjak aku kecil, aku sendiri tak mengenal siapa mereka sedari aku masih bayi. Dulu aku mempunyai dua saudara yang juga sama sepertiku. Kami adalah anak-anak buangan. Aku dan saudaraku tinggal bersama dan dibesarkan oleh Paman Hao, hingga suatu hari hal tragis menimpa kedua saudaraku, kini mereka telah pergi mendahuluiku. Sekarang tinggal aku dan Paman Hao yang masih bertahan hidup sampai kini," jelas Chen mengenai kehidupannya.
Chen terus melanjutkan ceritanya mengenai lika-liku semasa hidupnya sedari kecil bersama saudara-saudaranya. Mendengarnya Asta pun ikut terenyuh, cerita itu mengingatkannya kembali pada mimpi dan tujuannya untuk menjadi seorang Kultivator hebat yang bisa menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan bantuan sepertinya.
"Chen, bisakah kau membawaku bertemu dengan Paman Hao mu itu? Jujur mendengar ceritamu aku jadi ingin melihat orang yang seperti apa Paman Hao ini," ujar Asta meminta Chen untuk membawanya bertemu dengan sosok Paman Hao.
Chen pun menganggukan kepalanya mengatakan kalau ia bisa saja membawanya untuk bertemu dengannya.
"Tapi, Chen. Sebelum itu aku ingin makan terlebih dulu, bisakah kau mengantarku ke sebuah restoran terenak di kota ini?" Tanya Asta menanyakan sebuah restoran.
"Sebetulnya ada banyak restoran di kota ini, tapi begitu aku sama sekali belum pernah memasuki satu pun dari restoran tersebut. Aku hanya mendengar dari orang-orang bahwa ada satu restoran yang sangat enak. Ketika aku melewati restoran itu aku memang mencium aroma masakan yang luar biasa lezat. Aku yakin mungkin itu restoran terenak di sini,"balas Chen memberitahunya.
"Baiklah kalau begitu kita pilih restoran tersebut," ajak Asta lalu menarik tangannya.
Sesampainya di depan restoran Asta benar-benar mencium aroma masakan yang sangat lezat persis seperti yang Chen katakan, Chen mematung melamun mencium aroma masakan tersebut, air liurnya bahkan tak berhenti menetes.
Melihat penampilan serta gelagat Chen yang seorang gelandangan, penjaga restoran pun refleks mendekati mereka berdua.
Asta lalu menggoyang-goyangkan Chen agar segera tersadar karena mereka akan memasuki restoran tersebut.
"Berhenti..!! Apa kau tak menyadari siapa dirimu...!! Menjauhlah dari tempat ini, kau sungguh tidak enak di pandang...!!!" Bentak penjaga mengusir Chen Hao.
Mendengar ucapan tersebut sontak membuat Asta menjadi geram dengan sikap mereka, akan tetapi sebelum ia bertindak, Chen Hao menarik tangannya sembari menggelengkan kepalanya kepada Asta.
"Tuan muda, kalau anda ingin makan masuklah sendirian, aku akan menunggu Tuan muda disana," ujar Chen Hao menunjuk ke arah pojokan bangunan.
"Baguslah kalau kau mengerti," ucap Penjaga tersebut.
"Tidak bisa, kalau aku makan maka kau pun harus ikut makan," tanpa banyak bicara Asta pun langsung menarik tangan Chen untuk memasuki restoran tersebut.
"Tuan muda, bisakah anda meninggalkannya sendirian. Kalau anak ini ikut memasuki restoran bisa-bisa yang ada pelanggan lain akan terganggu dan memilih pergi,"ujar penjaga tersebut sambil menatap Chen dengan tatapan jijik.
Asta pun menajamkan tatapannya ke arah penjaga tersebut mencoba menakutinya dengan auranya. Akan tetapi perbuatannya tidaklah berguna. Asta pun merasakan firasat buruk ketika melihat penjaga itu tersenyum padanya.
"Tuan muda, jikalau kau bersedia meninggalkan gelandangan ini aku berjanji tuan muda tidak akan pernah kecewa dengan pelayanan kami disini," ujar penjaga tersebut masih tersenyum.
"Chen, abaikan saja dia kau ikut saja dengan ku," seru Asta lalu menarik tangan Chen.
Namun belum sempat ia melangkah maju sang penjaga tiba-tiba memukul dada Chen hingga membuatnya terdorong ke belakang.
"Sudah kubilang bukan! Kami tidak menerima seorang gelandangan disini," ucap penjaga tersebut sambil menatap Chen jijik.
"Kau-!!!"
Chen Hao pun menundukkan wajahnya sembari bangkit dari tempatnya.
"Tuan muda, apa yang dikatakan tuan penjaga ini benar, kehadiranku hanya akan membuat pelanggan lain terganggu. Tuan muda makanlah sendirian, Chen akan menunggumu disini. Chen berjanji," ujar Chen Hao sekali lagi meminta Asta untuk memasuki restoran dan makan sendirian.
Melihat sikap penjaga yang seperti itu emosi Asta pun kembali bergejolak, Ia tak lagi mentoleransi sikap penjaga tersebut.
"Hanya seorang Guru Ksatria saja berani-beraninya bersikap tidak layak didepan ku,"ucap Asta pelan namun terdengar jelas.
"Tuan muda, aku sudah memberitahumu sebelumnya memangnya apa yang bisa anda lakukan kepadaku," ujar penjaga tersebut menantangnya.
Dengan santai Asta pun mengeluarkan Pedang Penebas Langit dari cincinnya. Melihat sosok pemuda sepertinya dengan begitu gampangnya mengeluarkan artefak tingkat 4 tentu membuat penjaga itu sedikit khawatir, akan tetapi kekhawatirannya itu sudah terlambat karena Asta sudah bersiap melayangkan jurusnya.
"Tuan muda, bisakah kita..."
"Seni Surgawi Level Epik, Tebasan Dewata,"
Tanpa pikir panjang lagi, Asta melayangkan pedangnya kearah penjaga tersebut, energi pedang yang tercipta dari jurus itu pun menghempaskannya hingga terdorong masuk ke dalam restoran. Alhasil sang penjaga pun terluka parah karenanya.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu setelah kau menyebut temanku sebagai gelandangan, bajingan..!!!" Teriak Asta.
Para pelanggan restoran yang kebanyakan seorang kultivator langsung mencari tahu asal keributan tersebut.
__ADS_1
"Bocah ini..?!! Sebenarnya apa latar belakangnya...!!! Berani sekali ia mengacau disini..!!,"
Kini perhatian semua orang pun terfokus pada sosok yang mengalahkan penjaga restoran hanya dengan satu serangan tebasan. Para Kultivator yang sedang sebelumnya tengah menikmati hidangan pun kini tak lagi mempunyai selera untuk melanjutkan makan.
Terlihat sang pemilik restoran berlari dengan panik ke arahnya, namun sebelum ia sempat meminta maaf atas perilaku penjaganya para Kultivator yang juga sudah terpancing emosi langsung menghentikannya.
"Bocah..!! Jika kau tak segera meminta maaf atas perbuatanmu maka...." Belum sempat salah satu kultivator itu menyelesaikan ucapannya, sebuah energi tebasan pedang kehitaman melayang ke arahnya.
"Booommm...!!!!"
"Tekhnik Roh, Tebasan Membara,"
Para Kultivator itu pun terkejut dengan serangan yang tiba-tiba itu, mereka bahkan tak bisa melihat kecepatan tangan Asta dalam mengayunkan pedangnya.
Setelah melakukan tekhnik roh tentu saja Asta harus mengaktifkan Esensi Rohnya terlebih dahulu, barulah saat itu semua orang-orang itu tersadar bahwa bocah dihadapan mereka bukanlah sosok sembarangan, melainkan seorang Kultivator Sejati. Mereka tak berani melanjutkan pertarungan karena takutnya Asta sudah mempunyai Roh Hewan Kuno sebagai Roh Hewannya yang tentu bukanlah tandingan mereka sekaligus.
"Chen, kita pergi," ajak Asta pada Chen Hao tidak jadi makan di restoran tersebut.
"Tuan muda tunggu sebentar," ujar pemilik restoran kembali mengejarnya.
Sang pemilik restoran kemudian meminta maaf padanya dan menawarkan makan gratis sekaligus kompensasi atas pelayanan sang penjaga yang tidak menyenangkan.
Asta lalu menghembuskan nafasnya pelan sebelum menerima tawaran sang pemilik restoran.
"Jika bisa aku ingin tuan pemilik restoran membungkuskan beberapa makanan. Aku sudah merasa tidak enak jika memakannya disini," ujarnya ketika melihat sekumpulan orang-orang yang memperhatikannya dengan rasa takut.
"Tuan muda kami minta maaf sebelumnya karena tidak melihat tuan dengan benar," ujar para Kultivator itu, Asta pun hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah Tuan muda, anda bisa menunggunya sebentar untuk hal itu. Mari ikut denganku tuan muda," ajak pemilik restoran.
Si penjaga yang sebelumnya ia pukul kini hanya bisa pasrah dengan nasibnya sekarang. Ia pun meminta maaf pada Asta dan berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama di masa depan.
Setelah mendapatkan kompensasi dan beberapa bungkus makanan, Asta mengajak Chen Hao bergegas pergi dari tempat tersebut.
Selepas dari sana dengan arahan Chen Hao mereka hendak menemui sosok yang Chen sebut sebagai orang tuanya yakni Paman Hao.
Di gang yang lumayan sempit sebuah gubuk kecil yang dibangun dengan barang-barang seadanya seorang pria paruh baya tengah memperbaiki sebuah topeng usang.
Paman Hao tampak tersenyum, akan tetapi raut wajahnya terlihat berubah sejenak heran, ia pun menanyakan siapa pemuda yang ada disampingnya itu.
"Paman Hao, ini Tuan Muda Asta yang telah menyelamatkanku dari Pak Zhang," ujar Chen memperkenalkan Asta.
"Terima kasih Tuan Muda, Jasamu pasti akan ku balas suatu hari nanti, duduklah dahulu," ucap Paman Hao menyuruhnya duduk.
"Tidak apa-apa, lagipula aku hanya merasa bahwa sudah keharusan bagiku menyelematkan seseorang yang membutuhkan bantuan, karena kulihat mereka sama sekali tak peduli seolah-olah bahwa mereka lebih baik dari kalian. Apa begini cara berperilaku seorang manusia yang menyebut dirinya sebagai orang-orang berbudi luhur..?" Tanya Asta cukup geram dengan sifat-sifat merendahkan seperti itu.
Paman Hao sampai membelalakkan matanya mendengarkan prtanyaan seperti itu yang terbilang sangat jarang sekali terpikirkan, karena pendiskriminasian sendiri agak lumrah dilakukan terhadap orang-orang sepertinya.
Sambil tersenyum malu Paman Hao kemudian menyuruh Chen untuk menjawab pertanyaan tersebut, dengan antusias Chen menjawab pertanyaannya.
"Seperti yang tuan muda lihat orang-orang tidak akan peduli dengan hal seperti apakah kita manusia atau bukan, terkadang hanya karena mempunyai kemampuan ataupun kekayaan orang-orang kebanyakan akan mendiskriminasi orang-orang seperti kami. Pihak Kekaisaran memang memberikan kami sedikit bantuan akan tetapi, tak banyak yang sampai kepada kami," ucap Chen.
"Tuan muda, di dunia kita yang seperti ini. Sudah sangat biasa bagi kaum rendah kami hidup dibawah diskriminasi, kekuatan dan uang adalah segalanya, kami sebagai orang-orang lemah hanya bisa menerima apa adanya takdir dari kehendak Dewa, melawan pun tak ada gunanya," ucap Paman Hao melanjutkan ucapannya Chen Hao.
Asta menghembuskan nafasnya pelan, "Banyak hal yang masih belum kulihat di dunia ini dan dengan melihat kalian berdua disini wawasanku jadi bertambah lagi. Jika memang kekuatan adalah segalanya, maka aku akan menuju puncak kekuatan dan menyeimbangkan kembali kehidupan. Meskipun aku belum bisa memastikannya akan tetapi aku berjanji untuk hal ini," ujar Asta menekadkan dirinya di depan mereka berdua.
"Hahahaha... Jika saja semua manusia berpikiran sepertimu, Nak. Mungkin saat ini tak ada lagi manusia yang hidup dibawah seperti kami. Kami pegang janjimu, Nak," ujar Paman Hao menanggapi ucapan Asta.
"Ya, aku berjanji!" ucapnya sekali lagi.
"Baiklah kalau begitu, Chen bisakah kau pergi membeli minum. Kebetulan aku mendapat beberapa uang sebelumnya," suruh Paman Hao.
"Gunakan milikku saja," ujar Asta sambil memberikan sekantong emas kepada mereka berdua.
"Tidak, tidak, Mana mungkin kami menggunakan uang darimu sekalipun kau ingin membantu kami tapi setidaknya kami harus memberimu wejangan dengan uang yang kami punya terlebih dahulu, begitulah yang namanya tatakrama," ujar Paman Hao.
"Ahh, kalau begitu paman simpan saja uang itu untuk keperluan nanti,"ujar Asta.
Paman Hao pun mengangguk, Chen pun pergi dari tempat untuk membeli minum.
"Kudengar ada seorang anak remaja yang mengacau di Restoran Wan Xeng, ia mempunyai tato Roh dilengannya. Kalau boleh bertanya apakah kau benar-benar seorang Kultivator Sejati?" Tanya Paman Hao sambil menatapnya tajam.
__ADS_1
Seketika suasana pun terasa mencekam, Asta merasakan nafasnya menjadi sesak, ia seperti terkurung didalam ruangan yang tak ada udaranya sama sekali.
Ketika ia menatap mata Paman Hao, ia merasa seolah-olah tak bisa menggerakkan tubuhnya. Tubuhnya menjadi mati rasa, namun Asta menyadari situasi apa yang tengah terjadi saat ini. Namun ia hanya bisa diam menunggu Paman Hao sendiri yang melepasnya.
"Tak kusangka Paman Hao sebenarnya adalah seorang kultivator yang sangat hebat, aku sungguh terkagum-kagum. Tapi senior, bisakah anda menarik kembali tekhnik anda, aku kesulitan bernapas," ucap Asta dengan tatapan matanya yang menunjukkan kekaguman padanya.
"Hahahaha,,, itu hanyalah kisah masa lalu, aku yang sekarang tak lebih dari pada seorang gelandangan," ujarnya mengelak dan suasana pun menjadi terasa tenang kembali, Asta juga tak merasakan kesulitan lagi dalam bernafas.
'Paman Hao ini adalah orang yang baik, ia bahkan rela hidup mati-matian dan membuang identitasnya demi menghidupi beberapa anak gelandangan. Ia bisa di percaya,'
"Senior, dulu aku sudah berjanji pada guruku dan juga dengan Roh Hewan ku untuk tidak mengucapkan mengenai hal ini kepada siapapun. Akan tetapi sepertinya aku telah melakukan kesalahan dengan menggunakan tekhnik roh di depan umum hingga terbongkarnya identitasku, mungkin tidak apa-apa jika aku juga memberitahumu mengenai kebenaran ini. Lagipula mulai sekarang orang-orang pasti akan mencari-cari ku," ujar Asta mengakui hal tersebut.
"Haaaahh, ternyata kau sudah memiliki guru, kupikir aku akan mendapatkan murid yang hebat lagi, lalu siapa gurumu itu, Asta?" Tanya Paman Hao.
"Ia merupakan seorang Legenda yang terkenal semasa hidupnya, aku yakin Paman Hao sudah pasti pernah mendengar tentang Dewa Api Kegelapan kan? Kalau anda sudah tahu maka tak perlu lagi bagiku untuk memberitahu Paman tentangnya bukan,"ujar Asta.
Hao tak terlihat terkejut sama sekali ia malahan terlihat biasa saja, hal itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan baginya, namun kemudian ia pun tiba-tiba tertawa dengan keras.
"Sepertinya sejarah akan kembali berubah, sekembalinya dari kematian pasti akan membuat sebuah gejolak besar untuk perang penentuan," gumam Paman Hao.
"Asta, terimalah ini, hanya ini yang bisa kuberikan untukmu setidaknya ini lebih baik daripada pedang yang kau gunakan sebelumnya. Kuharap kau bisa menggunakannya dengan sangat baik," ujarnya sambil memberikan Asta sebilah pedang hitam yang terlihat sangat tajam. Pedang itu bahkan memancarkan aura kelam yang sangat mencekam, seperti pedang tersebut telah memakan begitu banyak korban semasa ia telah digunakan.
"Ini, Pedang apa ini, kenapa jiwaku menjadi lebih bersemangat saat aku melihatnya. Tidak, ini bukanlah rasa semangat bertarung melainkan rasa haus darah," tanya Asta.
"Cepat tutupi matamu dengan spirit kalau kau ingin selamat," perintah Paman Hao memberi tahunya.
Asta pun langsung melakukannya seperti yang Paman Hao perintahkan, untung saja kesadaran Asta masih belum terjatuh cukup dalam oleh aura pedang tersebut.
"Nama pedang ini adalah Iblis Malam, merupakan salah satu Artefak Dewa milikku yang kudapatkan dari Master padaku," ucapnya sambil memberikannya pada Asta.
"Tapi bukankah ini pemberian Master dari Paman Hao, mengapa Paman memberikan hal seberharga ini padaku?" Tanya Asta.
"Tentu karena kau juga murid Master, anggap saja ini sebagai hadiah dari seorang kakak seperguruan," ucapnya sambil tersenyum.
"Apa..?! Kalau Paman Hao juga merupakan murid dari Guruku bukankah artinya Paman Hao saudara seperguruan dengan Manager Row," ucap Asta menebaknya.
"Ehhh,, kau mengenalnya?" Tanya Paman Hao.
"Tentu saja karena kedatanganku juga untuk menemuinya di sini, aku bahkan akan berpartisipasi dalam Turnamen Seni Surgawi sebagai perwakilan dari Asosiasi, guru juga ada disana sekarang apa Paman ingin bertemu dengan Guru juga..?" ujar Asta.
"Tidak, tidak, tidak. Aku bukanlah bocah cengeng itu, sekalipun aku juga merindukan Master akan tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menemuinya," jelas Paman Hao, Asta pun mengangguk.
"Paman Hao, sebenarnya apakah pedang ini Artefak Roh?" Tanya Asta.
"Awalnya pedang ini merupakan Artefak biasa sebelum akhirnya menjadi Artefak Roh, bersamaku Iblis Malam sudah membunuh begitu banyak Demon yang mana menjadi alasan Pedang ini menjadi Artefak Roh. Aura yang di pancarkannya bisa membuatmu menjadi haus darah bahkan menjadi gila, kau boleh menggunakannya jika kekuatan jiwamu sekuat Kultivator Senior, jangan sekali-kali menggunakannya secara gegabah ingat itu, Asta," ujar Paman Hao memberitahunya.
"Paman, tunggu dulu, kau bilang bahwa kekuatan adalah segalanya, bukankah dengan kekuatanmu sekarang kau tak perlu lagi hidup susah. Lantas kenapa kau menyusahkan diri dengan hidup disini,"tanya Asta.
"Asta, kekuatan adalah segalanya namun dengan kekuatan belum tentu bisa menyelesaikan semuanya. Kekuatan adalah penghukum mutlak, Itulah mengapa di perlukan jiwa yang kuat dan bijaksana untuk mengendalikan kekuatan tersebut," jelas Paman Hao.
"Jadi anda..?!! Sedang mencoba mendidik Chen Hao..?!! Lalu apakah Chen Hao tau bahwa anda merupakan seorang kultivator?" Tanya Asta sekali lagi.
"Ya, aku sedang mendidiknya dan tentu Chen sudah tau, lagipula semua ini hanyalah ujian untuk mengendalikan emosinya," jelas Paman Hao.
Asta pun sedikit setuju dengan hal tersebut. Ia pun jadi teringat dengan metode ayah dan ibunya yang membuatnya seakan-akan hidup malang.
Karena Asta tak bisa berlama-lama ia pun memutuskan untuk pamit, Paman Hao tak lupa memberitahukannya mengenai nama aslinya juga memberinya sebuah Giok Komunikasi yang membuatnya bisa menghubungi Paman Hao kapanpun ketika ia membutuhkan bantuannya.
"Ingat ini Asta, Namaku adalah, Hao Ryun dan nama asli Chen Hao adalah Hao Chen. Kau bisa menghubungiku kapan saja dengan alat itu jika kau membutuhkan bantuan dariku. Ohh iya jangan lupa juga tolong kau berikan itu pada Master," ujar Paman Hao memberitahunya.
"Paman, terimakasih untuk hadiahnya," ujarnya berterima kasih.
"Tidak perlu berterima kasih, lagipula, sudah seharusnya sebagai kakak seperguruan memberikan hadiah kepada juniornya," jawab Paman Hao.
Asta pun mengangguk, dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke Asosiasi Fajar Merah.
***
Catatan Surgawi
Iblis Malam, merupakan salah satu Artefak Roh tingkat 7. Awalnya memang Artefak biasa namun dengan menggunakan darah ribuan Demon yang telah mengucurinya Iblis Malam jadi mempunyai keunikannya sendiri. Sifat Demon yang haus darah, seakan-akan mengalir ke pedang tersebut.
__ADS_1