
Asta Raiken tidak lagi peduli apakah rumahnya masih utuh atau sudah berantakan. Debu berterbangan di sekitar, menandakan kerusakan yang parah pada rumahnya. Rumahnya porak-poranda karena perbuatan ketiga orang tersebut.
Setelah mengalami dua minggu yang luar biasa, situasi yang tiba-tiba ini membuatnya emosi. Kini, ia yakin akan identitas penyerangnya dari siluet bayangan tersebut.
"Majulah! Kapan saja kau mau, aku siap menghadapimu!" tantang Asta Raiken dengan percaya diri, mengira penyerangnya adalah Kenshin Utake.
Siluet bayangan tersebut menetapkan arah dengan ujung mata pedangnya setelah mendengar teriakan Asta Raiken. Dengan cepat, sosok bayangan itu meluncur maju menyerang dengan pedangnya.
Asta Raiken merasakan fluktuasi energi intimidasi yang berbeda daripada yang dikenalnya dari Kenshin Utake. Ini lebih mirip dengan fluktuasi energi dari Asila Moegi.
"Sialan! Ini... Aura Asila Moegi! Oh iya, Bola Api! Esensi Api Mentari! Bagaimana bisa aku melupakannya!" teriak Asta dalam hati, menyadari siapa sebenarnya penyerangnya.
Sesaat kemudian, Asila Moegi melancarkan serangan dengan pedangnya, mengejutkan Asta dan membuatnya panik.
"Moe...!! Apa yang sedang kau lakukan..?! Apa begitu caranya menyampaikan ucapan selamat..!!" teriak Asta berusaha menghentikannya.
Namun, meskipun sudah berteriak, Asila Moegi tidak mengubah posisinya dan tetap bergerak dengan cepat.
"Sial! Sepertinya dia benar-benar serius ingin membunuhku!" Asta menggerutu sambil bersiap untuk menepis serangan itu.
Asta merapatkan giginya sambil memasang kuda-kuda untuk melakukan penangkisan serangan Moegi. Dalam sekejap, Asila Moegi muncul di depan Asta dengan wajah terkejut seakan-akan ia salah orang.
"Astaga! Asta-?! Apa yang aku lakukan?!!" Jerit Asila Moegi, terkejut dengan tindakannya sendiri. Ia benar-benar terkejut saat mengetahui bahwa sosok yang tengah ia hadapi ternyata adalah Asta, bukanlah orang lain.
Saking terkejutnya, Asila Moegi lupa untuk membatalkan serangannya, atau mungkin ia tak ingin membatalkannya karena sudah terlanjur menusukkan ujung pedang Kenshin Utake ke arah Asta. Ia hanya berharap Asta bisa menghentikan serangannya.
Asta mengernyitkan dahi, sambil meneriakkan teknik surgawinya, Pukulan Peremuk Raga, dan dengan cepat menepis ujung pedang tersebut ke arah lain.
"Asta.. Aku..." Asila Moegi terbata-bata mencoba menjelaskan semuanya. Asta sedikit terkejut melihat sikapnya yang agak berbeda dari biasanya. Tetapi karena ada masalah lain yang datang, ia pun mengabaikannya.
"Sial! Siapa lagi sekarang?! Apa kalian berencana untuk menyerangku saat aku melakukan penerobosan ranah?!" Teriak Asta, sambil melihat ke arah lain, mengabaikan Asila Moegi yang masih mencoba menjelaskan dengan terbata-bata.
---
Di sisi lain, Kenshin Utake bersama Kesha Timber tampak kesal karena ketiga orang itu benar-benar salah kaprah. Padahal, ia sudah menjelaskan bahwa mungkin saja Asta Raiken sedang mencoba melakukan penerobosan ranah, tapi mereka malah mengabaikannya dengan mengambil kesimpulan bahwa ada orang lain yang mencelakainya. Lagipula, menurutnya, siapa yang berani mencelakainya saat ada Ace di sisinya? Hanya orang bodoh yang mungkin akan melakukannya.
Kenshin menghela nafas pelan melihat kerusuhan yang mereka akibatkan. Kenshin sudah menebak akan seperti apa kemarahan Asta nantinya. Sudah jelas ia pasti akan ikut menyalahkannya juga, karena Moegi yang menggunakan pedangnya.
"Biarkan saja. Kalau pun memang tak ada siapapun di sana selain Asta, mereka pasti akan berhenti menyerang," ujar Kesha, menentangnya. Kenshin menepuk dahinya, membayangkan bagaimana kemarahan Asta Raiken akan terjadi nanti.
Zaraki Onoki terlihat melompat dan terjun ke bawah, mengarahkan dua kapak tangannya. Lalu, Shiro Nekoshi di sisi lain berlari memutar sambil memainkan dua pisau tangan, bersiap untuk melakukan serangan.
Namun, sesaat kemudian, Shiro Nekoshi menyadari bahwa orang yang berada di depannya adalah Asta Raiken, dan ia langsung berinisiatif menghentikan serangannya. Shiro melompat mundur dan menyimpan kembali pisau-pisau tangannya.
"Maaf," ujarnya, tersenyum canggung.
Di sisi lain, Zaraki Onoki tetap mempertahankan serangannya, sekalipun ia tahu targetnya saat ini adalah Asta Raiken, sahabatnya sendiri.
"Tunjukkan sebanyak apa kau berkembang, Asta!" Teriak Zaraki Onoki, menantangnya.
"Karena kau yang meminta, tentu aku takkan segan," balas Asta Raiken, sambil tersenyum penuh percaya diri.
Asta melakukan pelepasan roh untuk memperkuat pukulan peremuk raga yang akan ia gunakan untuk beradu dengan kapak Zaraki.
Melihat hal itu, Kenshin dan Kesha hanya bisa menatapnya lebar-lebar, terutama karena Asta juga tak terlihat seperti ingin menghindari serangan. Asta melompat dan melancarkan pukulannya yang keras ke kapak yang digunakan oleh Zaraki.
"Duaaarr..!!!"
Perpaduan kapak dan tinju tersebut sedikit menciptakan keributan, terutama setelah aksi Asila Moegi yang menembakkan serbuan bola api sebelumnya menarik perhatian beberapa murid yang datang, mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Bersama dengan kapaknya, Zaraki terpental sedikit jauh dari hasil perpaduan serangan mereka. Tinju berapi hitam milik Asta Raiken berhasil mendobraknya hingga terlempar dari pertarungan.
Zaraki sedikit terkejut melihat betapa kuatnya Asta Raiken setelah berlatih selama beberapa waktu. Ia merasa menyesal karena sikap malasnya selama ini telah membuatnya tertinggal jauh dari Asta.
Kenshin Utake dan Kesha Timber buru-buru menghampiri Zaraki Onoki yang terpental akibat adu serangan. Mereka berdua sedikit bernafas lega melihatnya masih bisa tertawa, yang berarti ia baik-baik saja.
"Apa kau tidak apa-apa?!" Tanya Asta dengan raut wajah berpura-pura panik.
"Berhenti mengejekku, sialan. Apa kau sedang pamer tentang pengendalian rohmu padaku?" Ujar Zaraki Onoki dengan senyum kecut.
__ADS_1
"Itu lebih baik daripada aku membunuhmu," Asta menyahut dengan sedikit kesal.
"Kenshin! Dasar kau brengsek! Apakah kau masih belum menerima kekalahanmu kemarin sampai-sampai kau ingin membunuhku. Kalau kau punya nyali, hadapilah aku sendiri, jangan gunakan orang lain!" Teriak Asta Raiken, kesal pada Kenshin Utake.
"Apa yang kau katakan?! Mana mungkin aku melakukan hal sekotor itu padamu. Mereka ini berkepala batu! Sudah kubilang pada mereka bahwa kau sedang melakukan pemurnian ranah. Tapi dengan bodohnya, Asila Moegi tiba-tiba berkata ada seseorang yang lain di rumahmu yang sedang berusaha membunuhmu..!! Kembalikan pedangku..!!" Seru Kenshin kesal, lalu mengambil kembali pedang miliknya yang sempat diambil secara paksa oleh Moegi.
Kenshin tampak menyesali perbuatannya karena telah membiarkan mereka bertiga ikut dengannya ke rumah Asta dan menghancurkan rumahnya.
"Wajar jika ada fluktuasi energi yang begitu intens di sini saat Asta sedang mencoba menyelesaikan pemurnian ranahnya..!!! Dasar bodoh..!!!" Ujarnya dengan kesal, lalu memukul kepala mereka satu per satu.
"Minta maaf padanya..!! Cepat...!!!" Suruh Kenshin pada mereka bertiga.
"Apa aku juga perlu..?" Tanya Zaraki sambil memegang kepalanya yang Kenshin pukul tadi. Namun Kenshin hanya menatapnya tajam.
Melihat Kenshin yang sudah marah besar, dengan cepat Moegi, Shiro, dan Zaraki pun langsung buru-buru meminta maaf pada Asta.
"Asta, sebelumnya aku minta maaf. Kupikir tadi itu ada orang lain yang sedang mencoba membunuhmu. Jujur, aku benar-benar merasakan ada fluktuasi aura selain dirimu di sini-"
"Yang benar Asila Moegi!" Potong Kenshin Utake sebal, melihatnya terlalu beralasan.
"Maafkan kesalahan ku yang bertindak tanpa berpikir," ucap Asila Moegi sambil menghembuskan nafasnya pelan.
Asta sebenarnya sedikit tertegun sejenak mendengar apa yang dikatakannya memanglah benar. Aura yang mungkin ia rasakan adalah hawa keberadaan gurunya yang juga terkekeh.
Kemudian Asila Moegi melanjutkan dengan meminta maaf, dan disusul oleh Shiro Nekoshi dan Zaraki Onoki.
"Kalian pikir hanya dengan minta maaf saja bisa membangun rumah...?!" Tanya Asta dengan nada bicara kesal.
"Bayangkan saja aku baru saja ingin bernafas lega setelah menyelesaikan penerobosanku, tapi kemudian kalian dengan kurang ajarnya tiba-tiba datang mencoba membunuhku. Apa kalian gila?! Bagaimana nasibku jika saat itu penerobosanku belum selesai?!" Lanjutnya marah-marah.
Beberapa orang mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi, namun sesampainya di sana mereka malah mendapatkan tontonan di mana Asta sedang marah-marah pada Asila Moegi, Zaraki Onoki, dan Shiro Nekoshi. Mereka tertawa kecil menikmatinya.
"Tapi apa itu tidak berlebihan namanya menyerang dengan kekuatan penuh, sedangkan aku hanya melakukan serangan biasa?" Zaraki sedikit memprotes perihal adu serangan tadi.
Asta Raiken terdiam menatapnya tajam, "Bersyukurlah aku tak membunuhmu kala itu," ucapnya kesal.
Di tengah kemarahan Asta Raiken, terdengar derap langkah kaki orang-orang yang semakin berkumpul banyak memperhatikan apa yang terjadi. Salah satu dari mereka adalah Pak Helio Utake yang datang dan membuka matanya lebar-lebar.
Kenshin tersenyum canggung untuk menceritakan apa yang terjadi. Di sisinya, Asta Raiken menatapnya tajam, menuntut agar segera mengakui apa yang mereka lakukan kepada ayahnya. Meskipun begitu, Kenshin Utake tetap bungkam, tidak menjawab pertanyaan itu.
"Pak Helio, sepertinya bapak perlu menghukum anak nakal ini. Begitu pula dengan kalian yang merupakan orang tua dari empat bocah nakal ini juga. Bisa-bisanya mereka mencoba menyerangku saat aku sedang melakukan penerobosan ranah," ucap Asta Raiken, sambil menuding satu-persatu kelima temannya.
Kenshin serta Kesha yang merasa tidak ikut menyerangnya pun terkejut. Asta benar-benar menuduh mereka tanpa pandang bulu.
"Untungnya aku selesai tepat waktu, karena jika tidak mungkin sekarang aku sudah menjadi abu gosong karena ulah mereka," lanjut Asta menatap tajam ke arah Asila Moegi.
Mendengar hal itu, semua murid sekte yang lain merasa hal itu adalah wajar, yang membuat mereka bingung adalah kecepatan perkembangan Asta Raiken dalam berkultivasi yang mencengangkan.
Lalu tiba-tiba ia mengumumkan tentang kenaikan ranahnya, yang berarti ia telah mencapai Ranah Ahli sebagai seorang Master Roh. Sebagai sesama kultivator, tentu mereka paham mengenai kontrol roh yang harus dipenuhi untuk mencapai ranah selanjutnya. Asta merupakan seseorang yang terlahir dengan Roh Dewa, yang seharusnya membuat lebih sulit lagi mengontrol esensi rohnya tanpa bantuan tingkatan raga tubuhnya. Jadi yang membuat para murid lain kebingungan adalah bagaimana ia bisa meningkatkan raga tubuhnya ke tingkat 3 dengan secepat itu?
Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam menerobos ranah Ahli. Tetapi Asta masih terlihat masam dan kesal dengan apa yang Asila Moegi lakukan beberapa saat yang lalu. Ia meyakini bahwa semua ini adalah ulah Kenshin Utake yang mendalanginya.
Setelah itu, mereka pun kembali ke aktivitas yang tertunda. Tinggal beberapa orang tua yang masih tinggal, Helio Utake (29), Lan Yue Ru (30), Asila Ryu (32), Zain Nekoshi (31), Rize Onoki (33), dan Rena Timber (29). Ke-enam orang ini merupakan Tetua Sekte Kobaran Api Sejati.
Sekte Kobaran Api Sejati merupakan salah satu Sekte Teratas dari 7 Sekte Besar yang berada di bawah naungan Kekaisaran Arkhan. Sekte Kobaran Api Sejati memiliki formasi pasukan yang kuat dan para Tetua yang hebat. Di bawah Ketua Sekte, ada 4 Aula pembangun sekte, dimana masing-masing aula dijalankan oleh para Tetua Sekte yang dipilih melalui seleksi khusus.
Aula pertama adalah Aula Suci, yang dijalankan oleh 5 Tetua Sekte dengan tingkatan kultivasi Ranah Raja Agung. Tetua Aula Suci ini dipanggil dengan sebutan Ksatria Pentagram. Mereka bekerja secara langsung di bawah perintah Ketua Sekte dan merupakan orang-orang yang telah bersumpah setia pada Sekte Kobaran Api Sejati.
Aula kedua adalah Aula Hukum, yang terdiri dari 5 Tetua yang diberi kepercayaan untuk memegang peran sebagai pemberi hukuman pada murid ataupun Tetua yang telah melanggar hukum. Mereka juga memiliki kendali untuk menghukum Ketua Sekte apabila ia telah melanggar aturan sekte yang telah ditetapkan sebelumnya. Masing-masing Tetua Aula Hukum merupakan Kultivator Ranah Raja.
Aula ketiga adalah Aula Pelatihan, yang terdiri dari 5 balai pelatihan yang masing-masing dijalankan oleh 3 Tetua, sehingga ada 15 Tetua yang menjalankan Aula Pelatihan. Balai-balai tersebut antara lain:
1) Balai Pelatihan Roh, membahas berbagai jenis roh, metode penanganan, serta pencegahan esensi roh. Di sini, semua kelemahan dan kelebihan dari setiap jenis Esensi Roh akan diajarkan kepada para Murid Sekte.
2) Balai Pelatihan Jalan Surgawi, membahas pengetahuan tentang cabang jalan surgawi, termasuk risiko dan peluangnya. Selain itu, murid-murid mendengarkan tentang pemahaman tentang jalan surgawi yang ingin mereka pilih, untuk membantu mereka memilih jalan surgawi yang sesuai dengan kemampuan mereka.
3) Balai Pelatihan Raga Tubuh, murid-murid belajar untuk melakukan penempaan raga tubuh serta metode terbaik untuk meningkatkan efisiensi penempaan.
4) Balai Pelatihan Kultivasi, mengajarkan metode kultivasi dan cara menangani kasus penerobosan ranah yang gagal saat berkultivasi.
__ADS_1
5) Balai Pelatihan Bertarung, di sini murid-murid diajari cara bertarung sesuai dengan minat mereka terhadap jalan surgawi yang telah dipilih.
Aula keempat adalah Aula Tugas, yang terdiri dari 5 Tetua yang dipercaya untuk memegang peran sebagai penyedia misi bagi anggota sekte. Aula ini merupakan tempat dimana anggota sekte menukarkan poin kontribusi dengan berbagai hadiah yang telah Sekte sediakan.
Mereka berenam merupakan Tetua Aula Pelatihan, dengan Helio Utake, Lan Yue Ru, dan Zain Nekoshi sebagai Tetua Balai Pelatihan Bertarung, sementara Rize Onoki, Rena Timber, dan Asila Ryu merupakan Tetua Balai Pelatihan Roh.
Lan Yue Ru menghela nafas pelan, "Moegi, bisakah kau tak selalu mengikuti sifat pencari masalah ayahmu?" ujarnya sambil memiringkan kepala.
"Ehh?! Sejak kapan aku memiliki sifat pencari masalah. Sayang, sepertinya ada yang salah disini," sahut Asila Ryu sambil menenteng tangannya, menatap Lan Yue Ru.
"Sudahlah, biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Anggap saja semua kejadian ini sebagai latihan, ya, Asta," kata Rena Timber sambil tersenyum ke arah Asta.
"Tidak bisa! Rena, kau jangan terlalu lembek! Meski bagaimana pun, anak-anak nakal ini yang salah!" Rize Onoki mendekati putranya dan menjewernya.
"Aww!! Aduduhhh! Ibu! Lepaskan tanganmu! Bisa-bisa telingaku lepas!" teriak Zaraki kesakitan.
"Biar saja! Supaya kau tahu rasa, dasar anak nakal!" timpalnya.
Zain Nekoshi dan Helio Utake hanya tertawa kecil melihatnya, tanpa melakukan apapun untuk menghukum putranya. Mereka berdua hanya menasehati agar tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Asta tertawa puas melihat mereka berdua dimarahi orangtuanya, terutama Zaraki Onoki. Karena perbuatannya, Zaraki dibawa paksa oleh ibunya untuk pulang dan menjalani hukuman karena bermalas-malasan, sedangkan Kesha dan Shiro kembali untuk berlatih. Hanya tersisa mereka bertiga sekarang: Asta Raiken, Kenshin Utake, dan Asila Moegi.
"Asta, lalu bagaimana ini..?" tanya Kenshin setelah melihat suasana Asta membaik. Matanya melirik ke sekeliling, memandangi puing-puing sisa bangunan rumahnya.
Asta yang awalnya ingin menjawab "biarkan saja" karena dia juga akan segera pergi, tak jadi mengatakannya karena ada Asila yang masih berada di depan mereka.
"Biarkan saja. Yang ada di pikiranku saat ini adalah Ace. Jika kau bertanya aku ingin kemana, aku akan pergi mencarinya," jawab Asta.
Baru saja Asta ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia terpikirkan sebuah ide, "Aku tarik kembali kata-kataku. Kembalilah kemari besok untuk mendirikan rumahku kembali sebagai bentuk pertanggungjawaban kalian," ucapnya lalu pamit pergi, meninggalkan Moegi dan Kenshin yang melongo mendengar hal itu.
---
Setelah kembali dari rumah Asta, Kenshin langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kejadian hari ini membuat kepalanya sedikit pusing dan berat. Helio mengangkat kedua alisnya heran.
"Ada apa?" tanya Helio Utake.
"Brengsek itu memintaku agar membangun kembali rumahnya mulai besok. Dia pikir perkara mudah ya membangun rumah itu," Kenshin mendengus kesal yang kemudian dibalas dengan tawa kecil oleh Helio Utake.
Helio Utake tertawa kecil mendengarnya, "dengarlah, ayah ingin berbicara tentang suatu hal yang sedang kita hadapi saat ini," kata Helio.
Kenshin lalu duduk mendengarkan ceritanya dengan seksama sampai akhirnya Helio pun mengakhiri ceritanya.
"Kau sudah mengerti kan? Kalau begitu ambil ini dan pergilah ke rumah Asta. Ambil segala peralatannya yang tertinggal lalu susul ia di hutan. Ini adalah kesempatannya untuk pergi sebelum Moegi menyadarinya," ujar Helio Utake.
"Ya, Ayah. Aku mengerti," ucap Kenshin sambil mengangguk. Setelah itu, ia pun pergi menuju rumah Asta.
Setelah Kenshin pergi, sambil membawa cincin penyimpanan yang ia berikan padanya, Helio Utake menghela nafas panjang.
"Mungkin kau memang ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang sangat hebat di masa depan nanti. Maka dari itu, jaga dirimu baik-baik," gumam Helio pelan.
---
Sesampainya di rumah Asta, Kenshin memastikan tidak ada seseorang pun yang melihatnya, apalagi Moegi. Ia pun langsung mengambil semua pakaian serta semua barang-barang keperluan Asta dan memasukkannya ke dalam cincin.
Nama cincin itu adalah Cincin Jade Samudera, cincin yang mampu menyimpan benda apapun selain benda hidup. Cincin yang sama dengan yang digunakan Taki Garaki saat menyimpan bangkai hewan ghaib.
Selesai menyimpan semuanya, Kenshin pun bergegas ke hutan mencari keberadaan Asta yang sebelumnya ia ketahui tengah mencari Ace.
Beberapa jam telah berlalu semenjak Asta mencari Ace. Cuaca yang semakin panas memaksanya untuk berhenti dan beristirahat sejenak di bawah pohon.
"Aihhh.. Aku belum juga menemukannya. Sebenarnya, di mana kau bersembunyi..." gumam Asta.
"Apakah mungkin Ace kabur karena aku tak menemaninya berbicara?" gumamnya pelan.
"Cari saja. Guru rasa ia ada di sekitar sini," ujar Flares sambil melihat ke atas salah satu pohon.
Sesaat kemudian, ketika ia tengah melamun dan memikirkan alasan apa yang membuat Ace pergi, ia mendengar ada suara yang memanggilnya, yang mana itu adalah milik Ace.
"Dasar bocah sialan! Apa kau sudah menyerah mencariku..? Sepertinya kau bodoh padahal sudah jelas-jelas sedari tadi aku ada di atasmu," seru Ace.
__ADS_1
Asta pun terkejut lalu mendongakkan kepalanya ke atas, "ehh?! Kalau begitu, kenapa kau diam saja sedari tadi?"