Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch57 Keributan


__ADS_3

Di penginapan terlihat Manager Row yang sedang bersenang-senang bersama Ace dan Zaru diikuti dengan orang-orang lainnya yang ikut meramaikan.


Orang-orang itu bersorak untuk Ace atau Zaru yang sedang bermain permainan ular tangga. Tak sedikit pula yang memasang taruhan diantara orang-orang tersebut.


"Kemenangan kedua untukku...!!! Hahahahahaha...!!!!" Teriak Ace senang saat dadunya menunjukkan angka 5, yang mana bidak Zaru berada 5 langkah di depannya.


"Apa yang kau lakukan?!! Kau curang!! Kau meniup dadunya dasar serigala licik!!" Teriak Zaru.


"Apa?!! Kau hanya ingin tidak kalah untuk kedua kalinya makanya kau mengada-ada...!!" Balas Ace.


"Kau...?!!"


Ace pun menggerakkan bidak miliknya dan mendarat di tempat bidak milik Zaru, ia lalu menggeserkan bidak Zaru sehingga harus mulai dari awal.


"Kemenangan untuk Tuan Ace lagi...!!!"


"Tuan Zaru bersemangatlah aku akan tetap mendukung anda...!!!"


Para pendukung Ace bersorak untuk kemenangannya, para petaruh yang memasang taruhan untuk Ace kembali mendapat kemenangan setelah lagi-lagi Ace mengalahkan Zaru untuk kedua kalinya.


"Satu kali lagi..!!!" Teriak Zaru menantangnya.


Para petaruh dan penonton pun kembali bersorak-sorai antusias dan mulai memasang taruhan kembali.


Ada beberapa cara untuk menentukan pemenang, mencapai garis finis, menginjak bidak orang lain, dan saat pemain lain mendapatkan angka yang sama sebanyak 3 kali. Ada pengecualian, jika menginjak bidak orang lain dengan angka dadu enam permainan akan terus berlanjut.


Keramaian itu mengundang perhatian orang-orang untuk melihat, kebisingan yang di timbulkan mengundang banyak rasa penasaran orang-orang yang melihat dari luar. Sedikit demi sedikit para penonton dan petaruh terus bertambah banyak seiringnya waktu mereka berdua memainkan permainan.


Mereka tak peduli dengan keributan yang di timbulkan atas apa yang mereka berdua lakukan, keduanya sama-sama berfokus pada permainan mereka untuk menentukan siapa yang terbaik dalam permainan ular tangga tersebut.


Manager Row pun tak menyangka kejadiannya akan menjadi seperti ini, padahal awalnya hanya ada ia dan beberapa orang yang melihat lalu kemudian tiba-tiba penonton baru pun bertambah dan muncul lebih banyak. Hal yang berawal dari masalah sepele dimana Ace menantang Zaru bermain dadu menjadi ajang pertaruhan banyak orang-orang.


Pihak pengelola restoran dan penginapan itu pun kebanjiran pesanan, tentu mereka takkan keberatan dengan keributan yang terjadi malahan pemilik penginapan itu terus mengucapkan rasa terima kasihnya pada Manager Row. Mereka pikir Manager Row dan mereka berdua sengaja melakukan hal itu setiap malam demi membantu pemilik penginapan mendapatkan lebih banyak penghasilan.


Manager Row sendiri tak tahu harus berkata apa pada pemilik penginapan, sedari pertama mereka datang menginap di sana Zaru dan Ace memang selalu membuat keributan yang menarik perhatian orang-orang. Ia pikir pemilik penginapan akan merasa terganggu dengannya jadi dia memutuskan ingin meminta maaf, tak disangka justru pemilik penginapan malah berterimakasih kepadanya karena kedatangannya restoran penginapannya selalu ramai dikunjungi orang.


Misaki dan Rai pun sampai di penginapan tersebut. Melihat ramainya pengunjung serta orang-orang yang sedang bersorak memberikan dukungan pada sesuatu membuat Misaki mengernyitkan dahinya heran.


"Apa benar ini tempatnya...?" Tanya Misaki heran mengapa sebuah restoran penginapan di penuhi dengan orang-orang yang sedang bersorak bertaruh pada pilihan mereka.


Sembari tersenyum canggung Rai menganggukkan kepalanya,"Taki yang memberitahuku disinilah mereka menginap. Aku pikir awalnya Manager akan mengajaknya ke Asosiasi Fajar Merah dan tinggal sementara disana tapi Taki memberitahuku bahwa disinilah mereka menginap," ujar Rai memberitahunya.


"Apa kau yakin tak salah tempat, Rai...?" Tanya Misaki sekali lagi meyakinkannya.


Rai sekali lagi meyakinkannya kalau mereka telah tiba di tempat yang benar. Seseorang terlihat keluar dari keramaian tersebut, melihat mereka berdua ia langsung memberikan hormat.


"Patriark dan Matriark tertarik dengan pertandingan yang ada di sana juga...?"


"Pertandingan..? Pertandingan apa memangnya yang di adakan di sebuah restoran penginapan, apa sebuah acara makan cepat..?" Tanya Misaki.


"Tidak bukan begitu, Matriark. Hanya sebuah pertandingan dadu ular tangga biasa namun pertandingan mereka selama beberapa hari ini selalu saja menarik banyak orang-orang yang pergi menonton bahkan bertaruh,"ujarnya menjelaskan.


Misaki mengernyitkan dahinya heran,"Memangnya apa yang spesial dari sebuah permainan dadu ular tangga, kalau begitu terima kasih atas penjelasannya,"


Pria itu pun pergi setelah Misaki membiarkannya lewat.


"Apa kau masih yakin itu tempatnya, Rai..?" Tanya Misaki lagi dan lagi memastikan.


Rai menepuk jidatnya bingung,"lebih baik kita ke sana dan pastikan itu sekarang..." Ujarnya lalu menariknya ke sana, ia sudah pusing dengan pertanyaan Misaki.

__ADS_1


Mereka berdua pun memasuki penginapan tersebut, melihat ada sedikit keributan di belakang kerumunan para petaruh Manager Row mencoba melihat apa yang terjadi di barisan belakang.


"Kupikir siapa ternyata itu kalian.." sapa Manager Row pelan.


"Tak perlu menjelaskannya lagi, aku sudah tahu kalian pasti akan kemari setelah melihatnya di hari pertama," lanjut Manager.


Ace tahu ada Rai dan Misaki datang namun ia tak peduli dengan kedatangannya dan hanya terfokus pada permainannya.


Rai dan Misaki pun merasa sedikit tidak enak untuk menyapanya akan mereka tetap melakukannya. Mereka mengenal Ace dengan baik namun untuk Zaru mereka tidak mengenalnya, akan tetapi ia bisa menebaknya bahwa ia merupakan salah satu hewan kuno.


"Karena Manager Row sudah tahu maka sekarang akan lebih mudah. Kedatangan kami berdua kemari adalah untuk memastikan apakah sosok yang mewakili Asosiasi adalah putra kami atau bukan," ujar Rai.


Sambil melotot tajam Misaki menarik telinga Rai,"Sudah kubilang itu pasti anakku! Aku ibunya..!!" Rai meringis sakit sembari membujuk Misaki untuk melepaskannya sebelum telinganya lepas dari tempatnya.


Manager tertawa pelan melihatnya pertengkaran mereka berdua. Disisi lain Ace menatap mereka berdua dengan dingin.


"Pergilah ke tempat lain jika ingin membuat keributan! Mengganggu konsentrasi saja!" Teriak Ace padanya.


Rai dan Misaki tersenyum canggung mendapatkan teguran keras tersebut darinya, para penonton hanya bisa menahan tawa tak berani menertawakan mereka.


"Disini terlalu ramai untuk berbicara mari ikut denganku," Manager lalu mengajak mereka ke sebuah ruangan di penginapan yang khusus untuk membahas sesuatu hal dimana di sana lebih sepi ketimbang di bawah.


Manager Row kemudian meminta salah seorang pelayan untuk membawakan beberapa minuman ke tempatnya.


"Jadi bisakah kita bertemu dengannya sekarang, Manager..?" Tanya Misaki memulai pembicaraan, terlihat jelas ia sudah tak sabar untuk menemuinya.


"Sepertinya aku akan mengecewakan kalian berdua. Bukannya aku tidak ingin mempertemukan kalian hanya saja ia belum lah kembali sedari sore tadi," ujar Manager.


"Apa?!!" Saking terkejutnya Misaki sampai bangkit dari tempat duduknya tentu Rai langsung menegur perlakuannya itu.


"Maafkan aku Manager, aku terlalu terkejut sampai lupa diri," ucapnya pelan.


"Manager menurutmu apakah ia akan membenci kami berdua karena kejadian beberapa tahun yang lalu itu.." Rai masih begitu khawatir dan takut dengan sikap Asta padanya nanti.


"Membenci ya...." Manager terdiam sejenak sembari memegangi dagunya.


"Aku tak pernah bertanya perihal ini padanya akan tetapi waktu itu Zaru pernah bercerita sedikit tentang pertemuannya dengan seorang kultivator suci beberapa waktu lalu. Dari perbincangannya dengan sosok itu Zaru mendengar bahwa orangtuanya masih hidup lalu ia pun terlihat sangat senang sekali," jelas Manager Row.


"Zaru...? Kultivator Suci...? Tunggu aku sepertinya tahu siapa kultivator suci dan untuk Zaru ini aku pernah mendengarnya tapi aku yakin bukan ia," ucapnya pelan.


"Jadi selama ini Asta sudah tahu bahwa kami masih hidup..?!!" Misaki terkejut.


Manager Row pun menganggukan kepalanya pelan. Membuat Misaki dan Rai semakin merasa bersalah karena tak segera menemuinya.


"Sekarang ia pasti membenci kami, kalau memang begitu saat melihat kami berdua di atas podium ia pasti langsung sadar dan juga marah pada kami," gumam Rai menghela nafas panjang.


"Asta memang mengetahui bahwa kalian masihlah hidup akan tetapi ia belum mengetahui siapa kalian dan hanya tau kalian hanyalah bagian dari Sekte Kobaran Api Sejati," ucap Manager.


"Karena Asta juga belum juga kembali lebih baik kalian kembali lain kali saja atau sebaiknya nanti setelah selesainya turnamen," lanjut Manager.


"Apakah anda tak membatasi waktunya..?" Tanya Misaki.


"Meskipun Asta yang mewakili Asosiasi akan tetapi aku tidak mempunyai hak untuk membatasi waktunya. Bahkan Zaru pun takkan melakukan itu meskipun Zaru dan Ace sangat sering sekali mengganggunya. Sepertinya ia sedang bertemu dengan teman-temannya, aku tidak tahu pasti kapan ia akan kembali," ujar Manager.


Misaki pun hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan setelah mendengar bahwa Asta masih belum kembali dan Manager sendiri tak pernah membatasinya.


Karena Asta juga tidak ada Rai dan Misaki pun memutuskan untuk kembali dan akan mengunjungi penginapan tersebut nanti setelah berakhirnya turnamen.


Selang beberapa saat baru saja Rai dan Misaki pergi Asta memasuki penginapan. Manager Row pun agak sedikit menyesal membiarkan kedua orang itu pergi, tapi setelah dipikir-pikir tidak mempertemukannya sekarang adalah pilihan yang baik untuk Asta agar tetap bisa fokus dalam turnamen.

__ADS_1


"Apa mereka berdua melakukannya lagi..?" Tanya Asta melihat keributan yang sudah biasa dua hewan itu lakukan.


"Seperti yang kau lihat..." Ujarnya.


"Guru lapar. Asta cepat pesan makanan. Kau dari tadi asik makan sendiri tak memperhatikan guru sedikitpun," ujar Flares tiba-tiba keluar.


"Haissh... Iya iya," Asta pun pergi memesan makanan yang akan ia bawa ke ruangannya untuk gurunya itu.


"Apa yang di lakukannya sampai pulang larut seperti ini, Master..?" Tanya Manager pada Flares.


"Teman masa kecilnya menyergapnya di jalan dan memintanya mentraktir makan. Jadi begitulah ceritanya," ujar Flares.


"Baru saja sebelumnya orang tuanya datang kemari ingin menemuinya dan dia tidak ada. Jadi apa aku harus mengatakan hal ini padanya sekarang atau tidak..?" Tanya Manager meminta pendapat.


"Biarkan saja. Lagipula pada akhirnya akan bertemu juga. Jadi tak perlu membuat pikirannya terganggu," ujar Flares.


Setelah memesan makanan untuk gurunya Manager kemudian memberikan sebuah Kitab Surgawi padanya, Kitab Surgawi Peremuk Jiwa.


Tak hanya berisi tekhnik bertarung tingkat tinggi yang dapat menghancurkan fisik serta jiwa lawan, didalamnya juga terdapat sebuah tekhnik kultivasi serta tekhnik Domain yang juga tak kalah hebat dengan Domain Dewa Api Kegelapan.


"Kitab Peremuk Jiwa adalah basis Jalan Bela Diri ku, yang telah membawaku ke tingkatan ku saat ini. Pelajari itu baik-baik,"ujar Manager Row memberikannya.


Asta pun pergi ke ruangannya tak sabar untuk mencoba menggabungkannya dengan tekhnik kultivasi Dewa Api Kegelapan.


Di dalam Kitab Peremuk Jiwa terdapat 3 tekhnik penghancuran, dasar dari tekhnik tersebut adalah Peremuk Raga.


Asta mempelajari tentang tekhnik tersebut dengan sangat baik dan menyerapnya dengan sangat cepat. Hanya dalam beberapa jam Asta sudah memahami seperempat dari tekhnik Peremuk Raga yang utuh.


"Sial aku hampir lupa dengan pertandingan esok pagi," Asta pun teringat akan pertandingannya ia pun menghentikan latihannya dan tidur, ia tidak mau jika harus mengantuk seperti sebelumnya.


Lawannya di fase keenam bukanlah orang-orang yang bisa ia anggap remeh seperti sebelumnya. Meskipun para peserta di wajibkan untuk menyembunyikan tingkat Ranah demi menghindari adanya penekanan ranah, akan tetapi Asta bisa menembusnya. Tak seperti sebelumnya yang mana lawannya kebanyakan hanya kultivator jiwa, kali ini berbeda. Semuanya merupakan Kultivator Guru.


Malam berakhir dengan cepat tak terasa mentari kembali muncul menyinari dunia dengan terang.


Dari penjuru Kekaisaran Arkhan semua orang datang berbondong-bondong ke ibukota Hansu hanya demi menonton pertandingan Turnamen Seni Bela Diri yang selalu diadakan setiap 10 tahun sekali, namun bedanya kali Turnamen telat satu tahun hanya karena sebuah kejadian tak terduga.


Asta bersiap-siap untuk kembali ke arena turnamen hari ini. Ia mencoba menebak-nebak siapakah yang akan menjadi lawannya di fase keenam ini. Ia berharap lawannya hari ini bukanlah Kenshin, karena ia ingin melawannya dengan kekuatan penuh di pertandingan final nanti. Itulah mengapa ia berharap tak melawannya hari ini.


"Saudara Asta..!! Semangat...!!!" Teriak Jaza dari atas tempat duduk penonton. Disampingnya ada Yu juga Yami yang sudah nampak baikan melambaikan tangan kepadanya sembari tersenyum.


Asta pun menganggukkan kepalanya pelan. Di tempat duduk penonton lain Moegi juga memberikan dukungan semangat untuknya, Shiro dan yang lain juga ikut hadir di sana.


Pembawa acara mengumumkan dimulainya pertandingan fase keenam, para peserta diminta bersiap dengan pertarungan mereka.


Pembawa acara menjelaskan tentang fase ketujuh adalah penentuan peringkat 5. Jadi pemenang yang lolos di fase keenam akan langsung ke fase kedelapan yakni 4 besar. Ia pun lanjut menjelaskan susunan pertarungan para peserta di fase keenam.


"Siapa sangka aku akan bertanding di awal lagi," gumam Asta pelan saat melihat namanya akan bertanding pertama.


Ia menghembuskan nafasnya tenang saat melihat lawannya adalah Han Bin dari Sekte Biru Bulan Sabit dan bukanlah Kenshin. Setidaknya ia bisa bernafas lega karena melawan Han Bin.


"Tak kusangka akan bisa bertemu denganmu di fase keenam Asta," ujarnya sambil tersenyum tipis.


"Sepertinya saudara Han sudah tak sabar untuk segera melawanku," jawab Asta pelan.


"Tentu saja. Saudara Asta adalah orang yang mengalahkan adik ku tentu saja aku penasaran dengan kekuatanmu,"


"Ahhh, jadi begitu. Pantas saja kalian sedikit memiliki kemiripan ternyata begitu alasannya. Kalau begitu demi menghormatimu aku juga tak akan sungkan,"


"Tentu kau harus seperti itu,"

__ADS_1


__ADS_2