
"Tapi sebelum itu, Apakah Asosiasi ini menjual makan dan minum? Kebetulan aku belum makan apapun setelah memasuki kota ini. Perutku lapar,"
Mendengar hal itu Manager Row tertawa. Sedangkan Zaru hanya menepuk dahinya malu.
'Anak ini benar-benar tidak menuruni sifat ayahnya. Terus terang dan tak tahu malu. Bahkan ia tak berbasa-basi lebih dahulu,' gumam Manager Row didalam hatinya. Manager Row menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kepadanya.
"Asosiasi ku merupakan sebuah toko yang menjual berbagai kebutuhan untuk kultivator. Meskipun Asosiasi ku tidak menjual makanan dan minuman. Tapi aku bisa menyuruh pegawai asosiasi ku untuk menyewa seorang koki. Kalau kau memang mau. Sedangkan untuk minumannya, asosiasi ku masih mempunyai sesuatu seperti minuman herbal. Apa kau mau?" Tawar Manager Row.
"Apapun itu selagi itu masih bisa diminum. Untuk masalah makanannya, aku akan mengikuti apa yang Manager sarankan," jawab Asta.
Manager Row pun mengangguk. Ia lalu mengeluarkan Artefak komunikasi dan menghubungi salah seorang pegawainya untuk mencarikan seorang koki. Ia juga menyuruh pegawainya yang lain untuk membuatkannya beberapa teh herbal.
"Dasar tak tahu malu," cibir Zaru melihat kelakuan Asta.
"Baiklah kalau begitu. Mari kita bicarakan hal ini sambil duduk dan bersantai. Sembari menunggu makanan dan minumannya disiapkan," ajak Manager Row kepada mereka berdua untuk mengikutinya menuju salah satu ruangannya.
Mereka berdua pun mengikuti Manager Row memasuki salah satu ruangannya. Belum Manager Row menyuruhnya untuk duduk, Asta malah langsung duduk di salah satu kursi yang di sediakan. Manager Row dan Zaru hanya bisa menggeleng pelan memperhatikannya.
"Manager, bolehkah aku bertanya. Sebenarnya terbuat dari apa ini. Mengapa nyaman sekali di duduki. Apakah Manager Row juga membelinya dari tempat yang sama dengan Manager Zao? Kursi ini tampak sama dengan yang ia punya," tanya Asta mengenai kursi tersebut.
"Ahh,, jadi kau sudah pernah menduduki nya ya. Tentu saja kursi ini sama. Karena Zao dan aku memang membelinya dari tempat yang sama. Menurut si penempanya, kursi ini terbuat dari Material Jiwa Kristal Katun Merah. Salah satu Material Jiwa yang cukup sering digunakan untuk dijadikan tempat duduk dan tempat tidur," jawab Manager Row sambil tersenyum.
Ia tak terkejut bila saja Asta pernah bertemu dengan sosok putranya itu. Lagipula, putranya memang merintis usahanya di Kota Api. Tempat dimana seharusnya Asta dilahirkan.
Asta pun mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari Manager Row. Setelahnya, ia pun membiarkan Manager Row dan Zaru untuk melanjutkan perbincangan mereka yang sempat tertunda. Sedangkan dirinya, akan memulihkan kondisinya. Sembari menunggu makanan dan minumannya datang.
"Sungguh tidak terduga bisa melihatmu kembali dihadapan ku. Jika dilihat-lihat nampaknya kau sudah mendapatkan seluruh kesadaranmu kembali. Jadi, bisakah kau mulai menjelaskannya sekarang mengenai apa yang terjadi dan hal apa yang membuat sosok sepertimu bersamanya," tanya Manager Row sambil menunjuk ke arah Asta.
"Apa kau pikir aku sebelumnya tidak waras? Justru kalianlah yang tidak waras karena menyegelku di lembah sialan itu," balas Zaru kesal.
"Ahh, lagipula itu hanya masa lalu. Itu juga demi kebaikanmu sekaligus permintaan terakhir Master. Mana mungkin kami akan membiarkanmu mengamuk begitu saja," ujar Manager Row membela diri.
"Kalian para manusia benar-benar keparat. Jika bukan karenanya mungkin aku akan selamanya terjebak di tempat terdalam Goa itu. Sejujurnya, tadinya aku memang berniat untuk membalas dendam kepada kalian yang telah menyegelku disana. Dengan cara yang sama. Yakni menyegel kalian di tempat itu juga," ujar Zaru.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Bukankah kau sekarang sudah mempunyai kebebasan untuk melakukan hal itu lagi?" Ucap Manager Row menggodanya.
"Haaaahh... Tentu saja bocah ini alasannya," ucap Zaru sambil menunjuk ke arah Asta.
Manager Row pun ikut menengok ke Asta dengan tatapan heran. Ia masih belum mengerti dengan apa yang Zaru maksudkan.
"Maksudmu Asta lah yang menyuruhmu agar tidak melakukannya?" Tanya Manager.
"Heeehhh...!! Tentu saja bukan! Lagipula siapa dia berani menyuruhku. Dengan kekuatannya masih belum cukup untuk memerintahku. Kau pikir aku ini apa?" Ujar Zaru menepis anggapan itu.
"Lalu? Alasan apa lagi," tanyanya lagi.
"Itu adalah sesuatu yang ada di dalamnya. Kau tahu? Bocah ini tidaklah serius ingin memulihkan diri. Jiwa tak akan terluka sedikitpun meski sudah mendapatkan tekanan seperti itu. Ia hanya sedang tertidur. Membangunkannya sekarang pun mustahil. Ia hanya akan terbangun saat makanan dan minumannya sampai. Jadi lebih baik kita tunggu sampai ia terbangun," ujar Zaru.
Manager Row sungguh terkejut mendengarnya. Awalnya ia pikir bahwa alasan Asta sebelumnya untuk segera duduk adalah agar ia dapat memulihkan diri. Tapi ternyata, ia hanya ingin tidur. Jika dipikir-pikir Asta memang terlihat seperti seseorang yang tak sedang terluka. Manager Row pun menepuk keningnya setelah menyadari hal tersebut.
"Baiklah, mari kita bicarakan hal lain terlebih dahulu. Contohnya, mengapa kau sekarang lebih condong menggunakan wujud aslimu. Sembari menunggu Asta terbangun," ujar Manager menyetujui saran Zaru.
***
Dahulu kala, Zaru sempat mengamuk dan kehilangan kendali. Setelah mendapat kabar bahwa Tuannya, Flares. Telah terbunuh. Zaru pun mengamuk dan menghancurkan segala hal yang ia temui.
Dengan wujudnya yang sebesar gunung, Zaru menebar teror ketakutan di setiap wilayah yang ia datangi.
Karena hal tersebut, Kaisar dari Kekaisaran Arkhan pun bertindak dan mengumpulkan Kultivator tingkat tinggi dari berbagai Ras yang berada di bawah kendalinya. Meminta mereka agar bekerja sama untuk menyegelnya.
__ADS_1
Saat itu Pegunungan Negeri Terlantar masih berdiri sendiri dan disebut-sebut sebagai Negara Gunung Tengkorak. Mereka tak berniat membantu dan membiarkan Zaru mengamuk dan menebar teror kekacauan. Meski pada akhirnya mereka juga terkena imbasnya. Namun mereka tak terlalu memikirkan hal tersebut.
Bahkan saat sang Kultivator Ahli Surgawi lainnya melakukan penyegelan. Gunung Tengkorak malah mengganggu mereka dalam melakukan penyegelan. Yang kemudian mengakibatkan pertempuran 3 kubu pun terjadi saat itu.
Meskipun pada akhirnya Zaru benar-benar tersegel. Nyatanya pihak Kultivator dari Kekaisaran Arkhan tak benar-benar memenangkan pertempuran tersebut. Karena setidaknya, ada puluhan Kultivator Ranah Dewata Agung yang gugur saat itu.
***
Beberapa saat kemudian, pegawai Asosiasi pun datang mengetuk pintu ruangan. Harum makanan yang menggoda membangunkan Asta yang tengah tertidur.
Asta pun mengusap-usap kedua matanya terlebih dahulu. Memastikan penglihatannya masih jelas dan jernih.
Manager Row menyuruh pegawainya agar masuk dan membawakan makanan serta minumannya ke meja yang ada di ruangan tersebut.
Asta pun tersenyum canggung. Menyadari Manager Row memandanginya sambil tersenyum dan menggeleng pelan. Manager langsung mempersilahkan Asta untuk memakan makanan tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, Asta pun mengangguk dan lekas memakan daging serta hidangan lainnya yang tersedia di meja.
"Benar-benar pemalas. Kau bangun hanya untuk makan saja. Apa kau sebegitunya tak tahu malu, hah..?"ucap Zaru mencibirnya.
"Perasaan kau ini report sekali. Seakan-akan aku sedang meminta padamu. Padahal Manager sendiri tak keberatan dengan hal itu. Pikirkanlah urusanmu sendiri," ujar Asta membalasnya.
Manager tertawa mendengar hal tersebut. Asta benar-benar mirip dengan ayahnya. Sangat terbuka dan tak mempedulikan ucapan orang lain.
"Melihatmu seperti ini, aku khawatir suatu hari kau akan meminta jamuan ketika sedang berada di medan perang. Aku bingung kenapa takdir seperti itu bisa jatuh kepada orang sepertimu. Kau tahu? Ia dulu sangatlah jauh berbeda denganmu saat ini," ucap Zaru membandingkan Asta dengan gurunya di masa lalu.
"Kau tahu apa? Kita bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu. Dan asal kau tahu, dia bahkan lebih pemalas dariku. Ia tukang tidur sebenarnya," ujar Asta membalasnya.
Flares pun langsung menampakkan dirinya. Tepat setelah Asta menyebutnya sebagai tukang tidur.
"Murid nakal bisakah kau katakan itu sekali lagi. Sepertinya pendengaran guru sedikit bermasalah hari ini," ucap Flares sambil tersenyum.
Asta pun langsung meminta maaf pada gurunya dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda soal itu. Namun begitu, Zaru malah menuduh yang sebaliknya dan mengatakan bahwa Asta juga menjelek-jelekkannya saat ia tengah beristirahat.
Dikala Asta dan Zaru tengah beradu cek-cok. Manager Row tiba-tiba saja langsung memeluk Flares. Yang saat itu juga membuat raut wajah Asta berubah menjadi jijik.
"Lepaskan....!!!!! Cepat lepaskan...!!! Apa yang tengah kau lakukan...!!!! Kau mempermalukan nama baikku...!!!!!!" Teriak Flares berusaha untuk melepaskan diri.
"Tidak!! Tidak akan ku lepaskan!! Sekalipun aku mati aku rela!!" ujar Manager Row menolak melepas pelukannya.
"Hoeerkkk,," melihatnya Asta pun tak dapat lagi menahan rasa mualnya. Seketika ia pun mengeluarkan kembali isi perutnya.
"Guru! Aku sungguh tak menyangka kau seperti ini. Bukankah kau sebelumnya mengatakan soal gadis, lalu apa sekarang," ucap Asta dengan tatapan jijik.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Jangan berpikiran yang buruk tentang gurumu..!!!!"ujar Flares mengelak.
Karena tidak mempunyai pilihan lain. Flares pun kembali masuk ke dalam Kitab Dewa Api Kegelapan. Menghindari hal memalukan tersebut.
Manager Row terlihat kebingungan. Ketika Flares tiba-tiba menghilang ia pun mencari di sekelilingnya. Namun begitu ia tak lagi merasakan keberadaannya.
"Kemana ia pergi?" Tanya Manager Row kepada mereka berdua.
"Berisik...!!!! Sekali lagi kau melakukan hal yang menjijikan seperti itu kubunuh kau!!" ucap Flares.
"Ayolah Master! Apakah aku tidak boleh memelukmu. Kau tahu bagaimana aku merindukanmu. Ini sudah ratusan tahun berlalu semenjak Master mati hari itu,"ujar Manager.
Flares pun langsung menampakkan dirinya. Manager Row tersenyum dan hendak memeluknya kembali. Namun sebelum itu, ia memukul perutnya hingga menabrak dinding ruangan tersebut.
"Ahaha, sepertinya itu memang anda, Master," ucap Manager setelah menerima pukulan tersebut.
__ADS_1
"Row! Bangunan besar apa ini?! Apa kau sudah bosan hidup sebagai kultivator dan memilih untuk bersenang-senang seumur sisa hidupmu?!" ujar Flares.
"Ahh,, tentu saja tidak begitu. Ini hanyalah salah satu cabang dari Asosiasi Fajar Merah yang ku dirikan. Aku hanya memutuskan untuk berbisnis dengan menjual berbagai kebutuhan untuk kultivator," balas Row.
"Ehh, Guru. Apa kau mengenal Manager Row? Kalau begitu, bukankah kau seumuran dengan Manager. Tapi, kenapa wajahmu malah terlihat lebih muda, Guru?" tanya Asta penasaran.
"Hahahaha..!! Gurumu memang ditakdirkan untuk selalu tampan seumur hidupnya. Itulah mengapa wajahku tak mengalami penuaan,"balas Flares sambil tertawa.
"Tapi kan Guru, kau tak benar-benar hidup saat ini. Dan kau juga tak benar-benar mati. Lalu sebenarnya siapa yang lebih tua antara kau dan Manager?" Tanya Asta.
"Jika kau ingin tahu usiaku. Aku hanya bisa bilang, bahwa aku 200 tahun lebih muda dari Master. Dan untuk Zaru, ia bahkan ribuan tahun lebih tua dari Master. Dan sekarang, usiaku kurang lebih 400 tahun-an," ujar Manager Row menjawabnya.
Asta pun terbelalak kaget dan sempat tersedak mendengarnya. Ia sungguh tak mengira jika manusia dapat hidup selama itu. Terlebih lagi Zaru. Ia sungguh penasaran, apakah Ace juga memiliki usia yang begitu lama.
"Ada apa kau memperhatikan ku seperti itu," tanya Zaru heran ketika Asta terus menatapnya.
"Tidak-tidak. Aku hanya terkejut saja. Ternyata kau sudah bau tanah,"ucap Asta asal bicara.
"Kau-!!!"
Ketika mereka hampir bertengkar lagi. Manager dan Flares bergegas untuk memisahkan mereka.
"Kau pergilah mencari seorang Penempa di kota ini minta dia mengajarimu cara membuat Artefak. Bukankah kau belum mempunyai Artefak apapun untuk dirimu sendiri," Ujar Flares menyuruhnya.
"Tapi bukankah Guru lebih baik dari hampir seluruh penempa di penjuru Kekaisaran Arkhan? Mengapa aku harus mencari Penempa lain untuk membuat Artefakku sendiri. Kenapa tidak guru saja yang mengajariku secara langsung," tanya Asta.
"Guru hanya akan membagikan sedikit pemahaman guru padamu. Untuk masalah prakteknya kau harus bisa memikirkannya sendiri kalau kau ingin menjadi Penempa hebat atau kau bisa bertanya pada seseorang Penempa. Bukankah kau pintar dalam menemukan sesuatu yang baru,"
"Guru benar. Jika aku terus menerus mengandalkan guru aku tak akan benar-benar bisa menjadi hebat,"
"Memangnya artefak seperti apa yang ingin kau buat, Asta?" Tanya Manager Row.
"Kalau bisa, aku ingin membuat sebuah artefak semacam sarung tangan. Yang bisa memberikan efek tambahan saat aku bertarung tangan kosong. Apakah mungkin, Manager?" Ujar Asta menjelaskannya.
"Ehh. Kenapa harus artefak sejenis sarung tangan? Kenapa tidak hal yang lainnya. Seperti pedang, kapak, atau mungkin tombak," tanya Manager heran dengan pilihan Asta tersebut.
"Row, kau berikan saja ia Kristal Katun Merah yang level 4 saja. Jika lebih tinggi dari itu, khawatirnya nanti pemurnian artefaknya akan gagal. Aku ingin, nantinya kau menggunakan Taring Siluman Merah serta Duri dari Banteng Ekor Berdurinya. Untuk pembuatan artefak tersebut. Jadi, tangan kanan dengan Taring Siluman Merah. Dan tangan kiri dengan Duri Ekor Banteng Ekor Berduri. Ingat itu, Asta,"ujar Flares memberinya saran.
Manager Row pun langsung menghubungi salah seorang pegawainya. Untuk membawakan sepasang Kristal Katun yang akan digunakan Asta nantinya.
Setelah Asta mendapatkan Kristal Katunnya. Ia pun langsung berpamitan untuk mencari salah seorang Penempa di Kota Tiandu. Seperti yang gurunya perintahkan.
Dengan penjelasan dari Zaru sebelumnya. Kini Manager Row pun sudah tahu semua hal yang terjadi. Dan bagaimana Flares bisa hidup kembali. Yakni karena Flares benar-benar menyisakan sisa-sisa jiwanya ke dalam Kitab Dewa Api Kegelapan. Yang mana ia nantinya akan terbangun jikalau ada seseorang yang terlahir memiliki Roh Sejati Api Pemakan Cahaya dan menyentuh Kitab tersebut.
Yang kebetulan, saat ini Asta lah yang terlahir dengan Roh Sejati tersebut. Yang mana kebetulan Asta merupakan salah seorang keturunan dari Ketua Sekte yang Flares dirikan.
Flares pun mulai menceritakan maksud dan tujuannya datang menemuinya, ia meminta agar Row mendaftarkan Asta di Turnamen Seni Bela Diri sebagai bagian dari Asosiasinya.
Yang tentu saja hal itu membuat Manager Row terkejut. Ia bertanya mengapa Flares harus repot-repot memintanya untuk mendaftarkan Asta sebagai bagian dari Asosiasi. Sedangkan Asta sendiri mempunyai kualifikasi untuk mengikuti Turnamen hanya mengandalkan identitasnya sebagai putra dari dua orang yang memimpin dua Sekte besar ini.
Flares tak setuju akan hal tersebut. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak baru di Kekaisaran Arkhan. Yang mana mungkin akan terjadi peperangan yang besar lagi.
Manager Row pun sedikit setuju. Ia tak terpikirkan hal tersebut. Hanya dengan munculnya seorang kultivator Roh Sejati dari pihak Manusia itu cukup untuk menciptakan sebuah gejolak baru di Kekaisaran Arkhan. Faksi 7 Dosa Besar pastinya tak akan tinggal diam dan membiarkan Asta berkultivasi dengan tenang.
Dan dibawah perlindungannya, seorang Kultivator Ahli Surgawi dan Asosiasi Fajar Merah yang merupakan Faksi Netral terkuat, setidaknya pihak musuh akan berpikir dua kali untuk melakukan serbuan terhadapnya.
Dan dengan begitu, akhirnya pilihan pun telah di tentukan. Asta akan mengikuti Turnamen Seni Bela Diri. Sebagai bagian dari Asosiasi Fajar Merah nantinya.
***
__ADS_1