
"Aku harus meminta bantuan guru,"
Sepulang dari sana Asta meminta gurunya untuk melatihnya lagi dengan pedang Iblis Malam, rasanya pertarungan besok akan menjadi yang paling sulit pikirnya jika harus melawan Hao Chen.
"Kau cari Row dulu, tanpa ada Lingkup Ruang darinya akan sangat berbahaya jika kita langsung menggunakannya,"
"Baik guru,"
Asta pun mencari Manager Row di penginapan, karena biasanya saat-saat sepulang menonton pertandingan di turnamen ia pasti menonton keributan Ace dan Zaru.
"Manager Row aku butuh bantuanmu," ujar Asta.
"Bantuan..? Bantuan apa..?" Tanya Manager.
"Aku ingin berlatih dengan guru menggunakan pedang itu, kau tahu kan besok kemungkinan besar aku akan melawan seseorang yang bisa mengendalikan pedang itu," ujarnya.
"Baiklah kalau begitu kita cari tempat yang lebih luas, jangan di belakang penginapan,"
Asta dan Manager pun pergi mencari lokasi yang cocok untuk berlatih, mereka keluar dari kota Hansu menuju ke hutan.
"Sudah cukup. Disini lokasinya sangat pas jika digunakan untuk berlatih," ujar Manager.
Mereka pun memilih Padang Sabana tersebut untuk berlatih, Manager Row pun mengaktifkan esensi rohnya dan membuat sebuah ruang terpisah dari dunia luar. Sehingga aura dari pedang Iblis Malam tak dapat menyebar.
"Apa kau siap..?" Tanya Flares.
"Guru kali ini tak akan seperti sebelumnya. Guru akan sangat keras padamu di latihan ini," sambung Flares.
"Aku siap kapanpun guru akan memulai latihannya," balas Asta sembari mengeluarkan Pedang Iblis Malam dari sarungnya.
Manager Row duduk di luar memperhatikan Asta yang sedang berlatih dengan Flares. Sembari memakan cemilan ia menikmati hal tersebut, tak jauh dari belakangnya ia mendengar suara percakapan seseorang yang tengah berdebat.
"Zaru dan Ace? Mengapa mereka kemari?" Gumam Manager Row pelan.
Di kejauhan di gelapnya malam terlihat bayang-bayang sosok mereka berdua yang sedang menuju ke arahnya. Mereka berdua duduk ribut sambil memperhatikan latihan Asta.
Flares memainkan tekhnik pedangnya hanya bermodalkan pedang kayu Asta kelabakan dibuatnya, belum lagi latihan tersebut adalah guna untuk meningkatkan kekuatan jiwanya dalam melawan aura pedang tersebut.
Beberapa detik kemudian Asta tumbang di bawah tekanan aura tersebut. Tanpa bantuan gurunya aura pedang tersebut sangat gila dan sulit di kontrol sehingga Asta pun tak bisa bertahan.
Aura pedang iblis malam bukanlah sesuatu hal yang bisa Asta kendalikan dengan mudah sekalipun ia sudah bisa mengontrol pedang langit kelam. Aura pedang tersebut masihlah jauh di bandingkan dengan iblis malam.
"Keluarkan langit kelam dan gunakan pedang itu bersama dengan iblis malam. Mustahil bisa menguasai pedang iblis malam dengan kemampuanmu saat ini, sekarang lebih baik tingkatkan kualitas pedang langit kelam,"
Asta mengayunkan dua pedang tersebut sekaligus, mencoba melakukan beberapa gerakan baru yang gurunya ajarkan.
Tak hanya kekuatan jiwanya yang meningkat kemampuan berpedangnya pun juga menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Menggunakan langit kelam di samping pedang iblis malam membuat aura langit kelam menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
"Cukup dengan latihan hari ini. Kalau kau benar-benar ingin menguasai pedang ini maka kita lakukan setelah turnamen selesai baru kita lanjutkan," ujar Flares mengakhiri latihan tersebut yang mana hari juga sudah tengah malam dan Asta butuh istirahat untuk pertandingan besok di turnamen.
Manager pun membuka tekhnik miliknya dan membiarkan mereka keluar. Aura dari pedang tersebut sudah menghilang semenjak Asta memasukkannya kembali ke sarungnya.
Mentari pagi bersinar terang memulai hari dimana turnamen seni bela diri akan memasuki babak 4 besar. Kali ini suasana kursi penonton lebih dan lebih padat lagi dari pada biasanya.
Dari atas tempat duduk Moegi berteriak ke arah Asta.
"Asta...!!! Berjuanglah..!!!!"
Dari kursi 7 Ketua Sekte Besar Misaki dan Rai dari balik topengnya tersenyum melihat penampilan Asta yang mendapat banyak sorotan dan dukungan.
Para penonton terlihat sudah tak sabar untuk pertandingan yang akan dimulai. Para peserta yang tersisa dan lolos ke babak semifinal tersebut antara lain: Asta dari Asosiasi Fajar Merah, Kenshin dari Sayap Kegelapan, Hao Chen dari Sekte Bunga Teratai, dan Cang Hue dari Sekte Istana Awan.
Selain Asosiasi Fajar Merah dan Sayap Kegelapan, Sekte Istana Awan dan Bunga Teratai adalah sekte yang jarang sekali terdengar. Hal itu di karenakan dua sekte itu hanyalah sekte kecil sehingga tak banyak orang yang mengetahuinya.
"Baiklah karena para hadirin yang sudah tak sabar untuk menantikan pertandingan ini mari kita mulai turnamen ini sekarang juga..!!!!"
__ADS_1
"Pertandingan pertama akan ada Kenshin dari Sayap Kegelapan melawan Hao Chen dari Sekte Bunga Teratai lalu di pertandingan kedua ada Asta dark Asosiasi Fajar Merah yang akan melawan Cang Hue dari Sekte Istana Awan. Yang manakah menurut para penonton yang akan lolos ke babak final...?!!! Mari kita mulai pertandingan Fase Semi Final Turnamen Seni Bela Diri...!!!!!!"
Kenshin pun naik ke atas arena sembari melihat ke arah lain dimana Hao Chen juga sudah naik ke atas arena.
"Kuharap kau tak lupa perihal kemarin Kenshin...!!!" Teriak Asta padanya.
"Ohh tentu saja tidak," jawab Kenshin pelan sembari membuka topengnya. Wajah yang ia tutup-tutupi selama Turnamen Seni Bela Diri dimulai akhirnya dapat di lihat oleh mata para penonton.
"Apa..!! Dia masih muda sekali..!!!"
"Ia membuka topengnya di pertandingan ini..!! Apa yang terjadi..!!"
"Ia hendak memperlihatkan jati dirinya..!!"
Mata para penonton terfokuskan padanya. Pembukaan topeng tersebut menarik perhatian semua orang. Tak terkecuali dengan Rai Ken yang juga langsung berdiri di tempatnya.
Kenshin melambaikan tangannya sembari tersenyum kepadanya, mulutnya bergerak seperti mengatakan 'Hai, Patriark Rai'.
Rai Ken duduk kembali di kursinya. Ia sangat terkejut sekali melihat pemuda yang mewakili Sayap Kegelapan rupanya adalah salah satu murid serta putra Tetua Sektenya yang pergi meninggalkan Sekte. Seharusnya aku menyadarinya sedari awal hanya dari namanya pikirnya.
"Bagaimana sekarang? Aku sudah menepati janjiku lalu setelah ini adalah giliranmu," ujar Kenshin sembari menunjuk ke arah Asta.
"Siapa takut. Tunggu saja nanti," balas Asta singkat.
Hao Chen menyapa Kenshin sejenak sebelum mengeluarkan pedang yang memiliki aura sama hebatnya dengan Iblis Malam.
Para penjaga bergegas memasang penghalang demi mencegah penyebaran aura haus darah dari pedang tersebut. Mereka tak ingin jika sampai para penonton terkontaminasi dan mengamuk karenanya.
"Aku tau kemampuan saudara Kenshin sangat kuat tapi aku harap kau menyerah saja sekarang. Asal kau tahu saja Pedang Iblis Langit ku ini selain memiliki aura haus darah yang bisa menggerogotinya jiwa seorang Dewata Agung juga sangat susah sekali untuk ku kendalikan," ujar Hao Chen mengintimidasinya dengan pedang tersebut.
Kenshin tertawa pelan mendengar ucapan tersebut,"seorang master pedang yang tak bisa mengendalikan pedangnya sendiri tak layak mendapatkan gelar sebagai master pedang," balas Kenshin lalu menghilang menyerangnya duluan.
"Justru karena itu sebenarnya aku tak ingin menggunakannya hanya untuk mempermalukan ku saja, tapi apa boleh buat. Ini adalah satu-satunya pedang ku,"
Hao Chen hanya berdiri tenang tanpa persiapan untuk menghindar. Kenshin muncul dari belakang dengan tebasan pedangnya namun kemudian tebasan pedangnya ditahan oleh pedang Iblis Langit milik Hao Chen. Pedang itu bukan Hao Chen yang mengayunkannya melainkan pedang itu sendiri yang bergerak melindunginya.
"Bukankah sudah ku bilang padamu untuk menyerah saja. Jujur saja aku tak bisa mengendalikannya untuk tidak menyakitimu jika kau sampai terkena olehnya," ujar Hao Chen sembari hembuskan nafasnya pelan.
"Pedangmu itu sepertinya sangat kuat, Artefak Roh Dewata memang sesuai akan reputasinya tak mengecewakanku sama sekali. Tapi hanya karena ini bukan berarti aku akan takut padamu,"
"Transformasi Sempurna, Burung Hantu Mata Biru"
"Tekhnik Roh, Ketiadaan"
Kenshin mengaktifkan tekhnik roh dan transformasinya secara bersamaan. Membuatnya menghilang dari pandangan mata orang-orang.
Meski sebentar Kenshin memperlihatkan sayapnya namun semua orang tau sayap hewan apa itu. Tak lain dan tak bukan merupakan sayap dari Burung Hantu Mata Biru yang mana merupakan Ras Hewan Kuno yang menyandang sistem pendukung terbaik. Selain memberikan kemampuan terbang juga meningkatkan seluruh atribut basis kultivasi.
"Saudara Ken ternyata mempunyai banyak rahasia yang sangat mengejutkan. Karena kau bermain dengan serius maka aku pun tak akan sungkan,"
Iblis Langit bergerak setiap saat Kenshin muncul menyerangnya membuat pertahanan Hao Chen seperti tanpa celah untuk diserang. Sebuah pertahanan sempurna yang sangat menguntungkan.
Hao Chen menyiapkan sebuah Teratai Biru Surgawi miliknya dan menciptakan hujan teratai di atas arena. Teratai itu meledak-ledak setiap kali menyentuh lantai arena.
Kenshin terbatuk-batuk memunculkan dirinya, salah satu teratai tersebut meledak dan mengenainya.
'Sial! Pertahanan sempurna di dukung dengan Esensi Roh Semesta Sejati yang memiliki daya serang kuat membuatnya menjadi sangat sulit untuk di kalahkan. Meskipun sebagai sesama kultivator sejati namun kekuatan ku sangat kalah jauh dibanding dirinya. Dimana Asta pernah mengenal sosok sepertinya,'
Kenshin memantapkan langkahnya untuk melakukan serangan lagi. Namun firasat buruk memenuhi pikirannya ketika melihat dengan jelas Iblis Langit tak ada di sekitar Hao Chen.
"Slashh..!!!!"
"Ukh-!! Sial..!!! Aku.. lengah...!!" Kenshin tergeletak dengan luka tebasan pedang di punggungnya. Di belakangnya terlihat pedang Iblis Langit berlumuran darahnya.
"Maafkan aku saudara Ken, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk mengalahkan mu. Kau pasti berpikir bahwa Iblis Langit hanya akan bergerak melindungi ku sampai-sampai kau lengah seperti ini,"
__ADS_1
Asta serta para penjaga pun naik ke arena untuk segera memberikannya pertolongan pertama. Melihat Asta yang panik melihat Kenshin terluka karenanya Hao Chen sedikit merasa bersalah padanya.
"Tuan muda, aku..."
"Jangan katakan lagi. Ini adalah pertandingan turnamen seni bela diri, hal seperti ini sudah pasti akan terjadi jangan khawatirkan itu," ujar Asta memotong ucapannya.
Mendengar ucapan tersebut Hao Chen pun bernafas lega saat Asta mengatakan tak akan mempermasalahkannya. Ia pun bisa turun dari arena dengan tenang.
Pertandingan selanjutnya adalah Asta melawan Cang Hue, setelah selesai dengan Kenshin Asta pun kembali ke atas arena untuk menyambut lawannya.
"Saudara Cang senang bertemu denganmu," sapa Asta dengan ramah sembari membuka topengnya.
"Begitu juga denganku, Asta," balasnya sambil tersenyum ramah melihat wajah Asta yang tersenyum padanya.
Di atas podium kursi ketua sekte Rai Ken dan Misaki secara bersamaan berdiri dari tempat duduknya. Meskipun mereka sudah tahu bahwa dia adalah putranya namun setelah melihat wajahnya yang tengah tersenyum manis itu membuat hatinya terenyuh. Mereka berdua ingin sekali melompat ke atas arena menyusulnya.
"Apa yang ingin kalian lakukan?! Apa kalian ingin mengacaukan turnamen dan membuat Kaisar dan Manager marah?!!" Bisik Fujan Daru Patriark Sekte Biru Bulan Sabit menahan Rai Ken.
"Jika ingin mencari masalah maka lakukanlah sendiri jangan bawa-bawa kami!" Bisik Shai Ya Matriark Sekte Tanah Leluhur menghentikan Misaki.
"Tapi dia..."
"Apa?!! Jangan melakukan apapun lagi. Cepat duduk sebelum manager melihat sikap kalian ini!" Bisik Shai Ya memotong ucapan Misaki yang hampir saja menyebutkan bahwa Asta adalah putranya.
Mereka berdua pun duduk kembali di tempat duduk mereka masing-masing. Sedangkan di podium dimana Kaisar Arkhan dan Manager Row berada juga terjadi sedikit keributan.
Manager Row memukulkan kepalanya ke meja saat melihat Asta tak mendengarkan ucapannya sama sekali untuk tidak melepaskan topeng tersebut.
"Terserah ia menggunakan tekhnik rohnya namun mengapa ia malah memilih membuka topengnya..!!!" Zaru dan Ace pun tertawa mendengar ucapan tersebut keluar dari mulutnya. Mereka sudah tahu bahwa Asta bukanlah anak kecil yang bisa di atur dengan mudah lagi. Dia mempunyai pendiriannya sendiri.
Asta pun mengeluarkan menarik pedang langit kelam miliknya bersiap untuk bertarung dengan Cang Hue.
"Sepertinya aura pedangmu bertambah kuat beberapa kali dibandingkan sebelumnya. Apa sebelumnya kau menutupi kekuatan asli pedang itu?" Tanya Cang Hue heran.
Asta sedikit berpikir pelan menjawab pertanyaan tersebut sebelum kemudian mengangguk dengan polosnya.
Cang Hue menerjang ke depan memberikan serangan pertama. Dalam serangan tersebut ia langsung mengaktifkan esensi tangan semesta miliknya.
Dengan cepat Asta memutar pedangnya menahan pukulan tersebut. Melihat daya pukul yang dihasilkan esensi roh Cang Hue membuat Asta bersemangat untuk mengadu tekhnik bertarung tangan kosong dengannya.
"Saudara Cang bisakah kau hentikan dulu seranganmu aku ingin menaruh pedangku dan bertarung tangan kosong denganmu. Jika aku mengambil kesempatan untuk menyerang maka aku akan menyerah kalah, penjaga arena akan menjadi saksinya,"
Penjaga arena pun mengangguk padanya. Segera Cang Hue mengehentikan serangannya.
"Apa kau yakin tak ingin menggunakan pedang itu lagi?"
"Bukan tak mau lagi tapi melihatmu yang bertarung hanya dengan tangan kosong membuatku juga bersemangat untuk mengadu pemahaman seni bela diri tangan kosong ku denganmu,"
Asta pun memasukkan pedangnya ke dalam cincinnya begitu juga dengan Cakar Taring Duri miliknya. Manager melototkan matanya lebar-lebar melihat Asta yang juga melepaskan Cakar Taring Duri miliknya tak hanya melepas topengnya.
"Baiklah sekarang sudah siap bagaimana kalau kita melanjutkan pertarungan tadi, saudara Cang..?" Ujar Asta sembari tersenyum padanya.
"Baiklah kalau begitu aku akan memulai serangan lagi kuharap kau bisa menahan serangan ku dengan baik,"
Cang Hue pun memulai serangan lagi sembari tersenyum Asta menahan serangan tersebut hanya dengan satu satu tangan.
Keduanya sama-sama tersenyum sembari mengatakan kata yang sama.
"Kau sangat kuat. Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang menarik..!"
---
**Maaf sebelum, akhir-akhir ini aku agak sibuk sehingga jumlah updatenya pun jadi agak gak beraturan. sekali lagi maaf ya :)
Btw, kira-kira siapa yang akan jadi juaranya menurut kalian..? Apakah Asta atau mungkin Hao Chen..? atau bisa jadi Cang Hue..?
__ADS_1
Coba tulis jawabannya di komentar ya..
Sampai Jumpai**.....