Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch76 Perkemahan Musuh


__ADS_3

Asta mengambil tanduk dan permata hewan rusa tersebut, setelahnya ia pun mengikuti dan mengirisnya menjadi beberapa bagian lalu membawanya ke tempat dimana Xiao Jun dan yang lain sedang menunggu.


“Senior! Bukankah rusa ini terlalu banyak untuk kita berempat?!” ucap Fen Shan terkejut melihat ukuran potongan daging rusa tersebut.


“Kalian terlalu percaya diri sekali aku akan memberikannya pada kalian berempat semuanya, ini untuk kalian sedangkan yang ini untukmu Lira,” ucap Asta membaginya.


Chen Yan tersenyum canggung,“tapi dua potong ini juga sudah terlalu banyak untuk kami berempat,”


Zaru dan Ace menatap mereka tajam,“kalian terlalu banyak komplainnya, diberi banyak protes apalagi kalau tak diberi sama sekali,” ujar Ace.


“Kalau tidak mau ya sudah buatku saja,” lanjut Zaru.


“Ahh..! Kami mau, kami mau,” ucap mereka serentak tak lagi menolak.


Setelah itu mereka pun makan dengan lahap menyantap daging rusa panggang panggang, hanya Xiao Jun, Fen Shan, Chen Yan dan Niu Yang saja yang merasa heran daging milik Asta terus saja menghilang dengan sendirinya. Padahal sebenarnya daging tersebut dimakan oleh Flares.


Setelah selesai makan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, Lira awalnya protes dan meminta melanjutkan perjalanan ketika sudah pagi namun Asta menolak dengan alasan semakin lama mereka dijalan maka semakin banyak orang yang kehilangan nyawa.


Selang beberapa jam terlihat sebuah asap membumbung tinggi di atas langit diikuti dengan suara meriah seperti sebuah pesta perayaan.


“Senior! Kita sudah sampai di perkemahan musuh! Di sanalah mereka mendirikan sebuah perkemahan dan bisa senior dengar dan liat keriuhan itu,” ujar Chen Yan.


“Sepertinya ada yang tidak beres. Diantara kalian apa ada yang bisa menyusup ke sana?” tanya Asta.


“Biar aku saja yang melakukannya tapi kemungkinan besar kalau ada musuh tingkat Dewata Agung aku pasti ketahuan, jadi aku harap senior akan menolongku saat aku melepaskan sebuah tanda,” ujar Niu Yang.


Asta pun mengangguk setuju,“baiklah tapi sebelum itu kenakan ini. Aku membuatnya dengan sengaja untuk kalian supaya identitas kalian tetap aman sehingga kalian nantinya tak akan menjadi buruan mereka,” Asta memberikan beberapa topeng untuk mereka kenakan begitupun dengan Lira.


Niu Yang dan lainnya pun memakai topeng tersebut lalu setelahnya Niu Yang pergi untuk menyusup kedalam perkemahan.


“Bukan hanya kemungkinan besar melainkan pasti ia akan ketahuan setelah memasuki area yang dijaga oleh mereka,”ucap Ace.


Mereka berempat panik mendengarnya,“kalau begitu..”


“Kita bergerak sekarang. Lira! Tetap berada di belakangku, kau cukup lumpuhkan musuh jangan memaksakan dirimu untuk membunuh mereka!” pesan Asta.


-----


“Sepertimya mereka terlalu menikmati pesta jadi kemungkinan aku bisa masuk kedalam dan mencari tahu apa yang terjadi,” Niu Yang masuk kedalam perkemahan dengan hati-hati.


Niu Yang membuka matanya lebar saking terkejutnya melihat pemandangan didepannya, 4 kerangkeng besar dengan gadis belia hingga paruh baya terkurung tanpa busana dengan tatapan kosong.


“Mereka benar-benar biadab! Dari gadis yang masih belasan tahun hingga mereka yang mungkin sudah bersuami dilecehkan mereka! Apa-apaan ini?!” hatinya benar-benar terbakar emosi melihat raut wajah mereka yang tak menunjukkan keinginan hidup sama sekali.


Tanpa sadar Niu Yang berjalan ke salah satu kerangkeng dengan merapatkan giginya menahan emosi, ia mencoba berbicara dengan mereka untuk memberitahunya agar tenang karena sebentar lagi mereka akan diselamatkan.


Namun yang ia dapati bukanlah jawaban senang terharu, ketika melihat dirinya mereka seperti biasa saja dan tak peduli lagi apa mereka akan diselamatkan atau tidak.


Niu Yang semakin marah dan kesal dengan para demon yang memperlakukan manusia semena-mena. Ia bertekad dalam hatinya akan membunuh setiap demon ataupun yang bersekutu dengan mereka saat itu juga ketika ia melihatnya.


Saking marahnya Niu Yang tak menyadari kehadiran demon yang berdiri dibelakangnya, ia tersenyum memamerkan giginya kepada para perempuan didalam kerangkeng tersebut.


“Bagaimana? Apa kau tertarik dengan mereka? Kalau kau mau menjadi bawahanku dengan senang hati aku akan membiarkanmu menikmati keindahan gadis manusia sepanjang hidupmu! Kyakyakya..!!” bisik demon tersebut ditelinganya.


Niu Yang membuka matanya lebar terkejut,“sial! Aku lengah!” batin Niu Yang menjerit.


Ia sudah terlambat untuk melarikan diri. Demon itu mencengkeram pundaknya dengan sangat kuat sehingga ia sulit untuk bergerak.


“Bagaimana dengan tawaranku? Bukankah itu lumayan,” ucap demon itu sekali lagi.


“Lebih baik aku mati daripada mengkhianati bangsaku sendiri...!!” ujarnya menekankan kata tersebut.


Demon itu menghembuskan nafasnya pelan,“yah.. kalau begitu maka tak ada pilihan lain,” ia menusuk Niu Yang dengan tangannya hingga menembus tubuhnya.


“karena sedari awal aku tak berniat melepasmu jadi hanya ini yang bisa kulakukan untukmu,” ucapnya dengan raut wajah kecewa.


“Uhuk-!! Uhukk-!! Kau-! Kau-! Pasti mati-! Uhukk-!! Uhukk-!!”


Luka yang dideritanya tersebut terlalu parah sehingga sulit untuk ia tahan, ia tertunduk lemas memegangi luka di perutnya. Lautan energinya dihancurkan olehnya, tak ada kesempatan lagi baginya untuk bisa bertahan hidup.


Demon itu menghembuskan nafasnya,“semua makhluk hidup pasti akan mati, begitupun dengan diriku. Tapi setidaknya aku tak munafik sepertimu saat masih muda, itulah mengapa aku bertahan hidup sampai sekarang,” ujarnya meninggalkannya kesakitan disana.


Niu Yang pun terbaring di atas tanah didekat kerangkeng tersebut, gadis-gadis itu tak mempedulikannya yang kesakitan.


“Jadi inikah yang namanya kematian...? Uhukk-!! Sepertinya.. sampai sini saya takdir ku. Uhukk-! Ini adalah balasan yang pantas untuk pengecut sepertiku. Uhukk-!” Niu Yang merenungi nasib dan juga takdir yang menimpanya.


“Niu Yang...!!! Dimana kau..!!!,” teriak Xiao Jun dan yang lainnya diikuti dengan suara keributan dan perkelahian.

__ADS_1


“Semu..anya.. maafkan..aku..” ucap lirih mencoba memiringkan kepalanya kearah dimana suara itu berasal.


-----


“Senior..!!! Ada beberapa yang lari..!!” teriak Fen Shan.


“Zaru..!! Ace..!! Bukankah kalian berdua ingin bermain? Pergilah cegah mereka dan jangan sampai ada yang melarikan diri..!!” perintahnya.


“Ehh..?!! Tumben sekali kau membutuhkanku, biasanya kau melakukannya sendirian,” ucap Zaru.


“Sudah cepat..!!” teriak Asta sekali lagi.


Setelah mendengar Zaru yang mengatakan Niu Yang pasti akan langsung ketahuan membuat mereka tak punya pilihan selain menerobos masuk ke perkemahan secara langsung.


Sebagai serangan pembuka Asta melepaskan tebasan penghancur yang langsung memporak-porandakan keadaan perkemahan. Mereka yang awalnya sedang asik berpesta langsung terkejut ketika menyadari serangan terkejut.


“Kalian pergi dan cari keberadaan Niu Yang, serahkan padaku masalah disini,” perintah Asta.


“Baik! Kami serahkan yang disini pada senior..!!”


Asta melepaskan dua domain sekaligus demi memberikan ruang kepada mereka bertiga untuk pergi mencari Niu Yang, firasatnya benar-benar terasa buruk.


Perkemahan tersebut nampaknya berisi dari dua pasukan yakni demon dan goblin, ada sekitar tiga ratus dari mereka di perkemahan tersebut. Asta tak bertarung menggunakan pedang iblis malam kali ini untuk menghindari pembunuhan berdarah sebisa mungkin, karena takutnya akan membuat Lira ketakutan.


“Kitab Surgawi Peremuk Jiwa, Peremuk Raga”


Lira bertarung bersama dengan Asta di belakangnya, ia berdecak kagum melihat gurunya yang sangat kuat dan lincah dalam menghadapi mereka. Ia tak terlihat kesulitan sama sekali.


“Sialan..!!! Panggil tuan Shi Ruo..!! Pria dan gadis bertopeng ini sangat kuat..!!” teriak goblin.


Asta tak membiarkannya begitu saja pergi, ia meningkatkan domainnya untuk memberikan penekanan lebih terhadap mereka.


Mereka setidaknya terdiri dari goblin dan demon yang paling rendah adalah tingkat jiwa, ketika merasakan domain tersebut mereka yang berada di tingkat guru dan dibawahnya tentu tak akan lagi mampu bergerak, hanya beberapa yang lebih tinggi tingkatannya yang masih mampu bergerak meskipun pergerakan mereka terbatas.


Dengan peningkatan domain tersebut banyak dari mereka yang mati karena sesak dan juga perasaan organ dalam terbakar. Dari ratusan mereka hanya tersisa puluhan yang masih sanggup bertarung.


Asta benar-benar tak melakukan pembunuhan berdarah sama sekali, jika pun ia memukul mereka dengan tekhnik bertarung tangan kosong kitab Peremuk Jiwa ia bisa menghancurkan organ dalam serta lautan energi mereka dari luar mengandalkan kekuatannya.


“Guru..!! Lihat aku..!! Aku bisa bertarung bersama guru dan aku bukan beban kan..?!” Lira berteriak memanggil Asta untuk melihatnya.


“Maksudnya..?” Asta bertanya heran lalu ia pun berbalik untuk melihat pertarungan Lira.


Lira terlihat sedang menggila membunuh goblin dan para demon tersebut tanpa rasa kasihan sedikitpun, cara membunuhnya bahkan lebih brutal daripada dirinya ketika di kota permata biru.


Hanya mengandalkan pemahaman dasar dari kitab Peremuk Jiwa yang Asta ajarkan selama perjalanan Lira benar-benar memanfaatkannya dengan sangat baik, satu pukulan untuk satu nyawa dan lagi tanpa jasad yang utuh begitulah yang terjadi saat ini.


Sedari tadi Lira memang bertarung dengan brutal dan kejam, dimatanya tak ada alasan untuk membiarkan mereka mati dengan jasad yang utuh sekalipun. Ia tampak heran melihat Asta yang menahan dirinya dan membunuh mereka dan cara yang sangat bersih.


Asta pun melanjutkan pertarungannya menghabisi nyawa mereka satu persatu namun tanpa rasa takut untuk membuat Lira terkejut.


“Ia tampaknya benar-benar mendendam terhadap mereka, karena sudah begini maka tidak ada gunanya lagi untuk menahan diri, benarkan guru,” ucap Asta pada Flares.


-----


Disisi Xiao Jun dan yang lain akhirnya mereka pun sampai di tempat dimana para gadis dikurung dalam kerangkeng tanpa busana juga Niu Yang yang tergeletak di depan salah satu kerangkeng tersebut.


Mereka bertiga mematung dengan ekspresi wajah terkejut akan pemandangan tersebut.


“Per...gi...” ucap Niu Yang lirih.


Mereka pun tersadar dan berlari menuju ke arahnya dengan panik.


“Pergi.. cepat..” ujarnya lirih.


“Apa yang kau katakan?! Fen Shan!! Chen Yan!! Bantu aku..!!” ujar Xiao Jun.


“Kalian baru saja datang tapi sudah ingin pergi lagi? Apa kalian tak menikmati keindahan gadis-gadis cantik ini..?”


Demon itu kembali lagi ke tempat tersebut setelah mengambil secangkir arak di tempatnya, ia memandang mereka dengan tersenyum.


Xiao Jun langsung bergidik ngeri melihat senyuman tersebut, bukan hanya raut wajahnya melainkan tekanan auranya yang benar-benar menyesakkan dada.


“Niu Yang maafkan kami. Sepertinya kau harus menunggu sebentar setelah kami membunuhnya terlebih dahulu,” ucap Fen Shan.


“Membunuh dan membunuh. Hanya itu-itu saja yang kalian ucapkan, apa kalian para manusia tak mempunyai kata-kata yang lain? Aku sudah bosan mendengar kata-kata tersebut,”


“Pergi.. kalian.. bukan.. tandingannya..” ucap Niu Yang lirih terus menyuruh mereka pergi.

__ADS_1


“Niu! Apa kau lupa dengan kemampuan kita? Dengannya sendiri kita bertiga bisa membunuhnya kau tenang saja,” jelas Chen Yan.


“Bodoh... Cepat pergi..” ucapnya lagi.


Mereka bertiga sadar dengan kemampuan dan batas mereka, mau bagaimanapun mereka tetap saja demon itu bukanlah tandingan mereka bertiga. Namun melihat Niu Yang tergeletak dengan luka seperti itu mereka tak bisa meninggalkannya begitu saja.


Mereka mengeluarkan pedang dan melakukan formasi serangan untuk menyerangnya namun tak ada satupun dari mereka yang bisa melukainya, pedang mereka bertiga terpental kembali ketika menyentuh kulitnya.


Mereka tak menyerah untuk menyerang dan mengeluarkan kembali serangan seni surgawi tingkat epik akan tetapi serangan mereka kembali terpental sia-sia tak memberikan dampak apapun untuknya.


“Lakukan lagi! Kebetulan badanku sedang gatal-gatal lakukan lebih keras! Kyakyakya,” teriak demon tersebut.


“Xiao Jun! Apa ada perkembangan?!” teriak Chen Yan.


“Seranganku tak ada yang berguna, tubuhnya keras sekali seperti baja. Fen bagaimana denganmu..?!”


“Sama saja! Tubuhnya benar-benar keras seperti logam, mustahil kita bertiga bisa mengalahkannya,” teriak Fen Shan.


Disaat mereka sedang kebingungan dan mencari cara untuk melukainya demon tersebut bergerak memukul mereka bertiga secara bersamaan. Mereka terhempas menabrak kerangkeng dengan darah yang mengucur keluar dari mulut.


“Kalian terlalu lemah, tapi kalau kalian ingin hidup aku bisa memberikannya. Aku ini pemaaf, masalah ucapan kalian sebelumnya bisa ku lupakan. Tapi jika kalian ingin hidup yang pasti ada syaratnya, cukup penggal dia sekarang juga,” ucapnya menuding ke arah Niu Yang.


“Mana sudi kami mengikutimu..!!!” teriak mereka bertiga kembali bangkit untuk melawannya.


Demon itu menghembuskan nafasnya pelan,“kalian benar-benar tak memahami maksud baikku. Seandainya kalian ikut denganku pun kalian tidak akan merasa dirugikan sama sekali,” ucapnya pelan.


“Karena kalian keras kepala....” ia tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Xiao Jun.


“Xiao Jun..!!”


“Maka aku...”


“Jangan beromong kosong,” potong Asta tiba-tiba muncul diantara mereka mengejutkan mereka.


“Kitab Surgawi Peremuk Jiwa, Tekhnik Pembalik Samudera”


Asta menunduk memutar kaki kanannya lalu menendangnya hingga terlempar ke atas langit. Asta melompat tinggi menyusulnya untuk melanjutkan serangannya.


“Kalian benar-benar harus dimusnahkan!!”


“Kitab Surgawi Peremuk Jiwa, Tekhnik Penghancur Dunia”


Asta melakukan gerakan menendang dan mengembalikkannya ke tanah. Demon itu terjatuh dengan kecepatan yang tinggi.


Asta sadar dua serangannya tak mungkin membunuhnya semudah itu, demon ini setidaknya setengah langkah menuju tingkatan Ahli Surgawi jadi tidak mungkin semudah itu.


“Aku, Shi Ruo..!!! Senang bertemu denganmu, kawan...!!” ucapnya sambil tersenyum lebar ia terlihat senang dan bahagia.


“Siapapun namamu aku tak peduli. Tian Wei sendiri yang datang kemari pun aku takkan takut,” ucap Asta.


Shi Ruo tersenyum,“kau benar-benar berani mengucapkan kata-kata seperti itu dihadapan bawahan tuan Wei secara langsung, nyalimu cukup besar,” ujarnya lagi.


Asta melepaskan cakar taring duri dan mengeluarkan pedang iblis malam dari cincinnya. Ia mengaktifkan esensi rohnya langsung dan menyatukannya dengan pedang tersebut.


Wajah demon itu menjadi lebih serius ketika melihat pedang tersebut, sebelum Asta membungkusnya dengan apinya ia sangat mengenalnya. Akan tetapi yang membuatnya terkejut lagi adalah tato di tangannya yang terlihat samar-samar karena gelapnya malam.


“Sang pewaris roh si legenda Dewa Api ditambah dengan pedang Iblis Malam milik sang Pemburu Iblis..!! Jadi kau orang yang ia lindungi selama ini, pantas saja!! Kau adalah keturunan masternya...!! Hahahaha!!!” ujarnya kegirangan.


“Tapi orang mati tetap saja mati! Dewa itu sudah lama mati ditangan tuan Wei! Dan sekarang kau, pewarisnya juga akan mati dengan menyedihkan seperti halnya orang bodoh yang menganggap dirinya adalah dewa, hahahaha...!!!” teriaknya lagi.


Asta menundukkan kepalanya menahan emosinya, ia merapatkan giginya juga mengencangkan genggamannya.


“Asta turunkan penjagaanmu,” ucap Flares.


“Guru, ada apa?” tanya Asta.


“Guru hanya ingin bermain sebentar,” ujar Flares.


Asta pun menurunkan penjagaannya membiarkan gurunya mengambil alih kesadarannya.


Shi Ruo terdiam merasakan aura Asta yang tiba-tiba berubah dan menguat.


Flares mengayunkan pedang iblis malam saking cepatnya sampai-sampai tak bisa dilihat oleh kecepatan mata mereka semua.


“Bukan begitu caranya untuk memanggil ku, bocah,” ujar Flares.


Shi Ruo pun mati hanya dalam satu tebasan pedang tersebut tanpa bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


__ADS_2