
Asta pun mencoba berdiri setelah terjatuh menabrak punggung Zaru.
"Heii..!! Bisakah memberikan aba-aba sebelum berhenti..? Apa yang terjadi sebenarnya, kena- oh sial..!!" Asta pun langsung memprotes mereka berdua. Namun belum selesai ia berbicara, Zaru mencabut tanduknya sambil memperhatikan sebuah perkemahan. Asta buru-buru menghadangnya lebih dulu.
"Hei, hei, hei.. Apa yang ingin kau lakukan. Itu hanya perkemahan sekelompok orang. Tak perlu juga untuk bertarung kan. Lagipula mereka tak mengganggu kita," ujar Asta menghadang Zaru.
Zaru menatapnya heran, "Apa kau tak bisa melihatnya lagi dengan jelas? Kau mempunyai Roh Hewan Serigala Dewata bukan? Seharusnya kau tahu bahwa kehebatan dari Dewata Inda Surgawi milik mereka,"
"Aku tahu itu, tapi untuk apa? Aku sudah tahu bahwa perkemahan itu bukan perkemahan manusia. Tapi apa sekarang..?" Tanya Asta menanyakan alasan Dari yang hendak menyergap perkemahan tersebut.
Zaru pun terdiam memandanginya. Hingga kemudian ia pun teringat dengan cerita dari Flares mengenai Asta yang sedari awal tak tahu apa-apa, apalagi konflik antar ras. Ia lalu memandang ke arah Flares yang juga menggelengkan kepalanya pelan.
"Baiklah kalau begitu," Zaru pun memasang kembali tanduknya. Memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Sebenarnya kenapa kau bisa sangat marah sampai-sampai mengeluarkan tandukmu. Kau terlihat dendam dengan mereka. Memangnya ada apa dengan penghuni perkemahan itu..?" tanya Asta sambil melihat ke arah perkemahan yang lokasinya lumayan jauh dari tempat mereka.
"Aku lupa kalau bocah ini tak tahu apa-apa," gumam Zaru sambil menghela nafas pelan. Asta pun mengernyitkan dahinya mendengar ucapan tersebut.
"Heii...!!! Meskipun aku baru 3 tahun mulai berkultivasi tapi bukan berarti aku tidak mengetahui makhluk apa mereka. Aku tahu itu mereka adalah Goblin..!!" Ucapnya tak terima.
"Kalau begitu bukankah akan lebih masuk akal lagi kalau aku melibas mereka semua..? Kau tahu itu, mereka adalah Goblin...!!! Mereka merampok, menjagal, mencuri, merampas, merusak gadis, dan membunuh manusia setiap kali mereka memasuki desa manusia. Kalau kau tahu itu seharusnya kau tak menghadangku. Apa kau hendak berbelas kasih kepada mereka," jelasnya menceritakan sifat buruk Goblin.
Mendengar hal tersebut ia pun menjawabnya sambil tersenyum,"Ayah dan Ibuku terbunuh oleh sekelompok perampok. Tapi sayangnya aku tidak bertanya apakah perampok tersebut seorang manusia atau ras lain. Tapi setelah mendapatkan pemahaman dari guru aku mulai berpikir bahwa kemungkinan besar mereka adalah Goblin. Jadi karena ini adalah balas dendam ku sendiri, tolong jangan membantuku," ucapnya
Zaru dan Flares pun membuka mata mereka lebar-lebar mendengarnya. Terkejut bukan main yang mereka rasakan. Mereka pikir Asta hanya ingin menghentikan Zaru untuk membunuh tapi ternyata malah berkebalikan.
"Pertama-tama aku akan mencoba bertanya pada mereka. Dan kuharap mereka menjawabnya dengan baik sebelum aku meluluh lantakkan perkemahan tersebut," lanjut Asta sambil berjalan menuju ke arah perkemahan. Asta mengepalkan tangannya. Saat ini hatinya dipenuhi oleh amarah yang telah ia pendam selama 3 tahun lamanya.
Melihat perubahan raut wajahnya yang penuh dendam, sebagai gurunya Flares pun menghentikan Asta dan menceritakan kebenaran di balik cerita tersebut. Ia tidak mau kalau sampai muridnya malah menjadi seorang pendendam sedari kecil.
"Omong kosong..!! Ayah dan Ibumu masih hidup dan baik-baik saja....!!! Sekalipun ada 100 perkemahan seperti didepan Itu masih belum cukup untuk membunuh mereka berdua. Kau pikir siapa kedua orang tuamu. Jika kau berpikiran begitu itu sama saja kau menghinanya...!!!" ujar Flares.
Asta pun menghentikan langkahnya. Emosi yang sebelumnya meluap-luap seketika padam saat itu juga. Dengan cepat ia menoleh ke arah gurunya meminta penjelasan dari maksud gurunya tersebut.
"Guru...!! Guru tidak sedang bercanda kan..?!! Mayat mereka bahkan tak ditemukan bagaimana bisa guru mengetahuinya. Sedangkan Pak Helio saja mengatakan mereka mungkin terbunuh," tanya Asta.
"Dasar bodoh. Mustahil untuk menemukan mayat mereka berdua. Mereka sendiri masih hidup saat itu. Hanya saja ayah dan ibumu pergi ke Gunung Tengkorak untuk memenuhi tanggung jawabnya. Mau tak mau mereka harus meninggalkanmu. Selain itu, mereka juga sudah terikat perjanjian dengan Serigala Dewata yang kau beri nama Ace. Agar membiarkannya untuk menjaga dan membimbingmu," ujarnya menjelaskan kenyataan yang sebenarnya kepada Asta.
"Jadi maksud guru Pak Helio lah yang berbohong..?" Tanya Asta lagi.
'Booommm...!!!!!!'
Tiba-tiba terdengar suara ledakan memotong pembicaraan mereka. Ledakan tersebut berasal dari perkemahan Goblin tersebut.
"Kebetulan sekali...!!! Dari pada bertanya pada guru, kau mungkin bisa menanyainya secara langsung tentang kedua orangtuamu," ucap Flares.
"Maksud guru..??"
"Sudahlah nanti saja bertanya nya. Lebih baik kita bergegas menuju ke sana sekarang juga,"
Mereka pun langsung berlari menuju ke perkemahan Goblin tersebut. Dan ketika mereka sampai disana. Mereka melihat sebuah pertarungan yang sedang terjadi di perkemahan tersebut.
"Itu, bagaimana mungkin..??!!! Siapa paman bertopeng itu..? Hebat sekali...!! Ia bisa bertahan menghadapi puluhan kultivator di tingkat Guru," ujar Asta terkejut.
Sekilas sosok itu melihat Asta. Sebelum kemudian kembali melakukan pembantaian terhadap para Goblin tersebut.
***
Demi menebus kesalahannya. Helio pun melakukan pengembaraan untuk memburu perkemahan-perkemahan musuh. Yang masih berada di wilayah Kekaisaran Arkhan.
Selama hampir dua bulan, Helio telah menghancurkan puluhan perkemahan. Hingga hari ini, ia pun sampai di perkemahan Goblin yang berada di Hutan Tanah Lembab.
Tanpa menunggu lama Helio pun memulai aksinya. Ia berlari memasuki perkemahan sambil melancarkan tebasan energi pedang ke arah perkemahan. Yang kemudian terciptalah sebuah ledakan yang memporak-porandakan perkemahan.
Para Goblin pun segera berkumpul. Setelah mengetahui bahwa perkemahan mereka telah di serang.
Disaat ia tengah membantai lusinan Goblin. Ia merasakan adanya 3 kekuatan lain yang mengarah ke perkemahan tersebut.
"Ini-??!!! Aura Hewan Kuno..!!! Dua orang ini salah satunya bisa ku rasakan seorang kultivator tingkat Guru tapi satunya, bahkan aku sendiri tak bisa mengukur kedalaman kultivasinya. Ia lebih kuat daripada Ketua Sekte..!! Sepertinya aku harus mundur sekarang," gumam Helio didalam hati. Sambil sesekali melirik ke arah dimana ketiga sosok itu berasal.
"Tenang saja aku dipihakmu,"
Belum sempat untuk mundur. Seketika salah satu dari sosok tersebut, berbicara dengannya melalui pikiran.
'Dia menembus pertahanan lautan jiwa ku dengan begitu mudahnya..?!!! Kupikir mustahil untuk lari darinya,'
Helio pun membalasnya dengan bertanya-tanya siapakah dirinya dan untuk apa dia datang ke perkemahan tersebut.
Sosok tersebut tak lain dan tak bukan adalah Flares, ia pun langsung mengirimkan rekaman suara Asta. Yang sedang bertanya-tanya mengenai kebenaran dari kedua orang tuanya. Yang saat itu juga membuatnya terkejut.
Helio pun mengatakan akan menunggu mereka di perkemahan tersebut sambil terus menyerang para Goblin. Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai. Ia benar-benar terkejut melihat perkembangan Asta yang melebihi harapannya.
"Asta kau pergilah kesana. Bantu dia membunuh para Goblin itu. Selain untuk menguji kemampuanmu ini juga untuk menambah pengalaman bertarungmu," ujar Flares menyuruhnya untuk membantu sosok bertopeng tersebut.
"Jika Guru yang memintanya akan aku coba lakukan,"Asta pun mengangguk mengerti. Ia langsung melesat cepat memasuki pertarungan tersebut.
Para Goblin yang tengah menyerbu Helio pun berbalik saat menyadari ada orang lain yang ikut menyerang dari belakang mereka.
Melihat Asta yang ragu-ragu untuk melancarkan serangan. Flares pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Jika kau ragu-ragu lebih baik kau kembali ke rumah dan tidur. Dunia Kultivasi bukanlah tempat dimana kau bisa ragu," ujar Helio.
"Pak Helio..?!!"
Asta pun terkejut mendengar suara Helio. Ia benar-benar tak mengira bahwa ia akan bertemu dengannya lagi. Namun sayangnya, saat ini bukan lah saat yang tepat untuk berbincang-bincang santai. Kini masih ada hal yang harus mereka selesaikan lebih dulu.
"Pak...!! Setelah ini kau tidak berniat untuk menyembunyikan semuanya lagi kan. Kuharap bapak bisa menjelaskan semuanya padaku," ucap Asta.
Helio pun mengangguk. Lalu melanjutkan kembali pertarungannya.
"Baiklah. Karena anda sudah berjanji maka aku akan menunjukkan perkembanganku selama ini,"
"Transformasi Kedua, Zirah Dewata,"
"Kitab Dewa Api Kegelapan, Kobaran Api Kegelapan,"
__ADS_1
"Karena ini sebuah pertarungan pertamaku, setidaknya aku harus membuatnya bermanfaat bagi kultivasiku,"
"Tekhnik Roh, Kobaran Api Peperangan,"
"Apa..?!!"
Bukan hanya Helio saja yang terkejut melihatnya. Bahkan Flares gurunya sendiri dan Zaru pun sama terkejutnya.
"Dia merubah susunan Seni Surgawi lagi dengan Esensi Rohnya dan menciptakan Tekhnik Roh nya lagi," gumam Flares.
"Apakah sebelumnya ia memang pernah melakukannya..?" Tanya Zaru.
"Ya. Dia melakukannya dengan baik sebelumnya. Bahkan yang membuatku ingin kembali merasakan hidup adalah karena ia telah membangkitkan kembali semangatku. Pemahaman ku tentang Pondasi Kultivasi yang selama ini ku bangga-banggakan hanyalah secarik omong kosong jika dengan apa yang ada di pikirannya," jelas Flares.
"Bukankah itu akan membebani tubuhnya. Apa kau akan diam saja membiarkannya mendapatkan efek samping dari hal tersebut?" Tanya Zaru.
"Efek samping? Kau lihat tekhnik roh yang dia gunakan itu? Apa kau tak bisa menyadarinya? Tekhnik itu mengubah seluruh energi negatif yang diterima tubuhnya menjadi kekuatan selama ia dalam keadaan bertarung. Selama efek samping yang di sebabkan tidak lebih cepat dari pada kecepatan pengkultivasian tekhnik tersebut, maka ia tidak akan menderita apa-apa," jelas Flares.
Zaru pun terdiam dan lanjut memperhatikan pertarungan mereka.
Tak segan-segan Asta pun mulai serius dan bahkan langsung mengaktifkan 2 tekhnik yang memberinya peningkatan.
"Sekarang ia benar-benar bisa bertarung dengan kultivator guru 5 bintang sekalipun. Perkembangannya sungguh mengerikan. Ia bahkan tak terlihat kesulitan sama sekali dengan hal tersebut," gumam Helio melihatnya.
"Sesuatu yang bahkan tuan bisa lakukan, ia malahan bisa melakukannya dengan mudah. Tekhnik Roh yang ia ciptakan benar-benar mengerikan. Itu sempurna dan menghilangkan segala efek negatifnya. Tak bisa di percaya seorang bocah Ranah Guru menciptakan sesuatu yang luar biasa. Suatu hari nanti saat kultivasinya sudah meninggi mungkin ia akan tidak terkalahkan dengan tekhnik tersebut. Roh Sejati memang tak pernah salah dalam memilih pewarisnya," gumam Zaru.
"Asta siapa sebenarnya gurumu itu," gumam Helio di dalam hatinya.
Sebenarnya tak hanya mereka bertiga yang terkejut. Para Goblin pun sama terkejutnya melihat Asta mampu melakukan hal tersebut.
"Sungguh anak yang jenius. Namun sayangnya, kau akan mati disini," ucap seorang Goblin yang terlihat berjalan keluar dari salah satu tenda yang lebih besar dari pada yang lainnya.
"Semuanya..!!! Arahkan serangan ke bocah itu...!!!! Pria bertopeng itu aku yang akan menghadapinya," Perintah Goblin tersebut. Yang nampaknya adalah pemimpin dari perkemahan tersebut.
Goblin-goblin itu pun mengalihkan perhatiannya dari Helio dan berbalik menyerbu Asta. Helio tentu tak tinggal diam dan membiarkan hal itu terjadi.
"Mau kemana kau," ujar sang pemimpin Goblin lalu tiba-tiba melompat di hadapannya.
"Sungguh tak terduga. Kupikir, perkemahan-perkemahan kalian hanya dipimpin oleh Goblin setingkat Ranah Raja saja. Ternyata ada juga yang Ranah Suci. Tapi sayangnya saat ini aku juga berada di Ranah Suci," ucap Helio.
Pemimpin Goblin itu pun membelalakkan matanya. Mendengar ucapan Helio.
"Kau...!!!!! Jadi begitu rupanya. Aku, Gibal. Salah satu utusan dari yang mulia Wen Lei. Akan membunuhmu di tempat ini, sang Topeng Suci," ucap Gibal.
"Majulah, hanya berbicara tak akan membuatmu jadi tak terkalahkan," tantang Helio.
**
Dengan amarah yang membara dan emosi yang meluap-luap. Gibal menghantamkan palunya dengan keras ke tanah menyebabkan sebuah gempa kecil di sekitarnya.
Dibalik topeng nya, Helio tampak tersenyum. Sebelum kemudian melesat ke depan sambil mengayunkan pedangnya.
Serangan demi serangan pun saling berbenturan. Menciptakan sebuah gelombang energi disekitarnya. Pertarungan mereka tampak seimbang.
"Hehehehe. Sekarang mungkin aku juga harus ikut beraksi," gumam Asta.
Dari puluhan Goblin tersebut yang tertinggi hanya Ranah Guru, yang mana membuatnya tak takut sedikitpun. Malah sebaliknya ia tersenyum gembira. Hatinya di penuhi rasa semangat dan antusias. Tak sabar untuk menikmati pertarungan itu.
Ia pun sedikit heran dengan hal itu. Padahal sebelumnya ia merasa sedikit ragu untuk membantu. Namun setelah melihat Helio yang bertarung dengan sungguh-sungguh. Asta merasa ikut bersemangat melihatnya. Tekhnik Roh nya benar-benar mempengaruhi semangatnya.
"Serang..!!!!!!"
"Bunuh..!!!!"
"Jangan sampai lolos...!!!!"
Segerombolan Goblin itu pun mulai menyerang. Flares ataupun Zaru terlihat biasa saja melihatnya. Bahkan tak ada niatan untuk membantu sama sekali.
"Baik. Mari kita lihat. Sudah sejauh mana aku berkembang," gumam Asta.
Dengan peningkatan pertahanan dan kecepatan ditambah dengan kemampuan prediksi nya meningkat, tak cukup sulit baginya untuk menghindari setiap serangan Goblin tersebut.
Asta pun melancarkan pukulannya, seketika, Goblin yang terkena pukulannya langsung terbungkus api hitamnya. Goblin itu berteriak kesakitan saat merasakan tubuhnya terbakar secara cepat. Goblin itu pun melarikan diri mencari air.
"Kobaran api kegelapan benar-benar memberikan efek yang besar pada seranganku. Itu bisa langsung menewaskan mereka yang ranahnya dibawahku. Kalau begitu, mari kita gunakan satu lagi tekhnik peningkatan,"
"Seni Surgawi tingkat rendah, Peremuk Raga," seketika tato hitam yang menandakan aktifnya esensi rohnya mengeluarkan api yang memperkuat kepalan tangannya.
"Sial..!!! Bagaimana bisa serangan gabungan dari kita semua masih belum bisa menumbangkannya. Bocah itu sungguh berbahaya, tak bisa dibiarkan,"
"Mari kita serang secara bersama. Mustahil seorang bocah Ranah Guru bisa lolos dari itu semua,"
"Bersiap...!!! Serang...!!!"
Merasa pertarungan secara langsung tak berguna di hadapannya, para Goblin pun mundur beberapa langkah untuk melancarkan serangan secara bersama-sama.
"Ohhh, jadi sekarang kalian mengubah metode pertarungannya ya. Baiklah kalau begitu, aku akan mulai.....
"Wushhh,"
...denganmu,"
Asta pun menghilang dari pandangan dan muncul lagi di hadapan salah satu Goblin. Ia pun melancarkan pukulannya ke arah perut Goblin tersebut.
"Duaarrr....!!!!"
Asta pun tersentak dan melompat mundur ke belakang. Seketika mentalnya tertekan. Ia benar-benar masih belum sanggup untuk pemandangan yang seperti itu. Goblin tersebut langsung meledak seketika Asta mendaratkan pukulannya. Organ dalamnya berceceran di tanah. Darahnya bercipratan ke segala arah.
Pada saat itulah konsentrasinya buyar. Melihat adanya kesempatan menyerang para Goblin langsung melancarkan serangan.
Asta terhempas ke belakang mendapatkan beberapa serangan Goblin tersebut tampaknya telah berefek padanya. Meski begitu Asta terlihat masih saja melamun. Ia benar-benar tak sanggup melanjutkan pertarungan.
"Sial..!! Aku membunuh..!!! Aku membunuh..!!! Akhhh...!!!"
Melihat teriakan bocah 10 tahun tersebut para Goblin tersebut refleks langsung mengambil beberapa langkah mundur.
__ADS_1
Terlihat tato roh di tangan Asta merembet menutupi seluruh tubuhnya. Tato itu bahkan memasuki dan merubah bola matanya menjadi hitam penuh. Aura mengintimidasi yang gila menyebar kuat diikuti dengan teriakan Asta selanjutnya.
"Haha..!! Hahahahaha...!!! Hahahahaha....!!!!! Maju, maju kalian semua..!!! Aku akan membunuh kalian untuk ikut menemaninya...!!! Hahahaha...!!!!"
*****
Catatan Surgawi
Kultivasi umum terdiri dari level 1-80. Atau biasa disebut sebagai Memahami Jalan Kultivasi.
Gerbang (level 1-10),
Baru (level 11-20),
Petarung (level 21-30),
Jiwa (level 31-40),
Guru (level 41-50),
Raja (level 51-60),
Senior (level 61-70),
Suci (level 71-80).
Yang artinya, 1 level sama dengan 1 bintang.
Kultivasi Lanjutan terdiri dari level 81-200. Atau biasa di sebut Menuju Jalan Keabadian.
Sedangkan untuk 3 Ranah lanjutan yaitu ;
Tetua Suci (level 81-120),
Master Suci (level 121- 160),
Dewata Agung (level 161-200).
Yang artinya, 1 bintang setara dengan 8 level.
Kultivasi Ahli terdiri dari level 201-999. Yakni Menuntun Jalan Takdir Surgawi.
Dao Agung 201-400 level
Dao Master 401-600 level
Dao Leluhur 601-800 level
Dao Surgawi 801-999 level
Kultivasi Kaisar di level 1000. Sang Pemilik Jalan Takdir Surgawi.
Untuk tingkatan Hewan Ghaib, sama halnya dengan tingkatan kultivasi yakni ada 12 tingkat.
Tingkatan Peracik Obat, Penempa, Ahli Susunan, Peracik Racun, Budak Iblis, dan Setan Pembunuh. Dan juga Seni Surgawi, Pil Obat, Artefak, Racun, Tanda Iblis, dan Roh Iblis.
Rendah
Menengah
Tinggi
Epik
Ajaib
Legendaris
Dewa
Tingkat Penguasaan dasar
Rendah
Menengah
Tinggi
###
**Halo Semuanya, ketemu lagi denganku di akhir chapter kali ini.
Btw, aku cuman mau nanya gimana pendapat kalian mengenai bagaian 'Catatan Surgawi' di setiap chapter?
Menurut kalian apakah itu mengganggu atau mungkin membantu buat bisa tetep inget tingkatan ranah dan hal yang lainnya.
__ADS_1
Gimana? Biarin aja atau hapus aja? Atau cukup cantumin di satu chapter setiap update? Gimana**?