
Awalnya Lira cukup terkejut melihat Flares yang hampir tembus pandang, namun setelah Asta menjelaskan padanya akhirnya ia mengerti.
“Lira bukankah kehidupanmu sudah terlalu tenang? Mengapa kau ingin menjadi seorang kultivator?” Flares mengajaknya berpindah tempat supaya tidak mengganggu latihan Asta.
“Master Guru! Kehidupanku tidak lagi tenang setelah kedatangan para demon itu! Di era kekacauan ini aku percaya bukan hanya aku saja yang merasakannya, kalau bisa berjuang untuk melawan mereka kenapa tidak,” jawabnya tanpa berpikir panjang.
Flares tersenyum,“tekadmu cukup bagus tapi Tian Wei bukan lawan yang lemah, ia adalah orang yang kalau menginginkan sesuatu maka ia akan mengejarnya sampai dapat,” ucapnya.
Lira tersentak panik mendengar namanya,“Master Guru! Anda?!” ia berbalik kanan-kiri untuk melihat sekitar.
“Apa kau pikir Master Setan Pembunuh itu bisa membunuhku? Lagipula ia tak akan mampu mendengar apa yang aku ucapkan kecuali aku sendiri yang berbicara padanya,” Lira pun merasa tenang mendengarnya.
Setelahnya Flares menyuruhnya menunggu sebentar, ia tiba-tiba menghilang dan muncul kembali beberapa saat dengan beberapa buku dan satu batu jiwa di tangannya.
“Apa kau tau apa ini?” ucapnya menunjukan batu tersebut.
“Batu jiwa! Aku tahu itu,” jawabnya mengetahui.
Flares langsung memberikan batu tersebut padanya dan menyuruhnya untuk berkonsentrasi. Lira mengikuti arahan darinya memfokuskan diri pada pada batu jiwa tersebut.
Kemudian batu tersebut memunculkan hologram kecil berbentuk kepalan tangan. Flares terheran-heran sedangkan Lira seperti biasa saja melihatnya.
“Lira berikan tanganmu,” Lira pun memberikan tangannya pada Flares seketika raut wajahnya menunjukkan seperti sedang terkejut.
“Bagaimana mungkin?!” ia tersentak kaget.
“Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya,” gumamnya pelan.
Flares terdiam cukup lama sebelum berbicara,“setelah ini jangan beritahukan apapun mengenai ini selain aku, Asta, Ace dan Zaru ingat itu,”ujar Flares.
Lira terdiam bingung ia tak mengerti apa yang harus tak boleh ia beritahukan itu namun ia tetap mengangguk mengerti.
“Lira kau terlahir dengan Raga Tubuh Abadi, benda tajam dan racun bukanlah apa-apa bagimu, kalau kau ingin mengalahkan kultivator tingkat Raja sekalipun hanya dengan satu pukulan kau mampu mengalahkannya,” jelas Flares.
Lira sangat terkejut mendengarnya, memang selama ini ia tak pernah terluka dan keracunan. Ia tidak menyangka bahwa Flares dapat mengetahuinya hanya dengan menyentuh tangannya.
“Master Guru! Apa ini berbahaya bagiku?” tanya Lira.
“Justru ini adalah keistimewaanmu dari berbahaya bisa dibilang ini adalah berkah. Ditambah dengan esensi rohmu adalah Roh Sejati Dewa Penghancur, aku sangat terkejut mengetahui kau adalah gadis namun terlahir dengan sesuatu yang se-mengerikan ini,” ujar Flares.
-----
Raga Tubuh adalah tingkatan tubuh seseorang, Raga Tubuh terdiri dari 3 tingkatan.
Raga Tubuh Biasa, Raga Tubuh Abadi dan Raga Tubuh Surgawi.
Raga Tubuh Bisa adalah tingkatan tubuh kebanyakan orang yang merupakan tingkatan tubuh terendah. Seseorang perlu meningkatkan penguasaan raga mereka dan melakukan proses penyatuan mana dan qi untuk bisa meningkatkan Ras Tubuh Biasa ke Abadi.
Sedangkan untuk Raga Tubuh Surgawi didapatkan dengan panduan dari sebuah Kitab Surgawi atau mendapatkan berkah tak terduga.
-----
Lira yang terlahir dengan Raga Tubuh Abadi bisa dibilang tak perlu meningkatkan lagi penguasaan dasarnya ataupun melatih penyatuan mana dan qi, ia sudah mempunyai kemampuan bawaan untuk memadatkan energi surgawi.
Bahkan tanpa berlatih pun Lira sudah mempunyai lautan jiwanya sendiri, jadi bisa dibilang Lira adalah Kultivator Lanjutan meskipun saat ini ia belumlah memulai pelatihan sama sekali.
Flares pun segera mengajarinya untuk memahami energi surgawi dan bagaimana ia menyerapnya untuk menguatkan lautan energinya.
“Bakat sepertinya adalah sesuatu yang mengerikan dan bisa mendatangkan bencana, kalau tak benar-benar menjaganya dengan baik,” batin Flares.
Latihan tersebut berjalan sangat lancar tanpa hambatan, Lira cukup cepat dalam memahami apa yang Flares ajarkan. Disisi lain Asta baru saja menyelesaikan penempaannya.
Melihat Lira yang sedang berkonsentrasi ia memilih tak mengganggunya, dari kejauhan walikota Yun terlihat berlari ke arahnya.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, kuharap bukanlah hal buruk,”gumam Asta.
“Tenangkan dirimu dulu paman, kau bisa menjelaskannya setelah itu,” ucapnya pelan.
Walikota Yun menyetabilkan kembali nafasnya untuk melaporkan sesuatu yang tampaknya penting.
“Kita kedatangan tamu dari Sekte Alam Langit, namun sesaat mereka baru datang mereka meminta sejumlah imbalan kepada ku dengan alasan demi keamanan kota. Bisakah tuan membantuku? Disaat kami kesulitan mereka berlari begitu saja meninggalkan kami dan sekarang tiba-tiba mereka datang meminta imbalan,” jelas walikota Yun.
__ADS_1
“Sekte Alam Langit ya, kupikir aku memang harus menemui mereka,” angguk Asta setuju.
“Lira! Guru! Aku pamit pergi dulu,” mereka berdua mengangguk.
Walikota Yun dibuat keheranan karena selain Lira ia juga berpamitan pada seseorang dan memanggilnya guru, tapi siapa?
-----
Mereka pun sampai di depan kediaman walikota, di sana terlihat mereka sedang bersantai di layani beberapa gadis layaknya seorang raja.
“Apa paman tau kedudukan mereka di sekte?” tanya Asta.
“Mereka adalah para murid elit sekte, tingkatan mereka dibawah murid inti apa tuan mengenal mereka?” walikota balik bertanya.
“Sekumpulan sampah seperti mereka mana mungkin aku mengenalnya,” jawabnya pelan.
"Domain Dewa Api Kegelapan"
“Hanya sekumpulan sampah pendekar dan penyihir raja berani berbuat salah di depanku..!!! Keluar kalian...!!!” bentak Asta.
Sesaat Asta melakukan pelepasan domain mereka sudah langsung tertekan dan merasakan organ dalam mereka seperti terbakar, teriakan tersebut berdengung di telinga mereka.
Buru-buru mereka keluar dan bersujud dihadapannya sembari memohon ampun. Mereka sadar dan jelas Asta bukanlah tandingan mereka.
“Aku paling tidak suka dengan orang-orang yang menindas sesama makhluk hidup, jelaskan bagaimana kalian ingin mati,” tegasnya.
Sontak mereka berlima terkejut dan terus memohon-mohon padanya,“kami berjanji mulai sekarang kami tak akan mengulang perbuatan buruk kami,” ucap mereka.
“Bagaimana aku memastikan kalian takkan berkhianat ketika aku pergi meninggalkan kota ini nanti,”
“Kami bersumpah atas dasar kultivasi kami!” ucap mereka serentak.
Asta menarik nafas panjang memikirkannya,“baiklah. Takdir surgawi lebih bisa diandalkan, jika kalian mengingkari ucapan kalian sendiri maka kalian harus bersiap untuk petir hukuman surgawi,” ucapnya mengingatkan.
“Kami berjanji pada senior mulai sekarang kami akan membantu mereka yang membutuhkan bantuan,” mau tak mau pada akhirnya mereka pun bersumpah atas dasar kultivasi daripada harus dibunuh di tempat olehnya.
“Melihat kalian yang berada di sini sepertinya Sekte Alam Langit kelebihan kekuatan, apa dari kalian ada yang mengenal Tang Wu..?” ucapnya tiba-tiba menanyakan sosok yang pastinya mereka tahu.
“Hmm, aku hanya mengenalnya di turnamen seni bela diri namun selama ini aku belum pernah berbincang lama dengannya. Bagaimana dengan kabarnya?” lanjutnya bertanya.
Mereka berempat tersenyum canggung mendengarnya,“kami kira senior tak menonton pertandingan terakhir seni bela diri. Untuk saat ini senior masih ada di sekte dan kabarnya ia tengah berlatih bersama dengan Patriark,”
“Saat ini Sekte benar-benar dalam kondisi yang memprihatinkan, selain harus mempersiapkan diri untuk permasalahan demon kita malah menemukan seorang pengkhianat yang membocorkan rahasia pertahanan sekte sehingga kita mendapat serangan yang cukup besar bulan lalu,”
“Jika bukan karena Leluhur Tua sekte kita mungkin benar-benar akan berakhir saat itu juga,”
“Tahan ceritanya. Disini bukanlah tempat aman untuk mengatakan segala sesuatu,” ucapnya lalu meminta pada Walikota Yun untuk menyiapkan sebuah ruangan tertutup.
“Ada banyak hal yang ingin aku ketahui dari kalian berempat, sepertinya kalian tahu apa yang sedang ku cari,” ucap Asta mulai menanyakan segala hal dari mulai keadaan Kekaisaran hingga permasalahan-permasalahan yang datang beriringan dengan era kekacauan.
-----
“Tenangkan dirimu, Lira! Jangan gegabah!”
“Ya! Master Guru!”
Disisi lain Eliza Lira masih berlatih bersama dengan Flares dalam memahami tekhnik kultivasi Kitab Peremuk Jiwa, seringkali Flares terus mengingatkannya untuk tidak terburu-buru karena takutnya akan berdampak buruk pada perkembangannya.
Kecepatan perkembangan Lira benar-benar mengerikan, hanya dalam beberapa jam ia sudah menembus puluhan level dan menjadi seorang kultivator Guru hanya dalam waktu singkat. Hal inilah yang membuatnya terus mengingatkannya untuk berhati-hati dalam meningkatkan kekuatannya.
Di tengah-tengah latihannya sebilah pisau terbang dengan cepat ke arahnya, Flares menepis pisau tersebut hanya dengan tangannya.
“Sepertinya kita kedatangan orang bodoh disini,”
Sosok demon yang berdiri di atas pohon itu tercengang ketika melihat pisaunya terpental sebelum mengenainya. Ia mencoba melempar beberapa pisau sekali lagi.
“Mustahil! Bagaimana bisa ini terjadi?!” demon itu terkejut.
“Dasar orang bodoh,” ucap Flares pelan.
Flares mengarahkan tangan kanannya lalu menggenggamnya seolah-olah ia meremas sesuatu di tangannya. Demon itu menjerit kesakitan sebelum terbunuh dan hancur berantakan.
__ADS_1
Lira membuka matanya terkejut,“ada apa..?!” tanya nya sembari melihat ke arah tak jauh dari sana.
Ia tersentak karena saking terkejutnya melihat mayat tersebut,“Master Guru apa yang terjadi..?” tanya Lira lirih.
“Hanya seekor lalat yang mengganggu. Abaikan saja dan lanjut berlatih,” ujar Flares.
Lira mengangguk pelan namun aroma amis darah tersebut mengganggunya, ia mencoba menahannya dan terus berfokus pada pelatihannya.
“Sepertinya ada lebih banyak daripada yang kupikir,” gumam Flares pelan.
-----
Disisi luar Kota Permata Biru dari dalam hutan terlihat ratusan orang terlihat sedang menunggu sesuatu, mata mereka dipenuhi dengan nafsu membunuh dan haus darah. Ratusan dari mereka terdiri dari sekelompok Goblin, Werewolf, Reptilia dan Demon.
-----
Reptilia adalah manusia setengah reptil, namun bisa dibilang mereka bukanlah manusia yang terlahir dari hubungan tabu antara manusia dan hewan reptil melainkan hewan ghaib yang bermutasi dan mempunyai bentuk tubuh seperti manusia. Meski begitu mereka tak benar-benar mirip dengan manusia sama sekali.
-----
Terlihat seorang reptilia kadal yang baru saja keluar dari dalam tanah dengan raut wajah yang terlihat panik seperti ingin melaporkan sesuatu kepada pemimpin pasukan tersebut.
“Alekondra?! Mana Tounra kenapa hanya kau sendiri yang kembali..?!” tanya mereka terkejut.
Reptilia tersebut terengah-engah menyetabilkan kembali nafasnya,“Tounra...Tounra sudah.. mati..” ucapnya dengan lirih.
Semua pasang mata yang mengarah padanya terbelalak heran,“mana mungkin! Apa yang sebenarnya terjadi?!” tanya seorang demon padanya.
Reptilia yang dipanggil Alekondra itu meminta mereka untuk memberinya waktu sejenak untuk mengambil nafas.
“Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Kami berdua baru saja ingin melangkah memasuki kota dari sisi Utara, namun kita menemukan seorang gadis yang sedang berlatih di sana, kecepatannya benar-benar mengerikan, jadi Tounra memutuskan untuk membunuhnya...” Alekondra menghentikan ucapannya untuk mengambil nafas sejenak.
“Jadi Tounra menyuruhku pergi untuk memeriksa jalur masuk dari arah lain, namun dengan mata kepalaku sendiri aku melihatnya hancur berantakan bahkan jasadnya pun tak dapat lagi dikenali. Jika aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri mustahil aku yakin itu adalah jasad Tounra,” Alekondra menyelesaikan ceritanya.
Lao Yue Liang yang merupakan demon dan juga pemimpin dari pasukan tersebut terdiam mencerna cerita tersebut dengan baik-baik.
“Aaron brengsek itu sepertinya mempermainkan kita, dia bilang kota ini tanpa penjagaan sama sekali. Keparat itu benar-benar tak bisa dipercaya,” ucapnya kesal.
Sebuah bayangan hitam keluar dari salah satu bayangan seseorang dan menyerangnya, refleks Lao Yue Liang mengarahkan tinjunya pada setan pembunuh tersebut.
“Aaron brengsek!! Aku tahu kau ada disekitar sini!! Kau pikir satu setan pembunuh tingkat 6 bisa membunuhku?! Seratus sepertinya pun takkan sanggup..!!” teriaknya dengan keras meluapkan kekesalannya.
Sosok demon muda muncul dari balik bayangan seseorang dengan senyuman yang terpampang lebar memamerkan sederet gigi putihnya yang seperti kapur.
“Lao Yue Liang,, setidaknya kau bersihkan gigimu yang hitam itu sebelum menyebutkan namaku,” ucapnya pelan.
Lao Yue membuka matanya lebar,“omong kosong! Gigiku memang sudah hitam sedari lahir!! Keparat!” umpatnya kesal.
Aaron tertawa pelan melihatnya emosi,“jangan terlalu banyak marah-marah atau kau akan cepat tua, lihat tampangmu yang seperti pria lanjut usia itu,” cibir Aaron sambil tertawa.
“Cukup omong kosongnya! Wajahku memang sudah seperti ini sedari lahir!” teriaknya kesal.
Aaron masih saja tertawa mengejeknya,“apa kau tak iri dengan ketampanan ku ini?” ucapnya sekali lagi.
“Cukup! Jelaskan padaku maksud dari spesial informasi yang kau bicarakan padaku! Kau bilang kota ini tanpa penjagaan dan sekelompok kecil pasukan demon yang kau perintahkan sudah menguasainya lalu apa dengan kematian bawahanku sekarang! Apa kau ingin mengatakan kau salah memberikan informasi padaku..?!” teriaknya menginterogasi.
Aaron seketika terdiam lalu mendengus kesal,“dasar bodoh! Bukankah aku sudah memberitahumu untuk menunggu sampai aku bertemu kalian! Apa yang kau lakukan?!” Aaron bertanya balik.
“Kau yang bilang padaku kita bisa menguasainya dengan mudah jadi aku hanya menyuruh bawahanku untuk melihat dan memeriksanya,” ujar Lao Yue Liang.
Aaron menepuk jidatnya pelan,“dasar bodoh. Pasukanku memang menduduki kota itu beberapa hari yang lalu tapi itu hanya beberapa jam sebelum seseorang datang mengacaukan rencanaku,” ucapnya pelan.
“Aku baru melihatnya kali ini dan dia juga tampak tidak asing di mataku, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingat dimana aku bertemu dengannya. Dia mengenakan topeng juga bertarung dengan tekhnik pedang yang tidak ku kenali, akan tetapi sosok yang berada disampingnya lah yang lebih berbahaya daripada dirinya,” lanjut Aaron menceritakan.
“Apa tingkatannya? Apa dia seorang gadis?” tanya Lao Yue Liang.
Aaron menatapnya heran,“gadis? Mengapa kau berpikir bahwa ia gadis. Meskipun dia menggunakan topeng tapi aku bisa tahu bahwa ia seorang laki-laki, ada apa dengan otakmu. Masalah tingkatannya juga dia merupakan seorang Master Suci Puncak, hanya beberapa level untuknya naik ke ranah Dewata,” jelas Aaron.
“Master Suci?! Tapi bawahanku mengatakan bahwa ia melihat seorang gadis dengan kecepatan kultivasi yang mencengangkan, kau tidak membohongiku lagi bukan, Aaron?!” tanya Lao Yue Liang.
Aaron terdiam menatapnya kesal,“pasukan yang ku perintahkan adalah Yae Jun dan Qiu Hun, namun apa kau tahu yang terjadi selanjutnya? Mereka mati dipegang yang dipegangnya. Ia seorang diri membunuh mereka semua,” jelas Aaron.
__ADS_1
Lao Yue Liang terdiam,“kupikir hanya Putri Rosalina saja yang bisa melakukannya,” ucapnya lirih.