
Sepulang dari sana, Asta langsung mengambil busur dan pergi berburu ke hutan untuk melampiaskan rasa kesalnya.
“Brengsek!! Apa-apaan dengan ucapannya itu!” Asta menggerutu kesal sepanjang jalan.
“Benar apa yang dikatakannya. Mungkin sebaiknya kau tetap berlatih di sini dan segera menikahinya,” goda gurunya sambil memasang wajah berpura-pura sedih.
“Cukup, Guru! Apa-apaan itu. Aku masih kecil!” bantah Asta, yang kemudian membuat gurunya tertawa terbahak-bahak.
Sesampainya di hutan, mereka tidak menemukan kehadiran hewan apapun, seperti yang sudah diharapkan. Kehadiran Ace membuat semua hewan langsung pergi ketakutan hanya dari jarak ratusan meter.
Asta pun duduk di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, “Kemana rusa-rusa itu sebenarnya? Rasanya hutan sangat sepi hari ini…” gumam Asta pelan.
Flares membuka matanya lebar mendengar itu, “Hah?! Rusa…?” tanya dia heran, yang kemudian dijawab dengan anggukan pelan.
“Mustahil ada seekor rusa yang bisa kau lihat. Dalam radius beberapa ratus meter saja, mereka akan lari segera merasakan kehadirannya. Kupikir kau ingin berlatih,” ujar Flares sambil menunjuk ke wajah Ace yang pura-pura tidak tahu.
Tanpa menyadarinya, Asta terkejut dan bingung, “Kenapa dengan Ace?” tanya Asta dengan polos, yang seketika membuat Flares geram hingga menepuk jidatnya sendiri.
Ace dengan cepat menyembunyikan hawa keberadaannya, “Sepertinya aku mencium bau hewan rusa di sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah depan.
Asta bangkit dari tempat duduknya, “Baiklah, mari kita pergi ke sana sekarang,” ucapnya sambil tersenyum. Flares hanya menghela nafas pelan.
“Aihh...?! Kupikir siapa…” terdengar suara seorang gadis yang sangat dikenal oleh Asta.
Semua ini dimulai dua tahun yang lalu, ketika Asta sedang berburu seekor rusa. Pada hari itu, Asta secara tidak sengaja melihat Asila Moegi yang sedang mandi di sungai. Padahal kenyataannya, saat itu yang sedang mengintip bukanlah dirinya.
Sejak kejadian itu, setiap pertemuan Asta dengan Moegi berubah. Pertemuan mereka selalu berakhir dengan pukulan dari kepalan tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Asta pun berlari, "Ace...! Aku mengandalkanmu untuk menangkapnya...!" Maksudnya adalah ia menyerahkan tugas berburu itu padanya.
Asta berlari ke arah yang berbeda dengan harapan Asila Moegi tidak dapat mengejarnya, "Cepat...! Musuh datang...! Cepat! Cepat! Cepat! Go! Go! Go...!!!" teriak Flares sambil tertawa.
Melihat Asta akan berlari, refleks Asila Moegi mengambil batang pohon dan melemparnya ke arah kakinya. Akibatnya, Asta terjatuh dan bibirnya mencium tanah.
"Rupanya hari ini benar-benar hari kesialanku!" batinnya menggerutu.
Moegi menyusul dan melemparnya ke arah pohon di sebelahnya. Gemuruh tersebut membuat sekelompok burung terbang berhamburan.
"Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku lagi? Bukankah dulu kau berjanji takkan pernah meninggalkanku sekalipun?" seringai Asila Moegi dengan nada bicara manja.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," ucap Asta mencoba bangkit kembali.
"Tidak perlu mengelak, aku sudah mendengar semuanya dari Kenshin," ucapnya sambil mendekat.
Melihatnya mengepalkan tangan, Asta buru-buru mengambil langkah untuk melarikan diri.
"Mati! Mati! Mati!" jerit Asta dalam hatinya.
"Cihh!! Berani-beraninya hanya melarikan diri! Hmph!" Melihat Asta melarikan diri, tentu saja Moegi tidak akan membiarkannya begitu saja. Dalam satu hentakan kakinya, ia tiba di samping Asta dan memberikan pukulan yang mengarah ke perutnya.
"Kau pikir bisa lari dariku, hah?!"
"Apa...?! Ukhh-!!"
Pukulan tersebut menghempaskan Asta hingga menabrak salah satu pohon besar di sekitarnya. Asta tergeletak lemas, menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Jangan berharap ada yang datang menyelamatkanmu kali ini, brengsek!" Tidak cukup hanya dengan memukulnya, Asila Moegi melancarkan tendangan ke arah perut Asta sekali lagi.
Terkejut dan panik, Asta berguling ke samping untuk menghindari tendangan tersebut, berusaha menghindari luka yang sama.
"Duagh...!!!"
Meskipun Asta khawatir dengan keadaan kakinya, saat ini bukan saat yang tepat untuk khawatir tentang cedera seseorang yang jelas ingin membunuhnya.
Baru saja menemukan tempat lain untuk bertengger, burung-burung tersebut kembali harus mencari tempat lain lagi.
"Sepertinya aku terlalu memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu kupikirkan sama sekali," Asta menelan ludah sendiri melihat pemandangan di sekitarnya.
"Tenaga fisiknya benar-benar mengerikan dan membuat bulu kuduk merinding. Tapi sepertinya dia cocok untuk menjadi pasangan sehidup semati," ucap Flares tanpa berpikir terlalu banyak.
Jika dibilang berlebihan, memang begitu adanya. Menumbangkan pohon sebesar itu hanya dengan satu tendangan keras sungguh sulit dipercaya, terutama untuk seorang anak berusia 10 tahun.
Meskipun kali ini Asta berhasil menghindar, bukan berarti dia selamat. Justru karena menghindari tendangan itu, rasa nyeri di seluruh tubuhnya semakin terasa. Bahkan, semakin memburuk.
"Ayolah, Moe, pada hari itu aku benar-benar tidak sengaja. Apa kau benar-benar tidak mempercayaiku sedikit pun?" ucap Asta memohon belas kasihan.
"Oke," jawabnya singkat sambil tersenyum manis.
"Semudah ini? Tidak mungkin! Pasti ada hal lain yang dia inginkan dariku. Mustahil dia akan melepaskanku setelah memojokkanku seperti ini," batin Asta berpikir.
"Baiklah, aku akan mencoba melupakan semua yang telah terjadi jika kau menuruti keinginanku terlebih dahulu,"
Moegi berkata.
Asta tahu bahwa tidak mungkin Asila Moegi akan memaafkannya, meski Asta tidak bersalah.
Asta ragu untuk menjawab, namun melihat tatapan matanya, ia pasrah dan siap untuk memenuhi apa pun yang diminta Moegi.
__ADS_1
"Selama itu masih masuk akal dan dalam kemampuanku," jawabnya.
"Oh, kalau begitu aku tidak akan ragu untuk mengatakannya kepadamu. Bawa aku pergi meninggalkan tempat ini bersamamu..." ucap Moegi dengan tegas.
"Apa?! Uhukk-! Uhukk-! Apa yang kau katakan...?" Asta terkejut hingga sampai tersedak dengan ludahnya sendiri mendengar permintaannya.
"Hah...? Bukankah kau sendiri yang bilang akan menuruti keinginanku selama masih masuk akal dan dapat dilakukan? Jangan bilang kau ingin mengingkari apa yang sudah kau ucapkan..." tatapan matanya kembali berubah tajam.
Asta hanya menepuk dahinya pelan mendengar itu, "Bukan begitu maksudku. Memang mudah membawamu keluar, tetapi menjamin keselamatanmu selama bersamaku di luar kemampuanku," jelas Asta mencoba menjelaskan.
"Oh, begitu. Jika begitu, cukup bawa aku keluar dari sini, setelah itu aku akan berjalan sendiri. Jadi, kau tak perlu khawatir tentang keselamatanku," Moegi mendengar itu, dan jelas bahwa Asta tidak bisa membawanya pergi.
"Tidak. Bisa-bisa aku... Ukh-!! Moe-!! Kau sungguh kejam padaku..." menyadari bahwa Asta tidak akan menyetujuinya, Asila Moegi melancarkan pukulan ke perutnya.
"Sudah kukatakan, hakmu sekarang hanya menuruti semua yang aku inginkan," Moegi menegaskan.
"Tidak! Tidak! Tidak! Setelah berpikir lagi, mungkin lebih baik kau tidak melupakan hal itu dan tetap mengejarku daripada aku yang diburu oleh ayahmu. Lagipula... Akhh-!! Bisakah kau berhenti memukul perutku..?! Aku bahkan belum selesai bicara!" Asta mulai kesal, tetapi lagi-lagi Moegi melancarkan pukulan ke perutnya.
"Ini kesempatan terakhir atau pukulan penuh?" Moegi berkata sambil menyipitkan matanya.
"Baiklah, aku akan membawamu pergi. Apakah kau puas sekarang?" Asta setuju, tetapi dalam hatinya tidak ada niatan untuk benar-benar membawanya pergi.
Asila Moegi berteriak kegirangan sambil melompat-lompat. Keinginannya untuk pergi dari tempat itu akhirnya akan segera terwujud, meskipun masih belum yakin apakah Asta benar-benar akan menuruti keinginannya.
Asta terdiam, menghela nafas panjang, membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan jika Asila Moegi ikut dalam petualangannya.
"Jadi, kapan kita akan pergi?" tanya Moegi tidak sabar.
"Itu tergantung pada kemajuan kultivasiku. Jika aku berhasil menembus Ranah Ahli minggu ini, maka aku akan pergi. Namun, bisa saja memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sampai aku bisa mencapainya," jelas Asta, membuat Moegi terlihat kesal.
"Ukh! Semakin cepat, semakin baik! Aku akan berusaha semaksimal mungkin!" tinju mengenai perutnya sekali lagi.
Moegi terlihat senang mendengarnya, "Baiklah. Aku akan pulang dulu. Tetap semangat dalam berlatih agar bisa segera mengejar ranahku," ucapnya lalu pergi.
"Oh ya, jangan terlalu banyak memikirkan aku! Lebih fokus pada latihanmu!" Teriak Moegi dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.
Setelah Moegi tidak terlihat lagi, Asta merebahkan tubuhnya yang masih terasa nyeri di tanah.
"Huh... Dia benar-benar ingin membuatku menurutinya dengan segala cara, bahkan jika itu berarti membunuhku. Namun, dari mana dia tahu...?" gumamnya pelan, bingung dan mempertanyakan hal tersebut.
"Bukankah dia sudah mengatakannya sendiri? Calon istrimu mengaku bahwa dia mendengarnya dari Kenshin," ujar Flares, memberitahunya sambil menggoda.
Asta memasang wajah kesal mendengar itu sambil mengingat kembali apa yang telah dia katakan.
---
Setelah sekitar satu jam berlalu, kondisinya pulih seperti semula. Rasa sakitnya hilang dan tubuhnya pulih sepenuhnya. Tidak lama kemudian, Ace datang dengan menarik bangkai rusa.
Beberapa saat setelah Asta berhasil membuat api dan sedang menguliti bangkai rusa, terdengar suara langkah kaki dari balik pohon yang tumbang di belakangnya.
"Siapa yang membuat pohon sebesar ini tumbang begitu saja? Apakah ada badai topan sebelumnya? Tapi melihat keadaan sekitar, sepertinya bukan itu," gumam sosok tersebut, berbicara sendiri.
Asta terus memandang ke arah suara itu, dan kemudian Shiro Nekoshi muncul dari balik dedaunan pohon tersebut. Kedua alisnya terangkat heran saat melihat Asta yang juga berada di sana.
"Sepertinya ada yang melakukan panen besar," ujar Shiro sambil tersenyum ke arahnya. Asta memanggilnya untuk bergabung dan membantunya menguliti rusa tersebut.
Shiro Nekoshi pasti tidak akan menolak tawaran Asta. Lagi pula, ia juga lelah berkeliling tanpa menemukan satupun hewan buruan.
"Hei, Asta. Aku bertanya-tanya apakah kau yang melakukannya?" tanya Shiro sambil menunjuk ke arah pohon yang tumbang.
Asta menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak sekuat itu. Itu adalah ulah Asila Moegi. Aku hampir mati di sini satu jam yang lalu. Apa kau sendirian?"
"Shiro...!!! Brengsek kau..!! Di mana kau..?!!" teriakan keras memotong ucapannya.
"Seperti yang sudah kau dengar. Awalnya aku bersamanya, jadi abaikan saja dia," ujar Shiro Nekoshi.
Mereka mulai memanggang daging rusa tersebut, hingga kemudian teriakan Zaraki Onoki yang semula memanggil namanya berubah menjadi umpatan-umpatan yang diarahkan pada Shiro.
"Tidak bisakah kau menjawab sekali saja...!!! Dasar brengsek....!! Shiro...!!! Di mana kau, sialan...!!!"
Kemudian, Zaraki Onoki sampai di tempat yang melihat pohon besar tumbang di hadapannya. Ia sedikit terkejut, namun pandangannya tertuju pada asap yang keluar dari balik pohon tersebut.
"Jadi, kau bersembunyi di sini dan menikmatinya sendirian, dasar brengsek!" Zaraki melompati pohon tersebut dan terlihat dua sosok manusia bersama dengan satu ekor serigala yang sedang makan siang.
Asta mengajak Zaraki untuk bergabung, sementara Shiro memandangnya dengan tajam. Tentu saja, Zaraki langsung menerimanya.
"Dasar tak tahu malu," ucap Shiro Nekoshi sambil menyindir.
"Bicara apa kau, hah?!" balas Zaraki kesal. Tidak berhenti di situ, Zaraki Onoki masih terus mengumpat tentang kelakuan Shiro Nekoshi yang mengabaikannya.
"Diam lah! Dasar cerewet! Lama-lama kau seperti seorang gadis," timpalnya, mulai kesal.
Melihat pertengkaran di antara mereka berdua, Asta Raiken tidak berniat untuk melerainya sama sekali. Pertengkaran seperti ini bukanlah hal asing bagi mereka.
"Apa kau bilang?! Dasar sok misterius! Bilang saja kau ini autis!" balas Zaraki tidak terima.
“Asta, apa telingamu baik-baik saja? Jujur, telingaku berdenging sakit seketika saat banci ini ada di sini," ujar Shiro, Asta Raiken tertawa mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil banci, dasar keparat..!!" bentak Zaraki dengan nada bicara yang semakin meninggi.
"Pergilah! Bukankah biasanya banci sepertimu mengemis di pinggir jalan? Kenapa kau malah berteriak-teriak tidak jelas di tengah hutan," ujar Shiro dengan blak-blakan, mengejeknya.
Asta tak lagi mampu menahan tawa melihat pertengkaran mereka berdua.
"Asta, berikan tali milikmu. Kita harus mengikat dan menyumpal mulutnya sekarang juga," pinta Shiro Nekoshi setelah selesai makan.
"Brengsek..!! Apa yang kau katakan tadi, hah...?!" ucap Zaraki tak terima.
Shiro Nekoshi menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk tidak mempedulikannya lagi, dan memilih bertanya tentang niat Asta Raiken untuk meninggalkan desa.
"Asta, apakah berita yang Kenshin Utake sampaikan itu benar? Dan untuk apa? Aku penasaran," tanya Shiro Nekoshi.
"Ehh, jadi kau sudah tahu hal itu?" ucapnya sedikit terkejut.
"Kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama. Mana mungkin dia akan menyembunyikannya sendirian, dan juga kenapa kau hanya berbicara dengan Kenshin saja tentang ini. Apa kita bukan lagi saudara?" ujar Shiro.
"Tidak, bukan begitu. Kalian sampai kapan pun adalah saudaraku. Sebenarnya, alasan mengapa aku menyembunyikan hal ini adalah karena dari awal aku belum menentukan kapan akan pergi. Selain itu, untuk merahasiakannya dari Asila Moegi, tapi sekarang semuanya berantakan," Asta Raiken menjelaskan alasan dari semua ini.
Shiro Nekoshi melakukan gerakan memukul palu di tangannya, "Ohh, jadi begitu. Tapi tunggu sebentar, kenapa jika sampai Asila Moegi tahu?"
"Jangan lupakan hari ketika ia marah karena tidak diizinkan ayahnya untuk pergi keluar bersama Senior Taki Garaki," timpal Zaraki Onoki yang masih belum selesai makan.
"Asta, jika kau benar-benar serius ingin pergi meninggalkan desa ini, kau harus bersembunyi dan menghindarinya sebisa mungkin. Sekali saja kau bertemu dengannya, aku yakin dia akan berusaha membunuhmu hanya untuk membujukmu agar menurutinya. Kami semua tahu apa yang terjadi ketika ia bertemu denganmu," lanjutnya sambil memberikan peringatan.
Mendengarkan peringatan itu, Asta Raiken menghembuskan nafasnya pelan, "Percuma saja. Sebelumnya, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di sini, dan pada akhirnya aku hampir mati tanpa ada yang tahu karena tidak menuruti kemauannya." Mendengarkan itu, Zaraki Onoki tersedak makanannya sendiri.
"Apa kalian melihat pohon yang hampir roboh itu? Asila Moegi melemparkanku dengan keras ke sana setelah menjatuhkanku menggunakan batang pohon yang dilemparnya ke kakiku. Aku bangkit kembali dan berlari ke sini, namun dia mengejarku dengan kecepatan yang cukup tinggi, bahkan memberiku pukulan kuat di perut. Setelah aku terhempas menabrak pohon itu, Moegi bahkan mencoba menendang perutku, tapi aku berhasil menghindar dengan cepat," jelas Asta Raiken secara rinci.
Mereka berdua hanya tersenyum canggung mendengar cerita itu.
"Meskipun begitu, aku sebenarnya tidak akan mengajaknya pergi. Ada banyak bahaya yang tidak aku ketahui di luar sana, dan aku tidak bisa menjamin keselamatannya," lanjutnya lagi.
Mereka berdua setuju dengan keputusannya dan berjanji untuk membantunya mengalihkan perhatian Asila Moegi darinya.
"Asta, terima kasih atas segalanya. Sekarang kami harus berlatih lebih keras sebelum kamu benar-benar meninggalkan kami lebih jauh lagi," kata Shiro Nekoshi dan Zaraki Onoki sambil mengucapkan terima kasih sebelum mereka berdua pamit pergi.
Setelah mereka pergi, suasana menjadi tenang dan sunyi. Asta Raiken tidak lupa mengumpulkan sisa daging rusa yang telah ia potong-potong dan memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan yang diberikan oleh ayahnya.
Meskipun hanya cincin penyimpanan tingkat 3, namun ruang di dalamnya cukup luas dengan tiga kotak yang dapat menampung banyak barang. Setiap kotak memiliki volume sebesar 10 meter kubik.
---
Di bawah pohon persik, terlihat seorang gadis dan seorang laki-laki sedang dalam percakapan. Mereka adalah Kesha Timber dan Kenshin Utake.
"Semua ini terjadi karena kamu memberitahunya. Ada banyak bahaya di luar sana, bagaimana jika ia memaksa Asta untuk menurutinya. Kamu harus mencegahnya, bagaimanapun caranya," ujar Kesha Timber khawatir.
Kenshin Utake menghela nafas pelan, bingung tentang cara yang tepat untuk merespons kecemasan Kesha Timber. Ia menyadari bahwa ini adalah kesalahan dirinya sendiri karena mengatakan sesuatu tanpa mempertimbangkan situasi. Wajahnya tampak khawatir.
"Kesha, jangan lupakan ujian itu. Kita berlima akan pergi ke luar dalam waktu dekat untuk menjalankan ujian pertama kita. Ini adalah sesuatu yang Moegi tunggu-tunggu, dan aku belum memberitahunya. Seharusnya Moegi tidak akan masalah dengan itu. Mari kita percayakan Shiro dan Zaraki untuk mengawasinya sekarang," ujar Kenshin mencoba menenangkannya.
Kesha Timber menganggukkan kepala pelan, mencoba bersikap biasa saja. Dari kejauhan, terlihat tiga orang mendekat, satu gadis dan dua laki-laki. Mereka adalah Shiro Nekoshi, Zaraki Onoki, dan Asila Moegi.
"Kau mencintaiku, kan? Makanya kau mati-matian menahanku di sini," ujar Asila Moegi.
"Apa yang kau katakan? Asta Raiken sangat bodoh karena pernah menyukai seorang gadis singa sepertimu," balas Zaraki Onoki.
"Apa yang kau bilang?!" Asila Moegi tentu tak terima dengan panggilan itu.
"Wa-ni-ta-si-nga," ucap Zaraki, mengucapkan setiap suku kata dengan jelas.
"Boleh kalian berhenti bertengkar? Ada hal serius yang ingin kusampaikan sekarang," ujar Kenshin mencoba meredakan pertengkaran mereka.
Asila Moegi mengabaikannya dan bahkan menjulurkan lidahnya, mengejek Zaraki Onoki. Sebelum Zaraki bisa membalasnya, Kenshin memukul kepala Moegi.
"Bisakah kau bersikap serius? Berhentilah bertingkah seperti anak-anak. Kali ini saja," tegur Kenshin.
"Aku masih anak-anak, usiaku baru 10 tahun. Apa kau lupa?" balas Moegi dengan nada bercanda.
Kenshin menggelengkan kepala, memilih untuk mengabaikannya. "Kali ini aku ingin memberitahukan bahwa..."
"Urusan menjaga Asta Raiken adalah tugasku. Tidak perlu menunjuk-nunjuk orang lain untuk melakukannya. Aku siap melakukannya kapan saja," potong Asila Moegi ucapannya.
"Ini bukan tentangnya, tapi tentang ujian pertama kita!" seru ketiga anak laki-laki tersebut bersamaan. Mendengar itu, Asila Moegi tersenyum canggung.
"Jadi, ujian pertama kita adalah..."
"Boom...!!!" suara dentuman keras memotong ucapannya.
"Sepertinya kita tidak bisa membicarakannya sekarang, Kenshin," ujar Kesha Timber.
"Kita harus bergegas ke sana untuk memeriksa. Mari kita tunda pembahasan ini," ujar Shiro Nekoshi setuju.
"Hei, tunggu! Bisakah kamu memberitahukan lebih dulu mengenai ujian pertama kita?" tanya Asila Moegi.
"Coba lakukan lagi saat ada orang yang sedang berbicara," ujar Kesha Timber, menyindir Asila Moegi yang selalu memotong ucapan orang lain.
__ADS_1
Dentuman keras yang berasal dari arah hutan, menarik semua perhatian orang-orang yang berada di Desa Kuil untuk memeriksanya. Beberapa orang bahkan berspekulasi bahwa ada seseorang yang tengah menerobos masuk ke Sekte Kobaran Api Sejati melalui Hutan Surgawi.
Semua orang berhamburan keluar menuju ke arah hutan untuk memeriksa kebenaran yang sedang terjadi. Salah seorang tetua sekte, bahkan ikut serta untuk melakukan pemeriksaan terkait bunyi ledakan tersebut.