
Asta melompat menaiki arena menyapa lawannya Guangzhou Juan dari Keluarga Juan. Sambil menguap ia melambaikan tangan kearahnya.
"Salam kenal, saudara Guang,"
"Heemm, salam kenal juga saudara Asta. Aku harap kau tak menahan diri saat melawanku,"
Tanpa basa-basi lebih lama pertarungan pun dimulai, Asta mengeluarkan pedang Langit Kelam dan memulai serangan pertama.
Tak gentar Guang menepis serangan tersebut dengan tangannya sendiri, meskipun demikian Guang cepat-cepat menjauhkannya sebelum aura pedang tersebut mempengaruhinya.
'Aura Haus Darah! Sudah berapa banyak nyawa yang terbunuh dengan pedang tersebut sehingga mempunyai kemampuan mempengaruhi seperti ini!'
Guangzhou buru-buru membersihkan pikirannya dan kembali menghadapi serangan-serangan tajam yang Asta berikan.
'Mustahil aku bisa bertarung dengan baik jika kekuatan senjatanya saja semengerikan seperti ini?!'
Guang mencoba memikirkan cara untuk mengantisipasi aura tersebut memasuki pikirannya sembari taktik untuk bisa bertarung melawannya.
Guang melancarkan beberapa serangan tapak yang luar biasa kuat melihat lawannya yang ternyata merupakan ahli bela diri tangan kosong Asta pun menjadi tertarik untuk beradu pemahaman tentang seni bela diri tangan kosong dengannya, Asta pun menyimpan pedang dan cakarnya menyambut serangan tapak Guang dengan tangannya secara langsung.
Melihat Asta yang menyimpan senjatanya Guan mengernyitkan dahinya heran, apakah dia meremehkanku pikirnya.
Namun sesaat Asta memperlihatkan kemampuan bela diri tangan kosongnya Guang pun terkejut. Tak disangka justru kemampuan bela diri tangan kosong Asta lebih tinggi daripada kemampuan berpedangnya.
"Saudara Asta ternyata kau berniat untuk menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya, ya..." Ujar Guang bersemangat beradu pemahaman dengannya.
"Sebelumnya aku hanya ingin menggunakan Pedang untuk bertarung bukan bermaksud untuk menyembunyikan kekuatan, hanya saja aku ingin mencoba pemahamanku terhadap tekhnik pedang saja..."
Tekhnik pukulan Asta bertemu dengan tapak Guangzhou, suasana arena pertarungan yang sebelumnya terasa mencekam menjadi lebih cerah, seperti saat memperhatikan dua orang yang sedang menentukan pemahaman siapa paling tinggi diantara mereka.
"Pemahamannya terhadap bela diri tangan kosong juga sangat baik, kupikir anak itu hanya bisa mengayunkan pedang itu,"
"Pemahamannya terhadap seni beladiri tangan kosongnya bahkan lebih tinggi dari tekhnik pedangnya, asosiasi sungguh membesarkan bibit jenius bela diri,"
Pertarungan semakin menarik disaksikan, keduanya sama-sama tak ada yang mau mengalah. Tak ada jurus mematikan ataupun serangan berbahaya bagi satu sama lainnya.
Pembawa acara berteriak dengan antusias menyiarkan pertandingan tersebut, sebuah ajang bergengsi seperti Turnamen Seni Bela Diri yang hampir kehilangan tujuan aslinya sebagai ajang adu pemahaman bela diri kini menjadi sangat meriah dengan hadirnya pertarungan Asta dan Guangzhou yang menghidupkan kembali tujuan asli dibentuknya turnamen tersebut.
Bangku penonton menjadi riuh dengan sorakan dukungan mereka terhadap sosok dua jenius tersebut.
Pukulan Penghancur Gunung Asta di tepis dengan mudah oleh Tapak Suci Buddha Guangzhou sehingga akan sulit untuk menentukan siapa yang lebih tinggi pemahamannya.
Tapak Suci Buddha Guangzhou sangat ringan dan cepat tetapi mengandung kekuatan yang besar, disisi lain Pukulan Penghancur Gunung Asta memiliki serangan berat serta efek penghancur yang juga sama kuatnya.
Setelah beradu jurus dalam waktu yang lama mereka berdua pun terhempas ke pinggiran arena.
"Mari kita akhiri dengan satu jurus, saudara Asta,"
"Baiklah sesuai dengan keinginan saudara Guangzhou,"
Asta menyiapkan seni Peremuk Raga membuat tangannya sedikit menyala kebiruan, disisi lain Guangzhou juga bersiap dengan Tapak Keemasan membuat tangannya memancarkan sedikit cahaya keemasan. Secara bersamaan mereka pun maju menyerang untuk melancarkan serangan terakhir sebagai penentuan akhir pertandingan.
"Seni Surgawi Menengah, Pukulan Penghancur Gunung,"
"Seni Surgawi Tinggi, Tapak Emas Buddha,"
Kedua serangan tapak dan pukulan itu pun bertemu mengakibatkan gelombang kejut di sekitar arena, lantai arena terlihat mulai retak dan hancur karena kejutan tersebut.
__ADS_1
Sesaat kemudian terlihat ada salah seorang yang terhempas ke luar arena, mata para penonton pun penasaran untuk melihat siapa yang terhempas tersebut.
Beberapa saat kemudian debu pun menghilang, sambil menghela nafas pelan Guangzhou memuji kehebatan Asta dari luar Arena.
"Pemahaman saudara Asta lebih tinggi daripadaku, selamat saudara Asta lolos ke fase berikutnya," ujarnya sambil tersenyum.
"Saudara Guangzhou seperti terlalu memandang tinggi kemampuanku, aku hanya cukup beruntung bisa menang dari tapak suci milik saudara Guang," balasnya sambil tersenyum.
Para penonton pun bersorak untuk kemenangan Asta ke fase berikutnya.
Para penjaga arena menunda pertarungan selama beberapa saat untuk memperbaiki arena sebentar lalu kemudian di lanjutkan kembali pertarungan fase ketiga tersebut.
Setelah mengumumkan Pertarungan terakhir yakni Yan Fushu dari Sekte Danau Biru melawan Lin Fan dari Sekte Tanah Neraka Keabadian, Tang San dari Sekte Pulau Dewa terlihat frustasi karena lagi-lagi dirinya lah yang berhasil lolos tanpa bertarung.
"Sial, sial, sial...!!!! Apa-apaan ini kenapa malah aku yang mendapat keberuntungan ini, aku sungguh ingin bertarung...!!!" Teriak Tang San frustasi, Liang Wen tertawa pelan melihatnya.
Yan dan Yin adalah elf kembar, mereka adalah kakak beradik yang memiliki kemampuan dan tekhnik serupa ketika bertarung begitu pula dengan esensi roh mereka.
Yan Fushu dan Lin Fan pun mulai bertarung, dengan tekhnik pemenggal kepala Yan Fushu maju menyerang lebih dulu mengambil kesempatan.
Tekhnik pedang berat kakak beradik Fushu itu adalah kelemahan dari Lin Fan yang merupakan tekhnik pedang tipis, sekali mengenainya maka ia akan kalah sekalipun ia menang kecepatan namun hanya menghitung waktu untuk kekalahannya.
Meski sadar Yan Fushu adalah kelemahannya namun Lin Fan tetap mencoba untuk memberikan sedikit perlawanan terhadapnya.
Kecepatan Lin Fan berada diatas kecepatannya sehingga Yan hanya bisa bersabar mencari celah untuk memberikan satu serangan telak padanya.
Lin Fan bergerak ke setiap sisi Yan memberikan serangan tebasan cepatnya, namun Yan buru-buru memutarkan pedangnya untuk menepis serangan tersebut.
Meski serangan pertama berhasil di hindari namun Lin tak cukup berhenti disana dan pergi melancarkan serangan selanjutnya. Kewalahan dengan serangan cepat Lin ia memutuskan untuk merubah senjatanya menjadi busur demi memberikan perlawanan padanya.
Yan mengarahkan busurnya ke atas langit menciptakan hujan panah demi menghentikan pergerakan Lin, akan tetapi pergerakan pedang Lin yang cukup cepat membuatnya bisa terhindar dengan mudah dari serangan tersebut.
Ia tak tinggal melihat Yan yang terus-menerus melemparkan panahnya ke atas langit dan membuat hujan panah, Lin pun maju memberikan serangan tebasan telak dengan niat untuk mengakhiri pertarungan tersebut.
Melihat Lin yang mendekat kearahnya Yan tersenyum tipis seketika Lin melancarkan pedangnya busur Yan Fushu berubah menjadi sebuah pedang berat kembali, ia pun membalas tebasan tersebut dengan pedang tersebut.
Alangkah terkejutnya Lin Fan akan tetapi ia sudah terlambat untuk menghindar dan hanya bisa menerima kekalahannya. Lin Fan pun terhempas keluar arena.
Setelah diumumkannya peserta yang lolos tanpa bertarung yakni Tang San, pembawa acara pun mengakhiri pertandingan pada hari tersebut.
Para penonton pun bubar meninggalkan arena tak sabar untuk pertandingan fase keempat keesokan harinya.
Setelah berpamitan dengan Moegi dan yang lainnya Asta pun pergi kembali ke penginapan, meskipun pertarungannya dengan Guangzhou membuatnya lupa akan kantuknya akan tetapi hanya bertahan sebentar saja sebelum ia mulai menguap lagi.
"Haaah, melelahkan sekali hari ini," ucap Flares tiba-tiba keluar sambil menguap.
Asta pun terdiam geram melihatnya. Selama seharian gurunya tersebut hanya makan dan tidur tiba-tiba mengeluh kelelahan.
"Guru bukankah seharian ini guru hanya tidur apa yang membuat guru merasa kelelahan,"
"Yapp. Tidur itu memang melelahkan aku sangat bosan dan ingin keramas, ayo kita mandi, Muridku!" Ujar Flares antusias.
Selesai membersihkan diri Asta pun pergi ke lantai restoran untuk mengisi perutnya yang sudah kembali kosong. Sesampainya di lantai bawah matanya mencari ke setiap meja namun ketiga orang itu belum juga pulang. Ia penasaran kemana perginya manager dan mereka berdua sampai hari sudah mulai gelap pun belum saja kembali.
Merasa akan lama jika menunggu mereka Asta pun memesan lebih dulu ditambahan lagi gurunya terus menarik-nariknya agar segera memesan makan.
Disaat Asta tengah makan dengan lahap ia mendengar suara percakapan antara Zaru dan Ace dari luar penginapan.
__ADS_1
"Apa kau tak mempunyai kesabaran untuk menunggu kami pulang mengapa kau sangat rakus sekali," ujar Zaru.
Dengan santai Asta pun menunjuk ke arah Flares,"seharusnya kau salahkan saja dirinya," ujar Asta terus melanjutkan makannya.
Manager pun memesan makanan tambahan untuk mereka makan. Selama makan Zaru dan Ace terus berbincang dan tertawa mengenai soal turnamen tadi, mereka menertawakan mengenai penampilan payah beberapa peserta.
Selesai makan Asta pun hendak kembali ke kamarnya namun ia teringat kembali mengenai niatnya untuk belajar meracik obat pil.
"Manager apakah kau tau dimana tempat untuk membeli tungku obat...?" Tanya Asta tanpa basa-basi.
Flares mengernyitkan dahinya heran mengapa anak itu tiba-tiba menanyakan perihal tungku obat. Apa yang hendak bocah ini rencanakan pikirnya.
"Tungku obat? Kalau kau mau kau tak perlu membelinya, carilah Asosiasi Fajar Merah di kota. Memangnya untuk apa tiba-tiba menanyakan perihal tungku obat..?" Tanya Manager heran melihat Flares menggelengkan kepalanya.
"Aku mempunyai seorang guru yang berbakat, jika aku tak berinisiatif untuk mengambil semua pengalaman dan pemahamannya maka akan sangat sia-sia bagiku, ditambah setiap harinya guru hanya makan dan tidur layaknya guru yang makan gaji buta, kali ini aku harus meminta guru mengajariku dengan penuh," ujar Asta.
"Kupikir kau hanya bocah yang kehilangan keinginan balas dendam karena kesalahpahaman, baiklah kalau begitu guru akan mengajarimu malam ini,"
Setelah itu Asta pun pergi mencari asosiasi akan tetapi tanpa Flares yang ikut dengannya.
"Siapa sangkar ibukota akan tetap seramai ini di malam hari," gumam Asta pelan sembari memperhatikan pemandangan ibukota Hansu yang megah tersebut.
Meski memakan waktu yang lumayan lama akhirnya Asta berhasil menemukan Asosiasi Fajar Merah yang mana merupakan bangunan besar dengan beberapa lantai, lebih besar dibandingkan dengan yang ada di Kota Tiandu.
"Selamat datang ke Asosiasi Fajar Merah, Tuan Muda," ujar penjaga menyambutnya.
Asta pun tersenyum canggung menyapa mereka, ia tak terbiasa dengan panggilan Tuan Muda tersebut. Ia lebih merasa enak di panggil nama saja.
Setelah Asta memasuki Asosiasi, pengurus pun secara langsung datang untuk melayaninya.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu Tuan Muda, mungkin bawahan ini bisa membantu anda untuk mencarinya..."ujar pengurus sambil tersenyum ramah kepadanya.
"Heemm, kalau begitu aku minta bantuan pak pengurus saja. Kedatanganku ini bertujuan untuk mencari sebuah tungku obat seperti yang disarankan Manager aku pun kemari untuk mencarinya," ujar Asta.
"Ahh kalau begitu tuan muda tinggal sebutkan saja tungku obat seperti apa dan tingkat berapa, kebetulan kita mempunyai banyak tungku obat dari level rendah hingga legendaris, hanya saja untuk tungku obat tingkat dewa sedang tidak ada sama sekali," ujar Pengurus menjelaskan.
"Aku tidak perlu yang tingkat tinggi, cukup yang tingkat tinggi saja. Lagipula aku hanya menggunakannya untuk berlatih, menggunakan tungku tingkat tinggi saja sudah lebih dari cukup untukku," ujar Asta sambil tersenyum canggung namun senyumannya itu tak bisa dilihat olehnya dikarenakan Asta yang memakai topeng.
Pengurus itupun pergi untuk mengambilkan tungku obat tersebut sembari menunggu Asta melihat-lihat koleksi Asosiasi Fajar Merah yang di pajang disana. Ada banyak jenis senjata dan pertahanan diri yang dipajang di etalase Asosiasi, banyak juga hal yang lainnya.
Akan tetapi meskipun terdapat banyak senjata bagus disana Asta tak terlihat terkejut ataupun berkeinginan untuk memilikinya, pikirnya untuk apa ia memiliki sesuatu yang tak bisa ia gunakan selain itu juga ia sudah mempunyai Langit Kelam serta Iblis Malam yang merupakan pedang dengan kemampuan yang sangat hebat. Ia cukup dengan hal itu.
Hal yang membuatnya sangat tertarik sekarang ini adalah material jiwa serta bagian-bagian tubuh hewan ghaib ataupun permata hewan ghaib itu sendiri yang membuatnya sangat tertarik. Setelah ia mempelajari ilmu Penempaan serta membaca mengenai catatan hewan ghaib serta material jiwa Asta jadi tahu mana barang langka dan barang biasa.
Akan tetapi ia merasa tidak enak jika harus meminta pada Manager Row atau pun gurunya terlebih lagi semua barang-barang itu sangatlah mahal dan bukan sesuatu yang bisa di milikinya.
Meskipun ia mempunyai ribuan keping emas akan tetapi semua material itu paling murah adalah ratusan ribu bahkan ada yang mencapai jutaan keping emas, dengan keuangannya saat ini hal itu bukanlah sesuatu yang bisa ia beli. Ditambah lagi kemampuan menempanya juga masih belum cukup untuk menempa material tersebut, dengan kata lain Asta sadar akan kemampuannya dan hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
Tak lama kemudian pengurus pun datang, sambil tersenyum ia mengajak Asta ke ruangannya untuk mengambil tungku obat yang Asta, tujuannya adalah demi menghindari kejadian buruk yang bisa saja terjadi jika pengurus memberikannya di ruangan yang mana banyak orang juga.
"Ini tuan muda, tungku obat yang tuan minta sebelumnya. Namanya adalah Tungku Obat Naga Kembar, merupakan tungku obat terbaik sebagai tungku obat tingkat tinggi. Semoga tuan muda puas dengan Tungku Obat Naga Kembar ini,"
"Aku cukup puas dengan hanya melihatnya saja, bisakah kau ceritakan kemampuan lebih dari tungku obat ini..?" Tanya Asta.
Pengurus pun mulai menceritakan tentang kelebihan Tungku Naga Kembar tersebut, meskipun Asta tak begitu mengerti akan tetapi ia tetap menyimak dan mengingatnya dalam pikirannya.
"Sekarang aku sudah mempunyai tungku obat, saatnya kembali untuk berlatih bersama guru," gumam Asta pelan ia pun pamit pada pengurus asosiasi untuk segera pulang kembali ke penginapan.
__ADS_1