
Penentuan lawan pun dimulai, terdengar sorakan antusias tak hanya dari para peserta turnamen namun juga dari seluruh penonton yang datang dari segala penjuru Kekaisaran Arkhan.
Pembawa acara pun meneriakkan delapan angka para peserta yang akan bertanding di pertandingan pertama. Para wasit dan penjaga arena terlihat sudah siap akan pertarungan kapanpun, sorak-sorai dari penonton terus bergemuruh membuat suasana turnamen menjadi sangat hidup.
Delapan peserta yang angkanya di sebutkan pun menaiki 4 arena, dari delapan orang tersebut tak satupun yang Asta kenal ia pun bertanya pada Yu mengenai siapa mereka. Yu Tiandu pun memberitahukan identitas ke delapan orang tersebut kepadanya dengan sangat detail.
"Sepertinya pertandingan pertama akan cukup meriah di Arena B, Yang Chi dan Tang Wu sama-sama terkenal berbakat siapa yang tahu siapa yang paling kuat diantara mereka,"
"Sudah kuduga 5 Keluarga Besar pasti mengirimkan para jenius mereka lagi di tahun ini,"
Semua pasang mata para penonton tertuju pada Arena B yang diisi oleh dua orang yang berasal dari kelompok besar. Yang Chi yang merupakan jenius dari 5 Keluarga Besar yang cukup terkenal dengan kemampuan bela diri tangan kosongnya, sedangkan Tang Wu adalah jenius dari Sekte Alam Langit satu dari 7 Sekte Besar yang terkenal akan kecepatan ilmu tombaknya.
"Siapa sangka aku akan melawanmu di pertandingan pertamaku, saudara Yang," ujar Tang Wu.
"Begitu pula denganku, kuharap saudara Tang takkan menahan diri hanya melawan seseorang sepertiku," balas Yang Chi.
"Heh, mana mungkin aku meremehkan orang sekuat dirimu, kuharap saudara Yang lah yang seharusnya tak menahan diri," ujar Tang Wu sambil tersenyum ramah.
"Baiklah karena saudara Tang yang begitu baik sudah pasti aku takkan menahan diri,"
"Bersiap..!!! Mulai...!!!"
Yang Chi bersiap dengan jurus tapak yin-yang nya menepis serangan pertama tombak Tang Wu dengan segenap kemampuannya. Tak mau kalah Yang Chi memutar tapaknya balik menyerang Tang Wu membabi buta, pertarungan di sisi Arena B terjadi cukup sengit antara dua orang tersebut.
Disisi Arena A ada Zhang Rou Zi melawan Shao Mei pun tampak menyita perhatian para penonton, dua gadis yang sama-sama dari Sekte Menengah juga sama-sama menggunakan tekhnik pedang tersebut bertarung dengan imbang. Pertarungan mereka tak kalah menariknya dengan di Arena B.
Sedangkan di Arena C pertarungan terlihat hampir berakhir, Yan Hao begitu kewalahan menghadapi Sang Ryun dengan tekhnik dua kapaknya, terlihat pedang Yan Hao hancur berantakan bertemu kapak Sang Ryun.
Di Arena D pertarungan langsung saja berakhir hanya setelah beberapa helaan nafas pertandingan dimulai, Cang Hue menang mudah atas Cheng Du.
"Cang Hue dari Sekte Istana Awan, menang..!!" Ujar juri mengumumkan.
"Saudara Yu siapa pemuda Cang Hue itu nampaknya ia cukup hebat bisa mengalahkan lawannya hanya sekejap mata," tanya Asta penasaran terhadap Cang Hue.
"Ia hanyalah seseorang yang berasal dari Sekte Kecil, Sekte Istana Awan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Sekte Mawar Darah Zhang Rou Zi yang merupakan Sekte tingkat menengah. Aku juga tak menyangka Sekte Istana Awan bisa mengeluarkan seseorang yang berbakat seperti dirinya, mereka pasti menghabiskan seluruh sumber daya untuk mendorongnya agar bisa ikut di turnamen ini," jelas Yu Tiandu mengenai asal-usul Cang Hue.
Mata Asta terfokus kepadanya terlihat sekali ia merasa tidak nyaman diperhatikan begitu banyak penonton.
Tak berapa lama kemudian di Arena C, Yan Hao berhasil di kalahkan Sang Ryun setelah di terbangkan ke luar arena. Yang tersisa hanyalah di Arena A dan B.
Zhang Rou Zi dan Shao Mei masih beradu pedang dengan sengit, keindahan tarian pedang Shao Mei menyita banyak perhatian dari para penonton, membuat semua orang berpikir bahwa Shao Mei lah yang akan memenangkan pertandingan pertama di Arena A.
Bentrokan antara tekhnik pedang diantara mereka terus berlanjut hingga pertarung di Arena B pun berakhir di menangkan Tang Wu dari Sekte Alam Langit setelah beberapa kali bentrokan dan akhirnya Yang Chi mengaku kalah.
"Saudara Tang sungguh luar biasa aku mengaku kalah,"
"Sepertinya saudara Chi menahan diri,"
Di Arena A pertarungan masih berlangsung sengit terlihat sekali keduanya tidak ada yang mengalah sama sekali, kekuatan mereka berimbang.
"Saudari Zhang bisakah kau menyerah untukku saja!"
"Jangan mimpi Shao Mei! Sebaiknya kau yang menyerah!"
"Seni Surgawi epik, Roh Pedang Berputar!!"
"Seni Surgawi epik, Racun Duri Berdarah!!"
Shao Mei pun melancarkan serangannya namun Zhang Rou Zi menepisnya dengan jurus pedangnya. Shao Mei unggul dalam kecepatan dan berhasil melukai Zhang Rou Zi akan tetapi tak terlalu membahayakan keselamatan dan hanya luka goresan saja, sedangkan disisi lain Shao Mei juga menerima luka tebasan tekhnik pedang Zhang Rou Zi yang nampaknya membuat pendarahannya semakin besar.
Sedikit demi sedikit kecepatan berpedang Shao Mei pun berkurang melihat adanya celah Zhang Rou Zi melancarkan serangan terakhirnya untuk mengalahkannya.
"Zhang Rou Zi Sekte Mawar Darah, menang!!!"
__ADS_1
Wasit dan para penjaga arena pun bergegas menyelamatkan pendarahan pada Shao Mei sebelum itu menjadi lebih buruk.
Wasit pun memulai pemilihan lawan kembali namun di pertarungan ini tak ada yang semenarik di pertarungan pertama, selama 3 ronde berikutnya pertarungan semuanya berakhir dengan sangat cepat. Hanya sesaat belasan orang sudah lolos ke fase berikutnya.
"Baiklah saatnya kita akan memulai pengundian lawan di ronde ke-5!!!
"Saudara Yu bukankah jumlah peserta kita lebih satu orang?" Tanya Asta melihat papan angka di atasnya lebih dari yang seharusnya.
"Heemm, akan ada satu peserta disetiap fase yang lolos tanpa bertarung apa kau liat itu, Asta..?" Tunjuk Yu pada papan turnamen dimana ada satu garis lurus yang tak bertemu dengan garis lainnya.
"Sungguh beruntung jika ada seseorang yang bisa lolos 9 kali berturut-turut tanpa bertarung," ujar Yu sambil tersenyum.
"Kalau begitu bagaimana cara menentukan juara ke lima?" Tanya Asta.
"Itu di tentukan di fase 7 besar dimana peserta yang paling terakhir disingkirkan akan mendapatkan hadiah sebagai pemenang ke-5," jawab Yu Tiandu.
Asta pun mengangguk mengerti sambil berharap semoga saja orang yang bisa lolos tanpa bertarung itu adalah dia.
"Ada apa Asta, apa kau berharap agar bisa lolos tanpa bertarung di atas Arena..?" Tanya Jaza sambil tertawa pelan.
"Yahh kuharap begitu, ahahahahaha," jawabnya sambil tertawa.
"Tidak-tidak, itu tidak boleh atau aku tak akan bisa melawanmu nanti," timpal Yami.
"Daripada hal itu apa kau tidak tertarik untuk mengetahui pembawa acara, penjaga serta wasit turnamen itu, Asta?"
"Tak perlu saudara Yu, bagaimanapun juga aku yakin mereka adalah orang-orang kuat karena aku sendiri tak bisa melihat kultivasi mereka," jawab Asta.
Yami pun tertawa kecil mendengarkan ucapannya, tentu saja Asta tak bisa merasakan kultivasi mereka karena mereka adalah para jendral kekaisaran yang setidaknya paling lemah pun berada di Ranah Tetua Suci.
Turnamen pun kembali di lanjutkan kali ini giliran Hao Chen lah yang maju ke atas Arena, sekilas Hao Chen melihat ke arah Asta, dibalik topengnya Asta tersenyum mengerti maksud dari itu.
'Akan kulihat kemampuanmu, saudara Chen' gumam Asta didalam hati.
"Salam kenal namaku Hao Chen dari Sekte Bunga Teratai, Hutan Negeri Sihir," ujarnya memperkenalkan diri.
"Heeemm, Sekte ku hanyalah Sekte kecil yang tersembunyi tak bisa di bandingkan dengan Sekte Golok Perkasa dari Lembah Negeri Batu yang merupakan Sekte menengah," ucap Hao Chen pelan.
Wasit pun meneriakkan dimulainya pertarungan, Di Ma memegang erat-erat goloknya bersiap untuk serangan pertama yang akan Hao Chen lepaskan.
"Tekhnik Roh...."
"Apaaa?!!!"
Semua orang terkejut seketika mendengarnya. Tato Teratai Biru yang ada di punggung tangan Hao Chen menarik perhatian semua orang yang saat itu menontonnya secara langsung. Bahkan para peserta pun tak sedikit yang terpukau melihat keindahan Teratai Biru yang mengapung di atas telapak tangan Hao Chen.
"Hujan Bunga Teratai Surgawi"
Di Ma pun tak sanggup menahan teratai-teratai tersebut hingga terhempas ke luar arena tak sadarkan diri.
"Itu Roh Semesta Sejati..!!! Kita mempunyai Kultivator Sejati sekarang...!!"
"Luar biasa..!! Siapa yang kira sekte kecil seperti Sekte Bunga Teratai mempunyai sosok kultivator Sejati didalamnya,"
"Periksa usianya sepertinya ia masih muda kita sebagai Kultivator Manusia harus mendukung dan melindunginya dari ancaman bahaya..!!!"
Semua penonton mulai berantusias dengan kehadiran Hao Chen yang ternyata merupakan seorang Kultivator Sejati yang membuat suasana turnamen menjadi kembali ramai setelah sejenak dibuat bosan beberapa ronde yang tak menarik.
Asta pun berdiri mematung menatap Hao Chen yang juga menatapnya sejenak lalu menganggukkan kepala kepadanya menyatakan bahwa sekarang ia sanggup bertahan dari segala ancaman.
**
"Kakak Row apa kau melihatnya..?" Tanya Kaisar Arkhan pada Manager Row.
__ADS_1
"Ya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Itu adalah tekhnik roh ciptaannya mustahil aku bisa melupakannya,"jawab Manager Row.
"Apa kalian tidak mendengar dari Sekte mana ia berasal, jelas sekali ia mengatakan tentang 'Sekte Bunga Teratai' yang merupakan impiannya sedari kecil," timpal Zaru.
Kaisar Arkhan pun sampai berdiri dari tempat duduknya hendak melompat ke atas arena namun sebelum itu Manager Row segera menahannya.
"Kakak Row apa yang kau lakukan?! Aku hanya ingin menanyainya tentang apa yang Kakak Hao lakukan dengan menyerang Pegunungan Negeri Terlantar, kau tahu kan tidak sedikit korban jiwa diantara kita, kakak Row!"
"Jika kau menanyainya sekarang dan jika ia tidak tahu mengenai hal itu apa yang ingin kau lakukan selanjutnya apa kau ingin menyanderanya?" Ucap Manager Row pelan.
"Kakak Hao pernah berkata pada kita bertiga puluhan tahun lalu bahwa ia tidak akan terlibat lagi dalam segala urusan dan permasalahan manusia ataupun kekaisaran lagi setelah kita mengalahkan Tian Wei, kakak bilang akan mengasingkan diri dan hidup dengan tenang. Akan tetapi apa kau lupa apa pesannya yang terakhir, selama ada sesuatu yang mengganggunya maka ia akan keluar dan menghancurkan hal itu sampai ke akar-akarnya. Kita tahu seperti apa Kak Hao saat bertindak ia pasti mempunyai alasan mengapa ia melakukannya," lanjut Manager Row.
Kaisar Arkhan pun menghela nafas berat dan kembali duduk di kursinya, "apa yang dikatakan Kakak Row benar, mungkin kita harus menunggu kakak Hao sendiri yang mengatakannya pada kita nanti,"
"Lagipula pedang Iblis Malam juga bukannya diberikan padanya, ia malah memberikannya pada si bocah sialan itu," timpal Zaru.
"Bocah sialan itu..? Dan juga mengapa sekarang Kyuichi bersama denganmu Zaru..?" Ucap Kaisar mengulangi ucapan Zaru penasaran siapa yang ia maksud lalu bertanya mengapa serigala dewata tersebut juga ada bersamanya.
"Tentu karena aku adalah roh hewan bocah sialan itu jadi wajar kalau aku juga ada disini. Dan lagi jangan panggil aku dengan nama itu lagi, sekarang namaku Ace,"jawab Ace sambil menatapnya tajam.
"Hei kalian berdua belum menjawab pertanyaanku siapa bocah sialan yang kalian maksudkan itu..?" Tanya Kaisar yang semakin penasaran.
"Apa dia yang sekarang mewakili Asosiasimu, Kakak Row..?" Tanya Kaisar Arkhan pada Manager Row.
Manager pun mengangguk akan tetapi ia juga tak memberitahunya tentang Asta dan menyuruhnya untuk memperhatikannya sendiri nanti.
"Kalian bertiga benar-benar membuatku penasaran memangnya ada apa dengannya sih,"
"Sudah, sudah, sebaiknya kau perhatikan saja dengan seksama pertarungannya baik-baik, ia pasti berharap menjadi seseorang yang lolos tanpa bertarung hingga ke-4 besar namun aku yakin ia pasti akan mendapatkan kesialannya karena itu," ujar Zaru menyuruhnya untuk diam dan kembali memperhatikan.
Tak hanya Kaisar Arkhan yang dibuat terkejut bahkan para Ketua Sekte dan Keluarga Besar pun memandangnya lebih sambil berpikir untuk menjalin hubungan dengan Sekte Bunga Teratai tersebut.
Hao Chen pun turun dari arena membiarkan peserta selanjutnya yang akan bertarung.
Pengundian pun kembali dilanjutkan setelah ke-6 peserta yang lainnya juga sudah menyelesaikan pertarungan mereka.
Kali ini giliran nomor Yami, ia pun melompat ke atas arena bersiap untuk bertarung.
"Semoga beruntung, saudara Yami,"
Betapa terkejutnya Asta saat melihat lawan Yami, Asta yakin Yami tak akan bisa menang jika harus berhadapan dengan Kenshin di pertandingan pertama.
"Ada apa, Asta sepertinya kau mengenalnya...?" Tanya Jaza melihat Asta yang sedari tadi memperhatikan pemuda dengan topeng yang menutupi wajah bagian atasnya.
Terlihat Kenshin seperti mencari-cari keberadaan seseorang dari atas panggung, orang-orang pun keheranan dengan tingkahnya sedangkan lawannya berada tepat di hadapannya. Pandangannya pun berhenti tepat pada Asta.
"Takutnya kau nanti berpura-pura tak mengenaliku jika aku memakai topeng ini," Kenshin melepas topengnya terlihat wajahnya yang sedang tersenyum kearah Asta.
Disisi lain Zaraki dan yang lainnya sampai membuka matanya lebar-lebar melihat Kenshin diatas arena sekarang.
"Kau kenal dengannya,..?" Tanya Yami penasaran mengapa ia berbicara pada Asta.
"Tentu. Ia adalah teman masa kecilku sekaligus rival ku apa kau kenalan barunya...?" Tanya Kenshin balik.
"Ya. Kami baru beberapa hari ini berkenalan dengannya,"jawab Yami singkat sambil menajamkan matanya saat merasakan ada aura berbahaya yang terpancar dari sosok pemuda didepannya.
Kenshin pun menghela nafas pelan menarik kembali aura tersebut,"karena kau temannya, maka kau juga temanku, aku tak akan mengeluarkan kekuatan penuhku untuk melawanmu atau ia akan menghajarku nanti,"
"Kawan, sepertinya kau terlalu percaya diri dengan kemampuanmu kalau begitu mengapa kita tidak bertarung habis-habisan saja," ujar Yami menantangnya.
"Boleh saja. Tapi apakah kau bisa menjamin ia tak akan marah padaku nanti?" Ujar Kenshin lagi.
"Aku adalah pria sejati, kalau aku kalah aku tak akan meminta bantuan siapapun untuk membantuku menang," ucap Yami mulai kesal Kenshin terus-menerus meremehkannya.
__ADS_1
"Ahh, baiklah. Aku Kenshin dari Sayap Kegelapan, Negeri Bulan Beku, salam kenal,"
"Aku Yami Tiandu dari Keluarga Tiandu, Negeri Tanah Api Suci mohon bimbingannya,"