Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa

Menapaki Jalan Surgawi: Pemburu Dewa
Ch35 Manager Row Riqu


__ADS_3

"Kalau tidak salah, namanya adalah Row Riqu. Aku di tugaskan Guru ku untuk bertemu dengannya. Bisakah Senior mengantarkanku menemuinya?" Jelas Asta.


'Apa-?! Anak ini bahkan berani menyebutkan namanya secara langsung. Siapakah anak ini dan apa latar belakangnya. Sampai-sampai ia berani menyebutkan secara langsung nama Manager,' begitulah yang pemuda tersebut pikirkan.


"Heii..!! Anak muda memangnya siapa kau berani menyebut nama Manager secara langsung. Kau pikir kau keponakannya, hah..?!!" Teriak salah seorang pengunjung.


"Bocah! Sepertinya kau sudah bosan hidup karena mengatakan sesuatu hal yang tidak sopan. Sebagai bentuk rasa hormatku pada Manager aku akan memenggal kepalamu,"ujar yang lainnya.


Asta pun mulai kebingungan dengan sikap orang-orang tersebut yang tiba-tiba ingin membunuhnya. Padahal ia sendiri tak merasa melakukan kesalahan apapun.


"Senior sekalian, sebelumnya aku minta maaf jika menyinggung kalian. Tapi aku benar-benar kemari atas perintah guruku untuk mencari seseorang bukan membuat masalah. Memangnya ada apa dengan pria yang bernama Row Riqu ini hingga membuat Senior sekalian ingin membunuhku...?" Tanya Asta bingung dengan wajah polosnya.


"Cukup bicaranya..!!" Ujar seseorang langsung maju menyerang Asta. Diikuti dengan yang lainnya yang juga hendak menyerangnya.


"Siapapun yang menyentuhnya jangan harap bisa melihat matahari terbit esok hari," ucap pemuda tampan yang sebelumnya mengajak Asta berbicara. Suara itu memang pelan namun terdengar jelas di telinga semua orang yang ada disana.


Melihat pemuda tersebut yang tak mengijinkan untuk menyerang, mereka pun menurut.


"Kau beruntung karena ada Tuan Muda disini, bocah," ucap salah seorang padanya. Mereka pun kembali pada aktivitas awal mereka, melihat-lihat asosiasi.


Pada akhirnya Asta tak dapat menemukan alasan mengapa mereka marah padanya yang hanya karena menyebutkan nama pria tersebut. 'Memamgnya apa yang salah dengan menyebut nama seseorang secara langsung?'


"Ahh! Bukankah sebelumnya tuan muda sedang mencari seseorang? Kebetulan aku tahu dimana orang itu berada," ujar pria tersebut.


"Senior! Bukankah sebelumnya kita tak pernah saling mengenal? Kenapa senior membantuku?" Tanya Asta.


"Itu karena aku suka membantu orang lain yang sedang kesusahan. Jadi santai saja. Perkenalkan namaku Yuan Tiandu, dari keluarga Tiandu,"ujarnya memperkenalkan diri.


"Senior sungguh orang baik. Kalau begitu junior ini hanya berterima kasih atas bantuan senior, jika senior bisa membantuku," ujar Asta.


"Ahh, tentu saja bisa. Kebetulan Pak Manager sudah datang dari kemarin. Mari ku antarkan tuan muda menemuinya," ucap Yuan Tiandu.


Pemuda itu lalu memanggil seorang pelayan dan bertanya apakah Manager Row sedang sibuk. Yang kemudian pelayan tersebut mengatakan bahwa Manager Row sedang ada di ruangannya dan tidak dalam kesibukan apapun.


"Senior! kalo boleh tau, sebenarnya senior ini siapa. Sepertinya senior cukup dihormati disini," tanya Asta penasaran. Ketika melihat orang-orang begitu hormat pada pemuda tersebut.


"Keluargaku kebetulan memiliki posisi yang lumayan penting di Kota Tiandu. Yahh, jadi begitulah. Tuan muda cukup memanggilku Yuan saja," jelas Yuan mengenalkan identitasnya.


Asta pun mengangguk mengerti. Kemudian ia pun melirik ke arah Zaru. Yang sedari tadi duduk di bahunya. Namun begitu Zaru terlihat acuh tak acuh menyadari Asta memperhatikannya. Flares pun tersenyum kecil melihatnya.


'Ahh,, jadi kau bagian dari Keluarga Tiandu. Kalau begitu, biar kutanya kau. Siapakah Gui Tiandu bagimu,' tanya Zaru melalui pikiran.


Yuan pun terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Dari awal, semenjak Beruang tersebut menekannya dengan auranya. Yuan sudah menyadarinya jikalau Beruang tersebut bukanlah Beruang biasa. Terlebih dengan dua tanduk kecil yang ada di kepalanya tersebut.


'Anda... Apakah anda mengenalnya? Beliau adalah kakekku,' ucap Yuan menjawabnya.


Tiba-tiba, Zaru menepuk kepala Asta dan menunjuk ke suatu arah di ruangan tersebut.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menepukku," ujar Asta sambil memperhatikan hal yang Zaru tunjukkan.


"Apa? Dimana?" Tanya Asta langsung melihat ke arah langit-langit.


Selama Asta mencari-cari hal yang ia tunjuk. Zaru mengeluarkan sesuatu dari cincinnya dan melemparkannya ke arah Yuan Tiandu.


'Terima itu. Dan gunakanlah dengan baik. Lagipula benda itu memang seharusnya milikmu. Itu merupakan salah satu hal yang pernah ia pinjamkan padaku. Dan sekarang ku kembalikan itu pada pemilik sah nya,' ujar Zaru.


Yuan Tiandu pun mengangguk cepat berterima kasih kepadanya. Tanpa mengeceknya terlebih dahulu, Yuan sudah tahu benda apa yang Zaru berikan padanya.


"Apakah kau sedang mengerjaiku? Terserahlah kau mau menunjuk sampai kapan aku tak peduli," ujar Asta kesal.


"Ohh iya Tuan Muda. Bisakah aku tahu nama Tuan Muda?" Tanya Yuan menanyakan nama Asta yang sedari awal belum ia ketahui.

__ADS_1


"Namaku Asta. Senior Yuan cukup memanggilku hanya dengan Asta saja. Jangan pedulikan ucapan Zaru," ujar Asta.


"Ahhh,,baiklah kalau begitu," Yuan pun bernafas lega mendengar Asta mengatakan hal tersebut. Yang artinya ia tak perlu khawatir lagi dengan Zaru yang akan tiba-tiba menekannya lagi.


"Junior Asta. Di depan itu adalah ruangan Manager. Junior tunggu disini, biar aku yang mengetuk pintunya," ujar Yuan Tiandu lalu pergi menuju ke ruangan Manager Row.


Yuan Tiandu lalu mencoba mengetuk pintu ruangan Manager Row. Tiba-tiba, terdengar suara ledakan dari dalam ruangan. Yang kemudian diikuti dengan teriakan seseorang yang tengah mengeluh.


"Yuan..!! Bukankah sudah kubilang untuk tidak menggangguku disaat aku tengah melakukan Penempaan. Kau tahu, aku sedang menempa Artefak tingkat 5. Bukankah sudah ada banyak pelayan di sana. Kenapa juga kau datang menggangguku, Yuan..!!!" ujar Manager Row geram padanya.


"Ahh..! Maaf Manager, tapi ada seseorang yang ingin menemuimu. Dan sepertinya beliau orang penting," jawab Yuan sambil terkekeh.


Asta lalu mendekati mereka berdua dan menyapa Manager Row yang saat itu tengah menatapnya. Manager Row sendiri merasa tidak asing ketika memperhatikan wajah Asta. Namun begitu, ia merasa bahwa ia tak mengenalnya.


'Siapa bocah ini. Kultivasinya lumayan tinggi di usianya yang segini. Ada apa sebenarnya dia mencariku,' gumam Manager Row didalam hatinya.


"Baiklah kalau begitu aku undur diri dulu. Masih ada hal yang harus aku lakukan," ujar Yuan pamit meninggalkan mereka berdua.


"Pergilah! Ini sudah ke berapa kalinya kau menggangguku bocah!" Teriak Manager Row masih geram.


"Hehehehe.. maaf," balasnya lalu pamit.


Yuan Tiandu pun kembali ke aula utama Asosiasi untuk mencari barang yang sedang ia cari sebelumnya.


Jauh dari apa yang ia bayangkan, Asta mendapati bahwa sosok yang dipanggil Manager Row tidaklah setua yang ia bayangkan. Ia tampak lebih seperti seorang pria paruh baya umumnya, ketimbang seorang lelaki tua. Ia lebih muda daripada yang gurunya ceritakan.


"Jadi, hal apa yang ingin kau tanyakan padaku, junior," tanya Manager.


"Maaf, Senior! Gara-gara junior yang datang mengganggu akhirnya menggagalkan proses penempaan Senior," ujarnya sambil membungkuk.


Sebelumnya saat Yuan Tiandu memanggil Manager, Zaru sempat melompat turun dari bahunya. Menyadari ia tak dianggap olehnya, raut wajahnya berubah seketika.


Kesal ia pun melompat kembali ke bahu Asta. Barulah saat itu raut wajah Row langsung berubah setelah memandangnya.


Asta pun heran dengan sikap Manager Row ketika ia memandangi Zaru. Disisi lain Zaru hanya terlihat tersenyum.


"Aa,, anu,, salam kenal, Manager Row. Aku Asta Raiken. Senang bertemu denganmu," ucap Asta mengenalkan dirinya.


Tatapan Manager Row masih sepenuhnya terarah ke Zaru. Ia tampak tak mempedulikan Asta yang sedang memperkenalkan dirinya.


Manager Row kemudian mengeluarkan sebuah palu dari dalam cincinnya. Seketika, Asta merasakan penekanan hawa di sekitarnya. Asta bergidik ngeri sekaligus kagum dengan aura yang terpancar dari palu milik Manager Row.


Tak mau kalah, Zaru pun ikut menarik tanduknya. Memperlihatkan tombak Penghancur Semesta miliknya. Yang mengeluarkan aura tak kalah hebatnya dengan palu tersebut.


"Tekhnik Roh, Lingkup Ruang. Selubung Dimensi Terpisah,"


Asta pun terbelalak saking kagetnya. Melihat Manager Row yang benar-benar serius ingin bertarung.


'Apakah orang ini serius...?!! Dia benar-benar langsung menggunakan tekhnik roh untuk mengurung kami berdua di sini! Sial! mustahil bagiku untuk bisa membantu Zaru! Perbedaan kekuatan ini sangat jauh! Aku bisa mati-!!' teriak Asta didalam hatinya.


'Sebenarnya, siapa bocah ini. Mengapa ia bisa membawanya berkeliling dengan begitu santainya. Apa anak ini tidak tahu siapa beruang bertanduk yang ia bawa ini. Dan juga, bagaimana bisa segelnya terlepas. Mustahil segel tingkat tinggi seperti itu melemah di makan usia,' gumam Manager Row kebingungan sambil bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.


'Tak salah lagi, meskipun ratusan tahun telah berlalu. Mustahil aku bisa melupakan aura serta wujudnya tersebut. Kebanyakan orang hanya tau ia adalah beruang raksasa yang sebesar gunung. Karena ia memang tak pernah menunjukkannya wujud aslinya. Namun sekarang, ia benar-benar menggunakannya. Apakah mungkin, bocah ini telah menundukkannya dan menyuruhnya agar berubah ke wujud aslinya?' gumamnya lagi.


Manager Row benar-benar kebingungan untuk mengambil tindakan. Apakah ia akan menyerang Zaru. Ataukah akan menyandera Asta. Yang saat ini terlihat sedang kesulitan menahan tekanannya.


"Apa yang tengah kau pikirkan, hah..? Bukankah kau ingin menyerangku. Kalau begitu, kemarilah sekarang juga," ucap Zaru membuyarkan lamunannya.


"Sungguh keajaiban yang belum pernah ada. Sepertinya bahkan puluhan Kultivator Dewata Agung dan beberapa Ahli Surgawi saja ternyata masih belum cukup untuk menahanmu," ucap Manager Row membalas perkataannya.


"Hahahaha! Sampah seperti kalian belumlah cukup untuk menahanku! Namun karena hal itu, aku cukup berterima kasih kepada kalian. Karena telah menempatkan ku di Lembah itu setidaknya kalian cukup tahu diri dengan tidak menempatkan ku di dasar laut," ujar Zaru sambil tertawa keras.

__ADS_1


"Oyy, Zaru! Sombong sekali kau ini. Jika bukan karena guru mustahil kau sekarang ada disini,"ujar Asta mencibirnya.


"Bocah..!!!"


'Sial, bocah ini benar-benar ingin mempermalukan ku di hadapannya,'


"Apa..?! Bukankah memang itu kebenarannya. Berhentilah mendramatisasi. Cepat, bantu aku agar terlepas dari tekanan ini," ujar Asta.


"Hahh..?!!! Setelah kau berbicara seperti itu dan kau memintaku untuk menolong mu? Apa kau benar-benar tak punya malu?" Teriak Zaru.


Manager Row pun seketika terdiam. Sambil mencoba memikirkan apa yang dimaksud oleh Asta dengan gurunya itu. Ia lalu memandangi wajah Asta lebih detail lagi. Mencoba mencari tahu mengapa sebelumnya ia merasa familiar dengannya.


Berbeda dengan Manager Row, Asta dan Zaru malah terlibat konflik percekcokan. Mereka berdua saling membalas dan mengejek satu sama lain.


"Manager Row..!!! Berhentilah melamun seperti itu. Tolong tarik kembali aura mu. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi," teriak Asta mencoba menyadarkan Manager Row yang saat itu terlihat seperti sedang melamun.


'Wajah bocah ini! Tunggu dulu! Kalau tidak salah, namanya..... Ahhh. Pantas saja aku merasa familiar dengannya! Ternyata begitu rupanya! Tapi kalau dia memang putranya Raiken dan Misaki. Lalu siapa gurunya itu? Bukankah seharusnya Serigala itu yang menjadi Roh Hewannya. Mengapa sekarang ia bersama Zaru. Apakah ia menjadi Roh Hewan keduanya. Ehh,, tunggu, ia bahkan memanggil Zaru dengan namanya langsung. Kalau begitu gurunya,,,' Manager Row tak melanjutkan pikirannya tersebut. Ia sadar jika ia melanjutkannya maka ia akan mengingat kenangan lama yang sudah ia coba lupakan.


"Manager......!!!!!!! Apakah masih belum usai melamunnya. Aku bisa mati-!!" Teriak Asta mencoba menyadarkannya kembali.


Sedari tadi, Zaru benar-benar terus menertawakan Asta. Yang bahkan tak sanggup untuk berdiri dibawah tekanan Manager Row.


Manager Row pun akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia lalu segera menarik kembali auranya agar Asta dapat bernafas dengan tenang. Begitu pula dengan Zaru yang memasang kembali tanduknya.


Tak lupa ia juga membatalkan tekhnik rohnya. Yang saat itu juga pintu ruangan pun langsung terbuka. Memperlihatkan orang-orang yang khawatir dengan keadaan Manager Row. Terlebih Yuan Tiandu. Ia memasang ekspresi wajah yang paling panik. Karena ia yang bertanggung jawab membawa Asta ke ruangannya.


Ia pun langsung mendekati Manager Row untuk bertanya padanya. Orang-orang yang penasaran, mengikuti langkah Yuan Tian. Sekaligus untuk mendengarkan apa yang tengah terjadi. Sampai-sampai Manager Row sempat menggunakan tekhnik rohnya untuk mengurung ruangannya agar tak ada seorang pun yang bisa masuk.


"Manager! Apa yang terjadi..?! Apa anda baik-baik saja..??!" Tanya Yuan Tiandu panik.


"Ahh, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Kembalilah. Kalian tak perlu sebegitu khawatirnya denganku. Aku baik-baik saja. Lagipula, kalaupun ada sesuatu aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri. Meski tanpa bantuan kalian sekalipun," jawab Manager sambil tersenyum.


Mereka pun tersenyum canggung mendengar jawaban Manager Row. Begitu pula dengan Yuan Tiandu yang sudah berpikiran buruk mengenai Asta dan Zaru. Ia lalu meminta maaf kepada Asta dan Zaru saat itu juga.


"Haaaahh.. Padahal aku yang hampir mati karena Manager Row. Tapi senior malah berpikir akulah yang ingin mencelakai Manager. Mana mungkin aku berani melakukannya. Jika pun aku melakukannya, mungkin aku akan langsung mati hanya dalam satu tarikan nafas saja," ujar Asta sambil memandang ke arah Manager Row. Terlihat ia tersenyum malu.


Orang-orang pun tertawa mendengar ucapan Asta. Jika pun Asta ingin melakukannya maka ia hanya akan mati konyol dihadapan Manager Row. Yang merupakan salah satu pilar Kekaisaran Arkhan yang benar-benar kuat.


Namun begitu, berbeda dengan apa yang orang-orang pikirkan. Kenyataannya, Asta memang takkan mampu menghadapi Manager. Namun begitu, Yuan Tiandu tahu bahwa Zaru merupakan sosok yang pernah melegenda dahulu kala. Dan ia yakin bahwa Zaru mampu menghadapi Manager Row.


'Meskipun Junior Asta tak bisa melakukannya. Namun kehadiran Senior Zaru disini sangatlah bisa menjadi alasan mengapa Manager Row tiba-tiba menggunakan tekhnik roh nya. Lagipula Manager Row memang pernah terlibat dalam proses penyegelannya. Jadi mungkin saja ia sangat terkejut ketika menyadarinya tiba-tiba saja datang setelah sekian lama di segel. Ia berpikir bahwa Senior Zaru ingin membalas dendam padahal kenyataannya bukanlah begitu,'


Setelahnya, Yuan Tiandu beserta orang-orang itu pun pamit keluar. Meninggalkan mereka bertiga di ruangan tersebut.


"Jadi bisakah kau menjelaskan ini semua," ujar Manager Row.


"Menjelaskan apa? Menjelaskan mengapa aku menggunakan wujud asliku ini?" Tanya Zaru.


"Semuanya. Termasuk alasan itu juga,"ujar Manager.


"Bisakah kita bicara sambil duduk. Jujur aku masih lelah sekali setelah kejadian tadi,"


Manager Row mengangguk setuju dengan apa yang Asta ucapkan. Memang akan lebih baik jika mereka berbicara dengan tenang sambil duduk.


"Tapi sebelum itu, Apakah Asosiasi ini menjual makan dan minum? Kebetulan aku belum makan apapun setelah memasuki kota ini. Perutku lapar,"


***


Catatan Surgawi


Asosiasi Fajar Merah adalah sebuah yang menjual segala kebutuhan kultivator. Dimulai dari Artefak, Seni Surgawi, Pil Obat dan lain-lainnya. Asosiasi ini didirikan oleh Manager Row, Row Riqu.

__ADS_1


Asosiasi Fajar Merah memiliki berbagai cabang di setiap Kekaisaran dan Negara-negara lain. Tentu ada alasan mengapa Asosiasi bisa begitu kuat sehingga tidak ada siapapun yang berani menyinggungnya, dikarenakan kekuatan penuh dari Asosiasi sendiri hampir menyamai satu Kekaisaran. Sedangkan Manager Row sendiri merupakan seorang Ahli Surgawi yang sama kuatnya dengan Kaisar Arkhan.


__ADS_2