
Turnamen akhirnya memasuki fase ketiga, semua peserta yang sebelumnya lolos ke fase ini di panggil kembali ke arena.
Dari peserta yang telah mengikuti turnamen sebanyak 241 peserta, setelah dua fase ini tersisa hanya 61 peserta.
"Kupikir ada apa Manager memanggilku, ternyata ia hanya ingin memberitahukan hal itu," gumam Asta pelan.
Peluit pertandingan kembali ditiup menandakan dimulainya fase ketiga. Dalam fase ini hanya ada satu arena yang digunakan sehingga hanya ada satu pertarungan di satu waktu.
Di pertarungan pertama fase ketiga ini Kesha Timber melawan Cang Hue dari Sekte Kecil Istana Awan yang mana kekuatannya juga masih menjadi misteri.
Sekte tempat Hao Chen bernaung berada di tempat yang sama dengannya yakni Hutan Negeri Sihir, Ketua Sekte Danau Biru, Yu Zhao sendiri terkejut ternyata ada sekelompok orang berbakat dari sekte kecil di wilayahnya yang luput dari pandangannya.
Kesha pun mengeluarkan pedangnya disisi lain Cang Hue masih berdiri dengan tenang.
"Menyerahlah saudari Kesha, kau bukan tandinganku...." ucap Cang Hue pelan sembari mengintimidasinya.
"Aku tak tahu bahwa kau suka membual," Kesha pun maju memberikan serangan pertama.
Tebasan demi tebasan pedang Kesha dihindari begitu saja olehnya hingga lama-kelamaan ia pun menjadi jengkel karenanya dan melancarkan jurus demi jurus yang membabi buta.
Masih tak mengenainya sama sekali Kesha pun memutuskan untuk menggunakan esensi rohnya yang mana ia sebenarnya sama sekali tak ingin menggunakannya.
"Wooahhh...!! Singa Iblis ya, menarik!" Ujarnya.
Kesha mengabaikan ucapannya itu dan terus menyerangnya.
Alasan mengapa Kesha tak ingin menggunakannya adalah karena dari beberapa bagian tubuhnya akan mengeluarkan api, sehingga ia tidak ingin menggunakannya.
Cang Hue pun tertawa dengan keras sekali sembari terus menghindari serangan Kesha tanpa kesulitan sama sekali.
"Seni Surgawi Ajaib, Badai Api,"
Api yang cukup besar menjalar ke luar dari setiap bekas tebasan pedang Kesha, semua hal itu membuat arena bertarungnya menjadi arena yang di penuhi api.
"Saudari Kesha! Sungguh menyenangkan bermain denganmu hanya saja kau terlalu agresif!"
Cang Hue melompat kebelakang terlihat seperti ingin memberikan serangan. Tak peduli dengan kuda-kudanya Kesha maju menyerangnya.
Cang Hue pun melancarkan serangan tapak ke udara, udara yang tercipta dari tapak tersebut menghempaskan Kesha hingga keluar dari Arena. Cukup dengan satu serangannya Kesha pun di kalahkan.
Penonton pun terdiam beberapa saat tak percaya bahwa Cang Hue hanya membutuhkan satu serangan untuk kembali menang dari lawannya. Dan lagi ia menggunakan serangan yang sama seperti di pertarungannya di fase pertama.
"Kekuatannya benar-benar misterius,"
"Bahkan murid Sekte Kobaran Api Sejati pun bukan tandingannya,"
Pada pertarungan selanjutnya akan ada Sun Ling dari Keluarga Ling melawan Zhi Dao Ming, dari Sekte Roh Bintang.
Sun Ling mengibaskan kipasnya menciptakan sebuah pisau udara yang menyerang Zhi.
Zhi lalu memainkan nunchaku miliknya dengan baik dalam menghadapi pisau udara tersebut.
Pertarungan berlanjut hingga keduanya mengaktifkan esensi roh masing-masing, Sun Ling dengan Sayap Naga Besinya terbang dan memberikan serangan lewat udara.
Zhi cukup kesulitan melawannya hingga ia pun jatuh keluar dari Arena mengakhiri pertandingan tersebut. Sun Ling pun menang atas Zhi Dao Ming.
Lanjut ke pertarungan berikutnya ada Kenshin Utake melawan Xiang Chi dari Keluarga Chi.
"Ada apa? Apa kau tak mau menyerang lebih dahulu?" Tanya Kenshin.
"Tidak perlu," jawabnya singkat.
"Baiklah kalau begitu biarkan aku yang akan menyerang lebih dulu,"
Kenshin pun tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Xiang, dengan cepat Xiang Chi menundukkan kepalanya menghindari tebasan pedang tersebut.
Xiang melancarkan serangan balasan dengan perisai tangannya akan tetapi gerakan Kenshin sangat cepat dan sudah ada di belakangnya kembali.
Kejadian yang sama terus berulang-ulang, Xiang Chi sungguh tak bisa mengikuti gerakan yang Kenshin lakukan, perisainya sungguh tak dapat menyainginya.
Kenshin pun melancarkan tebasan pertama ilmu pedang tak berwujud hingga membuat Xiang Chi tergeletak di atas arena, seperti yang terjadi dengan Yami.
__ADS_1
Para penjaga dan bagian medis pun segera naik ke arena untuk mengobatinya dan membawanya ke ruang pengobatan.
Pertarungan pun berlanjut, berikutnya ada Moegi, Zaraki, Shiro, yang lolos ke berikutnya setelah melakukan pertarungan yang cukup sengit melawan mereka.
Moegi kembali memenangkan pertandingan dengan Hujan Teratai Apinya, Shiro menang cepat dengan tekhnik membunuhnya, sedangkan Zaraki dengan esensi Nadi Bumi nya yang sangat merepotkan lawannya.
Mereka bertiga sangat menyayangkan karena Kesha bertemu dengan sosok Cang Hue di fase ketiga tersebut sehingga mereka harus meninggalkan Kesha dan lanjut ke fase berikutnya.
Harumi Ayano naik ke arena untuk menyambut lawannya, yakni Ye Juan.
Harumi Ayano melemparkan sebuah bola kecil kehijauan, dengan pedangnya ia menebas bola tersebut. Asap kehijauan memenuhi arena membuat pemandangan arena menjadi sangat sulit dilihat.
Ye Juan pun terkejut saat menghirup asap tersebut yang mana rupanya racun. Ia pun melompat tinggi ke udara melancarkan jurus terkuatnya demi mengakhiri pertandingan tersebut sebelum racunnya menyebar dengan cepat.
Ye Juan melancarkan jurus pamungkasnya, hujan 7 roh pedangnya. Dari balik asap tersebut terlihat Harumi yang melompat keluar dari arena demi menghindarinya yang mana membawanya dalam kekalahan. Harumi pun memberikan penawar racun tersebut padanya.
Asta yang mengantuk dan bosan pun tertidur di samping arena tak memperhatikan setiap pertarungan tersebut.
Selanjutnya ada perwakilan dari Sekte Biru Bulan Sabit, Han Bin yang memenangkan pertarungan dan beberapa peserta lainnya yang juga berhasil memenangkan pertandingan dan lolos ke fase keempat.
Kini giliran Hao Chen yang baik ke atas arena melawan seseorang dari Sekte Pulau Dewa, Jian Shi.
"Ehh?? Kemana tuan muda pergi," gumam Hao Chen pelan sembari memperhatikan sisi arena mencari keberadaan Asta.
"Ehh?!! Bisa-bisanya ia tertidur pulas di saat seperti ini. Sangat santai sekali,"gumamnya pelan saat menemukan Asta yang tengah duduk tertidur di lantai pada salah satu kerumunan.
Zaraki lalu menepuk kepalanya keras sehingga membuatnya terbangun.
"Ada apa?!" Tanya Asta kesal.
"Sudah giliranmu bodoh, cepat bangun," ucapnya pelan.
Di atas arena Jian Shi yang melihat Hao Chen seperti sedang tertawa di balik topengnya bertanya padanya.
"Apa yang kau tertawakan dengan kerumunan di sana, Saudara Hao..?" Tanya Jian Shi heran.
"Ahh, itu disana, ia tadi sedang tertidur pulas di lantai lalu temannya menepuk kepalanya hingga terbangun. Aku tak bisa menahan tawaku, maaf," ucapnya menjelaskan.
Jian Shi pun tertawa kecil mendengarnya lalu ikut melihat ke arah dimana Asta dan Zaraki yang sedang berbicara.
Sambil menghembuskan nafasnya Asta pun melihat ke atas Arena, disana ada Hao Chen yang melambai padanya. Asta pikir lambaian tangan Hao Chen tersebut adalah sebuah tantangan dari Hao Chen, Asta tak melihat ke sisi lain dimana Jian Shi juga berdiri di arena.
"Asta mau kemana kau?!" Tanya Moegi sembari menarik tangannya menghentikan langkahnya.
"Ada apa Moe ini giliran ku atau aku akan di diskualifikasi nanti," ujar Asta sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Hah?!!" Moegi pun mengernyitkan dahinya heran sebenarnya apa yang memasuki otaknya itu sehingga tiba-tiba ingin naik ke arena dan berkata bahwa sekarang gilirannya yang mana saat itu bukanlah waktunya.
"Apa kau bodoh atau bagaimana?" Tanya Moegi.
"Hah? Sudah kubilang aku harus pergi, lepaskan tanganku Moe," ujarnya lagi.
Moegi pun tak segan-segan lagi memukul kepalanya dengan keras sembari menunjuk ke arah Jian Shi yang juga melambaikan tangan ke arahnya.
Suasana turnamen yang sedang tegang dan serius tiba-tiba berubah menjadi penuh tawa, para penonton dan peserta lain tertawa melihat kelakuan Asta. Di atas podiumnya bahkan Kaisar Arkhan pun tak bisa menahan diri lagi untuk tertawa.
Para Ketua Sekte Besar dan Keluarga Besar juga tertawa, hanya Rai Ken dan Misaki yang tersipu malu melihat kelakuannya.
Asta pun tertawa malu dari balik topengnya, untungnya ia mengenakan topeng entah bagaimana jikalau saja ia tak mengenakan topeng saat ini, bersama malunya ia.
Asta pun hendak kembali ke tempat Zaraki untuk memberinya pukulan akan tetapi Moegi langsung menariknya kembali.
"Ingin kemana lagi?! Tetap disini bersamaku. Kalau kau terus-menerus melakukan hal bodoh kau hanya akan membuatnya malu!" ujar Moegi menahannya.
"Siapa?" Tanya Asta bingung.
"Sudah diam disini, apa kau tak mengerti diam, hah?!" Moegi pun menarik kupingnya dengan keras.
"Ahhh! Iya iya iya, aku diam, aku diam," ujarnya menurut.
"Bagus!"
__ADS_1
Asta pun hanya bisa menahan malu tersebut dan menatap Zaraki kesal karena tak bisa memberikannya pukulan saat itu juga.
Setelah terjeda karena keributan yang Asta lakukan pertandingan pun akhirnya dimulai kembali, Jian Shi sudah bersiap dengan dua pedangnya.
"Saudara Hao, keluarkan senjataku aku tak ingin dikalahkan olehmu dengan belas kasihan," ujar Jian Shi.
"Tapi aku tak mempunyai senjata apapun, saudara Jian Shi. Aku memang bertarung menggunakan tangan dan rohku, kau tak perlu khawatir untuk itu," ujarnya memberitahu.
"Baguslah kalau begitu setidaknya meskipun aku kalah darimu aku tidak akan menanggung malu," ucap Jian Shi sambil tersenyum.
Hao Chen langsung mengaktifkan esensi rohnya dan menyiapkan Teratai Biru Surgawi mini di telapak tangannya. Jian Shi pun maju menyerangnya.
Hao Chen mengambil kelopak bunga teratai tersebut lalu melemparkannya ke Jian Shi, seketika kelopak itu berubah menjadi sebuah pedang, Jian Shi pun termundur beberapa langkah saat ia mencoba menahannya.
Disaat ia masih belum lepas dari pedang tersebut Hao Chen sudah melepaskan kelopak lainnya. Saat kelopak kedua mengenai pedang yang sebelumnya, seketika itu menyebar dan menjadi beberapa pedang.
Jian Shi pun membuka matanya lebar-lebar melihat kekuatan dari esensi roh Hao Chen tersebut sekaligus pengendalian dan pemahaman terhadap rohnya yang sangat tinggi sehingga bisa dengan bebas mengendalikannya.
Jian Shi kesulitan menghadapi serangan-serangan tersebut, terlebih pedang energi yang Hao Chen ciptakan terus terbang dan melayang ke arahnya meskipun ia sudah mencoba menjauhkannya.
Saat kelopak daun teratai terakhir sudah di lepaskan, Hao Chen pun menggenggam erat putik sekar bunga teratai tersebut.
Ledakan beruntun terjadi, Jian Shi tak menyadari bahwa pedang-pedang tersebut rupanya adalah bom waktu yang akan meledak kapan saja jika Hao Chen mau.
Jian Shi pun tertunduk lemah tanpa pedangnya mungkin ia sudah tergeletak di atas lantai arena, ia menjadikan dua pedangnya sebagai tumpuannya agar tetap berdiri. Jian Shi pun langsung mengakui kekalahannya dan tak bisa melanjutkan pertarungan.
Hao Chen pun lalu membantunya untuk turun dan diobati segera.
Selanjutnya Yin Fushu memenangkan pertandingan dengan cepat mengandalkan tekhnik tebasan pemenggal kepala, musuhnya tak bisa melanjutkan pertarungan karena kakinya bergetar lemas sesaat pedang besar Yin Fushu beberapa kali hampir menebas kepalanya.
Lalu ada Wen Han yang mana di pertandingan sebelumnya membuat para penonton terpukau dengan kemampuan tongkatnya.
Wen Han menaiki arena bersila untuk bertarung melawan Du Shian dari Sekte Golok Perkasa.
Lagi dan lagi senjata tajam bukanlah tandingan bagi tongkat emas Wen Han, bahkan golok Du Shian tak berhasil mematahkannya.
Menyadari kekuatannya tak cukup Du Shian pun mengaktifkan esensi rohnya, membuat serangan dua goloknya menjadi sangat kuat dan lebih berat lagi.
Tongkat emas Wen Han bergetar hebat saat ia menggunakannya untuk menahan tebasan golok tersebut tangannya bahkan sampai mati rasa sejenak karena kuatnya serangan tersebut.
"Saudara Du! Esensi Roh Iblis Gilamu benar-benar menakutkan tanganku bahkan sampai mati rasa menahannya," puji Wen Han.
"Ayolah saudara Wen! Keluarkan Esensi Rohmu, apa kau ingin mengalah dariku!" Ujar Du Shian masih terus memberikan tebasan goloknya yang mematikan.
Karena tak bisa gegabah lagi Wen Han pun ikut mengaktifkan esensi rohnya demi mengikuti kekuatan Du Shian, Kera Emas.
Pertarungan antara dua peserta yang sama-sama mempunyai esensi roh semesta cukup langka tersebut menuai banyak pujian dari penonton.
Dentingan setiap bentrokan dari pertarungan mereka menyebar memenuhi telinga penonton, gerakan tongkat Kera Emas melawan Golok Iblis Gila itu sangat-sangat cepat dan kuat, mereka berdua terlihat seimbang meskipun keduanya sama-sama mendapatkan luka akan tetapi tak ada yang lebih besar dari yang lainnya.
"Moegi apakah itu sejenis transformasi?" Tanya Asta heran dengan perubahan wujud Wen Han dan juga Du Shian yang benar-benar berbeda dari yang sebelumnya.
"Hah?! Transformasi? Jelas-jelas itu adalah efek pengaktifan esensi roh mereka yang merupakan esensi jenis semesta..?!" Tanya Moegi balik.
"Ohh jadi begitu ya, kupikir mereka berdua menggunakan sebuah Tekhnik tranformasi," ucapnya sambil mengangguk mengerti.
"Lalu mengapa sejauh ini belum ada satupun yang menggunakan tekhnik transformasi, bukankah rata-rata peserta adalah Kultivator Jiwa?" Tanya Asta heran.
"Apa yang kau tanyakan tentu mereka takkan berani menggunakannya hanya untuk menang pada fase-fase pertama. Tekhnik tranformasi adalah tekhnik yang sangat menguras tenaga, selama kultivasi kita belum cukup tinggi akan sulit untuk mengontrol tekhnik transformasi selama berkali-kali dalam beberapa pertarungan," jelas Moegi.
"Hanya beberapa orang yang diberkati saja yang bisa menggunakan tekhnik transformasi secara terus menerus selama ia mampu," lanjut Moegi.
"Beberapa orang diberkati? Apa itu?" Tanya Asta heran.
"Kau tahu cara mendapatkan Roh Hewan ada dua cara, cara pertama adalah dengan menyerap Permata Hewan dan mengalahkan sisa-sisa jiwa hewan ghaib tersebut. Cara kedua adalah dengan menjalin ikatan darah dengan hewan ghaib yang masih hidup. Sebutan orang-orang diberkati adalah orang-orang yang mendapatkan roh hewan dengan cara kedua, bukankah kau pun sama,"
Asta pun mengangguk mengerti, jadi alasan kenapa para peserta sebelumnya tak menggunakan tekhnik transformasi sama sekali itu bukan karena mereka tak mampu, hanya saja kemungkin besar Asta yakin akan ada efek samping dari penggunaan tersebut seperti halnya yang terjadi padanya ketika penguasaan dasarnya belum mencapai tingkat tinggi. Ia harus hati-hati dalam menggunakannya dan setelah ia selesai menggunakannya pun spiritnya kering tak tersisa.
Diatas arena pertarungan antara Du Shian melawan Wen Han akhirnya menuju ke akhir pertarungan, gerakan Du Shian semakin lama semakin lambat sedangkan kecepatan Wen Han masihlah sama.
Du Shian pun terhempas ke luar arena setelah tongkat emas Wen Han mengenai perut Du Shian. Kemenangan pun di raih oleh Wen Han.
__ADS_1
Akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu Asta tiba, keinginannya untuk lolos tanpa bertarung sudah sirna karena yakin keberuntungannya sangatlah sial.
"Akhirnya tiba juga giliranku..."