
Helio tampak cukup penasaran dengan apa yang ingin Kenshin sampaikan padanya, hingga putranya terlihat tergesa-gesa. Helio mengusap-usap punggungnya, mencoba menenangkan diri sebelum mendengarkan apa yang akan diungkapkan.
"Kita masih memiliki banyak waktu saat ini. Jadi tak perlu terburu-buru seperti ini," ucap Helio dengan bijaksana.
Kenshin meneguk kembali segelas teh di tangannya, dan saat itu, matanya tak sengaja menangkap sebuah gulungan yang terbuka di atas meja kerja ayahnya.
"Mempelajari Susunan 5 Pondasi Api Surgawi, lagi..?" tanya Kenshin dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Susunan 5 Pondasi Api Surgawi adalah teknik yang sangat hebat, warisan dari pendiri sekte. Andai saja ada yang bisa menguasai kembali teknik tersebut, meskipun hanya sebagian dari potensi penuhnya, 5 Pentagram Api Suci akan kembali muncul," terang Helio dengan penuh antusiasme.
Kenshin hanya tersenyum kecil, mendengarkan ambisi besar ayahnya.
"Ayah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Mungkin ayah tahu tentang ini," kata Kenshin.
Helio mengerutkan dahinya, bertanya, "Sesuatu..?"
Kenshin mengangguk-angguk sembari mengeluarkan gulungan ilmu pedang tak berwujud. Seketika, Helio terkejut dan langsung berdiri ketika melihat gulungan tersebut. Raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Kenshin! Darimana kau mendapatkannya?!" Tanya Helio dengan nada tegas.
Melihat ekspresi ayahnya, Kenshin merasa takut untuk menceritakannya, tetapi ia tahu bahwa sudah terlanjur memperlihatkannya, dan akhirnya, ia harus menceritakan kebenarannya.
"Ayah, aku minta maaf karena sebelumnya aku menyembunyikan hal ini darimu. Gulungan ini sebenarnya diberikan oleh seseorang. Awalnya, orang itu berniat menukarnya dengan topengku, namun aku menolaknya. Tapi kemudian, dia melemparkannya kepadaku dan berkata bahwa ini adalah hadiah pemberian inisiatif darinya. Sebelum pergi, dia berkata ingin menjadikanku sebagai muridnya.."
"Seseorang?! Apa dia seorang pria atau wanita?! Bisa kau gambarkan bentuk fisiknya?" tanya Helio dengan nada yang masih serius.
Kenshin menelan ludah, merasa takut dengan pilihannya menerima gulungan itu.
"Suaranya jelas seorang pria, mungkin seumuran dengan senior Taki. Aku tak bisa melihat bentuk wajahnya karena dia mengenakan jubah bertudung serta topeng wajah. Akan tetapi, dia mempunyai sayap hitam yang besar di punggungnya dan aura kelam yang tak bisa digambarkan sebagai aura permusuhan ataupun aura perdamaian.."
Helio menahan nafas sebentar lalu menghembuskannya gusar. Dari keterangan putranya, ia sudah tahu siapa yang menemuinya. Helio menarik dan menghembuskan nafasnya gusar beberapa kali memikirkannya.
"Lalu, apa kau tahu apa ini?"
"Seni Surgawi Ilmu Pedang Tak Berwujud, meskipun pancarannya nampak seperti peringkat legenda putih, tapi sebenarnya lebih tinggi lagi peringkatnya jika bagian yang utuhnya,"
Helio menepuk jidatnya, jikalau putranya sudah tahu sampai sejauh itu artinya ia telah mempelajarinya. Kepalanya sakit memikirkan hal selanjutnya yang harus Kenshin lakukan.
"Kau tahu, Kitab Surgawi peninggalan leluhur pendiri sekte yang saat ini katanya hilang entah kemana, apa kau tahu?!"
"Aku tahu, Ayah, itu adalah Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan peringkat Dewa Hitam. Salah satu kitab surgawi yang telah leluhur pendiri ciptakan, seni elemen pengendali api terkuat yang pernah menggemparkan Benua Alam Surgawi untuk kedua kalinya di masa lampau,"
"Bagus kalau kau tahu. Di Kekaisaran Arkhan kita, ada 3 Kitab Surgawi dan 15 Artefak Tak Tertandingi yang tersebar di beberapa kelompok dan orang, salah satu kitab surgawi itu dimiliki oleh sekte kita. Jika kita saja mempunyai berbagai pusaka sekuat itu, apa kau tak berpikir bangsa lain pun mempunyai hal yang serupa untuk mengimbangi kita...?" Ujarnya memberikan pertanyaan.
Kenshin mengangguk mengerti, hanya saja ia masih belum mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba membahas 18 Pusaka Terkuat Kekaisaran Arkhan.
"Bagus, kalau kau sudah bisa menebaknya. Tentu saja, bangsa selain manusia pun memiliki warisan yang sama kuatnya. Begitu pun dengan bangsa Dark Elf, apa kau tau apa yang mereka punya..?"
"Itu.. aku tidak tahu. Bangsa Dark Elf sangat menutup diri mereka, bahkan informasi mengenai mereka pun sangat tertutup dan kurang, apalagi perihal warisan pusaka leluhur mereka,"
Helio tertawa kecil, meskipun memang benar apa yang dikatakan putranya, namun bukan berarti sesuatu semacam Pusaka Terkuat akan luput dari perhatian. Meski sekuat apapun bangsa Dark Elf, sinyal informasi mengenai Pusaka Terkuat masih terlalu cepat untuk dijegal.
Helio tertawa kecil sambil memijat keningnya,"Bisa-bisanya kau langsung mempelajari sesuatu tanpa tahu apa yang sedang kau pelajari, kau benar-benar ceroboh. Kalau ada orang luar yang mengetahui hal ini, kau pasti akan berakhir menjadi incaran,"
Kenshin mengerutkan dahi bingung, ia masih belum paham mengapa ia akan berakhir menjadi incaran. Kenshin juga penasaran mengapa ayahnya menyebutkan bangsa Dark Elf sebelumnya.
"Memangnya, apa hubungannya, ilmu pedang tak berwujud dengan apa yang semua ayah katakan. Terlebih lagi, ayah menekankan bangsa Dark Elf, seolah-olah ini berkaitan dengan mereka,"
"Jadi kau masih belum paham.." Helio mengangkat kepalanya, kepalanya saat ini terasa pusing sekali.
"Ayah pikir, dengan ayah menyebutkannya secara gamblang kau akan dapat memahaminya dengan cepat. Pada intinya, Sekte Kobaran Api Sejati kita memiliki Kitab Dewa Api Kegelapan, satu dari 3 Kitab Surgawi di Kekaisaran Arkhan. Sedangkan Negara Tebing Tinggi, yang memang negeri para dark elf, juga memiliki 2 pusaka warisan yang berbentuk kitab surgawi dan artefak tak tertandingi. Dan hal itu adalah, Ilmu Pedang Tak Berwujud dan Pedang Hitam Pembelah Bulan.."
Kenshin terdiam mematung mendengarkan.
"Kalau kau bertemu dengan seseorang yang sangat ingin mempelajari ilmu pedang tak berwujud, atau yang mempunyai dendam terhadap bangsa dark elf, mereka pasti akan mengincarmu. Karena, asal kau tahu, meskipun bangsa dark elf adalah bangsa yang netral, rata-rata dari mereka merupakan kultivator iblis," terang Helio.
"Jadi, itu artinya aku..."
"Tidak, tidak mungkin dia menjebakmu. Apa dia ada berkata ingin mengatai seseorang atau semacam itu sebelumnya..?" potong Helio lalu bertanya.
Kenshin menundukkan kepalanya mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan pemuda itu. Lambat-laun ingatannya pun kembali muncul, dan Kenshin mengangguk-angguk mengiyakan.
"Kalau begitu, kau lebih tak perlu khawatir. Satu-satunya pilihanmu saat ini hanyalah meninggalkan sekte dan pergi menemuinya. Hanya dengan menjadi muridnya, keselamatanmu lebih terjamin. Tak hanya itu, kau pasti bisa meningkatkan kultivasimu lebih cepat dengannya," ujarnya menghela nafas berat.
"Jadi, ayah tau siapa orang itu..?" tanya Kenshin penasaran.
__ADS_1
Helio mengangguk-angguk pelan,"Tak salah lagi, ia pasti pamanmu yang datang menjemputmu. Kau tak perlu khawatir akan apapun, hukum surgawi memang tak bisa disangka. Kau yang merupakan putraku, malah mendapatkan roh dewa bayangan cahaya. Kau boleh tetap tinggal di sini, tapi sebagai gantinya, kau harus membayar dengan tertahannya kultivasimu di ranah ahli. Pamanmu memberikannya sebagai maksud hadiah dari seorang guru kepada murid. Ada hukum surgawi yang tertanam di gulungan ini," jelas Helio.
Perasaan Kenshin seketika gundah, ia sudah terlanjur mempelajari ilmu pedang tak berwujud. Namun yang paling membuat hatinya gundah, ia tak bisa meninggalkan sekte begitu saja.
"Ayah, kalau dia merupakan pamanku, itu artinya dia..."
"Ya, dia adik kandung ibumu. Maafkan ayah yang telah menutup semua ini begitu lama. Ayah punya janji dengan ibumu untuk tak memberitahukan hal ini kepada siapapun, tak terkecuali dirimu. Ibumu adalah wanita yang cantik, kau pasti akan merasa bangga menjadi putranya," Helio mengusap air matanya yang merembes keluar.
"Ayah, ada banyak hal yang memasuki kepalaku dan aku tak bisa menyerap semuanya saat ini. Biarkan aku sendiri dulu," ujar Kenshin beranjak dari tempat duduk menuju ke ruangannya.
Helio tak berniat menghentikannya, ia membiarkan putranya untuk beristirahat dan memahami semuanya.
"Ini memang sudah waktunya kau bertemu dengan ibumu. Maafkan aku, Kenshin, karena telah menahanmu selama ini," ucap Helio.
---
Di tempat yang lain, atau tepatnya di Lembah Neraka, Asta mengasingkan diri dan didampingi oleh Flares, Gurunya. Asta menarik nafas dalam-dalam, berulang kali mencoba menstabilkan nafas yang memburu. Matanya mencari-cari keberadaan gurunya yang entah kemana.
Selama seminggu terakhir, tubuhnya telah diolah secara paksa. Asta hanya diberi waktu singkat untuk istirahat dan makan, sementara Flares memberikan pelatihan yang sangat intens. Namun, hasilnya memuaskan, darah Asta telah mencapai tahap 4 pemurnian, hanya tinggal tulang dan otot yang perlu diselesaikan.
"Brrukk!" Perut Asta mengeluarkan suara lapar.
Asta memegangi perutnya yang kosong sambil berharap Flares sedang memasak sesuatu di luar gua.
Cahaya senja merambat masuk ke gua, menyebabkan Asta harus menyipitkan matanya. Ia mengambil sepotong daging dan memanggangnya di tungku pembakaran untuk pot obat yang sedang digunakan.
Setelah makan dan mengistirahatkan diri sejenak, Asta pergi ke bawah sungai untuk membersihkan diri.
"Sendirian di sini tanpa Ace sungguh membosankan. Guru, kau berada dimana..?" gumamnya, merindukan Ace dan Flares yang tiba-tiba menghilang.
Asta menyalakan beberapa obor di sudut gua sebagai penerangan untuk menghadapi malam yang gelap.
Malam tiba, membawa angin dingin yang menggigit. Di luar gua, bulan purnama terang bersinar di langit, menyinari Lembah Neraka.
Bosan menunggu gurunya yang belum kembali, Asta melanjutkan penempaan tubuhnya yang sempat tertunda. Ia memasuki pot obat lagi dan mulai menempa sambil berendam di dalam obat penempaan yang telah dicairkan.
Sesosok bayangan putih melesat masuk ke dalam gua. Asap putih itu menyusup ke dalam bandul cincin kalung yang dikenakan Asta.
Beberapa saat kemudian, sosok itu muncul lagi dan perlahan membentuk tubuhnya sendiri. Ternyata, itu adalah Flares.
Tiba-tiba, Asta merasa ada sesuatu yang menyentuh kulitnya. Ia membuka mata dan kaget saat melihat sosok Flares tepat di depan wajahnya. Ia refleks memukul, tetapi tangannya hanya melewati bayangan Flares.
"Hiii! Setan..!!!" Jerit Asta ketakutan tanpa sadar bahwa itu adalah gurunya.
Kaget, Asta melonjak keluar dari dalam pot, menyebabkan cipratan air obat berhamburan ke segala arah. Flares yang kesal karena dipanggil "hantu" langsung menampilkan wajah datar yang bercampur kesal.
"Plaakkk!"
"Dasar murid kurang ajar! Baru sebentar gurumu pergi, kau sudah berani sekarang!" Ujarnya geram.
Pukulan di kepalanya langsung membuka matanya. Asta menyadari bahwa sosok gurunya adalah roh, mirip seperti hantu. Ia merasa malu atas tindakannya dan hanya meringis sebagai permintaan maaf.
"Ayolah, Guru, kau membuatku sangat terkejut. Kau selalu menghilang dan muncul tiba-tiba, aku jadi selalu terkejut setiap kali melihatmu. Tolong, jangan bertingkah seperti hantu lagi," protes Asta.
"Selain itu, meskipun Guru memiliki wajah yang tampan dan pencapaian yang tinggi saat masih hidup, itu adalah ketika Guru masih memiliki tubuh. Sekarang Guru hanya gumpalan arwah, jadi aku minta tolong pada Guru agar berperilaku normal. Tolong, jangan seperti hantu,"
Flares mengepalkan tangannya geram, merasa tak senang karena dipanggil "hantu". Tanpa berkata-kata lagi, Flares menarik salah satu kaki Asta hingga ke atas. Asta terkejut dan tak bisa melepaskan diri.
"Dasar tidak beretika! Aku akan mendisiplinkanmu, kau murid yang kurang ajar!" Ujarnya marah.
Tiba-tiba, jantung Asta berhenti berdetak, instingnya merasakan bahaya dari tangan Flares.
"Dasar murid nakal! Rasakan pukulan cinta dari gurumu ini!" Flares mengayunkan tangannya dan memukul pantat Asta dengan sangat keras.
"Plaakkk! Plaakkk! Plaakkk! Plaakkk! Plaakkk! Plaakkk! Plaakkk!...."
"Akkhhhhh...!!! Guru, maafkan aku! Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf dan takkan mengulanginya..." Teriak Asta histeris.
"Terlambat! Tak ada ampun bagimu saat ini, dasar murid kurang ajar!!" Timpal Flares, masih terus melayangkan pukulan.
Semua hewan ghaib di sekitar Lembah Neraka terbangun mendengar teriakannya yang begitu keras. Mereka yang terganggu hanya menghela nafas berat.
---
Selama satu jam penuh, Flares menghukum Asta di tempat. Asta menyentuh pantatnya yang mungkin memar karena pukulan gurunya yang sangat bertenaga.
__ADS_1
"Sekarang, Guru, memaafkanmu. Tapi jika kau mengulanginya lagi, maka akan ada hukuman yang lebih berat untukmu nantinya," jelasnya sambil tersenyum senang.
Asta hanya bergidik ngeri. Pikirannya terbayang siapa lagi yang akan memukulinya di pantat untuk kesekian kalinya. Flares nampak senang setelah memukulinya.
"Saat kau memulihkan kondisimu, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kau tahu tentang masa lalu guru.." Tanpa diminta, Flares pun mulai bercerita tentang siapa dirinya di masa lalu.
Di masa lalu, Flares dikenal sebagai Dewa Api Kegelapan. Pencapaiannya dalam menciptakan Kitab Surgawi Dewa Api Kegelapan itulah yang membuatnya mendapatkan gelar itu. Perjalanan kultivasinya begitu panjang dan dihadapkan pada banyak musuh yang menghadangnya.
Flares menjadi orang kedua yang berani bersinggungan dengan 11 Ras Hewan Ghaib Kuno, setelah dahulu kala ada Kaisar Alam Surgawi yang menyatukan Benua Alam Surgawi. Selama perjalanan tersebut, Flares juga mendirikan sebuah kelompok yang terdiri dari rekan-rekan dan keluarganya, yang sekarang dikenal sebagai Sekte Kobaran Api Sejati.
Meskipun Asta masih terlalu awam tentang sejarah bersatunya Benua Alam Surgawi, ia tetap mendengarkan gurunya bercerita hingga selesai. Meski begitu, ada beberapa bagian dan cerita yang Asta pahami dan ketahui. Salah satunya adalah bahwa gurunya merupakan pendiri Sekte Kobaran Api Sejati.
Mendengar pencapaian gurunya yang sampai di puncak ranah Kaisar Surgawi, membuatnya sangat antusias. Ada kebanggaan tersendiri di hatinya menjadi murid seseorang yang memiliki latar belakang luar biasa seperti gurunya.
Namun, ia penasaran dengan alasan di balik kematian gurunya. Tetapi, Asta tak berani menanyakan hal itu karena takut menyinggung perasaan gurunya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk menjawab rasa penasarannya adalah menunggu gurunya yang mengatakannya sendiri.
"Tapi, Guru, aku..." Asta menghentikan ucapannya karena takut menyinggung gurunya.
"Apa..?" Tanya Flares.
"Aku ingin melanjutkan latihanku," ucapnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kau lanjutkan latihanmu dan guru akan memasak sesuatu untuk makan malam ini," ujarnya lalu mengeluarkan krim penempaan raga.
"Guru, nampaknya kau ingin aku cepat-cepat menyusulmu, ya.." Asta berjalan mundur selangkah.
"Tidak ada waktu lagi. Jika kau ingin mencapai ketinggian yang sama dengan guru, maka hanya inilah yang harus kau lakukan," Bujuknya.
Flares langsung menarik dan mengoleskan krim tersebut pada punggung Asta. Asta kembali berteriak histeris menahan rasa sakit tersebut.
Para hewan ghaib yang awalnya berpikir bisa beristirahat karena teriakan sebelumnya telah reda, seketika langsung terbangun kembali mendengar teriakan yang lainnya.
---
Hari semakin gelap, Flares kemudian memanggil Asta untuk mengambil istirahat dan makan malam terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ia melanjutkan latihannya kembali.
"Guru, sebenarnya guru pergi kemana sore tadi? Sangat jarang guru bepergian lama. Ada sekitar 3 hari guru meninggalkanku di sini," ucap Asta membuka obrolan.
"Guru hanya pergi untuk mempelajari apa yang terjadi saat ini di Kekaisaran Arkhan. Kebetulan guru mendengar sesuatu yang menarik, jadi karena itu guru pergi lumayan lama untuk mencari tahu lebih jauh tentang itu," jelasnya sambil melahap daging rebus.
"Sesuatu yang menarik..? Seorang wanita cantik..?" Tanya Asta memastikan.
Sontak tangan Flares langsung melayang memukul kepalanya, "Kau ini masih 10 tahun, terlalu cepat bagimu untuk membahas wanita. Lagipula kau sudah punya seseorang yang menunggu di rumah, jangan kecewakan kesetiaannya wahai anak muda,"
Asta memanyunkan bibirnya, ia tahu persis bahwa gurunya sedang membicarakan Asila Moegi, siapa lagi. "Cukup, guru. Kau benar, aku masih 10 tahun. Kultivasi dan latihan adalah hal yang terpenting untukku saat ini. Ada guru yang menungguku untuk hidup kembali, jadi mana mungkin aku akan membuang-buang waktuku untuk itu,"
"Tak sia-sia guru memilihmu sebagai murid. Tapi, nak, jika pun kau ingin menikah muda di umur 14 tahun, maka guru akan merestui hubunganmu. Asalkan kau tak melupakan janjimu pada guru,"
"Cukup, guru, cukup. Kau semakin berbicara sembarangan. Mana mungkin aku menikah di usia se-muda itu. Bisa-bisa aku ditertawakan oleh Kenshin dan yang lainnya nanti," ucap Asta mulai kesal dengan pembahasan gurunya.
"Ohh, jadi kau tak takut Asila Moegi-mu diambil oleh orang lain..? Guru sering sekali, loh, mendengarkanmu memanggil-manggil namanya setiap kali tertidur," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
"Guru! Cukup dengan omong kosongnya! Ayo berlatih!" potong Asta cepat. Flares terkikik puas melihat sikap malu-malu kucingnya.
Setelah selesai makan, Asta sudah berada dalam posisi berendam di atas pot. Sebelum memulai, Flares mengoleskan ulang krim penempaan raga pada tubuhnya.
"Tahan sebentar, ini belum mulai," ucapnya.
Setelah selesai mengoleskan krim penempaan raga di seluruh punggung Asta, Flares mengeluarkan api pemakan cahaya di kedua tangannya.
"Metode ini hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang memiliki esensi roh yang sama, atau seseorang yang melakukan kultivasi ganda. Efek samping dari metode ini adalah jiwa seakan terbakar dan tubuh tercabik-cabik. Namun jika kau bisa tetap bertahan, bukan hanya raga tubuhmu yang meningkat pesat sebanyak 2 tingkat, melainkan kontrol dasarmu akan mencapai tingkat tinggi. Apa kau siap..?" Tanya Flares memastikan.
Asta mengangguk-angguk, "Kapanpun guru memulai, aku siap!" Jawabnya penuh percaya diri.
"Kalau begitu, bertahanlah, muridku,"
Flares mengalirkan api dari tangannya pada tubuh Asta melalui pundaknya. Api pemakan cahaya menjalar masuk ke seluruh tubuhnya, membakar segala bentuk ketidakmurnian yang ada pada tubuhnya.
Awalnya Asta tak merasakan sakit apapun, sampai kemudian efek samping yang gurunya katakan mulai terasa.
Flares melepaskan kedua tangannya, "Guru hanya bisa membantumu sampai di sini. Untuk selebihnya, tergantung pada usahamu. Namun, asal kau tahu, kau harus tetap terjaga agar berhasil. Karena kalau kau sampai tidak sadarkan diri, kau akan mati terbakar oleh esensi rohmu sendiri,"
Asta menarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk tetap fokus dan menahan rasa sakit yang semakin menggila di dalam tubuhnya. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kultivasinya dengan pesat. Pandangannya berkonsentrasi pada api pemakan cahaya yang membara di dalam dirinya, mengingat setiap detail dan sensasi yang dirasakannya. Setiap detik terasa seperti keabadian, dan Asta bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membuang kesempatan ini.
Waktu berlalu dengan lambat, tetapi bagi Asta, sepertinya berlangsung selamanya. Dia merasa tubuhnya terbakar, namun dia juga merasakan kekuatan baru yang mengalir melalui setiap seratnya. Semakin lama, api pemakan cahaya semakin mereda, dan ketika Flares mencabut tangannya, Asta merasakan energi yang menyatu dengan tubuhnya. Dia berhasil melewati ujian berat ini dan meraih kemajuan yang luar biasa dalam latihannya.
__ADS_1
Flares tersenyum puas melihat semangat dan ketekunan Asta. "Bagus sekali, muridku! Kau telah berhasil melewati ujian ini dengan gemilang. Kultivasimu pasti akan melonjak pesat setelah ini. Tetapi ingat, kemajuan yang kau peroleh hanya sebanding dengan usaha yang kau berikan. Jangan pernah lupakan niat tulusmu dan tekadmu untuk menjadi lebih kuat," ucap Flares dengan penuh semangat.