
Keesokan harinya, Kenshin terlihat membawa pedang saat menuju ke arah hutan.
"Kenshin! Kamu mau pergi ke mana dengan itu...?" tanya seorang gadis seusianya memanggilnya, Kesha Timber.
Gadis itu adalah Kesha Timber, berusia 7 tahun. Dia sangat ceria, cenderung khawatir, dan suka memasak.
Kenshin membalikkan kepalanya, "Maukah kamu ikut...?" tanya Kenshin.
"Kebetulan Asta juga berada di sana."
"Ehh...?! Serius? Padahal dulu dia menolak, bukan...?" Kesha memegang dagunya.
"Baiklah, jika begitu aku akan ikut. Aku juga ingin melihat perkembangannya selama 3 bulan ini."
---
Sesampainya di hutan, terdengar suara keributan dari seseorang. "Bukankah itu suaranya?" ujar Kesha.
"Tapi sedang apa dia berbicara sendirian?" timpal Kenshin bingung.
Mereka berdua mengendap-endap mendekati sumber suara tersebut, dan melihat orang itu sedang berbicara sendiri.
"Kenshin! Apa yang temanmu itu lakukan?" bisik Kesha, bersembunyi di balik pohon sambil mengintip bersama Kenshin.
Kenshin memegang dagunya, "Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh bocah 7 tahun itu. Hei! Dia juga temanmu!" timpal Kenshin balas berbisik.
"Kita juga masih 7 tahun, bodoh!" balas Kesha. "Kita harus kembali sekarang juga sebelum dia semakin aneh. Mungkin ayahmu bisa membantunya," ajaknya.
"Tunggu dulu. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Moegi?" tanya Kenshin padanya.
Kesha memegang dagunya, "Mungkin saja," jawab Kesha.
"Kalau begitu, ayo kita cari Moegi sekarang," ajak Kesha sambil menarik tangannya.
Namun sebelum mereka pergi, sebuah anak panah tiba-tiba meluncur cepat ke arah mereka berdua. Dengan sigap, Kenshin menepis anak panah tersebut dengan pedangnya.
Di sisi lain, Asta tersenyum pada mereka, "Tidak sopan mengintip seperti itu," ujarnya sambil menyembunyikan rasa malu.
Siapa sangka ada orang yang melihatnya sedang berbicara dengan Flares di hutan, meskipun tidak ada yang bisa melihat Flares.
"Guru, mengapa kamu tidak memberi tahuku kalau mereka ada di sekitar sini?" bisik Asta pada Gurunya.
"Bagaimana sekarang aku harus memberi alasan kepada mereka?"
Flares tertawa terbahak-bahak, "Katakan saja sedang latihan drama," ujar Flares sambil terus tertawa.
"Bukankah itu ide yang bagus?" kata Flares pada Ace, yang dijawab dengan anggukan dan tawa menahan.
Kenshin menaruh pedangnya kembali, "Apa kau masih marah padaku karena kemarin?" Kenshin mendekatinya.
Setelah berdiri di samping Kenshin, Kesha terpesona melihatnya dari ujung rambut hingga kaki, "Tidak mungkin! Bagaimana kau bisa berkembang begitu cepat dalam 3 bulan?" ujarnya dengan tidak percaya. Dia bahkan mencoba membandingkan tinggi badannya, dan Asta sekarang jauh lebih tinggi darinya.
Asta hanya tersenyum mendapati pertanyaan itu. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Dibandingkan itu, aku lebih tertarik dengan peningkatan ini. Esensi roh benar-benar memberikan perkembangan yang signifikan padamu," ujar Kenshin membicarakan tentang kemampuan esensi roh Asta.
Mendengar hal itu, Kesha semakin terkejut. Sekarang dia menyadari bahwa Asta hanya membutuhkan setengah langkah lagi untuk mencapai Ranah Pemula saat ini.
"Aku pergi! Bagaimana bisa aku kalah darinya yang baru berlatih satu hari?" ujarnya kesal sambil meninggalkan mereka berdua.
"Kesha! Kau mau ke mana?" panggil Kenshin.
"Aku akan berlatih!" jawabnya singkat.
Dari arah yang berlawanan, terlihat tiga anak berjalan mendekat. Salah satunya adalah seorang perempuan.
Mereka adalah Shiro Nekoshi, Zaraki Onoki, dan Asila Moegi. Ketiganya masih berumur 7 tahun.
Shiro Nekoshi adalah seorang anak laki-laki yang pendiam, misterius, dan memiliki ambisi yang tinggi. Sementara itu, Zaraki Onoki adalah seorang anak laki-laki yang usil, cerewet, dan sulit untuk diam. Sedangkan Asila Moegi adalah seorang gadis pemarah, jutek, namun memiliki sifat perhatian terhadap orang lain.
Melihat kedatangan mereka, Kesha mengurungkan niatnya untuk berlatih. "Moe! Cepat ikuti aku!" ajak Kesha sambil menarik Moegi.
"Ada apa? Tunggu! Tunggu dulu, Kesha!" ucap Moegi.
Shiro Nekoshi dan Zaraki Onoki membuka matanya lebar melihat seseorang tak jauh dari sana.
"Ah... Setelah sekian lama akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini lagi," ujar Zaraki Onoki lalu berlari menuju Asta.
Melihat Asta, mata Moegi langsung terbuka lebar. "Kesha, lepaskan aku. Aku bisa berlari kesana sendiri. Sudah sangat lama aku mencarinya," ujar Moegi dengan senyuman tipis.
"Baiklah, ayo cepat," ajak Kesha.
"Tentu saja!" Moegi melesat dengan cepat ke arah Asta, membuat Kesha tercengang.
Asta terkejut bukan main. "Sialan! Jika ku tahu kau membawa masalah, aku takkan mau berbicara denganmu saat ini," Asta bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ace, ayo pergi!" teriaknya.
"Brengsek! Ingin lari kemana, kau keparat!" teriak Moegi sambil melesat dengan cepat mengejar Asta.
Kesha menatap Kenshin penuh tanda tanya. "Apa yang terjadi di antara mereka berdua?" tanya Kesha.
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari kita semua," ujar Kenshin.
"Saat itu aku sedang berlatih di hutan. Tak sengaja kudengar suara teriakannya dan yang kudengar adalah Moegi yang berteriak bahwa ia mengintipnya saat sedang mandi di air terjun. Itulah yang terjadi," ujar Zaraki, mendapatkan pandangan tajam dari mereka.
"Aku curiga kau tidak sedang berlatih saat itu," ujar Shiro menuduhnya.
"Mana mungkin! Tentu saja aku sedang berlatih," Zaraki menampik tuduhan tersebut.
"Aku setuju denganmu, Shiro," ujar Kenshin dengan ketidakpercayaan terhadap Zaraki. Ia mengetahui sifat Zaraki dengan baik, kemungkinan besar saat itu Zaraki memang tengah mengintip Asila Moegi, dan Asta secara kebetulan melihat kejadian tersebut.
__ADS_1
---
Dua tahun empat bulan telah berlalu dengan cepat, dan waktu berjalan begitu cepat. Matahari baru saja muncul dari tidur panjangnya, menyambut dunia di ufuk timur. Di dalam rumah, Asta masih tertidur dengan nyenyaknya.
Ace melompat ke atas perutnya, "Bangunlah cepat!" teriaknya.
"Ace, kau terlalu keras!" Asta merintih sambil memegangi perutnya.
Setelah Asta terbangun, Ace pergi ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasak bersama Flares.
"Bagaimana rasanya?" tanya Flares, mengajak Ace mencicipi.
"Sudah pas," jawabnya.
---
Setelah sarapan selesai, Flares menanyakan, "Nak, apa keputusanmu?"
Flares menyodorkan Kitab Surgawi kepadanya.
Kitab Surgawi adalah buku yang berisi berbagai Seni Surgawi dalam tingkat yang sama. Kadang-kadang, dalam satu Kitab Surgawi tidak hanya berisi metode kultivasi, tetapi juga teknik bertarung dan hal-hal lainnya.
Asta meraih kitab tersebut, "Tentu saja aku akan membantumu, Guru. Sudah lama aku ingin melakukan perjalanan dan meninggalkan pedesaan ini," ucapnya sambil tersenyum.
"Namun, kau harus tahu bahwa membantu Guru bukanlah hal yang mudah. Akan ada banyak rintangan dan orang-orang kuat yang akan menghalangimu," kata Flares.
Asta mengangkat Ace dan mendekapnya dengan gemas, "Selama Ace ada di sisiku, aku tidak takut sama sekali. Lagipula, Guru sudah mengatakannya sejak dua tahun yang lalu, kan?" ucapnya sambil menciumi Ace.
"Aduh... Berhenti, bodoh!" kata Ace sambil memukul wajah Asta.
"Apa Guru memiliki rencana...?" Asta meletakkan Ace kembali di atas meja.
"Secara sederhana, Guru ingin mendapatkan tubuh baru, dan itulah sebabnya kau harus menjadi seorang Peracik dan Penempa," jelas Flares.
Asta terkejut, "Guru ingin hidup kembali?!" tanyanya dengan tidak percaya.
"Apakah itu benar-benar mungkin?!" lanjutnya dengan keraguan.
Flares tertawa pelan, "Tentu saja itu mungkin. Sebenarnya, Guru belum benar-benar mati. Sisa jiwa Guru ada di hadapanmu saat ini," kata Flares.
"Lalu, apakah ayah dan ibu bisa dihidupkan kembali?" tanya Asta dengan penuh harapan.
"Nak, konsepnya bukan seperti itu. Tidak semua orang seperti Guru dapat hidup kembali," Flares menggelengkan kepalanya.
Asta menghembuskan nafas berat, "Aku sudah menduga itu tidak mungkin," ucapnya.
"Kalau begitu, cepatlah mengemas semua barangmu dan masukkan ke dalam cincin," kata Ace.
"Eh?! Mengapa begitu terburu-buru? Bukankah kita akan pergi setelah aku mencapai Ranah Ahli...?"
Cincin yang ditinggalkan oleh Arai Ken adalah Cincin Jade Samudera, sebuah artefak penyimpanan. Artefak penyimpanan tingkat 1 saja memiliki luas 100 meter persegi. Semakin tinggi tingkatnya, semakin luas pula ruang penyimpanannya.
Selesai mengemas barang-barangnya, Asta pergi untuk mengunjungi Helio Utake di rumahnya dan memberikan pamitannya. Di sana, ia melihat Kenshin duduk sendirian di depan rumah dengan secangkir teh di hadapannya.
Kenshin terkejut, "Dari mana kau datang...?" ucapnya sambil berdiri.
"Dari rumah. Ayahmu ada di mana dia...?" Jawab Asta.
"Dia barusan ada di sini. Tunggu sebentar..." Kenshin mengambil kembali gelas tehnya. Namun, ia terkejut melihat gelasnya kosong.
"Apakah kau haus?!" ujar Kenshin dengan kesal.
"Aku melihatmu tengah melamun, aku tidak tega melihat tehnya menjadi dingin. Jadi, aku meminumnya," jawab Asta dengan alasan sambil menunjukkan wajah tak bersalah.
"Hah?!" Kenshin langsung melancarkan pukulan ke arah perut Asta. "Di mana sopan santunmu, sialan!" serangnya.
"Ukh-! Kenshin, kau seperti Moegi," ucap Asta sambil memegangi perutnya.
Kenshin kemudian menjatuhkannya ke tanah dan duduk di atas punggungnya. "Anak nakal sepertimu harus diajar pelajaran!" ujar Kenshin sambil mengambil sebilah pedang kayu di sampingnya.
"Ahhh! Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" teriak Asta kesal. Kenshin tiba-tiba membuka celananya.
"Kau yang brengsek...!!" balas Kenshin sambil melancarkan pukulan dengan pedang kayu itu ke arah pantat Asta.
"Ahh! Aduh! Baiklah, aku minta maaf! Aku minta maaf! Hentikan semuanya..!!" seru Asta.
Namun, bukannya menghentikan, Kenshin justru memperkuat pukulannya. "Sudah terlambat, sialan..!! Saatnya belajar..!!"
"Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!"
Pedang kayu itu dengan keras mendarat di pantat Asta, diiringi bunyi pukulan yang berirama.
"Paman Helio...!!! Kenshin menyiksaku..!!! Padahal aku datang ke sini untuk mengatakan hal penting padamu...!! Paman! Di mana kau...?!" teriak Asta memanggil Helio Utake.
Kenshin tidak menghiraukannya dan terus memukulinya. Sesaat kemudian, Helio datang sambil menggelengkan kepala pelan saat melihat adegan itu. Seperti biasa, ia membawa nampan penuh makanan dan minuman.
Kenshin menghentikan aksinya karena kedatangan Helio. Asta mengeluarkan suara mendengus kesal.
"Ayo, mari kita makan dulu," ajak Helio Utake.
---
"Jadi, apa hal penting yang membawamu mencariku?" tanya Helio setelah makan.
"Secara singkat, aku ingin mengatakan keinginanku untuk pergi meninggalkan desa setelah mencapai Ranah Ahli. Perkembanganku terhambat jika hanya mengandalkan latihan di sini. Aku merasa pengalaman dari pertarungan nyata dapat membantu perkembanganku," jelas Asta.
Helio terkejut mendengar bahwa perkembangannya terhambat, "Bagaimana mungkin? Esensi rohmu adalah Roh Dewa, seharusnya tidak ada masalah dalam perkembanganmu."
Helio bingung antara membiarkan Asta pergi atau tidak, terutama karena tujuannya adalah mencari pengalaman nyata. Dia berpikir Asta akan meninggalkan desa untuk mencari masalah dengan orang-orang demi perkembangannya.
"Kultivasiku memang baik-baik saja, tapi perkembangan bela diriku semakin tertinggal dibandingkan dengan peningkatan ranahku," Asta menjelaskan beberapa alasan yang dia buat, meskipun sebenarnya pemahamannya tentang teknik bertarung tangan kosong tidak mengalami masalah.
__ADS_1
"Bukan maksud Paman untuk menahan perkembanganmu, tapi keadaan dunia di luar sana sedang kacau. Paman khawatir kau akan mencari masalah di tengah pertumpahan darah yang sedang terjadi di mana-mana. Dengarkan, hanya di sini kau bisa hidup dengan nyaman dan damai..." ucap Helio berusaha membujuknya agar tidak pergi meninggalkan desa.
Namun, Asta terlihat semakin tertarik daripada ragu. "Justru ini adalah kesempatan bagiku untuk meningkatkan reputasiku," ucap Asta dengan senyuman puas yang membuat Helio kehilangan kata-kata.
"Selain itu, Paman Helio juga tahu bahwa tujuanku dalam kultivasi bukan hanya untuk berdiam diri, tapi juga untuk mencari keberadaan ayah dan ibu," tambahnya, membuat Helio semakin putus asa.
"Jika kau ingin mendapatkan pengalaman melalui pertarungan, aku bisa menjadi lawanmu. Kita bisa melakukannya setiap hari jika kau mau," tawar Kenshin.
Asta menghela nafas. "Alasanku bukan hanya tentang mencari pertarungan. Ada alasan lain mengapa aku sangat ingin pergi meninggalkan desa," jawabnya.
"Paman, kuharap kau tidak menghalangi perkembanganku. Bukankah kau setuju untuk membantuku membalas dendam...?" desak Asta agar Helio membiarkannya pergi meninggalkan desa.
Helio menghembuskan nafas panjang. "Meskipun Paman melarang, akankah kau mengikuti keputusan Paman...?" ujar Helio menyerah.
"Tapi ingatlah pesan ini, desa ini akan selalu menjadi tanah kelahiranmu. Jika kau lelah dan butuh istirahat, kau bisa pulang. Kami semua menunggumu," pesan Helio.
Asta menganggukkan kepala sambil tersenyum bahagia. "Tentu saja," meskipun diberi izin, Helio juga memberitahunya tentang Hewan Kuno.
"Sebelum kau pergi, ini mungkin pelajaran terakhir yang akan Paman berikan, tentang Hewan Roh. Ada banyak keuntungan yang bisa kau dapatkan jika kau bisa membuat kontrak dengan mereka," meskipun sebenarnya Asta sudah tahu tentang hal itu dari Gurunya, ia tetap memilih mendengarkannya.
Hewan Roh merupakan makhluk yang telah mengalami evolusi dan memiliki kekuatan serta kecerdasan Roh Hewan yang unik. Tingkatan Hewan Roh terbagi dalam 11 tingkatan yang sejalan dengan tingkatan kultivasi.
Kontrak Perjanjian Roh adalah metode di mana seorang kultivator dapat mengikatkan esensi rohnya dengan esensi roh Hewan Roh. Hal ini memungkinkan mereka untuk saling memperoleh kekuatan satu sama lain. Kontrak Perjanjian Roh terjadi ketika kedua belah pihak setuju dan saling mengakui untuk mengikatkan esensi roh mereka.
Kontrak Perjanjian Roh ini akan berlaku sampai salah satu dari mereka meninggal. Artinya, kedua pihak akan mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan dan saling tergantung sampai salah satu dari mereka mengakhiri hidupnya.
"Sebagaimana kau tahu, Hewan Roh merupakan makhluk yang cukup keras kepala dan arogan. Mereka hanya akan bersedia membuat Kontrak Perjanjian Roh jika kau mampu mendapatkan pengakuan mereka. Namun, sepertinya kau dapat menjalin perjanjian dengan Ace. Perlu kau ketahui, dia bukan serigala biasa," ujar Helio membocorkan rahasia yang sebenarnya sudah diketahui oleh Asta.
Melihat ekspresi Asta, Kenshin menebak, "Sepertinya kau berniat menjadikan Ace sebagai Hewan Rohmu, bukan...?"
Asta tersenyum mengiyakan, "Meskipun begitu, tetap Ace yang akan menentukan. Jika ia benar-benar tertarik untuk mengikutiku, maka aku akan menjadikannya Hewan Rohku. Namun, jika tidak, ia bebas memilih untuk kembali hidup bebas di hutan." Asta tahu betapa kuatnya Ace saat mereka bertarung bersama, dan ia sama sekali tidak berniat memaksanya.
"Baiklah, syukurlah," Helio menghela nafas lega mendengar Asta tidak akan memaksakan keputusan tersebut. Setelah Helio selesai menjelaskan tentang Hewan Roh secara detail, Asta mengucapkan pamit untuk melanjutkan latihannya.
"Asta! Kemana lagi kau pergi?! Jangan-jangan kau lupa dengan kata-katamu dua tahun yang lalu," Kenshin menahan pundak Asta agar tidak pergi.
Selama ini Kenshin masih penasaran dengan apa yang Asta katakan dua tahun lalu, apakah itu hanya pembualan atau Asta benar-benar serius mampu mematahkan serangannya dengan gerakan sederhana.
"Kuharap kau siap menerima tantanganku kali ini untuk membuktikan ucapanmu dua tahun lalu," Kenshin menantangnya.
"Ahh... Hampir saja aku melupakannya, untungnya kau mengingatkanku," ujar Asta menerima tantangan tersebut dengan antusias.
"Mari kita lihat apakah kau tetap sombong setelah kalah untuk kali kedua," ujar Kenshin dengan pandangan meremehkan.
Helio tersenyum melihat semangat putranya, "Baiklah. Jika begitu, biarkan aku menjadi penengahnya," ujarnya menawarkan diri.
"Apakah kau yakin tidak membutuhkan sesuatu?" tanya Kenshin meremehkan.
"Siapa tahu kau membutuhkan pelindung," lanjutnya, hanya dijawab dengan senyuman.
Setelah Helio memulainya, Kenshin meluncurkan serangan pertamanya dengan santai, namun Asta berhasil menghindarinya dengan berhasil.
"Berkat latihan panjangku bersama Ace, sekarang aku bisa melihat pergerakannya dengan sangat jelas. Dibandingkan dengan Ace, gerakannya masih terlalu lambat," Asta mengamati.
Pertarungan terlihat seimbang, meskipun Kenshin lebih dominan dalam menyerang, Asta dengan mudah menghindari serangannya.
"Teknik yang sama tak akan berguna bagiku," seru Asta.
"Aku masih belum menggunakan semua kemampuanku. Ini baru permulaan," balas Kenshin.
Kenshin menyadari bahwa serangannya mudah diblokir, lalu ia mengubah pola serangannya menjadi tusukan.
Melihat Kenshin semakin serius menyerang, Helio terlihat khawatir dan ingin menghentikan pertarungan mereka. Namun sebelum itu, Asta memberi kode kepada Helio agar tak perlu khawatir dan tidak berniat menghentikan pertarungan.
Pertarungan terus berlanjut. Dengan pola serangan yang terus berubah, Asta mulai terpojok. Ia kesulitan membaca pola gerakan Kenshin.
"Aihhh... Apa kau sudah menyerah? Bagaimana dengan ucapanmu?" ejek Kenshin.
Asta terlihat tidak mempedulikan ejekan tersebut dan lebih memilih untuk terus mempelajari dan menghindari serangannya.
"Membosankan... Sepertinya kau hanya membual. Aku harap kau bisa menghindari ini," kata Kenshin sekali lagi.
"Seni Surgawi Menengah Hitam! Tusukan Pembunuh!" Kenshin melompat mundur dan siap menyerang dengan menusukkan pedangnya.
Asta menyadari bahwa ia tidak bisa menghindari serangan tersebut. "Seni Surgawi Rendah Emas! Pukulan Peremuk Raga!" Cahaya panas berkumpul di sekitar tangannya.
Dalam satu gerakan, Kenshin meluncur maju, dan dengan senang hati Asta menyambut ujung pedangnya dengan menggunakan pukulannya.
"Praaanng!"
Dengan satu pukulannya, Asta berhasil menghancurkan pedang tersebut hingga memukul dada sebelah kiri Kenshin. Kenshin terpental ke belakang dan mendarat di atas tanah dengan penuh keterkejutan, memandangi pecahan logam pedangnya. Tanpa pedangnya, tentu saja ia tidak bisa melanjutkan pertarungannya.
Meskipun Asta telah memperoleh kemenangan, ia tidak terlihat puas sama sekali. "Apa maksud dari jurusmu tadi? Apakah kau berniat membunuhku?!" Asta mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Apa yang kau bicarakan? Kau yang ingin membunuhku. Katakan saja bahwa kau sedang mengejekku, sialan!" bantah Kenshin.
"Baiklah, baiklah. Jangan perdebatkan lagi. Kalian berdua istirahatlah sejenak. Aku masih memiliki urusan yang harus ku urus, jadi aku pergi dulu," ujar Helio meninggalkan mereka berdua.
Setelah Helio tidak terlihat lagi, Asta tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan, brengsek?!" seru Kenshin kesal melihat Asta tertawa.
"Hahaha... Tentu saja itu lucu bagiku melihat ekspresi wajahmu tadi," ucapnya sambil menunjuk wajah Kenshin.
Kenshin tidak mempedulikannya. Setelah selesai tertawa, Kenshin mulai bertanya, "Aku bingung dengan pemikiranmu. Padahal kau sudah mendengar dari Ayahku bahwa kondisi dunia saat ini sedang kacau. Mengapa kau masih begitu keras kepala ingin meninggalkan desa? Apakah ada yang salah dengan otakmu?" tanya Kenshin sambil menunjuk kepalanya.
Asta mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Kenshin, "Tentu saja aku ingin membuktikan kejantananku. Yakni dengan menaklukkan banyak wanita cantik di luar sana, barulah aku bisa disebut sebagai lelaki sejati. Tidak sepertimu, pandangan dan tujuan hidupku sangat jelas," bisik Asta padanya. Setelah itu, ia kembali ke tempat duduknya semula.
Kenshin tersenyum, terpikir sesuatu yang dapat membuatnya kesal. "Bagaimana dengan Asila Moegi? Apa yang akan kau lakukan padanya? Apakah kau benar-benar akan membuangnya begitu saja setelah melecehkannya? Apa kau memang sebrengsek itu?" ujar Kenshin.
Mendengar nama Asila Moegi disebutkan, tatapan Asta menjadi tajam. "Tidak mungkin aku menyukai gadis tukang pukul seperti dia. Terlebih lagi, waktu itu aku tidak sengaja mengintipnya," elak Asta.
__ADS_1
Kenshin pun tertawa mendengarnya. "Lalu apa bedanya? Tetap saja kau telah melecehkannya. Hahaha...!" ucap Kenshin menertawakannya.
"Ah, sialan!" Mendengar Kenshin yang tak henti-hentinya menyebutkan nama Asila Moegi membuat Asta semakin kesal. Asta kemudian membangunkan Ace dan mengajaknya pulang, meninggalkan Kenshin yang masih terlihat menertawakannya.