
Tanpa membuang waktu lebih lama, Taki Garaki berpamitan untuk melanjutkan pencariannya. Dengan izin dari Joashua Ramier, ia bisa menjelajahi sepanjang perbatasan.
Taki Garaki memulai pencariannya ke hilir sungai, matanya terus tertuju pada aliran sungai. Menemukan Asta Raiken adalah prioritas utamanya, meskipun belasan Hewan Ghaib kembali menghadangnya. Kali ini, tidak hanya Hewan Ghaib peringkat 3 dan 4, tapi ada satu di antaranya yang merupakan Burung Jengger Api tingkat 5, setara dengan Kultivator Ranah Senior, tingkatan Taki Garaki saat ini.
"Tampaknya ini akan semakin menarik," gumam Taki Garaki sambil mengeluarkan pedangnya, bersiap menebas mereka.
Meskipun menghadapi sekelompok Hewan Ghaib secara beruntun, Taki Garaki tidak gentar. Tebasan pedangnya tajam dan berbahaya, menunjukkan keahlian seni berpedangnya yang luar biasa.
Para hewan ghaib menerjang secara bersama, Taki Garaki mengayunkan pedangnya dengan gesit dan cekatan menghabisi siapapun yang mencoba menghadang jalannya.
Pertarungan berlangsung lama, menyalakan semangat perang. Taki Garaki terlihat sangat menikmati momen ini.
"Hari ini, sepertinya aku belum berlatih. Ayo, tunjukkan seluruh kekuatan kalian!" serunya penuh semangat.
Pertarungan ini memakan waktu lebih lama dari sebelumnya, namun akhirnya Taki Garaki berhasil mengalahkan mereka tanpa mengalami luka yang serius. Hal ini jarang terjadi bagi seorang kultivator saat menghadapi belasan Hewan Ghaib dengan tingkatan yang tak jauh berbeda. Taki Garaki memang salah satu jenius terkemuka di generasinya.
"Yuhu!!! Sepertinya dewi keberuntungan berpihak padaku!! Hahahahaha," teriak Taki sambil terus menghabisi setiap Hewan Ghaib yang datang menghadangnya.
Namun, saat ia berhasil menundukkan Hewan Ghaib peringkat 5, tiba-tiba hewan tersebut melarikan diri. Hal yang menjengkelkan baginya.
"Sial! Tak kusangka ia akan melarikan diri!" batinnya berteriak kesal.
Taki Garaki cepat mengumpulkan hasil kemenangan ke dalam cincin penyimpanannya. Sudah ada puluhan hewan ghaib di dalamnya sejak ia memasuki hutan. Setelah itu, ia melanjutkan menyusuri sungai.
Hingga akhirnya, Taki Garaki sampai di sebuah titik di mana ada puluhan hewan ghaib yang tengah mengerumuni sesuatu. Melihat hal itu, ia terkejut karena sepasukan hewan ghaib yang berada di depannya menatapnya dengan garang.
"Tidak mungkin begitu banyak Hewan Ghaib tingkat 4 dan 5 berkumpul sendiri. Pasti ada sesuatu yang mengundang mereka. Entah apa maksud dan tujuannya, tapi aku memiliki firasat. Mereka mungkin sedang menghambatku agar tidak bisa menyelamatkan Asta Raiken. Aku berharap ini hanya firasat semata," gumam Taki Garaki sambil memegang pedangnya, bersiap untuk bertarung.
"Pelepasan Roh Rajawali Awan Api, Zirah Tempur Awan Api!"
Taki Garaki mengambil sikap serius dalam menghadapi sekelompok Hewan Ghaib yang menghalanginya. Dia harus segera menemukan Asta Raiken.
Aura merah menyala muncul, menyelimuti tubuhnya sebagai perwujudan dari salah satu kemampuan Pelepasan Hewan Roh miliknya. Aura merah membentuk sebuah zirah tempur yang melindungi tubuhnya. Taki Garaki memegang erat pedangnya, bersiap untuk menyerang.
"Sekarang aku sedang terburu-buru, jadi untuk menghormati kalian, aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengakhiri pertarungan ini," kata Taki Garaki.
Dengan aliran sumber surgawi yang sedikit, pedang yang dipegangnya mengeluarkan bara api. Taki Garaki tersenyum hangat, menyambut serangan dari salah satu Hewan Ghaib.
Pertarungan besar pun terjadi di antara mereka. Satu per satu, hewan ghaib itu tumbang di tangan Taki Garaki. Pedangnya menari-nari di antara para hewan ghaib, menebas dan menusuk dengan lihai.
"Terasa begitu panas dan menyala. Artefak Roh-ku memang luar biasa. Terima kasih atas kontribusi kalian, setelah ini aku akan menembus Ranah Raja berkat kekuatan dari kalian semua," ucap Taki Garaki.
"Pelepasan Esensi Roh Kaisar Api Langit, Domain Bara Pemusnah!" seru Taki Garaki, mengeluarkan kekuatan penuh dari Pelepasan Esensi Roh miliknya untuk menghancurkan lawan-lawannya.
Taki Garaki melepaskan bara api esensi rohnya ke langit, meningkatkan suhu di sekitarnya secara drastis. Pepohonan mulai terbakar, rumput-rumput menjadi gersang, dan langit berubah memerah. Suhu ekstrim ini meluas sampai 500 meter di sekitarnya, bahkan Joashua Ramier yang sedang berbaring santai terkejut melihat langit memerah di kejauhan.
"Ah, sialan! Apa yang sedang dia lakukan di sana?!" gumam Joashua, melihat kerusuhan yang terjadi akibat pertarungan Taki Garaki dari kejauhan.
Joshua lalu berdiri dan mulai berjalan ke sana untuk memeriksa apa yang sedang dilakukan Taki Garaki, hingga membuat keributan seperti itu.
Seperti matahari yang mendekat turun ke bumi, langit berubah kemerahan, menciptakan perasaan tidak nyaman bagi siapapun yang melihatnya.
"Seni Surgawi Bumi Emas, Formasi 100 Pedang Pembunuh!"
Taki Garaki menciptakan formasi 100 pedang di atas langit. Dalam satu ayunan, hujan pedang menghujani para Hewan Ghaib tersebut. Puluhan Hewan Ghaib peringkat 3 dan 4 tewas seketika, menyisakan Burung Jengger Api peringkat 5 yang masih bertahan.
Burung Jengger Api itu memekik keras, memanggil bala bantuan lain untuk membantunya. Suaranya sangat keras sehingga merusak pendengaran sementara.
"Ah! Bagaimanapun caranya, aku harus bisa menjinakkannya hidup-hidup!" jerit Taki Garaki.
Tidak lama kemudian, datang lusinan Hewan Ghaib peringkat 4 yang terdiri dari Serigala Merah, Banteng Bertanduk Api, Rubah Berekor Panjang, dan Burung Jengger Api. Di antara bala bantuan tersebut ada Serigala Merah, Banteng Bertanduk Api, dan Rubah Berekor Panjang yang juga berperingkat 5.
Taki Garaki sedikit menelan ludahnya, "Sepertinya aku meremehkanmu sebelumnya, Burung Jengger Api. Tak kukira kau akan menurunkan martabatmu demi memanggil bala bantuan," ucapnya pada Burung Jengger Api yang kini menatapnya penuh emosi.
__ADS_1
Taki Garaki mengibaskan sayapnya, melepaskan aura bertarung di sekitar tubuhnya. Dibarengi dengan tekad dan zirah awan apinya yang berkobar, ia maju ke depan dengan penuh keberanian.
"Zhi Sam! Bantu aku menangkap keempat anak nakal ini!" teriak Taki Garaki, yang kemudian dibalas dengan suara pekikan tajam seekor Rajawali Awan Api yang melesat dengan cepat.
Rajawali Awan Api tersebut kemudian menukik tajam ke tempat dimana Taki Garaki berada. Pertarungan antara Taki Garaki bersama Hewan Rohnya melawan lusinan Hewan Ghaib tersebut pun meledak. Dentuman keras terdengar hingga ke tempat Joashua Ramier berada.
Namun, ia yang sudah tahu apa yang pasti sedang terjadi, mengabaikannya. "Sang Kaisar Kecil pasti tengah bertarung dengan sekelompok Hewan Ghaib," ucapnya kepada seorang yang datang membawakan pesan tentang dentuman tersebut.
Sementara Zhi Sam membantunya menahan sang Burung Jengger Api peringkat 5, Taki Garaki harus menghadapi lusinan Hewan Ghaib gabungan peringkat 4 dan 3, serta Hewan Ghaib peringkat 5.
"Seni Surgawi Langit Putih, Kultivasi Teknik Pengendali Yang,"
Teknik ini membuatnya dapat mengumpulkan aura panas yang ada di sekitarnya sebagai sumber surgawi tambahan. Meskipun terlihat efektif, apalagi dengan Domain Bara Pemusnah yang membuat sumber surgawinya seperti tak terbatas, tetap ada konsekuensi lain jika menggunakan metode seperti ini. Konsekuensinya adalah membebani tubuh sang pengguna teknik, dan yang terburuk adalah meledaknya organ dalam.
Meskipun jumlah Hewan Ghaib yang harus dihadapinya tidak sebanyak sebelumnya, bukan berarti pertarungan menjadi lebih mudah. Kali ini semuanya merupakan Hewan Ghaib peringkat 4, dengan tambahan Hewan Ghaib peringkat 5 di pihak mereka. Taki Garaki menyadari bahwa ia harus mengambil risiko dengan menggunakan metode berbahaya.
Ia memusatkan perhatiannya pada Serigala dan Rubah peringkat 5, karena merasa kedua-duanya memiliki kecepatan tinggi, yang menjadi penyebab kesulitan terbesar untuknya dalam mengalahkan mereka.
"Jika aku tidak bisa mengalahkan kalian, maka aku tidak pantas menjadi Kaisar Api Langit selanjutnya!" seru Taki Garaki.
Lalu, Taki Garaki memutarkan pedangnya pelan, menciptakan energi tebasan pedang yang membakar hutan sejauh puluhan meter.
---
Beberapa saat sebelumnya, tepat setelah Ace meninggalkan Asta Raiken bersama dengan Flares berdua di hutan, Ace yang saat itu sedang tertidur pulas seketika dikejutkan oleh suara ledakan yang Asta Raiken ciptakan di tengah hutan.
"Sebenarnya apa yang tengah dilakukan oleh guru dan murid itu, mengganggu waktu tidur saja," gerutunya dengan sedikit kesal.
Dengan cepat, Ace bergegas meninggalkan rumah menuju suara ledakan untuk memastikan keselamatannya. Dengan kecepatannya, Ace melesat beberapa kali lipat lebih cepat dan tiba lebih dulu sebelum rombongan Taki Garaki sampai di tempat tersebut.
"Kemana bocah keparat itu lari?" matanya menyisir area hutan yang terbakar, namun Ace tak menemukannya dimanapun.
Karena tak bisa menemukannya hanya dengan mengandalkan penglihatan, pendengaran, dan penciuman, Ace kemudian menggunakan persepsi aura untuk mencarinya berdasarkan aura keberadaannya. Saat itu, ia juga merasakan aura keberadaan rombongan Taki Garaki yang hampir sampai di lokasi.
"Astaga, habis sudah nasib bocah nakal itu. Hahahahaha," batinnya sambil mengapresiasi langkah tenang yang Taki Garaki ambil dalam menyikapi permasalahan tersebut.
Setelah rombongan itu pergi, baru Asila Moegi melancarkan aksinya mengejar Asta Raiken memasuki Hutan Surgawi lebih dalam.
Kali ini hasilnya ternyata tak sama seperti pagi tadi, Ace cukup terkejut melihat Asta dapat menghindarinya kali ini dengan menceburkan diri ke sungai perbatasan. Namun yang membuatnya kemudian tertawa terbahak-bahak adalah Asta Raiken yang malah muncul di permukaan sungai sisi yang lain.
"Hahahahahaha…! Itu sama saja lepas dari mulut harimau malah masuk mulut buaya!" Gumam Ace sambil tertawa terbahak-bahak.
Situasi terus berlanjut hingga sampai pada situasi Asta yang dicegat oleh Joashua Ramier. Ace semakin tertawa melihatnya menantang seseorang yang ranahnya tiga tingkat di atasnya.
"Heh?! Mencoba menantang seseorang yang 3 tingkat di atasnya bukan berarti hebat, tapi bodoh!" Gumam Ace.
"Hmm? Sepertinya aku punya hiburan lain. Aku akan memancing Hewan Ghaib apa ya?" Ace dapat merasakan keberadaan Taki Garaki dari beberapa kilometer jauhnya. Dengan satu kibasan bulunya, lusinan Hewan Ghaib langsung bermunculan.
Setelah selesai memanggil para Hewan Ghaib, Ace turun dari atas pohon dan mengikuti Asta Raiken yang terbawa arus sungai untuk segera membawanya pulang.
"Dasar orang tua. Dia pasti tertidur pulas di dalam cincinnya," ujar Ace dengan nada sedikit malas.
"Pak tua itu benar-benar gegabah membiarkannya berlatih Kitab Surgawi Dewa Hitam Dewa Api Kegelapan sendirian. Kalau tidak buru-buru pergi dari sini, lama-kelamaan ia bisa-bisa membakar habis Hutan Surgawi dengan apinya," gumamnya lagi sembari mencari tubuh Asta Raiken.
Setelah beberapa saat, Ace akhirnya berhasil menemukannya yang tengah hanyut di sungai. Ace kemudian melompat ke sungai dan menariknya keluar. Setelah membawanya ke pinggiran sungai, Ace mengibaskan bulunya yang basah.
"Kalian boleh pergi jika kalian berhasil membuatnya kelelahan," perintah Ace pada lima Hewan Ghaib peringkat 5 tersebut.
Sebelum pergi, ia meninggalkan catatan di atas tanah yang bertuliskan "KINERJAMU SANGAT BAGUS, AKU MENYUKAINYA. AKU AKAN MEMBERITAHUKAN INI KEPADANYA."
Setelah itu, Ace kemudian menggigit baju Asta Raiken dan mulai membawanya kembali ke pemukiman. Terlihat jelas warna langit yang memerah dan suara pertarungan yang samar-samar terdengar dari kejauhan.
---
__ADS_1
Setelah beberapa jam pertarungan tersebut, Taki Garaki hanya terduduk menghembuskan nafasnya pelan melihat keempat Hewan Ghaib peringkat 5 itu melarikan diri.
"Aku minta maaf, Patriark. Sepertinya aku gagal kali ini, andai aku lebih gigih meningkatkan Raga Tubuh-ku mungkin aku bisa melalui ini dengan mudah dan takkan biarkan keempat hewan ghaib itu melarikan diri," gumam Taki Garaki pelan. Nafasnya yang terengah-engah menggambarkan betapa melelahkannya pertarungan tersebut. Di sisinya, Zhi Sam pun terbaring sama lemahnya.
Pakaian yang dikenakan oleh Taki Garaki bahkan kini lebih terlihat seperti sobekan kain yang hanya disampirkan. Tak sedikit goresan luka yang diterima oleh tubuh mereka berdua.
Setelah tubuhnya sedikit pulih, Taki Garaki segera mengambil dan memasukkan seluruh bangkai hewan ghaib tersebut ke dalam cincin penyimpanan miliknya.
Matanya berbinar melihat catatan yang Ace tinggalkan, "Jadi begitu. Pantas saja Hewan Ghaib peringkat 5 itu pergi setelah aku kelelahan," Taki Garaki tersenyum tipis melihat pesan tersebut. Ternyata semua ini hanyalah ujian yang Ace sengaja tinggalkan untuknya.
Ketika Taki Garaki ingin memasukkan hewan ghaib yang terakhir, tampaknya cincin penyimpanannya sudah penuh. Taki Garaki menghela nafas panjang, tetapi senyuman masih terpampang jelas di wajahnya.
"Aihh, sudah penuh ya. Tampaknya penting untuk mengupgrade Cincin Jade Samudera ini. Mungkin esok atau lusa aku harus pergi ke Asosiasi untuk mengupgradenya sekaligus menjual hasil buruan ku," gumam Taki pelan. Dalam hatinya, ia sedikit sebal pada Ace namun di sisi lain ia juga berterima kasih.
Tanpa sadar, hari pun mulai gelap. Taki Garaki baru menyadari bahwa pertarungannya berlangsung berjam-jam dan kini hari mulai larut.
"Mungkin ada baiknya aku bermalam dan mengolah daging banteng di sini. Untuk permatanya mungkin masih muat jika dimasukkan ke dalam cincin. Sedangkan untuk tulang dan tanduk banteng ini, mungkin aku harus memanggulnya ke Sekte," Taki Garaki pun mulai menyalakan api dan memutuskan bermalam di hutan pada malam tersebut.
Tak lama setelah ia menguliti daging banteng, terdengar derap langkah seseorang yang mendekat. Saat Taki Garaki berbalik melihat ke arah suara tersebut, terlihat Joashua melambai-lambaikan tangan sembari menggenggam giok penanda identitasnya. Karena pertarungan Taki Garaki ini berada di wilayah Provinsi Huo Tanah Api Suci, Joashua Ramier harus mengeluarkan giok penandanya agar sistem formasi penghalang dapat membacanya, seperti saat Taki Garaki memasuki wilayah Provinsi Senlin Hutan Mistik.
Taki Garaki mengangguk pelan, dan setelah itu Joashua pun berlari menapaki air mendekatinya.
"Kupikir kau mungkin akan bermalam di sini setelah melakukan pertarungan seperti itu dalam waktu berjam-jam," ucap Joashua sambil mencoba menilai kondisi Taki Garaki.
"Hahahahaha, jadi kau melihatnya ya. Tapi darimana kau melihatku bertarung? Sungguh mengesankan, aku tak bisa merasakan keberadaanmu dimanapun saat itu," tanya Taki Garaki.
"Bagaimana tidak? Meskipun aku tidak berada dalam radius jangkauanku, Kaisar Api Langit bukanlah hal yang bisa diabaikan saat dilepaskan. Bahkan para anggota Ras Elf yang lain pun sempat melihatnya. Aku bahkan sempat khawatir kau akan menghanguskan hutan saat melihatmu mengerahkan seluruh kemampuan dan tenagamu," kata Joashua Ramier, mengagumi Pelepasan Esensi Roh Kaisar Api Langit yang sebelumnya Taki Garaki lepaskan ke langit.
"Hahahaha, mana mungkin aku melakukannya. Bisa-bisa para orang tua itu akan mengomel sepanjang hari. Aku tak sanggup mendengarnya," jawab Taki Garaki dengan senyuman senang. Joashua pun ikut tertawa terbahak-bahak ketika Taki Garaki menyebutkan para orang tua, yang mana ia tahu siapa yang dimaksud Taki Garaki.
"Lalu bagaimana dengan pencarianmu..?" tanya Joashua penasaran.
Taki lalu terkekeh sambil menunjukkan catatan yang di tinggalkan Ace, membuat Joashua tertawa terbahak-bahak setelah membacanya. Ternyata semua itu hanya ujian yang ditinggalkan Ace untuk Taki Garaki.
---
Keesokan harinya, Asta Raiken pun terbangun dari tidurnya, pikirannya merasa aneh karena ada sesuatu yang mengganjal, teringat kembali kejadian kemarin.
"Apa yang terjadi? Bukankah Elf itu telah membunuhku?" Ucapnya bingung, menyadari bahwa kondisinya dalam baik-baik saja, padahal ia yakin bahwa pria Elf itu telah menusuk perutnya.
Ia mencoba mengingat nama pria Elf itu, tetapi sebelum ia berhasil mengingatnya, seseorang datang mengetuk pintunya pagi-pagi. Asta Raiken pergi melihat siapa yang datang.
"Kukira siapa. Ada apa kau datang pagi-pagi begini… Ukh?! Apa yang kau lakukan, brengsek?!" terkejut Asta Raiken saat Kenshin Utake secara cepat melayangkan tinjunya ke arah perutnya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan sebenarnya di hutan kemarin?! Apa kau gila berusaha membakar hutan seperti itu?!" Bentak Kenshin Utake dengan nada marah.
Asta Raiken hanya tersenyum canggung mendapati pertanyaan itu. Memang itu adalah salahnya, jadi ia tidak bisa mengelak dari kenyataan tersebut.
"Saat ini dan seterusnya, ku harap kau tak melakukannya lagi, atau orang-orang tua yang duduk di kursi itu akan datang kemari dan marah-marah. Kau tak tahu kan betapa menakutkannya saat para orang tua itu marah? Kalau itu aku, aku pasti pingsan mendengarkan omelannya sepanjang hari," ucap Kenshin Utake, menyampaikan pesan tersebut dengan serius.
"Orang-orang tua?" Asta Raiken mengulanginya.
"Mereka adalah para Dewan Provinsi. Orang-orang yang bertugas mengatur keamanan dan ketentraman provinsi. Bukankah aku dulu pernah memberitahumu soal ini? Mengapa kau melupakannya, bodoh!" tegur Kenshin Utake.
Setelah menyampaikan pesan itu, Kenshin Utake pulang untuk berlatih. Asta pun mengangguk dan membiarkannya pergi.
"Tak pernah Guru duga sebelumnya bahwa latihan kemarin akan mendorong kultivasimu dengan cepat. Kini kau harus segera memurnikan rohmu dan menembus Ranah Ahli secepatnya, muridku," ucap Flares yang tiba-tiba muncul, mengejutkannya.
"Guru! Kau kemana saja dari kemarin?! Apa kau tahu muridmu ini hampir saja mati dibunuh elf!" ujar Asta kesal mengingat kemarin Flares tak membantunya sama sekali.
"Maaf. Tapi kemarin demi membantumu, Guru kehabisan sumber surgawi sehingga perlu tidur. Jadi sekali lagi, Guru minta maaf," ucapnya sambil tersenyum canggung seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan.
Asta Raiken mampu mencium kebohongan dalam senyumannya, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak membahasnya lebih lanjut. Pikirnya, hal itu sudah berlalu dan mengganggu, ya sudah, lupakan saja.
__ADS_1
Setelah itu, mereka pun bersiap-siap untuk makan pagi bersama. Ace yang juga baru terbangun dari tidurnya menceritakan semua hal yang terjadi kemarin. Asta Raiken akhirnya mengingat siapa nama pria itu dan juga siapa yang membawanya pulang. Mereka semua berbicara tentang petualangan dan pengalaman mereka sepanjang makan pagi.