
Kenshin merenungi apa yang Helio katakan di dalam kamar, meninggalkan sekte atau melawan hukum surgawi, keduanya adalah pilihan yang berat baginya. Kenshin menyesal telah mempelajari ilmu pedang tak berwujud pemberian dari pamannya, karena hal itulah yang membawanya ke keadaannya yang sekarang.
Akan tetapi, justru karena peristiwa ini Kenshin akhirnya tau, siapa ibu kandungnya yang selama ini Helio sembunyikan darinya. Ada perasaan senang, juga ada perasaan kecewa di dalam hati. Segala perasaan pun bercampur aduk menjadi satu.
"Ayah, maafkan aku. Mungkin ini memang takdirku, kuharap ayah tidak kecewa padaku yang harus memilih untuk menemui ibu. Padahal selama ini, ayah-lah yang paling berjasa dalam perkembanganku. Namun saat sekarang, aku terpaksa harus pergi dari sekte.." gumamnya pelan.
Kenshin merebahkan diri di atas kasur, menatap langit-langit di kamarnya. Bagaimana pun Helio merupakan salah seorang Tetua Aula Balai Pelatihan, jika ia sebagai putranya pergi meninggalkan sekte tanpa persetujuan Patriark, kemungkinan yang akan terjadi adalah Helio akan menanggung hukumannya. Bisa saja Helio di copot dari posisinya sebagai Tetua Aula Balai Pelatihan.
Kenshin masih termenung di ruangannya sampai malam tiba, sampai saat ini ia masih belum bisa membuat keputusan. Antara tetap tinggal di sekte dan menjadi manusia biasa, atau pergi meninggalkan sekte berlatih dibawah arahan pamannya.
Sesekali, Helio mengetuk pintu dan menanyakan apakah putranya menginginkan makan atau sesuatu. Namun Kenshin hanya menjawab kalau dia tak sedang menginginkan sesuatu apapun itu.
Semalaman, Kenshin terus terjaga sampai matahari kembali menampakkan cahaya. Setelah terjaga semalaman, Kenshin akhirnya membuat sebuah keputusan. Kenshin membasuh wajahnya dengan air lalu pergi ke Aula Balai Pelatihan Bertarung, menemui Helio untuk memberitahukan keputusannya.
Kenshin memasuki aula mencari keberadaan ayahnya,"Ayah, apa kau di sini..?" Panggil Kenshin mengedarkan pandangannya.
Aula Balai Pelatihan Bertarung tampak cukup sepi, nampaknya tak ada siapapun yang ingin melakukan latih tanding saat ini. Helio terlihat memanfaatkan kesempatan luang ini untuk berlatih.
"Apa kau sudah membuat keputusan, Ken..?"
Kenshin mengangguk sambil membuang wajah, ia tak sanggup melihat ekspresi yang Helio tunjukkan padanya. Helio mengerutkan dahi melihat sikapnya.
"Kenshin, apapun keputusan yang telah kau buat, ayah akan selalu tetap mendukungmu. Jika sesuatu hal buruk terjadi dan kau membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk memberitahu ayah. Jangan khawatirkan ayah, justru ayah harap dengan adanya kau kita bisa menjalin hubungan dengan bangsa Dark Elf. Berlatihlah dengan tekun selama di Provinsi Yue, Bulan Beku," Helio memasang senyum palsu lalu menepuk kedua pundaknya agar tenang.
"Provinsi Yue, Bulan Beku? Bukannya Negara Tebing Tinggi..?" Tanya Kenshin heran.
"Karena bangsa Dark Elf punya cabang kekuatan di Provinsi Yue Bulan Beku, pamanmu pasti akan membawamu kesana. Ayah yakin dengan pasti, pamanmu akan melatihmu di Provinsi Yue Bulan Beku sampai turnamen tiba," terangnya.
Kenshin mengangguk mengerti sekarang.
"Bagaimana pun juga, pamanmu bukanlah orang sembarangan. Jika ayah diharuskan bertarung dengannya, ayah tak yakin bisa mengalahkannya sekalipun ayah mengeluarkan kekuatan penuh ayah. Mungkin saja akan berakhir imbang. Roh Bayangan Cahaya adalah warisan roh leluhur mereka. Oleh karena itu, hanya dengan mengikuti pamanmu, kau bisa mengkultivasikan esensi roh-mu sampai ke tahap tertinggi. Ingat pesan ayah.."
Kenshin menundukkan kepala, "Memang terdengar sederhana, seperti aku hanya perlu pergi dari sekte. Tapi bagaimana ayah akan menjelaskannya pada Patriark Rai..? Meskipun aku hanya seorang murid dalam, akan tetapi aku adalah putra ayah. Apapun yang aku lakukan pasti akan berakibat pada ayah," Tanya Kenshin.
"Jangan pikirkan itu, biar ayah yang menjelaskannya pada Patriark. Ayah lebih dulu mengenalnya, selain itu Patriark bukanlah orang yang sulit di ajak bicara. Patriark pasti akan mengerti hal ini. Jadi, jangan khawatirkan hal itu.." Helio mengacak gemas rambut Kenshin. Ia hanya tak ingin melewatkan kesempatan ini, sebelum putranya benar-benar pergi meninggalkannya. Karena Helio tahu, sekalinya Kenshin pergi, mungkin saja ia takkan kembali lagi.
Kenshin kembali ke rumah, bersiap untuk membereskan segala sesuatu yang akan ia butuhkan, seperti pakaian atau hal lainnya. Sembari menunggu malam dan ayahnya pulang, Kenshin berniat melatih gerakan ketiga ilmu pedang tak berwujud. Karena dua gerakan awal ia sudah cukup menguasainya dengan mahir.
Selama ini, meskipun Kenshin terlahir dengan roh dewa, ia tak pernah mengkultivasinya. Karena tak ada seni surgawi yang cocok di Sekte Kobaran Api Sejati, maka dari itu Kenshin memilih jalan berpedang seperti yang ayahnya ajarkan. Beberapa kali Kenshin seperti terpikirkan sebuah metode bertarung untuk menyatukan roh dan pedang, namun pemahamannya tentang jalan surgawi masih belum cukup, sehingga Kenshin pada akhirnya gagal. Karena untuk mencapai hal itu, Kenshin harus terlebih dahulu mencapai fase penciptaan roh dan pedangnya yang mana ia harus menerobos ke Ranah Master.
Meskipun roh bayangan cahaya sangat kuat, Kenshin tak bisa mengeluarkan potensinya. Sekalipun melatihnya, tanpa teknik kultivasi yang berkaitan dengan elemen roh bintangnya, kecepatan peningkatan ranah esensi rohnya sangat lambat. Berbeda saat mengkultivasikan jalan pedang dengan teknik kultivasi yang berkaitan dengan jalan pedang yang merupakan pemberian ayahnya.
Kenshin sempat iri melihat Asta terlahir dengan Roh Dewa Api Pemakan Cahaya yang memiliki daya penghancur yang kuat. Namun kemudian, Kenshin juga sadar bahwa ia pun sama dengannya, terlahir dengan roh dewa yang kuat. Perbedaannya adalah, Asta terlahir dengan roh dewa yang kuat di tempat yang tepat, sedangkan Kenshin tidak.
Kenshin menghela nafas lelah, hari sudah semakin gelap yang mana artinya tinggal menunggu waktu untuk segera meninggalkan sekte.
Di balik pintu belakang halaman rumahnya, Helio tengah berdiri menunggunya. Kenshin sedikit tersentak lalu meringis canggung.
"Gerakanmu masih kaku, nampaknya kau masih belum terbiasa, bukan? Sebelum kau pergi, ayah akan memperlihatkan caranya padamu.." Helio mengambil sebilah pedang kayu lalu berjalan menuju ke halaman belakang.
Helio mulai mengayun pedang kayu, melakukan beberapa langkah gerakan ayunan pedang. Kenshin melongo melihatnya.
"Ehh...?! Apa ayah mempelajarinya dari gerakanku tadi..?" Tanya Kenshin heran mengapa ayahnya bisa se-luwes itu.
"Tentu saja bukan. Dulu sekali, ibumu pernah mengajari ayah gerakan ilmu pedang tak berwujud. Karena bagaimana pun, ilmu tak pedang tak berwujud memiliki inti sebagai teknik berpedang. Meskipun ayah tak terlahir dengan roh bayangan, ayah memiliki kecepatan yang bisa menutupi kekurangan ayah," terangnya sambil tersenyum bangga.
Kenshin memasang wajah datar,"Kalau ayah sudah pernah mempelajarinya, lalu kenapa ayah tak mengajarkannya padaku..?" Tanyanya marah.
"Bukankah ayah selalu mengajari gerakan ini padamu..? Ibumu hanya mengajari ayah tentang gerakannya, tapi tidak dengan metode memasukan roh bayangan ke dalam pedang. Dan untuk gerakan-gerakan ini, ayah seringkali mengajarimu, tapi kau selalu berkata kecepatanmu lebih rendah dari ayah sehingga kau tak mampu mempelajarinya," ujarnya.
Kenshin meringis malu, setelah Helio mengatakan hal itu Kenshin jadi teringat akan latihan tersebut. Jika diingat-ingat, ternyata gerakan pertama hingga ketiga dari ilmu pedang tak berwujud adalah sesuatu yang pernah ayahnya ajarkan saat kecil.
Namun karena saat itu Kenshin hanyalah anak-anak, ia tak bisa mengikuti setiap gerakan ayahnya. Pada akhirnya Kenshin pun diberikan seni surgawi tebasan jiwa peringkat rendah emas untuk melatih kecekatan dan kecepatan geraknya, sampai ia mampu untuk melatih teknik tersebut. Saat itu Kenshin masih ingat ayahnya memberi nama teknik tersebut sebagai Tarian Pedang Pemicu Gerhana Bulan.
"Tarian pedang pemicu gerhana bulan merupakan inti dasar dari ilmu pedang tak berwujud yang terbagi menjadi tiga gerakan pertama ilmu pedang tak berwujud.." terangnya.
Kenshin mengangguk-angguk mengerti. Ia pun meminta ayahnya mengulang kembali gerakannya.
---
Hari pun semakin gelap, dan Kenshin telah siap untuk pergi kapanpun ia mau.
"Berhati-hatilah, jaga kesehatanmu.." pesan Helio singkat. Tatapannya mengiba melihat wajah putranya.
__ADS_1
"Iya, Ayah. Aku pasti akan mengingatnya,"
"Tolong sampaikan salam ayah pada ibu. Bilang padanya, ayah merindukannya," ucapnya sambil meringis malu.
Kenshin terkikik geli mendengarnya, "Iya, ayah. Aku pasti akan menyampaikannya pada ibu. Aku penasaran, seperti apa rupa ibu sehingga ayah dapat jatuh cinta padanya," ucapnya masih terkikik geli.
Setelah berpamitan dengannya, Kenshin melompat keluar dari jendela. Hal itu ia lakukan agar tak terlalu menarik perhatian orang-orang. Jadi, ia memutuskan untuk pergi dengan diam-diam tanpa berpamitan dengan yang lain. Pikirnya, berpamitan dengan rekan-rekannya hanya akan membuat semuanya terasa menyakitkan.
Di balik jendela, Helio menggendong lengannya memperhatikan putranya meninggalkan kediamannya. Kenshin melompat dari atas rumah ke rumah lainnya, menjauh dari kediaman ayahnya.
"Aku harap, dengan bersamanya, kecepatan latihanmu pasti meningkat pesat. Ia pasti akan terkejut saat melihatmu," gumam Helio dalam hati.
---
Kenshin mempercepat langkahnya, ia takut aktivitasnya diketahui seseorang. Dalam kegelapan malam, Kenshin bergerak dengan sangat luwes, berlari menuju tembok kota. Kenshin tahu ada susunan aktif yang mengelilingi kota, jadi ia tidak bertindak gegabah dengan melompati tembok kota secara langsung.
Kenshin berjalan ke gerbang kota, beberapa penjaga yang berjaga terlihat sedang bercanda ria saat itu. Kenshin memikirkan rencana dengan hati-hati, agar bisa melewati gerbang kota tanpa masalah. Di salah satu atap rumah, Kenshin mencopot beberapa genteng. Ia menyusupkan sedikit sumber surgawi pada genteng tersebut, untuk menciptakan ledakan saat menyentuh tanah.
Kenshin melempar genteng itu ke segala arah, cukup jauh dari gerbang. Beberapa ledakan kecil seketika membuat para penjaga waspada. Mereka membagi kelompok untuk mengecek setiap arah ledakan.
Dengan demikian, gerbang kota pun ditinggalkan tanpa penjagaan. Tanpa berlama-lama, Kenshin melesat dengan cepat pergi meninggalkan kota melewati gerbang. Setelah lumayan jauh, Kenshin beristirahat sejenak menarik nafasnya dalam-dalam.
"Selamat tinggal, Ayah... Selamat tinggal, semuanya... Aku harap, suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali, juga dengan Asta. Jadi, tunggu saja kepulangan kami.." ucap Kenshin pelan sembari melihat ke arah kota.
"Apa kau berniat meninggalkan ku juga..?" Ujar seseorang yang sangat Kenshin kenali suaranya.
Baru saja Kenshin hendak pergi, seseorang datang menghentikannya. Moegi berdiri mematung tak jauh dari belakangnya.
Kenshin menoleh dan menemukannya yang menitikkan air mata, "Moegi... Kau, bagaimana kau bisa..?"
"Aku sudah menebaknya. Jauh sebelum kau memutuskan untuk pergi. Aku yakin, suatu saat kau pun pasti akan meninggalkan sekte. Kau dan dirinya sama, sama-sama ingin mencapai puncak. Jadi, mana mungkin kau hanya akan membiarkannya melangkah lebih jauh darimu. Ini pasti berkaitan dengan esensi roh-mu, bukan..?" Tebak Moegi.
Kenshin tak bisa berkata-kata, ucapannya seakan tersendat di tenggorokan. Kenshin hanya bisa menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, semoga kau berhasil. Suatu saat nanti aku pun pasti akan menyusul kalian.." ujarnya lalu pergi ke sekte dengan menitikkan air mata.
Kenshin hendak menghentikannya, namun ia tak bisa. Ia harus pergi sekarang.
"Ilmu Pedang Tak Berwujud Gerakan Ketiga, Bilah Pedang Tanpa Bentuk,"
Malam itu, Kenshin meninggalkan Sekte Kobaran Api Sejati untuk waktu yang tak dapat ditentukan.
Apa yang Kenshin rasakan memang benar. Tak hanya Moegi yang mengikutinya selama ini, orang tersebut adalah Shiro. Karena sedari awal, yang menebak hal itu adalah Shiro, dan Moegi hanya diberitahukannya.
Shiro berdiri mematung melihat Kenshin yang semakin jauh di dalam gelapnya malam. Ia pun memutuskan kembali untuk menyusul Moegi dan melaporkan kejadian tersebut.
"Maafkan aku, Ken. Tapi hal ini harus aku laporkan pada Patriark. Pantas saja, sepulang dari pergi dengan Moegi, kau bersikap sedikit aneh.."
---
Sorot mentari pagi menyinari dunia, menampakkan wajahnya yang cantik dan bercahaya indah.
"Apa yang terjadi denganku..? Apa aku tak sadarkan diri..? Sial! Bisa-bisanya aku tertidur saat latihan..," Asta meringis pelan saat mengangkat tubuhnya. Ada perasaan nyeri dan ngilu di tiap bagian tubuhnya.
Asta mengerutkan dahi melihat sekelilingnya tampak asing, tak seperti gua yang ia gunakan sebelumnya. Asta mencoba keluar dan ternyata benar saja, saat ini ia berada di gua yang ada di bawah.
"Apa guru yang memindahkan aku dan pot ini kemari.." gumam Asta kebingungan.
Tanpa memikirkan hal itu lebih jauh, Asta segera membersihkan badan. Setelah itu, ia memasak sebuah hidangan untuk dirinya sendiri juga gurunya.
Flares muncul dari dalam cincin sembari menguap lebar, ia terbangun setelah mencium aroma daging terbakar.
"Nak, kau sedang memakan sesuatu tapi tak membangunkan gurumu. Apa kau hendak memakannya sendirian?"
Asta menyodorkan makanan yang sudah ia siapkan pada Gurunya. Mereka berdua kemudian makan dengan lahap. Meski sudah beberapa kali ia melihat gurunya makan, tetap saja Asta masih terkejut melihat roh yang memakan makanan.
"Mau lagi..?" Asta menawarkan makanan lagi padanya.
"Tentu saja," ucapnya tak menolak.
Flares kembali memakan makanannya. Asta hanya terdiam memperhatikan daging tersebut yang hilang setelah digigit olehnya. Entah kenapa, rasanya ingin sekali melihat daging yang digigitnya jatuh ke tanah menembus perutnya.
"Apa-apaan ekspresimu itu. Apa kau pikir daging yang guru makan akan terjatuh ke tanah..?" Tanya Flares melihat muridnya begitu serius memperhatikannya.
__ADS_1
"Sedari awal aku bertemu dengan guru, aku selalu bertanya-tanya mengapa setiap makanan yang guru makan tiba-tiba menghilang. Padahal guru sendiri tembus pandang, kupikir makanan itu hanya akan terjatuh,"
Flares tertawa kecil mendengar kebingungannya tersebut.
"Daging ini masih kurang rasanya, apa kau menambahkan garam yang cukup?" Tanya Flares mengalihkan pembicaraan.
"Entah, mungkin iya. Guru tahu, aku hanya memasak sesuatu untuk mendapat kenyangnya. Aku tak pernah membuang waktuku untuk belajar memasak. Karena menurutku itu tidak terlalu penting,"
"Apa katamu..? Tidak penting...? Apa kau tahu seorang kultivator pun perlu untuk memiliki keterampilan yang tinggi dalam hal memasak. Kau tidak boleh meremehkan hal ini. Kau masih terlalu muda untuk bisa memahaminya," ujar Flares sedikit kesal mendengar keahlian memasak bukanlah sesuatu yang penting menurutnya.
"Kemari biar guru berikan kau suatu hadiah yang menarik," lanjutnya lagi.
Asta mengerutkan dahi tak mengerti, namun ia tetap menuruti. Flares menempelkan ujung telunjuknya ke dahinya, semua pemahaman serta pengetahuan cara membuat masakan yang enak dan lezat langsung memasuki kepalanya. Tak hanya itu, Flares juga membagikan segala resep masakan buatannya.
Seketika itu, Asta merasakan kepalanya dipenuhi akan berbagai macam cara dan resep masakan. Asta meringis sakit merasakan kepalanya hampir pecah menerima semua pemahaman dari gurunya.
Asta mulai paham mengapa gurunya berkata bahwa keahlian memasak juga adalah hal yang penting. Karena tidak hanya untuk menghilangkan rasa lapar, masakan yang memiliki aroma enak dan berasa lezat juga dapat meningkatkan rasa semangat dan lainnya.
"Terima kasih, guru," Asta berterimakasih kepadanya meski sambil memegangi kepalanya.
Flares tertawa kecil,"sudah sewajarnya sebagai guru aku membagikan pemahaman ku padamu. Lagipula itu juga untuk kepentingan perutku juga,"
Asta tersenyum kecut, pantas saja gurunya langsung membagikannya begitu saja tanpa membuatnya melakukan sesuatu.
"Padahal guru sudah lama mati, tapi guru masih saja terlalu perhitungan. Apa guru tak takut mendapatkan Hukuman Surgawi..?" Ucapnya pelan.
Tanpa aba-aba, Flares lalu menyentil jidatnya pelan, namun yang terjadi malahan membuatnya terhempas menabrak dinding gua.
"Hei, Nak. Tidak sopan menggunakan kata-kata seperti itu apalagi terhadap guru mu sendiri," ujar Flares menegurnya.
Asta mencoba berdiri dan membersihkan bajunya. Asta pun langsung meminta maaf padanya atas ucapannya yang tak sopan. Namun saat membersihkan pakaiannya, Asta merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia tak merasakan sakit apapun padahal ia menabrak dinding gua dengan begitu keras.
"Baiklah, waktu makan telah selesai. Waktunya latihan..," ujar Flares.
"Tidak, tunggu dulu, guru. Bagaimana dengan hasil latihanku kemarin..?" Tanya Asta penasaran.
"Mengapa kau tak coba memeriksanya sendiri?"
Asta sangat terkejut saat mengetahui raga tubuhnya menembus peringkat 5, sedangkan kontrol dasarnya menembus ke tahap tinggi.
"Tapi, ini..."
"Tidak ada tapi-tapian," potong Flares lalu menyeretnya melangkah lebih dalam ke dalam gua. Tak disangka ternyata gua itu adalah sebuah terowongan yang membawanya ke sisi lain lembah neraka.
Tak jauh di depan mereka, terlihat segerombolan hewan ghaib Domba Bertanduk Merah peringkat 5, tengah berkumpul dan memakan rumput.
"Latihannya sederhana, tangkap semua domba-domba itu secara hidup-hidup. Tanpa memberikan luka dalam ataupun luar," ujarnya menjelaskan latihannya saat ini.
Mulut Asta menganga lebar, peringkat 4 pun sudah bukan jangkauannya, apalagi ini peringkat 5. Dan gurunya ingin dirinya menangkap semua domba-domba itu tanpa memberinya luka sama sekali. Sebuah latihan yang di luar masuk akalnya.
"Guru, meskipun mereka hanya seekor domba, mereka adalah hewan ghaib peringkat 5. Peringkat 3 saja aku tak yakin bisa menangkapnya tanpa luka, lalu bagaimana caranya aku bisa menangkap mereka hidup-hidup tanpa harus melukainya,"
"Bukankah kontrol dasarmu telah mencapai peringkat tinggi? Kenapa tak kau manfaatkan itu. Cepatlah mulai sebelum mereka pergi," Flares lalu menendangnya ke depan.
Asta mulai mengumpulkan konsentrasinya dan mengarahkan auranya ke arah domba-domba tersebut.
"Apa kau benar-benar ingin menggunakan cara yang seperti itu?" Tanya Flares.
"Maksud guru? Cara yang seperti itu apa?" Ujarnya balik bertanya bingung.
"Tidak ada. Lanjutkan saja. Tapi ingat, menangkapnya hidup-hidup tanpa terluka," ujarnya.
Asta pun mengangguk langsung mencoba untuk menciptakan sebuah aura yang lalu ia sebarkan ke sekitarnya hingga mencapai domba-domba tersebut. Awalnya domba-domba itu terdiam, Asta tersenyum tipis karena pikirnya ia berhasil.
Baru saja ia melangkah, domba-domba itu menoleh ke arahnya secara bersamaan. Asta merasakan firasat buruk datang menyertainya dari segala arah.
"Guru, mereka tidak berbahaya kan..?" Ucapnya pelan sambil menengok ke arah belakang dimana gurunya berada. Namun sayangnya, Flares sudah berlari meninggalkannya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Guru...!!!! Kau mengerjai ku...!!!" Teriak Asta yang lalu ikut berlari meninggalkan tempat tersebut.
"Mbeeekk...!!!!" Domba-domba itu mengembik lalu ikut mengejarnya. Asta berteriak histeris, melihat mereka yang mulai berlari mengejar. Sedangkan di depan, Flares masih tertawa terbahak-bahak.
---
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan dan jangan sering begadang ;)
Ohh iya, jangan lupa makan juga:)